
Hembusan angin tipis menggelitik kulit. Remang lampu menyinari cocok lelaki bermata biru yang tengah terduduk membeku di atas kasur. Jam saku di sampingnya perlahan kehilangan sinarnya.
Seketika ruangan menjadi menggelap di mata Ren. Dia menatap list misi yang sangat tidak masuk di akal untuk masuk ke dalam nalar pikirannya. Misi yang mengancam nyawa jika gagal, hadiah yang menggiurkan juga beberapa lainnya yang termasuk dalam kategori sangat berbahaya semua ada di sana.
Dengan tidak masuk akalnya, point dalam aplikasi ini dapat di tukar dalam mata uang dunia nyata. Point yang ada sekarang di ambil dari rekening nya yang berjumlah lebih dari ratusan juta karena transfer 5 juta dari ortu Ren setiap minggunya.
1 point bernilai Rp.10.000,00 . Satu misi mempertaruhkan nyawa akan mendapat sekurangnya 100 point ke atas yang berarti satu misinya bernilai seharga 1jt lebih dalam mata uang dunia nyata.
Point itu bisa di tukar bolak balik. Namun di setiap penukaran akan ada penalti sekitar 1-5% dari yang di tukarkan.
Ren membeku di tempat. Ini seperti mimpi. Semua yang dia alami seakan tidak nyata di matanya. Dia seperti sedang berhalusinasi. Melihat jam saku yang tidak bisa di lihat oleh polisi membuat dia berfikir. Apa mungkin dia sudah gila?
"Ahaha..." Tawa kering Ern mengisi ruangan yang sunyi ini.
Tak
Suara sesuatu yang menutup. Jam saku itu menutup sendiri tanpa ada yang menggerakkan nya. Ren sudah lelah untuk terkejut. Bahkan jika ada hantu yang muncul masuk dari jendela kamarnya, dia akan menyapa dia dan bertanya. "Tuan hantu, apa ini nyata?"
Ren melempar handphone nya sembarang di kasur. Dia turun dari kasur berhganti menjadi bersandar di sisi kasur. Dia memandangi langit langit berharap semua yang dia jalani hari ini hanya sekadar bunga mimpi belaka.
"Seperti nya aku sudah gila..." Ren tersenyum pasrah pada nasib yang membawanya seperti daun yang terombang ambing tertiup angin.
Untuk melipakan semua yang terjadi padanya, Ren mencoba untuk tidur dengan tenang melupakan semuanya. Tapi hitung mundur tetap berjalan dan tidak ada yang bisa menghentikan hitung mundur itu.
.
.
.
.
Menutup matanya Ren tertidur. Kini hanya ada ruang gelap yang membentang dari ujung ke ujung.
Di sisi lain Ren membuka mata di suatu tempat yang aneh. Dia masih memiliki kesadarannya namun dia seakan pindah ke tempat lain padahal jelas bahwa dia sedang tidur di kamarnya.
Ren mengangkat kepalanya. Sebuah meja panjang dan seorang pelayan atau bisa di sebut bar tender berdiri mengaduk minuman yang akan di sajikan pada pelanggan nya.
Ren terdampar di tempat aneh. Tempat itu adalah sebuah Cafe Bar. Cafe tersebut berada di tempat yang entah ada di mana namun jendela seluruhnya berwarna hitam. Tidak ada pintu keluar.
__ADS_1
Orang dengan topeng tersenyum di wajahnya, dia menyajikan secangkir kopi pada Ren. Rasanya mengejutkan mendapati dirinya berada di tempat aneh ini.
Melihat kopi panas yang mengepul juga bau nya yang memasuki indra penciuman, dia sempat merasa bahwa ini nyata namun dia baru menyadari. Sejak kapan dirinya memakai topeng?
Ren menyapu sekeliling. Dia melihat ada orang lain selain dirinya. Total ada 25 orang mengenakan topeng hewan di sini. Tidak termasuk sang bar tender.
Topeng topeng itu berbeda satu sama lain sehingga hanya Ren satu satunya yang menggunakan topeng kelinci. Mereka semua duduk di kursi tanpa ada yang bergerak. Semuanya kebingungan sama seperti dirinya. Ada juga yang tidak peduli dan malah menyeruput kopi tanpa ada masalah berarti.
Melihat hanya si bar tender yang memakai topeng yang berbeda, dia penasaran siapa dia. Baginya ini adalah mimpi. Jika ini nyata juga apa yang harus dia lakukan tanpa bisa bergerak di tempat yang asing ini.
"Kamu siapa?" Tanya Ren pada si bar tender yang sedang mengaduk minuman pesanan pelanggan lain.
Tidak tahu ekspresi wajah apa yang di buat si bar tender namun dia tidak langsung menjawab pertanyaan Ren hingga satu menit berlalu.
"Aku? Aku si penembak di gelombang ke 0097. Jika kalian bertanya bagaimana suara ku sampai di kepala kalian, aku tidak bisa jawab." Bar tender itu berbicara memperkenalkan diri sebagai si penembak sambil menyiapkan kopi dan alcohol untuk pelanggan lain.
Ren mendengar kan perkataannya tadi. Penembak? Gelombang ke 0097? Apa itu?
"Seperti nya semua yang ada di sini kebingungan. Di sini adalah tempat berkumpul untuk gelombang 0097 yang akan mengikuti permainan. Ada gelombang lainnya di luar sana dan di tempat ini aku si penembak adalah pemimpin atau bisa di sebut pembimbing kalian. Jika ada yang ingin di tanyakan, tanyakan saja padaku."
"Siapa mereka?" Ren bertanya.
"Di mana ini?" Tanya orang lain.
Ren juga ingin bertanya pertanyaan itu. Dia penasaran di kana dia berada.
"Ini cukup sulit di jelaskan tapi akan ku jelaskan sebisa ku. Tempat ini ada di antara waktu. Di sini waktu tetap berjalan karena kita semua membutuhkan udara ingat? Bagaimana kalian bisa ada di sini adalah karena penarikan paksa. Kesadaran kalian di tarik paksa membuat mimpi ini seakan adalah kenyataan. Mengerti?"
Ren menekuk sebelah halisnya. Jadi dia benar di bagian mimpi tapi bagian lainnya agak kurang bisa dia cerna bagaimana caranya. Inti nya dia faham namun penasaran cara kesadarannya di tarik paksa dan berakhir di sini.
"Kurang..." Seseorang dengan topeng Harimau bergumam sembari menyeruput alcohol di tangannya.
"Hmm... Intinya ini adalah mimpi. Kesadaran atau jiwa kalian ditarik paksa ke sini jadi semua yang ada di sini nyata termasuk aku."
Hening. Semua nya sedang berfikir. Otak nya di paksa untuk bekerja sekarang. Tapi ada juga orang yang berdecak dan mengoceh terus menerus.
"Tsk... sial."
"Hahaha jangan bercanda baji**an! Kamu penembak?! Cih menggelikan. Aku ingin keluar dari sini!"
__ADS_1
"Kirim aku kembali!!"
Ren mendengar semua keributan yang meminta mereka di kembalikan. Sejujurnya Ren juga ingin kembali tapi dia bahkan tidak bisa bergerak dari kursi tempatnya duduk. Ruangan ini juga terlihat aneh.
Tidak ada pintu keluar, jendela berwarna hitam, lantai yang berpotongan seperti kayu yang sengaja di potong, di bawah kursi terdapat karpet merah berbentuk kotak yang sesuai dengan potongan kayu.
Lampu yang menempel di dinding bisa di gerakkan ke kanan dan ke kiri. Kopi yang di sajikan berkafein tinggi. Alcohol juga kandungannya tinggi. Mereka semua memakai topeng dan tidak ada yang bisa melepas topeng ini.
Seperti sengaja menyembunyikan identitas masing-masing dengan nama inisial dari binatang atau serangga.
Pasti ada tujuannya. Hutang Ren mencapai 1 miliar juga pasti ada alasan itu tercantum di sana. Beberapa menit berlalu mulai hanyak yang berteriak meminta untuk di pulangkan.
Sang penembak tidak menanggapi permintaan tersebut. Dia hanya melihat sekeliling dan menatap Ren dengan penuh rasa penasaran.
"Seperti nya kamu tidak ingin pulang?"
Ren menelan ludahnya ketika dia menatap dirinya dan bertanya padanya. Bukannya tidak ingin pulang tapi di sini aneh dan dia menyadari hal tersebut.
"Kalian yakin ingin kembali sekarang? Toturial sebentar lagi akan di mulai. Lihat jam pasir itu."
"Aku tidak peduli! Pulang kan aku!!"
"Ya! Kami tidak peduli!"
"..." Ren hanya diam dia menatap si penembak dengan rasa penasaran. Ekspresi wajah apa yang dia buat di balik topengnya hingga membuat buluk kuduknya berdiri.
"Aah... Kalian ini ya? Mungkin akan mempan jika aku bicara seperti ini...."
Si penembak mengambil sebuah senapan yang entah berasal dari mana. Tiba tiba semua terdiam di tempat tanpa suara. Dia mengelusnya pelan. Ren melihat senapan itu dengan jelas. Dia tahu itu senapan asli.
Setelah mengeluarkan senapannya, dia memegang dan meletakkannya di meja sambil memainkan pisau lipat di jarinya yang dia ambil dari saku .
"Ikuti tutorial jika kalian tidak ingin mati. Sampah..." Nada bicaranya berubah menjadi dingin.
Tak
Tiba tiba lampu padam.
Sedetik kemudian lantai terbuka. Semua orang jatuh terjun ke bawah tanah menuju sebuah panggung di mana bar tender yang tadi berdiri di balik meja sekarang berdiri di atas panggung dan memberi sambutan secara resmi.
__ADS_1