
Seluruh badannya yang terbungkus selimut. Masih terlihat bagaimana dia menggigil di balik selimutnya itu. Bibir yang memutih dan warna kulit yang tampak lebih pucat membuat dia seperti mayat hidup.
Ren kehabisan seragam sekolah karena seragam sebelumnya yang kotor belum sempat dia cuci. Untung nya di dalam poster pengumuman tertulis bahwa orang tua bisa menggantikan berarti tidak apa apa bila dia menggunakan pakaian yang lain.
Dengan tubuh yang masih terbungkus selimut, Ren berjalan kaki ke lemari mengambil pakaian acak yang akhirnya membuat dia berpenampilan seperti orang Korea.
Mengambil handuknya, dia pergi mandi air hangat untuk menaikkan suhu tubuhnya walau sedikit sia sia karena pagi ini sangat dingin.
Dia memasang lensa kontak nya dengan susah payah karena jarinya yang sempat mati rasa.
Ren juga harus memakai rambut palsu supaya tidak ada hal yang merepotkan datang padanya. Menghindari udara dingin di luar, Ren mamakai jaket dan kupluk. Dia sangat ingin meminum teh hangat tapi sudah lama dirinya mengisi persediaan.
"Mungkin aku akan mampir di kedai nanti..."
Setelah memakai semuanya, Ren mengambil tas dan keluar dari kamar turun ke lantai 1.
"..." Ren menatap ruang tamu yang kosong.
Barang barang seperti laptop, gelas kopi, tumpukan dokumen milik ibu nya yang biasa ada di atas meja sekarang menghilang menyisakan secarik jertas iecil yang diganjal pulpen.
"Ibu pergi bekerja. Uang nya sudah di terima kan? Malam ini ibu pergi lembur. Jadilah ahak baik"
Ren hanya tersenyum kecut. Dia merasa seperti anak anjing. Hampir jam 7 sebelum gerbang sekolah di tutup. Ren hanya mengambil sepotong roti tawar yang tergeletak di meja makan. Ibu nya cukup baik meninggalkan sepotong roti itu.
"Heh... Biasanya tidak ada makanan di sini." Gumam Ren pergi ke luar sembari memakannya.
...
Berjalan di trotoar, menyebrangi jalan. Ren pergi ke sekolah seperti biasa nya namun dengan kondisi yang buruk. Orang orang mengabaikan dia seper orang aneh karena dia memakai pakaian yang tertutup tidak seperti sebelumnya.
Tepat di depan gerbang seorang satpam berdiri memeriksa murid murid. Setelah beberapa saat, tiba giliran Ren.
"Siapa namamu?" Tanya satpam.
"Ren Andreas..."
"? Ada apa dengan suaramu itu? Dan kenapa kamu tidak memakai seragam?"
"Seragam ku kotor..."
"Hmm... apa kamu tidak ingin menjelaskan kenapa seragam mu kotor?"
"?! ... jatuh..."
"Haish... Baiklah kamu ikut upacara pagi sampai selesai. Itu hukumanmu. Biasanya lari 5 putaran tapi sebentar lagi ada acara penting. Pergilah."
Setelah bertukar beberapa kata, akhirnya Ren di izinkan untuk masuk. Beberapa murid sudah berdiri di tengah lapangan tetapi upacara belum di mulai. Siswa siswi masih mengobrol di lapangan.
Ren pergi ke kelas nya yang kosong untuk menyimpan tas dan jaket miliknya. Reva menyapanya di lapang. Dia tidak bertanya kenapa Ren tidak memakai seragam karena dia sudah tahu.
...
__ADS_1
Di lapang bersama seluruh murid upacara sedang di laksanakan. Seharusnya sekarang orang tua sudah mengambil kartu dari wali kelas namun murid beda lagi.
Ren berdiri selama hampir satu jam di bawah sinar matahari yang mulai panas. Udara pagi yang terasa dingin mulai menghangat. Tapi terlambat.
"..." Ren bernafas dengan cepat. Sejak tadi dia berusaha menutupi suara nafasnya yang memburu. Upacara hampir sampai di akhir.
'sedikit lagi...' ucap Ren dalam hati.
Ke dua tangannya gemetar tanpa henti. Ren ingin menghentikannya tapi jarinya seakan mati rasa. Dia tidak bisa mengepalkan tangannya. Dia menahan diri agar tidak pingsan seperti tahu kesadaran nya perlahan menurun.
"Bubar!"
"Selesa-"
Bruk!
kata kata Ren tercekat di tenggorokan. Dia sempoyongan dan akhirnya jatuh ke tanah tidak sadarkan diri.
"Ren?!"
'...'
Beberapa guru datang ke tempat. Para murud sudah pergi ke kelas masing masing. Ren di bawa ke UKS. Di sana perawat memberi diagnosis sementara melihat Ren yang terus diam tanpa gerakan, suhu tubuh yang rendah, detak jantung yang melambat, ambulace di panggil.
Hanya dalam beberapa menit ambulance sampai di sekolah. Tandu di turunkan dari mobil. Ren di bawa ke rumah sakit saat itu juga.
Seharian Ren tertidur hingga sore hari. Di saat itu Reva juga Ezra berkunjung bersama beberapa teman sekelas mereka satu ketua kelas satu lagi wakil ketua kelas.
"Kamu sudah bangun nak? Aku minta maaf. Seharusnya aku tidak meminta mu ikut upacara." Ucap satpam yang tadi pagi.
"??"
'aku yang salah karena lupa mencuci seragam kemaren.' pikir Ren. Dia ingin mengucapkannya tapi tidak bisa. Dia hanya bisa menggelengkan kepala.
Pak satpam hanya tersenyum. Dia pamit pergi. hanya beberapa menit berlalu Ren menerima kunjungan dari Ezra seorang. Dia menyapa Ren yang berbaring di kasur rumah sakit dan menanyakan keadaannya sambil bercanda gurau.
Tring
Handphone nya berdering menampilkan skor pemain. Dia mendapat setengah skor dari satu misi. Bukan permainan namanya jika tidak ada level.
[Skor anda 1. Selesaikan misi lainnya untuk meningkatkan skor dan menjadi yang pertama dari pemain lainnya.
Percepatan pelaksanaan misi dapat di lakukan dengan jam saku yang kalian punya!
Good luck!!]
"... Tsk"
Menatap ke luar jendela kamar, Ren melihat langit yang cerah berwarna biru muda yang semakin meredup dari waktu ke waktu berganti dengan warna oranye.
"Aku harus pulang.. " gumam Ren masih memegang handphone nya di tangan.
__ADS_1
....
Seharusnya Ren beristirahat di rumah sakit tapi dia memutuskan untuk pulang karena biayanya yang mahal.
Sampai di depan rumah dia langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu nya. Tidak peduli dengan handphone yang sejak tadi berdering tanda pesan masuk dari grup kelas yang baru saja dia masuki.
Ren meletakkan semua barang barang nya, melepas semua nya termasuk jaket kemudian berbaring di tempat tidur terdiam di sana dengan pikiran yang kacau.
"Hahaha... Ini pasti mimpi." Ucap Ren.
Dia setengah gila karena hal hal aneh yang menimpanya. Apa dia sebenarnya pasien rumah sakit jiwa? Atau dia sekarang sedang berbaring di jalan raya bukan tempat tidurnya?? Apa dia berhalusinasi...
Ren melihat pesan di handphone nya. Pesan beruntun sanapi menumbus angka srratus menanyakan, membicarakan, mempertanyakan, berpendapat, apa yang terjadi padanya. Ketua dan wakil ketua kelas yang memimpin pembicaraan bersama Reva dan Ezra.
Untuk pertama kalinya, Ren menulis pesan balasan di grup.
"Aku baik."
Hanya 2 kata yang di respon oleh semua murid. Dia sempat ragu mengirim 2 kata itu tapi sepertinya tidak apa apa.
Tring
Ren menerima pesan lainnya. Kali ini pesan dari Reva.
[Reva
Kartu milik mu masih ada di guru. Mungkin kamu harus ke ruang guru nanti.]
Katanya di dalam tukisan pesan yang di terima. Tiba tiba Telepon masuk dari Ezra.
Drttt drttt
"Kenapa dia menelepon?" Ucap Ren sembari duduk di tepi kasur. Dia mengangkat telepon nya. Padahal dia kan sudah berbicara dengannya saat di rumah sakit.
"Ya?"
[Ren! Haha ini aku Ezra]
"Ya aku tahu."
[Reva sudah bilang kan? Oh iya ada pengumuman. 2 hari lagi libur sekolah untuk sementara. Ada perbaikan listrik]
"Oh begitu ya."
[Ren, sebenarnya ada yang membuatku penasaran.
"Apa?"
[apa matamu... Biru?]
"?!"
__ADS_1