
Namanya Holland Ren Van Andreas. Dia merupakan seorang dengan keturunan campuran dari pohon keluarga yang rumit dari keluarga ibunya.
Di mulai dari kakek buyut nya bernama Holland adalah seorang keturunan Belanda asli sementara nenek buyut nya keturunan Indonesia mempunyai seorang putra yang sekarang menjadi kakeknya yang sudah meninggal dunia 5 tahun yang lalu.
Selanjutnya kakek Ren menikah dengan seorang wanita Jepang lahirlah ibu kandungnya yang menikah dengan orang Belanda.
Sebab menguasai bahasa yang di pakai kakek nenek dan ayahnya, otomatis ibu Ren mengerti dengan apa yang di ucapkan suaminya.
Ada beberapa misteri dalam keluarga nya ini. Ayahnya sudah bertahun tahun tidak bisa di kontak sama sekali sementara Ibunya mengabaikan dia sepanjang waktu.
Ren mewarisi mata biru tua yang indah dari kakeknya, rambut pirang dari ayahnya, dan kulit putih bersih dari ibunya. Dia termasuk sangat tampan.
Di sekolahnya dia juga lumayan pintar di antara teman teman sekelasnya sampai di puji oleh orang sekitar. Tetangga bahkan sampai mengira ngira bagaimana cara membesarkan anak untuk menjadi seperti dia? Orang tuanya pasti bangga padanya. Namun keadaan di rumah tidak sehangat apa yang orang lain pikirkan.
"Ma, aku pergi sekolah" Ren berdiri diam di samping tangga rumahnya menunggu jawaban.
Dia memakai pakaian sekolah lengkap berpamitan dengan ibunya yang sekarang sedang duduk di sofa ruang tamu memainkan Handphone sesekali melihat ke layar laptop di meja.
"Pergilah itu uang saku untuk mu. 5 juta cukup kan?" Ucap ibu Ren tanpa memalingkan wajah dari handphone di tangannya. Dia bahkan enggan melihat wajah putranya sendiri barang sedetik pun.
Dia melihat sekilas sebuah amplop coklat yang diam membeku di atas meja. Itu hanya sebagian besar dari uang yang ibu Ren berikan padanya.
/Tring
Ren mengecek hp miliknya. Sebuah pesan masuk. Di sana bertuliskan Rp 4.000.000,00 berhasil di terima.
Berarti di dalam amplop coklat itu berisi uang berjumlah 1 jt rupiah.
"Ya, aku berangkat ma." Ren berjalan lurus ke pintu tanpa mengambil uang yang ada di meja.
"Hm..." Ibu Ren hanya berdeham kecil masih menatap handphone miliknya.
Sampai Ren menghilang di balik pintu atau saat Ren minggu lalu memenangkan penghargaan pertama lomba piano, ibu nya tak pernah memalingkan wajahnya dari handphone genggam miliknya. Dia hanya datang dan pergi.
Selesai.
Di perjalanan, lalu lalang kendaraan di jalan raya ke sana kemari mengerjakan pekerjaan mereka sendiri. Ren hanya berjalan kaki dari rumah ke sekolahnya.
Walau di rumahnya ada satu sepeda motor yang mulai membusuk tak terpakai namun Ren tidak ingin memakainya. Alasan Ren hanyalah berjalan kaki lebih sehat dari pada menggunakan motor. Sebagai bentuk olahraga pagi.
"Hah... Dingin.."
__ADS_1
Udara hangat terlihat jelas melayang lalu menghilang di udara yang dingin. Ini masih pagi bahkan kabut tipis di udara masih belum menghilang sepenuhnya.
Ren berjalan di trotoar sendirian tiba tiba seorang perempuan berkuncir kuda malu malu mendekat mendatanginya dengan sebuah kotak pink berisi biskuit di tangannya.
"P-permisi... Aku... M-maukah kau menerima ini?!"
Dia terlihat gugup berdiri di hadapan Ren sembari menyodorkan kotak pink itu.
Karena perkataan yang tiba tiba Ren terkejut bukan main. Ren jadi salah tingkah karena nya. Sebenarnya ini bukan yang pertama kalinya dia mendapat perlakuan seperti ini namun tetap saja Ren terkejut.
Dia merasa orang orang di sekitar nya memandang mereka berdua dengan senyuman manis di bibir mereka seakan berkata 'terima saja'.
Sebuah Flashlight kamera handphone seseorang menyadarkan Ren dari lamunannya. Dia langsung mendorong pelan kotak pink itu.
"Maaf tapi aku tidak suka makanan manis." Tolak Ren tersenyum dengan lembut.
Perempuan itu nampak terkejut untuk beberapa saat. Dia menunduk menurunkan tangannya. Wajahnya terlihat sedih karena telah di tolak mentah mentah oleh orang yang dia suka. Entah itu ditolak dengan lembut atau kasar tetap saja itu sebuah penolakan.
"A-ah m-maaf kan saya! S-saya akan mengingatnya. T-terima --" kata katanya terpotong oleh suara seseorang.
"Hei, Andre" terdengar suara menyapa di belakangnya, reflek Ren berbalik melihat siapa itu.
"Oh Reva. Kebetulan, sini kau!" Ren menarik tangan Reva membuat dia berdiri di sampingnya.
Sambil menepuk pundak Reva yang tengah terkejut. Ren tersenyum ke arah perempuan berkuncir kuda itu. Seperti memiliki rencana, Ren menatap Reva dengan tatapan licik.
"Hei, kuncir kuda. Ini Reva bud-kawan terbaikku. Dia suka makanan manis benar kan, BD*? Jadi berikan padanya. Dah.." setelah berbicara Ren berbalik menyebrang jalan meninggalkan mereka berdua yang mematung di lampu merah.
Tanpa berbalik lagi ke belakang, Ren terus berjalan lurus ke sekolahnya.
SMA 21 Zar. Salah satu sekolah negeri terbaik di kotanya dengan fasilitas sekolah yang mendekati lengkap. Mungkin hal itu ada dalam pepatah 'tak ada yang sempurna di dunia ini'
Sekolah ini terkenal dengan pembagian kelas yang unik berdasarkan apa yang dia lakukan dengan sebuah kertas kosong. Tugas awalan untuk murid baru adalah melakukan sesuatu terhadap selembar kertas HVS.
Dia bebas melakukan apapun pada kertas itu entah itu menulis, menggambar, mencoret, merobek, meremas atau lain sebagainya kecuali membuangnya. Lalu siswa akan mendengar peraturan peraturan sekolah deai ketua OSIS yang berjumlah 25 peraturan penting sembari menyerahkan kembali kertas-kertas itu.
Kemudian di hari selanjutnya adalah pengumuman pembagian kelas dan jadwal pelajaran.
...
Ren berjalan di lorong lantai dua gedung kedua khusus kelas pertama.
__ADS_1
Pintu terbuka lebar. Ren melangkahkan kaki nya masuk ke dalam kelas yang penuh dengan Murid baru. Tak ada satupun orang yang dia kenali disana.
Ren terus berjalan ke arah bangku tengah di paling belakang dan mulai melamun menunggu guru masuk ke kelas.
Ingatan masa lalu ketika dia yang berumur 2 tahun di tinggalkan sendiri di dalam mall sampai malam hari tiba. Semua orang bingung karena tidak ada seorang pun yang menjemputnya. Pada akhirnya dia di titipkan di panti asuhan selama 5 tahun.
Reva yang baru saja memasuki kelas, langsung menatao tajam pada bangku tempat Ren duduk. Dia berjalan cepat mendatangai Ren yang sedang melamun.
"Woi Andre" Dia menepuk bahu Ren sampai menyadarkannya dari lamunan membuat Ren terkejut.
"?!" Ren mengerutkan dahi. Wajah nya seakan berkata "apaan?!"
"Aku jadi terpaksa nerima kue ini kan? Hah..." ucap Reva menghembuskan nafas berat seraya menunjukan kotak pink berisi kue pada Ren.
Ren mengambil kotak pink itu lalu membuka untuk melihat isinya. Rasa yang dia benci ada di sana menyatu dengan kue lainnya.
Cokelat, strawbery, macha, dan lain lain.
"Lalu? Kau minta imbalan? Nih kue untukmu. Aku sudah baik memberikan semua kue nya." Ren menjejalkan kotak itu ke tangan Reva dengan senyuman di wajahnya.
"H-haa?! Wooy!" Reva tak terima atas apa yang Ren ucapkan. Jangankan menjawab Ren memalingkan wajah ke sisi lain dan mengabaikan panggilan terus menerus dari Reva.
/Tok tok tok
Suara ketukan pintu kelas membuat Reva, Ren dan seluruh siswa kelas menoleh. Pastinya ada juga murid yang tidak peduli.
Reva yang setengah kesal memalingkan wajah ke pintu dan melihat seseorang berdiri di sana menunggu respon mereka.
Dengan enggan Reva berbalik dan duduk di bangku kosong yang ada satu bangku di depan Ren.
Seorang wanita umur 30-an membawa 2 buah buku di tangannya memasuki ruang kelas. Dia meletakan ke dua buku itu di atas meja guru kemudian berjalan pelan di depan kelas dan tepat berdiri tegak di tengah tengah antara 2 papan tulis.
"Halo muridku tercinta, saya Iva guru sejarah kalian." Ucap Bu guru Iva.
Tak ada satupun jawaban.
Tidak ada satupun suara di antara sekian banyaknya murid di kelas itu. Mereka hanya termenung entah memikirkan apa di kursi mereka seraya menatap lurus seperti patung.
Ada pun yang hanya bersandar di kursi mereka memperhatikan jam dinding yang terus berdetak.
"Baiklah anak anak, hari ini pelajaran sejarah akan di mulai dari sekarang." Senyum manis tergambar jelas di wajah Iva. Entah mengapa, semua murid merasakan hal yang buruk akan terjadi.
__ADS_1
...****************...
*BD \= BuDak