Prahara Dan Cinta

Prahara Dan Cinta
Bab Sebelas


__ADS_3

"Ada apa sih, Nak Aline? Celingak- celinguk gitu," tegur Bi Padma mengikuti arah pandangan, Aline. Penasaran juga beliau melihat tingkah Nonanya.


"Jangan keras-keras, Bi." Aline melekatkan satu jarinya di atas bibirnya. "Tadi Aline lihat ada seseorang yang mencurigakan, Bi. Dia berdiri di bawah pohon alpukat itu, seraya meneropong ke rumah ini. Itu maksudnya mau apa,Bi?"


"Ah, yang benar, Nak Aline. Bibi gak ada liat, kok."


"Lah, mana Bibi tau. Soalnya, Bibi, adanya di kebun belakang. Paman ke mana, Bi?"


"Biasa, nyari rumput. Kalau gak, ya menggembalakan domba."


"Aduh, gimana ini, Bi. Aku takut sesuatu akan terjadi," ucap Aline resah.


"Jangan suka berprasangka buruk, Nak Alin."


"Tapi, Bi, buat apa coba. Orang itu meneropong ke arah rumah ini. Mengamati kita 'kan? Bikin curiga tuh," delik Aline.


"Ya, sudah. Semoga tidak terjadi apa-apa, dan jangan lupa, Nak Hardian itu harus tetap sembunyi."


"Iya, Bi. Tadi juga sudah aku ingatkan."


Aline bergegas kembali naik ke atas. Aline harus membicarakan beberapa hal dengan Hardian. Perihal lelaki misterius yang mengamati rumahnya.


Ketika tiba di atas, Aline melihat Hardian tengah menerima telepon dari seseorang. Aline menghampiri Hardian, dengan bahasa isyarat bertanya siapa yang menelepon. Hardian menyebut nama Ratih, tanpa suara.


Selang beberapa waktu, percakapan itu usai.


"Ada apa?" tanya Hardian melihat raut Aline yang sedikit resah.


"Soal lelaki misterius itu," ucap Aline tak menyembunyikan kecemasannya.

__ADS_1


"Sudah, gak usah dipikirin. Jika sudah waktunya, aku pasti akan ditemukan juga. Gak mungkin selamanya aku sembunyi terus 'kan? Malah lebih bagus, semua persoalan bisa jelas," tukas Hardian optimis.


"Tidak dengan kondisimu yang masih amnesia. Mereka akan memamfaatkan kondisi kamu, sehingga merugikan kamu nantinya," sahut Aline.


"Bukannya aku sudah punya bukti, yang cukup kuat. Seandainya masalahku masuk ranah hukum. Para penegak hukum juga tidak akan sebodoh itu, tidak menyelidiki kasus ini dengan profesional."


"Apakah kejadian yang kamu alami ini, sikap penegak hukum yang profesional? Kasusmu ini gak muncul sama sekali ke publik. Hanya awalnya saja, yang datang periksa ke sini lebih mirip mafia dari polisi," sergah Aline.


Hardian terdiam melihat sikap kritis, Aline. Ada benarnya juga ucapannya itu. Malah kabar yang muncul waktu itu, dia masuk daftar DPO karena dituduh pembunuh. Entah kenapa masalah ini malah hilang dari peredaran.


Mungkin saja, sudah dipetieskan, biar kasusnya tidak terungkap. Lalu mereka selesaikan dengan cara mereka. Sehingga lepas dari perhatian publik.


Hardian mendekati Aline, lalu memeluknya erat. Mencoba menenangkan hati Aline yang cemas. Sama sepertinya dirinya, dia juga cemas. Malah dia tak ingin gara-gara dirinya keselamatan Aline dan pak Danu serta bi Padma terancam.


"Sudah ya, jangan memikikrkan itu lagi. Aku malah berpikir untuk muncul di hadapan Pamanku. Ingin tau seperti apa reaksinya, saat melihatku," guman Hardian.


"Apa, gila kamu! Itu sama saja dengan cari, mati. Masuk ke kandang harimau!" sentak Aline kaget. Melepaskan pelukan Hardian, tiba-tiba.


"Maafkan aku, aku takut terjadi sesuatu padamu. Aku takut kehilangan kamu," isak Aline kembali memeluk tubuh Hardian erat.


Hardian membalas pelukan itu. "Aku akan baik-baik saja, Aline. Segera setelah semua masalah ini selesai aku akan kembali. Doakan semoga semua berjalan lancar."


Aline makin mengetatkan pelukannya, hatinya begitu rapuh dan takut akan perpisahan itu. Dia sudah terbiasa dengan hadirnya Hardian disisinya setelah kematian kedua orang tuanya. Kini dia harus kehilangan lagi, dengan orang yang tiba-tiba mengisi hari-harinya beberapa bulan ini.


Entah siapa yang memulai, pelukan itu berubah jadi belaian yang menghanyutkan. Mungkin karena perasaan sedih atau hasrat ingin memiliki, suasana diantara kedua sejoli itu makin memanas.


Hardian sungguh tak dapat menahan hasratnya, begitu juga Aline yang begitu mendamba. Ciu**n panjang penuh gairah saling tindih tumpah ruah memenuhi ruang hati yang dituntut birahi.


Segalanya terjadi begitu saja, dalam pelukan sore yang mendadak panas penuh gairah. Hingga akhirnya mereka terkulai setelah penyatuan yang begitu menuntut. Lalu segalanya jadi berubah isak. Tangis Aline tersendat pilu, hasrat yang tadinya begitu membara kini berubah sesal yang tiada tara

__ADS_1


"Maafkan aku Aline," Hardian memeluk tubuh polos Aline dan menutupinya dengan selimut. Tangis Aline semakin dalam, menyesali dirinya kini yang sudah tak suci lagi. "Aline, maafkan aku. Aku akan bertanggung jawab atas semua perbuatanku. Aku sayang kamu," Hardian mengapus air mata yang membanjiri kedua pipi, Aline.


Dia juga merutuki dirinya yang begitu mudahnya terhanyut. Seharusnya ia mampu menjaga Aline, yang begitu polos dan lugu. Tapi semuanya telah terjadi, dan Hardian makin diliputi rasa sesal, saat dia melihat darah di sprei warna peach itu.


Aline telah pergi ke kamar mandi membersihakan dirinya. Meninggalkan Hardian yang tergugu di atas tempat tidur. Darah perawan, pikir Hardian. Dia telah merenggut kesucian Aline begitu saja.


Hardian sempat menagkap langkah Aline yang terseok saat menuju kamar mandi.


Hardian makin terhenyak, melihat kenyataan yang barusan dia alami tadi. Rasa nikmad akan tubuh Aline karena ternyata dia masih gadis suci. Sementara dia tidak tau akan masa lalunya, apakah pernah meniduri wanita sebelumnya.


Rasa bersalah Hardian, berubah menjadi rasa cinta yang begitu mendalam. Aline telah menyerahkan sesuatu yang berharga miliknya, pada Hardian. Hardian akan mencintai dan menyayangi Aline sepenuh hatinya.


Suasana makan malam, sedikit berbeda dari biasanya. Aline yang biasanya lebih suka berceloteh dengan guyonan lucunya, malalm ini nampak pendiam.


Bi Padma dan Paman Daud saling pandang karena heran. Bi Padma mengendikkan kedua bahunya atas pertanyaan suaminya, lewat mata.


Hardian juga tak beda jauh, lebih fokus pada makanan di depannya. Walau sekali-kali mencuri pandang ke arah Aline, yang menunduk terus.


Makanannya malah belum disentuh, hanya di aduk-aduk saja sedari tadi.


"Hem," dehem Bi Padma mencoba mencairkan suasana. Namun, Aline tidak merespon. "Nak Aline, kamu sakit ya? Kok makanannya cuma diaduk terus sedari tadi?" akhirnya Bi Padma buka suara.


"Eh, apa Bi?" sahut Aline kaget.


"Itu, lo. Sedari tadi makanannnya diobok- obok terus," tatap Bi Padma curiga.


" Gak kok, Bi. Aline gak berselera saja. Maaf, aku permisi duluan," bergegas Aline meninggalkan meja makan.


" Saya juga, Bi. Nyusul Aline," ucap Hardian.

__ADS_1


" Waduh, apa-apaan sih. Sikap mereka kok aneh?" kernyit Bi Padma, menatap kepergian Aline dan Hardian. ****


__ADS_2