
Ratih sangat terkejut ketika menerima telepon dari Hardian. Ratih yakin kalau suara itu adalah suara milik atasannya. Yang telah menghilang beberapa bulan.
Lima tahun dia sebagai sekretaris Hardian, tentu dia cukup hapal suara atasannya. Suara berat dan agak serak itu, adalah ciri khas suara atasannya
Lalu di mana dia berada saat ini? Ternyata Hardian masih hidup, setelah menghilang beberapa bulan ini.
Benarkah atasannya telah membunuh Beni, supir kepercayaan itu? Lalu melarikan diri?
Bagi Ratih, itu mustahil. Terutama sebelum kejadian itu, Hardian menyerahkan file dan surat- berharga lainnya kepadanya.
Untuk dia simpan di tempat yang aman!
Ratih mencurigai David, paman dari atasannya ada di balik semua ini. Karena David sering bikin ulah di perusahaan. Terutam dalam hal keuangan.
Rumor itu, sudah sunter terdengar di perusahaan. Tapi entah kenapa, hal itu tak tersingkap. Ratih yakin telah terjadi konspirasi di balik menghilangnya Hardian.
Karena itu, Ratih berpura- pura tak begitu peduli dengan kematian Hardian. Karena sejak menghilangnya Hardian, karyawan yang loyal ke Hardian telah dimutasikan.Bahkan dipecat.
Terlebih karena Hardian menyerahkan kepadanya beberapa, berkas berharga. Ratih harus berusaha menjaga rahasia itu.
Sekalipun banyak hal yang tidak cocok di lihatnya. Sejak David menjadi Ceo, menggantikan Hardian. Ratih bungkam dan mengumpulkan beberapa bukti, untuk di berikannya pada Hardian kelak.
Karena kata hatinya mengatakan, bahwa Hardian pasti masih hidup. Entah berada di mana pun sekarang ini. Karena itulah Ratih sangat senang saat mendengar telepon itu. Karena feelingnya bahwa Hardian masih hidup ternyata benar adanya. Dan telah menghubunginya
Tinggal menunggu waktu , untuk bertemu. Karena mereka telah membuat janji untuk bertemu.
Ratih duduk di sudut ruangan sebuah cafe. Hari ini Ratih berjanji jumpa di cafe ini dengan ,Aline.
Sengaja Ratih mengambil tempat di sudut, untuk menghindari gangguan dari pengunjung cafe.
Lima menit sudah berlalu, tetapi yang di tunggu belum juga muncul.
Ratih menyeruput, jus jeruk pesanannya tadi. Ratih melihat seseorang berdiri di pintu masuk. Matanya awas mengamati seisi ruangan.
Ratih melambaikan tangannya. Ratih mengenali nya karena Aline, mengatakan dia akan kenakan T- shirt putih.
Aline menghampiri meja Ratih.
" Kak Ratih ya?" Ratih mengangguk. Aline menghenyakkan pantatnya di bangku di depan Ratih.
" Kok sendiri? Mana Pak Hardian?" selisik Ratih karena tak melihat Hardian bosnya.
" Tidak aman Kak, buat Hardian muncul di depan publik." bisik Aline. Takut ada yang mengawasi mereka.
" Oh, apakah karena kasus tersangka pembunuhan itu?"
" Iya, Kak. Hardian ada di suatu tempat. Aku akan membawa Kìakak ke sana. Kakak yakin tidak ada yang mengikuti Kakak kan?"
" Sepertinya tidak ada. Inikan hari libur, jadi tidak akan ada yang curiga aku keluar kota."
" Aku harus bilang Kak. Kalau Pak Hardian menderita amnesia. Jadi kemungkinan nanti dia tidak akan mengenali, Kakak." Aline menjelaskan sedikit kondisi Hardian. Dan apa yang telah dia alami beberapa bulan ini.
" Jadi, ada orang- orang yang mencari Pak Hardian hingga ke desa kalian Dek?"
" Iya Kak. Karena aliran sungai itu melintasi desa kami. Itulah kenapa desa kami mereka razia. Dan menyebar selebaran."
__ADS_1
" Itu pasti anak buah Pak David. Pamannya atasan saya. Saya yakin, Pak David adalah dalang dari semua kekacaun ini. Juga beberapa orang di perusahaan yang tidak menyukai , pak Hardian."
" Kapan kamu bawa kakak, bertemu Pak Hardian?"
" Sekarang juga Kak, kalau Kakak sudah siap."
" Baiklah, Kakak sudah tak sabar bertemu, beliau."
" Baiklah Kak. Kakak bawa mobil?"
" Iya Dek, kenapa?"
" Bisakah Kakak titip. Soalnya, aku tidak ingin kedatangan Kakak menarik perhatian orang di desa kami."
"Ouh, begitukah Dek."
" Kita naik motorku aja, Kak." Aline berdiri di ikuti Ratih.
Ratih melambaikan tangannya ke pelayan cafe. Membayar tagihan pesanannya. Lalu mengikuti langkah Aline ke parkiran.
Kini mereka telah melaju di jalan raya, menuju desa Aline. Kurang lebih satu jam perjalanan, merek tiba di rumah Aline.
Rumah tua dengan arsitektur peninggalan zaman Belanda dulu. Rumah yang masih terawat bagus.
Nampak begitu angkuh berdiri di atas bukit!
W
Tak banyak orang yang mereka jumpai di sepanjang perjalanan, menuju desa. Karena kebetulan hari libur. Mereka bekerja di ladang atau sawah.
Hanya beberapa anak kecil, yang melambaikan tangannya ke Aline.Aline membalasnya dengan klakson motornya. Karena mereka kenal Aline adalah warga mereka yang tinggal di atas bukit.
Bi Arni, buru- buru membuka pintu pagar.
" Sudah sampai ya, Nak Aline."
" Iya Bi. Tolong Bibi buatkan minum yah, buat tamu kita."
" Iya, Nak Aline."
" Mari Kak, kita masuk ke rumah. " ajak Aline.
Ratih mengangguk, mengikuti langkah Aline.
" Kita langsung ke lantai dua aja Kak!" lagi- lagi Ratih hanya mengekor di belakang Aline.
Setiba di ruang atas, Hardian sudah duduk menunggu mereka sedari tadi.
Mata Ratih langsung menangkap sesosok tubuh, yang duduk dengan santainya.
Tubuh jangkung dengan wajah tampan itu adalah ciri khas sosok atasannya. Meski wajahnya kurang terawat kini. Karena brewok yang menutupi, hampir seluruh wajahnya. Tidak membuat dirinya pangling pada atasannya itu.
" Pak Hardian!" seru Ratih tercekat. Hardian.hanya diam mematung. Tidak mengenali nya. Ratih ingat ucapan Aline tadi di cafe.
Kalau Hardian amnesia.
__ADS_1
Ratih melangkah, mendekati Hardian. Menyalami tangan Hardian. Dengan ragu Hardian menerima salam itu.
" Saya Ratih pak!"
" Hardian, maaf saat ini saya.tidak mengenali, anda." sahut Hardian sopan."
" Tidak apa -apa pak. Saya.adalah sekretaris bapak. Orang kepercayaan bapak juga. Saya masih mengamankan berkas- berkas yang bapak simpankan sama saya,"
" Berkas?"
" Iya, pak. Beberapa surat penting yang bapak kasih padaku. Sehari sebelum kejadian, menghilangnya, bapak!"
" Oh," sahut Hardian pendek. Dalam hati di bersyukur memiliki karyawan yang loyal seperti Ratih. Bisa diandalkan dalam situasi tertentu.
" Bagaimana keadaan perushaan sekarang ini?"
" Sangat memprihatinkan, Pak. Pak David hanya peduli denga kesenangam pribadinya saja. Dia tidak pernah mengurus perusahaan."
" Bapak harus kembali ke perusahaan. Bapak harus selamatkan perusahaan yang telah Bapak bangun dengan susah payah selama ini."
" Bagaimana caranya, jika ingatan saya saja tidak berfungsi"
" Terus apakah Bapak akan menyerah begitu, saja. Membiarkan pak David makin merajalela?"
" Selain kehilangan ingatan, aku juga di tuduh telah membunuh, Ratih. Anak buah Paman David akan dengan mudah menangkapku. Jika aku muncul dengan tiba- tiba."
" Jadi apa yangnharus kita lakukan?"
" Aku punya ide. Bagaimana kalau aku melamar kerja di sana. Aku bisa memata- matai gerak - gerik pak David. Mengumpulkan bukti, kalau kamu tidak bersalah dengan pembunuhan itu.!" timpal Aline.
" Itu sangat berbahaya, Aline.!" protes Hardian.
" Aku suka dengan tantangan. Bila sebanding dengan hasilnya."
" Tapi ini bukan soal permainan sederhana, Aline. Tapi menyangkut keselamatanmu juga. Lihat apa yang telah mereka lakukan dengan padaku!"
" Saya setuju dengan Aline pak. Untuk mengetahui kelemahan musuh, kita harus masuk ke sarangnya! Aku bisa bantu, untuk memasuk kan Aline kerja di sana."
" Kamu serius, Ratih?"
"Iya, Pak. Aku akan gunakan pengaruhku, agar Aline bisa masuk ke sana. Tentunya , Aline harus mempersiapkan beberpa hal penting. Untuk kerja di sana."
" Aku bersedia kak, untuk di bimbing. Demi membantu Hardian."
" Aline. Terus terang aku tidak ingin melibatkamu dalam situasi ini. Kamu sudah membantuku sejauh ini, Bagiku itu sudah lebih dari cukup," tatap Hardian lekat ke wajah Aline.
Mereka saling memandang beberapa saat. Lupa kalau ada Ratih di dekat mereka. Ratih yang tiba- tiba merasa diabaikan berdehem. Pura- pura batuk.
Aline dan Hardian saling membuang muka. Wajah ke duanya memerah menahan malu.
" Oke, untuk proses selanjutnya aku akan memberitahu kalian. Aku akan mempelajari situasi dan kondisi perusahaan dulu Pak. Aku akan segera ngasih kabar selanjutnya."
" Trimakasih, Ratih. Karena kamu tetap setia padaku. Aku tak mampu membalas kebaikan mu itu nanti."
" Tunggu sampai Bapak sembuh. Yang akan saya lakukan ini tidak seberapa, di banding kebaikan yang telah aku terima dari Bapak. Aku sangat senang Bapak selamat." tiba- tiba saja Ratih memeluk tubuh Hardian dan menangis di dadanya.
__ADS_1
" Eh, maaf ya, Pak. Aku jadi cengeng seperti ini."
******