
Saat Hardy siuman.
Dia sangat terkejut mendapati dirinya tengah terbaring di tempat tidur. Di dalam kamar yang tidak ia kenali. Entah kenapa ia bisa berada di kamar ini.
Tubuhnya terasa sakit semua. Hardy merasakan sakit di perutnya. Saat dia raba ternyata perutnya di perban. Belakang kepalanya juga terasa sakit.
Hardy merasa kepalanya, berdenyut. Ada rasa kebas di lengannya. Ternyata lengannya juga sedang di infus. Ia mencoba duduk tapi kakinya serasa berat untuk di gerakkan.
Hardy mencoba mengingat apa yang telah terjadi padanya. Tapi ingatannya terasa samar.
Yang dia ingat adalah saat dirinya hanyut dan ia berjuang berenang ke tepi sungai.
Di tengah hujan deras ia melihat cahaya samar di kejauhan, dan mengikutinya. Ternyata cahaya itu berasal dari kandang domba. Dan setelah itu ia tidak ingat apa-apa lagi.
Kini tubuhnya telah berada di atas ranjang. Serta luka-lukanya sudah di obati. Entah siapa yang telah menolong dan merawatnya.
Hardy mengamati seisi ruangan. Ia melihat seorang gadis sedang tidur di kursi. Juga seorang wanita dan laki- laki separuh baya, tertidur di atas tikar.
Siapakah orang- orang yang menolongnya, ini?
Sebenarnya apa yang telah terjadi padanya? Hardy mencoba mengingat, tapi kepalanya terasa sakit.
Hardy mencoba bangkit dari tempat tidur. Bukannya berhasil, dia malah terjatuh di lantai.
"Aduh, akh...!" jerit Hardy tak sadar. Spontan Aline terjaga dari tidurnya, dan ia melihat Hardy yang tergeletak di lantai. Paman dan bibi Padma, juga terjaga.
"Astaga! Apa yang terjadi. Bagaimana Anda bisa jatuh?!" Aline dan paman Daud membantu Hardy naik lagi ke tempat tidur. Setelah itu paman Daud dan bibi Padma pamit turun ke bawah.
"Dasar bodoh! Apa yang hendak Anda lakukan! Mau melarikan dirikah?" Bentak Aline saat melihat darah di perut Hardy
"Siapa kamu? Kenapa aku bisa di sini? Auh....Sakit!" teriak Hardy saat Aline menekan luka di perutnya.
"Kamu sendiri siapa, hah! Apa yang kamu lakukan di kandang dombaku. Kenapa tubuhmu penuh luka seperti ini, " tukas Aline
"Aku.... Aku tidak ingat siapa diriku, dan apa yang terjadi denganku. Apakah kamu tidak kenal aku?" ucap Hardy bingung.
"Sialan! Jadi kamu tidak ingat siapa diri Anda. dan apa yang terjadi sama Anda?" beliak Aline denga mata membulat. Hardy menganguk.
Ia menatap bingung pada Aline. Ia suka melihat mata Aline yang hitam dan besar. Mengingatkannya akan mata boneka berbi. Kalau saja badanya tidak terasa sakit seperti ini. Hardy mungkin mengira bahwa ia sedang bertemu bidadari di surga.
Tapi badannya sakit, dan gadis muda di depannya sedikit jutek. Tapi ia suka gadis di depannya.
Gadis inikah yang telah menolongnya.?"
"Ngapain liat- liat, dasar mesum!" hardik Aline gerah, karena pandangan Hardy yang tidak henti memandangnya.
'Ni orang makhluk dari planet mana sih, seperti gak pernah liat manusia saja,' batin Aline.
__ADS_1
"Kamu cantik sekali. Kamu kah yang telah merawat aku? Siapa nama kamu?"
"Namaku Aline. Aku dan pamanku yang merawat kamu. Kami menemukanmu di kandang domba, tengah pingsan. Tubuhmu penuh dengan luka. Jadi, anda benar- benar tidak tau siapa diri anda. Dari mana asal dan apa yang terjadi dengan anda?"
"Maaf, aku tidak ingat sama sekali. Yang aku ingat aku hanyut di sungai. Aku berenang ke tepiana dan berjalan tak tentu arah. Lalu aku melihat cahaya dan mengikutinya. Aku temukan kandang domba, setelah itu aku gak ingat apa-apa lagi," tutur Hardy
"Jadi anda hanyut di sungai?"
"Iya, hanya itu ingatanku yang tersisa."
Aline menghela nafas berat. Apakah pria asing ini tengah mengalami kecelakaan, terbawa arus sungai? Tapi kenapa pakaiannya masih utuh, meski telah sobek di sana sini.
Dari jenis pakaiannya, Aline menebak pria asing di depannya ini bukan orang sembarangan. Bisa saja dia seorang Ceo, atau mafia, dan dia adalah koban percobaan pembunuhan atau melarikan diri karena telah melakukan kejahatan.
Bagaiamana kalau dia ini adalah seorang buronan, dan sedang di buru polisi? Tiba-tiba Aline menyesali telah menolong pria asing ini.
Tapi melihat kondisi tubuhnya, tak mungkin tak menolongnya juga.
Tapi sungguh sial mengapa pula dia harus memderita amnesia? Dia lupa siapa dirinya dan kejadian apa yang menimpanya. Jadi tidak bisa mengetahui identitasnya.
Semisal menghubungi keluarganya. Yang pasti sudah mencemaskan keadaannya. Apakah ia sudah tak punya keluarga atau tidak, bagaimana bisa tau. Kalo dianya amnesia.
"Kamu benar-benar tidak ingat siapa diri anda, ya. Jangan berbohong! Biar keluarga kamu di hubungi. Bahwa kamu selamat!" ucap Aline menegaskan.
"Sungguh, aku tak ingat sama sekali," sahut Hardy memelas.
Hardy meraba belakang kepalanya, yang juga sudah di perban.
"Kamu tunggu di sini, jangan kemana- mana. Aku turun dulu mengambil sarapan untukmu." Aline bergegas turun dan menjumpai bibi Padma.
"Eh, Aline. Biar bibi aja yang antar." tegur bi Padma saat melihat Aline mau membawa sarapan ke atas.
"Ga k apa-apa, Bi. Biar aku saja. Paman mana, Bi?"
"Tadi pergi mau ngasih makan domba."
"Bi, pria asing itu tak ingat siapa dirinya. Sepertinya ia mengalami amnesia Bi. Dia tidak ingat siapa dan apa yang terjadi padanya."
"Apa, anemia?"
"Aduh, bi. Amnesia. Bukan anemia, gimana sih."
"Oh, bibi salah omong." kekeh bi Padma.
"Trus kenapa rupanya kalo dia itu ane....Eh, maksud bibi amnesia,?" tanya bi Padma kurang faham.
"Amnesia itu bi, artinya kehilangan ingatan. Tidak mengenal siapa dirinya. Apa yang terjadi padanya. Sebelum penyakit itu datang menyerang. Biasanya itu terjadi karena trauma akibat benturan atau kejadian yang sangat mengerikan, bi. Kira-kira begitu pengertian yang aku tau."
__ADS_1
"Oh, jadi pria asing itu, tidak ingat siapa dirinya gitu. Sampai berapa lama. Apakah itu bisa sembuh, Non."
"Tergantung bi, penyakit amnesia ini ada sementara, ada yang permanen. Tergantung trauma yang dia alami, bi."
"Aduh, gimana ini nak Aline. Semisal dia itu orang jahat! "
"Semoga tidak ya bi. Firasat Aline sepertinya dia bukan orang jahat. Tunggu dia pulih dulu, baru kita suruh pergi dari sini."
"Baiklah nak Aline. Semoga dia cepat pulih dan tidak berbuat macam- macam. Kamu harus hati-hati, Non,"
"Iya bi. Aku antar dulu sarapan untuknya." Aline mengambil kembali nampan tempat sarapan untuk Hardy. Dan membawanya ke atas.
Hardy yang masih terbaring di ranjang, berusaha duduk. Tapi segera dicegah Aline
"Tunggu! Jangan bergerak sembarangan. Nanti jahitan di perutmu berdarah lagi." sentak Aline keras.
Buru- buru Aline meletakkan nampan itu di atas nakas, dan membantu Hardy setengah duduk dengan menjejalkan beberapa bantal ke punggungnya.
"Apakah kamu yang mengobati lukaku ini?"
"Iya, makanya jadilah pasien yang patuh, biar luka anda cepat sembuh. Sekarang anda sarapan. Setelah itu minum obat. Apa duduknya sudah terasa nyaman?" tanya Aline. Hardy mengangguk. Lalu Aline mengambil sarapan dan menyuapi Hardy.
"Aku belum cuci muka, belum gosok gigi. Langsung sarapan?" ucap Hardy bercanda.
"Nanti saja setelah kamu bisa lakukan sendiri. Bawel!" gerutu Aline. Hardy tersenyum manis.
Dia suka ekspresi wajah Aline saat kesal.
"Kamu paramedis, ya? Kamu begitu telaten merawatku?" ucap Hardy setelah menerima beberapa suapan.
"Tidak. Mendiang ibuku yang perawat. Tapi aku terbiasa melihat ibu merawat orang." ucap Aline sendu karena teringat ke dua orang tuanya.
"Oh, maaf. Jadi ibu kamu sudah meninggal?"
"Iya, beberapa bulan yang lalu. Kedua orang tuaku meninggal dalam kecelakaan." Aline berusaha menahan genangan air mata di pelupuk matanya.
"Aku turut berduka cita, ya.Maaf ya," refleks, Hardy menyentuh tangan Aline. Seolah hendak memberi kekuatan. Entah kenapa Hardy sepertinya juga, merasakan kesedihan yang sama dengan Aline.
"Ah, tidak apa- apa kok." Aline menarik tangannya perlahan. Dan meneruskan menyuapi Hardy hingga selesai. Juga memberinya obat.
Hardy tak lepas memandangi wajah Aline. Sehingga Aline terkadang merasa risih dengan pandangan itu. Aline turun untuk menyimpan peralatan bekas makan Hardy.
Saat di anak tangga , Aline melihat paman Daud berlari menuju rumah. Nampak dari wajahnya paman Daud menyembunyikan sesuatu.
Paman Daud menatap Aline cemas.
"Ada apa paman?! tanya Aline heran. paman Daud memberi isyarat jari di mulutnya. ****
__ADS_1