
"Aku akan mencari informasi Pak, siapa yang telah tega melakukan semua ini pada, Bapak. Sebenarnya aku curiga dengan, Pak David. Karena beliaulah yang selama ini selalu cari masalah dengan Bapak,"
"Pak David itu, siapa? "
"Beliau adalah Paman, Bapak. Mereka adalah satu- satunya keluarga, Bapak. Dengan berita kematian Bapak, merekalah yang akan mewarisi semua harta kekayaan Bapak. Selama ini mereka tinggal bersama Bapak,"
"Bagaimana kamu yakin kalau pamanku, yang mencelakai aku?"
"Sehari sebelum Bapak menghilang, Bapak sepertinya sudah punya firasat buruk. Akan terjadi sesuatu pada Bapak. Bapak menyerahkan berkas dan surat-surat penting padaku. Semua masih aku jaga, Pak,"
"Kamu membawanya ke mari?"
"Iya, Pak. Semuanya ada di sini. Selama ini mereka telah mencari ini, tapi mereka tidak menemukannya. Tak ada yang tau kalau berkas ini, aku yang simpan." Ratih menyerahkan tas hitam, tempat dia menyimpan semua berkas itu.
Hardian memeriksa berkas itu. Tapi sayang, dia tak ingat sama sekali mengenai berkas itu
"Terima kasih telah menyelamatkan, berkas ini. Aku akan mempelajari semua ini,"
" Ini, juga milik Bapak. Ada banyak rekaman pembicaraan di sini. Saya belikan ponsel ini untuk Bapak. Agar saya dapat menghubungi Bapak, dengan mudah.
Tapi laptop Bapak tidak bisa saya selamatkan. Karena sehari setelah Bapak menghilang, ada yang masuk menyantroni kantor Bapak. Banyak berkas yang hilang, Pak." jelas Ratih, panjang lebar.
"Trimakasih atas kesetianmu. Saya mohon tetaplah setia, sampai saya bisa mengambil alih lagi perusahaan itu,"
"Siap Pak. Saya yakin Bapak pasti mampu lakukan itu. Bapak pelajari saja kembali berkas - berkas ini Pak,"
"Baiklah, tolong kirimi Bapak kembali informasi apa saja, tentang perusahaan. Juga tentang keluarga pamanku,"
"Baiklah Pak. Akan saya lakukan semua itu untuk Bapak,"
"Trimakasih, Ratih!"
"Sama- sama, Pak. Sekarang saya harus pulang dulu. Saya akan mengirim laporan sesegera mungkin pada Bapak. Saya pamit Pak,"
Sepeninggal Ratih, Hardian memeriksa beberapa berkas yang di berikan Ratih. Hardian merasa beruntung sekali memilik karyawan seperti Ratih, yang begitu setia dan loyal padanya.
__ADS_1
Betapa tidak, Ratih bisa saja memamfaatkan berkas yang ia serahkan itu, untuk mengasai perusahaan. Tapi dia tidak melakukannya. Ratih bahkan menyimpan dan tetap menjaga amanat yang dia berikan.
"Kak Ratih itu baik, jujur, dan setia pula. Pasti sulit baginya beberapa bulan ini. Karena harus bekerja dengan dua, tuan, " guman Aline.
"Apa yang harus kulakukan selanjutnya? Berdasarkan berkas ini, perusahaan itu sedang dalam masalah besar. Setelah aku tidak di sana, mereka akan semakin leluasa bertindak." Hardiman mengepalkan tinjunya, lalu meluapkan emosinya ke dinding.
Aline terkejut, dan segera memeriksa jemari Hardiman, yang mengeluarkan darah.
" Tidak ada gunanya kamu melampiaskan kemarahanmu, pada tembok itu. Kamu hanya menyakiti dirimu sendiri,"
"Maaf, aku tak bisa mengendalikan emosiku. Aku marah karena tak menyangka, pamanku, bertindak sejauh itu. Aku sungguh tak berdaya. Dengan kondisiku yang amnesia, bagaimana aku bisa menyelamatkan perusahaan yang dengan susah payah didirikan otang tuaku." Hardian menarik tangannya, saat Aline hendak mengobati nya.
"Jangan sepelekan lukamu itu. Bisa saja nanti terjadi infeksi," ucap Aline memperingatkan.
Hardian bungkam, dan matanya kembali fokus memeriksa beberapa berkas. Dia tak rela kalau perusahaan itu jatuh ke tangan pamannya. Dari cerita Ratih, Hardian yakin pamannya pasti dalang dari kejadian yang menimpanya.
Hanya saja karena kehilangan ingatannya, sulit baginya untuk mengumpulkan bukti-bukti kejahatan pamannya.
Sementara ini, dia harus.mempelajari semua berkas itu. Sambil menunggu kabar selanjutnya dari Ratih.
Aline, mengobati luka di buku-buku jemari Hardian, dengan telaten. Akibat memukul dinding tadi, buku jarinya sampai lecet dan mengelupas.
"Lembut sedikit kenapa, itu tangan bukan besi." Ringis Hardian mengelus telapak tangannya yang kini telah dibalut perban.
"Udah tau tangannya, terbuat dari tulang dan kulit. Eh, malah sok jago ninju tembok." Dengus Aline lalu membereskan kotak obat. Hardian cuma garuk kepala dan melotot ke arah Aline.
Aline acuh saja, bergegas menyimpan kotak obat.
Saat menuruni anak tangga, tak sengaja Aline menatap ke luar lewat jendela. Di bawah sana dekat pohon alpukat, Aline melihat seseorang sedang mengamati rumahnya.
Aline mendadak tegang. Tingkah orang asing itu sangat mencurigakan. Aline bergerak ke dekat jendela, dan sembunyi di balik tirai. Mengamati ulah orang asing itu. Sepertinya orang asing itu tengah memotret rumah Aline. Dia juga memakai teropong, untuk mengamati gerak gerik di dalam rumah.
Tiba- tiba Hardian muncul di depan Aline. Tepat di depan jendela. Hardian yang tidak tau apa-apa ditarik Aline, untuk merapat ke dinding.
Hardian kaget, dan hendak bicara, buru-buru Aline membekap mulut Hardian dengan telapak tangannya.
__ADS_1
Hardian makin bingung dan bertanya lewat sorot matanya. Aline menjawab lewat dagunya, menunjuk ke arah jendela. Hardian mengikuti arah dagu Aline, ke luar jendela. Mencoba mencari jawaban atas sikap, Aline.
Aline melongokkan kepalanya, apakah orang asing itu masih berada di sana. Ternyata sudah tak ada. Aline jadi bingung, cepat sekali orang itu menghilang. Padahal tadi masih, berdiri di sana. Sekarang sudah entah kemana.
"Ada apa sih, Aline? Sedari tadi sikap kamu aneh," ucap Hardian kebingungan.
"Tadi aku melihat ada orang berdiri di sana. Dia itu mengamati rumah ini, pakai teropong. Apa coba maksudnya,"
"Mana? Aku tak lihat, kok." Hardian celingukan mencari yang disebut Aline. " Gak ada. Aku tak lihat apa-apa,"
"Sudah menghilang, entah ke mana. Tadi, jelas kok aku lihat di sana. Dibawah pohon alpukat,"
"Kamu kenal gak, orangnya?"
"Gak. Menilik dari pakaiannya, dia pasti bukan warga sini," jelas Aline.
"Trus dia siapa? Jangan-jangan....Suruhan Paman David?" tebak Hardian.
" Bisa jadi. Mungkin mereka telah mencium keberadaanmu di sini!" seru Aline panik.
Apa yang harus kita lakukan, sekarang?" tukas Hardian.
"Bentar, aku turun dulu. Mau ngomong sama, Bibi dan Paman." Lalu Aline bergegas turun, mencari Bi Padma.
"Bi, Bibi...!" seru Aline, memanggil Bi Padma. Tak ada sahutan. Aline menjelajahi ruang tamu, ruang keluarga, dan kamar Bi Padma. Namun yang ia cari tidak ada.
Akhirnya Aline keluar rumah dan mencari di sekitar halaman, berterisk memanggil Bibi Padma.
Bi Padma muncul dari kebun belakang rumah, dengan sekeranjang penuh sayuran.
"Ada apa, Nak Aline? Kok teriak gitu manggil Bibi." Bi Padma tergesa menghampiri, Aline.
"Aduh, Bi, dari tadi Aline cari gak taunya Bibi di kebun belakang," dengus Aline.
"Iya, ada perlu apa, nak Aline? tanya Bi Padma.
__ADS_1
"Ngomong di dalam rumah saja, Bi,"
Aline mendahului Bi Padma masuk ke dalam rumah. ***