
Aline langsung membuang pandangannya ke arah lain, saat mata Hardy menatapnya lekat. Dada Aline bergemuruh saat pandangan Hardy seolah memenjarakannya.
"Kamu lucu! Aku suka melihatmu!" ucap Hardy tulus.
Aih, emang aku badut atau apa. Capek- capek ngomong malah di bilang lucu. Tapi kok pipiku mendadak panas. Saat dia bilang suka melihatku?
Ofs, jangan baper, Aline! Dia itu orang asing yang kebetulan kamu tolong.
Kamu belum tau siapa dia, dan bagaimana hidupnya yang sebenarnya di luar sana.
Dia memang tampan, kharismatik.Tapi jangan sampai kamu terjerat oleh pesonanya!
Sesuara hati Aline menderu-deru memberi sinyal peringatan! Aline melenguh karenanya.
Yah! Fokus saja menolongnya. Semoga dia cepat sembuh dan segera pergi dari sini. Balas bilik hati Aline, yang lain.
"Uhuuuk....! Hardy sengaja terbatuk, saat melihat Aline yang tiba-tiba diam.
Aline tersentak, saat mendengar batuk Hardy. Dan buru- buru, mengambil air putih.
Hardy meminum air putih itu hingga tandas.
"Kamu kehausan ya?" Hardy mengangguk.
"Makasih, ya Aline." untuk pertama kalinya Hardy menyebut nama Aline.
"Sama-sama. Bagaimana dengan keadaanmu, apa sudah ada perubahan?" tanya Aline seraya merapikan selimut, Hardy.
"Aku sudah merasa baikan. Lukaku juga sudah mulai mengering."
"Baguslah. Aku akan pergi ke apotik untuk membeli beberapa obat. Agar lukamu itu segera sembuh.
"Mungkin ada yang hendak kamu pesan. Biar sekalian aku membelinya nanti."
"Apa kamu tidak segan membelikannya untukku, nanti?"
"Memangnya kamu mau beli apa?"
"Beberapa perlengkapan pribadi, kalau kamu tidak keberatan."
"Oh, aku lupa kalau kamu tidak punya pakaian apapun. Baiklah, berapa ukuranmu. Eh, maaf aku lupa kalau kamu amnesia." kekeh Aline menghilangkan kecanggungannya.
Apa lagi karena menyangkut barang pribadi.
"Aku akan bertanya, nanti pada penjualnya."
"Hati-hati, Aline. Jangan sampai ada yang membuntutimu."
"Oh, iya. Aku akan hati-hati." sahut Aline dan bergegas turun. Dan menemui bibi Padma.
"Bi, bibi tau gak kira-kira berapa nomor CD untuk, Hardy?" bisik Aline lirih. Takut ada yang dengar. Padahal paman Daud lagi diluar.
"Kamu mau beli CD untuk nak, Hardy?"
__ADS_1
"Iya bi. Kan dia gak punya pakaian apa- apa, selain yang di tubuhnya itu."
"Oh, iya. Bibi sampai lupa."
"Sekalian mau beli obat untuk lukanya, bi."
"Ambil saja yang ukuran XL, sepertinya ukuran itu yang lebih cocok. Untuk postur tubuhnya."
"Oke, bi. Aku pergi dulu, ya."
"Iya, hati-hati nak."
Aline mengendarai sepeda motornya. Melaju di jalan yang agak berbatu. Karena jalan menuju rumahnya belum di aspal.
Sesekali Aline menghindari batu-batu yang agak besar. Agar laju sepeda motornya tidak begitu terguncang.
Begitu habis jalan menurun dari bukit. Aline di sambut jalan raya besar yang beraspal mulus.
Dengan santai, Aline melaju sepeda motornya. Menuju pusat perbelanjaan.
Aline menuju stand pakaian pria. Dan konsultasi dengan pramuniaga pria yang menjaga stand itu.
Setelah mendengar penjelasan, Aline memutuskan membeli beberapa kotak, underwear pria. Juga beberapa kemeja dan jins.
Selesai belanja, Aline menuju toko obat langganan mereka.
"Eh, nak Aline. Udah lama gak muncul. Apa kabarnya, sehat?" ucap pemilik toko obat ramah.
"Puji Tuhan, sehat pak. Bapak juga sehatkan?" Aline balik bertanya.
"Aline butuh obat-obat ini pak," Aline menyerahkan selembar kertas, berisi daftar nama obat yang dia butuhkan.
"Ada yang sakit, ya?"
"Gak pak. Cuma persedian obat-⅙obat mendiang mama sudah mau habis. "
" Oh, iya. Karena kalian jauh di bukit. Susah kalau ada yang mendadak sakit, ya,"
"Iya, pak."
"Bibi Padma sama paman Daud, masih bersama kamu di sanakan?"
"Iya pak." Aline menerima belanjaannya dan membayarnya.
"Hati-hati kalian di sana, ya?" bisik bapak pemilik toko pada Aline.
"Memang kenapa, pak?"
"Itu loh. Ada rumor, katanya ada seorang pembunuh melarikan diri ke arah desa kalian. Apa benar begitu? "
"Kemarin memang ada yang nanya, pak. Dia ngasih selebaran segala. Tapi gak ada kok yang aneh di desa kami. Semua aman kok, pak."
"Oh, syukurlah. Mungkin orangnya sudah mati. Katanya ada liat dia loncat ke sungai. Bisa saja dia sudah mati, terbawa arus."
__ADS_1
"Bisa jadi Pak. Soalnya arus sungai di desa kami itukan deras."
"Lagian, sudah satu minggu, gak ada kabar sama sekali."
"Iya, pak. Aline permisi ya. Keburu sore nanti."
"Iya nak Aline, hati-hati di jalan."
"Iya pak,"
Aline memasukan obat yang baru di belinya ke bagasi. Lalu menguncinya.
Mendadak, Aline melihat seseorang sedari tadi memperhatikannya. Aline merasa aneh. Entah sejak kapan laki- laki itu memperhatikannya.
Aline baru menyadarinya setelah keluar dari toko obat.Perasaan tak enak mulai merayapi benak Aline. Aline menghidupkan motornya, dan keluar dari arena parkir.
Lewat kaca spion, Aline mengamati apakah lelaki itu, mengikutinya. Ternyata benar!
Aline berusaha bersikap tenang. Seolah tak mengetahui apa- apa. Lalu dia berpura-pura mampir di sebuah cafe. Untuk melepas dahaga.
Sambil mengamati apakah pria misterius itu masih membuntutinya. Karena cafe letaknya begitu terbuka. Dan berada pas di pinggir jalan, Aline tak melihat lagi pengendara yang mengikutinya.
Tapi bukan tak mungkin, dia di suatu tempat tengah mengawasi dirinya. Ingat hal itu, Aline berusaha menjaga sikapnya senormal mungkin.
Setelah menghabiskan pesanan, jus alpukatnya. Aline kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini dia mengambil jalan pintas, supaya cepat sampai di rumah.
Aline menarik nafas lega, ketika jalan menuju bukit sudah nampak. Terlebih orang misterius yang mengikutinya juga tidak nampak lagi.
Beberapa menit kemudian, Aline akhirnya sampai di rumah. Bergegas Aline membongkar bagasi motornya. Menenteng belanjaanya. Lalu naik ke atas menuju kamarnya.
Saat melintasi kamar orang tuanya, Aline mendengar suara aneh dari dalam. Aline menempelkan telinganya ke daun pintu. Terdengar ada aktifitas di kamar itu.
Aline membuka pintu perlahan, ingin tau siapa yang berada di kamar orang tuanya.
Ternyata suara itu berasal dari kamar mandi.
Rasa ingin tau Aline melebihi ketakutannya.
Dia ingin tau siapa orang yang begitu lancang berada di kamar orang tuanya. Tanpa seijinnya.
Aline meletakkan belanjaanya di tempat tidur. Ketika dia berbalik pintu kamar mandi terbuka, dan muncul Hardy. Aline terkejut, begitu juga Hardy.
Aline membalikkan tubuhnya saat melihat Hardy cuma pakai handuk. Dadanya yang bidang dan berbulu, serta perutnya yang terkotak- kotak nampak jelas tadi di tangkap netranya.
"Kamu, kenapa sudah mandi . Padahal luka-lukamu belum kering,"
"Seminggu tak mandi, membuat tubuhku terasa gatal dan bau!"
"Kenapa mandi di sini? Di kamarmu kan ada juga kamar mandi."
"Terlalu sempit untuk ukuran tubuhku. Lagi pula di sana tak ada perlengkapan mandi. Juga salin pakaian. Maaf, aku bermaksud pinjam pakaian orang tua kamu."
"Ya, udah. Ini aku beli beberapa pakaian untuk salin. Aku pergi!" ucap Aline. Bergegas Aline hendak keluar dari kamar.
__ADS_1
Tapi sial, kakinya malah kesandung dengan karpet . ****