
Tubuh Hardy yang terjatuh ke sungai langsung terbawa arus sungai yang deras. Saat tubuhnya terhempas ke dasar sungai, kepala Hardian terbentur ke batu. Membuatnya pingsan untuk beberapa saat.
Karena suhu air yang begitu dingin, juga terbawa arus yang cukup deras, Hardy segera siuman. Ia berusaha berenang ke pinggir sungai, dengan sisa kekuatannya.
Akhirnya Hardy berhasil berenang ke pinggir sungai. Dengan meraba- raba dalam gelap, Hardy berhasil naik ke darat.
Lalu tubuhnya terlentang di pinggir sungai. Hujan deras yang masih tercurah ibarat jarum yang menusuk sekujur tubuhnya.
Ia harus selamat. Ia butuh pertolongan. Entah dari siapa ia akan mendapatkan pertolongan, di malam gelap seperti ini.
Bahkan ia tidak tau sedang berada di daerah mana. Semua serba asing, dan entah sudah seberapa jauh ia terseret air. Sampai ia berada di sini malam ini.
Hardy terus menyeret langkahnya dengan tertatih. Nun, jauh Hardy melihat ada setitik cahanya . Pandangan Hardy serasa kabur terhalang oleh derasnya air hujan.
Hardy terus melangkah, cahaya itu semakin dekat dan terang. Hardy tersenyum dan semakin memacu langkahnya, untuk segera tiba di tempat cahaya itu.
Tak ia pedulikan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Juga rasa dingin yang sejak tadi menyiksanya. Dia terus melangkah, semakin dekat terasa semakin jauh.
Dengan putus asa, Hardy merayap untuk segera tiba di sebuah pondok, asal cahaya itu.
Akhirnya Hardy tiba. Tapi betapa kecewanya dia. Ternyata pondok yan ia lihat bukanlah rumah hunian. Melainkan sebuah kandang domba.
Hardy tetap masuk ke kandang itu. Setidaknya tubuhnya tidak kena air hujan lagi. Dan jerami domba itu akan menghangatkan tubuhnya, ketimbang rumput basah.
Saat memasuki kandang domba itu. Domba-domba itu kaget. Apalagi saat tubuh Hardy terjatuh dan pingsan. Sempat menimpa salah satu domba. Sehingga suara riuh terjadi. Domba- domba itu lari pontang - panting di dalam kandang.
Beberapa meter dari kandang domba. Aline, seorang gadis yang masih berduka atas kematian kedua orang tuanya. Tengah duduk menghadap jendela. Aline memandang jarum hujan yang turun begitu deras. Seolah mewakilkan suasana hatinya yang berduka.
Tiba-tiba Aline menangkap suara yang hilang timbul. Sepertinya suara itu berasal dari kandang domba.
Aline menajamkan pendengarnnya. Yap! Benar, itu adalah suara domba- dombanya yang mengembik.
Ada apa dengan dombanya, ya? Kok mereka pada berisik. Apa karena kedinginan. Bukankah tadi ia sudah menyalakan bara api di kandang itu.
Atau ada binatang buas memasuki kandang dombanya?
Bergegas Aline turun ke bawah. Menemui bi Padma dan paman Daud. Sejak kematian orang tuanya, Aline mengajak pasangan suami istri itu tinggal di ruang induk.
Selama ini mereka tinggal di belakang bangunan utama. Pasangan paruh baya yang tidak memiliki anak itu sangat menyayangi, Aline. Mereka telah mengasuh Aline sejak dari kecil.
Mendengar suara langkah kaki Aline, yang tergesa menuruni anak tangga. Mengalihkan perhatian bi Padma dari rajutannya.
"Ada apa Aline, terburu-buru begitu?"
__ADS_1
"Bi, paman mana?" tanya Aline tanpa menjawab pertanyaan Bi Padma.
"Di dapur mungkin. Mau buatkan kopi. Ada apa?"
Aline bergegas ke dapur, menyusul paman Daud.
"Paman, ayo kita periksa dulu kandang dombanya. Sepertinya ada yang terjadi dengan domba-domba itu."
Paman Daud terkejut dan hampir saja menumpahkan kopi buatannya. Saat Aline muncul dengan tiba-tiba.
"Ada apa dengan domba, Aline?"
"Ada yang aneh, paman. Paman dengar tidak! Domba-dombanya ribut. Tidak seperti biasanya. Mereka ribut sekali paman!"
Paman Daud menyimak ucapan Aline. Benar saja domba-domba itu sangat berisik.
"Ada apa ya. Tidak biasanya domba itu berisik.
Tunggu sebentar, paman ambilkan dulu senapan angin. Kau bawa jas hujan biar tidak basah, Aline.
Aline bergegas ke dapur, mengambil jas hujan dan sebuah tongkat.
Melihat tingkah mereka. Bi Padma heran.
"Ibu di sini aja, ya. Aku dan Aline mau periksa kandang domba. Ada yang mencurigakan di sana."
"Hati-hati pak. Nak Aline."
"Iya bi." Aline dan paman Daud menembus curah hujan, menuju kandang domba. Aline menyalakan senter, mengarahkan cahayanya ke beberapa tempat. Siapa tau ada hal yang mencurigakan.
Aline terkejut saat,melihat kandang yang terbuka.
"Paman, pintu kandangnya terbuka," tunjuk Aline pelan pada pintu kandang yang terbuka lebar.
"Nak Aline ke belakang saja. Siapa tau ada binatang buas," bisik paman Daud, mencoba melindungi Aline.
"Baik paman, hati-hati ya!" paman Daud melangkah perlahan. Dan terkejut saat melihat ada tubuh terbujur kaku di dalam kandang.
Paman Daud menodongkan senapan anginnya. Ke arah tubuh Hardy, dan menggoyang kaki orang yang tengah pingsan itu. Tapi tubuh itu diam tak bergerak.
"Aline, sini!" seru paman Daud memanggil Aline yang masih di luar. Aline tergesa masuk dan melihat hal yang sama.
"Paman, itu mayat siapa?! beliak Aline kaget, seraya menutup mulutnya. Aline ketakutan sekali. Bisa-bisanya ada mayat di kandang dombanya.
__ADS_1
"Sssttt, dia belum mati. Sepertinya pingsan! Apa yang harus kita lakukan?" tanya paman Daud kebingungan.
"Tubuhnya kotor sekali paman. Dari mana dia datang. Mana banyak lagi luka di tubuhnya," seru Aline makin panik.
"Tenang Aline, kita tidak tau apa yang terjadi padanya. Kita harus bawa dia ke rumah. Menolongnya sebelum terlambat!"
"Tapi paman, bagaimana kalau dia seorang penjahat. Dan kita dapat masalah karenanya?"
"Bagaimana kalau dia korban kejahatan. Dan berhasil kabur? Sudahlah, ayo kita selamatkan dia lebih dulu." Paman Daud bergegas ke luar kandang. Membawa pengangkut jerami.
"Ayo, kita pindahkan tubuhnya kesini." Aline dan paman Daud memindahkan tubuh Hardy dengan susah payah ke pengangkut jerami.
Paman Daud memengang kendali depan, dan Aline mendorongnya. Karena tanah yang basah dan berlumpur, serta bobot tubuh Hardy yang berat. Mereka akhirnya berhasil membawa Hardy ke rumah.
"Apa-apaan ini, pak? Mayat siapa itu?!" seru bi Padma kaget sekali.Beliau pikir suaminya telah melukai seseorang
"Tenang bi. Bukan kami yang melukainya. Dia sudah begini di kandang domba. Ayo bantu bi, berat lo." seru Aline, menjelaskan supaya bi Padma tenang.
"Aduh, kok bisa ada di kandang. Siapa yang melakukannya." Tergopoh, bi Padma membantu suaminya dan Aline membawa masuk tubuh Hardian.
"Paman, sebaiknya dia di bawa ke atas saja. Aku takut kalau ada tiba -tiba yang mencarinya. Lebih mudah menyembunyikannya di loteng."
"Baiklah, ayo kita gotong tubuhnya ke atas."
Akhirnya tubuh Hardy di letakkan di tempat tidur orang tuanya. Setelah tubuhnya dibersihkan, Aline mengobati luka di sekujur tubuh Hardy
Mendiang ibu Aline adalah seorang perawat. Sehingga Aline sedikit banyak tau cara mengobati orang sakit. Karena ibunya sering membawa Aline menemaninya mengunjungi orang sakit di desanya, sehingga Aline sudah terbiasa merawat orang sakit.
Hardy sangat beruntung bisa bertemu dengan Aline, kalau tidak dia akan mati membusuk dengan luka di sekujur tubuhnya.
Aline telah membalut beberapa luka di tubuh Hardian. Luka robek di sekitar perut dan belakang kepala Hardian juga sudah ia jahit. Selang infus juga telah dipasang ke tubuh Hardian.
Obat anti biotik juga pengurang rasa sakit juga telah disuntikkan.
Sepanjang malam Aline terjaga, merawat Hardy jikalau sesuatu terjadi. Untunglah tak ada hal serius terjadi, semalam. Tubuh Hardian hanya demam dan sempat menggigil serta mengingau.
Mungkin karena terlalu lama terpapar air hujan. Karena saat di temukan di kandang, badan Hardian basah semua.
Entah apa yang telah terjadi padanya. Sehingga orang asing ini bisa berada di tanahku. Batin Aline. Rumah Aline memang jauh dari rumah warga.
Hanya rumah mereka yang ada di bukit ini. Karena ayahnya adalah seorang peternak, maka rumah mereka jauh dari rumah warga.
Banyak hal yang ingin Aline ketahui tentang lelaki misterius ini. Siapa dan dari mana dia. Siapa yang melukai tubuhnya. Dan semua pertanyaan itu hanya akan terjawab setelah pria asing ini siuman. *****
__ADS_1