Prahara Dan Cinta

Prahara Dan Cinta
Bab tujuh


__ADS_3

Akibat kaki Aline kesandung karpet, tubuhnya hoyong dan hampir jatuh menabrak dinding.


Refleks! Hardian menangkap tubuh Aline dari belakang. Tapi Hardian malah menjerit kesakitan karena luka di perutnya sakit, saat menahan tubuh Aline tadi.


Aline berbalik karena tanpa sengaja, handuk Hardian telah terjatuh di lantai. Aline berbalik lagi.Menutup ke dua matanya.


Menjerit saat melihat handuk yang jatuh. Hardian buru- buru memungut handuknya yang melorot. Hardian merasakan malu yang teramat sangat. Karena mungkin Aline telah melihat area pribadinya.


Aline juga bergegas keluar. Menyesal karena terlalu ingin tau siapa tadi di dalam kamar orang tuanya. Dia tak ingat sama sekali, kalau ada orang asing di rumahnya beberapa minggu ini.


Tadi dia memang gak liat apa- apa, saat handuk Hardian melorot. Karena ia buru- buru menutup matanya.


Tapi Aline merasa sangat bodoh sekali dengan sikap ingin taunya. Yang berakibat memalukan, bagi mereka berdua.


Ketika mengganti perban di tubuh Hardian, Aline merasa grogi. Padahal selama ini perasaan itu tak pernah hadir. Dia selalu melakukan tugasnya itu dengan tenang.


Hardian juga merasakan sikap Aline yang berubah. Pasti gegara insiden tadi sore, batinnya.


Untuk memecah rasa kaku itu, Hardian menanyakan pengalaman Aline selama ke kota tadi.


Di ingatkan seperti itu, Aline bercerita.


" Tadi saat aku keluar dari toko obat. Ada seseorang mengikuti aku. Aku mampir di cafe, sebentar. Saat pulang dia sudah tak ada. Karena aku juga lewat jalur pintas."


" Apa orangnya seperti yang kemarin?"


" Gak, yang ini beda."


" Maksudnya?"


" Kalo yang kemarin itu, tampilannya lebih sangar. Tapi yang ini nampaknya lebih baiklah." Aline menceritakan ciri-ciri orang yang mengikutinya.


" Jadi dia tak mengikuti sampe ke rumah."


" sepertinya begitu. Tapi entahlah. Gak ada yang mencurigakan sepanjang aku pulang."


" Kamu punya ponsel kan? Boleh aku pinjam sebentar.?"


Aline mengambil ponselnya dan memberikannya pada Hardian.


" Mana kertas selebaran yang kemarin kau terima itu."


" Kamu mau apa? Menelepon nomor ini? Tidakkah itu sama saja memberitahu persembunyianmu!?" beliak Aline kaget.


" Oh, iya aku lupa." Hardian menepuk jidatnya.


" Bagaimana kalau melacak lewat FB?"

__ADS_1


" Sudah aku cari, tak ada yang cocok," tukas Aline.


" Aline! " tiba- tiba Hardian memegang ke dua tangan Aline. Mau tak mau, Aline menatap netra Hardian yang bicara serius.


" Iya, ada apa?" sahut Aline gugup. Posisi keduanya duduk berhadapan membuat detak jantung Aline bergemuruh.


" Kamu percaya gak, aku seorang pembunuh?" tanya Hardian membuat hati Aline tertohok


Sulit menjawabnya! Entah jawaban apa yang pas dia berikan. Di satu sisi ia meragukan itu. Tapi di sisi lain Hardian adalah orang asing.


Jelas dia tidak tau masa lalu, Hardian seperti apa.


Walaupun sikap Hardian cukup sopan, selama di rumah ini. Itu tidak menjamin dia orang baik. Karena ia butuh tempat tinggal, perlindungan.


Tapi, apa sedangkal itu menilai Hardian?


" Aline... Kok malah bengong. Jawab aku dong," guncang Hardian pada lengan Aline , yang cukup lama terdiam.


" A....Aku bingung mau jawabnya, apa?" ucap Aline terus terang.


" Ikuti kata hatimu , Aline." tatap Hardian lekat.


" Terlalu cepat bagiku menilai kamu, Har. Tapi jujur aku meragukan itu. Aku ragu kalau kamu seorang pembunuh. Sama ragunya juga, untuk percaya kalau kamu bukan seorang pembunuh. Maaf, kalau jawabanku mengecewakanmu.


" Tidak, Aline . Itu adalah jawaban paling bijak . Karena aku juga berpikir yang sama sepertimu."


" Lalu apa yang akan kamu lakukan untuk,


" Aku harus pergi dari sini. Keluar dari zona nyaman ini. Aku tidak tau apa yang terjadi di luar sana, kalau aku tetap di sini. Aku harus mencari tau siapa diriku yang sebenarnya."


" Oh...." Tekanan nada suara Aline seperti menahan kecewa. Hardian, dapat merasakan itu. Dia juga sedih harus meninggalkan rumah ini. Rumah yang telah menerimanya menumpang hidup.


Juga orang- orang yang merawatnya dengan baik, selama ini.


Entah bagaimana nasibnya, bila seandainya mereka tidak menemukan dirinya di kandang itu. Merawatnya dengan baik.


" Kamu yakin mau pergi, dengan keadaan kamu yang masih amnesia? Kamu tidak tau mau ke mana. Karena ingatanmu yang belum pulih,"


" Tapi, aku juga tidak ingin melibatkan kalian lebih jauh. Aku lebih khawatir keselamatan kalian dari pada aku, Aline."


" Tapi, kamu mau pergi ke mana? Kamu tidak punya tujuan yang pasti kan? Bagaimana kalau orang- orang itu yang duluan menemukanmu. Aku tidak ingin terjadi lagi sesuatu padamu." isak Aline sedih.


Aline teringat saat pertama kali menemukan tubuh Hardian dengan kondisi yang mengenaskan.


Adalah mukzizat Tuhan dia selamat malam itu. Di temukan oleh mereka, dan secara kebetulan juga, ia bisa mengobati luka - luka di tubuhnya.


Dengan kondisi hilang ingatan, tidakkah sama saja mendorongnya ke jurang.

__ADS_1


Tapi, kapan ingatannya kembali normal, itu juga sebuah pertanyaan yang sulit di jawab.


Apakah bulan depan, tahun depan, atau tidak akan pulih lagi selamanya.?


Tak mungkin dia terjebak terus di sini. Suatu hari dia pasti akan pergi. Cepat atau lambat sama saja.


Hardian merasa terharu mendengar ucapan Aline. Seperti ada nada asing memasuki pelataran hatinya. Sesuatu, yang mungkin selama ini belum pernah ia rasakan. Begitu aneh, tiba- tiba membuat hatinya rapuh.


Entah keberanian dari mana, Hardian memeluk tubuh Aline. Ada geletar aneh, seperti kena arus listrikk. Mengejutkan hati dan jiwanya.


Rasa damai itu, entah datanganya dari mana!


Aline juga merasakan hal yang sama. Kepergian orang tuannya yang begitu mendadak, membuat ruang hatinya penuh luka. Dan harus menanggung kesakitan itu seorang diri.


Sekalipun dia memiliki Bibi Padma dan Paman Daud, jarak itu masih terasa.


Tiba- tiba saja Aline merasa damai dan terlindungi. Saat Hardian merengkuhnya dalam pelukannya.


Sesuatu yang belum pernah di lakukan orang padanya. Ada sensasi hangat menjalari hatinya.


Duh, kenapa jadi begini? Hati Aline membatin.


Wajahnya bersemu merah melepaskan diri dari pelukan, Hardian.


" Bagaimana kalau kamu di periksa dulu, apa penyebab kamu menderita amnesia." ucap Aline mengutarakan idenya.


" Apa kira- kira sudah aman bagiku, keluar rumah.?"


" Kamu bisa berlindung di balik topi, nah itu brewok kamu jangan di cukur, dulu. Kayaknya bisa menyamarkan wajahmu. Coba lihat!" Aline mengambil kertas selebaran dan mendekatkannya ke wajah Hardian.


" Nah kan! Beda banget wajah kamu di sini dengan aslinya." kekeh Aline.


" Gantengan yang mana?" goda Hardian.


" Aslinyalah. Inikan cuma kertas," cebik Aline.


" Tunggu sebentar ya!" Aline berlari ke kamar orang tuanya. Di mengacak lemari pakaian ayahnya. Dan menemukan jaket kulit kesayangan mendiang ayahnya. Juga beserta topinya.


" Kamu boleh pakai ini dan ini." Aline menyerahkan jaket dan topi, ke tangan Hardian.


Hardian kaget!


" Ini punya siapa?"


" Punya mendiang ayah saya." sahut Aline lirih karena teringat akan ke dua orang tuanya.


" Kamu berikan untuk aku pakai?"

__ADS_1


" Iya, minjam. Itu jaket kesayangan ayahku. Kamu boleh makenya selama di sini. Apa lagi hawa di sini dingin. Mungkin tak cocok dengan tubuhmu, ya?" tanya Aline karena Hardian ragu untuk memakainya.


" Gak, pasti pas di badanku." Hardian memakai jaket itu. Dan memang pas di badannya. Bahkan lebih macho kalau dia yang pakai. ****


__ADS_2