Prahara Dan Cinta

Prahara Dan Cinta
Bab lima. Mencari titik terang


__ADS_3

"Ada apa? Apa yang terjadi padamu?" seru Aline saat melihat Hardy yang memegangi kepalanya. Seraya mengaduh kesakitan.


"Sakit...! Rintih Hardy masih terus memegangi kepalanya. Membuat Aline jadi panik. Bergegas Aline mengambil obat, penghilang rasa sakit.


"Ayo minum ini!" Aline mengangsurkan air putih dan obat ke Hardy. Hardy meminum obat penghilang rasa sakit. Wajahnya berkeringat. Aline merasa iba, di usapnya wajah Hardy dengan tissu.


"Makasih ya. Karena kamu masih mau merawat seorang pembunuh! Bahkan mau melindunginya."


"Apa yang tersurat di sini, belum tentu sebuah kebenaran. Kertas ini hanya penjelasan dari satu pihak. Sementara anda sedang kehilangan ingatan."


"Kamu tidak takutkah sama aku?"


"Apa yang harus aku takutkan, dari orang tak berdaya seperti kamu ini? Sejahat-jahatnya seseorang, pasti tahu membalas budi orang yang menolongnya. Bagaimana, apa masih terasa sakit?" tanya Aline.


"Sudah mendingan. Sikap kamu lebih dewasa dari umurmu yang sebenarnya." ucap Hardy memuji.


"Hidup ini mengajarkan kita bersikap, sesuai dengan apa yang kita hadapi. Kalau luka di tubuhmu sudah sembuh. Ada baiknya kamu di periksa di rumah sakit. Mungkin kepala kamu terbentur di batu saat hanyut, sehingga kamu amnesia."


"Tapi bagaimana aku bisa ke rumah sakit, sedang aku jadi seorang DPO."


"Benar! Mungkin saja saat ini mereka tengah mencarimu di rumah sakit."


***


"Pranggggg!!!" David membanting asbak hingga hancur terserak di lantai.


" Dasar bodoh! Mencari satu orang saja kalian tidak becus!" hardik David dengan wajah memerah, dan emosi yang membludak.


"Maaf pak. Kami sudah menyusuri sungai, tempatnya melompat. Juga memeriksa satu persatu rumah warga disana. Tapi tidak seorang pun tau kejadian itu."


"Iya pak! Pasti Hardy sudah mati! Terbawa arus malam itu. Mana tubuhnya penuh luka lagi," timpal anak buahnya satu lagi.


"Bodoh! Kamu itu bodoh tau! Selagi mayatnya belum di temukan, bagaimana kamu percaya kalau dia sudah mati, hah!" maki David makin marah!


"Sudahlah, pak. Jangan terpicu emosi seperti itu. Bisa sajakan betul, kalau keponakanmu sudah mati?" lerai Nila istri David.


"Kamu! Jangan turut campur urusanku kalau gak paham," hardik David pada istrinya.


Padahal maksud istrinya, biar suaminya tidak terlalu emosi.


Saat seseorang di landa emosi pikirannya pasti gak fokus. Jadi masalah tambah runyam.


Karena di bentak suaminya, Nila pergi meninggalkan ruang tamu.


"Sekarang, kalian harus cari lebih seksama lagi. Jangan sampai ada yang terlewat! Pergi sana, aku mau menghadiri, rapat!" usir David kasar pada anak buahnya. Lalu ia memanggil sopirnya, untuk mengantarnya ke perushaan.

__ADS_1


Kepergian Hardy dan rumor yang terjadi di perusahaan, mau tak mau membuat David pusing juga. Menghadapi pertanyaan orang-orang serta media.


Banyak yang berasumsi, menghilangnya Hardy terrkait dengan masalah keuangan yang di timbulkan pamannya sendiri.


Kematian Beni dan menghilangnya Hardy serta adanya tuduhan bahwa Hardylah yang telah membunuh supirnya, menimbulkan banyak spekulasi.


Kasus menghilangnya Hardy juga sudah ditangani polisi. Dan tengah melakukan penyidikan. Kepada orang-orang terdekat Hardy. Terutama pamannya David.


Tapi sejauh ini penyelidikan kasus itu masih belum menemukan titik terang. Tidak ada bukti kalau David terlibat dengan menghilangnya Hardy.


David memiliki alibi, bahwa dia seharian berada di kantornya, malamnya dia juga bersama keluarganya.


Dari penyelidikan polisi mereka menduga Hardy telah di culik. Atau melarikan diri karena telah melakukan pembunuhan. Nampaknya polisi lebih memilih praduga pembunuhan. Sehingga polisi menetapkan status Hardy jadi DPO.


Polisi telah menyebar selebaran, untuk di ketahui masyarakat. Supaya lebih waspada dan melaporkannya pada pihak berwajib bila ada melihat tersangka.


Berhubung status Hardy yang tidak jelas. Untuk sementara waktu pimpinan perusahaan jatuh ke tangan pamannya, David. Sebagai satu-satunya ahli waris dari Hardy.


"Hahaha...! Akhirnya aku dapat menguasai hartamu, Hardy bodoh!" seringai David, dengan tawa membahana. Nila istrinya juga ikut tertawa.


"Begitu mudahnya mengambil semua ini dari tangan, Hardy. Ternyata di jauh lebih bodoh dari ke dua orang tuanya." kekeh Nila tak kalalh nyaring dari tawa Hardian.


Ke duanya toast, lalu meminum wine . Merayakan kemenangan mereka. Sambil berdansa mengikuti irama musik, yang mengalun kembut.


Sungguh biadab! Disaat keponakan mereka bertarung dengan maut, atas perbuatan mereka. David dan Nila malah menari-nari penuh kemenangan.


"Papa, mama! Apa yang papa dan mama lakukan?!" teriak Nadine di ambang pintu.


Serentak David dan Nila terkejut,dan saling melepas pelukan mereka.


"Sempat-sempatnya Mama, dan Papa berdansa. Sementara kabar Hardy belum jelas entah di mana!"


"Nadine, Nadine! Buat apa sih pusing mikirin, Hardy! Paling dia sudah jadi mayat! " seru Nila mamanya. Kayaknya mamanya sudah dipengaruhi alkohol yang ia minum.


"Tidak juga begitu, ma. Bagaimana kalau tetangga melihat ini. Bisa-bisa mama dan papa dicurigai, dibalik menghilangnya Hardy!" protes Nadine kesal.


"Papa dan Mama tak ingin 'kan, kalo tetangga curiga, dan melapor ke polisi?!" lanjut Nadine.


"Ya udah! Dasar bawel!" Nila menyeret suaminya masuk ke kamar. Nadine geleng kepala dan mematikan musik.


Mata Nadine terperangkap pada sebuah bingkai foto keluarga yang tergantung di dinding. Di mana Hardy dan kedua orang tuanya tersenyum abadi, dalam foto itu.


Seketika bulu kuduk Nadine meremang, melihat foto ukuran jumbo itu. Nadine merasa seolah ditatap dengan sejuta tuduhan. Nadine buru-buru pergi. Hatinya bergidik ngeri karena tatapan yang penuh horor itu.


***

__ADS_1


Aline memeriksa tekanan darah, Hardy. Dalam beberapa hari ini, suhu tubuhnya berubah terus.


Sudah tiga hari ini Hardy demam. Terkadang turun, lalu naik tiba-tiba. Aline bermaksud memanggil dokter untuk memeriksa Hardy, tapi takut hal itu akan menarik perhatian orang di kampungnya.


Sementara membawanya ke rumah sakit pun akan lebih berbahaya lagi. Karena Hardy akan mudah menarik perhatian orang. Karena foto selebaran yang sudah tersebar luas.


Seperti malam ini suhu tubuh Hardy panas lagi.


Aline sudah memberinya obat penurun panas, tapi sejauh ini obat itu belum bereaksi juga. Panasnya belum turun.


Aline membasahi kain. Dan mengompres kepala Hardy.


Aline merasa menyesal telah menunjukkan kertas selebaran itu, ke Hardy. Mungkin saja dia syok saat mengetahui dirinya di sebut pembunuh dan sedang buron, sehingga mentalnya jatuh.


Mana ia mengalami amnesia juga, sehingga tidak dapat membela dirinya. Karena tak ingat sama sekali apa yang terjadi padanya.


"Tidak! Kenapa kalian membunuh supirku. Mau kalian bawa kemana aku. Lepaskan.., aaauuww!"


sepertinya Hardy mimpi buruk. Mengigau karena demamnya yang cukup tinggi.


Hardy terjaga dari mimpi buruknya. Keringat membasahi kening dan dadanya.


Aline yang terjaga sepanjang malam, kaget mendengar kata- kata Hardy yang dibawah alam sadarnya.


Aline mengusap keringat di wajah dan dada Hardy.


"Kamu mimpi buruk, ya?" tatap Aline cemas.


"Aku, bermimpi mengalami kecelakaan. Sopir yang mengendarai mobil itu, di bunuh. Dan aku di seret keluar dari mobil. Wajah mereka tidak jelas."


Hardy menceritakan mimpi buruknya.


"Mungkinkah mimpi itu adalah kejadian, sebenarnya yang kau alami? Melihat dari banyaknya luka di tubuhmu. Jangan-jangan kamu mengalami amnesia karena, kecelakaan." ucap Aline mengurai kejadian yang di alami Hardy


Hardy menatap nanar ke arah Aline.


"Tapi kenapa kau bilang kamu hanyut? Apakah mereka melemparmu ke sungai, juga?"


Tapi lokasi kecelakaan itu sangat jauh dari sini. Bagaimana kamu bisa berakhir di desa kami? Apa mereka menculik dan membuangmu di sungai, yang melintasi kampung kami?


Lalu mereka menyusuri sungai mencarimu untuk memastikan apa kamu sudah mati apa belum.?" mata Aline berkedip-kedip, mimik wajahnya yang begitu serius.


Tak urung membuat Hardian tersenyum. Mencairkan ketengangannya akibat mimpi buruk itu.


"Ih, kok malah senyum-senyum," delik Aline, keki.

__ADS_1


*****


Mohon dukungannya untuk karya ku ini. Perdana ikut lomba. Beri like n komennya. Please!


__ADS_2