
" Bagaimana hasil pemeriksaannya dokter?" tanya Aline kepada Dokter Jacob yang menangani Hardian. Setelah pemeriksaan CT scan.
Dokter menjelaskan hasil rongent di kepala Handian. Memang terdapat luka di belakang otak kecilnya. Karena benturan benda tumpul.
Itu penyebab Hardian mengalami, amnesia.
Berita bagusnya dokter bilang, amnesia yang di alami Hardian tidak permanen. Jadi kemungkinan besar masih bisa sembuh. Tapi kapan sembuhnya, dokter tak bisa menyimpulkan.
" Terimakasih Dokter atas penjelasannya." ucap Hardian di akhir konsultasi mereka.
" Sama- sama, semoga Anda lekas sembuh." sahut Dokter itu ramah.
Hardian dan Aline beranjak dari kursi mereka . Ketika Dokter yang sudah berumur itu, menahan langkah mereka.
" Oh ya. Tunggu sebentar! Sepertinya wajah anda begitu familiar. " sebut Dokter meneliti wajah Hardian.
" Maksud Dokter, saya?" ucap Hardian tegang. Begitu juga Aline. Pasti Dokter itu akan menyinggung soal buronan polisi.
" Iya, saya seperti pernah bertemu anda. Tapi saya lupa di mana?" Dokter itu mencoba mengingat -ingat sesuatu.
" Ah, aku ingat sekarang. Anda adalah seorang pengusaha sukses, yang pernah menolong saya saat di begal di kota. Ini, kartu nama kamu, yang saya minta waktu itu. Apa benar ini anda. Sepertinya mirip sekali. Bedanya anda punya brewok. " kekeh dokter itu.
Hardian dan Aline kaget saat melihat kartu nama itu. Foto dan nama yang tertera dalam kartu itu sama. Hanya saja tadi nama Hardian di samarkan. Saat mengisi biodata, namanya Surya, bukan Hardian.
Dalam kartu itu tertulis jelas, semua biodata Hardian. Seorang CEO, perusahaan terkenal yang bergerak di bidang kontraktor.
" PT NAULI"
Hardian dan Aline saling berpandangan, heran.
" Dokter, boleh kami pinjam kartu nama ini?"
" Boleh, ambil saja. Saya sedih setiap kali melihat kartu itu."
" Kenapa dokter?" tanya Hardian dan Aline bersamaan.
" Dia menghilang entah ke mana. Katanya dia hanyut di sungai. Tapi mayatnya tidak di temukan. Dan info yang lain dia itu menghilang, setelah membunuh supir pribadinya. Entah mana yang benar.
Tapi aku tak percaya semua itu. Dia itu orang baik. Dia di tinggal ke dua orang tuanya, lima tahun lalu, karena kecelakan.
Aku yakin, pamannya yang serakah itu dalang di balik kematiannya." jelas sang Dokter dengan wajah penuh prihatin.
" Kamu, mengingatkan saya padanya. Garis wajah kalian sangat mirip sekali. Kalau boleh saya tau, untuk apa kartu nama itu."
" Bukan untuk apa- apa dokter. Cuma, siapa tau kita bertemu jadi bisa mengenalinya." jelas Aline. Berusaha bersikap tenang, supaya Dokter Jacob tidak curiga.
" Kami juga turut sedih, Dokter. Atas apa yang terjadi dengan sahabat Dokter." lanjut Hardian. Untuk mengalihkan perhatian Dokter ke Aline.
"Iya tidak apa- apa. Trimakasih,"
__ADS_1
" Kami pamit dulu Dokter." Aline dan Hardian segera keluar dari ruangan dokter Jacob.
" Eh, tunggu dulu." langkah Aline dan Hardian terhenti saat mendengar Dokter Jacob, memanggil mereka lagi.
" Iya , ada apa Dokter?" sahut Aline.
" Minggu depan datang lagi ya. Saya ingin liat reaksi obat itu," ucap Dokter Jacob.
Aline menarik nafas lega. Tadi ia sempat berpikir, kalau Dokter Jacob mengenali Hardian. Ternyata hanya untuk memberitahu jadwal periksa ulang.
" Iya, Dokter kami pasti akan datang." seru Aline.
Dengan menundukkan wajahnya. Hardian berjalan bersisian dengan Aline. Takut ada yang mengenalinya.
Untunglah selama dalam perjalanan pulang dan pergi. Tak orang yang mencurigai mereka.
" Bagaimana hasil pemeriksaannya nak? " tanya Bi Padma, begitu Aline dan Hardian tiba di rumah.
" Kepala saya terkena benturan, Bi. Mungkin saat saya hanyut di sungai."
" Syukurlah, kalau tidak ada hal lain. Bibi cemas kalau sesuatu terjadi pada nak, Hardian."
" Makasih, Bi. Karena Bibi dan Paman telah merawat saya selama ini."
" Tidak apa -apa nak. Sudah sewajarnya kita saling menolong. Lagi pula, semua itu karena nak Aline. Dialah yang lebih peka malam itu, kalau telah terjadi sesuatu di kandang domba."
" Barusan pergi Nak, melihat ternak. Ada perlu apa sama Paman?"
" Mau nanya, apa paman sudah dapatkan pekerja itu. Kasihan kalau paman sendirian mengurus ternak- ternak itu."
" Biar nanti, bibi yang tanyakan. Sekarang istirahatlah dulu nak. Pasti capek sepulang dari kota."
" Iya, Bi. Aku naik dulu ya." Aline bergegas menaiki tangga, di ikuti Hardian dari belakang.
" Apa yang akan kita lakukan dengan kartu nama ini?" Bagaimana kalau kita coba menghubungi, nomor ini?" usul Aline. Langsung membahas perihal kartu nama itu.
" Ada baiknya juga di coba. Siapa tau kita dapat informasi,"
Aline mencatat nomor yang tertera, di kartu itu. Ke ponselnya. Lalu menekan angka yang tertulis itu Tapi ternyata sudah tak aktif.
" Coba nomor yang satu lagi," ucap Hardian.
Aline kembali menekan nomor yang telah dia catat lagi. Berdering, berarti nomornya aktif.
" Halo, ini PT Nauli. Apa yang bisa kami bantu, Pak." balas seseorang di seberang.
" Halo, selamat sore, Bu?" sapa Hardian.
" Pak, Hardian?!" suara kaget di seberang menjawab. Aline dan Hardian saling pandang. Karena perempuan di seberang sana, langsung bisa mengenali suara Hardian.
__ADS_1
" Sebentar Pak. Saya ke ruangan saya dulu. Mohon jangan di putus dulu." setelah jeda beberapa saat.
" Halo Pak! Saya sudah di tempat aman. Apa benar ini Pak Hardian? Ternyata Bapak masih, hidup? Bapak berada di mana. Sebenarnya apa yang telah terjadi sama Bapak? Kenapa Bapak menghilang?" bertubi pertanyaan yang di ajukan ke Hardian. Membuatnya bingung.
Aline mengambil alih ponsel dari tangan Hardian. Karena tak satupun yang mampu di jawab Hardian.
" Halo, Kak. Kalau boleh tau, Kakak siapa ya? "
" Saya Ratih, sekretaris Pak Hardian. Anda siapa, mana Pak Hardian! Saya ingin bicara dengan Bapak." seru suara di seberang, sana begitu panik.
" Maaf Kak, aku tak bisa bicara banyak di sini. Kalau Kakak mau, aku ingin alamat Kakak. Biar aku menemui Kakak secara langsung saja."
" Oke, baik kalau begitu. Ini alamat saya, dek." Ratih menyebut alamatnya, lalu Aline mencatatnya di secarik kertas.
Akhirnya, misteri kehidupan Hardian akan terkuak. Dari mana asal usulnya, siapa dia yang sebenarnya.
" Siapa perempuan tadi, Aline?" tanya Hardian.
" Katanya dia sekretaris, kamu. Dia sepertinya sangat mencemaskanmu. Namanya Ratih."
" Ratih?" Hardian mencoba mengingat nama itu. Tapi dia sama sekali tak ingat.
" Tidak apa- apa, aku akan menemui Ratih. Mungkin Ratih bisa menjelaskan siapa kamu yang sebenarnya." ucap Aline antusias.
" Kamu percaya begitu saja? Bagaimana kalau mereka hanya ingin menjebakmu, untuk bisa menemukan aku?" Hardian merasa cemas.
" Bagaimana kalau sebaliknya? Semisal Ratih, justru akan menolong kamu?" ujar Aline optimis.
Hardian semakin kagum akan sikap Aline, yang selalu berpikir positif dalam menangani masalah.
Rasa percaya dirinya juga sifat menolongnya sangat menonjol.
Tapi terkadang Aline juga terlalu mudah percaya sesuatu. Polos dan naif. Di satu sisi dia juga tangguh dan sekaligus rapuh.
Seperti inikah ciri khas wanita di desa? Lemah sekaligus kuat. Lembut sekaligus liar?
Ah, apapun itu. Hati seorang Hardian telah di curi!
Hardian tak bisa mengelak, kalau pesona seorang Aline telah membetot hatinya. Dia suka dengan gadis belia, yang selalu sok dewasa ini.
Liat saja gayanya, saat memanggilnya. Selalu dengan kata kamu, atau menyebut namanya secara langsung. Tanpa embel- embel om, atau kakak.
Padahal, lewat fisik nampak jelas kalau usia mereka bertaut jauh. Mungkin sekitar tiga atau lima tahun.
Entah, apakah ia hendak menyembunyikan jati dirinya yang sebenarnya. Atau dia terpaksa atau dipaksa bersikap begitu karena keadaan.
Kehilangan kedua orang tua sekaligus, pasti telah membentuknya jadi pribadi yang lain. Pribadi yang tangguh. Sebagai anak tunggal, pasti sangat sulit baginya menerima kenyataan, itu.
Aline harus mengurusi peternakan keluarganya di bantu pengasuhnya! *****
__ADS_1