Prahara Dan Cinta

Prahara Dan Cinta
Bab empat. Kedatangan Pria berseragam hitam.


__ADS_3

Aline keheranan melihat paman Daud, yang datang dengan langkah tergesa- gesa.


"Ada apa paman?" tegur Aline keheranan. Paman Daud terlonjak kaget, mendengar teguran Aline. Karena tak mendengar kehadiran Aline.


Paman Daud menarik lengan Aline ke arah dapur. Membuat rasa penasaran Aline makin bertambah.


"Begini nak. Tadi paman turun ke bawah mencari rumput. Trus, ada orang asing bertanya ke beberapa warga. Apa ada korban hanyut di desa kita.?"


"Trus apa kata warga, paman?"


"Gak ada yang tau. Semua pada heran. Lalu paman melihat mereka menyisir sungai. Jangan-jangan mereka itu ada hubungannya dengan lelaki yang kita tolong semalam?"


"Baguslah itu Paman. Berarti kita bisa tau siapa pria asing di atas. Siapa tau mereka itu, saudaranya. Iya kan?" sahut Aline berbinar.


"Sepertinya tidak! Paman meragukan itu. Mereka itu orangnya beringas. Jangan-jangan mereka, adalah orang yang mencelakai pria asing itu? Mereka seperti yang di Televisi, nak. Pakaiannya hitam-hitam. Paman takut!" seru paman Daud, merinding.


"Maksud Paman, intel? Atau mafia?" seru Aline.


"Gak taulah nak Aline, yang jelas firasat paman gak baik."


"Trus maksudnya paman, gimana?"


"Mereka itu nanya-nanya ke setiap rumah. Bahkan memeriksa rumah orang segala. Nah! Kalau mereka datang ke sini gimana? Iya kalau mereka itu saudaranya. Tapi, gimana kalau mereka justru orang jahat. Dan malah mengahabisi pria asing itu. Dan kita juga kena masalah!" beber paman Daud.


"Aduh! Firasatku juga jadi gak enak paman. Apa yang harus kita lakukan?" ungkap Aline bingung.


"Kita pindah saja dia sementara ini ke loteng. Paman yakin mereka akan datang ke sini juga."


"Baiklah paman, aku naik dulu. Paman bilang sama bibi. Supaya bibi gak cerita apa-apa."


"Baiklah." Paman Daud pergi ke arah dapur. Aline naik lagi ke atas setelah menyimpan peralatan makan Hardy


Sejenak Aline ragu untuk memberitahu Hardy.


Aline menautkan kedua jemarinya, dan meremasnya bergantian. Hardy melihat sikap Aline yang janggal.


"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Hardy.


Aline menatap Hardy lama. Nampaknya dia kesulitan cara memberitahu Hardy hal yang sebenarnya.


"Begini, kata paman ada orang asing yang mendatangi setiap rumah warga. Menanyakan apakah ada yang menemukan orang yang hanyut di sungai. Anehnya mereka menggeledah setiap rumah dengan paksa! Apakah itu ada kaitannya dengan anda? Dan aku ragu, mereka bukan orang yang akan menolong kamu. Mungkinkah justru mereka yang mencelakai anda?"


"Bagaimana kalau mereka adalah orang-orangku?" tatap Hardy lekat pada Aline.

__ADS_1


"Tapi bagaimana kalau mereka justru yang telah menganiaya anda?" balik bertanya Aline. Menatap Hardy dengan tatapan yang sulit dimengerti Hardy.


"Bagaimana aku tau. Aku sudah kehilangan ingatanku, tentu tak bisa mengenali mereka."


"Nah, itu dia! Mereka orang baik atau orang jahat. Kamu tidak akan pernah tau, karena kamu amnesia! Jika mereka datang untuk menolongmu tentu bagus.Tapi kalau mereka hendak melenyapkan kamu, karena sesuatu hal. Kamu akan dengan sangat mudah di singkirkan! Percumalah perjuanganmu melarikan diri, dari mereka." Hardy termangu mendengar penuturan, Aline.


"Lantas apa yang harus aku lakukan?"


"Aku akan membawamu ke loteng, bersembunyi untuk sementara!"


"Baiklah kalau itu yang terbaik." Hardy pasrah, di suruh pindah ke loteng. Dengan menahan rasa sakit, di sekujur tubuhnya. Dibantu paman Daud. Juga setelah bibi Padma membersihkan dan mengelar sebuah tilam untuk alas tidur, Hardy.


Setelah selesai mengurus Hardy. Aline dan bibi serta pamannya, beraktivitas seperti biasa. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Seperti yang di perkirakan Aline dan paman Daud. Orang-orang berpakaian hitam itu akan datang ke rumah Aline.


Menjelang siang, mereka datang. Saat itu paman Daud, sedang membersihkan kandang domba. Lalu mereka mendatangi rumah Aline, di antar oleh paman Daud.


"Selamat siang, Bu!" sapa salah satu dari ke tiganya.


"Selamat siang, pak. Ada apa ini, ya?" ucap Aline tenang. Dan pura-pura heran, karena mereka adalah orang asing.


"Kami mau tanya Ibu?"


"Soal apa?"


"Begini bu, kami mencari keponakan bos kami. Sepertinya dia melarikan diri, karena telah membunuh sopirnya. Dia itu sangat berbahaya. Kalau ibu ada melihatnya, harap lapor pada kami."


"Oh, iya. Ini kami telah buat kertas selebaran, Bu. Ibu bisa hubungi kami di nomor itu." memberikan kertas selebaran ke tangan Aline. Jantung Aline berdetak kencang, karena memang yang di cari mereka adalah , pria asing yang di tolongnya semalam.


"Apa ibu, pernah liat orang yang di foto itu?"


"Gak kok, pak! Nanti kalau kami melihatnya, kami akan menghubungi bapak."


Tiba-tiba suara gaduh terdengar dari dalam rumah. Aline dan paman Daud kaget, begitu juga ke tiga tamu itu.


"Ada siapa di dalam, Bu?"


"Oh, itu bibi saya. Mungkin lagi menjatuhkan sesuatu. Kami hanya tinggal bertiga. Saya, paman dan bibi saya."


"Maaf Bu, boleh saya permisi masuk?" orang asing itu langsung masuk, sebelum Aline menjawab.


"Eh, apa-apaan sih pak!. Tak sopan nyelonong masuk ke rumah orang." hardik Aline tegas.


"Maaf Bu, kami harus segera menemukan orang itu!" langkah kaki orang asing itu terhenti, saat melihat Bi Padma tengah memungut pecahan gelas di lantai.

__ADS_1


"Maksud bapak, kami menyembunyikannya di sini, begitu!?" hardik Aline keras.


"Ada apa, bi?" seru Aline.


"Tuh, si kucing nakal mencuri ikan, nak Aline. Saat bibi usir, malah ngejatuhin gelas sama piring. Ini siapa ya? Kok masuk sembarangan ke dapur orang. Pergi!" hardik bi Padma mengusir ke tiga tamu asing itu.


"Sabar, Bu. Kami akan segera pergi. Maaf bu, permisi!" ketiganya langsung ngacir, karena bi Padma lagi pegang teplon dan berusaha memukul mereka.


Bi Padma tersenyum saat melihat ke tiga orang asing itu segera pergi dari rumah, Aline.


Aline mengelus dadanya lega. Untunglah ke tiga orang itu tak curiga pada mereka.


Aline memeriksa kertas selebaran itu. Mengamati foto Hardy yang lengkap mengenakan stelan jas. Jelas tertulis namanya dan nomor yang harus di hubungi apabila ada yang melihatnya.


Bahkan tertulis di sana berapa , nominal uang bagi siapa saja yang menemukan atau yang bisa memberi info keberadaannya.


Tidak tangung-tanggung, sampai ratusan juta!


"Hem, jadi namanya Hardy? Di tilik dari fotonya sepertinya dia bukan orang sembarangan. Kok sampai ia di tuduh membunuh. Padahal tubuhnya justru penuh dengan luka. Saat di temukan di kandang domba.


Justru dia itu seperti korban percobaan pembunuhan. Apalagi dia itu sampai mengalami amnesia. Mungkin itu adalah akibat dari peyiksaan yang ia terima. Monolog hati Aline.


"Paman, aku naik ke atas dulu ya? Aku hendak memeriksa tentang ini?" Aline memperlihatkan kertas selebaran di tangannya.


"Hati-hati nak! Paman yakin kita akan di awasi orang-orang itu. Sepertinya mereka bukan orang sembarangan."


"Iya, paman. Aline akan berhati-hati."


Aline kembali naik ke loteng sambil menunduk. Karena tempat persembuyian Hardy tingginya hanya dua meter. Loteng itu adalah tempat menyimpan barang- barang yang tidak di pakai.


Melihat kemunculan Aline, Hardy bernafas lega. Hardy merasa tegang juga, saat Aline memberitahu ada orang yang mencarinya.


"Apa mereka sudah pergi?"


"Iya, tapi aku yakin mereka akan mengawasi rumah ini, dan akan datang lagi, ke mari?"


"Kenapa?" tanya Hardy.


"Selebaran ini isinya tentang anda di tetapkan sebagai, orang yang paling dicari, karena bayarannya sangat tinggi. Orang paling berbahaya pula, karena anda di nyatakan adalah seorang pembunuh!"


"Apa?! Aku seorang pembunuh. Lalu, siapa aku yang sebenarnya? Namaku, atau masa laluku?"


"Nama kamu, Hardy. Itu yang tertulis di kertas ini"

__ADS_1


"Namaku, Hardy? Aku seorang pembunuh?" sebut Hardy terpukul. Seketika kepalanya berdenyut sakit. Sakitnya tak tertahankan olehnya. Hardy mengaduh, kesakitan. *****


Mohon dukungannya! Mohon like n komen di karya ku ya? Biar semangat up- nya.


__ADS_2