
Denpasar yang riuh sangat hening sore ini. Dibalut dengan atmosfer Masyarakat yang menyaksikan tradisi yang hanya ada sekali kemungkinan dalam 100 tahun.
.
Cukup untuk membuat segala macam perdagangan dan transaksi seketika berhenti dan membuat waktu terasa membeku.
.
"Selama lebih dari 50 tahun, tanah Kita adalah Tanah Sakral di negeri ini yang merupakan Tanah Lahirnya para Pendekar. Mereka terlahir semata-mata untuk melindungi seluruh Negeri dari amukan Iblis "Zarkan" yang entah sudah ada berapa lama."
.
"Namun saat ini Kita juga harus mengedepankan aspirasi dalam memimpin dan mengelola Daerah Kita ini agar semua rakyat bisa hidup makmur dan sejahtera."
.
"Jadi Kita kesampingkan dulu soal mengunggulkan bidang "Pendekar" ini. Apalagi Indonesia akan mengalami perubahan pemimpin negara." Toh, "Zarkan" juga sedang dalam masa-masa tak ada pergerakan."
.
"Walaupun ada yang sebagian kecil muncul, ada saudara-saudara terdahuluku di Pesisir yang mengatasi Mereka. Jadi Aku hanya perlu fokus berambisi menjadi Presiden Indonesia selanjutnya."
.
"Tapi apa ini~? Disaat elektabilitasku sedang naik-naiknya, ada bedeb*h yang ternyata mengkhianatiku dengan segala macam sindikat bertahun-tahun. Apalagi Pengkhianat ini adalah orang yang paling sering menjilat Diriku. Payahnya lagi Aku tak menyadari hal itu, Cih."
(Kadek)
.
"KE-KEUK...!!!"
(Semua Pejabat Kecamatan)
.
Ck, sialan. Arogansi dan ketamakan Mereka akhirnya terbayar dengan pengarakan yang sangat memalukan ini karena seluruh wajah Kalian terekspos. Ga sabar Aku ingin menghajar Kalian ditempat. Begitulah pikiranku.
.
Tapi kenapa rasanya ada yang ga beres? Rasanya Mereka terlalu mudah menyerahkan diri...?
.
"BAIKLAH! SEKARANG JELASKAN KENAPA KALIAN MERUGIKAN DAERAH KUTA SAMPAI SEGITUNYA~? KALIAN PARA KEPA**T SINTING."
(Kadek)
.
"I-ITU KESALAHAN, PAK~! KAMI TIDAK MELAKUKAN TINDAKAN ITU SEPERTI DI-DILAPORAN...!"
.
"KAMI MENGANGGARAKAN APBD DARI PROVINSI DENGAN BAIK, KOK~ EHEH-EHHHE"
.
"YANG BAPAK DAPATKAN ITU FITNAH PAK!! KAMI TIDAK BERANI MELAKUKAN ITU DIKECAMATAN, PAK...!"
.
*SRARAK~!!!
.
Pak Kadek mengambil pedang Badiknya itu dari kiri dengan kasar dibentangkan kedepan dan diputar kekanan. Menunjukkan bahwa Gubernur menutup mulut Pelaku Kejahatan dengan kasar.
.
"Apa bahkan Kalian tak malu...? Banyak barang bukti yang resmi dan jelas legalisirnya tetapi sampai sekarang Kalian masih tak mengaku~"
.
*TAP TAP TAP
.
"...!"
(Ni Luh Komang, Made Wirajaya, Ngurah Arta)
.
"..."
(Cakra)
.
Aku dengan setelan baju Stylish premium yang masih sama seperti kemarin, mulai naik dari bawah tanah menuju mimbar dengan tatapan ekspresi yang datar dan dingin karena Aku mengingat seluruh masa pilu yang menyengsarakan karena ulah para Pejabat Korup ini.
.
Aku mungkin sudah memaafkan dan berdamai dengan masa laluku yang buruk karena keterbatasan dan ketidakberdayaanku sendiri. Tapi Aku tak akan pernah memaafkan kelakuan tak manusiawi Mereka ini.
.
"Kalian sudah memperdaya dan menyalahgunakan kekuasaanku kepada Kalian bocah-bocah asing yang bahkan tak punya reputasi atau bahkan terdengar nama baiknya."
.
"Meski begitu, Aku yang dengan penuh kepercayaan menyerahkan wewenang otonomiku kepada Kalian malah Kalian salahgunakan dan bertindak sewenang-wenang secara nyata selama bertahun-tahun."
.
"HEI, BAJING*N KOTOR~ APA INI YANG KALIAN MAKSUD KESALAHAN DAN FITNAH ITU?! JAWAB KAU, BA*I PALING GEMUK!"
(Kadek)
.
"KE-KEUK...! Se-setidaknya biarkan Kami bicara dulu, Tuan...! Ini hanyalah sekedar menikmati semacam "flexing" mewah sementara waktu... Ka-Ka-Kami punya hak itu karena kami sudah mengurus daerah Kuta dengan baik...!!! Kami berhak untuk menikmati kemewahan itu un-untu---"
(Pak Camat)
.
Suasana di Lapangan saat itu sangat dingin dan panas sekaligus. Bagaimana tidak? Rakyat melihat kembali sosok tersohor di Bali dan disatu sisi sambil menjalankan tradisi adat yang sudah sangat lama dari zaman dahulu. Semua orang jelas penasaran situasi apa dan apa yang akan terjadi di detik-detik ini, apalagi Rakyat akan mendengar sepenuhnya kebobrokan Pejabat Korup di Kuta.
.
Bisa dilihat dari Kamera TV juga puluhan Pejabat yang diarak itu nampak sangat ketakutan dihadapan seorang Gubernur Bali yang terkenal akan kekuatan individual dan keadilan moralnya.
.
"Kau bahkan sekarang berdalih soal hak ya~ Dasar sialan. Ternyata dari awal kalian sudah busuk sepenuhnya."
(Kadek)
.
"Ternyata semua Anggaran APBD yang sudah dibagikan Mereka pakai untuk kekayaan pribadi Mereka?"
.
"Sungguh keterlaluan...!"
.
"Bahkan sudah berjalan bertahun-tahun!"
.
"Dasar hina, TIDAK TAHU MALU"
(Rakyat Bali dalam Hati)
.
"Aku tak perlu berlarut-larut menginterogasi Kalian. Karena ada individu lain yang akan mengeksekusi Kalian dengan sempurna dan akan membekas dipikiran orang-orang~ Grrrrrrh..."
.
Dia berekspresi ganas setelah tak puas dengan interogasinya. Jadi itu adalah isyarat untuk memanggilku naik ke mimbar. Aku sudah tahu bahkan jika Dia tidak memberitahuku.
.
"KE-KEUK!!!"
"HIIIIIH"
(Semua Pejabat Korup)
.
"Individu ini terlahir dengan bakat luar biasa untuk berpolitik dan bernegara. Selain itu, Ia bahkan bisa menaklukkanku dalam negosiasi yang Ia berikan padaku."
.
"APA?!"
"!!!"
"AH, IYA! SOSOK INDIVIDU YANG DATANG BAGAI KOMET! KALIAN INGATKAN...?!"
"OH IYA, YANG DENGAN HEBATNYA MEMBUKA DNA MENGEKSPOS SINDIKAT BESAR INI, SEKALIGUS MENGUMPULKAN SEMUA BUKTI KUAT...!"
"Akhirnya...! Kita akan melihatnya sekarang!!! Orang yang luar biasa sekaligus Tokoh Utama dalam mengungkap sindikat kejahatan ini!!!"
(Rakyat Bali)
.
"Baiklah... SIAPA... "DALANG"-NYA...!"
(Xerxes, Cokorda, Agungraka, Mahawardana,Shiori, Aza Shaktani dalam hati Mereka)
.
Keluarga dan saudara-saudaraku dengan ekspresi tegang dan merinding tidak sabar untuk melihat siapa dalang yang selama 3 hari ini membuat kejadian berantai yang sangat mengerikan itu.
.
"Dia juga seorang Individu dengan kekuatan diluar nalar dan misterius. Yang membuatku terperangkap dalam negosiasi antara Kami. Jadi..."
.
*TAP TAP TAP
.
Aku sudah muncul dipermukaan dan hembusan angin sore yang kuat membuat seluruh Setelan bajuku berumbai-rumbai dengan kerennya, haha(~ ̄▽ ̄)~
.
Disini juga Aku mendadak beli topi untuk menutup wajahku sebelumnya untuk mengejutkan Publik sepenuhnya. Bisa Kulihat dengan jelas pemandangan luar biasa keramaian Rakyat yang menyaksikan Tradisi ini dan membuat jalanan kosong tanpa kendaraan.
.
"DIA MUNCUL...!!! TAPI KENAPA---"
(Rakyat Bali)
.
"??!"
"A-AH...?!!!"
"?!"
"!!!"
"(‾◡◝)"
.
(Aza Shaktani, Cokorda, Agungraka & Mahawardana, ,Shiori, Xerxes)
.
AKU IZINKAN DIA YANG AKAN MELAKSANAKAN EKSEKUSI TERAKHIR INI. CAKRA AIRLANGGA~!"
.
*SRAAA
.
Aku mulai mengeluarkan Microphone dan mulai bicara dengan santai sambil berjalan kedepan. Entah sejak kapan Aku sudah punya keberanian untuk "Public Speaking" seperti ini. Namun yang Aku pikirkan hanyalah melakukannya dengna biasa dan santai. Tak perlu mikir ribet dan tak perlu malu juga.
.
"Huh...lihat betapa menjijikkannya ketika seorang Pejabat yang sudah bergelimang banyak uang tunai dan tunjangan berkali-kali lipat..."
(Cakra)
.
*WUNG
.
Aku melempar topiku kebelakang dan seluruh wajahku yang masih anak-anak terekspos sepenuhnya. Membuat semua Rakyat dan Keluargaku sangat syok dengan kehadiranku di mimbar.
.
"APAAAAAA~!!!!!╰(艹皿艹 )"
(Semuanya termsuk Keluargaku)
.
"Masih berani bicara soal kemewahan...? Dasar biadab kotor yang cuma memikirkan kekayaan dunia."
(Cakra)
.
Aku mengambil pose santai dengan tangan kiriku yang masuk kantong celana dan tangan kananku yang memegang microphone sambil melempar topi dengan santai, bersamaan dengan wajah senyum yang licik santai. Rambut lurus dengan helai poni yang sedikit panjang ditengah beberapa helai milikku berterbangan karena hembusan angin saat itu.
.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Seluruh atmosfer berubah menjadi sedikit riuh. Saking tidak percayanya bahwa seluruh sindikat besar ini diungkapkan olehku, anak kecil yang seharusnya masih ada dibangku sekolah. Entah mengapa Mereka memercayaiku dan bahkan mengatakan betapa kuat dan luar biasanya Diriku.
.
"I-INI SUNGGUHAN?! ANAK SEKECIL ITU YANG MENGUNGKAP SINDIKAT BESAR INI...!"
.
"GILA!!! AKU PERLU MENAFSIRKAN SEMUA INI DIKEPALAKU! MASIH SULIT DIPERCAYA BAHWA BUKAN PENDEKAR, ATAU ORANG DEWASA YANG MELAKUKANNYA!!!"
.
"TETAPI ANAK KECIL... GIMANA CARANYA DIA MELAKUKAN INI SEMUA SENDIRIAN?!"
.
"LUAR BIASA... ANAK ITU SUDAH MENJADI PAHLAWAN DI USIANYA YANG MUDA...!"
.
*BLA BLA BLA BLA BLA
.
"U-UGH... Apa yang--- sebenarnya terjadi sekarang?? Itu sungguh Cakra...?!"
(Cokorda)
.
"Aku tidak menyangka sama sekali... Sumpah ini bahkan membuat gempar seluruh Negeri."
.
"Ternyata Cakra punya kemampuan mengerikan ini hanya bermodalkan buku-buku yang Ia baca dan pengalaman yang Ia lalui?! Sungguh... Aku mengaku kalah kalau mau."
(Agungraka)
.
"A-AH... Semua skema, kejadian berantai, dan juga jejak aneh itu... SEMUANYA ULAH CAKRA UNTUK MEMBINGUNGKAN KITA?!"
(Mahawardana)
.
"Aku... Aku sangat kaget sekarang, Shakta... Semuanya adalah manipulasi Cakra, Jujur tak ada dari Kita yang membayangkan kebenaran ini...!"
(Shiori)
.
"Akupun juga syok sekarang. Anak yang kelihatan ceria, polos, dan manja kepada Kita itu... Ternyata menyembunyikan adalah kemampuan dan jati dirinya yang sebenarnya... "
(Aza Shaktani)
.
"GYAHAHAHAH!!! Aku sudah menduga akan berakhir seperti ini...! Sungguh rencana yang gemilang dan fantastis! Strategi sempurna yang dibuat Anak sekecil itu~ Aku diam saja tapi sudah tahu dari awal kalau memang Cakra Dalangnya~ hahah~ sungguh menyenangkan."
(Xerxes)
.
"HAH...?! KAU SUDAH TAHU??? PANTAS KAU YANG PETAKILAN INI DIAM SAJA SAAT KITA BERDISKUSI SELAMA 3 HARI!!! XERXES BANGS*T!"
(Cokorda, Agungraka, Mahawardana)
.
"Anak yang luar biasa hebat sekaligus mengerikan untuk usia anak-anak sepertinya..."
"TAPI TUNGGU...! GIMANA CARANYA CAKRA BERNEGOSIASI DENGAN ORANG SEKALIBER GUBERNUR KADEK YANG BEREPUTASI BESAR YANG BAHKAN MEDIA TAKUT KEPADANYA...?!!!"
(Keluargaku & Semua Rakyat bali)
.
Aku melihat semua ekspresi Mereka. Syok sekaligus terkagum-kagum memandangku bak seorang Pendekar Besar. Terutama Keluargaku, Mereka semua berekspresi seakan kehabisan kata-kata. Mata Mereka semua membelalak saking tidak percayanya bahwa Akulah "Dalang" sejatinya.
.
Aku akui memang Aku menyusun rencana kompleks yang sangat rahasia dan manipulatif yang bahkan menipu semua ekspektasi Mereka. Apalagi Aku diberkati kejeniusan dan kemampuan intelektual serta kekuatan mistis individual besar yang sangat tinggi sehingga Aku sangat bersyukur akan kemampuan besarku diusia 10 tahun ini yang bahkan melampaui orang-orang dewasa.
.
"TUNGGU! INI SEMUA ULAHMU HAH??? BO-BOCAH JALANAN...!"
(Pak Camat)
.
Begitulah suasana riuh dan syok itu berjalan lumayan sangat lama. Setelah cukup tenang Aku bicara dengan tegas dan teguh tanpa terbata-bata sedikitpun. Seolah Aku bicara bak artis saking santainya pembawaan seriusku disertai ekspresi kalem namun tidak main-main.
.
"Aku pikir Kalian terlalu terbawa suasana sampai lupa kalau Aku masih memandang Kalian yang sedang menonton Tradisi Kuno Kita."
(Cakra)
.
"!!!"
(Keluargaku & Semua Rakyat Bali)
.
Mereka tiba-tiba hening mendengarku bicara dengan nada super santai nyeleneh namun bernuansa serius. Jujur Semuanya memandangku dengan tercengang dan terbelalak.
.
"Kalian sudah dengar kan? Dari Gubernur Tersohor Kita ini. Namaku CAKRA AIRLANGGA."
(Cakra)
.
"Ugh... Tidak bisa dibayangkan Cakra yang masih kecil benar-benar segila ini diusianya. Mari Kita simak sampai akhir...(⊙_⊙;)"
(Keluargaku)
.
"Dengan cepat saja, Aku lahir sebagai yatim piatu dilingkungan anarkis disuatu Daerah Kuta. Masa-masa umur balitaku sangat sengsara karena para Pelaku Kejahatan besar ini."
.
"Jadi Aku membuat rencana besar tersembunyi, UNTUK MELENGSERKAN MEREKA DARI SELURUH PEMERINTAHAN BALI~"
(Cakra)
.
"BO-BOCAH BRENGS*K! JADI YANG ADA DITANGAN PAK GUBERNUR TERHORMAT ITU PALSU?!!"
(Pak Camat)
.
"Hey~ Kau masih berani menyalak perkataanku? Benar-benar bocah sekali sifatmu yang kotor itu. Lagipula semuanya adalah bukti kejahatan yang valid."
.
"Baiklah, Kau yang terus menyalak dan bersikukuh tidak melakukan padahal Buktinya sudha banyak ini, terpaksa Aku keluarkan bukti nyata terkuat dari seisi Dokumen itu."
(Cakra)
.
Aku mengambil Kameraku yang tergantung dileher dan mengatur "Selimut Aura" yang Kugunakan sebelumnya sebagai "Recorder" untuk menyadap semua pembicaraan yang ada diruangan rapat itu.
.
Agar menjadi File rekaman suara yang konkrit dan jernih kualitas audionya dan Kukeluarkan SD-Card Kameraku kemudian Kuberikan kepada Bang Arta. Ia langsung meloncat dari Mimbar untuk turun ke Staff yang bertugas menampilkan rekaman proyektor.
.
Sebuah layar besar dimunculkan dan salah seorang Staff menampilkan Rekaman CCTV yang Kuambil juga SD-Card nya untuk ditampilkan dengan jelas ke Seluruh Rakyat dengan menggunakan Proyektor keluaran Epson yang baru yaitu ELP-TW100.
.
Membuat semua Orang yang berkumpul sangat banyak itu bisa melihat dengan jelas rekaman yang terpangpang dengan besarnya
.
Rekaman Suara itu ditampilkan setelah disinkronkan dengan Rekaman CCTV dari SD-Card dan mulai ditampilkan seluruhnya dengan Proyektor dan disambungkan dengan "Sound System" raksasa.
.
Para Pejabat Korup itu mulai panik dan menggila dengan wajah menjijikkan dan jeleknya karena kejahatan Mereka sudah tak bisa lagi dibendung dan akan ditampilkan diseluruh Negeri.
.
"A-A-A-AHHH!!! TUNGGU, TIDAKKKKKKK~~~!!!!!"
(Pak Camat)
.
Puas sekali melihat wajah tamak menjijikkan yang putus asa tak bisa menahan lagi Rekaman Konkrit yang dilihat seluruh Negeri
.
Dari awal sampai akhir, rekaman beserta suara pembicaraan sindikat jahat Mereka terdengar dan dipertontonkan oleh semua orang. Seluruh Rakyat beserta Keluargaku mengungkapkan banyak ekspresi gempar lainnya.
.
Sudah jelas bukan? Karena ini adalah Sindikat Kejahatan Terbesar yang pernah disaksikan dan didengar langsung oleh seluruh Negeri.
.
"GRR...!"
"KEHHHH~!"
"SIAL. MEREKA BUKAN MANUSIA..."
"BAGAIMANA BISA MEREKA TAK PUNYA HATI NURANI BEGITU???!"
"INI KEJAHATAN YANG SUDAH TEREKSPOS!!!"
"TAK PERLU MEMAAFKAN PARA PEJABAT KORUP ITU...!!! LANSUNG HUKUM SAJA MEREKA SEUMUR HIDUP!!!"
"DASAR BEDEB*H MENJIJIKKAN!"
"KALIAN SANGAT JAHAT DAN KEJAM~!!!"
"MAMPUS SAJA SANA KALIAN~~~!!!!"
(Rakyat Bali)
.
*RWARWARWARA
*WAWAWAWA~~~
.
"Luar biasa... Cakra mendapatkan rekaman bukti kejahatan yang sempurna ini?! BAGAIMANA CARANYA???"
(Mahawardana)
.
"Entahlah, Sayang. Kita bisa bicarakan itu bersama. Tapi bagaimanapun, CAKRA ITU LUAR BIASA BUKAN~!"
(Aza Shaktani)
.
"Heh... Sungguh jenius Dia ya~"
(Cokorda, Agungraka, Xerxes, Shiori)
.
Sekarang Keluargaku sudah mendapatkan akal sehat dan kejernihan pikiran Mereka lagi. Sekarang Mereka memandangku dengan sangat kagum dan senyum tulus penuh kepercayaan karena Aku telah menunjukkan Diriku sepenuhnya. Seakan Mereka juga menerima aksi diluar nalar dan kesuksesan besarku untuk seukuran anak-anak.
.
"A... AKH... Habislah Kita..."
.
"Sialan, kalau begini Kita bisa berakhir mati dipenjara...!"
.
"TU-TU-TUNGGU SIAL---- AAAAAAAKH-! BOCAH BRENGS*KKKKKK...!"
(Pak Camat)
.
Aku hanya memandangnya dengan wajah datar yang dingin tak berperasaan. Menandakan balas dendamku yang baru berjalan 50% dari rencana asliku.
.
"Gimana...? Kalian seluruh Rakyat Bali, yang sudah menyaksikan rekaman konkrit tadi... Sepertinya punya banyak pikiran yang mau Kalian keluarkan dari MULUT KALIAN..."
(Cakra)
.
Aku memandang Mereka dengan ekspresi wajah yang datar sedikit menyeringai sangat senang dan menggebu-gebu luar biasa saking puasnya melihat Pejabat-Pejabat Korup itu Kupermainkan layaknya hewan ternak.
.
*DRAP TAP GRAK
.
"HU-KU-MAN~!!!"
"SE-U-MUR~~~"
"HIDUP SAMPAI MAMPUS~!!!!!"
(Rakyat Bali)
.
Kulihat para pejabat korup itu ketakutan dan putus asa seperti ingin mati. Yah... Mereka terbiasa hidup mewah dan hedon membuat warga lokal sengsara, dan roda kehidupan berbaliklah, dasar bodoh~
.
"Wa-Wah, gila... Dia ini bukan cuma kemampuan jeniusnya yang mengerikan (●ˇ∀ˇ●)..."
(Shiori)
.
"Kemampuan "Public Speaking"-nya juga luar biasa mengerikan sampai bisa bicara sesantai itu dihadapan ribuan orang, padahal masih anak-anak..."
(Aza Shaktani)
.
"Dia juga sempat-sempatnya memanasi orang-orang untuk mengeluarkan semua hujatan dari Mulut seluruh ribuan orang disini, para pejabat korup itu sudah habis sepenuhnya, jujur saja."
(Mahawardana)
.
"Huh... Makan semuanya saja, brengs*k."
(Cakra)
.
Setelah Aku bicara lagi, ribuan suara huru-hara mulai hening kembali dan dengna khidmat mendengarkanku.
.
"Aku rasa cukup untuk hari ini. Ini sudah lama sekali berjalan, jadi Kita sudahi saja. Ayo kembali beraktifitas dan pulang kerumah masing-masing untuk ngerumpi atau sebagainya."
.
"Sekarang, silakan Kalian para aparat keamanan selain Pecalang disini, untuk membawa Para Pelaku Kejahatan ini untuk dijebloskan ke penjara sekarang juga."
.
Aku menyudahi semua itu kemudian berbalik dan berjalan turun dari mimbar. Tetapi aneh, Mereka tidak bergerak sama sekali menurutiku...? Bukankah sebelum Eksekusi Mereka sudah di "briefing"???
.
Aku mulai menyadari ada yang salah. Dengan muka datar karena sadar dengan kejanggalan, Aku berbalik sambil turun dari mimbar dan melompat kebawah.
.
*TAK
.
Aku turun dari mimbar ke panggung dengan mengejutkan semua orang yang melihat. Setelah itu Aku mendengar suara rusuh dari sisi kiri lapangan dan benar saja ada yang berusaha menerobos masuk...! Sial memang
.
"Yah... Kurasa yang namanya rencana tak akan semuanya berjalan mulus ya... brengs*k sialan."
(Cakra)
.
"!!!"
(Rakyat Bali)
.
"Cih, masih mau memberontak ya... Sial"
(Kadek)
.
"..."
(2 Pecalang yang mendampingi Pak Kadek)
.
Aku berbicara begitu membuat Publik menyadari ada yang aneh dari gerak-gerik Aparat Keamanan yang tidak segera menangkap Mereka. Disisi kiri yang ribut juga terlihat ada puluhan preman dan pengawal bayaran yang menerobos masuk dengan kasar dan kacau.
.
Membuat semua orang biasa disekitarnya ketakutan. Mana puluhan pemberontak bayaran ini bawa senjata banyak mau golok, keris, pist*l ilegal, arit, udah kayak zaman dulu aja~ Dasar Keluaran Sampah
.
"APA-APAAN...?"
"ITU...!"
"SITUASI APA INI? SIAPA MEREKA??!"
(Rakyat Bali)
.
"GA-GAHAHAHA-HAHAH!!! SE-SEKARANG TAMATLAH KALIAN SEMUANYA YANG ADA DISINI! TERUTAMA KALIAN...!"
.
"BOCAH JALANAN DAN GUBERNUR SIALAN~ SUDAH CUKUP MENJILATNYA, SEKARANG AKAN KUBUNUH KALIAN SEMUA!!!"
(Pak Camat & Pejabat Korup lainnya)
.
"Kacau sekali, sepertinya ba*i itu tak membiarkan semua hal berjalan mudah ya..."
(Cokorda)
.
Seketika Keluargaku memasang Mode Waspada untuk melindungi sekitarnya. Terutama Kak Shaktani yang memeluk Camila dengan erat tapi... Dia berekspresi senyum menyeringai...? Ini seperti Dia haus darah saja.
.
"...!"
(Cakra)
.
Mataku terbelalak kaget setelah menyadari para Aparat Keamanan yang merupakan gabungan Polisi dan Tentara ini ada yang aneh.Posisi senapan Mereka condong ke tangan kanan, seolah akan langsung siap jika dipegang. Apalagi gerombolan orang-orang tadi dibiarkan tanpa dihalangi sedikitpun.
.
"Cakra...!"
__ADS_1
(Garuda)
.
"Aku tahu, jadi diam saja dulu!"
(Cakra)
.
Aku memanifestasikan aliran "Mantra Air" ditangan kiri yang ku silangkan kedepan, diikuti telapak tangan kanan yang menyilang dan membelakangi telapak tangan kiriku. Lalu Kubentangkan secara diagonal keduanya, sehingga tercipta "Bola Konsentrasi" yang sangat deras dan padat elementalnya.
.
Orang-orang yang menyaksikan Kekuatan Magisku ini berdecak kagum dan kebingungan sekaligus.
.
"Samudrakaṭākṣaḥ"🌀🌊
(Penjara Laut Mati)
.
Bola Konsentrasi ini menjulang tinggi keatas dan mulai berputar spiral membentuk selubung air raksasa seluruh Lapangan Puputan Renon dengan persepsi Ruang yang sama dengan Ruang Angin milik Garuda waktu melawan Imitasi Bang Xerxes.
.
Kumodifikasi agar tak ada segala macam bentuk rangsangan solid yang bisa menembus "Selubung Air Raksasa" ini. Jadi Rakyat dan Keluargaku aman, dan semua Preman dan Aparat Keamanan yang dibayar dengan uang besar oleh Pak Camat yang korup terkurung didalamnya.
.
""A-APA ITU BARUSAN?!"
"ANAK ITU MENGELUARKAN SEJENIS SIHIR...?!"
"KE-KEREN! JADI KEKUATAN MANTRA ITU NYATA YA!"
(Rakyat Bali)
.
"TUNGGU! APA YANG BARUSAN CAKRA LAKUKAN?!"
(Cokorda)
.
"?!"
(Shiori & Xerxes)
.
"Semakin lama melihat kebenaran soal Cakra... Semakin ada yang tidak beres dengan anak itu. Tapi jujur, siapa yang bakalan menyangka situasi ini...? Kalau Cakra menyembunyikan rahasia besar yang dijaganya dari Kita."
(Agungraka)
.
"Selubung yang tak bisa disentuh Ini... "Air"! Shakta--"
(Mahawardana)
.
"...?! Air?"
(Aza Shaktani)
.
Semua mata memandang penuh takjub dan kebingungan hebat saat itu. Aku yakin tak ada yang tak takjub dengan kekuatan magis ini. Apalagi "Mantra Air" ini memiliki warna biru laut yang indah bernuansa megah gemulai yang tiada tanding.
.
Seakan Lautan Suci yang sudah lama menanti kebangkitannya untuk menghukum Orang-Orang yang menodai Bumi dan menyebarkan kesengsaraan.
.
"A-APA?! KITA TERKURUNG...!"
"INI TAK BISA DITEMBUS SAMA SEKALI!"
"SERANGAN KITA JADI TAK BERGUNA...!!!"
(Pasukan yang disuap)
.
"SI-SIAL HEY!!! CEPAT KALIAN LAKUKAN SESUATU SEPERTI MENEMBAK ATAU---!!!"
"A-AKAN KUBAYAR LEBIH MAHAL JIKA KALIAN MEMBEBASKANKU!"
(Para Pejabat Korup)
.
Bisa Kulihat para Pejabat itu mundur tergesa-gesa karena ketakutan dan didepanku sekarang adalah gabungan Pasukan polisi, tentara, dan pengawal khusus yang disuap oleh Mereka. Memang kenapa...? Aku harus takut~? Mereka ini walau ada puluhan cuma sampah dimataku.
.
*TAP TAP TAP
.
Aku dengan santai berjalan diatas panggung dan dengan tenang mulai bicara dengan microphone untuk terakhir kalinya. Sungguh Aku sudah muak, Aku ingin mengakhiri Mereka dengan caraku yang brutal. Puluhan Pasukan Mereka melihatku dengan merinding sambil berkeringat dingin saking takutnya.
.
"Kita semua sudah melihat betapa menjijikkannya tontonan ini bukan? Kalian pasti muak, jadi... AYO EKSEKUSI TRADISI INI."
(Cakra)
.
"KA-KAU CUMA ANAK INGUSAN...! KAU BAKALAN TERBUNUH DENGAN SATU TEMBAKAN!!!"
(Polisi)
.
"Apa-apaan yang-!"
"!!!"
(Rakyat Bali)
.
"Tidak...! Cakra!!!"
(Aza Shaktani)
.
"..."
(Cakra)
.
Aku memandang dengan ekspresi rendah dan datar keseorang polisi yang menodong Pistolnya padaku. Entah kenapa rasanya bodoh sendiri ditodong mainan menurutku. Tapi yah... Aku bisa sesantai ini karena Aku sudah mulai mengembangkan Vajra "Dhyana" secara bertahap walaupun masih tahap yang paling bawah, yaitu tingkat "Rendah"
.
Bahkan "Dhyana" terendahpun memiliki Fokus Spiritual yang mengintegrasi kecepatan berpikir otak yang jauh melampaui pikiran manusia normal. Jadi bahkan walaupun "Dhyana"-ku masih rendah, Aku jauh unggul dalam segi pertarungan dibanding siapapun yang tidak menguasai “Dhyana”.
.
Ngomong-ngomong Suara Kak Shakta begitu keras sampai bisa didengar diseluruh lapangan. Berhubung Aku juga memang menciptakan Selubung Air Raksasa ini dengan tidak menghilangkan atribut suara yang masuk.
.
Jadi semua yang terjadi didalam Selubung ataupun diluar Selubung juga bisa mendengar suara masing-masing yang sangat keras. Apalagi Selubung Raksasa ini masih tembus pandang walaupun bercorak air laut yang berputar-putar. Sehingga Reporter dan Rakyat, atau bahkan Seluruh Negeri masih bisa melihat Tradisi Eksekusi yang turun-temurun ini.
.
*DOR💥
*TRAK!👋
.
Polisi tadi benar-benar menembak namun Aku secara reflek yang tepat menangkis peluru ini dengan ayunan telapak luar tangan kiri yang sudah berlapis Vajra dan “Angin”. Jadi peluru tembakan itu sama sekali tak melukaiku.
.
"EH...?!"
(Shiori & Aza Shaktani)
.
"WO-WOAH...! DIA MENANGKIS PERLURU BARUSAN???!"
(Agungraka)
.
"??!"
"Itu yang Mereka sebut polisi?! Beraninya menembak anak kecil didepan Publik!!!"
(Rakyat Bali)
.
Aku berdiri dengan santai tanpa bergeser sedikitpun sambil menepis peluru barusan. Membuat semua orang syok betapa kuatnya kemampuan Diriku.
.
"Wah,wah, Bedab*h sinting sudah berani menembak dihadapan Publik ya~"
(Cakra)
.
"KE-KEUK...! DASAR ANAK SETAN..."
(Para Pasukan Bayaran)
.
"SUDAHLAH...!!! KEROYOK SAJA DIA DENGAN SENJATA KITA! BOCAH ITU GABISA NGELAWAN PULUHAN ORANG SEKALIGUS!!!"
(Salah Seorang Preman)
.
*RAAAAAAA
*HRAAAAAAAAAAAAAA
.
"Haish... Sinting, mikir apa sih masih berharap bisa bebas setelah ini semua selesai~"
(Kadek)
.
"Majulah sini semuanya, dasar kepar*t sinting."
.
"...!"
(Cakra)
.
Tiba-tiba saja ada tembakan lagi dari sisi kanan. Biasa saja, Aku menahan pelurunya dengan tangan kiri lagi dengan telapak dalam.
.
DIMULAILAH ******* TRADISI INI, Aku yang sedang menahan tembakan dari kanan diserbu belasan Pasukan Bayaran dari sisi kiri, membuat Kedua mataku melirik tajam kekiri, kemudian menunduk untuk menghindari senjata tajam sembari mengayunkan lagi tangan kiriku seperti gaya menebas.
.
“Divyapakṣaḥ” 👋🟥💥
(Sayap Penyucian Surgawi)
.
Manifestasi teknik “Mantra Angin” baru yang Kuciptakan untuk membuat “Shockwave” raksasa yang meledak berkekuatan masif setelah mengenai tubuh Mereka. “Shockwave” ini berlapis “Konsentrasi Angin” yang kental akan “Amoghas” bervolume besar sehingga “Shockwave” ini berwujud angin besar dinamis dan kental bewarna Merah pekat bersinar bahkan dimata Orang biasa.
.
Teknik Mantra yang luar biasa ganas ini meledak sangat kuat saat menyerang orang-orang yang menyerbuku, sehingga “Shockwave” ini menciptakan banyak getaran dan gelombang yang frekuensinya besar sehingga “Selubung Air Raksasa” ini bergetar keras seperti air yang beriak. Karena pada dasarnya Getaran dan Gelombang itu bersifat memantul-mantul satu sama lain, tanah didalam dan diluar lapangan merasakan gempa berkekuatan sedang.
.
Ini juga membuat banyak orang terkejut hebat dan tak percaya dengan apa yang Mereka rasakan dan lihat barusan.
.
*BLAR!!!
*WUNG~ WUONG WONGWONGWONG WUNG
*BRARARAK
*KRAKAKAKAK
*BLUBUBUBUP
*KRAKAK!!!
.
*UAAAAAKH!!!
*AAAAAAAAAAARRGHHH
(Orang-Orang didalam Selubung Air Raksasa)
.
*AAAKHHHHHHHHHH!!
*UAAAAA!!!
“BA-BARUSAN…! APA YANG KITA LIHAT TADI ITU??? SIHIR? ATAU GEMPA??”
(Rakyat Bali)
.
“Ti-Tidak masuk akal… Kekuatan mengerikan apa ini???”
(Xerxes)
.
“Tidak mungkin Cakra memperoleh kekuatan penghancur luar biasa ini… Tapi tunggu, kalau dari yang Kutahu sebelum bertemu dengannya… Roh?!”
(Aza Shaktani)
.
“E-Ergh…Ini sangat kacau… Pemandangan dan Kejadian luar biasa ini…!”
(Agungraka)
.
“…!”
(Kadek & Para Pecalang)
.
*BRUK-BRAK-BRAK-KRAKAK-KRAK
*BRUGH
.
Hah… Jelas Aku tidak bisa membantai secara langsung para bajing*n preman ini, Aku tak akan memakai kata Polisi atau Tentara lagi karena disini Mereka sudah menunjukkan taring yang sebenarnya. Jadi Kupanggil saja Bajing*n Preman.
.
Mereka semua terpental jauh dan jatuh dari panggung dengan banyak tulang yang hancur serta tubuh Mereka yang patah dan terluka berat. Sebagian besar dari Mereka terkapar pingsan ditanah karena mengeluarkan banyak darah.
.
Padahal Aku ingin langsung membantai Mereka dengan Teknik “Divyapakṣaḥ” tadi dengan menajamkan mata “Shockwave”-nya. Tapi nanti Mereka bakal tercincang-cincang dan malah menghancurkan negosiasi jangka panjang dengan Pak Kadek. Jadi tak ada baiknya membunuh Mereka terang-terangan secara publik, apalagi Aku anak kecil. Seluruh Negeri malah memandang Kami dengan sangat brutal nanti.
.
Suasana hening seketika dan banyak debu yang berterbangan, namun Aku masih berekspresi sedikit jengkel dan acuh pada Mereka yang menyerangku. Mulailah Aku menuruni panggung untuk menghabisi Pasukan yang masih tersisa ini.
.
“A-AHH!!!”
“Sial… Kalau begini Kita bisa mati…”
(Pasukan Bayaran)
.
“Baiklah… SEKARANG WAKTUNYA KALIAN MEMBAYAR PENGKHIANATAN KALIAN. PARA ABDI NEGARA~”
(Cakra)
.
(Pasukan Bayaran)
.
Mereka putus asa sekali kan? Mengetahui fakta senjata apapun tidak mempan, Mereka mencoba untuk membunuhku dengan senjata tajam mereka masing-masing seperti golok dan sabit.
.
Aku mulai kembali adrenalin lamaku. Tubuh yang senantiasa diselimuti “Samadhi” , lalu Kuselubungi seluruh Tubuhku dengan “Amoghas” bervolume maksimal, dan sekarang disertai Topping tambahan, 2 Mantra sekaligus.
.
“Mantra Angin” diseluruh lengan kananku, dan “Mantra Air” diseluruh lengan kiriku. Kedua Mantra itu dilapisi “Amoghas” yang kental dan pekat. Angin-angin disekeliling Tubuhku bermanuver keberbagai arah dan Aura Merah dari warna “Amoghas”-ku yang membuat Dua Elemental ini bewarna Merah kental kadar Konsentrasinya.
.
Aku sudah mengeluarkan dan membakar semua inti kekuatan milikku dengan aura yang sangat besar. Seakan Aku sudah lama menahan rasa amarahku selama ini sampai-sampai Aku tak bisa mengendalikan ekspresi wajahku yang luar biasa haus darah. Membuat semua orang yang melihat sangat terkejut dan tak bisa berkata-kata.
.
Karena seluruh Inti Kekuatan baik Vajra ataupun Mantra sudah sepenuhnya keluar, tercipta anomali badai yang berskala ringan mengacaukan seluruh Area Lapangan dan membuat segalanya terhempas. Mereka yang ada didalam lapangan hampir tak bisa menapak. Sekilas Area sekitarku yang terdapat anomali juga terbias kalau dilihat oleh mata.
.
Saat persiapan selesai, Aku menerjang dengan ganas menyerang Puluhan Pasukan tersisa dengan “Hit-and-Run” seperti biasa. Namun kali ini dengan “Impact” yang luar biasa masif. Sehingga Aku bergerak dengan kecepatan ekstrem dan memukul, menangkis, menendang, menyerang, dan menebas. Kekuatan yang meluap-luap ganas bernuansa dingin dan dengan ekspresi ketenangan mendalam yang membabat habis semua interupsi… Inilah Seni Beladiri ciptaanku seorang… “Seni Perang Mandala”.
.
Kombinasi serangan yang tiap detiknya memiliki “Impact” yang masif, berfokus pada Mobilitas fleksibel dan akurasi tingkat tinggi, menepis dan menangkis segala serangan cepat murni dengan tangan kosong berbalut Vajra serta reflek dan naluri yang tajam, dan kekuasaan untuk mengambil kontrol atas “Flow” Pertempuran.
.
Semua definisi itu mendeskripsikan segala terjangan seranganku yang melumpuhkan banyak musuh disatu waktu dan melakukan tarian Serangan yang tak ada habisnya. Ini seperti eksekusi sepihak Pasukan Bayaran yang tak bisa apa-apa selain putus asa.
.
Berbagai ledakan “Angin” dan “Air” disatu waktu dan banyak tempat tiap detik membuat “flow” pertarungan jelas dominan Padaku.
.
*BRUGH
*BRARAK-BRAKK
.
Semua pasukan terkapar. Sisa para Pejabat Korup itu saja yang ketakutan dan berlutut tak berdaya
.
Aku menebas orang terakhir yang mencoba menghadangku. Dan terlihat jelas bahwa Tubuhku bersimbah darah pembantaian barusan. Tapi semuanya tidak terbunuh, Aku sudah pastikan untuk menyerang bagian Tubuh yang bukan titik vital sehingga Mereka masih bisa hidup walaupun berakhir buruk selamanya.
.
Karena “Hit-and-Run” pada dasarnya menerjang banyak musuh sekaligus sambil menyerang secara beruntun dan cepat, hampir semua pergerakanku dominan menyerang dengan tebasan dan tusukan tangan kosong yang dilapisi berbagai Vajra dan Mantra sekaligus. Jadi banyak darah yang menyembur keluar dari puluhan Pasukan itu.
.
Aku yang santai sebentar setelah bergerak dengan performa tinggi itu kemudian berjalan santai sambil mengambil Microphone yang Kutemukan lagi. Aku berjalan normal walau sedikit kehabisan napas sekalian bicara ringan.
.
Semua Rakyat termasuk Keluargaku yang menyaksikan seluruh kekuatan dan kemampuan dengan performa tertinggi milikku hanya bisa merinding dan takut. Namun Mereka seperti berpikir jika itu sudah sepatutnya untuk Orang-Orang kotor. Namun, lain halnya saudara-saudara tuaku, Kakak-Kakak Perempuanku lebih berekspresi sedih dan memelas terhadapku. Seolah mengatakan “Cukup Sudah” kepadaku.
.
“Tenanglah… Pasukan yang membelot pada uang tak ada yang mati. Aku hanya menebas dan menusuk Mereka agar lumpuh sementara saja.”
.
“Baiklah, sekarang… WAKTUNYA UNTUK KALIAN TURUN DARI TAKHTA.”
(Cakra)
.
Nampak sekali ekspresi wajahku yang luar biasa kesal itu. Memicu anomaliku naik lagi dan membuat takut semua orang. Apalagi wajah Pak Camat yang sudah sangat putus asa dan kehilangan harapan untuk hidup. Benar-benar tidak ada tempat untuk lari.
.
“Udayantargaḥ”
(Pengadilan Sang Langit Fajar)
.
Kupenjarakan Mereka dalam “Medan Anomali” dimana itu adalah Area khusus mengalirnya elemental yang tak boleh dimasuki orang biasa dan Kubuat arus “Konsentrasi Angin” berfokus untuk mengalir secara vertikal.
.
Jadi para Pejabat Korup itu berlutut dengan beban seberat tubuh Mereka sendiri. Kalau Mereka tidak bisa menahannya, Mereka mungkin bakal cedera berat atau bahkan mati karena tekanan “Angin” yang kuat bergerak secara vertikal kebawah.
.
“!!!”
“Sial… apalagi itu?!”
“Seberapa banyak… Kekuatan Magis yang asing dimiliki anak itu???!!!”
(Semua Orang termasuk Keluargaku)
.
*U-UKHHHH
*EAAAARRGHHH
*AAAAH-HAH-HAH AKU TIDAK MAU MATI…!!!
(Pejabat Korup)
.
“AAAAAKHHH!!! A-AMPUNI KAMI! AMPUN! AMPUN…! KA-KAMI AKAN MEMBERIKANMU SEGALANYA…! KAMI BERSEDIA MENJADI ANJ---”
.
“UAAAKH!”
(Pak Camat)
.
*ZRARAK!!!
.
Aku berdiri sambil mengontrol beberapa arus “Angin” untuk merubah lajurnya mengenai Pak Camat yang menjadi Pemimpin para Koruptor ini, sehingga Dia terpental jauh dan rahang bawahnya seperti patah dan hancur dalamnya.
.
*RUMBLE RUMBLE
*WHISPER
.
Aku tidak jelas mendengar Dia bicara apa, karena rahang bawahnya sudah hancur total. Tapi bisa dilihat oleh Orang-Orang jika saat ini Dia mengeluarkan sebagian kecil darah dari mulutnya sambil menahan rasa sakitnya yang tak tertahankan. Mungkin “Angin” tadi juga membuat tenggorokan dan lehernya patah secara tidak langsung. Meskipun dari luar tak terlihat Aku yakin dalamnya pasti berantakan.
.
*TAP TAP SRAAAAAA
.
Aku berdiri dihadapannya yang tersungkur dengan hawa ingin membunuh. Namun tak bisa Kulakukan, jadi ayo Kita tinggalkan beberapa kata.
.
“Ingatlah seumur hidup bahwa Kau yang sudah merenggut hak orang lain dan menyalahgunakan kepentingan akan mati dengan sangat mengerikan. Karena…”
.
*WUNGGGG
.
Aku mengangkat kedua tangannya dengan “Air” kali ini untuk ******* habis tulang-tulangnya. Ini sudah sepatutnya.
.
“HMMMMMMPPPPHHHHH!!!!!”
(Pak Camat)
.
“Aku yang memegang langsung hidup atau matimu.”
(Cakra)
.
*KRAK!
.
“HUOOOOOOMMMMPH!!!!”
(Pak Camat)
.
Heh, Dia berteriak histeris kesakitan luar biasa namun tak berdaya apa-apa. Iya… Sama seperti dulu waktu Aku menerima banyak siksaan diwaktu umur 5 tahun.
.
“Sudah, cukup. Ini sudah cukup, Cakra.”
(Kadek)
.
Pak Kadek dan Para Pecalang turun untuk menghentikan aksiku yang kelewatan. Mata dan ekspresiku yang dingin seakan tersadar kembali dari impulsifitasku. Setidaknya… ini sepenuhnya berakhir. Sambil Kutarik lagi “Selubung Air Raksasa” sehingga semuanya bisa melihatku dan Pak Kadek lagi.
.
Fuhhh~ Aku benar-benar lemas sekarang. Mungkin bukan hanya karena lelah, tetapi karena tekanan batin penuh emosi campur aduk yang selalu Kupendam dari lama, sekarang sudah keluar sepenuhnya. Aku jadi teringat lagi masa-masa menyedihkanku dulu. Jadi Aku berekspresi lelah dan agak sayu. Seakan Aku berharap ada yang mendatangiku.
.
*YEAAAAAAHHHHHH
*UWOGGGGGHHHHHH
*WUUUUHUUUU
*RASAKAN!!! HABIS KALIAN SEMUA!!!
*MAMPUS SEUMUR HIDUP~~~
*INILAH AKIBAT MENYENGSARAKAN SAUDARA KAMI~ HAHAHAH~~
(Semua Rakyat Bali)
.
“BAIKLAH!!! TERIMA KASIH PARA REPORTER NEGARA DAN RAKYATKU SUDAH MENYAKSIKAN EKSEKUSI HUKUMAN UNTUK PARA BEDEB*H KOTOR INI~”
(Kadek)
.
*YEEEEEEAAAAAHH!!!
(Rakyat Bali)
.
“E-Ehem… Kami informasikan bahwa Eksekusi ini telah selesai. Silakan pergi dari tempat ini dengan tertib dan untuk pertanyaan silakan menghampiri Kami.”
(Ngurah Arta)
.
Dengan begitu semua teman-teman Pecalang mengurusi para Reporter dan Wartawan yang berdatangan dan Aku berdiri santai sambil menghirup napas panjang karena sudah lega akan balas dendam hari ini. Setidaknya Aku bisa tersenyum lega sedikit walaupun masih teringat kenangan menyedihkan.
.
Ngomong-ngomong semua orang juga sudah bubar dan membagikan banyak cerita ke orang-orang terdekat Mereka masing-masing. Namun Kurasa Keluargaku masih belum pulang. Setidaknya disini Aku dan Pak Kadek bisa berbincang dengan leluasa sedikit.
.
“Ahh—Hari ini Aku tak bisa menafsirkan apapun… Apa yang Cakra lakukan sungguh luar biasa mengerikan untuk Anak 10 tahun itu.”
(Agungraka)
.
“Cakra benar-benar sukses besar ya… Padahal masih 10 tahun. Dulu bahkan Kita tak bisa sampai segemilang Cakra, kan?”
(Cokorda)
.
“GYAHAHAH~ Luar biasa sekali… bocah yang mengeksekusi ratusan orang dewasa dihadapan Publik. Sungguh prestasi yang gemilang dimasa muda~”
(Xerxes)
.
“Ah… Setidaknya Aku senang semuanya berakhir. Rasanya lapar sekali, energiku habis Cuma untuk melihat eksekusi ini.”
(Shiori)
.
“Kau tidak masalah dengan perbuatan Cakra yang mengerikan padahal Dia masih anak-anak.”
(Aza Shaktani)
.
“Aku memang tidak bisa membiarkan suatu pembantaian manusia. Tapi bukankah yang Cakra bantai adalah orang-orang kotor yang sudah melakukan kejahatan besar…? Jadi Kau dan Aku tak punya alasan untuk menghakimi Cakra, kan? []~( ̄▽ ̄)~* ”
(Shiori)
.
“Benar. Lagipula Cakra dendam dengan orang-orang yang sudah menyengsarakan hidupnya. Pada dasarnya Anak itu hanya mencari keadilan untuk Dirinya sendiri. Jadi Kita tak perlu menghakiminya.”
(Aza Shaktani)
.
“Oy… Shakta! Itu Cakra, sepertinya ada masalah. Ayo Kita kesana, biar Kugendong Camila.”
(Mahawardana)
.
“Ah…! Tidak, melihat Dia tadi sangat gelap mata dan lemas… Kita harus menemuinya!”
(Aza Shaktani)
.
*DRAP DRAP DRAP
.
“Wuohohoh~ Senang rasanya hari ini, entah kenapa… Puas sekali bisa menyaksikan hukuman langsung pada Koruptor menjijikkan, hahaha~ Ngomong-ngomong Kau sepertinya agak lelah, Ayo Kita cari makan sore hari ini.”
(Kadek)
.
“Aku tak apa-apa, hanya sedikit teringat tekanan batin yang bercampur aduk. Tapi ini belum sepenuhnya selesai, Kita harus memantau apakah Elektabilitas yang Kuprediksi ini akan melonjak naik atau tu--”
(Cakra)
.
“Hey! Ayolah, Kau harus makan dilihat dari wajahmu yang agak lemas. Aku tahu Kau masih bisa nyengir tadi, tapi ayo Kita makan dulu! Akan Kupesan tempat yang paling mewah~”
(Kadek)
.
“Ahahah… Terima kasih, Pak. Baiklah, ayo sambil ja---”
(Cakra)
.
“CAKRA…!!!”
(Aza Shaktani)
.
“!?”
(Kadek & Cakra)
.
__ADS_1
Aku menyadari bahwa itu Kak Shaktani. Rasanya senang dan lega karena ada yang mencariku sekarang. Tidak seperti dulu waktu sendirian.
.
“Ahihi… IBU~!”
(Cakra)
.
“Hmm… Dia ibumu? Kurasa Kau bisa bertemu dengannya dulu. Aku mau memenuhi panggilan “Alam” disana.”
(Kadek)
.
Dia meninggalkanku sendiri agar bisa menghabiskan waktu dulu dengan Keluargaku. Kak Shakta dan Bang Wardana lari kearahku sementara Aku hanya berjalan lemas dengan senyum yang sayu.
.
Setelah bertemu, Dia memelukku dengan erat dan Akupun juga. Rasanya sungguh kangen pelukan hangat dan penuh rasa sayang ini. Rasanya beban lama yang sudah menumpuk benar-benar terlepas sekarang.
.
“CAKRA…! KAU TAK APA-APA KAN? APA ADA LUKA…? KUHARAP KAU BAIK-BAIK SAJA…!”
(Aza Shaktani)
.
Yap… Seperti biasa, nada kekhawatiran yang sama seperti Kak Shiori. Aku lihat Kak Shiori dan Bang Xerxes juga menghampiri kemari dengan khawatir meski Bang Xerxes sepertinya sudah sadar dari awal yah… Dia daritadi cuman nyengir puas begitu. Tapi sebentar… Kenapa Bang Raka dan Bang Cokorda tak terlihat pas sekali saat Pak Kadek pergi…?
.
“Ibu…”
(Cakra)
.
“…! Apa Sayang, sini Cerita yang banyak…”
(Aza Shaktani)
.
Aku yang sedikit pucat dan sayu ini sedang ingin memanggilnya Ibu untuk sekarang. Mungkin rasa lelah berketerusan atau karena tekanan batin? Mungkin keduanya atau bahkan banyak faktor lain. Setidaknya Aku mau manja dulu dengannya lebih lama. Dia pun juga lega Aku tak kenapa-napa sambil mencium pipiku.
.
Aku ceritakan semua yang membuatku teringat masa lalu saat menghadapi Para Pelaku Kejahatan tadi. Jujur bisa dibilang traumatikku sedikit kambuh sampai tak sadar dan gelap mata menyiksa Pak Camat ba*i itu. Tapi yah, semua orang malah puas akan tindakanku itu. Tapi tunggu dulu, ada Bang Wardana waduh…?
.
“E-EH…? Emm… Bang Wardana~ (●ˇ∀ˇ●) Sebenarnya--”
(Cakra)
.
“Cukup, Cakra. Kau sudah cukup menguras banyak energi harianmu. Jadi ceritanya nanti lagi yah, Anak Jenius~ hehe. Sekarang tidurlah selagi digendong Shakta.”
(Mahawardana)
.
“E-E-EH…? Apa--- WOYYYY ┌(。Д。)┐”
(Cakra)
.
“Eheheh, tidurlah. Kau sudah bekerja keras selama 3 hari. Jadi istirahatlah.”
(Aza Shaktani)
.
Dia menggendongku didepan seperti anak-anak. Yah… Setidaknya Aku merasa spesial bisa mendapatkan kasih sayang Orang Tua walaupun baru diumur 10 tahun ini. Dia benar kalau Aku sudah menguras energi harian dan mentalku sampai hampir nol, jadi Aku bakal tidur digendongannya. Ga perlu malu lah, anggap ini “chemistry” Ibu dan Anak Laki-Laki.
.
“Kalian lihat…? Itu Mahawardana dan Aza Shaktani! Ternyata Mereka juga menyaksikan Eksekusi hari ini.”
(Made Wirajaya)
.
“Tapi Istrinya menggendong anak laki-laki yang tadi menjalankan eksekusi?”
(Ni Luh Komang)
.
“Apa hubungan Mereka? Sepertinya Aza Shaktani sangat menyayangi Anak laki-laki itu sampai digendong segala~”
(Ngurah Arta)
.
*TAPI DIPIKIR BAGAIMANAPUN… AZA SHAKTANI DAN ANAK LAKI-LAKI ITU SANGAT MANIS YAHEEE~? (●ˇ∀ˇ●)”
(Semua Pecalang dalam hati)
.
“KETEMU JUGA KAU! FOSIL TUA SIALAN!!! Mentang-mentang Politikus Kau jarang nongkrong sama kami~!”
(Agungraka)
.
“Fosil Tua Kalian bilang…? Ayolah Kita Cuma beda 15 tahun kan, brengs*k.”
(Kadek)
.
“Bagaimanapun sudah lama sekali, walaupun Kau berasal dari Pesisir yang berbeda Kita tetap saudara sedaerah, kehahah.”
(Cokorda)
.
“Tapi serius, ternyata Kalian duluan yang menemukan Cakra…? Anak itu berlian sungguhan tahu! Malah Kalian biarkan mendekam di Desa~”
(Kadek)
.
“Itulah alasan Cokorda memanggilku kemari, Kadek. Untuk merawat dan mengadopsi Anak itu.”
(Mahawardana)
.
“Oho~ Lihat ternyata si Galak bertopi ini. Dengan sifatmu itu Aku ragu anak itu bakal tumbuh dengan baik~”
(Kadek)
.
“Bac*t. Mana Aku sempat dikibulin Dia lagi kemarin saat Kuinterogasi, Anak brengs*k luar biasa jenius.”
(Mahawardana)
.
“Bodohnya lagi pecundang seperti Dia yang mulai ngelunjak ke Cakra malah Cakra yang menang adu mulut dengannya~ AHIHIHI~~”
(Cokorda, Agungraka, Xerxes, Shiori, Aza Shaktani)
.
“Bac*t bangs*t.”
(Mahawardana)
.
“Sudahi saja, ayo reuni sekaligus cari tempat makan paling mewah di Bali untuk anak itu. Rasanya Dia sangat kelelahan. Aku yakin banyak yang harus Dia pikirkan.”
(Kadek)
.
“Ya… Benar. Tapi tunggu, sebenarnya apa negosiasi yang Cakra maksud di mimbar??? Rasanya Dia yang mendorongmu untuk melakukan Eksekusi ini dan Kau mendapatkan sesuatu dari Cakra…?”
(Aza Shaktani)
.
“Hey, ayolah santai sedikit. Kita jalan sekarang cari Makan. Rasanya laper banget sore ini.”
(Agungraka)
.
*KLAP
*KLAP KLAP KLAP
*KLAP
.
Sore hari itu berakhir, Sekarang 2 Mobil Pengawal dan 2 Mobil Pribadi milik Pak Kadek dan Bang Wardana sedang dalam perjalanan jauh untuk ke restoran. Entah seperti apa disana, soalnya Aku belum pernah makan mewah sebelumnya.
.
“Gimana, Sayang…? Sudah enakan?”
(Aza Shaktani)
.
“Mmmph… ah… Iya. Rasanya sangat segar.”
(Cakra)
.
“Kita sudah sampai. Ayo turun, Kita di “Ketela Eatery & Lifestyle”~ Kau bisa jajan sepuasmu disini, Cakra~”
(Aza Shaktani)
.
Uh, Buset… Kelihatannya restoran yang luar biasa luas dan mewah interiornya ini adalah yang termahal di Bali. Pak Kadek sungguh Orang paling berpengaruh, ya~ Terbukti Restoran yang banyak parkiran mobil sampai bertingkat-tingkat ini sengaja ditutup dan dibuka untuk Rombongan VIP Gubernur yang ingin bersantai mewah malam ini demi merayakan Kesuksesan besar Diriku dan Pak Kadek.
.
Semua masakan mewah dan berlimpah elegan dan megah sudah terpampang diatas meja ruangan VIP membuatku sangat terpukau dengan rasa dan harum ranumnya yang terus membuatku makan banyak mungkin hampir 5 piring atau 8 piring bahkan. Minuman Milkshake yang luar biasa enak susunya. Biasanya Milkshake di Kuta hanya berisi gula pasir 5 sendok dan susu 200 ml, sisanya campuran air. Sungguh tidak sehat.
.
“UWOHOH~! Aku harus mempelajari semua tentang Kuliner, bumbu, bahan pangan, dan rempah. Aku ingin membuat semua menu ini dirumah kalo sudah mahir nanti.”
(Cakra)
.
“Hey, rakus sekali Kau ingin mencuri bisnis orang lain. ( ̄┰ ̄*)”
(Cokorda)
.
“Hm~ Hm~ Kau laki-laki tapi ingin belajar masak juga ya… Biarkan Aku yang mengajarimu bersama Shakta. Jujur tidak bagus kalau laki-laki dimasakin terus sama wanitanya, fufu~~~”
(Shiori)
.
“Woylah…”
(Xerxes)
.
*GYAHAHAHAHAH~~~
(Semua Orang)
.
“Kau mau nambah lagi Cakra…? Masih banyak juga ayam bakar dan ayam madunya yang belum dimakan.”
(Shakta)
.
“Urgh… Kayaknya dibungkus aja ya bawa pulang.”
(Cakra)
.
Yang lain ribut sendiri benar-benar seperti orang kampung. Banyak sekali canda tawa ributnya Bang Wardana dan Bang Raka apalagi saudara tuaku yang lain, Cuma Kakak-Kakak perempuanku yang menemaniku makan bersama Pak Kadek disini.
.
Kau benar-benar senang rupanya~ Baguslah, senang melihatmu sesenang ini, Cakra. Kurasa ini pertama kalinya Bagimu ya.”
(Kadek)
.
“Yah~ Iya benar, terima kasih banyak sudah mengundangku makan mewah begini. Jujur dulu saja Aku harus berjuang untuk makan bahkan sesuap saat masa-masa menderita itu…”
(Cakra)
.
“Aku sangat menyayangkan kelalaianku. Maaf sudah membiarkan Kuta. Secara tak langsung Aku juga membuatmu sengsara.”
(Kadek)
.
“Tak perlu memikirkan masa lalu, Pak. Kalau Aku tidak melalui semua kesengsaraan dan penderitaan itu, Aku tak akan punya kemampuan setinggi yang Aku miliki sekarang. Aku malah bersyukur bisa merasakan kemewahan ini berkatmu.”
(Cakra)
.
Aku bicara itu sambil menyeruput Milkshake Vanila-Caramel dengan lahapnya. Mungkin nantinya Aku bisa dapat resep ini untuk Kubuat sendiri setiap hari. Sumpah rasanya seperti minuman surga.
.
“Oh, ayolah. Aku baru tahu kalau Cokorda dan Raka yang menemukan dan mengajakmu untuk tinggal bersama Mereka. Jadi panggil Aku saja Bang Kadek~ Lagipula ini Cuma hadiah yang sangat kecil dibandingkan hasil yang Kau tawarkan.”
(Kadek)
.
“EH SEBENTAR… KALAU DIPIKIR KITA BELUM TAHU NEGOSIASI APA YANG CAKRA TAWARKAN…!!! ___*(  ̄皿 ̄)/#____”
(Semua Keluargaku)
.
*TAP TAP TAP
.
“Cakra, mau kema--- WOAH???”
(Shiori)
.
“Oh~? φ(゜▽゜*)♪”
(Aza Shaktani)
.
*BYUR
.
Aku masuk kekolam renang mewah yang ada ditengah bangunan balkon ini. Pemandangan alngsung ke kota dan bisa Kulihat sekilas laut yang jauh dengan tenang tanpa gangguan. Aku memasuki kolam sambil berenang sebentar sambil merilekskan pikiran dan tubuhku yang tadi Sore berantakan.
.
Jadi Kubuka saja Kaos dan Celana Shirwalku. Jadi Aku hanya memakai celana sport pendek biasa dikolam.
.
“Aku mau menyegarkan Tubuhku dulu. Rasanya Aku sangat berdebu dan bau amis darah. Jadi gerah badanku.”
.
*CEPLASS
*BYUR SWUNGGG~
.
Aku menikmati kolam itu seorang diri dan segarnya luar biasa. Kalau melihat tubuhku sendiri memang bukan seperti anak umur 10 tahun lagi karena badanku yang berisi disertai otot tubuh yang Bugar, apalagi perutku yang sudah berbuku-buku. Itu semua karena Tumbuh Kembangku dari umur 5 tahun sih sampai sekarang.
.
Aku bersenang-senang sendiri dikolam dan bisa Kulihat Bang Kadek mulai membicarakan soal negosiasi gilaku tadi.
.
“Dia menjanjikan kuantitas elektabilitas yang signifikan dan sebagai gantinya Kau akan menjadikan Cakra seorang VIP sebagai Kekuatan Nasional? Apa maksudmu Ia akan masuk keranah kemiliteran? Anak gila beneran.”
(Cokorda)
.
“Panglima Tertinggi. Aku akan memberikan posisi itu untuk menggantikanmu supaya masak aja dikedai Kalian~”
.
“Benar juga. Aku mulai jenuh nganggur dipusat sana karena kinerja Militer Negara sangat terampil jadi Mereka tak membutuhkan Aku lagi.”
(Cokorda)
.
“Setelah cerita kompleksmu dari seluruh skema rencana Cakra, Aku merasa bodoh dihadapan Anak Jenius itu. Bisa-bisanya menyembunyikan sesuatu yang besar pada Dirinya.”
(Mahawardana)
.
“Kalau begitu kasus-kasus sebelumnya anggap saja selesai. Toh, semuanya adalah rencana jenius Cakra yang sudah memanipulasi orang-orang. Anak yang sangat berbakat dan hebat uwu~”
(Shiori)
.
“Kita… terpedaya sepenuhnya oleh anak kecil, haha~ (●ˇ∀ˇ●)”
(Agungraka)
.
*CEPLASSS
.
“Fuh~ Segar sekali serasa mandi disini.”
(Cakra)
.
Aku beranjak sambil meminum minuman kaleng dan handuk yang tersedia untuk mengeringkan rambutku.
.
“Kau main nyebur ke kolam padahal gada baju ganti, mau pakai apa Kau nanti pulang hah~? Kursi mobilnya mahal tahu kalau sampai kemasukan air.”
(Agungraka)
.
“Kalian mau lihat sedikit trik~? Laundry dadakan.”
.
Aku memakai trik kecil “Mantra Air” yang sama dengan milik Garuda. Demikianlah Baju dan celanaku langsung kering semua.
.
“Ha…?”
“Eh…? Langsung kering?!”
“Apa-apaan laundry dadakan itu hah? 🤣”
(Semua Orang)
.
Aku mulai memakai pakaianku seperti semula dan kembali ke Hallway untuk makan lagi. Tapi Aku kepikiran, semoga ada berita nasional yang bagus, soalnya Aku terlalu over tadi sore, sebenarnya cukup gawat jika Aku menyiksa Pak Camat sampai hancur begitu tenggorokan dan kedua tangannya. Tapi Aku sendiri yang tak bisa mengendalikan diri sih.
.
“Ngomong-ngomong lihat ini.”
(Kadek)
.
Ada TV besar diruangan VIP itu. Banyak Channerl berita yang memberitakan Tradisi Eksekusi ini. Juga terkait siaran darurat Bali yang sempat viral saat Siang. Banyak Media mau Stasiun TV ataupun Media Koran yang mulai memproduksi bahan berita Mereka sendiri untuk disebarkan dengan cepat ke seluruh Negeri. Makanya banyk reporter yang datang untuk menyiarkan Tradisi turun-temurun ini.
.
Berkat Bukti Konkrit berupa Video CCTV yang Kubawa beserta suara rekaman yang jelas membuat Masyarakat seluruh negeri yang menyaksikan lewat TV memberikan banyak yang memberikan tanggapan Pro ketimbang Kontranya. Karena sesungguhnya Praktik kejahatan besar Korupsi dan Nepotisme itu pada dasarnya sangat dikecam semua orang karena merugikan negara dan membuat sengsara rakyat kecil. Orang-orang mengakui bahkan mengapresiasi performa Pak Kadek dengan banyak euforia dan pujian-pujian yang membuat reputasi nama Pak Kadek meningkat pesat.
.
Seluruh Negeri memandang Pak Kadek sebagai Gubernur yang paling mumpuni dan kompeten mewujudkan janji politik dan idealisme besarnya. Dan sekarang Ia membuktikan kapabilitas Dirinya hari ini, bersamaan dengan munculnya Namaku Cakra Airlangga sebagai “VIP” baru di lini bidang Politik yang mengungkap tabir sindikat kejahatan besar yang tidak terekspos bertahun-tahun lamanya.
.
Pak Kadek yang mengumumkan Keseluruh Negeri jika Ia akan menggelar eksekusi terhadap Pelaku Korupsi dan Nepotisme dengan ganjaran yang sangat mahal, sehingga membuktikan janji politik dan prinsip idealisme yang dibuktikan dengan realisasi nyata.
.
Sedangkan dari Diriku sendiri, Seluruh Negeri memandang Diriku sebagai “Nama Baru” diranah Politik yang berperan besar dalam merealisasikan asas dan prinsip besar Gubernur I Kadek Nugraha Mulya. Sehingga masyarakat Publik melontarkan banyak opini positif terkait reputasi Provinsi Bali beserta jajaran Pemerintahan Gubernur dan seorang VIP baru yang menjalin “Partnership” dengan berkemampuan besar untuk mengungkap banyak sindikat kejahatan.
.
Semua skema itulah yang meningkatkan jumlah suara dan kenaikan signifikan sebanyak 30% pada elektabilitas Bang Kadek sebagai Gubernur paling tersohor dan terbuka dalam berpolitik. Sehingga diberitakan baru malam ini jika Gubernur Bali, Bang Kadek,
.
SEBAGAI KANDIDAT CALON PRESIDEN TERKUAT DIPERINGKAT 1 SAAT INI YANG PALING DOMINAN BERDASARKAN PERSENTASE ELEKTABILITAS PEMILU.
.
Ini sama saja menjadikan Pejabat dan Pak Camat yang korup sebagai alat Kami berdua untuk ditumbalkan sebagai Penjahat Besar yang merugikan negara. Maka dari itu manipulasi peningkatan elektabilitas yang Kuprediksi bisa terwujud nyata sekarang.
.
“Lihat kan~ Aku bilang tak usah khawatir karena Elektabilitas Unggul yang Kau janjikan Padaku itu sudah terealisasi. Artinya Kita sukses besar dan Cuma menunggu waktu sampai Aku menjadi Presiden Indonesia yang baru.”
.
“sementara Kau, Cakra, menjadi seorang VIP yang menjadi Kekuatan Nasional untuk memegang penuh wewenang kekuasaan dalam bidang Pertahanan dan Keamanan”
(Kadek)
.
“Hmm~ Baguslah ternyata prediksi dan rencanaku tidak melenceng. Ini hasil yang jauh lebih bagus dari ekspektasiku.”
(Cakra)
.
“Huh~ Gila, Kau benar-benar menjadikan Kadek kandidat presiden terkuat…”
(Mahawardana)
.
“Siapapun tak pernah membayangkan anak sekecil Dirimu punya kemampuan jenius dan mengerikan seperti ini.”
(Agungraka)
.
“Ahahah~ Anak hebat kesayangan kami~~”
(Shiori & Aza Shaktani)
.
“WOAAAAH!!!”
(Cakra)
.
*Hihihahhahahah
.
Sudah larut malam jadi Aku bilang akan ke mobil duluan untuk tidur. Rasanya pulas sekali tidur di mobil super-class, jujur saja. Karena memang lelah sekali selama 3 hari melakukan Multitasking sembari menyusun rencana bertahap. Itu semua menguras tenaga dan pikiranku.
.
“Ngomong-ngomong bagaimana dengan “Gunkaito” milikmu disana?”
(Kadek)
.
“Seperti biasa banyak uang, namun banyak tuntutan dunia juga. Jadi Aku liburan kesini ketimbang mati stress disana~”
(Xerxes)
.
“Kau memang memiliki nama besar di Jepang dan bahkan Dunia mengakui kekuatan dan kapabilitasmu, Xerxes. Namun… Sekarang sudah saatnya untuk melakukan perjalanan arkeologi dan penelitian mengungkap “Era Jurang Patala” kan?”
(Kadek)
.
*…
.
“Benar… Kita semua yakin, jika bukan Zarkan saja yang menjadi Iblis kekacauan di Dunia ini. Masih banyak misteri dan rahasia dunia yang belum terungkap.”
(Cokorda)
.
“Apapun itu, Aku juga melakukan beberapa penelitian di Jepang. Ternyata ada beberapa Dokumen sejarah kuno disana yang memiliki Bahasa Sanskrit dan memiliki kaitan dengan rahasia dunia.”
(Xerxes)
.
“Ada di Jepang? Kenapa…? Bukankah dokumentasi sejarah berbahasa Sanskrit hanya ada di Asia Tenggara??”
(Aza Shaktani)
.
“Tidak ada dari Kita yang tahu apa yang sesungguhnya terjadi dimasa lampau. Kecuali Kita harus menemukan 7 Prasasti Kuno.”
(Agungraka)
.
“Kita bisa melakukan perjalanan itu nanti. Sekarang, bagaimana dengan Tamastārā?”
.
“Mengingat latar belakang Kalian berdua, sepertinya Kalian tahu soal “Mereka” ini.”
(Cokorda)
.
“Yang pasti Tamastārā tak berasal dari Dunia ini. Soal entitas, pergerakan, atau rahasia sebenarnya dari Mereka, Kami kehilangan sebagian besar ingatan Kami karena sudah lama tergerus waktu.”
(Aza Shaktani)
.
“Ck, agak sial memang. Tapi yang pasti, suatu hari “Mereka” akan turun ke Bumi dan menciptakan malapetaka besar…! Jadi Kita harus waspada setiap waktu.”
(Mahawardana)
.
“Xerxes, bagaimana dengan orang “itu”? Kau mengatakan pada Kita dulu jika Dia punya kapabilitas yang sama sepertimu bahkan bisa jadi melebihimu?”
(Agungraka)
.
“Kehehehaha, akhirnya Kau menyinggung Dia. Kalau diingat, Dia menemukan jejak terakhir dari “Era Jurang Patala” di Kutub Utara.”
(Xerxes)
.
“A-APA?! KUTUB UTARA?? KENAPA SAMPAI KESANA?”
(Kadek, Cokorda, Agungraka)
.
“Kutub Utara? Kami tidak menyangka sampai sejauh itu disana. Sebenarnya apa yang Dia temukan??”
(Mahawardana)
.
“Ah, Dia mengatakan bahwa disana ada semacam Dokumen Batu yang sangat jauh tersembunyi dari permukaan luar. Jadi pasti sulit Baginya saat menjelajah kesana.”
(Xerxes)
.
“Prasasti?! Tapi aneh, sebenarnya apa “Era Jurang Patala” ini? Kenapa rasanya misteri dan rahasia dunia ini saling terhubung satu sama lain…?”
(Aza Shaktani)
.
“Kita bahas itu lain kali saja. Kali ini sudah malam jadi ayo sudahi malam ini. Dan juga, Aku harus fokus dulu untuk politik kedepannya.”
(Kadek)
.
“Baiklah~ terima kasih banyak yah, Pak Tua~~”
(Mahawardana, Shiori, Aza Shaktani, Agungraka, Cokorda, Xerxes)
.
“BRENGS*K KALIAN.”
(Kadek)
.
Lama sekali Mereka berbicara. Aku rasa hari ini sungguh spesial buatku. Jadi Aku kelewat senang tadi. Tapi tak ada dari Kita yang tahu apa yang terjadi kedepannya. Jadi Aku harus hati-hati.
.
Bang Kadek mengantar kami sampai rumah dan Penduduk Desa malam itu riuh menyambutku sebagai Pahlawan Baru yang sudah melakukan prestasi gemilang yang besar lagi dalam membantu Bang Kadek menjadi Presiden. Banyak sekali sukacita dan ucapan selamat kepadaku dan malam itu berlangsung sampai sangat larut.
.
Sepertinya Bang Xerxes dan Bang Wardana membicarakan sesuatu.
.
“Soal orang itu… Maksudmu orang sinting yang meledakkan seluruh Nagasaki pada masa “itu”? Bakal gawat kalau Dia berwisata kesini, huh.”
(Mahawardana)
.
“Kehahahah~! Ayolah, jangan memandang Dia sinting begitu. Tapi jujur kepribadiannya lumayan buruk, namun Dia dan Aku saling kenal dan sudah dekat seperti sahabat, jadi Dia pasti akan mendengarkanku.”
(Xerxes)
.
“Ya… Tentu setidaknya Dia harus punya rasa moral sendiri… UNTUK SEKALIBER “2 RAKSASA JEPANG”- kan~?”
(Mahawardana)
.
Ditempat lain dimalam yang sangat larut, disebuah Paviliun luas dan besar, disertai berbagai ornamen dan seni lukis khas Asia Timur di dinding dan didalam interior Paviliunnya. Bisa terlihat ada siluet Pria dengan tubuh besar dan sangat tinggi dengan rambut panjang berrumbai lurus sedang merokok santai melihat bulan yang bersinar terang malam itu. Seakan Ia menanti waktu yang tepat untuk suatu pergerakan.
.
“Xerxes menemukan berlian ya~ Dia mengirim surat panjang begini Cuma untuk menceritakan seorang bocah. Sepertinya kemampuannya bagus.”
“Baiklah~ Kita lihat seberapa tinggi kapabilitas anak ini~! Sudah waktunya untuk ke Asia Tenggara, melihat Tanah Sakral Para Pendekar…”
(???)
.
CHAPTER 8 END
.
FOLLOW AKUN SOSMED @bangjoule_uw UNTUK MEMUDAHKAN MEMBACA NOVEL "PENGEMBARA TAK TERTULIS"!!!
.
JIKA ADA PENDAPAT YANG MAU DISAMPAIKAN, SILAKAN KOMEN DIBAWAH DAN FOLLOW AKUN INI UNTUK NOTIFIKASI CHAPTER SELANJUTNYA YA~
__ADS_1