
WARNING :
MOHON MAAF BILA BANYAK TUTUR KATA YANG KURANG BERKENAN
&
KASAR DI NOVEL INI
.
.
.
Aku sudah tak ingat bagaimana Aku lahir, yang pertama kali Kulihat saat Aku baru membukan mata adalah Lingkungan kumuh dengan Bau kemenyan yang sudah apek. Entah apa dulu rasanya, namun yang pertama kali Kurasakan dan Kulihat adalah "Kekerasan". Aku besar disuatu Bangunan kumuh yang hampir ambruk. Jujur masa-masa kecil ku adalah masa-masa paling menyakitkan dan menyengsarakan.
Yang Aku tahu saat sudah bisa membaca, menulis, dan bicara pada saat itu adalah Aku tidak punya nama. Sekarang Aku sudah memutuskan untuk memberi Diriku sendiri Nama, yaitu "*****Cakra**** Airlangga*". Nama yang Aku ambil dari seorang Raja dari buku usang yang ada ditempat tinggalku.
.
Selama prosesku bertumbuh disana bahkan tanpa tahu rasanya kasih sayang Ayah dan Ibu, Aku harus bisa mandiri di masa kanak-kanakku. Yang Aku rasakan setiap waktunya cuma rasa takut karena Aku lemah. Ada anak-anak lain yang sepantaran denganku juga, beberapa dari Mereka ada yang sekarat tanpa asupan dan mati tergeletak tanpa ada yang peduli disebuah ruangan yang banyak sampahnya. Waktu pertama kali Aku bisa berjalan setelah merangkak sendiri, Aku menyaksikan berbagai macam kesengsaraan hidup yang seperti neraka.
.
Diumur 3 tahun Aku juga seperti anak-anak lain yang riang bermain apa saja walaupun itu bangunan kumuh, namun banyak perlakuan tak menyenangkan karena sifatku yang sangat bocah dulu. Terkadang ada orang asing yang seenaknya menempati tempat tinggalku dan semena-mena terhadap Diriku karena Aku lemah. Insiden yang sudah jadi kebiasaan itu menyebabkan Diriku sering takut dan traumatik, sehingga Aku mulai berpikir "Kalau Kau menangis, Kau akan dicap lemah. Jadi berhentilah menangis karena itu pertanda orang lemah".
Saat orang-orang jahat itu pergi, pernah Aku coba keluar dari bangunan tempat tinggalku untuk menyaksikan Dunia luar. Aku merasa takut saat pertama kali melihat banyak perkelahian jalanan yang menyebabkan darah memancar dari Tubuh manusia, tubuh mereka dikoyak dengan golok, tubuh Mereka dikuliti, dan organ-organ Mereka dilucuti.
Perkelahian rimba ini terjadi disetiap waktu dan tidak ada yang menghentikan itu. Kadang perkelahian rimba ini bisa terjadi sepanjang malam. Perkelahian itu selalu melibatkan senjata tajam ataupun senjata api. Alhasil sepanjang malam saat kembali ketempat tidurku, Aku diselubungi rasa takut yang sangat besar karena Aku takut Diriku juga akan berakhir seperti itu. Aku bahkan menangis sejadi-jadinya karena naluriku seolah berkata bahwa hidupku terancam.
Pada akhirnya Aku tertidur juga. Aku merasa sangat lelap dan sangat tenang. Tidur adalah waktu paling indah bagiku. Namun tidur kali ini berbeda. Aku merasakan aliran aneh yang menyelubungiku. Entah Aku menyebutnya apa, tetapi yang pasti Aku lihat didalam tidurku seperti aliran air yang tenang. Didalam aliran itu terasa sangat berbeda, Aku tidak merasakan rasa takut sama sekali. Tetapi perasaan yang belum pernah Aku rasakan sebelumnya, perasaan hangat dan menenangkan. Bisa dibilang itulah esensinya.
.
"Tenang, Aku tak akan menyakitimu. Bagaimanapun ini adalah takdir karena bisa bersamamu." (???)
.
"Apa ini, Siapa Dirimu yang muncul saat Aku tidur? Apa Kau jiwa gentayangan atau Jiwa iseng? Tapi jangan salah paham, bukannya Aku takut dengan Dirimu~" (Cakra)
.
"Bocah ini..."
"Dengar, Aku adalah jelmaan yang datang dari Masa Lampau untuk membimbing Dirimu di masa depan. Suatu hari nanti Seluruh Dunia ini akan mengalami Malapetaka tak terhindarkan. Oleh karena itulah Kita bersama." (???)
.
"Dunia... mengalami Malapetaka? Maksudmu bencana besar? Tapi kenapa... Apa hubungannya denganku?" (Cakra)
.
"Kau mungkin berpikir bahwa Hidupmu sangat malang dan sengsara, namun bagi "Kami", Kau adalah Seorang Anak yang lahir dengan mukjizat besar, Kau membawa sesuatu yang spesial sejak Kau lahir dan tidak dimiliki orang-orang." (???)
.
"Ini membuatku semakin tak mengerti. Apa maksudmu spesial? Aku hanya Anak yang lahir tanpa tahu siapa Ayah dan Ibuku sendiri, apa nya yang spesial..." (Cakra)
.
"Aku... hah~, maafkan Aku sudah menyinggung perasaanmu tanpa pikir panjang. Tapi yang Aku katakan ini ada-" (???)
.
"Tak masalah, heheh. Aku tahu itu cukup sakit didengar. Tapi kan ada Kau disini yang menemaniku sekarang. Jadi Aku tak perlu merasa takut lagi. Aku merasa senang sekarang bisa berbicara dengan seseorang walaupun tak tahu wujudnya. Mungkin rasanya agak asing, tapi Aku bisa merasakan Kau adalah makhluk yang luar biasa kuat! mungkinkah Kau dewa? Kau bahkan sangat bersahabat." (Cakra)
.
"Oh, eh... iya semacam itu, nanti Kau akan tahu suatu hari. Aku merasa lega Kau bisa menceritakan segala yang Kau alami saat ini. Jujur Aku juga merasa bersalah karena takdir memilih Dirimu." (???)
.
"Hah...? Maksudmu? Aku tak mengerti apa yang terjadi. Lalu juga bagaimana caramu muncul di Mimpiku ini?" (Cakra)
.
"Ehh... Sudahlah. Yang Aku bicarakan tadi belum bisa Kau pahami sepenuhnya. Ngomong-ngomong Aku bisa muncul di mimpimu karena Kita sudah bersama sejak Kau lahir."
"Belum saatnya Aku memberi tahu Dirimu tentang apa yang terjadi di masa lalu, tetapi yang Aku ingat adalah saat dimana jiwa dan kesadaranku mengalir menembus waktu yang sangat panjang, entah ratusan atau ribuan tahun."
"Dan di periode zaman inilah kesadaranku bangkit dan mendapati jiwa ku bergabung dengan jiwamu didalam tubuhmu. Kau pasti bingung dengan yang Kubicarakan kan? akui saja." (???)
.
"Woah, ternyata bisa ada kejadian begitu ya... Aku paham kok semua unsur yang Kau bicarakan itu. Aku tinggal mempelajari konsep dari Jiwa dan Kesadaran serta semua Hal Spiritual yang ada di Buku, heheh~"
(Cakra)
.
"Se-Seriusan? kau paham hal rumit tadi padahal Kau baru berumur 4 tahun? Ternyata Kau ini jenius rupanya."
.
Dia ini benar-benar permata yang tersembunyi di desa ya... Aku bisa paham kenapa "Mereka" memilih Anak ini, Anak ini bisa menjadi orang besar nantinya, Aku harus mendampingi Dia seumur hidupku! Aku janji. (???)
.
"Kau belum tahu namaku kan? Namaku Cakra Airlangga, Aku membuat sendiri Namaku ini, dan saat Aku sudah cukup kuat, Aku akan berpetualang keluar dari sini untuk melihat seberapa luas Dunia ini!" (Cakra)
.
"Cakra ya... baiklah, kau bisa memanggilku **Garuda** mulai sekarang. Terima kasih karena Kau tidak takut padaku dan terbuka untukku. Mulai sekarang Aku berjanji akan mendampingimu seumur hidupku, jadi sekarang Kita keluarga ya? fufu~" (Garuda)
.
"Garuda?! berarti Kau burung legendaris itu...? Haha, Aku senang karena sekarang Aku punya orang dekatku yang bisa disebut keluarga. Walaupun Kau sekedar Burung Jadi-Jadian, HEHEH~" (Cakra)
.
"Hah... Sumpah anak ini~"
"Ngomong-ngomong Kau yang bilang ingin menjadi cukup kuat ubahlah keinginan itu menjadi "Aku ingin menjadi Puncak di Dunia ini", dengan begitu Orang-orang akan segan melihat Dirimu."
"Pada dasarnya, Kau ditakdirkan untuk memimpin Dunia ini. Kau juga akan bertemu orang-orang kuat yang akan bersamamu seterusnya, jadi Kau tidak akan sendirian lagi kedepannya. Maka dari itu, Aku akan membimbing kekuatan spesial yang terpendam di dalam Dirimu. Agar Kau menjadi yang terkuat.
(Garuda)
.
"Aku sungguh berterima kasih kepadamu Garuda, Mulai sekarang Kita akan bersama dan Aku siap untuk bertumbuh bersamamu! Tapi ngomong-ngomong, apa kekuatan spesialku?" (Cakra)
.
"*Apa Kau tahu 8 ***Mantra** Pusaka?" (Garuda)
.
"Tunggu, Apa...?! Bukankah itu cuma legenda semata yang tak terbukti nyata di buku usang yang kubaca? Kau bilang Aku punya salah satu dari-" (Cakra)
.
"**Angkara**. Kau memiliki **Mantra Angkara** ditubuhmu. Angkara merupakan Mantra yang berlandaskan Kemurkaan. Inilah yang menjadikanmu Puncak Dunia nantinya karena Mantra ini adalah yang terkuat diantara 7 Mantra Pusaka lainnya." (Garuda)
.
"Tidak kusangka sama sekali... **8 Mantra Pusaka itu nyata, dan Aku memiliki salah satunya dan yang terkuat sekaligus! Ini sangat luar biasa~"
.
Tapi tunggu, masalahnya adalah Aku tak tahu cara memakai Kekuatan magis ini. Sekalipun nyata percuma juga kalau Aku tak bisa menggunakan atau bahkan memaksimalkan potensi terkuatnya~ (Cakra)
.
"Hmmm... dari ekspresimu Aku bisa menilai kalau kau banyak pertimbangan ya... padahal Kau masih anak-anak tapi bisa berpikir dengan matang. Tak usah pusing sendiri, Aku yang akan mengajarimu langsung Mantra Angkara ini. Namun sebelum mempelajari Mantra sepertinya Kau harus belajar ****Vajra**** dulu, untuk jaga-jaga." (Garuda)
.
"Ah! Aku tahu itu. Kalau kataku sih Aku lebih memilih untuk lebih mahir dan lebih mendalami Vajra daripada Mantra dulu. Bagiku kekuatan murni yang Aku peroleh dan tumbuhkan sendiri lebih penting daripada Kekuatan bawaan sejak lahir. Aku pasti akan antusias dalam pengajaranmu~" (Cakra)
.
"Haha, Kepribadianmu memang unik dan luar biasa. Aku tak mengira Kau masih ingin rendah hati sampai begitu. Aku kira Kau akan sombong setelah punya Mantra Pusaka. Bagaimanapun Aku juga tak akan sepenuhnya mengajarimu. Aku hanya menyediakan Konsep dasarnya saja. Selebihnya Kau kembangkan dan perluas sendiri kekuatan tempur Vajra-mu serta teknik yang Kau ciptakan sendiri yang nantinya akan menjadi Kekuatan "**Martial Art**"-mu." (Garuda)
.
"Tentu, Aku tahu harus begitu agar Aku lebih kuat dari orang lain, Aku harus berbeda sendiri~" (Cakra)
.
Dari mimpi yang panjang tersebutlah Aku mulai membangun Diriku dengan pondasi kokoh terhadap Diriku untuk Mandiri dan dewasa secepatnya walaupun Aku masih Anak-anak. Tentu mau tidak mau harus begitu jika Aku ingin menjadi Individu kuat yang tidak perlu berpangku pada orang lain.
Hari-hari berikutnya juga berubah sepenuhnya bagiku. Karena Aku tidak sendirian lagi karena sudah ada Garuda sekarang. Aku tahu orang lain aneh melihatku berbicara sendiri, tapi hanya Aku yang bisa melihat wujud arwah Garuda yang berwujud Burung Legendaris dipundakku.
.
Dalam keseharianku setiap harinya juga Garuda mengajarkan banyak hal yang berkaitan dengan Dunia ataupun Kekuatan magis Mantra ataupun Vajra. Tetapi saat ini yang Dia ajarkan Padaku adalah konsep dasar Vajra dahulu.
.
Samadhi, Amoghas, Dhyana. Begitulah Garuda mengajarkan teori dan Konseptual dasarnya Padaku. Setiap waktu selama 1 tahun Aku harus mahir dahulu tingkatan pertama Vajra melalui Martial Art yang Aku ciptakan sendiri.
.
"Seni Perang Mandala"
.
Itulah nama Martial Art yang Aku ciptakan. Martial Art yang Aku ciptakan ini dirancang untuk "Solo VS Squad" Bagiku. Selain itu Martial Art ini berfokus untuk melumpuhkan keseimbangan Musuh terlebih dahulu, kemudian mendominasi Flow Pertarungan dengan berbagai macam Teknik Tempur untuk melancarkan serangan menghujam disertai Kombinasi Masif untuk menghancurkan pertahanan dan memecah ritme bertarung Musuh.
.
Jika Kubuatkan skema realistisnya, Pertama buat serangan Flick, kemudian amati dengan cermat pergerakan sendi, otot, dan gerakan Musuh, ganggu keseimbangan Mereka sesuai ritme mobilitas musuh seperti kaki kanan untuk menendang kaki kiri dan tangan kiri untuk menangkis ataupun melucuti serangan Musuh yang akan dilancarkan. Begitulah gambaran sederhananya.
.
__ADS_1
Beberapa waktu berlalu, dan disaat Aku berumur 5 tahun, setidaknya Aku sudah setengah mahir bertarung dengan Martial Art-ku sendiri yang diselaraskan dengan Vajra walaupun belum sempurna. Dari yang Aku capai sekarang, Aku sudah bisa bertarung dengan memanifestasikan Vajra walaupun baru sampai Tingkatan Samadhi. Tingkatan dasar ini lah yang Aku latih selama 1 tahun setelah bertemu Garuda tanpa kenal waktu. Jadi Aku masih bisa terselamatkan dengan Samadhi walaupun Kemahiranku masih kurang dikarenakan Aku masih anak-anak.
.
Walaupun begitu, saat masih 5 tahun Aku menyadari kalau tubuhku sedikit lebih berisi dan sedikit lebih tinggi dari anak-anak sepantaran denganku. Aku tahu hal ini dikarenakan setiap harinya Aku harus merampas dan mencuri dari orang lain mau tidak mau. Tak jarang juga Aku harus bertarung tanpa henti dengan orang dewasa dan kabur demi hidup. Walaupun sengsara tapi itulah yang membentuk kepribadian dan Tekadku. Aku juga selalu melihat anak-anak sepantaran Denganku sangat putus asa bahkan hanya untuk makan. Ada dari Mereka yang mencuri ataupun makan diam-diam di Kedai meskipun berakhir tertangkap dan tersiksa.
.
Awalnya Aku juga begitu, saat Aku berumur 4 tahun dan masih belum mahir bertarung, Aku juga pernah begitu. Tertangkap, dipukuli, dibentak, diteriaki, dan bahkan dikutuk dengan kata-kata tak manusiawi. Karena kekerasan itulah Aku selalu berakhir bangun dijalanan setelah disiksa seperti itu. Setelah bangun yang Kuingat dari kata-kata Mereka adalah
Aku Anak Haram..., Aku tidak pernah diharapkan lahir...,
.
"Anak baji**** sepertimu tidak seharusnya lahir! Keberadaanmu hanya membawa petaka dan kesengsaraan! Andai Kau tidak pernah lahir, mungkin saja orang-orang lebih bahagia! Anak kotor dan haram sepertimu seharusnya mampus di pe***** saja!!! Anak haram sepertimu tidak berhak untuk bahagia, mending mampus saja sama binatang ternak bren****k!" (*Samar-samar)
.
Sejujurnya Aku bertanya-tanya, Apa kesalahanku?Kenapa dunia sangat mengutuk Diriku yang bahkan lahir tak tahu apapun soal kasih sayang ataupun keluarga? Kenapa Aku lahir seperti ini, kenapa...? Aku sendiri tidak pernah berpikir untuk lahir seperti apa... Atau bahkan memangnya salahku jika dunia berantakan karena Aku lahir?? Apa itu berpengaruh...? Hah... Dunia sudah kejam dan mengutuk Diriku...
.
Kadangkala banyak juga Orang-Orang dari Kaum menengah atas seperti Pejabat ataupun Kaum Konglomerat yang sangat kaya melintas daerah ini akibat serangan Gohma yang menghancurkan Jalur utama Provinsi sehingga harus melewati Pemukiman kumuh ini. Dan benar saja, sering sekali Aku ditatap jijik dan dipandang rendah oleh Mereka. Setiap harinya juga Aku dikutuk, dihina, dicaci maki, dan dihujat hanya karena melihat kejadian dari sudut pandang Mereka saja.
.
Bagaimana bisa Anak seperti Dia hidup? lihat itu Dia memakan cemilan yang sudah kotor... Heh, Anjing Liar Sepertimu seharusnya dikandang ternak saja!
.
Karena Anak jalanan sepertimu lah Dunia jadi kotor!!! Aku bahkan tak sudi melihatmu bernapas! Kau benar-benar sampah, cuma bisa mencuri makanan kotor dan bersembunyi seperti tikus!
.
ANDAI SAJA KAU TIDAK PERNAH LAHIR! DUNIA AKAN LEBIH BERSIH!!! DUNIA JADI KOTOR DAN HANCUR SEPERTI INI KARENA KAU LAHIR!
.
KURANG AJAR JUGA KAU MENGHALANGI JALAN! MEMANG YA ANAK HARAM SEPERTIMU TIDAK BERPENDIDIKAN DAN CUMA JADI HAMA SAJA!!!
.
AKU BENAR-BENAR JIJIK MELIHATMU HIDUP! ANDAI SAJA IBUMU MENGGUGURIMU DULU!
.
AKU TAK SUDI MELIHATMU BERJALAN DAN MAKAN LAYAKNYA ANJING LIAR!! IYA BENAR, MUNGKIN KAU MEMANG ANJING LIAR ITU SENDIRI!!! MERANGKAK SAJA SANA DAN MATI SENDIRI!!!
.
Semua gunjingan Mereka benar-benar kejam dan tak berperasaan...
.
Aku juga manusia, Aku ingin berjuang untuk hidup walaupun tak punya Orang Tua. Aku juga ingin hidup normal seperti masyarakat yang tertib oleh hukum. Kalian bahkan bukan siapa-siapa tapi kenapa menghujatku...? kenapa Kalian mengutukku...?Tahu apa Kalian soal hidupku yang sudah hancur sejak Aku lahir...? Aku tak berharap kekayaan duniawi ataupun status sosialita. Aku hanya ingin hidup dengan damai untuk Diriku sendiri kedepannya. Atas dasar apa Kalian menghakimi Hidupku yang tidak adil...?
.
Huh, bertahun-tahun mendengar semua berbagai hujatan dan kata-kata buruk seperti itu, setelah sampai di tempat tinggalku yang kumuh, kadang Aku berjalan lemas dan duduk disudut kamar seraya menengadah keatas. Sambil memasang wajah yang bercampur-campur emosinya. Marah, sedih, atau sengsara? Entahlah susah untuk menjelaskannya. Terpampang jelas semua emosi yang tercampur aduk itu sambil menahan tangisku. Karena kejadian traumatik dulu membuat satu pemikiran yang mengatakan Menangis adalah tanda bahwa Kau lemah. Orang-Orang akan menertawakan bahkan mengolokmu kalau menangis. Begitulah pemikiran yang tidak bisa hilang pada Diriku.
.
"Kau tidak bisa menahannya terus-terusan. Kau juga punya hati dan perasaan. Kau yang sudah sengsara atas hidupmu yang penuh kemalangan dan hujatan orang-orang jahat tak berperasaan bukan berarti harus menahan segala emosi yang timbul dari semua akibat itu... Apalagi Kau masih anak-anak. Sangat wajar Untukmu menangis dan meluapkan segala yang Kau pendam sekarang." (Garuda)
.
"Tidak... apa-apa. Aku sudah memilih jalan untuk terus berjuang hidup untuk selamanya. Kau juga memberiku jalan dengan segala proses untuk memebentuk dan mengembangkan Semua aspek pada Diriku ini. Jadi, Aku tidak boleh sedih atas... jalan yang Kuambil sendiri" (Cakra)
.
"Baiklah, Aku menghargai keputusanmu. Kau benar-benar menjalani Hidup seperti neraka yah... Benar-benar Anak berkepribadian tegar dengan mentalitas yang sangat hebat."
"Tapi tak masalah, karena Aku tak bisa meninggalkanmu karena pada dasarnya Kita ini belahan jiwa yang saling melengkapi. Jadi kita tidak mungkin terpisah."
"Kalau Kau mati Aku juga ikut mati. Begitulah adanya Diriku. " (Garuda)
.
"Walaupun menjalani kehidupan Neraka ini, Aku sungguh bersyukur memiliki Dirimu yang selalu ada setiap saat, Garuda. Terima kasih untuk segalanya Demi DIriku... Terima kasih karena selalu ada dan menghiburku di masa-masa terpurukku." (Cakra)
.
Namun dari semua Tragedi itulah Aku belajar untuk tidak cengeng dan memiliki mentalitas yang keras, teguh, dan mandiri. Aku tidak boleh segan membunuh orang yang mengancamku. Dan Aku tak seharusnya memikirkan perasaan orang lain yang jahat Padaku Karena hidupku dari awal sudah seperti Hukum Rimba.
.
Kalau Kau tidak membunuh Kau yang mati, Jika Kau tidak mencuri dan merampas makanan orang lain Kau akan kelaparan dan mati, Jika Kau tidak merampas baju orang lain, Kau akan telanjang. Jika Kau menagis, tidak ada yang mempedulikanmu dan bahkan berakhir dibunuh untuk dimutilasi dan dimakan oleh orang-orang sekitar yang kelaparan. Yang lebih buruk dari semua itu adalah ketika ada orang yang mendekatiku ternyata berakhir mengkhianati bahkan merampas yang Aku punya. Itulah semua yang Ku alami saat itu. Tak ada gunanya sedih, pokoknya setiap hari harus memiliki tekad untuk hidup. Aku tahu betul saat itu kalau merampas dan mencuri bahkan bertarung demi hidup dan berakhir membunuh atau menyakiti orang lain itu salah besar. Tapi mau tidak mau Aku harus prioritaskan hidupku jika tidak ingin DIriku mati.
.
Aku harus seperti itu. Menyampingkan perasaan dan hidup sesuai insting dan naluri. Disela-sela pelatihanku terkadang Aku merasakan kalau angin disekitarku selalu berubah dan kadang turun hujan badai, dan Aku bisa merasakan sumbernya dari Garuda. Rasanya seperti Dia menyesal dan sedih kalau Aku harus hidup sebagai Anak-Anak terlantar dan bahkan melakukan pembunuhan di Usia Anak-Anak demi hidup. Biasanya Anak-Anak erat kaitannya dengan Orang Tua seperti Ibu dan Ayah, sedangkan Aku tidak dan bahkan harus hidup penuh ketakutan dan waspada setiap waktu jika tidak ingin celaka. Bahkan tidak ada orang yang bisa dipercaya karena kampungku ini adalah Daerah tanpa hukum.
.
Aku juga kadang teringat saat pertama kali ada yang mengancamku dijlanan, Aku bertarung habis-habisan seada-adanya dengan orang dewasa dan disaat ada celah aku sayat tenggorokan Mereka dan terpancar keluar darah segar Mereka. Aku kalang kabut takut kemudian hanya berpikir untuk lari setelahnya. Momen pertama kali membunuh adalah momen yang sangat Membuatku sangat takut dan syok. Apalagi Aku masih anak-anak dan dalam keadaan terpaksa harus membunuh demi hidup. Sepanjang waktu itu Aku dihantui rasa bersalah dan takut yang tidak beralasan, Aku juga selalu gemetar setiap waktu dan sesak nafas bahkan berkeringat dingin.
.
.
Tetapi semua itu tidak menghilangkan rasa manusiawi Dariku sendiri. Aku juga berkeinginan besar suatu hari jika sudah benar-benar menjadi Pendekar yang luar biasa kuat dan berkharisma serta dikenal reputasi Dunia.
.
"Suatu hari Aku akan memimpin Negeri ini, menegakkan keadilan moral dan mengatasi segala kekacauan serta memberikan banyak bantuan kepada Orang-Orang yang sengsara agar Mereka bisa hidup sebagai manusia. Dan lagi... tidak ada lagi anak-anak lain yang berakhir seperti Diriku dimasa-masa Neraka." (Cakra)
.
Begitulah sumpahku pada Diriku sendiri saat 5 tahun.
.
Waktu berlalu begitu cepat sampai tak terasa Umurku 7 tahun sekarang, dimana Aku menjalani hidupku masih disituasi yang sama, yaitu Bali zaman dahulu tanpa hukum. Saat di waktu kosong Aku pernah bertemu dengan Makhluk aneh yang jauh dari kata wajar diperbatasan kampung. Wujud Mereka hitam dengan retakan-retakan ditubuh Mereka dan keluar semacam Api atau percikan dari tubuh Mereka, serta dapat menjadi sangat agresif. Saat pertama kali bertarung dengan Mereka tentu sangat berat. Aku melawan Dua Gohma berupa Babon sekaligus.
.
Salah satu dari Mereka saja sulit dihadapi untukku. Aku juga menggunakan Martial Art-ku dan Vajra Samadhi untuk bertahan dan mendominasi Mereka berdua. Walaupun efektif tapi masih kurang. Tubuh Mereka yang hancur Olehku tiba-tiba utuh kembali karena regenerasi gila Mereka. Garuda mengatakan bahwa tidak mungkin mengalahkan Mereka dengan menargetkan titik vital karena Mereka tidak memiliki Organ Dalam. Disela-sela pertarungan Aku mulai ada ide untuk menyerang Kepala Mereka dengan cepat dan kuat.
Disaat ada celah tipis, Aku menghantam kaki Gohma yang disisi kiri dengan Teknik Gadha dengan tangan kiri dan menjegal kaki kanan Babon disisi kanan dengan kaki kananku. Melakukan kombinasi Dua Serangan dengan cepat dan kuat dengan maksimal.
Kemudian menghancurkan Dua Kepala mereka dengan Teknik Ayunan kuat dari Dua tanganku dengan akselerasi diagonal sehingga leher Mereka terpotong.
.
Dve chakṣitādhaḥ
.
Artinya "Dua Mata Pedang Diagonal"
.
Akhirnya Aku menang karena kemampuan ini. Selain itu "Seni Perang Mandala"-ku sudah berkembang dan lebih fleksibel dalam segi mobilitas tempur tapi juga diikuti dengan Kekuatan Vajra yang Aku manifestasikan sehingga bisa melawan Dua Gohma sekaligus.
.
"Hmm~ Sepertinya Kau sudah mahir menggunakan Teknik ciptaanmu sendiri dengna Efisien dengan skala kerusakan yang tinggi. Kau benar-benar permata kampung, Cakra. Karena Eksistensi Dirimu sudah matang dari semua segi mentalitas, kekuatan, pengetahuan & keterampilan bertarung, pengalaman, dan juga kemampuanmu membaca situasi lapangan. Sungguh Kau membuatku bangga dan kagum! Tak ada lagi anak-anak yang bisa sepertimu." (Garuda)
.
"Aku juga bangga sendiri dengan pencapaianku~ Tapi jujur, Aku jelas tidak akan seperti ini kalau tidak bertemu Dengamu. Mungkin Aku sudah jadi mayat dulu, makanya Aku sangat senang dan berterimakasih Padamu karena telah menjaga, mengajari, dan membesarkanku Garuda! hehe~" (Cakra)
.
"Iya... Meskipun harus melewati masa-masa sulit selama 4 tahun demi mencapai posisimu yang sekarang, Walaupun harus melewati jalan yang kotor demi kesuksesanmu, Pencapaianmu tetaplah kebanggaanmu. Jadi... jangan merasa bersalah atas apa yang telah terjadi."
"Mereka yang terbunuh olehmu, atau Mereka yang kalah dan harus sengsara setelah melawan Dirimu, atau bahkan Mereka yang merasa dirampas olehmu, bagaimanapun itu adalah takdir Mereka." (Garuda)
.
"Aku paham betul soal kompleks yang Kau bicarakan itu. Aku sudah bisa berpikiran luas sekarang dan Aku bisa melihat dari sudut pandang lain. Mereka yang dirampas dan terbunuh itu bisa jadi kesalahan Mereka sendiri karena tidak mampu menjaga Diri sendiri, Karena Mereka tidak bisa bertahan, maka terjadilah petaka yang Mereka tidak inginkan dan mulai melampiaskannya ke segala hal, makanya... Aku harus kuat jauh melampaui siapapun. Jika tidak Aku yang akan merasa kehilangan." (Cakra)
"...Kurasa Aku tidak bisa mengatakan apapun lagi. Tapi ngomong-ngomong setidaknya ayo Kita bawa salah satu dari Mereka, Aku mau mengajarimu sejarah sedikit saja." (Garuda)
.
"Iya~, Oke, setidaknya Aku tidak akan bosan berburu selain Manusia." (Cakra)
.
Begitulah Provinsi dengan Tingkat Krisis tertinggi dan juga rendahnya persentase untuk bertahan hidup. Krisis pada masa itu bukan hanya disebabkan Gohma melainkan juga Manusia. Provinsi ini mulai diberlakukan hukum rimba dan menghalalkan segala cara entah demi makanan ataupun minuman bahkan jika hanya untuk satu suap dan satu tegukan.
Para Pejabat disini yang harusnya mencari solusi agar Bali terlepas dari Hukum Rimba ini malah berkelakuan lebih busuk dan kotor dibandingkan Kami yang dianggap sebagai Anjing Liar dimata Mereka.
Mereka memanfaatkan Kekuasaan Mereka untuk berperilaku bagai bangsawan ataupun raja dan menginjak-injak rakyat yang sengsara. Itu sungguh memuakkan jujur. Aku yang lagi memakan cemilan kecil sepotong saja ditendang tanpa alasan hanya kerena ada dipinggir jalan.
.
"Kau yang cuma Anjing Liar beraninya ada dipandanganku?! Terima ini breng*ek, dasar kotor!" (Random)
.
begitulah kata Bede**h menjijikkan itu. Orang-orang menyaksikanku seperti tak terjadi apa-apa dan hanya menundukkan kepala Mereka karena takut diberlakukan sepertiku.
Tentu Mereka takut, karena pejabat itu membawa sekumpulan Pengawal yang siap untuk menyerang siapapun yang mendekati Tuan mereka. Begitulah kekuasaan dan uang untuk jasa orang-orang bayaran yang menggiurkan.
.
Aku bahkan bersumpah untuk membalas Dia dikemudian hari jika Aku sudah jadi Individu yang matang dan kuat diatas rata-rata, akan Kugasak semua Kekayaanmu untuk dibagi rata ke penduduk kampung, Huh...
.
Keesokannya Pejabat korup itu datang lagi sambil kampanye pemilihan Dia. Orang-orang yang sudah hidup anarkis hanya melihat dengan tatapan kosong dan hanya lalu lalang tanpa mempedulikan Dia. Merasa tidak dihargai, Pejabat Korup itu mulai melampiaskan kekesalan Mereka ke penduduk setempat.
.
__ADS_1
Aku yang melihat kekerasan itu tak tahan juga dan akhirnya dengan tenang ingin menghajar Mereka. Namun tak disangka ada orang yang badannya sangat besar dan tinggi, Dia mendahuluiku dan menghampiri Rombongan pejabat itu.
.
"APA KAU HA?! BERANI MENANTANG DAN MAU MENYENTUH-" (Random)
.
Aku masih ingat pemandangan hebat itu, Orang besar itu dengan cepat menghantamkan pukulannya ke ulu hati pejabat tersebut sampai mental dan mulai mengamuk dengan wajah tenang serta menyerang secara membabi buta tak kenal arah.
.
Saat itu Ia juga melawan Pengawal-Pengawal bersenjata itu sendirian dengan Dua Keris Raksasa yang disambung dengan rantai baja di ikat pinggangnya yang diselubungi Vajra sembari menyerang dengan teknik-teknik menebas dan tusuk sekaligus.
.
"Kalian dan Baji**** tikus sepertinya... Tak tahu Diri seenaknya melangkahkan kaki kesini, bren***k. Mampus saja sana." (???)
.
INI...! LUAR BIASA, INI PERTAMA KALINYA AKU MELIHAT ADA ORANG LAIN JUGA YANG MENGGUNAKAN VAJRA!!! Tapi rasanya Vajra Dia memiliki tingkat yang lebih tinggi dari Tingkatan Samadhi dan memiliki daya hancur yang lebih besar namun tetap mempertahankan nilai efisien nya. (Cakra)
.
Iya, Aku tahu ini. Vajra Tingkatan Amoghas. Vajra Tingkat tinggi lainnya yang memanifestasikan Volume Vajra dalam jumlah besar. Orang ini sudah mahir menggunakannya, sementara Aku masih dalam proses mengembangkan Amoghas dan melatihnya setiap waktu.
.
Aku akan mengatakan jika Samadhi dan Amoghas itu berbeda. Amoghas adalah tingkat ke-2 jika dilihat dari Sistem Kekuatan Vajra. Setidaknya jika Aku sampai pada tahap Amoghas, Aku dapat lebih efisien waktu dan tenaga namun juga bisa memperluas daya hancur seranganku dengan kekuatan masif.
.
Teknikku saat mengalahkan Dua Gohma waktu itu masih menggunakan Vajra Samadhi. Jika Aku sudah mempelajari dan mahir Amoghas sepenuhnya, Aku bisa meningkatkan dan mengembangkan berbagai Teknik Martial Art-ku dengan kompleks dan murni kekuatan tangan kosong diselubungi Vajra tentunya.
.
"Heh... Bocil bau kemenyan Sepertimu sudah sematang ini? Kau benar-benar permata tau. Aku tak pernah melihat ada anak kecil dengan tipikal Sepertimu. Yah... walaupun Aku lihat-lihat Kau sudah bertahan hidup sangat keras ya?~"(???)
.
"Kau bisa aliran kekuatan dalam Tubuhku? Dan juga... tadinya kalau Kau tidak ada Aku ingin merusuhi rombongan itu dengan sangat brutal. Tapi sepertinya sekarang tidak perlu.Aku muak dengan para bede*** itu karena Mereka pernah mencela Diriku... " (Cakra)
.
"Sembarangan ya mulutmu, padahal Kau masih belum sepenuhnya menguasai "Amoghas", tapi Kau berani berpikir untuk menerjang Mereka? Kau benar-benar tak takut apa-apa ya nekat begitu, hmm...?" (???)
.
Belum selesai berbicara Aku melihat orang sebesar Dia berlari kemari dengan badan yang lebih besar darinya dan mendekati Kami.
.
Apa ini? Rasanya Dia tidak hanya memiliki Vajra Samadhi dan Amoghas, Dia memiliki Mantra yang misterius. Beda dari yang Aku pelajari. Atau... yang Aku rasakan ini bukan Mantra? lalu apa...? Dibilang Mantra pun tidak bisa karena Aku tidak merasakan kekuatan Elemental yang mengalir di Tubuhnya. (Cakra)
.
Aku diam-diam menengok Garuda yang hanya diam terus menatapi Dia seolah Garuda mengetahui sesuatu tentang Orang berbadan besar ini.
.
"Hah... DISINI KAU RUPANYA! PETAKILAN SEKALI KATANYA CARI ANGIN MALAH CARI MANGSA, BRENG***... RAKA!!!"
(???)
.
"Haish... Bisakah Kau biarkan Aku jalan-jalan dulu? Aku juga sambil cari hiburan tahu?~ Kau ini sungguh sentimentil dan hampir gabisa bercanda barang 10 detik, COKORDA~"
(****Agungraka****)
.
Mereka berdua baru pertama kali Kulihat dan masing-masing dari Mereka sangat kuat jauh diatasku. Tapi kenapa muncul sekarang? Kenapa saat Pejabat itu kampanye kesini Mereka baru memunculkan Diri Mereka? Pasti ada rencana tersembunyi. (Cakra)
.
"Eh...? Siapa anak ini? Aku kira semua anak-anak kecil yang ada di Daerah sini sudah terbantai semuanya dalam 5 tahun belakangan ini karena Orang-Orang dewasa disini mulai sinting memikirkan cara untuk terus bisa memenuhi Ego ataupun keinginan materiil Mereka sendiri, berarti Kau sungguh beruntung ya... hmph, beruntung matamu, Sekali lihat juga keliatan kalau Kau berjuang sangat keras untuk hidup. Aku bisa melihat juga Kau lumayan mahir bertarung sampai-sampai bisa melawan orang dewasa. Setidaknya Kau lebih kuat dari rata-rata Anak seusiamu. Lagipula anak-anak sepertimu bisa setinggi anak belasan tahun? Tubuhmu sudah berjuang keras sejak lahir, heh..." (****Cokorda****)
.
"Apa? Setinggi belasan tahun? Yang benar saja, lagipula Aku masih 8 tahun, Om-Om Sekalian~" celetuk Diriku sambil bercanda (Cakra)
.
"Woi bocah kamp**t, Kami berdua masih 26 tahun. Awas kalau memanggil Kami berdua Om lagi."
(Cokorda & Agungraka)
.
"Kalau begitu Kupanggil Kalian berdua Bang Cokorda dan Bang Raka, gimana~, heheh." (Cakra)
.
"Nah begitu lebih baik, omong-omong ingatanmu tajam juga bisa mengingat nama Kami sekali dengar." (Agungraka)
.
"Hehe~ Senang berkenalan dengan Orang yang lebih senior dariku. Ngomong-ngomong Aku mau pulang duluan ya, Bang." (Cakra)
.
"Kau tinggal dibangunan kumuh disana kan? Ikut Kami saja, ayo Kita tinggal bersama sekarang sebagai saudara satu kampung. Lagipula cepat atau lambat sumber daya didekatmu akan habis. Apalagi Kau pasti mengalami banyak ancaman sana-sini setiap hari kan?" (Cokorda)
.
"Apa tak masalah? Aku hanya anak-anak yang cuma bisanya main dan makan. Lagipula Aku... sepertinya hanya akan mengganggu keseharian Kalian..." (Cakra)
.
... (Cokorda & Agungraka)
.
"Kau… sepertinya pernah punya trauma ya. Biasanya anak-anak seusiamu hidup di daerah ini sangat putus asa sampai-sampai memohon pada yang lebih kuat untuk mengizinkan Dirinya berada disisi yang lebih kuat. Kebanyakan dari Mereka diizinkan bersama Mereka yang lebih kuat tapi berakhir mati karena dijadikan budak ataupun disiksa setiap waktunya. Kalau Kau? Sepertinya berbeda. Kami bisa menebak dulu Kau dikutuk dan dihujat oleh orang-orang breng*** dengan mengatakan Kau Anak Haram hanya karena Kau tidak punya orang tua. Makanya Kau takut dengan perkataan orang lain nantinya terhadap Dirimu." (Agungraka)
.
"Aku tak akan menyangkalnya. Tapi itu semua sudah Kulalui selama 4 tahun ini, saat Aku berumur 4 tahun itu adalah masa paling menderita Bagiku karena hujatan orang-orang yang memandangku sebagai anak jalanan. Makanya Aku mulai membangun Diriku dengan prinsip besar dan mentalitas teguh agar Diriku berkembang dan pemikiranku bisa lebih terbuka dan dewasa mengahadapi berbagai kondisi. Setidaknya itulah yang Aku gapai saat ini saja." (Cakra)
.
"Kurasa sudah cukup cerita seperti ini. Bagaimanapun Kami Tiga Bersaudara pernah hidup seperti Dirimu. Jadi Kami bisa merasakan kesengsaraanmu juga. Bagaimanapun penderitaan daerah ini maupun daerah-daerah lainnya semata-mata bukan karena Pejabat Korup saja. Tapi ancaman utama kita sekaligus Musuh Besar Global saat ini yaitu Gohma. Merekalah penyebab kehidupan bernegara dan berbangsa seluruh Dunia mengalami kehancuran dan hampir tidak bisa berdiri. Kami juga mengusahakan masa depan Kami agar bisa membantu Negara Indonesia ini. Makanya, Dirimu pasti akan menjadi Orang Besar yang bisa memimpin Dunia. Jadi ayo, Kita hidup sebagai Saudara sekarang, jangan sendirian lagi." (Agungraka)
.
Jujur Aku berkaca-kaca mendengarnya. Rasanya seperti keajaiban bisa punya orang lain yang dengan tulus menganggapku sebagai saudara... Mereka juga sangat terbuka mengajakku untuk hidup bersama. Perasaan yang Kurasakan saat ini juga emosi senang yang bercampur rasa syukur.
.
"Haha... ha... Baiklah. Terima kasih mau menerima Diriku. Jujur rasanya mau nangis karena ada orang yang dengan tulus Menerimaku..." (Cakra)
.
Aku mengatakan itu dengan ekspresi senyum bahagia pertama kali. Garuda pun sepertinya ikut senang karena Aku bisa merasakan perasaannya juga karena akhirnya Aku tidak sendirian lagi.
.
"Haha, begitu dong baru asyik~ Walaupun begitu Kau boleh menangis kok kalau benar-benar ingin." (Cokorda)
.
"Sayang sekali, Aku tidak bisa begitu. Karena... inilah prinsipku. Kalau Aku menangis Aku hanya menunjukkan kelemahanku nantinya."
"Ah iya Aku lupa. Namaku Cakra Airlangga. Aku lupa mengenalkan Diriku. Mulai sekarang Kita saudara kan, Abang-Abang~" (Cakra)
.
"Hahah, tentu Cakra. Ngomong-ngomong hari ini makan apa kita, Kor?" (Agungraka)
.
"Makan lemper lagi sana, sebiji aja tapi" (Cokorda)
.
"Sia*an" (Agungraka)
.
.
.
Kami bertiga berjalan keluar dari Daerah tempatku tinggal. Aku senang bisa mengucapkan selamat tinggal kepada Kampung Halamanku yang penuh kesengsaraan. Akhirnya Aku tidak sendirian lagi semenjak bertemu Garuda dan mulai bertemu Bang Cokorda dan Bang Agungraka.
Disetiap perjalanan juga Aku menyempatkan Diriku melatih sirkulasi Vajra dan mengingat terus semua teknik-teknik Martial Art yang Aku ciptakan sendiri. Sehingga Aku bisa hidup sendiri nantinya setelah menjadi Pendekar Kuat jika Bang Cokorda dan Bang Agungraka tidak bersamaku lagi.
.
Aku bisa mengatakan ini karena pengalamanku bertahan hidup waktu Aku berumur 3 tahun. Kematian bisa datang ke siapa saja dan kapan saja. Makanya Aku tidak boleh bergantung terus kepada Orang lain. Aku harus kuat agar bisa hidup seterusnya. Setidaknya begitu. Entah takdir apa lagi yang akan membawaku nantinya.
.
.
.
CHAPTER 1 END
.
FOLLOW AKUN SOSMED @bangjoule_uw UNTUK MEMUDAHKAN MEMBACA NOVEL "PENGEMBARA TAK TERTULIS"!!!
.
__ADS_1
JIKA ADA PENDAPAT YANG MAU DISAMPAIKAN, SILAKAN KOMEN DIBAWAH DAN FOLLOW AKUN INI UNTUK NOTIFIKASI CHAPTER SELANJUTNYA YA~