Prahara Sang Pengembara Tak Tertulis

Prahara Sang Pengembara Tak Tertulis
Chapter 5 : Langkah Awal Memandang Dunia


__ADS_3

Senda gurau dan canda tawa didesa berakhir dan mulai berjalan normal kembali dengan berbagai perbincangan dan transaksi pedagang. Juga dengan kedatangan 2 Orang yang baru ini membuatku semakin misterius dengan Bang Cokorda dan kawan-kawannya.


.


Bagaimana ceritanya Bang Cokorda bisa menjadi Panglima...? Dan juga, kenapa 2 orang misterius ini rasanya jauh melampaui kapabilitasa semua pendekar yang ada di Dunia? Mantra Asing yang tak diketahui... Tingkatan misterius Vajra yang belum pernah Kupelajari dan ketahui. Apa akan ada orang kuat lain yang diluar dugaanku nantinya? Yang terpenting adalah Diriku mempersiapkan segala aspekku dengan matang sedini mungkin.


.


Aku tak tahu harus menghadapi apa saja kedepannya dan belum lagi ancaman dari sesama manusia yang cenderung serakah materiil yang menciptakan konflik berkelanjutan yang tiada bedanya dengan Gohma itu sendiri.


.


Aku memikirkan semua itu sambil menghabiskan jus yang belum sempat kuminum tadi sembari duduk di dekat pintu kedai karena disitu ada TV yang bisa ditonton. Aku minum jus itu sambil menonton TV Jadul dari berita nasional. Sesungguhnya tak hanya Bali yang mengalami krisis Gohma, melainkan seluruh provinsi negeri ini juga setiap detiknya ada kekacauannya masing-masing entah dari segi pemberontakan dan tindakan semena-mena manusia yang cenderung memonopoli keuntungan ataupun teror Gohma yang semakin parah dari segi frekuensi waktu dan kuantitas Mereka.


.


Semua ancaman luar dalam itu menyebabkan stabilitas negara terganggu dengan merosotnya alur perekonomian dan hancurnya tempat bisnis. Jadi hampir tidak mungkin untuk merintis usaha dikota-kota kecil yang rawan akan teror. Aku kadang bertelepati dengan Garuda bicara hal-hal kecil seperti keseharianku atau juga hobi kesukaanku untuk mengisi waktu sosial Kami berdua saja. Setidaknya... pertanda kalau Kami sungguh hidup.


.


Aku juga meluangkan untuk membaca semua buku yang Kupinjam dari lemari buku dirumah yang berisi tentang manajemen bisnis dan tentang strategi. Buku-buku tersebut sangat tebal tapi Aku mau membaca semua isinya karena Aku juga senang ada bahan bacaan apalagi itu semua pengetahuan penting. Aku juga menyoret-nyoret kertas dengan gambaran skema berbagai strategi yang Kupikirkan


.


Gambaran tentang ada informasi apa saja yang ada diberita lokal, rumor publik, ataupun desas-desus kejadian, Aku gambarkan skema sederhana para pejabat korup yang nantinya akan Kueksekusi. Walaupun Kupikir asal dan tidak serius Aku tetap memikirkan semua variabel itu dengan hati-hati.


.


"Tumben Kau datang kesini setelah 6 bulan tak mengunjungi Kami😏?"


(Xerxes)


.


"Aku sudah muak melihat baji**** itu tak mengurus daerahnya dengan benar dan bahkan menyabotase daerah sendiri untuk meminta pertolongan kepada Pemerintah Pusat. Mana parahnya lagi, cuma Bali yang sangat buruk otoritas daerahnya yang seperti terlantar tanpa solusi."


(Mahawardana)


.


"Kita juga tak bisa diam dan memantau situasi Dunia terus dengan mengandalkan kalian. Padahal ini sudah tugas luhur Kami untuk bertanggung jawab atas negeri ini, tapi ternyata semua tidak berjalan dengan baik."


(Aza Shaktani)


.


"Aku tahu. Kurasa Aku harus mulai membujuk "WUC" untuk segera berkoordinasi dengan negeri Kita melalui Jepang untuk secara merata mengatasi semua konflik Gohma."


(Cokorda)


.


"Ck... Hah~ sumpah. Akan Kubunuh si babi korup itu dulu saja supaya tak menghalangi pergerakan Kita."


(Mahawardana)


.


"Iya, Setidaknya singkirkan Dia dulu baru Kita bergerak ke luar negeri. Rasanya babi itu juga selalu ada untuk menciptakan masalah terus."


(Agungraka)


.


"Kalian tak perlu memikirkan pejabat itu karena pada akhirnya Dia akan mati beneran ditanganku. Aku punya dendam sedikit padanya jadi biarkan Aku yang melakukannya nanti."


Aku menutup buku-buku tebal yang Kubaca sembari pandanganku tetap kearah kertas yang Kucoret-coret dengan skema asalku.


.


"Ho~ Lihat anak ini. Apa Kau pikir Kau sudah punya kapabilitas yang konsisten mentang-mentang jadi pahlawan sebentar? Mereka itu tidak mudah dijatuhkan jadi jangan bicara sembarangan dan biarkan Aku saja sebagai Agen Rahasia yang melakukan-"


.


"TIDAK. Aku yang akan lakukan sampai Mereka kubuat luluh lantak dengan skemaku sendiri. Kau hanya cukup mencari kandidat pengganti Bupati Kuta, Bang Wardana." (Cakra)


Dengan tegas Aku bicara dengan pembawaan menantang sembari berhenti menyoret-nyoret kertas dan menatap datar namun tegas ke saudara-saudaraku.


.


"Cakra...!" (Shiori)


.


"Apa Kau tak merasa terancam? atau bahkan takut sedikitpun? Cakra... Bagaimanapun Kami mengakui kemampuanmu tapi terlalu dini untukmu melakukan ini sendiri.(●ˇ∀ˇ●)" (Aza Shaktani)


.


"Aku tak punya alasan untuk takut dengan Dunia. Bagaimanapun kalian tak tahu latar belakangku sebelumnya. Karena sekarang Aku sudah mendapatkan banyak kekuatan yang Kukembangkan sendiri, jadi percaya Padaku." (Cakra)


.


"Hm~ Hm~ Bagus. Aku pikir nyalimu itu masih ciut karena masih kecil. Ternyata Kau sudah berani menantang Dunia dengan kemampuanmu yang sekarang. Aku salut, namun ingat para Pejabat Korup itu juga punya banyak kekayaan materiil untuk melindungi Mereka jadi sepertinya makan waktu. Sejujurnya sih... Aku tak akan memakai strategi jadi Kuhabisi saja secara frontal." (Mahawardana)


.


"Begitu. Terima kasih, Bang Wardana. Setidaknya serahkan tugas ini padaku sekalian untuk Diriku mengembangkan intelektual dalam segi strategi perangku sendiri." (Cakra)


.


"Kehahahah, itulah Adik Bungsu kita yang sinting ini~" (Agungraka dan Xerxes)


.


"Percaya padaku, oke~? Aku pasti akan jatuhkan Mereka secepatnya." (Cakra)


.


Aku pulang kerumah karena jujur AKU INGIN MELAKAKUKAN SKEMA INI SEKARANG JUGA! Namun Aku sepertinya akan kepusat kota untuk berkeliling sambil jalan-jalan menghibur Diri untuk mengumpulkan informasi.


.


Aku menggunakan setelan baju jaket rompi "Fortklass" bewarna Cream dengan kaos hitam ornamen seni burung dan celana shirwal coklat muda yang sempat dibelikan Kak Shiori untukku.


.


Kurasa Aku juga akan berkeliling kota kecamatan untuk ke perpustakaan daerah karena buku disana lebih banyak dan pastinya Aku bisa menguasai segala intelektual didalamnya jika rajin Kubaca terus.


.


Tapi kesampingkan itu dulu. Sekarang Aku akan melihat proyek-proyek pemerintah dulu. Berhubung Pejabat-pejabat ini bereputasi buruk, setidaknya coba Kita perhatikan dulu semuanya.


.


Sepanjang hari sampai tiba pukul 3 sore, Aku sudah memantau semua proyek seperti Taman alun-alun , tanah milik orang lain yang disengketa, motor-motor mahal di kantor Pemda dan kelurahan-kelurahan yang terlihat mencurigakan.


.


Tidak hanya itu, ada juga preman-preman yang sepertinya mengintimidasi sebuah komplek perumahan entah untuk apa, Kantor Dinas Pendidikan dengan banyak terparkir mobil-mobil mewah yang mahalnya tak masuk akal, serta orang-orang tua disekolah-sekolah negeri yang ribut bahkan ada yang sampai protes entah Aku juga tidak tahu, beberapa lokasi proyek pembangunan yang juga tersendat sudah dari lama sampai rangka bangunannya sudah berlumut.


.


Aku lihat juga banyak sekali jalan raya kecamatan yang retak hancur atau malah bisa diangkat sedikit olehku seperti mengangkat karpet. Banyak dana sosial yang dijanjikan olehnya tidak didapatkan oleh beberapa warga kelurahan.


.


Banyak sekali kasus. Kupikir malah kehidupanku yang dulu tak terlalu buruk karena pada dasarnya Aku menderita karena dulu Aku masih lemah. Daripada Aku hidup susah karena tindakan sewenang-wenang orang lain, Aku lebih memilih menderita karena Diriku sendiri.


.


"AAAAAARGGH~ SUMPAH AKU MERASA KESAL SELAMA MELIHAT KOTA INI DARITADI! Padahal dulu... Orang-orang terdahulu kita sangatlah luhur dan menjunjung tinggi keadilan moral tiap individu... Tapi waktu sudah berlalu banyak sepertinya."


╰(艹皿艹 ) (Garuda)


.


"Informasiku masih jauh dari kata cukup. Jadi ayo kita jajan ke cafe-cafe sekarang untuk bergabung dengan pembicaraan orang lain. Atau... sekalian menyusup ke kantor pemda juga boleh kali ya, hihi." (Cakra)


.


"Kau sinting juga ya. Tapi tidak masalah karena pertama kali Kita bertemu, Kau itu sudah gila secara nalar dan tindakan~ Jadi Aku jelas sejalan dengan pikiranmu."


(Garuda)


.


Sebelumnya Kak Shiori memberiku uang jajan yang lumayan besar sekitar 700.000 ribu. Kalau bisa Kupakai 200.000 saja untuk makan dan berkeliling secara hemat.


.


"Kau sudah dengar tentang isu alun-alun taman? Katanya disana tak ada air sama sekali padahal ada 5 air mancur disana. Terusan keran yang dihias berbagai seni ornamen dan bentuk dari patung ikan juga tak berfungsi sama sekali."


.


"Bukan cuma itu. Padahal di video promosi pemerintah ada lampu kembang berjajaran di setiap sisi dalamnya kan? Sekarang malah ga kelihatan sama sekali."


.


"Ngomong-ngomong rumahku juga didatangi preman disana. Mereka menyuruhku segera pindah rumah dengan paksa padahal Aku dan keluargaku sudah tinggal disana selama 30 tahun lebih...!"


.


"Mereka preman suruhan kontraktor proyek bangunan pemerintah ya... Padahal bangunan itu gada gunanya cuma dipakai untuk clubbing secara buka-bukaan saja, sungugh keterlaluan."


.


"Anakku bahkan dicurangi tidak bisa bersekolah didekat rumah yang bahkan cuma 200 meter dari rumahku! Pihak sekolah negeri mengatakan bahwa semua kuota sudah terpenuhi padahal banyak sekali Kucari tahu rumah anak-anak lain yang ada di PPDB itu rata-rata 4 kilometer dari rumah! Sungguh kecurangan uang."


.


"Mereka menggunakan domisili palsu dan bahkan ada anak pejabat yang memakai status anak tidak mampus supaya ga keluar uang. Dan Mereka terima uang-uang suap itu agar menutup mata, sungguh baji****"


(Para Random di Cafe)


.


Aku sengaja memilih duduk bersebelahan dengan Mereka agar Aku juga bisa ikut nimbrung untuk menceritakan masalahku juga. Semoga orang-orang tua ini ingin mendengarku juga.


.


"Kalau Aku, daerahku tidak dikirimkan bantuan keamanan saat ada teror Gohma bahkan semua jalur komunikasi Desaku disabotase sepihak oleh pemerintah." (Cakra)


.


"Eh...? Anak kecil? Kau bilang desamu disabotase? Jangan-jangan Kau dari pesisir ya... Pasti sangat mengerikan situasi waktu itu."


.


"Kalian mungkin Warga Pesisir Desa, dan kelihatan sangat katro, tapi Kami percaya semua hal mistis seperti Gohma dan pendekar itu nyata."


.


"Iya! Kota kecamatan ini saja sampai mendengar suara-suara mengerikan dan sangat keras dari pesisir. Lalu ada pemberitahuan penyerangan Gohma. Kami hanya berlindung dikantor kami seadanya saja."


.


"Tiba-tiba Kami melihat ada 2 senjata mengerikan dengan aura sangat terang mungkin...? Menerjang dengan tingginya dan menghancurkan semua jalur yang menghalangi...! Sungguh tak masuk akal setelah melihat langsung."


.


Ugh... Mereka sudah melihat sejauh itu rupanya. Tapi memang benar, bagi Orang normal sangat tidak masuk akal melihat kekuatan mistis didepan mata. Akal Mereka kadang kabur-kaburan atau bahkan ada yang gila sendiri karena ketakutan melihat hal mistis.


.


"Iya, setidaknya Kami dievakuasi oleh Tentara Bayaran "Gunkaito". Jadi Gohma tidak sampai masuk ke kota kecamatan. Kami dievakuasi dengan kapal barang kemudian menjauh ke Lepas Pantai sejauh 50 km dari tempat penyerangan." (Cakra)


.


"...?"


"Kau bilang "Gunkaito"?!! Ternyata Mereka yang berjasa melawan amukan Gohma. Masuk akal kalau Mereka turun tangan sampai Gohma tidak masuk ke Kota Kecamatan."


.


"Mereka adalah perusahaan besar luar negeri dengan menjalankan berbagai bidang. Tetapi tentara bayaran adalah yang lebih dominan untuk reputasi Mereka. Mereka juga sangat ramah dan baik bahkan tak menarik keuntungan jika memang warga yang diselamatkan tak punya dana untuk mereka."


.


"Industri persenjataan Mereka juga dikenal Dunia. Banyak saham-saham yang ada di bursa selalu habis dibeli oleh orang-orang konglomerat Dunia bahkan ada juga dari pejabat pemerintahan."


.


"Skala Mereka sudah mendunia jadi Kurasa Mereka tak akan bisa jatuh untuk waktu yang lama. Yang membuat Mereka kuat juga bukan karena saham IPO saja melainkan sponsor langsung pemerintahan Jepang."


(Para Random)


.


"Mereka juga punya banyak Mitra besar maupun kecil. Semua Mitra itu ada dalam satu jaringan Grup Raksasa sehingga hampir seperti Kartel Pasifik. Apalagi Mitra-Mitra besar ini adalah Pemegang saham paling dominan di Jepang."


"Tapi diwaktu bersamaan Mitra besar ini juga bisa menjadi ancaman juga bagi Gunkaito apabila ada pelanggaran Kemanusiaan dalam ranah internasional."


"Sponsor langsung Eksekutif Pemerintah, Mitra yang banyak dengan berbagai skala, dan juga Investor dari luar dalam negeri yang memiliki saham. Apalagi basis-basis kekuatan besar khusus di Ibukota berbagai negara. Semuanya adalah kekuatan Gunakaito."


(Cakra)


.


"Apa kau sungguh anak kecil...? Pemikiranmu yang setinggi ini bahkan orang dewasapun tak bisa sampai jika memang bukan ranah pengetahuannya, hahah! Sungguh kau anak hebat."


.


"Kau punya informasi kompleks yang bahkan tidak kami ketahui...! Semoga saja kau tidak membuat bualan dengan mulutmu itu, heheh~"


(Para Random)


.


"Fufu, begitukah pikir Kalian...? Bagaimanapun Aku hanya mengekspos sebagian kecil rahasia Mereka dalam lingkup politik dan ekonominya. Jadi semua itu masih belum kekuatan sejati Mereka." (Cakra)


.


"...?!"


"Apa?! sebagian kecil...? Sebenarnya apa yang-"


.


"Sudah maghrib, Aku sudah harus pulang sekarang. Tapi yah... Sebelum pulang tentu Aku akan menyiapkan panggung dulu. Kurasa kalian bakal lihat berita baru"


(Cakra)


Aku menyeringai sembari membalikkan kepala dengan tersenyum licik dan berjalan pulang. Pemilik Cafe dan orang-orang tua disana masih syok dengan perkataanku.


.


"Kurasa Kita harus merusuhi preman-preman proyek bangunan itu dulu. Aku punya firasat ada sedikit celah terlihat nantinya saat para polisi turun tangan." (Cakra)


.


"Iya. Tapi para warga juga akan terkena dampaknya kan. Mereka bisa-bisa jadi tersangka kejahatan. Kau tahu sendiri Hukum sekarang sangat berbalik dengan keadilan terdahulu." (Garuda)


.


"Ga perlu seperti itu~ Aku sudah punya rencanaku sendiri. Jadi Kau tinggal menontonku saja." (Cakra)


.


Aku menyadari sesuatu saat melihat preman-preman dikomplek perumahan tadi siang. Mereka pemabuk miras dan pengguna "Opium" aktif. Aku bisa tahu karena Aku sedikit mencium baunya.


.


Dulu saat Aku kecil banyak sekali bau semacam ini jadi Aku sudah khatam bau semua obat-obatan ilegal. Aroma bunga manis dengan rempah-rempah yang pekat membuat baunya sangat intens apalagi yang Aku lihat sekilas dari jauh adalah berbentuk coklat batangan. Ada semacam koper berat juga yang selalu mereka bawa-bawa. Jadi kalau mereka mengonsumsi, ada peluang kecil kalau Mereka juga Supplier Narkotika.


.


Biasanya dibisnis narkotika juga mencantumkan dokumen-dokumen personal yang memuat data Client, Jadi Mereka pasti punya markas dan kalau Dugaanku benar, akan Kugasak semua dokumen itu dan Kusimpan sementara waktu.


.


Ayo, kembali ke perumahan itu lagi dan pura-pura lewat.


.


Saat malamnya tiba benar saja Mereka lebih banyak dari tadi siang. Sekarang ada 20 orang padahal tadi siang hanya ada 7 orang. Kemungkinan Mereka memulai bisnis malam ini.


.


"Hey! Bocil, Kau pikir boleh lewat jalan ini saat ada Kami?! KALAU MAU LEWAT ADA UANG KEAMANAN DULU~"


"Duh, duh, sial ya bocah ini uang jajannya padahal banyak. Pasti dimarahi orang tua nya kalau pulang~~"


*hahahahahah


*kekkekekekek


*kaahahahah~


.


Mereka tertawa puas setelah dengan ringannya Kukeluarkan semua uang jajanku. Dari situlah Kumulai "Gas Lighting"-ku yang sebenarnya.


.


"Hmm... Opium ya? Baunya manis dengan rempah-rempah kuat. Boleh bagi ga, Bang?😋" (Cakra)


.


"?!"


"!!!"


"Woy, bocil tau apa soal obat hah? sok tahu sinting pula~ wah wah mesti dihajar nih."


.


"Kurasa riwayat Kalian berakhir malam ini setelah kita bertemu~" (Cakra)


Aku menarik jaket rompiku sdan maju dengan santai. Yah... Mereka rata-rata pakai golok sih. Tapi apa artinya senjata solid dihadapan Kekuatan Magis~?


.


"BICARA OMONG KOSONG LAGI KAU MATI BRENGS*K!!!" (Random Preman)


.


Dia mau menonjokku. Asal-asalan begitu jelas mudah diserang balik. Aku hanya meninju ulu hatinya saja lalu menarik tangan kirinya dan meninju rusuk kirinya dengan "Samadhi" dulu karena Vajra ini tak terlihat mata namun sebagai gantinya "impact"-nya jelas dibawah "Amoghas". Jadi Aku harus main aman sehalus mungkin.


*SRARAK🦵

__ADS_1


*DUAGH KRAK!!!🤛


.


"AAAAAAAAAAKHH~ UHUK...!"


*BRUGH


.


"EH...? EH?!"


"A-APA?! YANG BENAR---"


.


"Hey~ Kalau ga mau mati tersiksa keroyok saja Diriku~ gampang kan~~."


Gesturku yang tersenyum merendahkan sambil melepas jaket rompiku biar ga compang camping karena lawanku ini bukan geng preman biasa karena Mereka punya golok terang-terangan.


.


"KA-KAU SEDANG BERURUSAN DENGAN PREMAN PROFESIONAL, BOCAH BRENGS*K!"


"KE-KEROYOK DIA...!!!"


.


Hah... sialan. Kupikir seengganya Mereka punya harga diri ternyata sampah semua yang mainnya keroyokan.


.


12 Orang. Yah... Ayo "Hit-and-Run" seperti biasa. Aku mungkin masih pendek karena cuma 162 cm, tapi orang-orang tinggi ini cuma modal otot dan tinggi saja padahal gada apa-apanya.


.


*SRAKK KREKK


*DUAKKK


Satu kena jegal dan tinju dileher, Dua kena "Spin Kick" di pembuluh leher.


.


*DRAP DRAP ZRASSSSSS~


*DUAGH KREK KRAAKK BUAG DUAK DUAGH SRETT KRAK!!! BUK BAK BRAKK KRAKK BRUK DUAGGGHHH~!


Aku mulai menerjang 12 orang sekaligus dengan kombinasi kompleks seni beladiriku yang melumpuhkan tubuh, mematahkan tangan dan kaki, dan perputaran tubuh untuk mobilitas yang tak bisa dihentikan oleh golok yang mengarah padaku.


.


Terakhir Aku menendang leher preman ke-12, mematahkan tulang hasta ditangan kirinya, dan meninju dagunya dengan sedikit tekanan "Amoghas". Aku yakin Mereka tak sampai mati kalau cuma segitu kan...? Lagian itu gerakan berulang yang sering Kuterapkan dari kecil. Jadi Aku hanya sekedar berayun-ayun dan melesat dengan tubuh yang bisa berputar arah kemana saja dengan fleksibel. Ini rasanya bahkan cuma seperti pemanasan ringan


.


"Yang benar saja... gi-gimana bisa anak itu sekuat ini...?"


"Kalau begini kan kita juga mampus..."


"A-AAAKH..."


"Ketua...! Kita harus lari!"


"Ke-keuk...! TIDAK!!! HAJAR DIA SAMPAI MAMPUS KITA PASTI BISA!!!" (Ketua)


.


Dia orang yang tadi siang memakan coklat batangan yang sebenarnya Opium tadi siang. Bisa Kulihat Dia sudah gila dan bahkan fokuspun tak bisa.


.


Sisanya mulai menerjang dengan putus asa dan takut. Aku mulai malapetakaku yang sebenarnya dengan menggunakan sedikit aliran "ANGKARA" HEHEHEH~


.


"Tadinya kalau kalian membiarkan lewat Aku juga ga bakal ribut begini kan~?" (Cakra)


Tubuhku terselubungi angin konsentrasi ringan namun dampaknya seperti angin ribut yang tekanannya deras membuat semua yang ada di area ini berterbangan tak karuan.


.


"A-A-APA LAGI ITU!!! UAAAAAAKHHHH..."


.


Mereka terhempas hanya karena Aku mengayun tanganku dengan ringan. Tapi sebenarnya Aku membuat arus angin membentuk arah dinamis yang kuat untuk menerjang Mereka. Karena tidak bisa menghindar, 7 dari Mereka terhempas dan terkoyak-koyak dengan banyak sayatan ditubuh Mereka saking kuatnya konsentrasi arus anginku.


.


*CRATT


*CRUAT


*CEPYAR CEPYOR SERR


Tubuh Mereka berjatuhana dengan bersimbah darah dengan kondisi yang mengerikan dan sulit untuk tidak takut dengan organ dalam yang ikut tersayat juga.


.


Aku memang berniat membunuh 20 orang ini dengan tujuan tertentu. Demi mendapatkan koper yang dipegang ketuanya. Mereka jelas tak akan buka mulut saat Kuinterogasi. Jadi mending dibunuh sekalian.


.


Aku berjalan santai sambil berekspresi datar melihat mayat-mayat Mereka dengan sangat rendah dan mendekati Ketuanya yang sudah ketakutan setengah mati.


.


"TO-TOLONG AKU...! BIARKAN AKU HI---" (Ketua Preman)


.


*WUNG KRARARAK CRATTT


Aku mengangkat tangan kiriku yang terselubung Angin dan "Amoghas" tingkat menengah melalui telapak tanganku, menyebabkan arus angin merah bervolume ringan namun tidak sedestruktif saat melawan Imitasi Bang Xerxes. Jadi Kuturunkan sekitar 5 level dibawah "Impact" sebenarnya.


.


Aku menekannya dibagian dada kirinya dan alhasil tubuhnya terhempas jauh dan kuat sampai dada kirinya hancur lebur dengan jantungnya, Sehingga tubuhnya terkoyak dan hancur tak wajar.


.


"HUH~ MAMPUS SANA KALIAN BRENGS*K." (Garuda)


.


"Sudahlah, Sekarang coba Kita buka koper i--ni..." (Cakra)


"...!"


Kami berdua sedikit terkejut akan isinya. Kami saling memandang dan pikiran Kami sinkron. Jadi Aku memutuskan untuk membawanya pulang untuk memikirkan rencana lagi untuk masuk tahap serius.


.


"Aku lupa jika Kalian masih hidup ternyata. Kurasa terjanganku tadi tak cukup membunuh Kalian."


.


"U-U-UKH..."


"ARGH---"


"HA-HA-HA-HIIIH"


Mereka ketakutan melihatku yang berlumuran cipratan darah dengan wajah datar tersenyum.


.


"Kalian bakal jadi masalah untukku nanti. Jadi matilah sana." (Cakra)


Aku berjalan pulang sambil merentangkan jari tanganku keatas untuk menciptakan selubung angin yang besar mengurung Mereka didalam dengan bilah-bilah angin dinamis yang melambung dan saling memantul satu sama lain seperti roda gigi dengan volume ringan. Cukup untuk memotong-motong tubuh Mereka dan ******* tubuh Mereka sampai tak berbentuk.


.


"Asurāṇāṁ Pāpasthānam"


(Ruang Dosa Para Iblis)


.


Begitulah akhir riwayat Mereka yang benar-benar Aku berikan Pada Mereka sekaligus membuat Nama Teknik Baru tadi. Garuda sudah membersihkan bekas-bekas jejakku dengan membentang-bentangkan sayapnya sesekali dengan halus dan ringan. Jadi sudah tidak mungkin untuk pihak keamanan menangkapku.


.


Aku mengambil jaket rompiku dan pulang dengan Koper Misterius ini. Untung daerah komplek itu sepi karena ada Mereka jadi tidak ada orang yang lewat sini saat malam.


.


Sekarang masalahnya gimana caraku menjelaskan baju dan celana yang kotor terkena cipratan darah ini...? Duh sepertinya Aku harus tidur dipohon dulu untuk sementara waktu. Toh, Aku sudah bilang kalau Aku serius. Tak ada alasan untuk Mereka mengkhawatirkanku.


.


Aku menemukan spot hutan yang lumayan rimbun ditengah persawahan dekat perumahan. Aku masuk kesana dan untungnya ada aliran sungai yang mengalir juga. Jadi Aku bisa mandi membersihkan cipratan darah disekujur tubuhku.


.


Garuda muncul dengan wujud solidnya saat benar-benar sepi dan bicara denganku sembari melihat deburan bintang yang ironisnya terlihat indah


.


(Cakra)


.


"Deburan bintang yang indah menyejukkan pandangan ini memang menginterpretasikan suatu ekosistem yang hidup. Sama seperti Kita. Mereka melihat Dunia Kita bersinar dari mata Mereka."


(Garuda)


.


"Apa itu bisa terjadi? Lantas apakah Mereka juga sama seperti Kita? Aku yakin dimasing-masing Dunia lain pasti banyak orang kuat yang tak terhitung jumlahnya."


(Cakra)


.


"Maka dari itulah dimasa sekarang adalah masa yang tepat untuk mengembangkan jati dirimu. Jadi Kau bisa melampaui orang-orang kuat dari dunia lain juga."


"Terutama... "Mereka". Yang masih bersembunyi dan tertidur dilangit. Juga... manifestasi malapetaka terbesar di Dunia."


(Garuda)


.


Aku memandang lagi ke langit. Sekilas melihat lagi "Tamastārā" yang memberikan nuansa menusuk dan mencekam. Seolah Aku melihat deburan bintang yang tadi bewarna sekarang telah memudar karena polusi kegelapan yang diciptakan Eksistensi Misterius itu.


.


Sejujurnya, apa Dunia tahu soal benda langit itu?


.


"Ngomong-ngomong pulang saja tak masalah. Aku punya satu teknik mantra air sederhana yang bisa membersihkan noda sehalus mungkin." (Garuda)


.


"EH...? BOLEH DEH! DARIPADA BESOK KENA MARAH MALES JUGA DENGERNYA..." (Cakra)


.


Garuda membentangkan sayap kirinya untuk menciptakan aliran "Air" yang membentuk gelombang sederhana yang bersahabat. Gelombang itu menyelubungi kaosku dan berputar-putar segala arah


.


*WUNG WUNG ZRUSSS SRRAAAA🌀💧


.


Yap. Bajuku mengkilap malah sangat bersih. Aku takjub dengan kekuatan air itu. Tapi kalau dipikir benar juga. Komposisi Elemen "Badai" adalah angin dan air. Kalau petir mungkin tidak tetapi bagaimana dengan petirnya ini kalau begitu...?


.


"Woahh, sangat mengkilap bahkan langsung kering. Kau benar-benar punya trik ringan yang bisa menyelesaikan pekerjaan rumah juga rupanya, kehehehah~" (Cakra)


.


"Hmph, seolah tak ada harga dirinya saja kekuatanku ya, heh~" (Garuda)


.


"Tapi serius, Aku baru sadar kalau Aku juga bisa menggunakan Mantra "Air" jika mau. Komposisi dari Elemen "Badai" kan angin dan air, untuk elemen petirnya Aku sudah kepikiran alternatif lain sebagai "Bumbu Tambahan" ini nanti, HUEHEHEHEH~!" (Cakra)


.


"Aih... Jeli sekali Kau, sialan. Iya Aku masih menyembunyikan sebagian pengetahuanku di Dunia Kekuatan Mistis ini, tapi sepertinya dengan performamu yang melampaui ekspektasiku dengan sangat jauh, Kupikir sudah waktunya memberimu Ilmu "Tambahan" yang sangat langka bahkan sangat sulit menemukan dokumentasi ini dimanapun namun Aku masih memilikinya." (Garuda)


.


"Nah kan~ Ketahuan juga sekarang🤣, hahahah~ Aku tahu karena cukup aneh Vajra bisa setara dengan Mantra cuma lewat "Samadhi", "Amoghas", dan juga "Dhyana". Walaupun Aku sudah mulai bisa merasakan munculnya Vajra "Dhyana"-ku saat melawan imitasi sih."


"Aku juga pikir ekspansi seperti Tiga Dasaran Vajra itu jelas tidak cukup untuk menyeimbangi kekuatan Mantra yang berbasis elemen alam yang cakupan kekuatannya sangat luas dari segi aspek serang dan penggunaannya."


"Jadi jelas masih ada tingkatan Vajra yang jauh lebih tinggi yang hampir mustahil digapai kapabilitas Manusia."


"Aku tersadar semenjak ada istilah "Indra Transcendental" pada Mantra, artinya indra itu seharusnya juga bisa digunakan pada ekspansi Vajra. Atau harus Kubilang... "Vajra Transcendental" yang berada dalam kategori "Legendaris"?😏"


(Cakra)


.


"E-E-Ehhh... Ahhh~ Haish... bisa gila Aku ternyata Kau berpikir sangat jauh yang Kupikir sudah Kusembunyikan dengan sempurna, keheheh~ Baiklah kapan waktu Aku akan memulai Ilmu Tambahan itu nantinya, Okey~?"


(Garuda)


Bisa dilihat Garuda kalang kabut karena tak bisa bohong lagi didepanku~


.


"AHAY~ AKHIRNYA ADA PERUBAHAN PELAJARAN, TERIMA KASIH SEPERTI BIASA, GARUDA~~."


(Cakra)


.


Akhirnya Aku bisa pulang dengan selamat saat itu membawa koper berat tadi. Waktu masih menunjukkan pukul 10 malam, Desa masih ramai saat itu.


.


Aku coba mengecek rumah ternyata kosong. Jadi Aku bisa selundupkan dulu koper ini dibalik celah sisi teras yang bolong lumayan besar dan pas ukurannya dengan koper ini. Jadi tidak mungkin Mereka tidak menyadarinya.


.


Aku pergi ke Kedai Buleleng untuk bertemu Mereka seolah pulang kepada Mereka.


.


"Aku yakin anak itu main ke Kota Kecamatan cuma buat jalan-jalan saja, mengingat anak seusianya pasti punya kecenderungan bermain juga."


(Mahawardana)


.


"Kau masih tak percaya saja yah~ Aku sudah bilang, anak itu sangat berbeda dari anak-anak seusia nya, hey! Dia itu sangat jenius sekaligus "Frontiner" handal seperti Kami tahu."


(Agungraka)


.


"Shiori~ Bisakah Kau buat Aku dekat dengan Cakra? Aku juga ingin akrab dengannya agar Dia menganggapku sebagai Ibu, eheheh~"


"Rasanya Aku bisa lihat kalau Dia masih memerlukan banyak kebaikan dan pelajaran moral. Jujur saat pertama kali melihatnya saat pagi, Anak sepertinya yang harusnya bermain layangan, lari-larian, atau main bola malah harus berurusan dengan kekerasan Dunia."


"Dia juga tidak gentar dihadapan orang-orang jahat yang bahkan memegang pisau. Apalagi setelah Mahawardana menembakkan pistolnya, anak itu bahkan tak gentar sama sekali."


"Ia menghadapi semua momen berujung kematian itu dengan ekspresi datar bahkan kosong walaupun Dia tersenyum. Jujur... Aku jadi prihatin melihatnya setelah melihat masa lalunya saat sendirian."


(Aza Shaktani)


.


"Harus. Dia perlu menerima banyak pelajaran lagi soal fundamental hidup. Psikologisnya mulai sembuh setelah Dia bertemu denganku. Dahulu kehidupannya sangat sengsara dan menderita tanpa ada orang yang bisa disebut keluarga."


"Jujur sebuah keajaiban melihat Dia bisa memiliki kepribadian baik dan masih mengingat rasa kemanusiaannya. Apalagi Dia hidup dilingkungan anarkis dengan krisis tiada henti."


"Makanya... Kau harus membimbingnya agar memiliki rasa kekeluargaan dan juga moral yang bijaksana. Jangan lupa untuk memberinya kasih sayang seorang Ibu dan Ayah agar Dia tidak salah arah. Agar Dia bisa hidup dengan keputusannya sendiri... dan---"


(Shiori)


.


"Kalian menafsirkan semua itu terlalu dramatis."


Aku melihat kedai sudah sepi namun Mereka masih berbicara tentang Diriku yang kekurangan perasaan hati.


.


"Ah...! Kau sudah pulang, Cakra q(≧▽≦q)"


(Aza Shaktani)


.


"Eheh(✿◠‿◠)..." (Shiori)


.


"Ohhh~ Cakra. Dari pagi kemana saja hah~ Sepertinya Kau senang-senang sendiri ya, brengs*k, hahahah~" (Agungraka)


.


"Sepertinya Kau mulai cari pacar ya dengan set baju yang lumayan mahal itu~ AHAHAHAHAHAH~" (Mahawardana, Xerxes, & Cokorda)


.


Aku hanya nyengir dengan santai. Dalam hatiku Aku merasa sangat bersyukur karena kakak dan saudara tak sedarahku sangat mempedulikan hidupku. Aku kira... Aku akan seterusnya sendiri. Jadi Aku berjanji menjaga Mereka juga dimasa depan saat Aku sudah memenuhi cita-cita besarku saat menjadi yang tertinggi di Dunia.


.


"Apapun yang terjadi padaku itu tidak perlu dipikirkan terus. Semua tragedi dan trauma masa lalu sudah Kutebus dan Kumaafkan sendiri."

__ADS_1


"Jadi... Aku sudah menyembuhkan pikiran dan batinku sendiri melalui pengalaman hidupku yang Kujalani sekarang. Jadi Aku mohon... Kalian sebagai kakak dan saudaraku tak perlu mengkhawatirkanku terus."


"Aku ini laki-laki, jadi sudah instingku untuk beradaptasi dan mencari sendiri jawaban atas seluruh aspek hidupku(●ˇ∀ˇ●)"


(Cakra)


.


Haish... Anak ini sungguh dewasa. Sangat tegar dan hebat yah... o( ̄▽ ̄*)o


(Cokorda, Xerxes, Agungraka, & Mahawardana dalam hati)


.


Kak Shaktani berdiri dan menitipkan bayinya ke Bang Wardana kemudian berjalan kepadaku dengan senyum tulus penuh kasih. Aku bisa merasakan kasih sayang Ibu darinya.


.


Dia merendah kemudian memelukku dengan erat sambil mengelus kepalaku layaknya seorang Ibu ke Anak laki-lakinya. Aku mulai tersenyum sayu dan memeluk balik sembari menangis deras tanpa alasan. Mungkin karena akhirnya Aku mendapatkan arti hidup sejatiku yang sebenarnya bahagia juga...?


.


"Aku paham. Bagaimanapun semua yang Kau katakan patut Kau banggakan untuk Dirimu sendiri... Kau mengatasi semua yang terjadi padamu dengan mental dan pikiran yang teguh serta hati yang tabah. Padahal Kau bisa saja gila dan anarkis."


"Seluruh kejadian mau baik ataupun buruk sudah menjadikan Dirimu sendiri yang sekarang. Tetapi hatimu masih kekurangan rasa sayang dan cinta kasih sesama manusia."


"Jadi Kau punya kecenderungan untuk berbuat bringas dan ganas. Itulah yang Kami sebagai Kakak Perempuanmu khawatirkan. Semua Saudara laki-lakimu yang lain juga tidak akan bisa menerima kenyataan jika Kau salah arah. Bagi Kami, Kau adalah adik bungsu kesayangan kami."


(Aza Shaktani)


.


*sob...


"..." (Cakra)


*Inhale


Aku tak bisa bicara dan hanya menangis sambil tersenyum cerah dan menutup mata. Ini memalukan namun... Rasanya sangat lega.


.


"Cakra, sejujurnya Kami punya rencana yang lebih baik untukmu kedepannya. Kita sudah berdiskusi sepanjang hari dan memutuskan bahwa Kau sekarang akan tinggal bersama Shaktani dan Mahawardana~ Hehehe~" (Agungraka, Xerxes, Shiori)


.


"Eh...?! Ada apa ini tiba-tiba-" (Cakra)


.


"Dengar Cakra, kalau tinggal disini terus Kau tidak akan ada perkembangan signifikan. Aku tahu Kau berbakat dan jenius, makanya mulai sekarang tinggallah dengan Mereka berdua agar Kau bisa mempelajari banyak ilmu yang lebih mudah didapatkan daripada di kota kecamatan Kuta ini."


"Aku tahu Kau baru tinggal dengan kami selama seminggu, tetapi Kami tidak masalah dengan ini. Pada dasarnya Kau harus menempuh jenjang hidup yang berbeda dengan kami agar bisa menjadi Pendekar Puncak Dunia kan? Agar menjadi yang tertinggi dari yang lain...? Makanya Kau harus melihat Dunia yang lebih luas daripada di Dunia yang sempit seperti Desa Pesisir ini."


(Cokorda)


.


"Ah... Terima kasih, tetapi apakah Bang Wardana tak masalah...? Dia orangnya pemarah jadi mungkin Aku hanya akan mengusiknya..."


(Cakra)


.


Bang Wardana sambil menggendong bayinya mendekatiku dan mengusap kepalaku. Tiba-tiba Dia yang pemarah dan galak berubah menjadi seperti sosok ayah.


"Keheh~ Kau dulu kesepian kan? Sekarang Kau akan bersama Kami beruda, jadi gausah banyak mikirin yang ga penting~ Gausah ga enakan juga denganku, okey?😁"


(Mahawardana)


.


"Padahal... Kita baru bertemu. Tapi Kalian memperlakukanku begitu spesial. Rasanya ucapan terima kasih pun tak akan pernah cukup bagiku."


(Cakra)


Aku hanya tersenyum tipis setelah menangis sambil memeluk Kak Shaktani lagi. Jujur entah kenapa Aku tak ingin lepas darinya.


.


"Baguslah. Kita akan pulang minggu depan. Itu juga akan menjadi waktu pertama kali Bagimu untuk melihat "Tanah Jawa"... Dan momen krusial sebelum Kau melihat seluruh Dunia yang lebih luas."


(Aza Shaktani)


.


Kami menyudahi momen bahagiaku malam itu dengan pesta privat eksklusif dengan Bang Cokorda yang memasak banyak hidangan dan minuman. Kami berpesta seperti akan ada pergerakan baru dalam menggebrak Dunia nantinya.


.


Sebagai tanda awal kebersamaan, Kak Shaktani mencium pipiku dengan hangat sambil memelukku. Akupun juga begitu senang sambil memeluknya. Semuanya melihatku dengan senyum meriah juga.


.


Dan tiba-tiba Bang Wardana menggendongku begitu saja.


"Woaahhh___*(  ̄皿 ̄)/#____!"


(Cakra)


.


Kahahah, selanjutnya biarkan Aku yang akan MENDIDIKMU DENGAN TELATEN NANTI YA~ BIAR KAU GA JADI BERANDALAN LIAR LAGI KEHEHEHEH~


(Mahawardana)


.


"Hey, ayolah Aku bukan anak kecil, Bang...ugh~"


(Cakra)


.


"HEY KASAR SEKALI~! PADAHAL KITA BARU MULAI BERSAMA KA-KAN~?"


"LALU APA ALASANMU MENERIMA CIUMAN MANIS DARI SHAKTA HAH~!?╰(艹皿艹 )"


(Mahawardana)


Yah... Dia ini agak-agak Tsundere jujur saja.


.


"Eh... yah... Entah, mungkin Aku lebih suka bersama dengannya."


(Cakra)


.


"Ugh... Sepertinya peranku sebagai Ayah untukmu hanya untuk sementara saja, yah..."


(Mahawardana)


.


"Ahahah~ Bercanda Bang. Aku juga ingin merasakan sosok Ayah darimu. Jadi Aku juga takkan memberontak padamu. Itupun kalau Kau tidak menjengkelkan, HUEHEH~"


(Cakra)


Aku bercanda sambil memeluk leher Bang Wardana. Karena Aku juga begitu senang dapat sosok Ayah sementara waktu.


.


Begitulah semua kehangatan dan kebersamaan malam itu. Bagiku itu adalah malam yang panjang dan momen bahaagia yang rasanya seperti mimpi. Aku juga sepertinya harus berkenalan dengan Bayi ini juga.


.


Aku merasa akan ada takdir besar nantinya jika Aku menjadi seorang Kakak baginya. Ngomong-ngomong tidurnya nyenyak sekali ya Bayi Imut ini sampai tak terbangun gara-gara suara riuh didalam Kedai.


.


Namun terlepas dari itu semua, Aku tak menurunkan rasa waspadaku juga. Aku senantiasa ingat akan banyaknya ancaman yang mengarah padaku juga. Jadi Aku tak bisa terlalu tenggelam dalam buaian cinta malam ini.


.


Sudah larut malam, dan Kami pulang kerumah. Tapi sepertinya Bang Cokorda punya rumah satunya lagi yang diberikan kepada Bang Wardana dan keluarganya untuk ditempati. Jadi Aku ikut pulang bersama Mereka dulu sekarang. Dua rumah ini saling berdekatan jadi Aku bisa bolak-balik jika mau.


.


Sekarang sudah sampai dirumah Bang Wardana yang lama, dan Aku ikut Kak Shaktani dengan bayinya untuk bercerita banyak hal.


“Siapa nama bayi ini? Rasanya dia sangat imut… Mungkin perempuan?”


(Cakra)


.


“Haha, iya benar. Kau sangat bahagia melihatnya, setidaknya ini adalah langkah pertamamu untuk menumbuhkan rasa kekeluargaan dan cinta kasih. Nama bayi ini adalah “Aza Camila”. Nama yang cantik bukan?”


(Aza Shaktani)


.


“Camila ya. Kurasa Aku harus belajar ilmu “Parenting” dari sekarang. Aku mau ikut membesarkan dan mendampinginya juga sampai Dia besar, hehe~ Sebagai seorang Kakak baginya!”


(Cakra)


Sekarang Aku bisa menyatakan dengan jelas rasa cintaku pada anak ini. Aku ingin menyayangi dan menemaninya sebagai Saudara walaupun tak sedarah. Aku mengatakan itu dengan rasa bahagia menggebu-gebu yang besar sampai tersenyum lebar.


.


“Ah, iya! Kau akan menjadi Kakak baginya! Pasti Camila akan senang punya saudara sepertimu… Tapi yah… entah kenapa setelah melihatmu Aku dan Wardana berpikir lain entah kenapa, Fufu~”


(Aza Shaktani)


.


“Lain? Apa maksud---”


(Cakra)


.


“Aih~ anggap Kau tak mendengarnya ya, ho-hoho~”


(Aza Shaktani)


.


Aku hanya bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah ini. Tapi yah… sudahi saja malam ini. Aku juga mengantuk berat karena pertarungan sunyiku. Semoga Aku tak lupa juga soal koper yang Kuselundupkan.


“Cakra~ Kalau Kau mau Kau boleh tidur dengan Shakta dan Camila saja. Biar Aku saja yang tidur didepan untuk menjaga Kalian.”


(Mahawardana)


.


“Apa Kau ga bakal cemburu?, HEHEHEHEH~”


(Cakra & Aza Shaktani)


.


“Tutup mulut kalian sebelum Aku berubah pikiran~ Haish… Maksudku, agar Kau merasakan juga bagaimana rasanya pelukan seorang Ibu saat tidur, Cakra. Jadi Aku tak masalah. Aku menginginkan agar Kau memiliki rasa kasih sayang yang sama seperti Kami bertiga.”


(Mahawardana)


.


“Baiklah, Terima kasih ya, Ayah sementara, HOHO~”


(Cakra)


.


“HAH~ SUMPAH KAU INI BENAR-BENAR NGAJAK RIBUT…!”


(Mahawardana)


.


Aku tidur seranjang dengan Kak Shaktani dalam pelukannya bersama Camila yang masih bayi. Rasanya sungguh hangat dan menyejukkan. Ini rasanya cinta seorang Ibu kepada 2 Anaknya, Aku merasakan nuansa itu dalam tidur lelapku sepanjang malam.


.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Desa sudah sunyi sepenuhnya malam itu. Besok paginya sebuah berita menggemparkan muncul disemua Channel-Channel TV Berita Nasional.


.


Berita itu meliputi tentang pembantaian misterius dengan situasi yang sangat mencekam disekitarnya. Banyak potongan tubuh serta genangan darah yang masih encer dan amis baunya, bahkan ada yang masih mengalir keluar dari tubuh-tubuh yang terkoyak. Polisi juga menemukan barang bukti Narkotika berjenis Opium berbentuk pasta yang dimakan seprti coklat batangan. Mereka juga preman dilihat dari ciri-cirinya yang sudah terkoyak. Artinya Kasus mengerikan ini telah beranak lagi menjadi dua kasus rumit yaitu “Pembantaian preman” dan “Dugaan Penyelundupan Narkotika Terlarang”.


.


Kasus ini menggemparkan semua Daerah bahkan banyak aparat polisi dari Denpasar langsung yang menyelidiki olah perkara mengerikan ini. Diperumahan sana juga ramai warga berdesak-desakan yang ingin melihat TKP itu. Ada yang berteriak ketakutan dan juga syok. Rata-rata reaksi Mereka semua ketakutan sih.


.


Desa Pesisir Kuta juga gempar dan ribut. Semua membicarakan kasus mengerikan ini dengan intens. Biasanya ramai akan canda tawa dan obrolan tongkrongan, sekarang ramai akan pembicaraan serius terkait berita besar ini yang telah terekspos publik. Sepertinya Pejabat Camat yang korup itu tak akan bisa menghindari konferensi pers.


.


“Ini gila. Tak pernah ada kasus ini sebelumnya. Ini bahkan yang pertama kali bagiku seumur hidup.”


(Xerxes)


.


“Kalau dilihat sekitarnya juga tak ada tanda-tanda kerusakan pada tanah sekeliling dan juga bangunan dinding dan gapuranya. Semuanya terlihat bersih. Tapi bagaimana bisa ada pembantaian tak masuk akal yang bermandikan darah ini…?”


(Shiori)


.


“Kalau begitu kesimpulannya Cuma satu. Ada individu pendekar atau orang kuat tak diketahui yang menjadi dalang dibalik kasus ini. Tapi yah… Korban-korban yang badannya terkoyak dan hancur ini semuanya ternyata preman. Aku pikir tidak perlu memberikan rasa belasungkawa yang tidak perlu.”


(Agungraka)


.


“Sudah jelas bukan Gohma yang menyebabkan pembantaian itu. Bahkan jika ada Gohma lantas kenapa Mereka tidak berusaha lari? Aku rasa Mereka tidak melarikan diri dilihat dari Mereka semua yang mati, namun Mereka seperti melawan sesuatu yang akhirnya membantai Mereka dengan mengerikan.”


(Cakra)


Akulah dalang yang melakukan pembantaian ini sendiri. Jujur agak susah mengatur caraku berbicara dengan gaya analisisku. Ngomong-ngomong pembantaian saat itu tak terdengar orang komplek perumahan karena Garuda sudah menyelubungi area Mereka dengan “Barrier Udara” yang tak tembus suara dan gelombang. Makanya saat Aku merusuh tak ada satupun dari Mereka yang tahu tentang tindakanku.


.


Tapi ini juga bisa jadi celah penyelidikan. Jadi rencana Garuda menyelubungi Mereka juga bermata dua bagi Kami berdua. Karena konsentrasi selubung yang pekat, pasti mengganggu semua gelombang radio dan semua jaringan telepon komunikasi. Jadi Mereka pasti akan melaporkan tentang anomali aneh yang Mereka rasakan semalam.


.


“Jika pelakunya adalah individu manusia, setidaknya Aku pernah melihat semua daftar kriminal dalam berbagai kategori khusus di Daerah Kuta, Bali. Tetapi dari semua nama yang Kulihat didaftar, tidak ada satupun dari Mereka yang punya kemampuan membantai sesunyi ini…!”


(Mahawardana)


.


“Sepertinya Mahawardana, Aku, dan Raka harus ke TKP juga untuk menyelidiki lokasinya. Jujur dalang pembantaian ini juga mengancam bagi Kita. Jadi Kita harus antisipasi juga.”


(Cokorda)


.


“Tumben si Otot tambun ini bisa berpikir sejernih ini…?”


(Xerxes)


.


“Bac*t”


(Cokorda)


.


“Kalau begitu berhubung ini minggu Kita hanya membuka kedai untuk kita dipagi hari dan sore untuk umum, sepertinya Kita berpencar saja untuk penyelidikan pribadi Kita. Atau Aku ikut temani saja Cakra jalan-jalan ke Kota Kecamatan, kehehehahah~”


(Xerxes)


.


*Bilang saja Kau Cuma ingin holiday dasar bang**t


(Agungraka, Cokorda, Mahawardana dalam hati)


.


“Hmm… Sepertinya Aku ingin jalan-jalan ke alun-alun taman kota dan juga perpustakaan daerah. Aku sudah menemukan spot baru untuk bersenang-senang, hehe.”


(Cakra)


.


“Baiklah. Ayo berangkat masing-masing sekarang.”


(Agungraka)


.


Dimulailah jalan-jalan kami sambil melakukan penyelidikan. Aku, Bang Xerxes, dan Para Kakak Perempuan dengan Camila jalan-jalan ke alun-alun dan perpusda. Sedangkan Bang Raka dan sisanya mendatangi TKP Kompleks Perumahan itu.


.


SUDAH KUMULAI JUGA, RENCANA TERSELUBUNGKU YANG KURANCANG UNTUK MENGELABUI MEREKA AGAR AKU BISA BERGERAK SENDIRI SESUAI RENCANAKU DAN GARUDA~~~~


.


Aku menyeringai ringan bersama Garuda yang tak nampak Roh nya dan tak diketahui keberadaannya, KEHAHAH~😆


.


CHAPTER 5 END


.


FOLLOW AKUN SOSMED @bangjoule_uw UNTUK MEMUDAHKAN MEMBACA NOVEL "PENGEMBARA TAK TERTULIS"!!!

__ADS_1


.


JIKA ADA PENDAPAT YANG MAU DISAMPAIKAN, SILAKAN KOMEN DIBAWAH DAN FOLLOW AKUN INI UNTUK NOTIFIKASI CHAPTER SELANJUTNYA YA~


__ADS_2