Prahara Sang Pengembara Tak Tertulis

Prahara Sang Pengembara Tak Tertulis
Chapter 6 : Kebangkitan Lembaran Badai Nostalgia


__ADS_3

Kota Kecamatan sangat riuh kendaraan dan juga orang-orang perkantoran dan masyarakat yang lebih modern secara budaya dan kehidupannya. Kami memang akan melakukan survey penyelidikan terkait kasus yang Kubuat diam-diam tanpa petunjuk.


.


Pembantaian yang Aku lakukan bersama Garuda akan menjadi titik proses untuk mengekspos semua bentuk kekotoran dan arogansi rezim Pejabat Camat yang korup itu. Pada akhirnya Dia dan kerajaan khayalnya akan jatuh dan hancur oleh rencanaku. Jadi Aku tak perlu buru-buru juga. Dalam rentang 3 hari akan Kuekspos sepenuhnya tindakan sewenang-wenang Mereka setelah Kukumpulkan banyak kartu pengacau dan alibi konkrit yang solid. Aku juga akan coba melihat-lihat kantor kecamatan. Jadi Aku tahu Dia punya apa saja untuk melindungi dirinya sendiri.


.


Tapi santai dulu, Aku juga ingin santai bersenang-senang bersama yang lain juga. Aku, Bang Xerxes, dan Kakak-Kakak perempuanku beserta Camila mengunjungi supermarket dulu untuk berwisata kecil-kecilan. Banyak sekali jajan dan juga baju-baju baru untuk dipakai juga. Selain membeli untuk kebutuhan Mereka, Mereka juga membelikan banyak pakaian untukku. Aku senang sih, tapi Kurasa tak perlu berlebihan begini kan...?


.


Kak Shaktani dan Kak Shiori lah yang memilihkan banyak pakaian bermerek mewah yang terbilang mahal dan stylish untukku karena biasanya Aku hanya pakai kaos lengan panjang dan kaos lengan pendek bermerek lokal dan Celana Shirwal saja. Padahal pakaian yang sederhana seperti itu sudah cukup nyaman untukku. Meski begitu Aku juga senang akhirnya bisa punya Pakaian-pakaian yang lembut dan sejuk bahannya karena kualitas tak pernah bohong memang, HEHEH.


.


Bang Xerxes juga membeli banyak jaket kulit dan sepatu bergaya Klasik yang bernuansa Mafia. Aku juga dipilihkan berbagai Jaket Parasut dengan motif yang sangat Futuristik dan Luxury bermerek Luar yang harganya sangat tak masuk akal. Kami juga ke toko Official sepatu bermerek terkenal yang sangat bergaya kekinian. Tapi yah akhirnya Aku hanya beli Sandal Gunung bermerek "Carvil" dominan putih yang harganya juga sangat mahal.


.


Setidaknya Kami bersyukur punya banyak uang dari hasil membangun perusahaan besar yang tadinya berskala nasional sekarang menjadi Skala Dunia. Jadi Bang Xerxes dan Kak Shiori punya banyak sekali penghasilan uang. Kak Shaktani juga mendapat banyak uang dari menjadi Agen Rahasia bersama Bang Wardana. Jadi ekonomi Kami terbilang konglomerat juga walaupun Aku tak merasa sampai Euforia akan kekayaan materiil karena Aku sadar Aku hanya butuh pakaian yang sederhana dan nyaman dipakai.


.


Disana juga Aku dibuatkan Kartu Kredit Bank sama Bang Xerxes agar uang yang diberi Kak Shiori bisa dimasukkan kedalam sana agar Aku tak repot menuh-menuhin tempat disaku celana. Aku juga dibelikan Kamera DLSR yang sangat canggih dan mahal. Kalau punya itu Kau akan dicap orang kaya pada masanya. Apalagi Kamera itu besar bermerek “Canon EOS-1D Mark II” bewarna putih dan gantungan lehernya juga. Ini adalah kamera dari Brand “Canon” yang paling mutakhir pada tahun itu.


.


"Belanja di *GLS memang yang paling menyenangkan yah~ Banyak vendor kosmetik, pakaian, atau bahkan juga jajanan yang premium untuk kita lihat~"


(Aza Shaktani)


*Grand Lucky Supermarket


.


"Sebenarnya di *PS juga bagus. Tapi disana dominan jual barang retail sih~ Cuma disini semua Merk produk fashion dan kosmetik bergengsi ada. Jadi kita bisa puas berbelanja sesuai keinginan Kita."


(Shiori)


*Pepito Supermarket


.


"Haiyaaah~ Aku juga bisa puas berbelanja sepatu Merk "Bata" yang nuansanya klasik tapi kayak Mafia. Disini juga banyak jual jaket kulit yang kelihatan sangar."


(Xerxes)


.


"Woylah... Kau tidak punya selera lain selain sepatu dan jaket kulit hah? Apa Kau lupa dirumah Jepang Kita kau banyak menimbunnya sampai satu ruangan tidak cukup, huh. ╰(艹皿艹 )"


.


"Hey, Kau tahu sendiri Aku suka dengan style mafia jaman dulu, kan~"


(Xerxes)


.


"Aku suka sekali GLS karena banyak jajanan yang mewah-mewah yang rasanya seperti melejit kelangit, hueheh~ Pakaian-pakaian yang Kalian belikan juga nyaman dan sejuk. Aku pasti nyaman memakai semuanya setiap hari. Apalagi Sandal Gunung "Carvil" dominan putih ini. Aku pasti akan merawatnya supaya tak rusak-rusak.(●'◡'●)"


(Cakra)


.


"Ahahah, senang rasanya melihatmu senyum gembira seperti itu, Sayang~"


(Aza Shaktani)


.


"Kau harus punya banyak pakaian karena tidak baik memakai baju dan celana yang dipakai selang-seling setiap harinya. Bisa-bisa nanti tumbuh jamur soalnya, hehe (✿◠‿◠)"


"Tapi, hey, untung tak ada Mahawardana disini kan ( ̄┰ ̄*), bisa-bisa Dia cemburu melihat Cakra."


(Shiori)


.


"Aih, tak apa-apa kok~ Lagian Dia juga banyak menerima perlakuan romantis dariku sudah lama sekali. Jadi Dia tak akan cemburu melihat Cakra yang baru saja Kusayangi kan~ ya kan, ya kan?~~ Heheh manis sekali sih kamu, Cakra... q(≧▽≦q)"


(Aza Shaktani)


.


"U-Ukh... Kak, malu kita diliatin orang kalau kita pelukan begini...."


(Cakra)


.


*Imut sekali mereka, sumpah. Orang-orang juga pada ngeliatin dengan ekspresi berbinar-binar tuh (⊙_⊙;)


(Xerxes & Shiori dalam hati)


.


Setelah bersenang-senang di Supermarket, barulah Kami berpencar dan melakukan penyelidikan ke sekitar kota. Bang Xerxes dan Kak Shiori, sementara Aku, Camila dan Kak Shaktani.


.


Sepertinya Camila benar-benar suka tidur. Tapi jujur memang aneh, Bayi yang Aku tahu biasanya akan ribut atau tantrum jika terganggu sedikit saja dan akan menangis. Sejak pertama kali bertemu dengannya kemarin, Aku merasa kalau Dia sangat tenang untuk seukuran bayi rata-rata.


.


Kupikir Camila juga bakal kehausan jadi ingin menyusu, tapi sepertinya tidak. Walaupun Kak Shaktani sudah menyusuinya sangat lama sih tadi pagi, makanya Dia tidak rewel. Tapi Camila yang sangat tenang dan lelap membuatku berpikir kalau ada yang "Melindungi"-nya dari segala rangsangan luar. Soalnya Aku merasakan energi aura yang aneh ditubuhnya seperti aura Garuda namun... Warna auranya gelap? Tapi yah aura ini melindungi Camila, jadi Kupikir tak ada masalah. Namun tetap saja perasaanku tidak enak soal ini...


.


Setelah berkeliling sepanjang hari, semua jawaban orang-orang yang kami dapatkan sama. "Mereka tak mendengar apapun yang kacau dan ribut". Ternyata tak ada petunjuk sama sekali soal pembantaian misterius itu. Yah jelas, karena Garuda yang memanipulasi semuanya saat itu dengan rapih dan senyap.


.


"Ini sulit. Kita tak dapat petunjuk sama sekali."


(Xerxes)


.


"Ugh... Aku harus ketoilet sebentar ya. Rasanya sudah tak bisa kutahan sakit perut ini."


(Cakra)


.


"Disana ada pom bensin yang bersebelahan sama sekolah. Larilah kesana."


(Shiori)


.


Aku hanya mengangguk dan berlari ke pom bensin.


.


"WOY BOCAH SIALAN!!! (゚Д゚*)ノ, LAMA SEKALI KAU HAH SAMPAI 2 JAM BARU SELESAI...?! KAU JAJAN APA SAJA SAMPAI HARUS MEMBUAT KITA MENUNGGU DI HALTE SEPERTI MANUSIA NOMADEN HAH?!"


(Xerxes)


.


"Ah-ahahaheheh, Aku jajan takoyaki jumbo tapi saus cabenya ketumpahan banyak yang kukira saus tomat, HEHE~"


.


"Haishhhh~( ̄m ̄) Udah berapa bis kita lewatin yak?"


(Xerxes)


.


"8 bis ada kali, haha...(*^▽^*)"


(Shiori)


.


"Ah-hahahah(●ˇ∀ˇ●), ga sia-sia kita jajan Mizone 20 botol tadi."


.


(Cakra)


.


Waktu sudah sore malam dan kami semua sudah berkumpul lagi dikedai. Kami tunggu hingga waktu tutup untuk berdiskusi soal temuan masing-masing. Ada yang sedikit mengejutkan tentang temuannya Bang Wardana.


.


"Kita sama sekali tak menemukan petunjuk, semua warga kota kecamatan tak tahu sama sekali perkara pembantaian ini."


(Aza Shaktani)


.


"Iya, yang Kalian temukan cuma kosmetik, pakaian, sepatu, sandal, dan juga jajanan untuk diemil dan juga Mizone 12 botol~ ( ̄┰ ̄*)"


(Agungraka)


.


*EHEHEHEH~


(Cakra, Xerxes, Shiori, & Aza Shaktani)


.


"Ngomong-ngomong Camila gapapa kan~ Sayang tayang-tayangku~ si Kecil sayang~ Manisnya putriku~😘"


(Mahawardana)


.


Bang Wardana menggendong Camila yang hanya cekikikan saat bersama Ayahnya dengan riangnya seperti bayi perempuan dengan ayahnya.


.


Dia keluar sendiri untuk bermain dengan Camila untuk memenuhi perannya sebagai Ayah yang sayang dengan putri kecilnya.


.


Sepertinya memang Camila yang masih bayi lebih dekat dengan Ayahnya sebagai perempuan. Walaupun saat bersama Ibunya Dia juga riang tetapi Dia lebih banyak tidur sepanjang hari.


.


"Haish~ Manja deh Dia sama Putrinya, hahah"


(Xerxes)


.


"Setelah datang kesana, Kami bertiga langsung disambut dengan hormatnya karena Mereka tahu status Mahawardana sebagai Top Agen Rahasia Negara ini. Kuasa besarnya dalam menangani Kasus luar maupun dalam negeri membuatnya tersohor dihormati seluruh Kemiliteran maupun Kepolisian juga."


"Ia menjadi sosok "Top-Class" dalam pemerintahan pusat saat ini. Itulah mengapa negara berhutang banyak atas jasanya. Jadi Mahawardana dikenal baik juga disemua daerah."


(Cokorda)


.


"Ternyata Dia sama sepertimu ya~ Orang-Orang misterius dengan kekuatan besar yang dimilikinya."


(Cakra)


.


"Mereka menganggap Aku dan Cokorda sebagai orang kepercayaan Dia padahal Kami yang lebih berkuasa darinya, HEHEH~"


"Tapi kesampingkan semua itu dulu, Kami menyelidiki sepanjang hari juga bersama Mereka dan tak ada kejanggalan juga sama sekali. Sampai akhirnya Mahawardana menemukan adanya jejak elemen dari Mantra. Namun jejak itu berbentuk serbuk yang sangat kecil dan halus, tetapi tak bisa dikonfirmasi Mantra apa itu."


(Agungraka)


.


Bang Raka mengeluarkan serbuk-serbuk halus elemen didalam sampel. Semuanya juga terkejut karena tidak mengetahui elemental apa dari serbuk Mantra ini.


.


"...?!"


"Ini..."


(Shiori & Aza Shaktani)


.


"..."


(Cakra)


Aku hanya berekspresi datar melihatnya karena serbuk itu adalah bekas jejakku yang sangat halus. Kemampuan Intel Bang Wardana sungguh mengerikan karena masih bisa menemukan serbuk Mantra yang sangat halus padahal Garuda sudah membersihkan area pembantaiannya.


.


"Serbuk Elemen yang tak bisa diklasifikasikan. Biasanya sekecil apapun Mantra pasti bisa diketahui walaupun dalam bentuk serbuk. Tapi tidak dengan serbuk ini."


(Agungraka)


.


"Rasanya familiar... Tapi Aku tak punya memori soal serbuk ini. Warnanya yang putih berkilau ini, rasanya tidak berbahaya."


(Shiori)


.


"Walaupun asing, serbuk Mantra ini entah kenapa membawa nuansa harapan untuk melindungi segenap Dunia. Itulah yang Aku rasakan. Dan... mengingatkanku akan "Nostalgia" itu juga."


(Aza Shaktani)


.


"Kita tak tahu apa elemental dari serbuk Mantra ini. Yang terpenting adalah hari-hari berikutnya setelah kejadian mencekam ini.


"Entah "Dalang"-nya akan menargetkan siapa lagi, membuat rantai kejadian apa, atau menciptakan manipulasi desas-desus yang mengancam semua orang, Kita harus menjaga Diri Kita sendiri juga."


(Cokorda)


.


"Hmmm, tapi yah... Besok Aku tetap ingin ke perpusda sih, Aku bosan cuma baca buku-buku yang sama bidangnya."


(Cakra)


.


"Kau tidak boleh gegabah begitu, Cakra. Situasi saat ini lagi genting Kau tahu sendiri..."


(Shiori)


.


"Aku bisa menjaga Diriku sendiri, jadi tak masalah bahkan jika "Dalang" ini datang kepadaku nantinya, Kak."


(Cakra)


Aku meyakinkannya dengan wajah riang yang polos dan sedikit ekspresi "Poker Face" untuk menutupi kekhawatirannya.


.


"Apa Kau bahkan tak takut sama sekali...? Dari serbuk Mantra yang tidak bisa diklasifikasikan ini saja sudah membuktikan kemampuan "Dalang Pembantaian" itu berada ditingkatan tinggi diatas rata-rata Pendekar."


"Dia ini Pendekar dengan kapabilitas yang langka di Dunia Kita. Jujur kalau Kami berdua melawan Dia, Kami tidak yakin bisa menang kalau hanya mengandalkan Kemampuan seni beladiri dan Vajra Kami saja..."


(Agungraka)


.


"Tapi apa Kau tidak merasa aneh? Dia ini tidak berbahaya bagi Kita."


(Cakra)


.


"?!"


"Eh...???"


"Kau... Apa Kau tahu betapa naif nya pemikiran itu?"


(Xerxes, Shiori, Aza Shaktani)


.


"Kalau dilihat dari korbannya, Mereka adalah pemabuk miras dan juga pengedar narkotika, kan? "Dalang" ini tak sembarang memilih targetnya dan memutuskan untuk membantai preman-preman profesional ini padahal bisa saja Dia membantai masyarakat umum jika Dia mau."


(Cakra)


.


"Tapi semua praduga itu tidak menjadikan hipotesismu itu terbukti kuat kan?"


(Agungraka)


.


"Kalau pola dugaanku benar, akan ada waktu selanjutnya dimana "Dalang" ini akan memilih target yang merupakan orang-orang yang bertindak buruk dan merugikan masyarakat."


"Jadi tidak salah jika Kita menerka-nerka Dia ini semacam "Vigilante" yang bergerak secara Individual. Mengingat banyak aparat hukum yang korup juga menutup mata kepada masyarakat yang dirugikan."


(Cakra)


.


"Kau mampu berpikir jauh begitu dengan entengnya... Sebenarnya Kau baca apa sih sampai sejenius ini? Sungguh daya nalar dan kemampuan berpikir kritis yang diluar dugaan untuk seukuran bocah (~ ̄▽ ̄)~"


(Shiori)


.


"Masuk akal. Kami bisa menerima hipotesismu ini tapi dengan satu kondisi, yaitu agar tetap waspada sampai kasus berantai yang mencekam dan meresahkan ini berakhir. Serta Kau tidak boleh terlalu larut sepanjang hari di Kota Kecamatan."


(Xerxes)


.


"Untuk sementara waktu Aku akan berhenti melakukan pelatihanku dan terus mengunjungi Kota Kecamatan untuk berkunjung ke Perpusda sekalian menyelidiki kasus ini juga."


"Aku harus menganalisa waktu pergerakan Dalang ini sepanjang hari. Jaga-jaga kalau pergerakannya berubah. Bisa saja kemarin malam namun besok pagi, siang, ataupun sore."


Aku pastikan untuk ke Perpusda sambil mengawasi setiap sisi dan sudut Kota Kecamatan setiap hari mulai sekarang. Kalau bisa juga... Aku dapat jejak Dalang ini juga."


(Cakra)


.


"Hebatnya anak ini... Baiklah besok hati-hatilah untuk menjaga Dirimu sendiri ya? Jangan memaksakan Diri dan cepat lari untuk pulang jika Kau merasa terancam. Kami tak akan kemana-mana untuk menjaga Desa Pesisir."


(Aza Shaktani)


.


"Lari...? Kak... Aku ini laki-laki. Kata lari sudah tak berlaku lagi setelah Aku tumbuh besar dengan kemampuanku yang Kuciptakan dan Kukembangkan ini~ Sekalipun Aku bertemu dalang itu nanti, Aku akan melawannya juga meski tahu bakalan mati, heheh!"


(Cakra)


.


"Hoaaam~ Begitukah? Kau ini bukan cuma jago fisik tapi otakmu juga main ya~ Wajahmu juga lumayan ganteng manis dikit. Beda sekali dengan penampilanmu yang anak-anak."


"Camila sudah capek main. Jadi ayo Kita pulang, ini juga sudah larut."


(Mahawardana)


.


"Baiklah, Kita lanjutkan besok lagi pembicaraan ini. Dan untuk Cakra, tolong ingat saran yang tadi diberikan Xerxes, oke?"


(Cokorda)


.


"Ya, ya~ Aku ingat..."


(Cakra)


.


"Kau lihat, Shakta? Anak itu..."


(Shiori)


.


"Ya, rasanya Dia yang memimpin Kita. Sungguh anak berjiwa kepemimpinan besar.(●ˇ∀ˇ●)"


(Aza Shaktani)


.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Esok paginya jam 6, Aku sudah beres-beres dengan setelan baju yang baru diborong kemarin. Sekarang Aku gunakan Jaket Stylish baru bermerek "Gucci" bewarna dominan putih bermotif "Peninsula" berabstrak dengan warna kuning dan merah dengan dalaman Kaos putih bermotif ukiran seni "Leak" dan bergaris abstrak dominan biru dan celana Shirwal baru bewarna hitam serta Sandal Gunung "Carvil" yang dominan putih.


.


Aku suka style baru ini apalagi dengan wajahku yang bisa dibilang ganteng dewasa diusia anak-anak sepantaran yang masih polos, HUEHEHEHEH~


.


Aku juga dengan pelan-pelan mengambil koper besar yang Kusembunyikan diteras rumah Bang Raka dan yang lainnya dengan cepat dan sesenyap mungkin pergi dari Desa Pesisir untuk pura-pura saja. Berhubung Bang Raka dan yang lain juga pada belum bangun. Untung tak ada noda darah di koper ini.


.


Garuda ternyata memiliki Teknik Mantra unik yang bisa dipakai sebagai penyimpanan spasial. Setelah Dia membentangkan sayapnya, semua barang yang ingin disimpan bisa langsung dimasukkan kesana. Jadi Aku bisa lebih fleksibel


.


Setelah sampai Kota Kecamatan, Aku jogging sementara waktu sambil berkeliling kota sekitar 1 jam untuk mengawasi keadaan. Semua gang kecil, gang sepi, dan jalan sempit serta sekat kosong ditiap sisi jalan dan gedung-gedung padat, semua Kulewati begitu saja.


.


Sejujurnya Aku sangat santai sekarang karena pelakunya Aku sendiri. Jadi sebisa mungkin Aku memanipulasi semua situasi dan kondisi sehalus mungkin jadi Aku memiliki intelektual yang tinggi dan kapasitas pengalaman yang banyak diperoleh dari segi bidang strategi.


.


Kalau dipikir Aku belum tahu apakah masih ada orang tersisa di geng preman-preman yang menjadi Supplier Narkotika itu. Tapi ada beberapa orang aneh terakhir Kulihat 2 hari lalu di gang-gang ini. Makanya Aku kesini. Semoga jawabannya ada didalam koper itu.


.


Sesudah 1 jam, Aku mengunjungi perpusda untuk bersantai dan menikmati waktu pagi dengan sarapan ringan.


.


"Kau rajin sekali ya datang kesini. Padahal Kau masih anak-anak tapi punya effort sebesar ini untuk belajar. Sungguh Kau anak hebat~!"


(Perpustakawan Pria)


.


"Aku biasanya kemari untuk membaca semua buku diberbagai bidang ekonomi dan politik, hehe. Tapi... Apa Kau punya buku dibidang "Expert Parenting? "


( ̄m ̄)"


(Cakra)


.


"E-EH...? Bisa ya anak-anak sepertimu tertarik dengan buku orang dewasa...?"


(Perpustakawan Pria)


.


"Aku punya seorang Adik yang harus kudampingi dan Kusayang sampai Dia besar. Aku tak tahu sikapku ini baik atau tidak sebenarnya, jadi Aku kesini untuk membaca buku itu hari ini. Dan satu lagi, Buku Memasak Sajian Makanan Futuristik dan Mewah, heheh"


(Cakra)


.


"Haiyah~ Kakak yang sangat dewasa dan mandiri yah... Aku tak akan bertanya lebih jauh dari ini. Hmm, baiklah coba Kulihat... Ah, ada satu setidaknya ini versi termutakhir selama tahun 2002 ini. Kau boleh membacanya."


(Perpustakawan Pria)


.


Aku hanya meminjam buku itu dari sana lalu pergi jalan-jalan lagi. Kalau dipikir anak seusiaku seharusnya ada dibangku sekolah dan bukannya berkeliaran jalan-jalan begini. Jadi setidaknya Aku ada inisiatif untuk mendaftar sendiri ke salah satu sekolah negeri, tapi kesampingkan itu dulu.


.


Selanjutnya Aku ke pasar tradisional untuk melihat sayur-mayur dan bahan mentahan karena Aku berpikir untuk mulai belajar masak juga. Pasar ini memiliki lokasi strategis dan gedung luas yang sepertinya dirancang untuk menampung sekitar 300-an lebih Vendor Pedagang, sehingga tak perlu merambah sampai memakan jalan dan menyebabkan kemacetan.


.


Aku berputar-putar melihat setiap sisi pasar yang menjual beragam bahan dan sudah menemukan beberapa vendor yang cocok untuk Kubeli dagangannya. Seperti daging ayam, daging sapi, sawi, jamur tiram, telur, kangkung, dan juga rempah-rempah seperti bawang, ketumbar, pala, lada, dan masih banyak lagi. Sepertinya Aku harus mengunjungi tempat selanjutnya karena ada yang vendor yang berselisih dengan Pihak Keamanan.


.


Lanjut siang hari, mungkin belum sepenuhnya terlambat bagiku untuk mendapatkan pendidikan kan? Makanya Aku coba ke salah satu sekolah untuk mendatangi Guru PPDB disana, siapa tahu Aku masih bisa bersekolah dan punya banyak teman yang sebaya denganku.


.


"Oh? Maaf, nak. Kau ini siapa dan darimana?"


(Satpam)


.


"Aku penasaran apa Aku masih bisa mendaftar ke sekolah? Karena Aku tinggal dipesisir jadi Aku baru kepikiran sekarang untuk bersekolah. Tapi kalau dipikir juga... Aku yatim piatu. Jadi hanya tinggal dengan paman-pamanku."


(Cakra)


.


"Waduh, Aku tidak tahu bagaimana, Kurasa Aku akan mengantarmu bertemu salah satu Guru yang biasanya mengurus PPDB."


(Satpam)


.


Aku sudah mencoba berbicara dengan Guru PPDB itu juga dan hasilnya jelas "Zonk" besar. Karena usia bersekolah minimal adalah 7 tahun, sementara Aku sudah 10 tahun. Yah... setidaknya Aku datang kesana tidak sepenuhnya ambisiku itu pupus.


.


Setidaknya setelah iseng ingin mendaftar sekolah yang gagal, Aku jajan sebentar untuk beli minuman Milkshake dan Sosis Solo kemudian pergi ke kantor kelurahan Kuta untuk berteduh dari terik panas. Sambil melihat-lihat rimbunnya pohon dan tanaman hias di taman sana yang mewah bagiku namun biasa dimata orang. Aku juga mendapati banyak motor-motor keren bermerek "Kawasaki" dan mobil-mobil mahal beremerek "Audi A6" yang banyak terparkir didepan kantornya. Mungkin ada sekitar puluhan...? Semua motor dan mobil itu pokoknya sangat keren sekali bagiku~


.


Sore harinya Aku memutuskan untuk pulang sambil berkunjung ke Dealer Motor "Kawasaki" karena Aku juga terobsesi dengan motor-motor itu. Mungkin Bang Xerxes mau kali ya belikan buatku juga, maslaah belajarnya nanti dulu, hueheheh~.

__ADS_1


.


"Kau masih anak-anak tidak disarankan untuk naik motor dulu ya. Masih berbahaya untukmu."


(Dealer Pria)


.


"Aku kemari untuk melihat apakah ada motor yang cocok untuk Om ku pakai. Dia ingin motor baru yang lebih bagus karena yang lama sudah usang. Jadi Aku melihat-lihat kesini. Motornya sumpah sangat keren menurutku."


(Cakra)


.


"Hmm... Begitu ya. Baiklah Aku jelaskan saja dulu speknya, tapi ingat atau tidaknya bukan urusanku ya, haha."


.


Sebelum maghrib Aku sudah harus pulang karena janjiku dengan Mereka. Aku benar-benar membuat DP untuk motor Kawasaki yang Aku inginkan. Aku sengaja bohong agar Dealer itu mau mendengarkanku.


.


Setidaknya Aku pulang ke Desa sebelum waktu maghrib dan langsung ke Kedai seperti biasanya. Bisa Kulihat hanya ada Camila, Kak Shaktani, Kak Shiori dan Bang Cokorda. Aku tidak tahu kemana yang lain.


.


"Sudah kembali? Syukurlah kau tidak kenapa-napa."


(Aza Shaktani)


.


"Kau kelihatan berdebu dan seperti dari perjalanan jauh. Kemana saja memangnya?"


(Cokorda)


.


"Aku pinjam buku dari perpusda, jalan-jalan berkeliling kota dan coba jogging pagi sebelumnya ke gang-gang kecil yang rawan. Soalnya kemarin-kemarin pagi di jam 9 juga sebelum pembantaian misterius malam itu, Aku juga melihat banyak orang berjaket hitam, pake masker, dan topi atau orang aneh lain yang mangkal disana.Dan sepertinya ada beberapa yang berseragam aparat mungkin...? Tapi Kuperiksa pagi ini sangat sepi."


(Cakra)


Pertama kalinya waktu pembantaianku dulu, Aku tidak hanya melihat preman komplek, tetapi juga orang-orang aneh yang seperti sedang menyelundupkan sesuatu. Kebetulan waktu itu dalam bentukan tas raket. Jadi Aku punya indikasi Mereka satu geng kriminal dengan motif berbeda.


.


"?!"


"Apa...?"


"Kau tidak bertemu mereka... rentang waktunya lumayan banyak juga sih."


(Cokorda, Shiori, Aza Shaktani)


.


"Kenapa kalian melihatku seperti itu?"


(Cakra)


.


"Tadi pagi ada berita ada ledakan aneh yang sangat besar sampai menghancurkan beberapa tembok bangunan di Kota Kecamatan. Banyak media liputan di TKP sana."


"Jujur ini berita yang mengejutkan Kita lagi di pagi hari padahal desas-desus 2 hari lalu saja belum mereda. Mana korbannya juga punya identitas seperti yang Kau bilang, terlebih... ada polisi juga. CK, mana barang buktinya ada Narkotika Sabu-sabu lagi kali ini."


(Cokorda)


.


"E-Eh...? Ledakan katamu...? Aku tak mendengarnya sama sekali."


(Cakra)


.


"GIMANA CARANYA...? PADAHAL KAU ADA DIDEKAT SANA TAPI TAK TERDENGAR SEDIKITPUN???"


(Cokorda)


.


"Aku juga tak merasakan hawa keberadaan "Dalang" itu. Aku jogging selama 1 jam dengan tujuan mencari hawa keberadaannya dengan "Amoghas"-ku secara halus. Tetapi sesudah 20 kali berputar-putar berkeliling terus hasilnya nihil."


"Kalau Dia bahkan tak bisa Kurasakan hawa keberadaannya, mustahil Aku bisa mendengar suara ledakan jika memang Dia pelakunya."


"Lagipula orang-orang kota juga tidak ada yang ribut saat jam 9 pagi waktu itu. Aku tahu karena di perpusda Aku sambil memerhatikan keadaan luar juga. Aku berasumsi sepertinya Ledakan itu diketahui setelah ada orang yang melintas melihat banyak mayat dan sebagian bangunan hancur disitu, kan?"


.


"Sial, Dia ini sungguh sangat berbahaya. Jelas tak ada yang menduga kejadian besar menggemparkan ini. Belum ada seminggu setelah pembantaian misterius, hari ini di pagi hari ada laporan tentang ledakan aneh yang membunuh orang-orang di gang itu. Korbannya juga Penyelundup Narkotika lagi."


(Cokorda)


.


"Tapi ternyata Cakra benar, pola yang diprediksi kemarin benar-benar terjadi hari ini. Pergerakan waktu tak terduga dan Target yang dipilihnya tak sembarangan. Masalahnya Dia juga tak bisa dilacak sama sekali."


(Aza Shaktani)


.


Sesungguhnya Aku yang memanipulasi situasi ini juga terjepit. Garuda juga sebisa mungkin menekan "Angkara" dalam tubuhku untuk menghindari Kota Kecamatan sangat riuh kendaraan dan juga orang-orang perkantoran dan masyarakat yang lebih modern secara budaya dan kehidupannya. Kami memang akan melakukan survey penyelidikan terkait kasus yang Kubuat diam-diam tanpa petunjuk.


.


Pembantaian yang Aku lakukan bersama Garuda akan menjadi titik proses untuk mengekspos semua bentuk kekotoran dan arogansi rezim Pejabat Camat yang korup itu. Pada akhirnya Dia dan kerajaan khayalnya akan jatuh dan hancur oleh rencanaku. Jadi Aku tak perlu buru-buru juga. Dalam rentang 3 hari akan Kuekspos sepenuhnya tindakan sewenang-wenang Mereka setelah Kukumpulkan banyak kartu pengacau dan alibi konkrit yang solid. Aku juga akan coba melihat-lihat kantor kecamatan. Jadi Aku tahu Dia punya apa saja untuk melindungi dirinya sendiri.


.


Tapi santai dulu, Aku juga ingin santai bersenang-senang bersama yang lain juga. Aku, Bang Xerxes, dan Kakak-Kakak perempuanku beserta Camila mengunjungi supermarket dulu untuk berwisata kecil-kecilan. Banyak sekali jajan dan juga baju-baju baru untuk dipakai juga. Selain membeli untuk kebutuhan Mereka, Mereka juga membelikan banyak pakaian untukku. Aku senang sih, tapi Kurasa tak perlu berlebihan begini kan...?


.


Kak Shaktani dan Kak Shiori lah yang memilihkan banyak pakaian bermerek mewah yang terbilang mahal dan stylish untukku karena biasanya Aku hanya pakai kaos lengan panjang dan kaos lengan pendek bermerek lokal dan Celana Shirwal saja. Padahal pakaian yang sederhana seperti itu sudah cukup nyaman untukku. Meski begitu Aku juga senang akhirnya bisa punya Pakaian-pakaian yang lembut dan sejuk bahannya karena kualitas tak pernah bohong memang, HEHEH.


.


Bang Xerxes juga membeli banyak jaket kulit dan sepatu bergaya Klasik yang bernuansa Mafia. Aku juga dipilihkan berbagai Jaket Parasut dengan motif yang sangat Futuristik dan Luxury bermerek Luar yang harganya sangat tak masuk akal. Kami juga ke toko Official sepatu bermerek terkenal yang sangat bergaya kekinian. Tapi yah akhirnya Aku hanya beli Sandal Gunung bermerek "Carvil" dominan putih yang harganya juga sangat mahal.


.


Setidaknya Kami bersyukur punya banyak uang dari hasil membangun perusahaan besar yang tadinya berskala nasional sekarang menjadi Skala Dunia. Jadi Bang Xerxes dan Kak Shiori punya banyak sekali penghasilan uang. Kak Shaktani juga mendapat banyak uang dari menjadi Agen Rahasia bersama Bang Wardana. Jadi ekonomi Kami terbilang konglomerat juga walaupun Aku tak merasa sampai Euforia akan kekayaan materiil karena Aku sadar Aku hanya butuh pakaian yang sederhana dan nyaman dipakai.


.


Disana juga Aku dibuatkan Kartu Kredit Bank sama Bang Xerxes agar uang yang diberi Kak Shiori bisa dimasukkan kedalam sana agar Aku tak repot menuh-menuhin tempat disaku celana. Aku juga dibelikan HP Motorola RAZR V3 yang paling mutakhir pada tahun itu.


.


"Belanja di *GLS memang yang paling menyenangkan yah~ Banyak vendor kosmetik, pakaian, atau bahkan juga jajanan yang premium untuk kita lihat~"


(Aza Shaktani)


*Grand Lucky Supermarket


.


"Sebenarnya di *PS juga bagus. Tapi disana dominan jual barang retail sih~ Cuma disini semua Merk produk fashion dan kosmetik bergengsi ada. Jadi kita bisa puas berbelanja sesuai keinginan Kita."


(Shiori)


*Pepito Supermarket


.


"Haiyaaah~ Aku juga bisa puas berbelanja sepatu Merk "Bata" yang nuansanya klasik tapi kayak Mafia. Disini juga banyak jual jaket kulit yang kelihatan sangar."


(Xerxes)


.


"Woylah... Kau tidak punya selera lain selain sepatu dan jaket kulit hah? Apa Kau lupa dirumah Jepang Kita kau banyak menimbunnya sampai satu ruangan tidak cukup, huh. ╰(艹皿艹 )"


.


"Hey, Kau tahu sendiri Aku suka dengan style mafia jaman dulu, kan~"


(Xerxes)


.


"Aku suka sekali GLS karena banyak jajanan yang mewah-mewah yang rasanya seperti melejit kelangit, hueheh~ Pakaian-pakaian yang Kalian belikan juga nyaman dan sejuk. Aku pasti nyaman memakai semuanya setiap hari. Apalagi Sandal Gunung "Carvil" dominan putih ini. Aku pasti akan merawatnya supaya tak rusak-rusak.(●'◡'●)"


(Cakra)


.


"Ahahah, senang rasanya melihatmu senyum gembira seperti itu, Sayang~"


(Aza Shaktani)


.


"Kau harus punya banyak pakaian karena tidak baik memakai baju dan celana yang dipakai selang-seling setiap harinya. Bisa-bisa nanti tumbuh jamur soalnya, hehe (✿◠‿◠)"


"Tapi, hey, untung tak ada Mahawardana disini kan ( ̄┰ ̄*), bisa-bisa Dia cemburu melihat Cakra."


(Shiori)


.


"Aih, tak apa-apa kok~ Lagian Dia juga banyak menerima perlakuan romantis dariku sudah lama sekali. Jadi Dia tak akan cemburu melihat Cakra yang baru saja Kusayangi kan~ ya kan, ya kan?~~ Heheh manis sekali sih kamu, Cakra... q(≧▽≦q)"


(Aza Shaktani)


.


"U-Ukh... Kak, malu kita diliatin orang kalau kita pelukan begini...."


(Cakra)


.


*Imut sekali mereka, sumpah. Orang-orang juga pada ngeliatin dengan ekspresi berbinar-binar tuh (⊙_⊙;)


(Xerxes & Shiori dalam hati)


.


Setelah bersenang-senang di Supermarket, barulah Kami berpencar dan melakukan penyelidikan ke sekitar kota. Bang Xerxes dan Kak Shiori, sementara Aku, Camila dan Kak Shaktani.


.


Sepertinya Camila benar-benar suka tidur. Tapi jujur memang aneh, Bayi yang Aku tahu biasanya akan ribut atau tantrum jika terganggu sedikit saja dan akan menangis. Sejak pertama kali bertemu dengannya kemarin, Aku merasa kalau Dia sangat tenang untuk seukuran bayi rata-rata.


.


Kupikir Camila juga bakal kehausan jadi ingin menyusu, tapi sepertinya tidak. Walaupun Kak Shaktani sudah menyusuinya sangat lama sih tadi pagi, makanya Dia tidak rewel. Tapi Camila yang sangat tenang dan lelap membuatku berpikir kalau ada yang "Melindungi"-nya dari segala rangsangan luar. Soalnya Aku merasakan energi aura yang aneh ditubuhnya seperti aura Garuda namun... Warna auranya gelap? Tapi yah aura ini melindungi Camila, jadi Kupikir tak ada masalah. Namun tetap saja perasaanku tidak enak soal ini...


.


Setelah berkeliling sepanjang hari, semua jawaban orang-orang yang kami dapatkan sama. "Mereka tak mendengar apapun yang kacau dan ribut". Ternyata tak ada petunjuk sama sekali soal pembantaian misterius itu. Yah jelas, karena Garuda yang memanipulasi semuanya saat itu dengan rapih dan senyap.


.


"Ini sulit. Kita tak dapat petunjuk sama sekali."


(Xerxes)


.


"Ugh... Aku harus ketoilet sebentar ya. Rasanya sudah tak bisa kutahan sakit perut ini."


(Cakra)


.


"Disana ada pom bensin yang bersebelahan sama sekolah. Larilah kesana."


(Shiori)


.


Aku hanya mengangguk dan berlari ke pom bensin.


.


"WOY BOCAH SIALAN!!! (゚Д゚*)ノ, LAMA SEKALI KAU HAH SAMPAI 2 JAM BARU SELESAI...?! KAU JAJAN APA SAJA SAMPAI HARUS MEMBUAT KITA MENUNGGU DI HALTE SEPERTI MANUSIA NOMADEN HAH?!"


(Xerxes)


.


"Ah-ahahaheheh, Aku jajan takoyaki jumbo tapi saus cabenya ketumpahan banyak yang kukira saus tomat, HEHE~"


.


"Haishhhh~( ̄m ̄) Udah berapa bis kita lewatin yak?"


(Xerxes)


.


"8 bis ada kali, haha...(*^▽^*)"


(Shiori)


.


"Ah-hahahah(●ˇ∀ˇ●), ga sia-sia kita jajan Mizone 20 botol tadi."


.


(Cakra)


.


Waktu sudah sore malam dan kami semua sudah berkumpul lagi dikedai. Kami tunggu hingga waktu tutup untuk berdiskusi soal temuan masing-masing. Ada yang sedikit mengejutkan tentang temuannya Bang Wardana.


.


"Kita sama sekali tak menemukan petunjuk, semua warga kota kecamatan tak tahu sama sekali perkara pembantaian ini."


(Aza Shaktani)


.


"Iya, yang Kalian temukan cuma kosmetik, pakaian, sepatu, sandal, dan juga jajanan untuk diemil dan juga Mizone 12 botol~ ( ̄┰ ̄*)"


(Agungraka)


.


*EHEHEHEH~


(Cakra, Xerxes, Shiori, & Aza Shaktani)


.


"Ngomong-ngomong Camila gapapa kan~ Sayang tayang-tayangku~ si Kecil sayang~ Manisnya putriku~😘"


(Mahawardana)


.


Bang Wardana menggendong Camila yang hanya cekikikan saat bersama Ayahnya dengan riangnya seperti bayi perempuan dengan ayahnya.


.


Dia keluar sendiri untuk bermain dengan Camila untuk memenuhi perannya sebagai Ayah yang sayang dengan putri kecilnya.


.


Sepertinya memang Camila yang masih bayi lebih dekat dengan Ayahnya sebagai perempuan. Walaupun saat bersama Ibunya Dia juga riang tetapi Dia lebih banyak tidur sepanjang hari.


.


"Haish~ Manja deh Dia sama Putrinya, hahah"


(Xerxes)


.


"Setelah datang kesana, Kami bertiga langsung disambut dengan hormatnya karena Mereka tahu status Mahawardana sebagai Top Agen Rahasia Negara ini. Kuasa besarnya dalam menangani Kasus luar maupun dalam negeri membuatnya tersohor dihormati seluruh Kemiliteran maupun Kepolisian juga."


"Ia menjadi sosok "Top-Class" dalam pemerintahan pusat saat ini. Itulah mengapa negara berhutang banyak atas jasanya. Jadi Mahawardana dikenal baik juga disemua daerah."


(Cokorda)


.


"Ternyata Dia sama sepertimu ya~ Orang-Orang misterius dengan kekuatan besar yang dimilikinya."


(Cakra)


.


"Mereka menganggap Aku dan Cokorda sebagai orang kepercayaan Dia padahal Kami yang lebih berkuasa darinya, HEHEH~"


"Tapi kesampingkan semua itu dulu, Kami menyelidiki sepanjang hari juga bersama Mereka dan tak ada kejanggalan juga sama sekali. Sampai akhirnya Mahawardana menemukan adanya jejak elemen dari Mantra. Namun jejak itu berbentuk serbuk yang sangat kecil dan halus, tetapi tak bisa dikonfirmasi Mantra apa itu."


(Agungraka)


.


Bang Raka mengeluarkan serbuk-serbuk halus elemen didalam sampel. Semuanya juga terkejut karena tidak mengetahui elemental apa dari serbuk Mantra ini.


.


"...?!"


"Ini..."


(Shiori & Aza Shaktani)


.


"..."


(Cakra)


Aku hanya berekspresi datar melihatnya karena serbuk itu adalah bekas jejakku yang sangat halus. Kemampuan Intel Bang Wardana sungguh mengerikan karena masih bisa menemukan serbuk Mantra yang sangat halus padahal Garuda sudah membersihkan area pembantaiannya.


.


"Serbuk Elemen yang tak bisa diklasifikasikan. Biasanya sekecil apapun Mantra pasti bisa diketahui walaupun dalam bentuk serbuk. Tapi tidak dengan serbuk ini."


(Agungraka)


.


"Rasanya familiar... Tapi Aku tak punya memori soal serbuk ini. Warnanya yang putih berkilau ini, rasanya tidak berbahaya."


(Shiori)


.


"Walaupun asing, serbuk Mantra ini entah kenapa membawa nuansa harapan untuk melindungi segenap Dunia. Itulah yang Aku rasakan. Dan... mengingatkanku akan "Nostalgia" itu juga."


(Aza Shaktani)


.


"Kita tak tahu apa elemental dari serbuk Mantra ini. Yang terpenting adalah hari-hari berikutnya setelah kejadian mencekam ini.


"Entah "Dalang"-nya akan menargetkan siapa lagi, membuat rantai kejadian apa, atau menciptakan manipulasi desas-desus yang mengancam semua orang, Kita harus menjaga Diri Kita sendiri juga."


(Cokorda)


.


"Hmmm, tapi yah... Besok Aku tetap ingin ke perpusda sih, Aku bosan cuma baca buku-buku yang sama bidangnya."


(Cakra)


.


"Kau tidak boleh gegabah begitu, Cakra. Situasi saat ini lagi genting Kau tahu sendiri..."


(Shiori)


.


"Aku bisa menjaga Diriku sendiri, jadi tak masalah bahkan jika "Dalang" ini datang kepadaku nantinya, Kak."


(Cakra)


Aku meyakinkannya dengan wajah riang yang polos dan sedikit ekspresi "Poker Face" untuk menutupi kekhawatirannya.


.


"Apa Kau bahkan tak takut sama sekali...? Dari serbuk Mantra yang tidak bisa diklasifikasikan ini saja sudah membuktikan kemampuan "Dalang Pembantaian" itu berada ditingkatan tinggi diatas rata-rata Pendekar."


"Dia ini Pendekar dengan kapabilitas yang langka di Dunia Kita. Jujur kalau Kami berdua melawan Dia, Kami tidak yakin bisa menang kalau hanya mengandalkan Kemampuan seni beladiri dan Vajra Kami saja..."


(Agungraka)


.


"Tapi apa Kau tidak merasa aneh? Dia ini tidak berbahaya bagi Kita."


(Cakra)


.


"?!"


"Eh...???"


"Kau... Apa Kau tahu betapa naif nya pemikiran itu?"


(Xerxes, Shiori, Aza Shaktani)


.


"Kalau dilihat dari korbannya, Mereka adalah pemabuk miras dan juga pengedar narkotika, kan? "Dalang" ini tak sembarang memilih targetnya dan memutuskan untuk membantai preman-preman profesional ini padahal bisa saja Dia membantai masyarakat umum jika Dia mau."


(Cakra)


.


"Tapi semua praduga itu tidak menjadikan hipotesismu itu terbukti kuat kan?"


(Agungraka)


.


"Kalau pola dugaanku benar, akan ada waktu selanjutnya dimana "Dalang" ini akan memilih target yang merupakan orang-orang yang bertindak buruk dan merugikan masyarakat."


"Jadi tidak salah jika Kita menerka-nerka Dia ini semacam "Vigilante" yang bergerak secara Individual. Mengingat banyak aparat hukum yang korup juga menutup mata kepada masyarakat yang dirugikan."


(Cakra)


.


"Kau mampu berpikir jauh begitu dengan entengnya... Sebenarnya Kau baca apa sih sampai sejenius ini? Sungguh daya nalar dan kemampuan berpikir kritis yang diluar dugaan untuk seukuran bocah (~ ̄▽ ̄)~"


(Shiori)


.


"Masuk akal. Kami bisa menerima hipotesismu ini tapi dengan satu kondisi, yaitu agar tetap waspada sampai kasus berantai yang mencekam dan meresahkan ini berakhir. Serta Kau tidak boleh terlalu larut sepanjang hari di Kota Kecamatan."


(Xerxes)


.


"Untuk sementara waktu Aku akan berhenti melakukan pelatihanku dan terus mengunjungi Kota Kecamatan untuk berkunjung ke Perpusda sekalian menyelidiki kasus ini juga."


"Aku harus menganalisa waktu pergerakan Dalang ini sepanjang hari. Jaga-jaga kalau pergerakannya berubah. Bisa saja kemarin malam namun besok pagi, siang, ataupun sore."


Aku pastikan untuk ke Perpusda sambil mengawasi setiap sisi dan sudut Kota Kecamatan setiap hari mulai sekarang. Kalau bisa juga... Aku dapat jejak Dalang ini juga."


(Cakra)


.


"Hebatnya anak ini... Baiklah besok hati-hatilah untuk menjaga Dirimu sendiri ya? Jangan memaksakan Diri dan cepat lari untuk pulang jika Kau merasa terancam. Kami tak akan kemana-mana untuk menjaga Desa Pesisir."


(Aza Shaktani)


.


"Lari...? Kak... Aku ini laki-laki. Kata lari sudah tak berlaku lagi setelah Aku tumbuh besar dengan kemampuanku yang Kuciptakan dan Kukembangkan ini~ Sekalipun Aku bertemu dalang itu nanti, Aku akan melawannya juga meski tahu bakalan mati, heheh!"


(Cakra)


.


"Hoaaam~ Begitukah? Kau ini bukan cuma jago fisik tapi otakmu juga main ya~ Wajahmu juga lumayan ganteng manis dikit. Beda sekali dengan penampilanmu yang anak-anak."


"Camila sudah capek main. Jadi ayo Kita pulang, ini juga sudah larut."


(Mahawardana)


.


"Baiklah, Kita lanjutkan besok lagi pembicaraan ini. Dan untuk Cakra, tolong ingat saran yang tadi diberikan Xerxes, oke?"


(Cokorda)


.


"Ya, ya~ Aku ingat..."


(Cakra)


.


"Kau lihat, Shakta? Anak itu..."


(Shiori)


.


"Ya, rasanya Dia yang memimpin Kita. Sungguh anak berjiwa kepemimpinan besar.(●ˇ∀ˇ●)"


(Aza Shaktani)


.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Esok paginya jam 6, Aku sudah beres-beres dengan setelan baju yang baru diborong kemarin. Sekarang Aku gunakan Jaket Stylish baru bermerek "Gucci" bewarna dominan putih bermotif "Peninsula" berabstrak dengan warna kuning dan merah dengan dalaman Kaos putih bermotif ukiran seni "Leak" dan bergaris abstrak dominan biru dan celana Shirwal baru bewarna hitam serta Sandal Gunung "Carvil" yang dominan putih.


.


Aku suka style baru ini apalagi dengan wajahku yang bisa dibilang ganteng dewasa diusia anak-anak sepantaran yang masih polos, HUEHEHEHEH~

__ADS_1


.


Aku juga dengan pelan-pelan mengambil koper besar yang Kusembunyikan diteras rumah Bang Raka dan yang lainnya dengan cepat dan sesenyap mungkin pergi dari Desa Pesisir untuk pura-pura saja. Berhubung Bang Raka dan yang lain juga pada belum bangun. Untung tak ada noda darah di koper ini.


.


Garuda ternyata memiliki Teknik Mantra unik yang bisa dipakai sebagai penyimpanan spasial. Setelah Dia membentangkan sayapnya, semua barang yang ingin disimpan bisa langsung dimasukkan kesana. Jadi Aku bisa lebih fleksibel


.


Setelah sampai Kota Kecamatan, Aku jogging sementara waktu sambil berkeliling kota sekitar 1 jam untuk mengawasi keadaan. Semua gang kecil, gang sepi, dan jalan sempit serta sekat kosong ditiap sisi jalan dan gedung-gedung padat, semua Kulewati begitu saja.


.


Sejujurnya Aku sangat santai sekarang karena pelakunya Aku sendiri. Jadi sebisa mungkin Aku memanipulasi semua situasi dan kondisi sehalus mungkin jadi Aku memiliki intelektual yang tinggi dan kapasitas pengalaman yang banyak diperoleh dari segi bidang strategi.


.


Kalau dipikir Aku belum tahu apakah masih ada orang tersisa di geng preman-preman yang menjadi Supplier Narkotika itu. Tapi ada beberapa orang aneh terakhir Kulihat 2 hari lalu di gang-gang ini. Makanya Aku kesini. Semoga jawabannya ada didalam koper itu.


.


Sesudah 1 jam, Aku mengunjungi perpusda untuk bersantai dan menikmati waktu pagi dengan sarapan ringan.


.


"Kau rajin sekali ya datang kesini. Padahal Kau masih anak-anak tapi punya effort sebesar ini untuk belajar. Sungguh Kau anak hebat~!"


(Perpustakawan Pria)


.


"Aku biasanya kemari untuk membaca semua buku diberbagai bidang ekonomi dan politik, hehe. Tapi... Apa Kau punya buku dibidang "Expert Parenting? "


( ̄m ̄)"


(Cakra)


.


"E-EH...? Bisa ya anak-anak sepertimu tertarik dengan buku orang dewasa...?"


(Perpustakawan Pria)


.


"Aku punya seorang Adik yang harus kudampingi dan Kusayang sampai Dia besar. Aku tak tahu sikapku ini baik atau tidak sebenarnya, jadi Aku kesini untuk membaca buku itu hari ini. Dan satu lagi, Buku Memasak Sajian Makanan Futuristik dan Mewah, heheh"


(Cakra)


.


"Haiyah~ Kakak yang sangat dewasa dan mandiri yah... Aku tak akan bertanya lebih jauh dari ini. Hmm, baiklah coba Kulihat... Ah, ada satu setidaknya ini versi termutakhir selama tahun 2002 ini. Kau boleh membacanya."


(Perpustakawan Pria)


.


Aku hanya meminjam buku itu dari sana lalu pergi jalan-jalan lagi. Kalau dipikir anak seusiaku seharusnya ada dibangku sekolah dan bukannya berkeliaran jalan-jalan begini. Jadi setidaknya Aku ada inisiatif untuk mendaftar sendiri ke salah satu sekolah negeri, tapi kesampingkan itu dulu.


.


Selanjutnya Aku ke pasar tradisional untuk melihat sayur-mayur dan bahan mentahan karena Aku berpikir untuk mulai belajar masak juga. Pasar ini memiliki lokasi strategis dan gedung luas yang sepertinya dirancang untuk menampung sekitar 300-an lebih Vendor Pedagang, sehingga tak perlu merambah sampai memakan jalan dan menyebabkan kemacetan.


.


Aku berputar-putar melihat setiap sisi pasar yang menjual beragam bahan dan sudah menemukan beberapa vendor yang cocok untuk Kubeli dagangannya. Seperti daging ayam, daging sapi, sawi, jamur tiram, telur, kangkung, dan juga rempah-rempah seperti bawang, ketumbar, pala, lada, dan masih banyak lagi. Sepertinya Aku harus mengunjungi tempat selanjutnya karena ada yang vendor yang berselisih dengan Pihak Keamanan.


.


Lanjut siang hari, mungkin belum sepenuhnya terlambat bagiku untuk mendapatkan pendidikan kan? Makanya Aku coba ke salah satu sekolah untuk mendatangi Guru PPDB disana, siapa tahu Aku masih bisa bersekolah dan punya banyak teman yang sebaya denganku.


.


"Oh? Maaf, nak. Kau ini siapa dan darimana?"


(Satpam)


.


"Aku penasaran apa Aku masih bisa mendaftar ke sekolah? Karena Aku tinggal dipesisir jadi Aku baru kepikiran sekarang untuk bersekolah. Tapi kalau dipikir juga... Aku yatim piatu. Jadi hanya tinggal dengan paman-pamanku."


(Cakra)


.


"Waduh, Aku tidak tahu bagaimana, Kurasa Aku akan mengantarmu bertemu salah satu Guru yang biasanya mengurus PPDB."


(Satpam)


.


Aku sudah mencoba berbicara dengan Guru PPDB itu juga dan hasilnya jelas "Zonk" besar. Karena usia bersekolah minimal adalah 7 tahun, sementara Aku sudah 10 tahun. Yah... setidaknya Aku datang kesana tidak sepenuhnya ambisiku itu pupus.


.


Setidaknya setelah iseng ingin mendaftar sekolah yang gagal, Aku jajan sebentar untuk beli minuman Milkshake dan Sosis Solo kemudian pergi ke kantor kelurahan Kuta untuk berteduh dari terik panas. Sambil melihat-lihat rimbunnya pohon dan tanaman hias di taman sana yang mewah bagiku namun biasa dimata orang. Aku juga mendapati banyak motor-motor keren bermerek "Kawasaki" dan mobil-mobil mahal beremerek "Audi A6" yang banyak terparkir didepan kantornya. Mungkin ada sekitar puluhan...? Semua motor dan mobil itu pokoknya sangat keren sekali bagiku~


.


Sore harinya Aku memutuskan untuk pulang sambil berkunjung ke Dealer Motor "Kawasaki" karena Aku juga terobsesi dengan motor-motor itu. Mungkin Bang Xerxes mau kali ya belikan buatku juga, maslaah belajarnya nanti dulu, hueheheh~.


.


"Kau masih anak-anak tidak disarankan untuk naik motor dulu ya. Masih berbahaya untukmu."


(Dealer Pria)


.


"Aku kemari untuk melihat apakah ada motor yang cocok untuk Om ku pakai. Dia ingin motor baru yang lebih bagus karena yang lama sudah usang. Jadi Aku melihat-lihat kesini. Motornya sumpah sangat keren menurutku."


(Cakra)


.


"Hmm... Begitu ya. Baiklah Aku jelaskan saja dulu speknya, tapi ingat atau tidaknya bukan urusanku ya, haha."


.


Sebelum maghrib Aku sudah harus pulang karena janjiku dengan Mereka. Aku benar-benar membuat DP untuk motor Kawasaki yang Aku inginkan. Aku sengaja bohong agar Dealer itu mau mendengarkanku.


.


Setidaknya Aku pulang ke Desa sebelum waktu maghrib dan langsung ke Kedai seperti biasanya. Bisa Kulihat hanya ada Kak Shaktani dan Bang Wardana. Aku tidak tahu kemana yang lain.


.


"Sudah kembali? Syukurlah kau tidak kenapa-napa."


(Aza Shaktani)


.


"Kau kelihatan berdebu dan seperti dari perjalanan jauh. Kemana saja memangnya?"


(Mahawardana)


.


"Aku pinjam buku dari perpusda, jalan-jalan berkeliling kota dan coba jogging pagi sebelumnya ke gang-gang kecil yang rawan. Soalnya kemarin-kemarin pagi di jam 9 juga sebelum pembantaian misterius malam itu, Aku juga melihat banyak orang berjaket hitam, pake masker, dan topi atau orang aneh lain yang mangkal disana.Dan sepertinya ada beberapa yang berseragam aparat mungkin...? Tapi Kuperiksa pagi ini sangat sepi."


(Cakra)


Pertama kalinya waktu pembantaianku dulu, Aku tidak hanya melihat preman komplek, tetapi juga orang-orang aneh yang seperti sedang menyelundupkan sesuatu. Kebetulan waktu itu dalam bentukan tas raket. Jadi Aku punya indikasi Mereka satu geng kriminal dengan motif berbeda.


.


"?!"


"Apa...?"


"Kau tidak bertemu mereka... rentang waktunya lumayan banyak juga sih."


(Cokorda, Aza Shaktani, Mahawardana)


.


"Kenapa kalian melihatku seperti itu?"


(Cakra)


.


"Tadi pagi ada berita ada ledakan aneh yang sangat besar sampai menghancurkan beberapa tembok bangunan di Kota Kecamatan. Banyak media liputan di TKP sana."


"Jujur ini berita yang mengejutkan Kita lagi di pagi hari padahal desas-desus 2 hari lalu saja belum mereda. Mana korbannya juga punya identitas seperti yang Kau bilang, terlebih... ada polisi juga. CK, mana barang buktinya ada Narkotika Sabu-sabu lagi, sialan."


(Mahawardana)


.


"E-Eh...? Ledakan katamu...? Aku tak mendengarnya sama sekali."


(Cakra)


.


"GIMANA CARANYA...? PADAHAL KAU ADA DIDEKAT SANA TAPI TAK TERDENGAR SEDIKITPUN???"


(Mahawardana)


.


"Aku juga tak merasakan hawa keberadaan "Dalang" itu. Aku jogging selama 1 jam dengan tujuan mencari hawa keberadaannya dengan "Amoghas"-ku secara halus. Tetapi sesudah 20 kali berputar-putar berkeliling terus hasilnya nihil."


"Kalau Dia bahkan tak bisa Kurasakan hawa keberadaannya, mustahil Aku bisa mendengar suara ledakan jika memang Dia pelakunya."


"Lagipula orang-orang kota juga tidak ada yang ribut saat jam 9 pagi waktu itu. Aku tahu karena di perpusda Aku sambil memerhatikan keadaan luar juga."


.


"Sial, Dia ini sungguh sangat berbahaya. Jelas tak ada yang menduga kejadian besar menggemparkan ini. Belum ada seminggu setelah pembantaian misterius, hari ini di pagi hari ada laporan tentang ledakan aneh yang membunuh orang-orang di gang itu. Korbannya juga Penyelundup Narkoba lagi."


(Cokorda)


.


"Tapi ternyata Cakra benar, pola yang diprediksi kemarin benar-benar terjadi hari ini. Pergerakan waktu tak terduga dan Target yang dipilihnya. Masalahnya Dia juga tak bisa dilacak sama sekali."


(Aza Shaktani)


.


Sesungguhnya Aku yang memanipulasi situasi ini juga terjepit. Garuda juga sebisa mungkin menekan "Angkara" dalam tubuhku untuk menghindari kecurigaan dari semua orang untuk antisipasi saja.


.


“Tapi kasus hari ini akan berbeda. Masyarakat mulai mencurigai Pemda Kecamatan karena ada korban polisi bersama dengan barang bukti narkotika. Mengingat banyak sekali tindakan sewenang-wenang yang merugikan bukan cuma Masyarakat Kota tapi juga Desa Pesisir.”


(Shiori)


.


Bisa Kulihat juga Bang Raka, Bang Xerxes, dan Bang Wardana kembali agak malam juga, setidaknya 30 menit setelah Aku sampai.


.


“Hey, Kami sudah kembali. Temuan kali ini adalah cairan elemen.”


(Agungraka)


.


“Eh…?!”


“Apa??”


“Kali ini cairan ya…”


(Cokorda, Shiori, Aza Shaktani)


.


“Lihat. Ini adalah cairan bersifat elemen namun tak bisa diklasifikasikan juga. Kalau dipikir Kami terlalu siang saat datang kesana, jadi mungkin kadar kemurnian elemental pada cairan ini juga menurun drastis dengan cepat.”


(Mahawardana)


.


“Serbuk dan Cairan… ARGHHH, INI SULIT SEKALI DIPECAHKAN~”


(Xerxes)


.


“Cairan… Kalaupun ini Mantra, emang ada yang berwujud cairan? Setahuku 5 Mantra Elemen kan semuanya berwujud gas dan padat, kan?”


“Api, Guntur, Bhuwana, Rimbawana, Hima.”


“Itu 5 Mantra Elemen yang ada di Dunia ini kan? Lantas kenapa sekarang Kita melihat ada Mantra berwujud cair…?”


(Cakra)


.


“Benar. Itulah yang menjadikan penyelidikan Kita sangat sulit. Yang pembantaian kemarin juga belum ketemu “Clue” tipis sedikitpun, ini lagi nambah kasus ledakan aneh.”


(Agungraka)


.


“Cakra, bukan Kau yang menjadi “Dalang” dibalik kejadian berantai ini, kan?”


(Mahawardana)


.


“Wardana!”


(Aza Shaktani)


.


“…?!”


(Cakra)


.


Aku bisa mencurigaimu kalau kejadian ini bisa berhubungan dengan ambisimu untuk melengserkan pejabat-pejabat camat yang korup itu. Aku bisa katakan kalau di Hari Pertama adalah “Atensi Publik” dan Hari Kedua adalah “Mengekspos Oknum” agar Pemda Kecamatan Kuta dicurigai Publik, bukan?”


(Mahawardana)


.


Bang Wardana sangat serius dan terlihat seperti menahan marah jika benar Aku pelakunya.


.


“Kau mau bilang jika Cakra yang memiliki Mantra misterius ini? Meskipun begitu Kita tak bisa merasakan adanya Mantra pada Cakra, Kau juga tahu sendiri.”


(Cokorda)


.


"Kalau Cakra memang punya Mantra, Kita harusnya bisa merasakannya juga kan, Wardana..."


(Shiori)


.


"Hmph..."


(Xerxes)


.


"Aku harap Diriku tak berpikir berlebihan soal prasangka ini. Tapi naluriku sebagai penyelidik mengatakan kalau Kau adalah "Dalang" sejatinya."


.


"Kalau memang iya Aku pelakunya, lantas bagaimana caraku memiliki kekuatan dan kemampuan langka yang bahkan Bang Cokorda dan Bang Raka sangat waspadai?"


(Cakra)


.


"..."


(Semua Saudara & Kakak Perempuanku)


.


"Sekuat apapun Diriku dan seberapa hebat kemampuanku saat ini, Aku masihlah anak berumur 10 tahun. Masih terlalu cepat Aku mencapai tingkatan Pendekar yang berkekuatan Dunia seperti Kalian semua."


"Aku memang mengatakan ingin melengserkan para pejabat itu dalam waktu dekat. Namun kenyataannya Aku memprediksi bakal makan waktu 10 tahun Bagiku untuk bisa melaksanakan rencanaku."


"Aku tak ada hubungan apapun dengan Mantra-Mantra berlemen asing ini. Bagaimanapun Aku hanya terlahir dengan bakat kejeniusan intelektual dan Kemampuan alamiah untuk menggapai tingkatan Vajra "Samadhi" dan "Amoghas" ditingkat "Menengah"-ku sekarang."


"Jadi apa Kau... puas dengan alibi konkritku?"


(Cakra)


Aku menjawab interogasi Bang Wardana dengan ekspresi datar dan dingin seperti sedia kala. Naluriku mengatakan bahwa Diriku terancam karena Bang Wardana adalah salah satu Pendekar yang kekuatan Mantranya juga asing dan tak Kuketahui. Kak Shaktani juga, dan juga Camila yang terus membuatku kepikiran.


.


Seketika Aku teringat akan ancaman-ancaman kematian yang datang menusuk dari Bang Wardana. Namun yang ini rasanya lebih besar sehingga semua ancaman yang dahulu diarahkan padaku seakan tidak ada apa-apanya sama sekali.


.


Secara tak sadar "Samadhi"-ku bereaksi untuk melindungiku sampai menyelubungi tubuhku dengan aura merah yang sedikit meluap. Mungkin karena "Samadhi"-ku sudah ditingkat maksimal untuk saat ini dan tingkatan maksimal ini menyesuaikan dengan tubuhku dimasa kini, setiap ada situasi yang mengancam nyawaku, "Samadhi"-ku telah menjadi pasif alami yang membuatku unggul dari rata-rata Pendekar yang lebih mementingkan "Amoghas" ketimbang "Samadhi" Mereka.


.


"Cakra..."


"Hmm..."


"Fuh..."


(Aza Shaktani, Agungraka, Mahawardana)


.


"Maaf Cakra. Ini... pertama kalinya ada kasus yang meninggalkan jejak yang hampir mustahil didapat namun jejak itu juga menjadi akhir dari kasus yang tak terpecahkan."


"Aku rasa Aku jadi sinting dan berprasangka padamu karena baru bertemu beberapa hari."


(Mahawardana)


Dia mulai kembali tersenyum lelah dan pasrah keadaan. Aku tidak menyalahkan itu juga sih, siapa yang tidak pusing dengan kasus tanpa jejak.


.


Mungkin Bang Wardana bisa menyelesaikan kasus tanpa jejak sekalipun, namun Kasus yang Kubuat ini sengaja Kutinggalkan sedikit jejak namun itu hanya menjadi ekor panjang seekor kadal. Yap, kasus yang Kubuat tidak sepenuhnya Kasus Tanpa Jejak, namun "Kasus Paradox".


.


Seperti halnya Garuda yang membersihkan sisa-sisa Mantra angin yang masih berhamburan. Mantra ini sengaja tidak diuraikan sepenuhnya, namun dihilangkan kadar kemurniannya. Jadi yang tersisa hanya wujud daripada elemental kosong. Jadi efek dari menyelidiki semakin dalam kasus ini, adalah semakin banyak ketidakpastian dan penyelesaian yang tak kunjung membuahkan hasil.


.


"Samadhi"-ku kembali tenang dan Aku juga tidak merasakan "Tremor" dingin lagi. Akhirnya Aku menghela napas sambil tersenyum puas juga. Kupikir Aku bakal ketahuan juga.


.


"Interogasi barusan sudah seharusnya Kau lakukan juga, Bang. Aku memaklumi itu. Jadi tak masalah."


(Cakra)


.


"Cakra..."


(Mahawardana)


.


"Begitulah tugasmu sebagai seorang Ayah juga. Kau harus senantiasa waspada akan orang asing yang baru Kau kenal. Kau harus melindungi rekan-rekanmu, orang tercinta, dan juga buah hatimu untuk antisipasi dari ancaman tak terduga."


"Aku sudah ngantuk karena jalan-jalan jauh seharian penuh. Jadi Aku mau pulang duluan, Bang."


(Cakra)


Aku pulang duluan karena memeang Aku sudah lelah dan mengantuk. Aku sama sekali tidak kesal karena Aku sepenuhnya memahami arti kekeluargaan dan kebersamaan dalam sudut pandangku ini. Dan itu juga bukanlah naluri penyelidik semata, tetapi juga naluri seorang Ayah. Itulah yang Kupikirkan dalam hatiku.


.


“Kau anak kecil yang sungguh mengerikan. Bisa mengskakmat seorang “Agen Rahasia” serapih itu dalam keadaan terdesak. Kalau tadi adalah acara debat, Satu Negara Indonesia ini akan menjadikan Mahawardana sebagai bahan tertawaan. Kau sudah tak bisa dibilang anak-anak lagi. Aku yakin Cuma masalah waktu sampai Kau melampaui Mereka semua~ Hihih.”


(Garuda)


.


“Aku secara spontan mengatasinya karena Aku membaca salah satu Buku Psikologis dari Bang Cokorda dan Buku Strategi yang sudah usang di Perpusda. Kupikir pengalamanku selama ini dan buku-buku berharga itu yang menyelamatkan rencana Kita, HUEHEHEH~”


(Cakra)


.


“Haish… Kuharap Mahawardana baik-baik saja. Bisa Kulihat Dia merasa bersalah kepadamu.”


(Garuda)


.


“…”


“Kau bilang… rasa bersalah ya? Entahlah, pokoknya mentalitas dan pikiran dewasaku sudah menjadikan segala omongan dan pendapat omong kosong orang itu Cuma bacotan tak berguna untukku~ Makanya hidupku selalu tentram hatinya walaupun banyak masalah sih, hahah”


(Cakra)


.


Aku sudah sampai rumah Bang Wardana duluan. Setidaknya Aku tidur di sofa saja agar bang Wardana dan Kak Shiori bisa tidur bersama Camila. Kutulis saja pesan singkat seperti itu agar Dia merasa enakan.


.


“Ugh… Gawat, anak itu pasti ngambek setelah seenaknya Kau interogasi secara sinting begitu.”


(Xerxes)


.


“Ya, ya… Aku setuju. Mana Kau yang mulai malah Dia yang menang telak, KEHEHEHAHAHAHAH~”


(Agungraka & Cokorda)


.


“Woylah, dibahas lagi Anj*** ( ̄┰ ̄*)”


(Mahawardana sambil meminum teh tarik dengan loyo)


.


“Tapi jujur, kali ini Kau keterlaluan, Wardana. Kau seperti mengatakan seolah-olah Dia penjahat saja, sungguh kejam. /(ㄒoㄒ)/~~”


(Shiori)


.


“Hm~ Hm~ Dia jadi merasa kalau Dia bukan bagian dari Keluarga Kita kan jadinya~?”


(Aza Shaktani)


.


“Akhhhh~ Kalian berdua juga malah ikut ngompor~!”


(Mahawardana)


.


“Sudahlah, toh Cakra hanya bilang kejujurannya. Dia juga sedikit meluap Vajra “Samadhi”-nya karena Kau membuat nyawanya terancam. Cakra tidak ngambek denganmu kok. Kau saja yang “Over” reaksinya.”


(Cokorda)


.


“Ukh… betapa pahitnya Aku malah sangat bocah dibanding Anak yang sangat dewasa itu…”


(Mahawardana)


.


Semua sudah pulang kerumah masing-masing. Bang Wardana dan Kak Shaktani bersama Camila mendapatiku tidur di sofa dan membaca surat pendekku


.


“Tak perlu merasa bersalah, oke? Yang Kau lakukan sudah benar. Jadi gausah ga enakan~ Cuma gara-gara interogasi ringan masa Kita jadi musuhan? []~( ̄▽ ̄)~* ”


*NOTE CAKRA


.


“Haish… maaf ya, anak ganteng. Baru sehari tapi Aku sudah jadi Ayah yang buruk. Sudah ayo tidur saja sama Shakta, sofa ini teritoriku, bocah sialan, ahahaha~”


(Mahawardana)


Aku bisa merasakan dalam tidurku Dia menggendongku ke kasur. Benar saja Dia merasa bersalah di hatinya karena tadi. Setidaknya itulah kelebihanku yang memiliki Garuda sebagai roh didalam tubuhku, jadi Aku bisa melihat semua aspek baik kekuatan, intelektual, sifat, maupun perasaan yang ada didalam satu individu manusia. Jadi Aku bisa paham.


.


“Duh, duh. Cakra sayang, Tidur yang pulas ya. Sampai Kau melupakan perselisihan malam ini.”


(Aza Shaktani)


Dia memelukku dengan eratnya sehingga membuatku merasa sangat hangat dan nyaman. Mungkin maksudnya agar Aku merasa baikan padahal Aku tidak masalah sama sekali dengan yang tadi.


.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


CHAPTER 6 END


.


FOLLOW AKUN SOSMED @bangjoule_uw UNTUK MEMUDAHKAN MEMBACA NOVEL "PENGEMBARA TAK TERTULIS"!!!


.


JIKA ADA PENDAPAT YANG MAU DISAMPAIKAN, SILAKAN KOMEN DIBAWAH DAN FOLLOW AKUN INI UNTUK NOTIFIKASI CHAPTER SELANJUTNYA YA~


.


JANGAN LUPA JUGA BACA NOTE AING YA, PENTING JUGA BIAR GA BINGUNG BACANYA ATAU ADA PERUBAHAN APA🤣☕

__ADS_1


__ADS_2