Prahara Sang Pengembara Tak Tertulis

Prahara Sang Pengembara Tak Tertulis
Chapter 10 : Cakra Airlangga VS Masatsu Kohtomikami


__ADS_3

"Tunggu... "Masatsu"? Itu adalah Nama Legendaris yang tak sedetikpun berhenti dibicarakan oleh Dunia!"


(Agungraka)


.


"Cih... Pantesan ada yang ga beres. Ternyata yang Kita lawan dari tadi Pendekar Legendaris beneran."


.


"Bukan. Kau memiliki "Nama Lokal"-mu sendiri, iya kan?"


"Jākurai No Masatsu"


( SAMURAI IBLIS MASATSU / 「「邪快の摩擦」 )


(Cokorda)


.


"Bodoh ( ̄_ ̄|||). Kalian baru sadar sekarang...? Apa bahkan Kalian tak punya Koran atau TV, huh..."


.


"TUNGGU, HEY!!! BUKAN ITU! APA-APAAN BOCAH KEPAR*T YANG ADA DIHADAPANKU INI HAH??! GIMANA CARANYA DIA PUNYA KEMAMPUAN YANG SANGAT MAHA DAHSYAT SEPERTI TADI???


╰(艹皿艹 )"


(Masatsu Kohtomikami)


.


"Haish... Kita baru bertemu tapi apa-apaan caramu berbicara? Kenapa Kau marah cuma gara-gara hal remeh itu tadi~?"


(Cakra)


.


Huh... Etikanya beneran buruk. Pantas Bang Xerxes dulu bilang mungkin Aku tak akan terlalu menyukainya.


.


"APA?! REMEH KATAMU??? SOMBONG SEKALI HEH, BELUM PERNAH BIKIN VISA AJA BAC*TNYA BESAR SEKALI~ KAU KIRA KAU YANG TERKUAT? MUNGKIN IYA, TAPI DUNIA INI LUAS, BO--!!!?"


(Masatsu Kohtomikami)


.


"Śabdakrama"🌀💣


( Ledakan Sonik / Sonicboom )


.


*SWIRL


*ZUUUUUONG


.


Dia menjengkelkan. Kubuat saja Proyektil Bola berkonsentrasi Positif-Negatif seperti "ion" supaya membuat ledakan angin yang masif.


.


Area sekitarnya menjadi hemapsan debu dan puing berterbangan walaupun cuma sebentar. Tapi mana Dia...? EH...?!


.


*ZWOSH


*SRARAK--


.


Dia muncul dengan sangat mengejutkan dari udara. Jujur itu membuatku sangat syok karena Dia seperti muncul dari dalam "udara". Seperti berteleportasi...!


.


Tapi teleportasinya sangat unik. Dia muncul dari "Dimensi Spasial". Kurasa Aku bisa menggunakan kata itu saja jika ingin mendeskripsikannya secara imajiner.


.


Dia menghilangkan Diri kemudian secara tak kasat mata bergerak tanpa hawa kehadiran maupun suara. Disamping itu Ia muncul dengan sangat mengerikan bersamaan dengan Katana-nya yang mengamuk hebat yang masih sama, berbalut Api Asing dan Vajra Tingkat Ekstrim sekaligus.


.


Dia muncul dari samping kiriku dan mencoba menebasku dengan serangan pasif miliknya tadi. Namun yah... Aku menghindar saja menyampingkan badanku serong kekanan sambil menggeser kaki kiriku. Aku akui itu membuatku terkejut. Padahal sudah 4 tahun tetapi Aku masih bisa kaget dengan serangan ganas itu.


.


*SRINKK


*BATS-BATS


*SWING~


.


"Kita lihat seberapa tinggi kemampuanmu, bocah brengs*k. Ini adalah konsekuensi karena meremehkan Dunia."


(Masatsu Kohtomikami)


.


"Kau pikir Aku tidak tahu? Makanya Aku tak menyiapkan banyak kemampuanku karena Kau orang asing yang sangat rusuh."


(Cakra)


.


Dia mulai menghilangkan rasa main-mainnya dan dengan kesal menyerangku degnan serius. Namun biasa... Aku mengacuhkannya dengan wajah senyum mengejek. heh.


.


Pertarungan berlanjut kembali. Dia menggunakan banyak sekali rentetan tebasan kuat untuk memojokkanku. Aku memang mundur, tetapi Aku memblokir setiap arah Katana-nya dengan tangkisan tangan kosong.


.


Aku mempercepat mobilitasku dan mulai menyerang-nyerang setipis mungkin dengan Vajra dan Mantra "Angin"-ku sekaligus. Jadi Aku tidak akan terlalu rugi stamina.


.


Dia menebas dengan mematikan sambil berpindah-pindah posisi tangannya. Ternyata Kedua tangannya sangat sinkron dan fleksibel. Jadi Akurasi Katana Dia tidak menurun sama sekali dari segi Daya Hancur maupun Kecepatannya.


.


Sambil berlari, menebaskan Katana berlapis Kekuatan-Kekuatan Magis yang luar biasa ganasnya dan mengubah posisi-posisi kaki dan tangan, serta pola serangannya yang tak nampak celah.


.


*SRARARAT--!!!


Aku sempat melihat sedikit kesempatan tipis, kemudian Kuaktifkan seluruh kekuatan Mantra maupun Vajra dari dalam Tubuhku secara maksimal. Sehingga Aura yang sangat kental bewarna merah cerah menyelubungi Tubuhku dan mulai meningkatkan akselerasiku untuk menepis tebasan Katana dari tangan kiri kemudian menyodok leher depannya dengan Teknik Tangan kananku yang seperti Tusukan berlapis-lapis Kekuatan Vajra dan "Angin"-ku.


.


Sambil Kuserang bersamaan bagian Dada kirinya dengan serangan menebas Tusukan Tangan kananku sehingga menimbulkan sayatan besar di dada kirinya sambil Kuterjang kedepan dengan ekspresi serius dan waspada.


.


Menyebabkan Dia lumpuh sementara dan terluka sedikit. Iya, Dua serangan di satu waktu dengan satu tangan yang berakselerasi dan akurasi yang tinggi. Namun sepertinya percuma ya? Dia hanya terluka ringan padahal Aku melancarkan serangan yang berskala masif walaupun hanya dari gerakan tangan saja.


.


"Urgh... Ohok-ohok! Gila, apaan itu tadi? Memangnya seorang bocah bisa bergerak seperti itu~? AKU JADI INGIN MENGHABISIMU SAMPAI MAMPUS, BRENGS*K!!!"


(Masatsu Kohtomikami)


.


*SYAT


*TRAK!!!


*WUSH-WUSH-WUSH-ZWUNG-ZWONG-ZWONG


*SRAAAA


.


Heh, Tak akan Kuberi Pak Tua sepertimu bicara basa-basi dan Kuterjang saja dengan Konsentrasi Aura magis yang beranomali deras menyelubungi seluruh Tubuhku. Sehingga tiap serangan frontal Dariku memiliki Daya Hancur yang sangat masif setiap detik serangan, dan berakurasi maksimal diikuti akselerasi yang tinggi juga.


.


Melesat kedepannya dengan bermanifestasi menjadi angin, ini juga membuatnya kaget bukan kepalang karena Ia merasa kalau Aku meniru tekniknya, padahal tidak. Aku sudah memilikinya 4 tahun yang lalu.


.


"HEH, SIAL! APA KAU MENIRUKU JUG---"


"KUAHKK...!!!"


(Masatsu Kohtomikami)


.


.


.


Melesat kedepan posisinya,


.


menangkis Katana ganas yang auranya mengamuk-ngamuk dengan ayunan kuat tangan kananku yang seperti sayap burung besar,


.


Memanifestasikan "Bola Konsentrat kecil" diujung telapak tangan kiri, kemudian menyerang ulu hatinya dengan Telapak tangan kiri yang Kubentangkan dengan seluruh kekuatanku,


.


Memutar tubuhku dan melancarkan serangan menebas tangan kanan,


.


Dan dengan tangan kanan tadi, meninju pinggangnya dengan penuh aura,


.


Dia menebaskan Katananya kearah kanan menuju leherku yang terbuka, Kuputar badanku ke "Blind Spot"-nya sehingga Serangannya meleset,


.


Sambil berputar diudara, Aku mengayunkan Tusukan tangan kiriku dengan kekuatan masif untuk melumpuhkan lehernya dan kena dengan telak sampai muncul Aura Merahku yang beriak dengan lebat seperti arus angin saking kuatnya.


.


Terlihat Aku membelakangi bagian kirinya dan Dia oleng sambil menahan sakit dengan tangan kirinya yang memegang Katana hingga meleset.


.


"CK...! URGH!!! KAU INI NYAMUK ATAU APA HAH?!!"


(Masatsu Kohtomikami)


.


"KEUK...!"


(Cakra)


.


*ZRATTT-GREP--🦶𓂏▬▬ι═══════ﺤ


*SYUT🔄


*DUAKH!!!🤛💥🔥🔥♨️


.


Yah... Teknik Rentetan serangan berkombinasi masif tadi ternyata hanya membuatnya terluka parah namun tidak menghambat tubuhnya.


.


Mana Dia dengan cekatan melepas genggaman Katana-nya yang akhirnya menggenggam lengan kiriku seutuhnya,


.


Ditarik kebawah olehnya sambil Ia mencondongkan badannya kearah depan dan gilanya lagi, Dia menangkap Katana dengan mulutnya, yang lepas dari genggaman tangan kiri tadi dengan cepat sambil menarikku kebawah,


.


Memutar tubuhnya dengan cepat dan Meninjuku dengan Tangan Kanan yang luar biasa mematikan dan ganas kekuatan Api Asing beserta Aura Vajra-nya.


.


Serangan besar itu mengenai seluruh tubuh bagian kiriku, sampai Aku muntah darah dan terpental jauh. Meski begitu Aku masih mempertahankan keseimbangan Kakiku supaya Aku tidak tersungkur.


.


Sumpah, serangan simpel Dia begitu bahkan membuat Tubuhku terluka yang lebih fatal darinya walaupun "Samadhi"-ku yang diperkuat oleh "Dhyana" sudah mengalir dan menyelubungi Tubuhku secara pasif dan dinamis. Jadi sepanjang waktu, tiap detik juga Tubuhku selalu terlindungi oleh Vajra "Samadhi" dan "Dhyana"


.


Walaupun Diriku sudah mengalami luka yang besar dan fatal karena Tinjuan Beraura Ganas yang Mematikan miliknya mengenaiku dengan telak tanpa bisa bereaksi, Aku telah menyerangnya dengan Teknik serangan beruntun berakurasi tinggi dan akselerasi yang dominan bersamaan dengan Kekuatan berdaya hancur yang beraura masif yang bervolume besar.


.


Rentetan Tangkisan-Serangan Frontal-Perubahan Mobilitas-Hit and Run-dan terakhir Serangan Mantra yang sangat ganas dan tajam Kulancarkan dengan amukan yang berkonsentrasi super.


.


Sehingga Orang itu juga mengalami luka yang semakin bertambah dan berakibat fatal karena tubuhnya yang sedikit robek dibeberapa bagian seperti lengan, Tubuh Tengah, terutama dada dan kepalanya. Darahnya juga mengucur lumayan banyak


.


Bang Cokorda dan Bang Raka melihatku dengan ekspresi tak percaya dan tercengang dengan Perkembangan signifikanku. Mereka juga pasti melihat jika gap antara Diriku yang sekarang maupun 4 tahun yang lalu itu perbedaannya seperti langit dan bumi.


.


"Huh... Hah... Kau bilang kalau Dunia itu luas, tapi Kau sendiri memandang remeh Diriku."


(Cakra)


.


Aku berbicara seperti itu dengan ekspresi wajah yang tersenyum sangar menahan beratnya Luka Fatal ditubuhku sambil mengusap darah dari mulutku. Tak sama sekali Aku memperlihatkan rasa takut ataupun rasa teror.


.


"Hah... Sialan ini memalukan. Serangan kombinasi apa itu sebenarnya...? Aku baru melihat pola serangan yang sangat ganas itu...!!!"


.


"Jujur saja, Dunia mengetahui eksistensiku sebagai Samurai Legendaris dari Jepang. Banyak orang-orang diseluruh Dunia takut akan momok mengerikan kekuatanku dan namaku yang menjadi salah satu junjungan tertinggi di Jepang."


.


"Jika Mereka melihatku dalam kondisi seperti ini, Dunia akan gempar dan berusaha sekeras mungkin mengejarmu sampai ujung Duni~ HEHEH!!!"


(Masatsu Kohtomikami)


.


"Apanya yang luar biasa... hah... kalau hanya melukaimu sampai berlumuran darah ringan dan tersayat tipis-tipis begitu? Kupikir ini normal untuk orang sekaliber monster sepertimu."


(Cakra)


.


"Heh... Masih batu saja tak tahu jika Aku ini Samurai Legendaris yah~ BAIKLAH! SELESAIKAN SAJA PERTARUNGAN INI WALAUPUN KAU BERAKHIR DI--"


"?!!!"


(Masatsu Kohtomikami)


.


“Komet Divyatvam : Śatāni Vāyupracanḍāni” 🌀☄️☄️☄️☄️☄️💥💥💥


( Komet Badai Ilahi : Ratusan Badai Dibalik Gemuruh Langit / Tempest of Divine Comet : Raging Sky of Hundreads Gale)"


.

__ADS_1


Bodoamat. Aku memperluas kapasitas dari Teknik Mantra Angin "Komet Divyatvam" menjadi Proyektil Komet Angin berlapis "Amoghas" tingkat tinggi bewarna merah pekat dengan jumlah tak terhitung yang Kulancarkan dengan membentangkan kedua tanganku sekaligus dengan akurasi dan akselerasi maksimum.


.


Ekspresi wajahku memang kelelahan, namun Aku masih sanggup bertahan. Orang itu terkena dengan telak dan nyaris tak bisa menangkisnya satu per satu karena kecepatannya yang diluar batasan Dirinya.


.


Sekarang Tubuhnya terhambat karena luka parah tadi, namun masih kuat untuk bertahan. Tetapi pada akhirnya Dia terkena serangan proyektil Komet beruntun yang menyerang seluruh Tubuhnya sampai dengan sangat ganas.


.


"KUAAARGH...!"


(Masatsu Kohtomikami)


.


"APA...?! INI SUNGGUHAN CAKRA YANG KITA KENAL?!!!"


.


"SEMUA AURA KEKUATAN YANG MENDOMINASI... SENI BELADIRI YANG BELUM PERNAH ADA... DAN NUANSA DIRINYA YANG SANGAT DINGIN DAN MEMATIKAN TAK PANDANG BULU..."


(Agungraka)


.


"Rasanya sungguh berbeda dengan 4 tahun yang lalu... Sungguh diluar nalar, sangat luar biasa tumbuh kembangnya yang terlampau jauh dari Dirinya yang dulu."


(Cokorda)


.


"Fuhhh~ SUNGGUH ANAK YANG LUAR BIASA BERBAKAT..."


(Cokorda & Agungraka)


.


Dia terpental kebelakang dan tersungkur. Tak Kuberi jeda, Kulancarkan Teknik berikutnya dengan cekatan. Karena diakhir-akhir ******* ini, Aku menyadari sesuatu kalau Tubuhnya tiba-tiba pulih setelah Dia melepaskan seluruh Kekuatan Api Asing beserta Vajra-nya.


.


Dia sudah punya kapabilitas dan kemampuan yang mengerikan, tetapi punya kekuatan regenerasi tak masuk akal juga...?! Aku masih tak tahu mana yang benar, tetapi naluriku tidak pernah salah, kalau Tubuhnya benar-benar pulih total sebelum Aku mengintervensi Pertarungan sebelumnya.


.


Makanya Aku agak khawatir sekarang bagaimana kalau Dia beregenerasi secara aneh lagi tanpa Kusadari...?


.


"Asurāṇāṁ Pāpasthānam"


(Ruang Dosa Para Iblis / Evil's Court of Sins Altar)


.


*ZUONGGG🌀


*ZRARAK-ZRAK-ZRAK-SRAT-SRAT💥💥💥🌀🌀🌀


*ZRASS🌪️


.


Kumanifestasikan selubung berarus angin raksasa yang menciptakan anomali angin yang sangat deras berkonsentrasi tinggi. Ditambah dengan daya hancur setiap bilah angin didalamnya yang saling memantul satu sama lain apalagi bertabrakan dan menjadi baru.


.


Itu adalah Teknik yang menciptakan Domain Area yang sangat ganas dan mematikan jika terperangkap sedikit saja. Karena Teknik ini sangat kuat untuk mengo*ak Tubuh Musuh dan memecah segala bentuk Kekuatan Magis yang ada didalam Selubung Raksasa ini.


.


Orang itu tambah terluka lagi dengan erangan sakit yang keras. Namun rasanya seperti dibuat-buat, entah itu serius atau sengaja main-main. Aku yang sangat waspada dan serius sekarang seperti mendapatkan kesan jika Aku semakin bersemangat, Orang itu akan memberikan "Surprise" yang tidak menyenangkan.


.


Jujur Tubuhnya mengeluarkan darah lagi dengan luka berat disekujur tubuhnya sampai pakaiannya cimpang-camping. Efek dari Arus Angin dan Proyektil ganasnya yang semakin beranak-pinak setiap detik karena tidak bisa keluar dari Domain milikku.


.


"UHUKH...! UHUKH... HAISH... KAU INI TEROR ATAU APA HAH...? SUMPAH RASANYA PEDIH DAN SERASA TUBUHKU TERKOYAK."


.


"Tapi sebenarnya apa ini...? Kekuatan Angin... Apakah ini Mantra atau Kekuatan yang tak Aku mengerti...???"


(Masatsu Kohtomikami)


.


Dia masih bisa berdiri setelah semua teknik yang berkekuatan penghancur skala besar. Kalau dipikir aneh, Orang sekaliber Dirinya bisa dengan mudah memecah Teknik Selubung Raksasa itu dari awal kalau Dia mau.


.


Apalagi Orang itu adalah tipe yang tak membiarkan kelonggaran ataupun celah sedikitpun meskipun secara bicara Dia memang arogan. Misal Dia bisa saja berteleportasi dengan Teknik Api Asingnya yang aneh tadi untuk menyerangku dengan brutal.


.


Apalagi menggunakan Elemental Api Asingnya ini untuk membakar habis Selubung Udara Raksasa milikku. Ini seperti "Kekuatan Dia yang menolak keluar". Bukannya "Dia yang tidak mampu mengeluarkan Kekuatannya".


.


"Uhukhh... Kau... akan tahu setelah masuk rumah sakit lokal~ Pak Tua sialan."


(Cakra)


.


*SRINGGG


*ZROOOO


.


Aku naikkan kembali tekanan Aura Mantra dan Vajra yang menyelubungi Tubuhku secara maksimum dan berkapasitas volume besar yang tersisa.


.


"CAKRA...!!!"


(Agungraka)


.


" Seriusan?! Orang itu benar-benar terjerembap sangat serius..."


(Cokorda)


.


*TAP TAP TAP TAP!!!🦶


*SYUNG~✨


*ZWONGGG🌌💫🟥💨


.


Aku muncul lagi tepat dihadapannya yang sudah waspada. Postur tubuhnya mungkin sudah setengah lumpuh, namun Ia masih bersiap untuk menggunakan staminanya yang tersisa untuk menghadangku


.


"Dve chakṣitā---"


"URGH...!!!?"


(Cakra)


.


*SRET


*BATSS WUSHH~!!! ▬▬ι═══════ ﺤ 💥💥


.


Sial... Benar kan Dia ga sendiri. Disaat-saat terakhir Kulancarkan Teknik "Dve chakṣitādhaḥ", ada Orang lain yang muncul entah darimana dan dengan cepat melesat kearahku sambil menebaskan Katana miliknya yang berbalut Vajra "Amoghas".


.


.


Namun untung, Vajra "Dhyana"-ku sudah naik level menjadi Tingkat Menengah, Jadi Aku bisa bereaksi dengan cepat dan tepat menahan Katana-nya dengan Telapak Tangan kanan.


.


Akibatnya karena memaksa, tangan kananku berlumuran darah berhubung Kekuatan Spiritual untuk bahan bakar Mantra sudah habis diikuti dengan perpindahan stamina yang terlalu tiba-tiba membuat Tubuhku berdenyut keras dan akhirnya seluruh Kekuatan Magis yang menyelubungi Tubuhku terpecah dan menghilang.


.


Tak cukup disitu. Aku melihat setelah menahan Katana Dia, Katana-nya tiba-tiba memanifestasikan Elemental Api untuk menyelubungi seluruh bilahnya dan meledak dengan kuat.


.


Beruntung Aku menarik tangan kananku dengan cepat namun Aku tak sempat mengaktifkan lagi Kekuatan Vajra dan Mantra Milikku.


.


*GUSRAKK


*BRAK


.


“KOHOKH…! Sialan…”


“!!!”


(Cakra)


.


*DUAKH!!!


*SRAAK


Aku oleng kekanan dan terpental jatuh karena ledakan api yang tiba-tiba dari dalam Katana tadi. Kekuatan dan kemampuan Orang yang baru muncul itu tidak main-main… Setidaknya dibawah setingkat atau dua tingkat dari Kohtomikami.


.


Tidak cukup juga, Aku yang sedang berusaha bangun tiba-tiba dikejutkan oleh Orang lain lagi yang menendangku dengan sangat cepat dan kuat. Seperti dibogem bongkahan besi jujur saja. Orang ini tidak memiliki Mantra seperti Orang yang tadi menebasku, Orang ini murni memiliki Vajra saja.


.


Aku tidak sepenuhnya lengah dan terkena sodokan kakinya yang sangat kuat. Aku menatap tajam kaki kanannya yang menyodokku dengan brutal. Disatu sisi Kumanfaatkan gaya dorong tadi untuk sedikit menebas lengan kiri Orang itu yang terbuka dengan Tusukan tangan kananku.


.


Jadi Dia rugi, Aku juga rugi, HEHEH. Aku terpental kemudian bertahan sambil berdiri, dan Dia berekspresi membelalak dengan melihat tangan kirinya yang tersayat sangat dalam sampai segumpal darah mengalir dari tangannya.


.


*SYUT


*SRAAA


.


“Huh… Bangs*t. Anak ini benar-benar monster padahal masih belasan tahun.”


(???)


.


“Mengingat Prestasi Gemilangnya 4 tahun yang lalu, wajar jika Dia yang dimasa kini benar-benar jauh melampaui batasannya sendiri dan memiliki kapabilitas yang luar biasa kuat dan diatas rata-rata Orang Kuat~”


(???)


.


Kulihat Orang yang tadi berada didekat Kohtomikami sekarang melesat kearah temannya sambil menggunakan “Mantra Api”-nya untuk menutup luka sayatan tadi. Tapi kenapa Dia tahu soal kejadian besar 4 tahun yang lalu? Jangan-jangan Dia tahu identitasku…?


.


Aku benar-benar sudah kehabisan Kekuatan Spiritual beserta Kekuatan Magis-ku. Jadi Sudah tak ada kemungkinan menang lagi. Namun Aku yang sudah mengalami Luka berat seperti lebam dan banyak luka tebasan masih berekspresi datar dengan tenang sambil waspada jaga-jaga Mereka benar-benar ingin membunuhku.


.


*DOR


“…!”


(Semua Orang termasuk Aku)


.


Haha. Sepertinya Keluargaku datang disaat yang tepat. Yah, ga masalah sih, Aku masih bisa berdiri dan masih punya kekuatan untuk bernapas kenapa tidak…?


.


Sebuah Mobil “Lexus RX” yang masih sangat terawat dan elegan menepi ditepi Hutan dan seperti biasa. Bang Wardana dengan “Hand-Gun” miliknya. Namun kali ini Bang Ipang dan Bang Kresna ikut bersama dengan Kak Shakta dan Camila yang sudah berumur 4 tahun.


.


“HENTIKAN. Pertempuran Brutal ini cukup sampai sini saja. Dasar Kucing-Kucing tak tahu adat.”


(Mahawardana)


.


“Woh~ Pak Tua Mikami~~ Kita bertemu lagi.”


(Simha Sang Aji)


.


“HEY PAK TUA SIALAN!!! KAU PIKIR APA YANG SUDAH KAU PERBUAT HAH??!!! SAMPAI CAKRA KAU BUAT TERLUKA FATAL BEGINI…! KALAU SHIORI TAHU, DIA AKAN SANGAT MARAH TAHU!!!”


(Mahakresna)


.


“Hey, ayolah… Jangan nuduh sembarangan brengs*k. LAGIAN AKU BELUM TUA BANGKA SIALAN! LAGIPULA ANAK INI YANG NYOLOT DULUAN…!”


(Masatsu Kohtomikami)


.


“Huh. Sebenarnya pertarungan tadi ga akan se-“over” ini kalau Kau tidak kasar Padaku.”


(Cakra)


.


“ERGHHH… KAU INI… Haihh, percuma juga marah. Kau dan Aku juga sudah capek, kan. (●ˇ∀ˇ●)”


(Masatsu Kohtomikami)


.


Hahah, ngalah juga akhirnya Pak Tua itu. Entah kenapa Dia lebih nyaman dipanggil begitu, berhubung Usianya juga sudah 30 tahun lebih, sementara Aku masih anak-anak. Jadi panggilan Pak Tua Mikami lebih pantas Kugunakan. Bagaimanapun sekasar apa Dia, Aku tetap harus menghormatinya.


.


“Maaf, Tuan-Tuan semua. Kita yang keterlaluan, untuk kerusakan ini biar Perusahaan Kami yang tanggung.”


(???)


.


“Hah… Mikami-San~ Kami sudah bilang kan jangan menyolot seenaknya ke orang asing, apalagi Indonesia. Kau tahu itu bisa memicu keributan.”


(???)


.


“HEY~ Aku ga nyolot… Aku sudah bilang sehalus mungkin loh~ NISHIKAMA…”


(Masatsu Kohtomikami)


.


“Kau bahkan lupa dengan nada bicara ngegasmu sendiri yang tak bisa direhabilitasi, haih, hahaha. Kau sendiri juga keterlaluan tahu~ dengan kasarnya menyerang anak-anak belasan tahun dengan brutal~~ TAKEZEKE.”

__ADS_1


(Nishikama)


.


“U-Uhhh… Iya, jujur Aku kelepasan. Tapi mau bagaimana?? Mikami-San seriusan hampir celaka jika Aku tak menghentikan Anak itu.”


(Takezake)


.


“Celaka darimana bodoh. Aku tahu selama pertarungan Dia sengaja terluka untuk mengetes seberapa tinggi kemampuanku. Sebenarnya dari awal sih Dia bisa memenggalku dengan brutal gada sedetik, huh. Kasar juga Kau sama seperti Tuanmu.”


(Cakra)


.


“BO-BODOH KATAMU?! HEY… AYOLAH… DENGARKAN PENJELASANKU~ Kami berdua adalah “Tangan Kepercayaan” Tuan Mikami, wajar jika Kami reflek menyerangmu yang hampir membahayakan Tuan Kami…”


(Takezake)


.


“Benar yang Takezake bilang, kalau begitu Kami minta maaf sebesar-besarnya… CAKRA AIRLANGGA, SANG VIP PRESIDENSIAL”


(Nishikama)


.


“Eh…?! Kau tahu Diriku???”


(Cakra)


.


“Huff… Aku juga minta maaf sebelumnya, Bocah. Bukan Cuma Xerxes atau Kami yang mengenalmu. Namun sepertinya Jepang mulai membicarakanmu selama 4 tahun ini.”


.


“Karena berhasil menaikkan elektabilitas seorang Gubernur Capres menjadi yang paling dominan dalam Pemilu Indonesia ini. Dan setelah Gubernur Bali itu dilantik, Kau dijadikan VIP Presidensial Olehnya, kan? KAHAHAH~”


(Masatsu Kohtomikami)


.


“Oho~ Iyakah~~ Kau yang luar biasa barbar kasar tak tahu adat ini bisa bicara normal juga.”


(Cakra)


.


“A-APA?!! HEY AKU INI JUGA SEORANG ILMUWAN TAHU! KAU PIKIR AKU CUMA SEORANG SAMURAI BARBAR??? AKU PUNYA BANYAK DOKUMENTASI SEJARAH YANG HILANG TAHU…!”


(Masatsu Kohtomikami)


.


“Hurgh…Ohok..! Nanti saja bicaranya. Aku beneran vertigo ini…”


(Cakra)


.


Yah… Mungkin karena yang Aku hadapi adalah SAMURAI IBLIS MASATSU. Apalagi Pak Tua Mikami di usianya yang masih 39 Tahun itu sudah dikenal sebagai “Legenda” di Dunia karena Kapabilitas beserta Kemampuannya yang sangat Mengerikan dan Maha Dahsyat dalam hal Perang maupun Pertempuran.


.


Soalnya Dia bisa sampai sejauh ini menghancurkan pelabuhan, tebing-tebing, bukit, jalanan, sampai tanah-tanah tepi Pantai sampai hancur luluh lantak karena Tebasan Super-Destruktif yang Ia layangkan sekali tebasan. Itulah skala kerusakan terbesarnya.


.


“Cakra…! KAKAK CAKRA!!!”


(Camila)


.


“Ah…Hehehey~ ♫ Milaaa~”


(Cakra)


.


Dan lihat Dia~ Dulunya Bayi yang imut sekarang benar-benar tumbuh menjadi Anak Gadis yang sangat cantik seperti Malaikat. Wajahnya juga dominan mirip Ibunya dengan mata biru Ayahnya yang berlentik sangat indah. Jadi Wajahnya Oriental dengan campuran Megah dan Elegan wajah khas Nusantara Dulu sekali.


.


Dia selalu mengkhawatirkan dan mencariku jika Aku tak ada disampingnya. Berhubung Kami terikat batin yang kuat, jadi Kami saling menyayangi. Apalagi Dia ingin terus berada didekatku setiap saat. Dulu memang Aku selalu menemaninya melakukan banyak kesenangan dan hiburan yang menyenangkan seperti membacakan dongeng untuknya, menemaninya mandi, dan jalan-jalan setiap saat sambil makan bersama.


.


Wajar Dia saat ini khawatir Padaku. Makanya Aku langsung memeluknya setelah Aku tutup dulu luka yang fatal dan menyakitkan ini dengan Mantra “Air”. Ingat kan, Aku bisa berkehendak sesukaku atas Mantra-ku sendiri. Namun uniknya selama 4 tahun itu Aku menemukan fakta ternyata Aku bisa menggunakan Mantra “Air” sebagai penyembuh regenerasi alami yang langsung menyembuhkanku dalam hitungan detik.


.


Yah… Meski tak bisa menutupi tubuhku yang berlumuran darah dan bajuku yang compang camping, apalagi bajuku robek semua, jadi sekarang Cuma celana panjang Shirwal hitamku yang tersisa.


.


“Kau ngapain kesini? Aku kan bilang sama Ibu saja di mobil~”


(Cakra)


.


“Unghh, Kakak sendiri menghilang membuatku khawatir tahu. Dari dulu Aku selalu lihat Kakak banyak bertarung dengan hal-hal mengerikan tahu… Sekarang terjadi lagi Tubuhmu terluka dan Kulihat sayatan disana-sini.”


(Camila)


.


“Ahahah~ Ayolah Mila, Aku ini laki-laki. Hal semacam pertarungan ataupun situasi berbahaya harus dihadapi dan tidak boleh lari~!”


(Cakra)


.


“Fuh… Anak yang tadi sangat brutal melawan Pak Tua Mikami sekarang berubah total saat dihadapan Adiknya, heh?”


(Agungraka)


.


“Camila sudah besar juga, tak terasa~”


(Cokorda)


.


Camila benar. Aku sudah banyak melalui pertarungan berdarah yang tak terhitung sejak umurku 4 Tahun. Meski Camila tak bisa bicara dan Cuma merangkak waktu umur setahun sampai 2 tahun, tetapi Ia selalu menyaksikanku pulang dari Tugas komisi maupun dengan Pelatihan-Pelatihan berat lainnya, ataupun juga melalui Duel dengan Bang Ipang dan saudara-saudaranya.


.


Camila juga melihatku seperti sedih sambil berusaha memelukku setiap pulang. Jujur itulah yang membuatku merasa nyaman serasa rasa lelah yang sangat menyakitkan hilang begitu saja jika sudah menggendong Dia. Makanya, Aku harus berkembang sejauh mungkin agar bisa melindungi yang lain juga, bukan Cuma Camila.


.


“Dia jadi orang yang benar-benar berbeda dari sebelumnya bertarung denganku yah~ Terlihat ganas dan agresif dengan ketenangannya yang sangat dingin.”


“Apalagi Fokus Kekuatan dan Pikirannya yang melampaui batasannya, dan sekarang dihadapan Adik Perempuannya Ia ceria dan berekspresi penuh kasih sayang kepada Adiknya dengan tubuh lelahnya itu. Hahah~”


(Masatsu Kohtomikami)


.


“Heh~ Sialan. Sekarang bagaimana Kau akan bertanggung jawab atas kerusakan area pelabuhan ini, hah?!”


(Agungraka)


.


“Sekarang Kau jadi lebih bersahabat setelah pertarungan brutal ini~?”


(Cokorda)


.


“HEY AYOLAH!!! MASIH AJA DIBAHAS, HAISH…”


“YA, YA. Aku akui kelepasan melihat Kalain yang kaku begitu. Ngomong-ngomong Kalian sudah sadar Aku sekarang. Aku juga sudah mengenal Kalian dari surat yang dikirim Xerxes. Kau yang rambut acak-acakan kebelakang adalah Raka dan Kau yang tambun berotot berambut lurus kebelakang adalah Cokorda.”


(Masatsu Kohtomikami)


.


“CK, XERXES SIALAN SAMBIL NGEJEK KAMI RUPANYA~”


(Agungraka & Cokorda)


.


“HIHIHEHE, kalau begitu Kita saudara sekarang, okey~ Setelah bertarung tadi.”


(Masatsu Kohtomikami)


.


“Heheh, iya. Kalau begitu Kami panggil Kau Pak Tua Mikami, HIHIHIHEU~~~”


(Agungraka & Cokorda)


.


“HEY, UMUR KITA GA JAUH BRENGS*K!!!”


(Masatsu Kohtomikami)


.


Sementara itu Kak Shakta juga turun dari mobil mengejar Camila yang kabur dari perhatiannya. Ia juga mendatangiku dengan tempramen yang cukup tenang sekarang. Karena sudah biasa melihatku terluka.


.


“Cakra~ Sini Sayang, lagi-lagi Terluka ya, haha. Anak hebat kesayanganku~ Tapi yang tadi Luka yang sangat parah tahu. Kau sungguh sembrono.”


(Aza Shaktani)


.


“Eheheh~ walau begitu Aku puas tahu bisa bertarung dengan skala sebesar ini, Kak.”


(Cakra)


.


“Ayolah~ Mau sampai kapan Kau memanggilku Kakak terus… Jarang sekali Kau memanggilku Ibu~ hehe.”


(Aza Shaktani)


.


Dia datang sambil memeluk Camila dan Aku sambil mencium pipiku dengan penuh kehangatan yang tulus. Yah… Aku agak gengsi sih memanggilnya Ibu. Aku ingin tapi rasanya terkesan kalau nanti Aku dikatai “Anak Mami”… hahah.


.


“Ibu, Cakra harus segera disembuhkan tahu! Dia benar-benar terluka.”


(Aza Camila)


.


“Hihihih, Cakra bisa menyembuhkan Dirinya sendiri dengan Mantra “Air”, Sayang… Jadi gausah khawatir yah~ sini cium dulu nih pipi imutny~ heheh.”


(Aza Shaktani)


.


“Mmmmph, Ibuuu…! Oh...! AYAHHH~!!!`”


(Aza Camila)


.


“Camila Sayang cantikku~ Kau dan Ibumu pergi ke mobil dulu saja ya. Sepertinya disini pembicaraannya tak akan menyenangkan ditelingamu, sudah sana ke mobil~”


(Mahawardana)


.


“Hm~ Hm~ hihiheh, cepat balik, Ayahhh~”


(Aza Camila)


.


Bagusnya begitu. Tak ada hal baik yang akan datang kalau orang-orang mengerikan seperti Kami ini ada didekatnya yang masih berumur 4 tahun.


.


“Kau VIP Negara ini rupanya, heh~ Jujur kapabilitas Bocah sepertimu jauh lebih baik dibanding Raka dan Cokorda, heheh. Tak sabar menanti 20 tahun kedepan sampai Kau menjadi Dominator diseluruh Dunia.”


(Masatsu Kohtomikami)


.


“Begitukah? Aku juga tak sabar ingin Duel denganmu lagi. Jujur Aku kurang puas sendiri kalau Cuma meninggalkan sayatan ringan ditubuhmu.”


(Cakra)


.


Tenang, Aku sudah berbaikan dengan Pak Tua Mikami. Jadi Aku bisa mengobrol santai dengannya sambil membagi Snackku dengannya.


.


Kurasa Nishikama dan Takezake juga bicara dengan Bang Raka dan Bang Cokorda. Ternyata Mereka berdua lebih muda daripada Bang Raka dan Bang Cokorda. Nishikama dan Takezake memiliki umur yang sama, yaitu 21 tahun. Tetapi Mereka berdua bisa memiliki Kapabilitas dan kemampuan yang setingkat dengan Bang Raka dan Bang Cokorda.


.


“Brutal sekali Kau ini, sumpah… Padahal melukai Bedeb*h tua ini sudah lebih dari cukup untuk menggemparkan seluruh Dunia loh.”


(Mahawardana)


.


“Ho~ Lihat ini. Rupanya si Musang bertopi ini.”


(Masatsu Kohtomikami)


.


Bisa Kulihat Pak Tua ini menyeringai ke Bang Wardana sambil berhadap-hadapan dengannya. Sekilas Bang Wardana sedikit lebih tinggi darinya. Rasanya ada Dua Kekuatan asing yang menggebu-gebu seperti ingin beradu dengan ganas. Tapi rasanya Bang Wardana terlihat lebih berbahaya dari Pak Tua Mikami…?


.


“Huh… Baru saja istirahat dan Kau mau ribut lagi? Daripada itu ayo Kita ke Kedai Buleleng saja.”


(Cakra)


.


“OH!! Xerxes cerita kalau Dia punya kedai bersama Raka dan Cokorda! Kebetulan Aku belum sarapan. Jadi Ayo makan~”


(Masatsu Kohtomikami)


.


“Jangan salahkan Kami kalau seisi Desa menggunjingmu, ya.”


(Cokorda, Agungraka, Mahawardana)


.


Pak Tua Mikami beserta Nishikama dan Takezake kembali ke Kapal Amfibi Mereka untuk ditransformasi menjadi Mobil Tank raksasa. Sementara Aku dan sisanya ke Mobil untuk pulang ke Desa Pesisir.


.


.


.


CHAPTER 10 END


.


FOLLOW AKUN SOSMED @bangjoule_uw UNTUK MEMUDAHKAN MEMBACA NOVEL "PENGEMBARA TAK TERTULIS"!!!

__ADS_1


.


JIKA ADA PENDAPAT YANG MAU DISAMPAIKAN, SILAKAN KOMEN DIBAWAH DAN FOLLOW AKUN INI UNTUK NOTIFIKASI CHAPTER SELANJUTNYA YA~


__ADS_2