Prahara Sang Pengembara Tak Tertulis

Prahara Sang Pengembara Tak Tertulis
Chapter 7 : Kebangkitan Lembaran Badai Nostalgia (2)


__ADS_3

Hari Ke-3 menjelang, Aku seperti biasa ke Kota Kecamatan namun hari ini akan jadi berita besar yang menggemparkan seluruh negeri. Aku sudah menyelidiki segala bentuk tindak kriminal dan korupsi lainnya untuk membuat Mereka lengser. Aku mendapatkan variabel yang Kubutuhkan. Setidaknya jam 3 sore, akan Kubuat kacau Kota Kecamatan dengan “Kartu Truf” terakhir milikku. KARENA AKU SUDAH SELESAI MENGUMPULKAN SEMUA “KARTU PENGACAU”-KU KEMARIN.


.


Aku jajan dulu sebentar buat sarapan pagi setidaknya. Aku juga makan ditempatnya sekalian bicara-bicara untuk sekedar bersosial ringan


.


“Cakra~ Apa Kau ingin ke Kota Kecamatan lagi? Situasinya sedang buruk Kau tahu kan?”


(Tukang Siomay)


.


“Aku tahu situasinya buruk, tapi Dia pilih-pilih dalam menentukan mangsa kan? Tak ada alasan untukku takut. Bahkan jika Dia mendatangiku akan Kulawan Dia ditempat.”


(Cakra)


.


“Kami mungkin bersikap acuh dan merasa tak mendengar apa-apa. Tapi Kami tahu Wardana dan saudara yang lain sangat kepikiran akan kejadian berantai yang meresahkan ini. Bagaimanapun sudah mulai dari hari pembantaian itu, Kami semua sudah bersiap untuk waspada jika Dia datang ke Desa Kita.”


(Tukang Bengkel)


.


“Walaupun Dia memangsa orang jahat ataupun kriminal lainnya, Dia bisa saja menargetkan Kita jika ingin. Kami juga merasa resah, makanya suasana desa dan pasar disini tidak sedang penuh canda tawa dulu untuk saling melindungi. Anak-anak yang lain juga kami larang keluar Desa Pesisir sebenarnya.”


(Ibu-Ibu tukang Pijat)


.


“Aku tahu betul ini meresahkan. Namun karena Aku percaya dengan kemampuan dan kapabilitasku yang mumpuni, makanya Aku semakin dalam menggali keberadaan “Dalang” ini. Walaupun taruhannya nyawa, Aku pasti tak akan membiarkan Dia memasuki desa, jadi Aku pergi ke kota kecamatan untuk berjaga.”


.


“Sudah waktunya Aku pergi. Ingatlah sebagai penduduk Desa Pesisir, untuk saling melindungi dan waspada dengan orang luar sekalipun.”


(Cakra)


.


“Baiklah, Kami percaya padamu. Jaga Dirimu juga. Kami yang sudah melihat seluruh kemampuan dan prestasi pertempuranmu saat Kita diserang “Zarkan” waktu itu, Kami tak punya pilihan selain mempercayakan kasus ini Padamu bahkan jika Saudara-Saudara Kita yang menjadi kekuatan utama Desa Pesisir melarangmu pergi.”


(Penjual Ikan Laut)


.


Aku pergi dari Desa dan seperti biasa jogging santai dulu. Setelah selesai, Aku memutuskan untuk ke halte bus untuk mengunjungi “Denpasar” untuk pertama kalinya, HEHEH. Selain berwisata juga untuk tujuan lain. Tujuan terselubungku adalah menemui “Gubernur” langsung. Berbeda dengan pejabat daerahku yang korup, Dia sangat bermartabat dan menjunjung tinggi keadilan sosial.


.


Tak ada baiknya mendekati dia dengan cara kasar. Jadi Kurasa Aku bisa menyelinap dan masuk keruangan kerjanya. Lalu Kubuat kesepakatan yang tak bisa Ia tolak. Jadi dari Kuta, Aku naik bus umum yang berganti-ganti tujuannya sampai ke terminal umum Denpasar. Suasana di Ibukota Provinsi jauh lebih ramai dan sibuk lalu lintasnya. Banyak gedung-gedung perkantoran dan restoran lokal yang bertebaran disepanjang jalan. Jelas banyak sekali bisnis di Ibukota karena memang paling aman dari ancaman “Zarkan”.


.


“Woah~! Ramai dan menyenangkan disini. Lebih banyak jajanan enak daripada di Kota. Kalo dipikir Kita sudah borong banyak jajanan tadi pas sampai.”


(Cakra)


.


“Haiyah~ Kau kesini malah jajan, jangan lupa rencana akhir Kita ini.”


(Garuda)


.


“Santai, Kita tak boleh buru-buru jika ingin mengungkap kebenaran. Kalau buru-buru kartu Kita sedikit demi sedikit akan hilang. Pokoknya hari ini Aku jamin Hari ini adalah Hari yang sangat menggemparkan seluruh negeri.”


(Cakra)


.


Aku percaya diri dengan rencana akhir yang sempurna ini. Hampir sial aja kemarin Bang Wardana membuatku terpojok. Makanya Aku menjauh dulu agar bisa bergerak leluasa.


.


“Ngomong-ngomong, Ibukkota dulu ini padahal dulu masih seperti Desa Perindukan, tapi sekarang sudah sangat maju dan makmur yah… Aku sungguh lega. Terutama…”


(Garuda)


.


Kurasa Dia sedikit bersedih akan sesuatu. Apalagi membahas Ibukota Denpasar, Aku yakin tempat ini dulu menyimpan sejarah tersembunyi juga.


.


“Desa? Kurasa banyak waktu yang berlalu sampai saat ini waktu Kau hidup ribuan tahun ya… Baiklah, setelah masalah Daerah sudah beres, Aku akan memulai penelitian besarku tentang sejarah dunia yang hilang. Demi menyempurnakan segala hipotesis dan dokumentasi yang Bang Cokorda dan Bang Raka kumpulkan.”


(Cakra)


.


“Baiklah, Aku juga akan bantu, anak hebat~ HAHAH”


(Garuda)


.


Aku berjalan agak jauh ke Monumen “Bajra Sandhi” karena dekat situlah kantor Gubernur. Setelah sampai, Aku mulai menyusup kedalam kantor dengan “Mantra Angin” yang membuat tubuhku diselubungi angin berbentuk spiral sampai membuat tubuhku transparan dan tak bisa dirasakan hawa keberadaannya. Kurasa teknik remeh ini tak perlu Kuberi nama, hehe.


.


Aku bisa lihat banyak ornamen dan interior Kantor yang sangat megah penuh ukiran seni khas Bali. Nampaknya ruangan Kantor Pribadi Gubernur sudah dekat, Aku mulai masuk ke ruangannya dengan mentransformasi tubuhku menjadi tiupan angin yang sangat halus kemudian diam sejenak memperhatikan keadaan. Kulihat Dia nampak sedang istirahat sambil meminum air putih.


.


“I KADEK NUGRAHA MULYA”


.


Adalah nama Dia sebagai Gubernur tersohor diprovinsi ini. Dia adalah alasan makmurnya Ibukota secara adil dan merata kesejahteraan masing-masing penduduk. Dia juga orang yang rendah hati dan merakyat yang sesungguhnya. Jadi pasti Dia mau mendengarkanku diruangannya sekarang.


.


“Berhubung banyak sekali terdengar hembusan angin yang berhembus, pohon dan taman yang segar dimata, serta Monumen yang terlihat bernilai seni, Aku pikir Kau punya metode Mantra untuk “Pemisahan Ruang”, kan?


(Cakra)


.


“Iya, ayo Kita pakai itu, semoga Dia tidak takut akan perubahan suasana yang tiba-tiba.”


(Garuda)


.


*SWUUUNGGG~


*SWIRL


*WUONGGG~~~


.


Aku mungkin bisa mempelajarinya nanti, Teknik Spasial dari Mantra “Angin” yang bisa memisahkan ruang. Metodenya adalah membuat uraian konsentrasi udara halus yang bewarna terang untuk menyelubungi ruang terutama untuk menyelubungi akses keluar dari ruang tersebut. Setelah semua ruang terselubung, Konsentrasi Angin ini akan memanipulasi realitas untuk memutus akses ruang kantor Gubernur dan Gedung Utama.


.


Suasana diluar menjadi gelap gulita bahkan disebut malam tibak bisa karena tak berujung, dan listrik ditempat itu mati total. Serta juga suara-suara kehidupan yang tak lagi terdengar sedikitpun seperti kicauan burung atau serangga. Cukup untuk membuat Kita bisa mendegar detak jantung Kita sendiri. Ini juga membuat Gubernur kaget dan menyadari bahwa lampu Kantornya mati.


.


“Apa…?”


(Kadek)


.


Dia dengan terkejutnya menyadari saat melihat keluar jendela, Ia melihat pemandangan gelap gulita tak berujung. Kemudian mengambil senter darurat dan mengecek sekelilingnya yang terasa sangat aneh dan mencekam. Namun Ia tetap terlihat tenang walaupun menyadari rasanya seperti didalam mimpi buruk karena gelap dan sampai bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Setelah cukup lama Dia menyadari keberadaanku juga saat duduk dengan tenang dan santai sambil menyempatkan membaca Buku “Expert Parenting” yang Kupinjam dari Perpusda.


.


“Siapa… Kau? Anak Kecil?”


(Kadek)


.


“Tenang saja. Aku tidak berniat menyakitimu.”


(Cakra)


.


“Ada apa dengan suasana menyeramkan ini? Kenapa Kau terlihat santai sekali padahal ini sangat tidak normal???”


(Kadek)


.


“Aku yang melakukan ini. Ini semua perbuatanku.”


(Cakra)


Sambil Kuhabiskan Susu Kaleng Milo yang Kubeli di Minimarket di jalan.


.


“Bagaimana… bisa? Tak ada baiknya anak kecil berbohong ya…? haha”


Kurasa Dia lebih tenang dari dugaanku. Dia masih bisa tersenyum ramah padahal situasi ini bisa membuat orang kehilangan akal sehat. Dia sudah merakyat, disatu sisi juga tak takut bahkan masih bisa ketawa dalam keadaan genting yah… Luar biasa orang ini.


.


*WUNG~


*ZYUNGG~


*SRAAA~ WUNG~~


Aku mengumpulkan sebagian kecil konsentrasi angin spasial ini dengan tangan kananku, lalu Kuayunkan kedepan untuk menyenggol jendela ruangan dengan tenang untuk memperlihatkannya realitas dalam sekejap waktu. Namun Aku tak berpikir sama sekali untuk menakutinya


.


“Oh… Siapa kau sebenarnya? Bagaimana bisa Anak Kecil punya kekuatan mengerikan seperti ini…? Sebagian orang mungkin masih belum mengakui eksistensi “Pendekar” dan “Zarkan”.


“Namun Aku percaya, Aku sudah melihat beberapa Pendekar yang menggunakan “Mantra” dan ada yang menggunakan “Vajra”, atau bisa Keduanya sekaligus. Tapi Aku tak pernah melihat Mantra Mengerikan yang tak Kuketahui ini… Bisa kau Cerita Padaku?”


(Kadek)


.


“Ahaha, maafkan Aku sudah dengan lancang seperti ini, Pak. Namaku Cakra Airlangga. Aku tinggal di Desa Pesisir. Aku sudah bilang, Aku tak ada niatan menyakitimu sama sekali.”


(Cakra)


.


“Cakra… Akan Kuingat terus nama itu. Apa tujuanmu sebenarnya? Aku kira Kau datang untuk membunuhku.”


(Kadek)


.


“Bicara soal pembunuhan dengan ringan begitu… Aku yakin Kau sudah menerima banyak ancaman ya. Berhubung Orang-Orang yang adil dalam memimpin dan bersih dari korupsi, selalu ada orang suruhan yang datang untuk membunuhmu.”


“Baiklah, Kurasa Bapak mau bicara denganku. Akan Kuhilangkan dulu manipulasi ruang dan membawa Kita ke Realitas.”


(Cakra)


.


*SWIRL


*WUNGG SYUUUT~


Aku dengan entengnya menghilangkan “Angin Spasial” ini dan akhirnya ruangan kantor kembali normal seperti tak ada apa-apa. Aku bisa melakukannya sementara waktu karena Garuda memberiku otoritas untuk mengendalikan “Angin Spasial” juga. Kulihat Dia sedikit tercengang dan kaget namun tidak terlalu takut ekspresinya.


.


“Sekali lagi, Namaku Cakra Airlangga. Aku datang kemari untuk merubah “JALAN TAKDIR” Kita berdua, Pak. Telah tiba waktunya untuk Anda berkembang lebih besar dan menjadi Pusat diseluruh Negeri.”


(Cakra)


.


“Maaf nak, Apa maksud---”


(Kadek)


.


Aku membuka ruang penyimpanan spasialku juga dengan tangan kanan. Lalu Kukeluarkan semua yang Aku simpan dan ambil selama 3 Hari ini.


.


“A-APA INI…?! INI---!!! MUSTAHIL, BAGAIMANAPUN INI SEMUA-----”


.


“Izinkan Aku untuk menyampaikan… PROPOSAL KERJA SAMA KITA BERDUA DALAM JANGKA WAKTU PANJANG~ DIMANA BAPAK SEBAGAI GUBERNUR TAK AKAN BISA MENOLAK PENAWARAN FANTASTISKU.”


(Cakra)


.


Aku mengatakan itu dengan santai namun tegas sambil berekspresi menyeringai sedikit. Dari pertemuan Kami berdua, “ANGIN PERUBAHAN” diseluruh Negeri akan berhembus kepada Kami.


.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Ini semua... asli... Tak kusangka PEJABAT-PEJABAT CAMAT YANG DILANTIK ITU BERKHIANAT PADAKU!!!"


(Kadek)


.


"Semua bukti kejahatan konkrit ini sudah berjalan 5 tahun lebih, Pak. Aku sudah mengalami semua kerugian dan banyak musibah karena Mereka ini."


(Cakra)


.


Dia dengan marah sambil melihat semuanya dengan seksama. Dari tubuh dan sifatnya, sepertinya Dia setipikal dengan Penduduk-Penduduk Desa Pesisir, soalnya Dia juga tidak normal sih jika Aku perhatikan dari tadi.


.


"Dokumen Validitas”, “Foto-Foto Bukti Lapangan”, “Dokumen Personal Client Narkotika”, "Surat-Surat Ilegal Administrasi Sekolah", dan juga “Lembaran-Lembaran INVOICE remsi.... Sebenarnya tindakan merugikan dan korupsi apalagi yang Para Bedeb*h sinting itu lakukan??? PANTAS MEREKA TERLALU MENJILAT SELAMA BERTAHUN-TAHUN KEPADAKU, SIAL!"


"Hah... Ini tak terduga sama sekali. Yang Kau bawa ini semua valid dan bisa membuat berita yang sangat menggemparkan. Luar biasa sekali anak-anak sepertimu bisa menemukan semua bukti sindikat kejahatan ini! Sebenarnya bagaimana caramu mendapatkan ini?!"


(Kadek)


.


"Kalau Kuceritakan bisa sangat panjang, jadi..."


(Cakra)


.


*FLASHBACK I


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sehari setelah pembantaian misterius, dimana Kami semua ada di Kota Kecamatan untuk menyelidiki kasus itu, namun Aku sakit perut sehingga harus pergi ke Pom Bensin dekat halte saat mau pulang.


.


Aku memang sakit perut beneran waktu itu. Tetapi Aku melihat salah satu bangunan sekolah ini persis disebelah Pom Bensin. Aku memutuskan untuk memanjat diam-diam sampai ke Atap dan mendapati kalau ini adalah Sekolah Negeri. Logo Sekolah Negeri ini juga sama dengan salah satu Bapak-Bapak tua yang ada di Cafe saat sebelum Aku melakukan pembantaian.


.


Aku mulai berpikir bisa gawat kalau Dia menceritakan segalanya waktu di Cafe karena mulutku yang agak "Lambe Turah". Jadi hari ini Aku datang menyusup untuk mencari keberadaan bapak tua itu. Kalau dilihat dari seragamnya Dia sepertinya "Pensiunan Guru". Jadi Kuharap rumor tentangku belum tersebar disini.


.


Aku lihat ada sebuah kantor Guru. Jadi Aku tunggu disana lumayan lama sampai Dia datang ke kantor guru setelah selesai mengajar. Sebelumnya juga saat naik ke atap banyak sekali orang tua siswa yang ribut soal pendaftaran yang bermasalah saat PPDB. Entah meributkan apa, tetapi setelah Aku berkeliling diam-diam juga Aku mendapati dari 300-an nama yang terdaftar, ADA YANG BERDOMISILI JAUH NAMUN DITERIMA, SEDANGKAN YANG HANYA SEKITAR RATUSAN METER TIDAK DITERIMA. BELUM LAGI NAMA-NAMA YANG MUNCUL BERKALI-KALI DISETIAP 300 PENDAFTAR. KURASA ADA KECURANGAN DISINI.


.


Setelah Dia masuk, Aku mulai menyelinap menggunakan teknik yang sama waktu menyelinap ke ruangan Gubernur. Tapi bedanya Aku sedikit santai karena tidak ada guru sama sekali saat jam setengah 3 siang.


.


"E-Eh...?! Siapa kau? Kenapa ada disin- AHHHH"


(???)


.


"Hahahoho, Kita bertemu lagi~ Pak Tua, bukan, tapi Pak Marno~?"


(Cakra)


.


Ternyata orang tua ini bernama Pak Marno. Seperti kelihatannya, Ia gelagapan bertemu denganku.


.


"A-Ada apa Kau disini??? Ma-mau apa Dirimu...?"


(Marno)


.


"Aku sedikit banyak omong waktu di Cafe secara tidak sadar. Jadi Aku pikir rumorku sudah tersebar dari Dirimu mungkin...?"


(Cakra)


Aku menyeringai tajam untuk mengancamnya secara jelas. Sebenarnya Aku juga takut sendiri semoga Dia tidak cerita apa-apa soal kejanggalan Diriku.


.


"Sumpah!!! A-A-Aaku tidak bercerita apapun ke orang-orang di sekolah ini...! Justru Aku takut kalau Kau muncul lagi jika Aku menceritakan Dirimu!"


"Jujur Aku dan 2 orang temanku juga sangat kaget dengan berita kemarin!!! Timing-mu saat bicara sebelumnya juga pas sekali dengan tindakanmu itu!"


"Jadi Kami bertiga berpikir kalau Kau sangat berbahaya dan Kami jadi terancam jika menceritakan rumor tentang identitasmu... Jadi Kami bertiga tutup mulut masing-masing karena Kami merasakan kalau Kau seperti bisa mendengar segalanya."


"Dan ternyata hari ini Kau muncul dihadapanku, itu membuatku sangat ketakutan sekarang! huhu... "


(Marno)


.


Haish... Dia ini ternyata beneran ketakutan. Aku jadi merasa kasihan padanya yang cuma ingin mencari nafkah untuk keluarganya tapi malah harus berurusan denganku. Tapi yah sudah takdir sih.


.


"Hey, Anda berlebihan, Pak. Aku tidak semengerikan itu juga kali."


"Tapi serius. Kalau cuma bicara ala kadarnya Aku jelas tak akan mempercayaimu. Tapi yah Aku juga tak mendengar pembicaraan aneh waktu datang kesini sih~ HEHEH"


(Cakra)


.


Aku dengan santai mengambil cemilan jagung yang ada ditoples dan memakannya dengan lahap. Sementara Orang Tua ini berdiri gemetaran karena di mata Dia, Aku seperti bukan Manusia.


.


"Baguslah Kau tidak memandang rendah Diriku ini. Sekarang Aku rasa ingin meminta sesuatu Darimu untuk membuktikan kejujuranmu saat ini."


(Cakra)


.


"A-A-AA-AHH, BAIK BAIK!!! AKU DENGARKAN PERMINTAANMU! "


(Marno)


.


"Aku melihat sedikit keributan orang tua yang ingin mendaftar kemari. Dan Mereka ribut dengan petugas-petugas administrasi disana. Suaranya sangat ribut sampai tak terdengar jelas."


*SRAAAK


Kukeluarkan kertas pendaftaran yang ada di mading dan Kubawa kesini.


"Tapi lihat... Apa ini~? Dari 300 lebih pendaftar, KENAPA ADA YANG NAMANYA BERULANG DENGAN IDENTITAS SAMA DAN ADA ANAK YANG DOMISILINYA JAUH TETAPI BISA MENDAFTAR, SEDANGKAN YANG DEKAT RATUSAN METER MALAH TIDAK DITERIMA? Kalau dipikir lagi, nama-nama Anak yang dengan kotornya mendaftar padahal domisilinya jauh adalah anak-anak orang kaya seperti Pejabat. Kenapa Kalian melakukan ini?"


(Cakra)


.


Aku sedikit marah karena ketidakadilan ini. Mungkin rasa simpatik ini muncul karena Aku tidak ingin ada anak lain sepantaranku yang merasakan ketidakadilan yang sudah Kualami sejak masih kecil dahulu. Aku yang tidak bersekolah, ingin anak-anak lain bisa bersekolah karena Mereka berbeda denganku.


.


Mereka punya masa depan dan kehidupan sukses yang bersih dengan pasti. Jadi Kuharap Mereka bisa tumbuh besar dengan pendidikan sekolah yang mumpuni disertai peran Ayah Ibu Mereka dalam mendidik Mereka. Agar... Tidak berakhir mengalami hidup sepertiku. Kalau Mereka pada akhirnya putus sekolah dan tak ada yang mau menerima Mereka, siapa yang mau bertanggung jawab atas terlantarnya anak-anak harapan Bangsa ini...? Jika Teror Iblis-Iblis Zarkan sudah tak bisa dibendung oleh Penduduk Pesisir dan mulai menginvasi Kota Kecamatan, bisa-bisa Mereka kehilangan Ayah Ibu Mereka dan berakhir menjalani kehidupan sepertiku. Lantas bagaimana Mereka bisa bertahan hidup...?


.


Aku sih ga masalah karena dari awal Aku tak tahu Ayah dan Ibuku sendiri. Jadi Aku sudah bisa mandiri sejak kecil dan bisa besar dan memiliki bakat kemampuan yang jenius berkat Garuda yang mendampingiku. Tapi bagaimana dengan Mereka yang sejak kecil sudah berada dipelukan Ibu yang penuh kasih dan besar dengan didikan Ayah Mereka...? Saat krisis itu datang nanti, anak-anak yang beruntung punya Ayah dan Ibu akan sangat menderita karena harus beradaptasi dengan lingkungan kematian dimana Orang Tua mereka direnggut dan harus hidup anarkis sepertiku.


.


Aku terlalu berlarut-larut dramatis begini bukannya tanpa alasan. Tapi ini realitanya, selama Zarkan ada di Dunia, tak ada tempat yang pasti aman. Hanya masalah waktu sampai semuanya hancur.


.


"MA-MA... MAAFKAN KAMI SEMUA...!!! Kami tidak punya pilihan lain karena Orang Tua pejabat bersikeras untuk menyogok Sekolah ini dengan jumlah uang yang sangat besar."


"Kami sudah menolak dengan sopan, tetapi Mereka mengancam akan mengirim Preman untuk mengacaukan sekolah ini ataupun Polisi untuk menginterogasi Kami!!!"


"Kami pihak sekolah sangat ketakutan dengan itu, makanya anak didik yang rumahnya dekat dengan sekolah bentrok dengan Kami... sejujurnya ini bukan Kemauan Kami juga."


"Ada juga yang memakai domisili palsu, setelah Kami coret dari pendaftaran, Orang Tua pendaftar ini malah mengancam menyebarkan berita bohong untuk merusak nama sekolah ini!"


"Kami tak tahu harus bagaimana lagi, karena ada salah satu dari Guru Kami yang melaporkan semua kasus itu, tapi malah Dia yang dijebloskan ke Penjara!!!"


(Marno)


.


"...!"


(Cakra)


.


Aku sempat kaget sesaat. Ternyata kasusnya beranak dan malah terekspos sebesar ini. Semuanya kekuatan dari Uang. Apalagi para pejabat camat itu, Mereka lah penyebab besar masalah di sekolah ini. Aku yakin bukan hanya sekolah ini saja yang memiliki rahasia seburuk ini.


.


Namun tidak perlu kaget. Karena Aku sudah punya solusiku sendiri.


.


"Kau menceritakan semuanya dengna jujur, baguslah. Jadi kepercayaanku padamu sudah bersih sekarang. Aku kira sekolah ini berisi orang-orang nepotis yang doyan sekali uang."


(Cakra)


.


"I-IYA! AKU MENCERITAKAN SEMUA YANG KUTAHU, NAK... TAPI MAAF, SEBENARNYA KENAPA KAU INGIN TAHU INI?!"


(Marno)


.


"Berikan semua Dokumen Administrasi yang Kalian miliki kepadaku. Dokumen Transkrip, Dokumen Personal para Orang Tua berdomisili palsu, dan juga Dokumen ilegal keluar-masuknya uang-uang suap itu. Pada akhirnya ini memudahkan rencana pribadiku."


(Cakra)


.


"A-A-APA?! ITU... ITU SEMUA RAHASIA SEKOLAH! KAMI BISA CELAKA JIKA ITU SAMPAI BOCOR KE MASYARAKAT! AKU TIDAK MENGERTI SEMENGERIKAN APALAGI DIRIMU JIKA KAU TAHU SEMUA RAHASIA ITU...!"


(Marno)


.


"Kau... Haish, padahal pejabat-pejabat itu cuma sampah bagiku. Tapi Kau setakut ini mentang-mentang Mereka punya banyak preman dan aparat hukum yang menjadi anjing-anjing Mereka."


"Sejujurnya kekuatan personil Mereka yang dikendalikan dengan uang Pejabat itu cuma sampah dibanding Warga Penduduk Desa Pesisir tempat tinggalku."


(Cakra)


.


"A-Ah... Maaf Aku tidak tenang tadi. Tapi Kau bilang rencana pribadi??? Rencana mengerikan apalagi yang ingin Kau--"


(Marno)


.


Kututup toples cemilan jagung yang sudah habis olehku. Kemudian Aku bicara dengan kepastian tanpa ragu-ragu akan rencanaku. Karena semua penilaianku soal pejabat-pejabat korup dan personil bayaran Mereka itu memang benar cuma sampah.


.


"AKU INGIN MENGHANCURKAN SELURUH STRUKTUR PEMERINTAHAN CAMAT YANG SEKARANG."


.


Aku menjawab dengan Nada tinggi dan tegas sambil berekspresi serius.


.


"AH...???!!! IT-ITU GILA YANG BENAR SAJA!"


(Marno)


.


"Mereka sudah sangat busuk sejak 5 tahun lebih. Karena Aku mengalami kebobrokan Mereka sendiri. Jadi... SUDAH WAKTUNYA MEREKA TURUN DARI TAKHTA."


.


Aku berdiri sambil memasukkan kedua tanganku ke saku celana untuk bersiap pergi sembari juga berekspresi datar dan dingin. Karena Aku pasti dimarahi Bang Xerxes karena sudah 1 jam lebih menunggu.


.


Dia... Anak Kecil tapi, SKALA PEMIKIRANNYA BERBEDA! Dia bahkan sudah melampaui batasan berpikir orang dewasa seperti Kami dan memproklamirkan perang dengan sangat berani...! Apalagi Dia berbicara tidak seperti anak-anak kecil normal! Sungguh Anak yang sangat mengerikan. Dia bisa dipercaya!!! Aku berubah pikiran, Ayo bekerjasama dengannya!


(Marno dalam hati)


.


"Nak! Aku ingin bekerjasama...! Aku percaya padamu! Kau mempunyai kemampuan diluar nalar dan juga keberanian pantang mundur! Aku merasa kalau Kau bisa menghancurkan para Pejabat Korup itu. Aku juga punya Keluarga yang harus Kuhidupi. Jadi kalau Mereka masih berkuasa, Aku tak akan bisa hidup dengan tenang… Maka dari itu, apa Kau punya Telepon Seluler? Biarkan Aku punya kontakmu."


(Marno)


.


Aku berbalik badan karena “Gas Lighting”-ku berhasil.


.


“Aku tidak punya, Pak. Begini saja, Kau kumpulkan semua dokumen-dokumen jahat yang Kuminta tadi dengan hati-hati dan besok Aku akan kemari lagi diam-diam untuk bersandiwara denganmu.”


“Besok Aku akan pura-pura ingin mendaftar disekolah ini. Walaupun ada CCTV, Aku punya skema agar Kau bisa menyerahkan dokumen-dokumen jahat itu Padaku. Jadi tak perlu khawatir.”


(Cakra)


,


“Ah, iya boleh seperti itu. Pokoknya Aku harus bergerak sekarang. Besok Aku akan bersiap kapan saja. Kebetulan Aku juga pinter ngibul sih, Haha.”


(Marno)


.


“Ukh… Dari tampangmu sih kayak ga pinter bohong yak.”


(Cakra)


.


“Pokoknya percaya saja Padaku, besok datanglah kapan saja, Nak!”


(Marno)


.


“Ya, Aku akan datang dengan hati-hati.”


(Cakra)


Aku pergi setelah negosiasi selesai dan keluar berubah seperti hembusan angin. Sekali lagi Dia tercengang dengan apa yang Dia lihat. Kuharap Aku tak menakuti Dia sih…


.


.


*FLASHBACK II


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


“Ini gang-gang sempit dan gelap yang Kita lihat kemarin. Kurasa ini masih pagi jadi gada yang lewat.”


(Garuda)


.


“Aku rasa orang-orang aneh yang Kita lihat sebelum melakukan pembantaian juga satu sindikat dengan 20 preman yang Kita habisi dengan Ketuanya. Aku yakin Mereka komplotan tapi beda motif saja untuk berbisnis.”


(Cakra)


.


“Sepertinya tidak bisa pakai cara yang sama. Kita perlu ubah strategi pagi ini.”


(Garuda)


.


“Benar. Aku sudah memperhitungkannya kok. Kali ini…”


(Cakra)


.


Aku mulai memanifestasikan “Mantra Air”. Karena pada dasarnya Air juga bagian dari Badai, jadi bisa Kupecah juga menjadi Air sesuai kehendakku karena pada dasarnya Aku adalah Tuan yang baru bagi “Mantra Angkara”. Karena Aku sudah bisa memanifestasikan “Mantra Angin”, Aku jelas bisa memanifestasikan pecahan “Mantra Angkara” yang sama, yaitu “Mantra Air”.


.


Aku gunakan metode berbeda kali ini, yaitu dengan menciptakan “Gelembung Air” yang berkamuflase menyatu dengan dinding, jalanan, dan tanah disemua sisi gang yang tak terlihat mata. Aku jogging ke setiap gang-gang yang sudah Kutandai sambil menyebarkan sekitar 30 gelembung untuk disebar tiap 6 gang yang rawan akan orang-orang jahat.


.


“Kalian merupakan manifestasi kehidupanku sendiri dan sudah mengalami banyak hal… Keluarkan Amarah Kalian dengan meledak-ledak jika Kalian menemukan orang yang berhati kotor… Jangan serang orang-orang yang berhati bersih karena Mereka memiliki garis takdir yang berbeda dari Orang berhati kotor.”


(Cakra)


.


Aku menafsirkan sedikit kehendakku pada Gelembung-Gelembung ini. Mereka mulai bereaksi terhadap kehendakku dan mulai aktif untuk berkamuflase dan meledak disaat yang tepat. Itulah alasannya Gelembung ini tidak bereaksi saat orang biasa lewat. Aku tidak menyangka metode berbeda ini membuahkan hasil yang sama seperti pembantaian yang Aku lakukan.


.


“Sudah cukup. Bagus sekali strategi baru Kita ini. Setelah meledak Aku akan kembali lagi kesemua gang yang Kita tandai dengan cepat agar Aku bisa membersihkan jejak Mantramu. Sekalian untuk menyisakan sedikit jejak dengan partikel yang sangat kecil dan partikel ini akan Kuhilangkan kadar kemurniannya. Seperti waktu itu juga.”


.


“Ya, Terima kasih, Garuda. Bekerjalah Kalian yang benar sana~”


(Cakra)


.


“Sāgarasya Suddhiḥ”


(Pemurnian Sejernih Laut)


.


Begitulah Kunamai Teknik Penghancur pertama versi “Mantra Air” ini, HUEHEHE~


.


Sejujurnya ada yang menghilang sedikit dari penyelidikan Bang Wardana. Yaitu TKP ledakan anehnya tidak hanya satu tempat, tapi banyak! Kurasa demi menghindari keributan publik, Media sengaja meliput hanya satu tempat dan membiarkan TKP lain diurus pihak berwajib.


.


Kurasa polisi-polisi di TKP ingin berkoordinasi dengan Media untuk tidak meliput banyak tempat karena takut reputasi Kuta ternodai. Namun ada Reporter yang ceroboh mungkin…? Dia meliput di TV langsung TKP yang korbannya paling banyak terlebih melibatkan korban seorang polisi dalam sindikat kriminal. Setidaknya Reporter itu juga membantuku secara tidak langsung. Sungguh Kartu yang datang dari langit, Fufu~


.


.


*FLASHBACK III


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


“HEY, KALIAN TIDAK BISA SEENAKNYA MEMBAWA PAKSA DAGANGAN KAMI!!!”


“KAMI TIDAK MELANGGAR KONTRAK GEDUNG, KENAPA KALIAN MELAKUKAN INI??!”


“LEPASKAN!”


“DASAR BEDEB*H!!! KALIAN SATPOL PP CUMA INGIN MERAMPAS KAMI SAJA!”


(Random Pedagang)


.


“DIAM! BAGAIMANAPUN UANG BULANAN GEDUNG BELUM KALIAN BAYAR, JADI IKUT KAMI DAN DAGANGAN KALIAN AKAN DIAMANKAN~~~!”


“KEHEHEHE~ BAYAR UANG BULANAN ATAU KAMI AMBIL DAGANGAN KALIAN~~”


(Random Satpol PP)


.


“Kalian tahu, bulan ini sewa vendornya naik 30% dari harga kontrak~ Jadi Kalian harus bayar lebih.”


.


“APA?! TIDAK BISA MENDADAK SEPERTI ITU! KELUARGAKU HARUS MAKAN!!!”


“ENAK SAJA MEMONOPOLI KAMI…!”


.


“SUDAH!!! KAMI AMBIL PAKSA DAGANGAN KALIAN!!!”


“…-MU”


“-AU--- U”


“…--.”


“-----”


.


Keributan yang sangat tak terduga saat Aku sedang santai memilih vendor-vendor pedagang yang akan jadi langgananku. Apalagi, baju Satpol PP Mereka terlihat jelas kalau Mereka terkait dengan Satpol yang bertugas di Kantor Kecamatan. Artinya Pasar ini bukan yuridiksi Mereka dari awal.


.


Mau harga sewa yang tiba-tiba melambung naik tanpa kabar, harga sewa turun, atau monopoli harga lainnya, Pemilik Gedung sendiri pasti harus mempertimbangkan kuantitas Vendor dan dagangan Mereka. Aku yakin ini bukan ulah Pemilik Gedung, namun ini adalah motif kejahatan para Satpol PP korup ini sebagai dalih merampas barang dagangan secara gratis dari pemalakan terang-terangan.


.


Aku lihat banyak vendor-vendor dan orang-orang yang berbelanja merasa takut dan resah dengan keberadaan Mereka. Ada yang coba melerai, tapi ada juga yang takut ditangkap Mereka. Aku sendiri mulai bertindak sendiri mencari tempat tinggi dan mulai mengambil Foto HD yang bersih dan jelas dari Kamera yang dibelikan Bang Xerxes. Aku sedikit naik ke vendor dagangan yang tidak ada kiosnya dan memoto tindakan Oknum-Oknum itu diam-diam dengan memutari seluruh sisi gedung dan mengambil foto tiap sisi yang berbeda. Sekarang Aku punya sekitar 10 foto dari sudut yang berbeda agar bisa menangkap jelas Oknum dari mana Mereka.


.


“Para bajing*n itu… Untung bersikeras berlama-lama disini dan lengah. Ayo~”


(Garuda)


.


“…”


(Cakra)


.


Aku hanya diam akan perkataan Garuda tadi dengan ekspresi biasa. Sejujurnya Aku bisa melumpuhkan semua Satpol PP itu, tapi rencanaku nanti malah terekspos sepenuhnya dan malah gagal. Jadi maaf ya, Para Pedagang yang ada disini, sabar dan ikhlas dulu untuk sekarang dirampas dengan tidak adil. Sebagai gantinya Aku akan meruntuhkan Pemerintahan Kecamatan yang sudah korup dan kotor sejak 5 tahun lebih ini dan membersihkan semua jajaran aparat keamanan masyarakat yang sudah merugikan Kita semua dengan “Kartu Truf” terakhir nanti…


.


.


*FLASHBACK IV


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Aku teringat janjiku dengan Pak Tua Marno kemarin. Jadi hari ini Aku datang kembali menemui Dia dengan menyamar sebagai anak pendaftar juga. Setelah sampai diruang pendaftaran PPDB, satpam itu meninggalkanku lagi dan ini jadi semakin mudah. Pak Tua itu segera datang lagi setelah satpam memberi tahu kedatanganku. Tanpa basa-basi Dia menyerahkan semua dokumen yang Kuminta tak terkecuali.


.


“Bagus, Terima Kasih Pak. Kau sudah bekerja keras. Sampai bertemu besok dengan melihat berita nasional.”


(Cakra)


.


“Aku tak tahu apa yang Kau lakukan sampai ingin membuat gempar seluruh provinsi, tetapi Kudoakan rencanamu berjalan lancar.”


(Marno)


.


.


*FLASHBACK V


“Sepertinya minggu ini Kita dapat kongsi yang besar lagi ya~ HAHA.”


“Rapat dikecamatan kali ini pasti bakalan lebih besar lagi keuntungannya, jadi ayo kita penuhi panggilan Pak Camat tercinta Kita~”


Saat bersantai dikelurahan secara samar Aku mendengar pembicaraan dari orang-orang kelurahan yang seperti ingin pergi dalam jumlah banyak. Mereka bilang rapat di Kecamatan…? Apakah itu normal? Bukankah rapatnya sebulan sekali, tapi Mereka bilang Minggu ini berarti ada yang tidak beres.


.


“Garuda.”


(Cakra)


.


“Iya, Ayo ikuti Mereka diam-diam.”


(Garuda)


.


Aku merubah Diriku menjadi hembusan angin yang menempel disalah satu mobil dinas yang super mahal ini. Ternyata benar Mereka ke Kantor Kecamatan. Tak perlu basa-basi Aku menyusup langsung ke dalam gedung dan mendapati Mereka diruangan yang terbilang besar dengan pintu kayu yang besar dan tebal bercorak seni.


.


“Kongsi minggu ini sangat besar~ Bapak Ibu semuanya, HOHO. Jadi Kita bisa bagi rata semua uang bernilai Triliunan ini kepada Kita semua~”


“Hahaha, Pak Camat memang hebat bisa mengumpulkan Uang Triliunan ini Cuma dalam 5 tahun~ Sungguh keuntungan kongsi dan uang komisi yang fantastis~!!!”


“Ini sih bisa dinikmati sampai mati~”


“Masyarakat kita bodoh ya~ Pajak yang Mereka bayar ternyata masuk ke Kantong Mingguan Kita, HAHAHAHAHAH!!!”


“Ayo naikkan pajak bulanan daerah kali ini~ APBD yang turun juga Kita alokasikan untuk perorangan Kita. Kirim preman untuk mengintimidasi warga yang tinggal di Daerah Proyek Kita, HEHEHE~ Kita juga bisa beli motor dan mobil mahal yang baru~”


“TAK SALAH AKU MENJILAT KEPADA PAK KADEK~! GYAHAHAHAH~ BODOHNYA DIA AKHIRNYA AKU BISA BERKUASA DENGAN PUAS BEGINI~~~”


“Hahah, selamat untukmu Pak Camat.”


“TAPI WARGA PESISIR PANTAI ITU… ARGHHHH! MEREKA MENGHINA HARGA DIRIKU, APALAGI ADA BOCAH YATIM PIATU YANG MENGGANGGU DAN… PRIA AGEN RAHASIA ITU…!”


“MEREKA ANCAMAN BUATKU!!! KALI INI AKU HARUS MENYERANG PENUH WARGA PESISIR PANTAI DENGAN BANYAK PERSONIL TENTARA, POLISI, DAN PREMAN YANG AKU SOGOK AGAR MAMPUS MEREKA!!!!!”


“Setelah Mereka ditangkap.. ahah~ ahahaha~~ AKU AKAN MENIKMATI BANYAK KEKUASAAN DAN KEKAYAAN BERLIMPAH LAGI~~~


“BERSULANG UNTUK KEBERHASILAN KITA!! HAHAHAH”


“AHAHAHA”


“HEHEHEHE”


“KEKAKAKAKAK”


*Whisper-whisper


*…


.


Mereka… Dasar bajingan kot*r, Belum cukup sudah korupsi APBD, Mereka ingin menaikkan pajak daerah…? Apalagi Warga Pesisir Desa…! Tapi tenang. Ternyata ada CCTV 4 buah yang ada disetiap sudut. Jadi Aku yang sedang berkamuflase diruangan rapat itu segera keluar ke “Security Room” untuk mengambil video dari Server.


.


Aku beruntung karena pihak keamanan sedang keluar entah kemana, jadi Aku bisa secepatnya memeriksa Semua komputer. Aku menemukan Scene yang sama, untung ada 1 buah CCTV yang masih menyala dan 3 lainnya ternyata mati. Walaupun tak ada suara, Aku sudah merekam semua bukti korup di rapat tadi melalui “Mantra Angin”. Teknik yang dirancang untuk bidang peretasan ini dibuat mendadak melalui imajinasiku.


.


Untung Aku punya daya imajinasi yang sangat tinggi dan mampu memanifestasikannya dengan mahir dan rinci menjadi sebuah bentuk Mantra yang nyata. Jadi Aku membuat sebuah “Selimut Aura”. Jadi Aura ini difokuskan untuk memenuhi seluruh kadar ruang dan otomatis aktif setelah dikeluarkan. Selimut angin ini mulai bekerja layaknya “Recorder” suara yang membuat seluruh pembicaraan suara terekam masuk layaknya sebuah data yang terkirim kedalam komputer. Selimut Angin ini adalah “Transmisi Router”, sedangkan Aku adalah “Server” yang menyimpan data-data yang terekam dengan jelas.


.


“HEHEHEHAHAHAH~!”


(Cakra)


.


“Haiyah~ Puas sekali sepertinya Kau ini… Heheh. Tapi yah… Mereka sudah tak bisa melawan setelah Kita merekam semuanya tadi, ngoahahah~”


(Garuda)


.


Aku dan Garuda seirama tertawa jahat bersama karena puas sekali membayangkan para pejabat camat ini ketahuan semua tindakan kotornya beserta barang bukti yang valid. Aku pun tak sabar menanti hari esok saat mendatangi “Kartu Truf”-ku.


.


.


*FLASHBACK VI


“Spek motor? Aku tidak butuh semua itu.”


(Cakra)


*SRRAAAA


Aku menyelubungi seluruh Showroom Kawasaki agar terputus dari realitas. Sekali lagi agar Aku bisa memperoleh keinginanku dengan pasti.


.


“E-Eh? Lampunya mati…? Lagipula ini masih agak siang, kenapa sangat gelap gulita…? Tu-tunggu sebentar ya, bocah. Aku panggil petugas dulu untuk menyalakan genset.”


(Dealer Pria)


.


Aneh, kenapa rasanya… Bocah itu adalah penyebab semua ini ya…? Ah kebanyakan mikir, ayo nyalakan genset dulu!


(Dealer Pria dalam hati)


.


.


Aku menerangi ruangan itu dengan senter darurat disana dan mengecek komputer. Ada aliran saldo masuk yang cukup mencurigakan karena nominal yang tidak normal. Sekitar 700 juta rupiah ada nominal yang tercatat di file komputer Dealer motor ini. Aku hanya memfoto isi Komputer itu juga karena tidak punya “flashdisk” kemudian mengecek keseluruhan dokumen asuransi, fotokopi data personal, dan juga kuitansi pembayaran dengan menyesuaikan tanggal di plat kendaraan Mereka. Semua sudah di cek berulang kali dan benar saja pada waktu yang sama dengan plat kendaraan, ada ratusan kuitansi dan dokumen yang nomor resi serta nomor plat nya sama persis dengan yang Kufoto.


.


Orang itu sebentar lagi datang. Aku dengan cepat menggasak habis kuitansi dan dokumen-dokumen tadi, HUEHEHEH~ Tapi serius dulu, ayo menghilang sejenak dan muncul untuk mengintimidasi Dia.


*Swirl


*WUONGGGG


Aku berubah wujud menjadi kadar angin yang sering Kugunakan untuk berkamuflase. Dia mencari dan memanggilku beberapa kali. Kulihat ekspresinya sangat kalang kabut, merinding, dan takut tentu saja. Jelas sekali kan? Dia mendapati kejadian aneh menimpa dirinya, mendapati teman-temannya hilang, dan sama sekali tidak ada suasana kehidupan yang hanya terdengar suara angin. Lalu Ia berurusan denganku, selesai sudah mentalnya. Kurasa Dia bakal gila sebentar lagi.


.


*ZUONG


“A-AKH…! SIAPA?!!”


(Dealer Pria)


.


“Kau… sungguh sial hari ini mendapati Pengunjung sepertiku ya~? ahahahah”


(Cakra)


.


Aku muncul dibelakangnya sambil menyeringai tajam dengan mata belo. Aku berharap Dia langsung nurut padaku karena Aku harus segera pulang kerumah.


.


“Bo-Bocah yang tadi?! Siapa Kau sebenar--”


(Dealer Pria)


.


“Tidak penting siapa Aku. Posisimu sekarang tidak memungkinkanmu untuk menyanggah omonganku. Sekarang Aku tanya langsung tanpa berlarut-larut. Kujamin keselamatanmu jika mau bekerja sama.”


“Apa ini~? Kenapa ada aliran saldo ratusan juta yang tidak masuk akal masuk ke Dealer ini…? Dan juga… foto ini. Mereka Pejabat Camat, kan?”


(Cakra)


.


“A-A-AA-AAAKH…! DARIMANA KAU DAPAT—AH, TIDAK, IYA BENAR! SUDAH BERTAHUN-TAHUN LALU MEREKA MEMESAN MOTOR DARI KAMI DALAM JUMLAH BANYAK!”


“Sejujurnya Aku dan teman-temanku bingung kenapa Pejabat Camat memesan motor mahal dalam jumlah banyak, selain itu kenapa dari semua motor Mereka memesan Motor Kawasaki. Karena mempertanyakan itu Dealer Kami diancam oleh Mereka akan ditutup paksa jika bertanya… Dan juga Kami terpaksa melakukan ini karena Mereka punya banyak personil bayaran…!!!”


“A-Aku sudah mengatakan semuanya! Tolong, jangan teror Aku lagi… Kumohon!!!”


(Dealer Pria)


.


“Cih, brengs*k. Ternyata benar ya…Aku ambil semua dokumen di Ruangan Karyawan disana semuanya. Untuk barang bukti kejahatan berlapis ini.”


(Cakra)


.


“A-APA?! TUNGGU ITU DOKUMEN PENTING! KAU TIDAK BOLEH MELIHATNYA SEMBARANGAN!!! NYAWA KAMI TARUHANNYA KALAU SAMPAI BOCOR…!”


(Dealer Pria)


.


“Akan Kulengserkan Pemerintahan Camat. Jadi Kalian mungkin besok akan sibuk memutasi semua dokumen dan menarik aliran saldo haram yang Mereka pakai.”


(Cakra)


.


“A-Eh…? Apa yang--”


(Dealer Pria)


.


“Tutup mulutmu saja. Lihat berita besok, Kujamin Dealer Showroom ini aman sentosa.”


.


*ZUONG~


Aku menarik “Angin Spasial” dan mengembalikan Dealer ini ke realitas. Lampu menyala lagi, dan Aku beranjak pergi dengan entengnya. Dia kelihatan putus asa dan takut sekaligus. Setidaknya Aku menyemangati Dia sejenak.


.


“Ayolah jangan murung begitu, Aku ini luar biasa kuat dan jenius. Percaya padaku, kehehehahah~”


(Cakra)


.


“Kau… Hah… Aku tak akan bertanya lagi. Sejujurnya Mereka juga sewenang-wenang. Melihatmu punya kekuatan mistis yang mengerikan membuatku percaya Mereka bisa lengser oleh skema buatanmu.”


(Dealer Pria)


.


“Ada satu hal lagi. Ayo Kita bertransaksi palsu.”


(Cakra)


.


“Eh…? Ke-kenapa?”


.


“Tentu saja sebagai ganti bayaran semua dokumen serta kuitansi resmi ini. Aku jelas tak akan berbisnis dengan metode penjajah. Jadi Kau terimalah uang dariku dan buatkan kuitansi fiktif sebagai bentuk asuransi jiwa Kalian padaku. Jadi Aku bertanggung jawab atas nyawa Kalian.”


(Cakra)


.


“A-AH, Iya… Baiklah ayo Kita lakukan transaksi itu! Kau ini sungguh sangat mengerikan. Bagaimana caramu mempelajari skema rencana yang sangat rumit itu? Jujur orang dewasa sekalipun akan kalah olehmu dalam hal bicara sekalipun!”


(Dealer Pria)


.


“Eheh, Kuanggap itu pujian, Aku pulang dulu. Jadi tetaplah hidup sampai besok.”


(Cakra)


.


Aku memberikannya seluruh tabungan Kreditku sekitar 500 ribu rupiah dan Dia membuat kuitansi palsu yang tertulis pembelian motor untuk menghindari banyak kecurigaan. Aku pulang dengan santai tapi Dia sangat semrawut kelihatannya.


.


.


*KEMBALI KE MASA TIMELINE SEKARANG


.


“Aku… AKU BUTUH MENCERNA SEMUANYA! Dari berita Pembantaian Misterius, Ledakan Aneh, semua Skema Strategi dan Rencana Besar untuk melengserkan Pemda Kecamatan yang korupsi… Semuanya adalah Rencanamu…!!!”


.


“Iya, dalam jangka 3 hari saja. Aku menyelesaikan semua ini.”


(Cakra)


.


“SUMPAH…! Kau sangat luar biasa jenius! Bahkan Kau memiliki bakat dan kemampuan berbisnis dan negosiasi dimana orang-orang dewasa tidak bisa menang darimu! SUNGGUH ANAK HEBAT DAN MULIA… Aku berutang banyak Padamu, Nak. Sungguh dalam lubuk hatiku berterima kasih dengan besar Kepadamu karena telah mengungkapkan Sindikat Kejahatan Besar dari Oknum Pemerintahan. Apalagi seluruh kemampuan besar itu ada pada Anak kecil sepertimu…!”


(Kadek)


.


“Terima kasih. Aku anggap semua kata-katamu itu pujian. Sekarang, karena Kau sudah mengetahui semua-”


(Cakra)


.


“IYA. Aku akan menyiarkan siaran darurat tentang obrolan Kita berdua ini. Apalagi dengan banyaknya bukti konkrit ini, Pemda Provinsi beserta Diriku punya alasan yang kuat untuk memecat para Pejabat Pemda Kecamatan Kuta yang sudah menyengsarakan rakyat di daerahmu selama bertahun-tahun.”


“Kau sudah berjuang sangat keras untuk mendapatkan ini, Nak! Sisanya serahkan Kepadaku.”


.


“Tunggu, meski semuanya sudah jelas, Kau tidak akan bisa menghindari kontroversi antara isu Pro-Kontra dari Publik. Ini adalah masalah internal yang sudah dangat parah kejadiannya yang tidak pernah terekspos bertahun-tahun. Jadi banyak yang mempertanyaan faktualnya kejadian yang Provinsi Bali ini alami.”


(Cakra)


.


“Kau salah mengkhawatirkan orang, Nak. Apa Kau tidak tahu? Aku ini I KADEK NUGRAHA MULYA. Seorang Gubernur yang menjunjung tinggi keadilan sosial, berprinsip untuk menghujam habis segala bentuk Kejahatan Korupsi dan Nepotisme, dan juga mengutamakan kemakmuran Rakyat~ Kenapa Aku harus takut melawan negara ini bahkan jika Publik mengatakanku sebagai omong kosong~?”


(Kadek)


.


“Ahahah, Bapak sangat hebat ya sampai tak gentar seperti itu padahal masalah internal ini bisa menjadi pro-kontra di berita nasional. Baiklah, Aku setuju, Pak. Tetapi Aku masih punya hal lain yang harus Kau dengar.”


(Cakra)


.


“Tentu. Aku bersedia mendengarmu. Kau sangat berjasa untuk Provinsi Bali sebagai Pahlawan yang mengungkap sindikat kejahatan besar ini. Kami yang merupakan Pemda Provinsi tak tahu menahu soal ini sama sekali. Mewakili Diriku, bukan hanya Pemda, namun juga Seluruh Provinsi Bali berhutang besar atas jasa dan perjuanganmu, Nak.”


(Kadek)


.


“Terima kasih telah mengapresiasiku sebesar itu Pak. Namun kali ini izinkan Aku untuk menawarkan kerjasama Kita berdua… dalam jangka waktu panjang puluhan tahun kedepan. Ini juga sebagai rasa terima kasih Karena sudah mau mendengarkan anak kecil sepertiku.”


.


Aku berdiri menghadapi Guberner “Kadek” dengan tegas dan serius. Tidak ada rasa main-main dalam perkataanku ini. Biasanya Aku selalu cengengesan dan bercanda bawaannya, kali ini Aku mendeklarasikan kerjasama Resmi dengan seorang Gubernur yang gemilang karakternya demi Bangsa ini juga.


.


Terutama demi memulai jenjang kehidupanku seterusnya yang serius untuk menumpas segala ancaman “Zarkan” dari Dunia dan mengungkap “Rahasia Dunia” yang hilang dari seluruh dokumentasi Dunia. Aku akan memimpin seluruh negeri dari balik layar dan menjaga stabilitas segala bentuk aspek kenegaraan di dunia.


.


“Apa? Kau mau Kita bekerjasama jangka panjang atas imbalan karena telah mendengarkanmu? Hahahah~ Kau lahir dengan bakat berbisnis dan berpolitik yang sangat luar biasa, Nak Cakra. Baiklah, Kita dengarkan apa penawaranmu kali ini.”


(Kadek)


.


“Saat ini Negara Kita sedang melaksanakan Pemilu untuk pergantian banyak Kepala Daerah, terutama untuk pergantian Periode jabatan “Presiden”. Aku sudah menyurvey semua Daerah dari TV Nasional beserta elektabilitas masing-masing calon Pilpres dari berbagai Partai yang mengusungkan diri di Pemilu kali ini.”


.


“Semua Calon memiliki Program kerja masing-masing beserta reputasi Mereka sendiri atas prestasi di Daerah Provinsi yang Mereka pimpin. Namun Mereka semua masih belum melampaui Elektabilitas Anda yang berkharisma dan mumpuni dalam segi Otonomi Daerah secara mandiri. Terlebih pengalaman dan kredensial Anda saat ini sudah berjalan lebih lama dibanding Calon lainnya. Ini yang membuat Anda memiliki Reputasi yang condong akan citra tersohor dan bijaksana.”


.


“Aku juga melihat elektabilitas Anda berada di Top 3 persaingan ketat dengan 2 calon kandidat Presiden lainnya yang mengusungkan diri. Dan Anda berada diperingkat ke-3 bukan? Namun elektabilitas Anda saat ini bisa langsung melonjak naik atau turun dari negosiasi ini.


(Cakra)


.


“…?! Apa yang-”


(Kadek)


.


“Bagaimanapun seorang Presiden adalah Orang yang harus kontras dalam berbagai bentuk politik, serta Opini Mereka yang memiliki pendirian teguh dalam mengatasi berbagai isu kontroversial.”


.


“Saat ini Anda menghadapi ancaman penurunan elektabilitas secara signifikan karena tindakan korupsi dan nepotisme di Wilayah yang masuk Yuridiksi Anda secara tidak langsung. Anggaran Tahunan APBN yang sudah susah payah dirancang dari Pemerintahan Pusat yang telah dianggarakan keseluruh 34 provinsi untuk dianggarakan ulang menjadi APBD agar bisa diselenggarakan secara merata dan adil malah dimonopoli oleh Pemda Kecamatan yang menjadi Mediator langsung dengan Masyarakat Kota.”


.


“Ini adalah Masalah Internal yang bisa berakibat fatal jika ditangani langsung secara frontal. Jadi, Aku menawarkan untuk mengusulkan Diriku sebagai “Broker” Pihak Luar untuk “partnership” secara langsung dengan Pihak Anda.”


.


“Demi melengserkan Semua pejabat Pemda Kecamatan yang melakukan tindak kejahatan besar sekaligus dengan rapih dan terbuka disaksikan seluruh Indonesia dengan mempertaruhkan Nama Besarmu untuk menaikkan Elektabilitas Pilpres dan Aku yang akan mengusulkan sebagian besar rancangan Visi Misi dan Program Kerja Bapak sebagai Calon Presiden mendatang.”


(Cakra)


.


“Hebat sekali. Kau benar-benar batu permata yang mendekam di Desa Pesisir. Kau benar, Elektabilitasku terancam jika mempublikasikan masalah internal ini secara sepihak. Apalagi Skema yang Kau usulkan tadi… Kau menembus batas pikiranku dan lagi, Kau bisa melihat kemampuanku secara utuh.”


.


“Jadi, simpelnya Aku bersama Denganmu menjalin “Partnership” sebagai Broker baru yang akan membersihkan seluruh sindikat kejahatan besar yang dilakukan Pejabat Pemda Kecamatan dengan menggunakan Namaku.”


.


“Sehingga Arus Opini Publik dalam Politik saat ini akan melambung tinggi atas kemampuan dan kapabilitasku dalam menumpas masalah Korupsi dan Nepotisme yang sudah berlarut-larut menjadi rahasia Publik. Jujur hampir tidak ada daerah yang berani mengekspos Kasus Korupsi dan Nepotisme karena ada Bekingan Politik yang kuat. Namun Aku berbeda, Aku berprinsip penuh untuk membersihkan segala bentuk kejahatan politik daerah bahkan jika Aku harus bertarung sendirian dengan kekuatan fisik!”


.


“Apalagi Aku dengan berani mengekspos kasus kejahatan besar itu dan membersihkan semua akar masalah itu tanpa terkecuali bersama dengan nama baru dibidang Politik ini, yaitu Namamu, Cakra yang berperan sebagai “Partnership” Mitra Kekuatan Konvensional. Ini sungguh penawaran kerjasama yang luar biasa, Nak Cakra. Aku paham dengan jelas maksud dan tujuanmu.”


.


“Benar. Tujuanku adalah menjadikan Elektabilitas Politik unggul Kepadamu sebagai Calon Presiden dan menjadikan Diriku sebagai “VIP” yang turun tangan langsung membereskan masalah internal di Daerah Provinsi atas nama “I Kadek Nugraha Mulya”.”


.


“Aku akan menjadikanmu Kandidat terkuat Calon Presiden dalam pemilu tahun ini dan Bapak akan menjadikanku sebagai VIP yang berperan sebagai Kekuatan Nasional di kabinet baru nanti.”


(Cakra)


.


*Prok Prok Prok


Dia memberiku tepuk tangan atas kemampuan berpolitikku tadi. Aku merasa bangga dan senang sendiri tentu saja. Diakhir perkataanku Aku mulai berekspresi santai namun serius akan kepastian perkataanku. Aku senang karena pada akhirnya Dia mau menerima Diriku yang hanya anak desa, Dia juga senang karena memiliki kekuatan besar yang baru.

__ADS_1


.


“Kita sepaham dan memiliki keinginan yang sama. Kau dan Aku… Pada dasarnya ingin menjadikan Negeri Indonesia Kita sebagai Pemimpin Dunia kan? Kau ingin membangun kekuatan militer dan Pendekar dengan skala nasional melalui Program serta orang-orang yang akan Kau pilih langsung didalamnya.”


“BAIKLAH!!! KITA BISA BICARA BANYAK NANTI. SEKARANG KITA BERESKAN DULU PARA CECUNG*K TAK TAHU ADAT ITU~! GYAHAHAHAH!”


(Kadek)


.


“Ah~ iya iya~~”


(Cakra)


Dia sungguh barbar dan kuat dalam menggenggam tangan orang jujur saja. Dibalik penampilan tubuh yang lumayan kekar ini, Dia sangat Pro Rakyat dan bijaksana dalam memimpin secara adil dan makmur untuk seluruh Daerah tanpa terkecuali. Semuanya terbukti dari seluruh Bali ini, yang sebagian besar Daerah kabupaten dan kecamatan dengan persentase 97% rakyatnya hidup makmur dan sejahtera dalam ekonomi, pendidikan, dan sosial budayanya.


.


Seluruh rakyat Bali dan bahkan luar daerah banyak yang menyukai dan mendukung penuh Pak Kadek sebagai calon presiden baru nantinya. Itulah alasanku menjadikan Dia sebagai Kolega politik yang bisa membuat status individuku mendapatkan reputasi dan pencapaian besar dalam penyelenggaraan negara nantinya


.


“Kita akan bertemu lagi. Aku harus memberitahu semua ASN di gedungku untuk menyiarkan siaran daruratku. Sungguh pertemuan Kita sudah ditakdirkan! Cakra~”


(Kadek)


.


“Bawalah semua barang bukti ini. Jangan ada yang tersisa. Mengingat kepribadianmu, mungkin siaran singkat ini akan menjadi berita menggemparkan diseluruh daerah. Apalagi, Kau berniat memanggil seluruh Pejabat Korup itu dan menghukum Mereka terang-terangan di Lapangan “Puputan Renon” kan?”


(Cakra)


.


Aku memutuskan ikut dengannya sambil berbincang-bincang setelah memutuskan untuk bekerjasama dan menjadi teman beda usia. Dia berjalan bersama denganku jadi Aku tak akan dicurigai oleh orang-orang disini. Tapi tetap, Aku harus waspada seperti biasa.


.


“Iya, Ngomong-ngomong Kau ikut denganku saja. Biar Kuperkenalkan Kau dengan orang-orang digedung ini. Karena Kau bilang Kita akan bekerjasama kedepannya, Aku juga harus menunjukkan kejujuranku.”


“Eh sebentar. Aku belum tahu nama panjangmu, lagipula Aku tak tahu umurmu, boleh Kau beritahu Aku?”


(Kadek)


.


“Aku Cakra Airlangga~ Umurku juga… Ukh… Kau ga bakalan percaya. Umurku 10 tahun.”


(Cakra)


.


“HA-HAH?!!! BO’ONG ANJ*R…! UMUR 10 TAHUN TAPI KEMAMPUANMU LEBIH BESAR DARIKU???! HEY SEKETIKA AKU MERASA INI TAK ADIL, ERGH~~~”


(Kadek)


.


Ugh… Suaranya sangat bergemuruh membuat seisi lorong bangunan terdengar sampai jauh. Bisa Kulihat pegawa-pegawai disini tersentak kaget dan bingung sendiri dengan apa yang terjadi. Tapi yah, Mereka lihat Kami berdua jalan bersama untuk pergi ke Ruang Penyiaran Darurat. Mereka jelas tidak mengenaliku dan mulai bermunculan omongan-omongan yang samar dan banyak sehingga Aku tak tahu sedang digosipkan dengan baik atau buruk.


.


Bagaimanapun dari reaksi para bapak-bapak dan ibu-ibu pegawai pemerintahan ini sudah sepenuhnya tahu kepribadian barbar dan ganas dalam hal bicara. Mereka tidak takut sama sekali dan seakan bicara dalam hati dalam kebingungan Mereka :


.


“Sebenarnya apa yang salah dari orang tua sinting ini?”


.


Kami sudah sampai dan Dia memperkenalkan Aku secara rinci dan jelas. Sehingga Aku mudah berkenalan dengan staff-staff yang bekerja disana. Serta ada beberapa pejabat kepercayaan Pak Kadek yang datang untuk mendampingi berjalannya siaran darurat.


.


“Wah~ hebat ya anak laki-laki semanis Dirimu sangat berjuang keras melawan ketidakadilan ini!”


“Kau anak yang turun dari langit kali ya~ ini bisa jadi Headline besar dan menaikkan elektabilitas Gubernur terbarbar Kita ini~ haha.”


“Kami sudah lihat semua barang bukti yang Kau berikan kepada Pak Gubernur. Semuanya sungguh mencengangkan dan menggemparkan!”


“Tidak disangka Sindikat Kejahatan ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Orang-Orang di Kotamu pasti menderita akibat perbuatan Mereka.”


“Hebat~!!! Anak sepertimu sangat berjasa besar! Kami saja tidak bisa menemukan sindikat kejahatan besar ini! Ayah Ibumu pasti bangga.”


(Random Pejabat Kepercayaan Pak Kadek)


.


“Urgh… Aku bahkan lahir tak tahu siapa Ayah dan Ibuku. CK, DASAR…!”


(Cakra)


.


Aku sedikit ngambek karena teringat masa laluku sih, Hueheheh.


.


“O-OH AH! MAAF!! SAYA MINTA MAAF SUDAH BICARA SEMBARA--”


“Hayoloh~ Marah Dia.”


“Rusak deh kerjasama Kita.”


“KALIAN~! AKU HANYA SALAH BICARA, HIKS T_T”


.


Aku akui tak ada aura jahat di kepribadian Mereka. Aku juga tahu Mereka sungguh bersih dan sangat baik. Dilihat dari sifat Mereka sepertinya Kita Rakyat Bali punya sifat yang sama yah~ haha ini membuat “Mood”-ku naik.


.


“Kita sudah siap, Pak Gubernur. Tolong bersiap diri, siaran sudah dimulai.”


.


Dengan seksama. Seluruh baliho iklan dan penayangan digital diseluruh Provinsi Bali sampai kecamatan semuanya di interupsi total. Semua acara lokal dan Channel-Channel Entertainment disemua TV Daerah Bali membuat kaget dan tersentak semau Rakyat Bali pada saat itu.


.


“Eh…?”


“Apa?!”


“SIARAN DARURAT?! ADA APA INI?”


(Random Kedai Buleleng)


.


“Apa yang terjadi…? Ini bukan biasanya ada siaran darurat.”


(Cokorda)


.


“Apa telah terjadi sesuatu…? Penyerangan Zarkan? ”


(Xerxes)


.


“Tidak. Tidak mungkin Zarkan muncul di Ibukota Provinsi karena terletak jauh dari lepas pantai. Sekalipun ada penyerangan, Kita harusnya tahu duluan.”


(Aza Shaktani)


.


“Apa ini… masalah lain?”


(Mahawardana)


.


“Kita tidak tahu apa yang mau Gubernur bicarakan. Jadi ayo dengarkan dengan seksama.”


(Tukang Bengkel yang lagi jam istirahat)


.


“Halo seperti biasanya~ Rakyat-rakyatku tersayang. Bali Kita memang rawan akan serangan misterius dari Iblis-Iblis Zarkan, namun kali ini ada masalah internal yang harus Kuberitahukan secara Publik tanpa adanya sabotase dan semoga siaran ini bisa dilihat se-Indonesia~”


.


“Aku hampir mencapai impianku untuk menjadi Presiden nantinya. Berhubung Pemilu tahun ini. elektabilitas serta reputasiku yang sudah terkenal dari dulu, membuatku lebih unggul dari calon-calon lainnya. Hampir sedikit lagi Aku dapat merealisasikan realitaku yang jauh, namun ada halangan besar yang mengancamku.”


.


“?!”


“Apa yang-”


(Random Penduduk Kota Kecamatan)


.


“Ada yang bisa mengancam Gubernur Kadek…?! Tapi siapa?”


(Penjual Ikan Laut)


.


“Kadek ya. Si kolot tua itu memang pada dasarnya berhati mulia dan merakyat, memiliki cita-cita besar memakmurkan seluruh negeri dari ancaman Zarkan.”


(Cokorda)


.


“Tetapi Dia selama ini selalu menyingkirkan semua ancaman luar dan dalam melalui pertarungan sungguhan seorang Pendekar…”


(Agungraka)


.


“Mungkin Dia tidak sekuat Kita, tetapi kemampuan tempurnya sangat tinggi yang bahkan melampaui kekuatan militer negara. Bisa dibilang Dia ini satu tingkat dibawah Kita ya…”


(Xerxes)


.


“Halangan terbesar yang mengancam elektabilitasku ini adalah ancaman “Internal” dan Pelakunya adalah…”


“PEMDA KECAMATAN KUTA. BESERTA SELURUH JAJARANNYA~!”


.


*PRANGG


.


Kami bisa melihat dari balik kamera, gelas minuman yang biasa Dia bawa pecah berkeping-keping karena luar biasa kesal saat itu. Seakan seperti binatang buas yang sangat ingin menerkam Mangsa yang mengejek dan mengolok-oloknya.


.


Aku bisa merasakan “Vajra” darinya. Kurasa tingkatan “Vajra”-nya itu Tingkat “Tinggi”, satu level diatasku, dan satu level dibawah Bang Cokorda dkk. Dimulailah “Chaos” sebenarnya yang dimana Dia membabi buta mengeluarkan semua barang bukti kejahatan yang Kuberikan. Dan… sialnya~ Aku lupa mengambil kameraku (~ ̄▽ ̄)~


.


“LIHAT! INI SEMUA ADALAH BUKTI VALIDNYA!!! AKU BACAKAN SATU PER SATU SEGALA BENTUK KEJAHATAN DARI ORANG-ORANG PICIK ITU.”


.


Seluruh Rakyat Bali disetiap kabupaten dan kecamatan bahkan desa-desa pesisir apalagi Denpasar menyaksikan dengan jelas sindikat-sindikat itu. Semuanya sangat gempar akan kenyataan saat ini. Mencoba menafsirkan apa yang barusan didengar dan mulai kembali ke realitas saat ini.


.


Korupsi? Intimidasi? Ancaman? Penyelundupan Narkotika dan Miras? Kuitansi saldo-saldo ilegal? Invoice resmi transaksi?


.


Semuanya terekspos sesuai dengan rencana awalku, menjadikan Pak Kadek sebagai “Kartu Truf” terakhir yang akan mengekspos berita ini secara menggebu-gebu dan berapi-api sampai Berita tersebut terekspos keseluruh Negeri. Tapi ga masalah juga sih, karena “Masalah Internal” ini terekspos bersamaan dengan Gubernur Bali sendiri yang mengungkap sindikat kejahatan besar ini.


.


Seluruh Negeri Indonesia saat itu gempar dan kaget bukan kepalang satu per satu disetiap daerah karena Sindikat besar yang sudah berjalan selama bertahun-tahun lamanya. Kejadian ini mulai membesar diseluruh negeri sampai-sampai pemerintah pusat mengetahui hal ini dan berinisiatif membantu Gubernur Kadek untuk mengirimkan Unit Penangkapan dari KPK saat itu berjumlah 10 Bus dalam perjalanan ke Bali untuk memeriksa terkait dugaan penyalahgunaan kekuasaan oleh Pemda Kecamatan Kuta.


.


“Sinting… Sudah kuduga kebusukan Mereka bakal terungkap dengan cara yang tak terduga ini. Tetapi apa ini…? Bagaimana bisa di hari ini semuanya terungkap keranah seluruh negeri???”


(Mahawardana)


.


“Anehnya semua barang bukti itu seperti mudah sekali didapatkan oleh Pak Tua kolot itu kan?”


(Agungraka)


.


“Si Otak Otot itu jelas tidak mungkin melakukannya sendiri. Ada pihak luar yang membantunya, itu pasti.”


(Cokorda)


.


“Tapi tunggu sebentar… Barusan Dia memperlihatkan kamera juga. Kalau dipikir merk nya canon--”


(Xerxes)


.


Semua mata Penduduk Desa Pesisir dan juga Saudara-Saudaraku membelalak tak percaya. Mereka berpikir itu hanya prasangka. Tapi semuanya malah semakin curiga dan malah kepikiran kalau ternyata semua ini adalah skemaku. Bagaimanapun logikanya tak ada anak kecil berumur 10 tahun yang punya kemampuan untuk berpolitik juga. Aku jadi berpikir kalau Aku sudah menjadi “Mastermind” yang sangat mengerikan, haiyah~


.


“Eh… Ga mungkin ini semua skema rencana Cakra kan…?”


(Shiori)


.


“Tapi bagaimana caranya… Anak itu membuat rencana mulus yang tak bisa Kita lihat celahnya sedikitpun? Haaaaa~?”


(Agungraka)


.


“Sialan. Semoga bukan Cakra. Aku sudah muak memikirkan rasa bersalahku dari kemarin. Tapi serius, anak itu seperti menyembunyikan sesuatu yang tak terduga. Itu yang membuatku kepikiran.”


(Mahawardana)


.


“Aku telah mengirimkan Unit Satuan Tugasku sendiri untuk menangkap para Pejabat Kecamatan. Dan Unit Khusus dari KPK yang akan datang memberiku bantuan. Juga… Aku mendapatkan semua bukti kejahatan ini berkat seseorang yang datang seperti komet. Benar-benar takdir bisa bertemu dengan orang itu yang menyampaikan semua sindikat ini seluruhnya.”


(Kadek)


.


“?!”


“Bantuan??”


“Ada orang yang membantu mengungkap kejadian besar ini…?”


“Siapa?”


“Orang yang datang bagai komet?!”


“Gila!!! Orang ini pasti berjasa besar…! Sungguh hebat!”


(Random Rakyat Bali)


.


“?!”


(Cokorda, Xerxes, Agungraka, dkk)


.


“Aku akan menutup siaran ini. Mari bertemu lagi pukul 4 sore. Sesuai adat dan kebiasaan Kita, jika ada pelanggaran berat dalam wewenang kekuasaanku. Ayo… lakukan dengan cara Kita.”


(Kadek)


.


“LAPANGAN PUPUTAN RENON…!!!”


(Serentak Rakyat Bali dalam hati)


.


“Ayo berangkat sekarang. Kita harus melihat semuanya apa benar ini skema besar Cakra.”


.


“Jika ini benar rencana Cakra, berarti Dia serius waktu taruhan denganku… Ugh, sumpah bikin merinding.”


.


“Aku tahu itu beralasan. Siapa yang menyangka kan anak kecil berumur 10 tahun bisa punya kemampuan gemilang seperti ini, haha~”


.


“Fuhh~ Baiklah, ayo Kita ke Mobil Pribadiku. Kita berangkat sekarang.”


.


*KLAP


*KLAPP


.


Siang setelah siaran darurat selesai, Seluruh Rakyat Bali yang haus akan rasa penasaran kejadian besar ini mulai berhamburan dan mempersiapkan kendaraan Mereka masing-masing untuk menuju Denpasar. Tentu saja Saudara-Saudaraku juga, Mereka berangkat langsung ke Denpasar. Sejujurnya bahkan hampir seluruh jalanan kabupaten sangat macet karena isu ini, dan pasti di Ibukota sangat ramai nanti.


.


Untung saja Mobil milik Bang Wardana adalah “Lexus RX” keluaran tahun 2000, yang punya kecepatan diatas rata-rata mobil umum pada masanya. Jadi Mereka mungkin bisa sampai ke Denpasar cuma dalam 10 menitan jika tidak kena macet. Ini adalah Mobil berkapasitas besar yang bisa tembus lebih dari 150 KM/Jam,


.


Pak Kadek dan jajarannya bersamaku mulai membicarakan skema eksekusi Mereka di Lapangan nanti. Pada dasarnya Kita memakai metode eksekusi jaman dulu dengan interogasi terang-terangan secara publik. Kami menyusun semua strategi nanti untuk antisipasi ******* langsung. Aku mengusulkan jika Aku yang akan membersihkan kekacauan yang pecah nantinya dan personil Gubernur yang akan membantu menahan Mereka seusai menargetkan Diriku


.


Itulah yang membuat Opini Publik salut dengan Pak Kadek karena keras dan tegasnya dalam menjalankan politik yang mengadili semua kejahatan dengan kontras dan selalu mewakili isi hati semua orang.


.


Gedung Perkantoran Provinsi juga sangat sibuk mengurus dan berlarian sana-sini untuk menyiapkan pemanggilan dan pemecatan Publik yang disaksikan seluruh Provinsi dan bahkan liputan media dari luar daerah.


.


Bali menerapkan metode untuk mengeksekusi Pelaku Kejahatan bukan dengan eksekusi sungguhan. Namun eksekusi ini berbentuk interogasi keras dengan penunjukkan barang bukti yang banyak dan valid. Setelah interogasi selesai, Publik diizinkan untuk melontarkan semua opini Mereka ke pelaku kejahatan dengan riuhnya. Setelah selesai, Pelaku Kejahatan akan dijebloskan ke penjara seumur hidup.


.


Inilah yang membuat Bali terkenal se-Indonesia bukan hanya karena tersohor dan berkharismanya Gubernurnya saja. Tetapi semua Rakyat Bali yang terkenal kuat dan tegas kepribadiannya dalam berprinsip penuh untuk menumpas bersama segala bentuk kejahatan materiil maupun kejahatan berantai apapun bentuknya.


.


“HEY!! I-I-ITU SEMUA PA-PALSU…! INI PENGHUJATAN!”


“IYA! KA-KAMI TIDAK MELAKUKAN SEMUA ITU!!! INI FIT-FITNAH---!!!!”


(Para Pejabat Kecamatan)


.


“Kalian Para Bedeb*h yang membuat nama Bali menjadi kotor dan buruk!!! MAJU TERUS KE TENGAH LAPANGAN MENGHADAP GUBERNUR…!”


(Tentara Pecalang)


.


Semua sisi tempat sangat riuh dan ramai. Dari balik panggung Aku bisa lihat dari jauh Bang Cokorda, Kak Shiori, Kak Shaktani, dan semuanya seperti cemas akan sesuatu. Tapi itu nanti dulu, ada yang tidak biasa disini.


.


Panggung untuk Pak Kadek dan Aku sudah disiapkan dengan tinggi sehingga orang-orang bisa melihat Kami. Dipanggung ini terdapat mimbar yang disertai satu kursi megah untuk Gubernur duduk disertai bendera Lambang Provinsi dan bendera merah putih, sedangkan di sisi kanan dan kiri panggung terdapat “Sound System” raksasa yang bisa terdengar sampai keseluruh penjuru Denpasar.


.


Aku dan Pak Kadek diberikan Microphone khusus yang berbentuk Mic namun tidak memakai kabel, jadi mempermudah gerak Kita. Apalagi disini banyak tentara dan polisi yang mengawasi seisi lapangan agar tak ada yang menerobos masuk. Sekitar 30 personil gabungan yang ada didalam Lapangan yang dibatasi garis kuning.


.


Ada Unit Spesial ciptaan Pak Kadek sebagai Gubernur Bali yang bertugas untuk mengarak Pelaku Kejahatan yang akan dieksekusi di Lapangan. Jumlah Mereka sekitar 10 dan kekuatan masing-masing individu Mereka diatas Kapabilitas Militer Negara, ini yang membuat Bali dikagumi dan ditakuti Daerah Luar karena memiliki kekuatan tersembunyi. Mereka berpakaian seperti seragam khusus Pecalang zaman kuno namun didesain lebih futuristik sehingga tidak mengganggu pergerakan.


.


5 dari Mereka menjaga panggung dan 5 lainnya mengarak para Pejabat Korup itu. Apalagi dari nada bicara Mereka tadi, Mereka tidak takut sama sekali dengan Pejabat Korup itu, barbarnya lagi Pejabat Korup itu bahkan dikasari dengan kata bedeb*h, seolah Dia mengatakan bahwa pejabat tak punya harga diri sama sekali dihadapan “Pecalang”.


.


“Kita sudah harus bersiap untuk pemanggilan selanjutnya, Anak Muda.”


(Ni Luh Komang)


.


“Ya~ ya, Pahlawan Kecil Kita, ngemilnya nanti dulu. Hari ini adalah ajang untukmu, bukan untuk Pak Gubernur~”


(Ngurah Arta)


.


“Gausah khawatir~ Nanti Kita semua makan-makan bareng kok merayakan munculnya Pahlawan Baru di Bali, hahaha.”


(Made Jayawira)


.


Mereka bertiga bertugas untuk memberikan segala instruksi dan arahan nanti Padaku. Jujur Mereka para “Pecalang” ini sangat menyambut Diriku bak Pahlawan Baru, walaupun Aku tak berpikir Diriku Pahlawan sih… Namun karena sifat Mereka yang berbeda dihadapan Publik membuatku mudah untuk bergaul dan bicara banyak dengan Mereka, seperti Aku mendapatkan rasa kekeluargaan dari Saudara-Saudara pertamaku yang sudah menjadi Keluargaku sekarang.


.


Ni Luh Komang adalah wanita berumur 31 tahun, sedangkan Ngurah Arta dan Made Wirajaya adalah Pria berusia sama yaitu 29 tahun. Tidak hanya Mereka bertiga, tapi semua 10 Pecalang ini dididik dan dilatih langsung oleh Pak Kadek agar menjadi kekuatan tersembunyi di Pemerintahan Provinsi. Itulah kenapa walaupun Mereka adalah Pendekar Sejati dengan kapabilitas tinggi, Mereka memiliki watak yang sangat ramah dan baik walaupun di luaran Mereka luar biasa galak dan tegas demi menjaga “image” Mereka.


.


“Ahahah, baik~ baik. Kalian tidak perlu khawatir. Aku punya caraku sendiri menyampaikan gelar perkara ini. Jadi serahkan padaku untuk kekacauan yang mungkin pecah dan tarik mundur teman-teman Kalian yang lain dilapangan.”


(Cakra)


.


“Eh…? Kau ingin bertarung langsung dengan Mereka?? Apa Kau gila…? Setidaknya biarkan Kami membantumu, apalagi Kau masih 10 tahun. Sungguh tak terbayangkan apa yang telah Kau lalui untuk sampai ke tingkatan kemampuanmu yang sekarang, tapi ini terlalu bahaya.”


(Ni Luh Komang)


.


“Percaya padaku. Karena ini akan menjadi pertarungan berdarah bagi Mereka. Aku punya pembalasan dendamku sendiri karena dulu ditindas Mereka.”


(Cakra)


.


“Baiklah, Kami akan mengawasimu jaga-jaga Kau terluka. Jadi kami akan bergerak dibelakangmu.”


(Made Wirajaya)


.


“Bagus dengan itu, baiklah…Sekarang, seluruh Rakyat yang ada disini hari ini, akan menyaksikan bagian dari tradisi…”


(Ngurah Arta)


.


Eksekusi Publik sudah dimulai. Seluruh atmosfer yang ribut dan penuh suara menjadi hening oleh suara terompet khas Daerah yang merdu bunyinya namun keras seperti suara geledek. Dari bawah tanah yang menghubungkan langsung dengan mimbar Panggung, Pak Kadek dan 2 Pecalang melangkah naik keatas dengan suara langkah kaki yang bergema keras saking kuatnya kekuatan masing-masing 3 Individu ini.


.


“Akhirnya, Dia muncul kembali kehadapan Publik setelah memimpin lama.”


“Sosok Individu Pendekar kuat terdahulu yang terkenal akan kharisma serta martabatnya dimata Rakyat yang memiliki sifat adil dan bijaksana, keras tanpa pandang bulu, dan berprinsip teguh tak tergoyahkan.”


“Kadek, si Tua sialan, heh. Sebenarnya ada apa ini? Apa pada akhirnya Aku akan melihat pertunjukan besarmu lagi?”


(Cokorda)


.


“Kau yang dianggap terkuat diseluruh Provinsi, mampu membuat hening seluruh Publik hanya dengan hentakan kakimu ya, si Tua Kolot itu~”


(Agungraka)


.


“Haah~ Apa bagimu ini suatu hiburan hah? Pak Tua keren ini, kehehahahah.”


(Xerxes)


.


“Apa orang ini ada hubungannya dengan “Dalang” misterius itu ya…? Aku jadi kepikiran.”


(Shiori)


.


“Mau iya atau tidak, Ayo Kita lihat kebenarannya hari ini.”


(Aza Shaktani)


.


“Kita lihat…”


(Mahawardana)


.


“Siapakah “Vigilante” luar biasa yang tak kenal takut ini yang bisa mengekspos kebobrokan Pemda Kecamatan!”


(Rakyat Bali dalam hati Mereka)


.


Pak Kadek yang berpakaian seragam resmi Gubernur dengan banyak medali penghargaan dan sebuah pedang panjang tradisional bernama “Badik”. Namun Badik ini sedikit berbeda, bisa terlihat bahwa panjang Badik ini tidak seperti badik normal yang sepanjang 50 cm saja.


.


Badik Panjang milik Pak Kadek ini memiliki panjang 150 cm disertai ornamen seni Bali disertai aksara kuno disepanjang bilah Badik ini dan “Handguard” pada Badik ini memiliki desain seperti pedang Kerajaan Inggris namun berseni Ornamen naga yang melindungi tangan yang memegang gagang Badik Panjang ini.


.


Warna gagang pedang Hitam dominan kuning keemasan dan bilah Badiknya memiliki warna perak yang berkilau diikuti corak seni khas dan aksara kuno, membuat semua Publik yang melihat Pak Kadek mengeluarkan pedang Badik ini merasa takjub dan segan akan kharisma bijaksana Pak Kadek.


.


Ia mengeluarkan pedangnya dan ditancapkan dengan kasar didekat kursi megah yang Ia duduki sambil mengeluarkan Microphone tanpa kabel dan mulai berbicara menderung.


.


“BAIKLAH~ KALIAN SUDAH TAHU KARAKTERKU YANG BARBAR DAN TAK KENAL SEGAN INI, MARI MULAI EKSEKUSI INI… DENGAN CARA “KITA”. ”


(Pak Kadek)


.


“…!!!”


(Seluruh Rakyat Bali)


.


Suara yang menggaung bagai halilintar itu membuat sekelilingnya bergetar karena bass kencang dari “Sound System”. Aku bersantai meminum Milo Kalengan sambil melihatnya dengan santai melalui TV Nasional yang diberitai langsung oleh salah satu dari sekian banyaknya Reporter yang datang ke Bali.


.


Jam 4 Sore yang panasnya mereda dan matahari yang mulai condong ke ufuk barat untuk tenggelam, membuat suasana ini terasa dingin entah karena wibawa seorang Gubernur atau angin kencang yang berhembus seperti menyampaikan tafsirnya bahwa…


.


SELURUH BUAIAN OMBAK TAKDIR SEDANG PASANG DIMULAI DARI TITIK SEJARAH INI.


.


CHAPTER 7 END


.


FOLLOW AKUN SOSMED @bangjoule_uw UNTUK MEMUDAHKAN MEMBACA NOVEL "PENGEMBARA TAK TERTULIS"!!!


.


JIKA ADA PENDAPAT YANG MAU DISAMPAIKAN, SILAKAN KOMEN DIBAWAH DAN FOLLOW AKUN INI UNTUK NOTIFIKASI CHAPTER SELANJUTNYA YA~

__ADS_1


__ADS_2