
Malam kemarin benar-benar riuh, bisa dibilang Desa Pesisir terang benderang penuh lampu diseluruh sisi dan suara musikal tradisional yang megah dan merdu. Mungkin diseluruh Kuta yang sudah sepi, malah Desa Pesisir yang paling ribut.
.
Semua ini adalah bentuk sukacita seluruh penduduk akan terbentuknya jajaran Pemda Kecamatan baru yang dibentuk sepihak oleh Bang Kadek sebagai Gubernur dan akan mempercayakan penuh Orang-Orang serta Pak Camat yang baru untuk mengurus otonomi Kuta yang berantakan dan kacau.
.
Seluruh aliran dana korup dan berbagai bentuk penggelapan surat pajak serta banyaknya surat-surat Tanah dari Komplek yang diter*r oleh Preman juga dinetralisir dan dikembalikan kepada bersangkutan dengan prosedur yang sangat hati-hati.
.
Alur PPDB Seluruh Sekolah Negeri juga diaudit menyeluruh dan mencoret nama-nama yang terulang ataupun menggunakan domisili palsu. Sehingga anak-anak yang rumahnya berdekatan dengan sekolah bisa bersekolah sampai sukses nantinya.
.
Rehabilitasi Area Pasar juga ditata ulang dan diturunkan harga sewa Vendor yang kembali seperti semula melalui persetujuan Tuan Gedung. Sementara para Satpol PP yang tertangkap Kamera DLSR-ku ditindaklanjuti bahkan sampai dipecat dan dipenjara selama 20 tahun. Memang mengerikan ganjaran ini namun inilah bentuk kontras dan sifat keterbukaan yang bijaksana dari Bang Kadek dalam menerapkan hukum absolut yang tidak memandang aspek tertentu.
.
Motor-Motor dan Mobil Mahal yang diborong dalam jumlah besar dengan dalih kendaraan dinas juga diamankan Petugas KPK Pusat yang sudah datang ke Ibukota Denpasar yang telah sampai dalam waktu sehari.
.
Semua kuitansi, surat kendaraan, dan legalisirnya ditahan sebagai barang bukti dan dikembalikan kepada Dealer yang bersangkutan. KPK juga menilai tindakan dari Bang Kadek yang sudah menunjukkan realisasi dari perkataan dan idealismenya dalam menjalankan pemerintahan provinsi. Apalagi dalam menangani sindikat besar ini.
.
Hasilnya Mereka sudah mendapatkan banyak data dan keperluan yang dibutuhkan dalam penyelidikan sindikat ini. Jadi setelah selesai mengaudit Pemerintah Provinsi, Unit KPK langsung kembali ke Pusat untuk melaporkan dan menyatakan sindikat kejahatan ini ke Berita Nasional. Namun Mereka juga menyertakan peran besarku, jadi ada namaku dilaporan Mereka, padahal itu tidak perlu, Aku ga terkenal juga ga masalah.
.
Untuk masalah penyelundupan miras dan narkotika dari orang-orang yang sudah kubantai diusut oleh Polres Denpasar langsung bersama ahli-ahli forensiknya untuk menemukan jejak penyelundup lain. Jadi masalah Miras dan Narkotika juga tak perlu diekspos ke ranah Publik.
.
Seluruh masalah di Bali sudah diatasi seluruhnya dengan rapih dan lancar. Pemda Kecamatan yang baru juga dilantik sepihak oleh Bang Kadek. Orang-orang ini juga adalah kepercayaan Bang Kadek yang sudah teruji tindakan dan kinerjanya. Jadi tidak mungkin Mereka membelot.
.
Aku rasa Pemerintah Pusat juga sudah tahu kepribadian barbar Bang Kadek, jadi Mereka mengizinkan perlakuan khusus kepada Bang Kadek memilih secara sepihak Pemda Kecamatan yang baru. Makanya Mereka tidak ribut dan tidak membawa hal ini sampai ke polemik hukum.
.
Bang Kadek juga mengamanatkan untuk memberiku wewenang dan perlakuan VIP yang sama seperti Bang Kadek karena sudah menguntungkan Dirinya. Kurasa Aku bisa senang akan hal itu mungkin...? Rasanya aneh saja Aku yang selalu dianggap sampah dan anjing jalanan tiba-tiba diperlakukan bak Tuan Muda.
.
Sudahi dulu tentang bicara situasi Pemerintah Pusat dan situasi Bali saat ini, Aku rasa pagi ini para penduduk cukup loyo untuk bekerja karena kehabisan energi untuk berpesta sampai pagi.
.
Dilain sisi, Keluargaku dan Aku dengan enerjik sarapan seperti biasa di Kedai Buleleng. Mungkin Mereka mau mendiskusikan sesuatu lagi soal Ancaman "Zarkan" dan misteri lain dibaliknya.
.
"Ah~ Kenyang. Cokorda memang lebih pantas ada didapur ketimbang dibalik layar kemiliteran~ heheh."
(Agungraka)
.
"Kau sendiri malah nganggur cuma ngurusin kedai
( ̄_ ̄|||)"
(Cokorda)
.
"Te~he, contohlah Cokorda yang bisa memasak sendiri, Wardana. Terutama Kau juga Xerxes."
(Aza Shaktani)
.
"Woylah( ̄┰ ̄*)"
(Mahawardana & Xerxes)
.
"AH! Cakra, Kau bilang jika ada Roh yang sudah bersama Dirimu waktu kecil, tapi kenapa tak Dia tak muncul dari Dirimu?"
(Agungraka)
.
"Hm? Kau ingin melihat Dia? Kurasa moodnya sudah membaik sekarang, jadi tak ada salahnya menyuruh Dia keluar."
(Cakra)
.
"Ah...! Iya, ayo tunjukkan~"
(Keluargaku)
.
"Hoy, Para pejabat korup itu sudah mampus. Gada alesan Kau ngambek sekarang. Kau juga harus bersosial dengan orang lain selain Diriku kan."
(Cakra)
.
*SWOOOSH~
*WUNGGG
.
Aura Angin sekilas muncul dengan besar namun tak merusak sekeliling, hanya menghembuskan angin sepoi saja bewarna terang.
.
"...!"
(Shiori)
.
"APA...?!"
(Cokorda)
.
"DI-DIA SUNGGUHAN?!!!"
(Agungraka)
.
"!!!"
(Xerxes)
.
"Kau...!"
(Aza Shaktani & Mahawardana)
.
Garuda keluar dari tubuhku dengan wujud solid Burungnya yang memiliki untaian bulu diseluruh tubuhnya yang megah yang bercorak indah dan ekornya yang berumbai panjang indah beserta warna emas yang berkilauan muncul dengan elegan namun ekspresinya sangat kusut sepertinya.
.
"Haiyah~ Rasanya kurang kalau cuma Kau hancurkan tangan dan tenggorokan para orang-orang kotor itu~ Aku agak menyesal ga ikutan kemaren, heh!"
(Garuda)
.
"HEEEEEEEEEEE~! SANG HYANG GA-GA-GARUDA...!!!!?"
(Keluargaku & Orang-Orang Kedai)
.
Semua orang kaget melihat sosok mitologi kuno yang cuma ada dalam buku sejarah. Namun sekarang Mereka melihat wujud solid dan sebenarnya.
.
"Sumpah Aku ga kebanyakan minum kafein, kan? I-Itu sungguh Dewa Garuda...!"
"Aku kira keberadaannya sebatas mitologi dan dongeng semata..."
(Random Kedai)
.
"Ternyata Dia ada dalam tubuh Cakra...?! Masuk akal jika tumbuh kembang anak itu sangat tidak wajar dari fisik, mentalitas, dan pemikirannya yang tidak seperti anak-anak...! Karena Garuda menaungi dan membimbing Anak itu juga dulunya..."
(Agungraka)
.
"Ah... Jejak-Jejak Mantra yang aneh itu... Sekarang masuk akal."
(Mahawardana)
.
"Iya. Ternyata itu semua adalah Anda, Tuan Garuda. Bukan, apa harus Saya panggil Anda sebagai--"
(Aza Shaktani)
.
"Wardana, Shakta. Kita bertemu kembali. Bagaimana soal Camila?"
(Garuda)
.
"Dia stabil. Dia juga sangat sehat dan riang walaupun sudah menerima Dua Kekuatan "Darinya". Tidak ada diagnosa apapun."
(Aza Shaktani)
.
"Kau ternyata mengenal Kak Shakta dan Bang Wardana?"
(Cakra)
.
"Kami bersinggungan saat pertama kali bertemu di Rumah Cokorda sewaktu Kau masih belum bertemu dengan Raka dulunya."
.
"Yah... kadang-kadang saat Kau tertidur waktu malam sebenarnya Aku berkeliaran keluar untuk melihat Dunia masa kini."
.
"Dan begitulah Kami bertemu dan Aku menemukan ada aliran aneh yang tidak normal pada Anak Mereka."
.
"Aku juga tak pernah bilang Kepadamu kalau Ternyata ada aliran kekuatan aneh yang Kau rasakan dari Camila selama ini ada Dua Aliran."
.
Jadi Aku bantu menstabilkan aliran aneh itu secara rutin sampai anak ini besar dan bisa mengendalikan kekuatannya sendiri."
(Garuda)
.
"Hooo~ IYAKAH? Kenapa Aku baru tahu cerita ini dan Kau tak bilang sama sekali soal kekuatan aneh Camila~~?"
(Cakra)
.
"Hey, Aku serius sialan."
(Garuda)
.
Camila bangun dari tidurnya. Dan melihatku saat Dia digendong Kak Shakta. Aku bisa lihat wajah bayinya yang imut dan cantik dengan mata biru laut yang sangat indah dipandang. Rambutnya juga sudah terlihat lurus dan lembut.
.
Sepertinya Dia melihat kearahku. Sampai Aku berpikir apa yang Dia lihat dariku. Camila kemudian tertawa ringan sambil melambaikan tangannya kepadaku. Seolah Ia ingin dekat denganku.
.
“Oh~ Cakra jadi seorang Kakak sekarang…!”
“Imutnya Mereka berdua yah~”
“Tak sbaar melihat Mereka berdua dewasa nanti, hoho.”
(Random Kedai)
.
"Ho~ Lihat bayi kita semua ini, sepertinya mulai bisa berinteraksi dengan orang lain."
(Xerxes)
.
"Hehey~ Cakra dapat diakui jadi Kakak akhirnya~ haha."
(Cokorda & Agungraka)
.
"Mila, Kau ingin berkenalan dengan Cakra, ayo, gendong Dia, Cakra. Jadi tanganmu harus begini."
(Mahawardana)
.
"Ah... halo. Mila…"
(Cakra)
.
Bisa Kurasakan saat Kugendong ringan dia, Dia merasa sangat senang bisa dekat denganku. Dari buku yang masih belum Kukembalikan, Aku tahu kalau ada Bayi yang senang saat melihatku tandanya Dia merasakan "Vibes" spesial dari Diriku.
.
Tapi... apa yang spesial dari anak yang hidupnya hancur dan sengsara, bahkan sampai banyak melakukan kekerasan dan tindakan berdarah lainnya demi bertahan hidup...?
.
Aku tak tahu, tapi ini pertanda baik kan. Jadi Aku sedikit main-main ringan dengan Camila dan Kuajak jalan sebentar sambil Kugendong, agar bisa mengajarkan Dia hal-hal kecil seperti nama benda, makanan, atau minuman.
.
Aku sangat senang karena bisa jadi Kakak yang disukai dan dekat dengan Adiknya. Apalagi senyum dan tawanya selalu berbinar-binar cantik ketika Kami tertawa bersama.
.
Keluargaku yang lain serta orang-orang kedai melihat dengan senang dan bahagia, melihat ikatan batin Aku dan Camila bisa terjalin dengan erat dan dalam pada akhirnya. Supaya Camila tidak terlalu kesepian saat besar nanti. Agar Diri Camila bisa memiliki Saudara yang setia mendampinginya serta mengajarinya banyak hal tentang hidup dan dunia.
.
Tapi kenapa Aku jadi teringat soal perkataan mencurigakan Kak Shakta dan Bang Wardana soal “Berpikir Lain tentangku”,,,? Kuharap ini bukan pertanda buruk, Ukh… haha.
.
Garuda sepertinya sibuk menceritakan banyak hal dengan orang-orang dikedai apalagi Bang Raka dan saudara-saudaranya yang masih tidak percaya dengan apa yang Mereka lihat. Dia sibuk membicarakanku juga, tumbuh kembangku dari Bayi sampai sekarang, Apalagi soal ancaman iblis-iblis “Zarkan” yang masih menjadi kekacauan utama di Dunia.
.
“ Hm… ”Era Jurang Patala” ya… Aihhh, sayang sekali memori ingatanku juga mengalami kerusakan besar karena menembus waktu ribuan tahun yang sangat lama…”
(Garuda)
.
“Yah… Tak masalah, Kami juga ga maksa kok, Tuan. Kita bisa mencari dokumentasi sejarah itu nanti dalam perjalanan arkeologi.”
(Agungraka)
.
“Kami baru menemukan satu dari Tujuh Prasasti Kuno. Isinya tak berkaitan dengan Rahasia Dunia ataupun “Era Jurang Patala”. Tapi lebih merujuk ke seseorang. Namanya Snehavān Pradīpaḥ.”
(Cokorda)
.
“Hmm… Begitukah, Sebagian memori ingatanku memang rusak. Anehnya Kuingat jika Prasasti Kuno itu tak memiliki kaitan apa-apa soal “Era Jurang Patala”. Tapi merujuk kepada individu.”
(Garuda)
.
“Bagaimana kalau bukan rusak, tetapi sebagian akses memorimu dibatasi sesuatu. Atau bahkan Kau sendiri yang membatasi akses memorimu tetapi Kau mencegah Dirimu sendiri untuk ingat. Makanya Kau bahkan tidak bisa mengingat sejarah, Rahasia Dunia, Misteri, atau apapun yang berhubungan dengan masa lalu ribuan tahun, terutama… “Era Jurang Patala”. ”
(Cakra)
.
“!!!”
“Apa…?”
(Semua Orang Kedai & Keluargaku)
.
“Hm…”
“Ini sulit…”
“Pada akhirnya berujung jalan buntu juga ya.”
(Aza Shaktani, Mahawardana, Cokorda)
.
Semua orang kebingungan padahal Garuda satu-satunya kunci untuk sekarang. Bang Xerxes yang baru saja menghabiskan Wedang Kopi nya lalu mulai berbicara.
.
“Tidak ada pilihan lain, sepertinya memang harus Kita yang menggali informasi ini sendiri.”
(Xerxes)
.
“Aku punya seorang Kolega yang menjalin “Saham Persahabatan” denganku sebelum membangun “Gunkaito”. Disatu sisi Dia membangun bisnis besar juga dibidang Arkeologi. Dia membentuk Unit Ekspedisi Ilmuwan yang berskala besar untuk menggali banyak relik dan meneliti dokumentasi kuno.”
(Xerxes)
.
“Aku dengar ada Tim Arkeologi besar di Jepang, namanya kalau tidak salah “Kishagen” bukan ya?”
(Agungraka)
.
“Ya. Daripada Unit Ekspedisi, Mereka malah ditautkan sebagai Perusahaan Relik. Aku tidak tahu kenapa Mereka menyebutnya begitu, tapi rata-rata orang yang masuk dalam Unit Ekspedisi ini sebagian besar adalah Yakuza sungguhan.”
(Shiori)
.
“Jadi ada cerita begitu.”
(Aza Shaktani)
.
“Hm~ Mereka berarti juga setipikal dengan Perusahaan Global milik “Landak Begajulan” satu ini, ya?”
(Cokorda)
.
“Bac*t.”
(Xerxes)
.
“Bercanda. Tapi serius, Jepang benar-benar memiliki skala kekuatan besar yang dominan bahkan melebihi Eurasia itu sendiri kalau memang Katamu Kolega ini juga “Samurai” berkekuatan besar yang bahkan melebihi Dirimu.”
(Cokorda)
.
“Iya. Jepang yang memiliki Ekonomi terdepan disegala bidang perekonomian dan bidang pemerintahan yang lain, sampai rela menghabiskan uang Triliunan Yen Cuma untuk Kami berdua, mengingat betapa besar Kami menciptakan jasa dan reputasi bagi seluruh belahan Dunia yang sudah Kami berdua buat.”
(Xerxes)
.
“Pantas Kau gak risau kalau kehilangan barang mahal ya~ hmph~”
(Cakra)
.
“Hahahay, jadi Aku bisa membuatmu senang juga kan?”
(Xerxes)
.
“Eh… yah… terima kasih.”
“Tapi Bang… Berhubung Kau bilang Dia adalah Arkeolog pada dasarnya, berarti Dia memiliki banyak dokumentasi sejarah yang hilang kan? Pantas Dia mampu menemukan salah satu Prasasti Kuno yang ternyata ada ditempat tak terduga.”
(Cakra)
.
“Ya. Dia menemukannya tapi Dia tidak yakin soal itu duplikasi atau aslinya.”
(Xerxes)
.
“Itu tak penting. Aku yakin prasasti itu bisa memicu memori Garuda yang terkunci supaya Dia ingat detailnya.”
(Cakra)
.
“Baiklah, itu dulu. Kita tak akan melakukannya sekarang. Terlalu berbahaya untuk meyelidiki rahasia dunia. Terlebih… “4 Tahun” dulu.”
.
“?!”
“Apa yang--”
(Garuda & Semua Orang Kedai)
.
“Dalam 4 tahun akan Kutargetkan Diriku melampaui Bang Raka dan Bang Cokorda. Aku harus terus-menerus mengembangkan dan membangun seluruh kekuatan Potensialku sampai ditingkat tertinggi. Terutama… Akan Kulatih Mantra-ku lagi untuk menjadi Kekuatan Sejati dan menjadikan Vajra dan “Seni Perang Mandala”-ku sebagai Kekuatan Tempur Nyata.”
(Cakra)
.
Aku bicara serius dengan wajah tenang yang dingin sambil menyeruput susu sachetku seperti biasa.
.
“Dia… serius!”
“Dia bicara begitu…Rasanya sangat mengerikan kalau diumur 14 tahun nanti Ia bisa melampaui Raka dan Cokorda.”
(Random Kedai)
.
“Kehehehahahah~ Baguslah. Dia juga tidak mungkin datang ke Indonesia sekarang. Mengetahui bahwa Kau masih terlalu kurus untuk dimangsa olehnya.”
(Xerxes)
.
“Ergh… Aku gabisa ngelak juga sih.”
(Cakra)
.
“Makanya… Kau akan tinggal bersama Kami untuk mendapatkan ilmu segala bidang dan mendalami Potensi Kekuatanmu sendiri agar Kau bisa menjadi lebih kuat dari masa sekarang.”
(Aza Shaktani)
.
Kak Shakta membelai kepalaku agar punya keyakinan kuat bahwa Aku “bisa”. Tapi memang Aku sudah bersiap jika selama 4 tahun ini akan berat. Jadi tidak masalah.
.
“Ngomong-ngomong setelah sore nanti Aku memutuskan untuk kembali ke Jawa Tengah. Kerjaanku tertinggal banyak selama seminggu disini.”
(Mahawardana)
.
“Oh…? Bukannya “Dua Saudara”-mu yang lain juga membantu pekerjaanmu?”
(Cokorda)
.
“Mereka tidak begitu cerdas untuk mengenali komputer, Kau tahu kan, Mereka ini luar biasa barbar dan berotak otot.”
(Mahawardana)
.
“Haish, kasar sekali Kau ini, fufu~”
(Aza Shaktani)
.
“Baiklah, berangkatlah nanti sore. Cakra, tenang saja~ Kita bisa bertemu kapan saja, kok. Gausah khawatirkan rumah lagi.”
(Agungraka)
.
“Baiklah. Terima kasih untuk semuanya.”
(Cakra)
.
“Jadilah anak yang baik. Karena Shakta akan menjadi sosok Ibu bagimu, Cakra~”
(Shiori)
.
Dia memeluk dan mencium keningku seperti tanda perpisahan. Aku juga balas memeluk dengan senang karena Dia sudah jadi sosok Kakak Bagiku.
.
Aku sudah merelakan untuk meninggalkan Desa Pesisir demi menjalani hidup baru di Tanah “Jawa”. Bang Cokorda dan semua yang ada dipesisir tidak mempermasalahkannya, jadi Aku akan berangkat sore bersama Keluarga Bang Wardana.
.
Setidaknya Kusiram bunga-bunga dan kebun dirumah Bang Cokorda dan melakukan berbagai pekerjaan rumah tangga sebelum beranjak kerumah baru. Sore harinya Kupikir bakal biasa saja, atau mungkin Mereka bersedih atas perpindahanku, ternyata orang-orang sangat riang gembira setelah Aku berada didalam mobil.
.
“Cakra~ selamat menikmati hidup baru dengan keluarga baru yah~ Pahlawan Bocil hahahah”
“Tetap minum susu sachet yang Kau beli dariku~ Pasti rasanya ga akan luntur!”
“TERIMA KASIH SUDAH MEMBEBASKAN KUTA DARI PEJABAT KORUPSI~ CAKRA!!!”
*HAHAHAHAHHAH
*AWOKOKWAOKKOKK
*SIUUUU
(Penduduk Desa Pesisir)
.
“Ahihih, sampai berjumpa lagi~ Kalian semua…”
(Cakra)
.
Selama perjalanan Bang Wardana menyetir dan Aku bersama Kak Shakta berada dibangku belakang bersama Camila. Jadi Kami bisa main bertiga sendiri dan banyak cerita. Sungguh mobil yang sangat mewah untuk masa 2002 ini. Interiornya premium namun masih menjaga sisi ergonomisnya dan AC nya juga sangat lembut dan dingin.
.
Berhubung di Kapal Laut sangat panas juga sih. Untung Bang Wardana borong banyak jajanan dan minuman dingin.
.
Kurasa sudah 24 jam lebih dalam perjalanan pulang. Namun Bang Wardana nampak tidka lelah sedikitpun. Yah… Berhubung Dia juga Pendekar jadi staminanya pasti melimpah. Malahan Aku merasa Dia lebih kuat dari Bang Xerxes dan saudara lainnya.
.
“Akhirnya pulang juga ke Kota yang ramah lingkungan dan jauh dari drama metropolitan~”
(Bang Wardana)
.
“Kota rindang yang lumayan sepi ini sungguh bersahabat untuk pendatang karena lalu lintas dan keramaian yang tak terlalu padat.”
(Aza Shaktani)
.
“Ini…”
(Cakra)
.
“Selamat datang untuk pertama kalinya, “Purwokerto”~ Kota ini akan jadi sahabat barumu Cakra.”
(Aza Shaktani)
.
Disini memang sejuk dan rindang hawa suasananya. Perkotaan terpencil dibawah Gunung Slamet yang berdiri kokoh dan besar. Membuat kota ini menjadi “Hidden Gem” saking makmur dan nyaman dikunjungi. Aku pun merasa begitu, rasa sejuk, tenang, dan hawa yang damai.
.
Namun perasaanku saja atau apa…? Sekilas Kurasakan ada aliran-aliran “Mantra” asing yang terpendam berkekuatan besar dan tak Kuketahui. Rasanya seperti Api namun luar biasa panas. Bahkan salah satu dari aliran Mantra ini jauh melampaui kata “Api”. Es namun tak ada berhawa dingin.
.
Elemental Guntur namun lebih mematikan dan abnormal. Karena kadar kemurnian Elementalnya melebihi kadar normal. Gampangnya Petir yang tingkatannya beda dari petir biasa.Ada juga Mantra Bhuwana namun lebih padat dan keras daripada Elemental Bhuwana itu sendiri, atau juga ada Mantra lain yang elemennya masih asing bagi nalar otakku.
.
“Ngomong-ngomong siapa Dua Saudara yang dimaksud oleh Bang Cokorda, Kak? Kalian masih ada saudara lagi?”
(Cakra)
.
“Ah~ iya benar, ada 2 orang lagi yang belum Kau kenal. Nanti Kau akan mengenal Mereka. Tenanglah, Mereka sangat bersahabat dan tipikal sifat Mereka mirip sepertimu. Jadi Kau akan cepat bergaul dengan Mereka.”
(Aza Shaktani)
.
“Haih… Mereka bukan orang normal semestinya. Aku bisa lihat Bang Wardana, Kak Shaktani, bahkan Camila dengan “Penglihatan Spasial”-ku. Jadi Aku mendapati kalau Mantra Kalian berdua bukan tipe elemen.”
(Cakra)
.
“U-URGH… Kau mendapatkan kemampuan bawaan itu dari lahir yah… Mengingat Garuda sudah bersamamu waktu Kau kecil.”
“BUBA~ KIKIKIKE”
(Bang Wardana & Kak Shaktani)
.
Bisa Kudengar juga Camila menertawaiku, haih~
.
Kami tiba dimalam yang sangat larut ini. Rumah ini benar-benar mewah seperti “Mansion” yang terdapat halaman luas, kebun bunga, pohon-pohon buah, dan kolam ikan yang terdapat tempat duduknya. Tentu karena ini Mansion, banyak penjagaan dari Perangkat Pintar berbasis komputer yang berupa artileri pertahanan ringan dan beberapa Kamera Inframerah.
.
Disamping itu terdapat banyak hiasan pernak-pernik dan ornamen seni khas Bali yang sangat memanjakan mata. Tapi tunggu, rasanya ukiran ini… Lebih tua dari Seni Ukiran Bali…?
.
“Kami pulang~ Kakak-Kakak sekalian~!”
(Aza Shaktani)
.
“WOAH~ CAAAAMIIILAAAA~! SINI SAMA UNCLEEE~”
(??? & ???)
.
“He-Hey…! Aku tidak disambut?? Kalian Cuma menginginkan Anak Kesayanganku, hiks…”
(Aza Shaktani)
.
“O-O-Ohhh…”
(Cakra)
.
Aku lihat ada Dua Orang bertubuh tinggi dan besar yang sama seperti Bang Raka dan saudara lainnya. Apa bisa seorang Manusia tumbuh sampai ketitik seperti seorang raksasa jadi-jadian setinggi 2 meter? Ini sungguh tidak normal, walaupun semuanya adalah Tubuh seorang Pendekar Tangguh.
.
“Ahahahah~”
“Oh…? Siapa anak ini?”
(??? & ???)
__ADS_1
“Namanya Cakra. Anak yang luar biasa jenius, dengan kemampuan diluar nalar, heheh~”
(Mahawardana)
.
Bang Wardana mengusap kepalaku seperti Dia mengenalkan anak baru yang akan diadopsi. Entah bisa seberapa lama Aku menganggapnya Ayah nantinya.
.
“UWOH! Jadi Kau “Mastermind” dibalik terungkapnya sindikat korup di Bali sana ya?! Ahahah, Kau memang tak bisa ditafsirkan dengan akal biasa ya~”
(???)
.
“Hey, Kau bicara seolah bisa saja mengungkap kasus besar itu, Simha.”
(Mahawardana)
.
“Aheheheh, ayolah Aku ga sesombong itu kok buat pamer~ Ngomong-ngomong Aku sudah tahu namamu, jadi perkenalkan, Aku “Simha Sang Aji”. Kakak laki-lakinya Shakta.”
(Simha Sang Aji)
.
“Aku yang kepala besi ini Cuma berpikir untuk menyelesaikan segalanya dengan kekuatan. Jadi Aku gabakal bisa sepertimu. Hebat tahu Anak 10 tahun bisa sejenius ini, Cakra. Namaku Mahakresna, Kakak laki-laki dari Mahawardana.”
(Mahakresna)
.
“Oh… Ternyata Kalian satu ipar dan satu saudara rupanya. Haih… Kalian sungguh bahagia punya keluarga besar begini…”
(Cakra)
.
“O-Oh hey…! Apa maksudmu hahah, Kau kan Adik Bungsu bagi Shakta, dan saudara-saudara yang di Bali! Jadi Kau juga keluarga Kami…! Ah-ahah, semoga Aku tak salah bicara.”
(Mahakresna)
.
“Ya~ Benar, jadi jangan anggap kami orang asing, oke? Heheh, Kau juga saudara Kami kok.”
(Simha Sang Aji)
.
“Iya. Aku Cuma runyam sebentar gara-gara ingat masa lalu, hehe, maapkeun ya, Bang Kresna, Bang Ipang.”
(Cakra)
.
“Oh, langsung akrab nih”
“TAPI APA WOY! KENAPA KAU PANGGIL AKU BANG IPANG???”
(Mahakresna & Simha Sang Aji)
.
“Gimana yak, Aku cari panggilan yang gampang sih, lidahku berbelit mengatakan nama “S-I-M-H-A”, Hihihih~”
(Cakra)
.
“Agh… bocah sialan Namaku jadi serampangan begitu, hahah…! Panggilah Aku sesukamu, selama Kau menganggap Kami keluarga juga ya~”
(Simha Sang Aji)
.
“Baiklah~ Terima kasih banyak. Ngomong-ngomong Aku boleh makan?”
(Cakra)
.
“EH WOY! DANDANGNYA LUPA DIMATIIN BEG*!!!”
(Aza Shaktani)
.
“OH! AHHHH~! TIDAK!!! LONTONG KUKUSNYA!!!”
(Mahakresna)
.
*Aowokwokwowkwok
.
Malam itu benar-benar riuh sambil makan besar sehabis perjalanan. Rasanya bersyukur bisa punya urmah baru dan saudara baru lagi. Aku berjanji dirumah baru ini Aku bakal giat belajar segala bidang dalam politik, ekonomi, sosial, Parenting, Strategi, dan Kemiliteran. Walaupun mungkin Aku punya caraku sendiri dalam kepemimpinan kelak.
.
Malam itu juga adalah kebahagiaan baru dengan dadtangnya Diriku. Bang Kresna dan Bang Ipang berperan sebagai Paman untuk Camila, sedangkan Aku sebagai Kakaknya. Sehingga Camila bisa tumbuh besar dan berkembang dengan cinta kasih kekeluargaannya disini. Tapi disatu sisi Aku merasa harus terus waspada. Bahkan Bang Ipang dan Bang Kresna yang baru Kutemui memiliki anomali Mantra yang asing Bagiku. Seperti dalam perjalanan pulang.
.
Aku tidak tahu apa itu, tapi ini sudah larut. Bang Wardana, Bang Kresna dan Bang Ipang tidur di sofa empuk diruang tamu, sedangkan Aku, Kak Shakta, dan Camila di tempat tidur yang sangat nyaman dan empuk kualitasnya. Jadi tidur Kami sangat nyenyak.
.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pagi menjelang, Aku bangung seperti biasa kemudian turun duluan ke lantai 1 untuk mandi. Kamar Mandi disini benar-benar seperti pemandian besar, dengan kolam air panas yang luas dan furnitur yang elegan, jujur ini sangat mahal pasti.
.
“Wah, wah rajin sekali? Aku malah masih ngantuk loh jam 7 pagi begini.”
(Simha Sang Aji)
.
“Setiap hari Aku bangun jam 4 dini hari. Setidaknya Aku bisa mandi dan coba belajar masak untukku sendiri.”
(Cakra)
.
“E-EH…? BUSET GA DINGIN APA?”
(Simha Sang Aji)
.
“Kalian Keluarga Kaya bak Bngsawan memang takkan mengerti siklus hidupku ini sih, heuheuh~”
(Cakra)
.
“U-Ukh… Kau luar biasa disiplin. Ngomong-ngomong mau jalan pagi? Aku ingin berbelanja sayur mayur dan kebutuhan pangan rumah buat masak. Kau bisa ikut biar tahu semua arah jalan di kota kecil ini.”
(Simha Sang Aji)
.
“Hahah! Boleh-boleh, Warga disini juga berbeda jadi Aku harus berkenalan juga.”
(Cakra)
.
Cukup seharian saja Aku jadi paham dan hafal semua jalanan di Kota baruku ini. Disini seperti di Kuta namun lebih sejahtera dan tertata dari segala aspek kebutuhan hidup. Jadi bukan tidak mungkin kalau nanti banyak pendatang ke Purwokerto ini.
.
Setelah selesai berbelanja banyak kebutuhan, Semua orang rumah sudah bangun dan sarapan dari hidangan yang diracik Bang Ipang. Anehnya Garuda keluar dari tubuhku seperti tak ada apa-apa dan mengambil irisan daging kornet yang ada di piringku.
.
“Hm? Tumben Kau lapar?”
(Cakra)
.
“Aku fleksibel sebenarnya, mau makan boleh, mau engga makan juga gapapa~ heheh.”
“Aku lagi mau nyoba lagi masakan para makhluk Mortal yang kulinernya berubah-ubah sesuai zaman, jadi gada salahnya mencoba.”
(Garuda)
.
*HAP
*KRAUK-KRAUK
.
Konyol memang melihat Garuda yang dianggap Dewa Kuno dalam Sejarah, memakan Daging Kornet dengan mengais kornetnya menggunakan cakar kanannya dan dilempar ke mulut, fufu.
.
“EH-EH WOY!!! APAAN ITU AYAM KOK SEGEDE GABAN HAH~~╰(艹皿艹 )?!!”
(Simha Sang Aji & Mahakresna)
.
“INI AKU, BODOOOOH~!!! MASA’ KAU LUPA???”
(Garuda)
.
*AOWOKWOWKOWWKOWK
*HAHAHA
(Semua Orang)
.
Pagi-pagi rumah ini ramai sendiri, Aku yakin itu, hahah.
.
“Tunggu, Kau juga mengenal Mereka berdua?”
(Cakra)
.
“Mereka berdua juga menyintas bersama dengan Shakta dan Wardana waktu itu. Jadi Mereka ini satu Keluarga nomaden, KEHEHEHAHAHAH~!”
(Garuda)
.
“O-O-AH… Ga salah sih”
(Bang Wardana & lainnya)
.
“Oiya, Kak, bagaimana dengan pelatihan baruku? Aku harus mempelajari banyak hal kan, selain Seni Beladiri, Vajra, dan Mantra “Angkara”-ku?”
.
“Kau mewarisi “Angkara”? Iya juga ya mengingat Garuda bersamamu.”
(Simha Sang Aji)
.
“Hahah. Ayo kembangkan Vajra dan Seni Beladirimu dulu. Kau akan sparring dengan Wardana, Aku, dan juga Simha. Kami yang akan mengoreksi semua kekuranganmu.”
(Mahakresna)
.
“Kau juga akan membantumu mengembangkan semua teknik tempur yang Kau ciptakan. Kau tunjukkan kepada kami, dna Kami akan mengoreksimu.”
(Mahawardana)
.
“Tu-tunggu…! Apa tak terlalu cepat? Cakra.”
(Aza Shaktani)
.
“Ahahah, engga kok. Percayalah, dari awal Aku menerima tawaran untuk pindah kesini adalah untuk menjalani pelatihan yang jauh lebih terstruktur dan lebih berat dari yang Kulakukan dulu. Jadi lebih cepat lebih baik.”
(Cakra)
.
“Cakra. Aku rasa Kau harus mempelajari ilmu berpedang juga mulai sekarang. Untuk meningkatkan kemampuanmu secara signifikan juga dalam bersenjata.”
(Garuda)
.
“OHO…?! Boleh tuh! Aku berpikir dari dulu Cuma Pedang lah senjata yang mau Kupelajari karena lebih keren aja sih. Terutama belajarnya lebih cepat menurutku.”
(Cakra)
.
“Baiklah, Terimalah ini.”
.
*ZUUNG
*SPLASH
.
Sebuah Pedang Emas berornamen Seni Sanskrit Kuno, dengan relief “Nirvana” disepanjang Bilah Emas yang menyilaukan mata.
.
Gagang Pedang ini bewarna hitam legam dengan ukiran seni indah bergambar abstraksi cahaya serta ujung gagang yang terdapat tali lembut yang terikat mati diujung gagang, yang terdapat sehelai Bulu bewarna Emas yang panjang diujung talinya.
.
Kemudian “Hand-Guard” Pedang ini berbentuk Hexagonal dengan garis-garis aliran Mantra yang menyala-nyala seperti Cahaya Neon.
.
Pedang ini sangat panjang dan ujungnya yang luar biasa tajam seperti ujung Pedang Samurai “Katana”. Luar biasanya, Pedang ini termanifestasi dari Bola Cahaya yang dikeluarkan oleh Garuda.
.
Pedang ini memancarkan aura Mantra dan Vajra disaat bersamaan…! Aku tahu ini bukan pedang biasa, terlebih lagi… Apa Aku memang boleh memegang Pedang ini?
.
“ITU…?”
“!!!”
(Semua Orang)
.
“Ini adalah Pusaka yang menjadi simbolis Zaman-Zaman terdahulu yang sudah sepenuhnya sirna dan runtuh, bukti terbesar keberadaan dari “Sekala”. Ini adalah Pusaka Pedang pertama yang diciptakan pertama kali oleh Surga Tertinggi di Alam Semesta, “Parinirvāṇam”.”
.
“Pedang Dewa Pertama, Pedang yang yang sangat diinginkan oleh segala bentuk ketamakan semua Makhluk Mortal yang haus akan keserakahan dan mengimpikan kekuasaan tertinggi dan kekuatan absolut yang fana.”
.
“Dan sekarang… Kaulah yang Kupilih mewarisi Pusaka ini, karena Pedang Dewa ini telah memilihmu sebelum Dirimu lahir ke Dunia. Pedang ini juga akan senantiasa mengikuti seluruh kehendak hatimu dimasa depan nanti.”
.
“Jadi… Pada dasarnya Pedang ini hidup untukmu. Dia ini juga akan memahami isi hati dan perasaanmu nanti. Dunia ini akna takluk Padamu dan Pedang Dewa ini. Membuat semua orang akan menjunjung tinggi Dirimu.”
(Garuda)
.
“Wah… Aku… tak tahu harus mengatakan apalagi. Aku sungguh bersyukur dari semua makhluk Mortal diseluruh Alam Semesta, Kau mewarisi “Pedang Dewa” ini Padaku.”
(Cakra)
.
Memang benar Aku sempat gelagapan menerimanya. Bagaimana tidak? Berapa banyak konflik atau bahkan pertumpahan darah yang tak terbayangkan hanya untuk merebut Pedang Dewa ini. Pedang yang menjadi Pusaka Surga, yang akan memberikan segala kekuasaan dan kekuatan.
.
Namun daripada itu, Pedang ini seperti memilih Tuan yang layak dan pantas untuk Dirinya. Itulah yang Kurasakan. Jadi sekalipun ada orang yang berhasil mendapatkan pedang ini, belum tentu Pedang ini mau menerima Orang itu.
.
Aku menerima Pedang Dewa ini dengan hati yang tergugah dan takjub, karena Dia memilihku sebagai Tuannya, Aku harus berpendirian tegas dan absolut untuk menunjukkan kharisma Diriku secara nyata. Jadi Pedang Dewa ini tidak memandangku dengan rendah dan pesimis. Akan Kubuktikan pendirianku yang luar biasa kuat dan teguh seperti baja agar Dia menerimaku sepenuhnya.
.
*Ah…
“Pemandangan yang menakjubkan, rasanya sungguh tidak nyata bisa melihat Pedang Dewa yang bahkan keberadaannya Cuma menjadi Legenda dan Epos Rakyat pada masa itu.”
.
.
“Karena Pedang Dewa “Parinirvāṇam” ini… telah menafsirkan “Kekuasaan Absolut” dan “Kekuatan Tiada Tanding” yang nyata bagi yang Memilikinya…!”
.
“Pusaka yang sudah diburu oleh seisi Alam Semesta ini selama ribuan atau bahkan milenium tahun ini… Sudah memicu dna menyebabkan seluruh perang besar dan pertumpahan darah tiada akhir… Jatuh ke tangan Anak ini.”
“Cakra Airlangga…!”
(Mahawardana, Mahakresna, Simha Sang Aji, Aza Shaktani)
.
“Jadi Kau sudah memilihku, Parinirvāṇam. Fufu… Nama yang sangat megah dan mengagumkan. Memendeklah supaya Aku bisa memegang Dirimu.”
(Cakra)
.
*WUNG~
*ZUONG
.
Ternyata memang benar, Pedang Dewa ini menerimaku sepenuhnya. Tak kurasakan sama sekali gelagat memberontak atau interupsi lainnya.
.
Pedang yang tadinya lebih panjang dari Tinggi Badanku ini mulai memendek menyerupai “Dagger” panjang yang sesuai untuk Kupegang dan Kugunakan saat ini.
.
“Luar biasa…Sungguh mengagumkan! Cakra!!! Ahahah~”
(Simha Sang Aji)
.
“Fuuu~ mengagumkan.”
(Aza Shaktani)
.
Siang hari itu sudah menjadi tontonan sakral yang bisa saja menggemparkan Dunia jika keberadaan Pedang Dewa “Parinirvāṇam” ini ternyata benar-benar ada.
.
Keluargaku semuanya merasa takjub dan berdecak kagum kepada Diriku karena kharisma dan ketegasan hati diucapanku yang teguh tanpa tersendat sedikitpun bisa menaklukkan dan berkehendak kepada “Parinirvāṇam”.
.
Layaknya ucapan seorang Pendekar Sejati.
.
“Baguslah, Ikatan hati dan batin Kita akan tercipta mulai sekarang, dan Kau akan menjadi “Teman Harfiah”-ku walaupun tak bisa bicara. Jadi Kau bisa tahu isi hatiku, Aku bisa tahu kehendak bisumu.”
“Sekarang… Aku akan menggunakanmu sebagai Senjata Pusakaku dan menjadi Pendekar Legendaris kedepannya. Menaklukkan Bumi dan Langit… dan menjadi Puncak Dunia sebagai Pendekar Pedang Dewa.”
.
“Namun…! Lebih daripada itu! Akan Kuciptakan Perdamaian Abadi nan Kekal bukan hanya Dunia ini, namun seisi “Sekala” dan “Niskala”, dimana tak akan ada lagi kuntum bunga yang bersimbah darah, tanah-tanah Bumantara yang gersang dan hancur, suara tangisan alam yang bersedih dan suara penderitaan semua bentuk kehidupan yang sengsara, SERTA LAUTAN DAN LANGIT YANG TERNODA EKSISTEN “ZARKAN”!!!”
(Cakra)
.
Aku mengucapkan tafsir perkenalanku dan seluruh Sumpah Janji Luhurku pada “Parinirvāṇam” dengan sepenuh hati, dengan hati yang bertekad dan ekspresi senyum penuh kepercayaan. Pedang ini mengeluarkan esensi aura yang bewarna emas yang megah dan menggugah pemandangan sekitar. Seakan bersumpah serapah kepadaku.
.
Keluargaku terpukau dengan sumpahku tadi dan tak henti-hentinya memandangku penuh mukjizat. Aku tahu ini sangat puitis, tapi inilah esensial dari Situasi saat ini yang sangat krusial dan megah.
.
“Kurasa sudah selesai perkenalanku, jadi… Sekarang Kita ini satu, oke? Garuda, “Parinirvāṇam”, serta Eksistensiku sendiri, adalah satu kesatuan Cakra Airlangga, yaitu Diriku.”
.
“Sekarang bersatulah ketubuhku, dan berubahlah menjadi Tatto tanda lahir yang mengimplementasikan Eksistensimu, “Parinirvāṇam”.”
(Cakra)
.
*VUONG~
*ZWUNGG
.
“Parinirvāṇam” yang tadinya berwujud pedang emas, sekarang memanifestasikan Dirinya menjadi Tatto berukiran seni ornamen “Burung Surgawi”yang sangat elegan dan megah bernuansa kharisma surga. Pedang Dewa itu meramu wujudnya menjadi Esensial Aura yang menyatu denganku menjadi Tatto Seni.
.
Karena Aku yakin saking kuatnya pedang ini, tak ada sarung yang mampu menaklukkan Wujud Pedang Parinirvāṇam ini.
.
“Wah~ Wah, indah dan sangat menggugah emosional. Rasanya luar biasa bisa menyaksikan Sebuah Pusaka dari Nirvana memilih sendiri Eksistensi yang layak untuk memegang penuh kekuatan dan Diri Pedang itu sendiri.”
(Aza Shaktani)
.
“Kau tahu…? Rasanya banyak mukjizat luar biasa yang akan datang satu demi satu mulai sekarang melalui Dirimu. Cakra Airlangga.”
(Mahakresna)
.
“Aku sungguh takluk akan pemandangan yang membahana Hati semua orang yang melihat tadi. Hey~ Anak Mukjizat! Kita sudah menentukan segala persiapan Dirimu kelak selama 4 tahun ini.”
(Mahawardana)
.
“HOKEY~~~! BAIKLAH…!!! Kau akan menjalani banyak cobaan berat tiada henti dan bahkan terjun sendiri ke medan perang nyata menghadapi semua Teror di Dunia!”
.
“Apalagi dengan melawan banyak orang kuat sepantaran Kami. Vajra, Mantra, Intelektual… segala aspek kehidupanmu! AKAN BEREVOLUSI MULAI DETIK INI~! 🔥 😈”
(Simha Sang Aji & Mahawardana)
.
Ketiganya benar-benar bertekad bersamaku untuk berjuang menjadikanku yang terbaik. Aku takkan melupakan rasa kebersamaan dan rasa perjuangan panjang yang dirintis mulai detik ini… Aku berjanji, 4 TAHUN YANG AKAN DATANG…! AKU AKAN SEPENUHNYA BERBEDA.
.
“Sumpah serapahku… Telah dimulai, jadi… TAK ADA KATA MUNDUR, TAK ADA KATA TAKUT LAGI!!!”
(Cakra)
.
Aku bertekad segenap jiwa dan raga mulai detik itu. Seluruh Tubuhku meluap-luap oleh Mantra dan Vajra tiada henti, dengan menengadahkan Tangan Kananku untuk mewujudkan Parinirvāṇam. Tentu saja dengan Ekspresi senyum penuh tekad dan keberanian tak tergoyahkan disertai Mataku yang menyala-nyala dengan Aura Terang.
.
Begitulah selama 4 tahun ini, membereskan medan perang, menyapu bersih pertempuran, ataupun meditasi pribadi untuk mengembangkan seluruh kekuatanku. Kadang disela-sela itu Aku dan Kak Shakta belajar akademik dan intelektualku mengenai seluruh bidang. Namun akademik ini bukan seperti Matematika, Ipa, ataupun IPS. Namun akademik sejarah, perekonomian, budaya, sosial, politik dan strategi kenegaraan. Berhubung Otak jeniusku mampu mencakup itu semua sekaligus
.
Aku juga belajar ilmu Parenting dari Buku yang belum Kukembalikan dan dari Kak Shakta sendiri. Contohnya bagaimana untuk merawat bayi dan membesarkannya. Melimpahkan kasih sayang kepada bayi, memakaikan baju, memandikan, ataupun memenuhi seluruh kebutuhan aspek materiil maupun rohani si bayi. Begitulah Camila dan Aku terikat jiwa dan batin, mencintai satu sama lain.
Waktu sungguh cepat berlalu. Kadang Kau sengaja tunggu itu akan melambat, namun disaat Kau mengacuhkannya itu akan bergerak cepat tak kasat mata dan tanpa sadar.
.
Sekarang Tahun 2006, tepatnya Tahun perjanjian dimana sumpahku akan menembus langit dan menundukkan muka bumi ini, 4 TAHUN TELAH BERLALU. Aku yang sekarang sudah berumur 14 tahun dengan tinggiku yang bertambah menjadi 179 cm. Namun gaya pakaianku tidak berubah. Masih suka pakai kaos hitam berseni Nasional lengan pendek yang Bermerek dan lembut serta Celana Shirwal baru bewarna hitam bermerek Al-Hadid.
.
Yah… Walaupun tak beragama, Aku sangat menyukai celana ini karena bahannya yang lembut, tak terlalu panjang dengan panjang celana yang tidak ketat, jadi semilir angin bisa melewati kakiku walaupun celana ini memiliki panjang yang tidak sampai ke mata kaki.
.
Wajahku juga sudah berubah bukan wajah anak-anak lagi, namun sekarang seperti Seorang Remaja yang tampannya diatas rata-rata. Rambutku disini setidaknya tidak acak-acakan lagi namun masih mempertahankan poni depanku yang berhelai.
.
Tapi ini bukan saatnya membahas deskripsi Diriku, karena Mereka juga tak memiliki perubahan apapun di wajah Bang Wardana dan yang lainnya.
.
Terlihat Daerah Pesisir Kuta yang dahulunya adalah rumahku, sekarang lebih maju secara bidang ekonomi dan budayanya. Orang-Orang disana juga masih mempertahankan moral Mereka yang menganggap bahwa Satu Penduduk adalah Satu Rumpun Keluarga. Jadi Keramah-tamahan serta kebersamaan Mereka tidak pernah luntur sedikitpun.
.
Rasanya aneh, seperti bukan hari yang berlalu dengan biasanya. Orang-orang mempertanyakan kemana perginya Bang Cokorda dan Bang Raka yang harusnya buka Kedai Buleleng dari jam 8 pagi, malah tidak buka, rumahnya juga kosong. Itu berarti Mereka sedang tidak ditempat.
.
Orang-Orang sama sekali tidak tahu keberadaan Dua Tokoh Masyarakat di Desa itu, namun tidak ada yang tahu kalau Bang Cokorda dan Bang Raka pergi sangat jauh dari Pesisir ke daerah Pelabuhan lama yang sudah lama tidak beroperasi. Jaraknya sekitar 5 km dari Desa Pesisir.
.
Keduanya dengan ekspresi waspada dan runyam sedang ngemil kecil-kecilan tempe bacem dan kopi susu. Seakan Mereka bersiap untuk menghadapi sesuatu yang besar. Mereka biasanya masih bisa tertawa dan tersenyum puas dipertempuran yang kapabilitas musuhnya jauh lebih lemah dibanding Mereka berdua.
.
Namun Kali ini berbeda. Mereka seperti menanti “Bencana Berjalan”. Tapi apa maksudnya…? Atau jangan-jangan—
.
Terlihat dari Jauh dilepas pantai, ada sebuah Kendaraan Amfibi yang keluar masuk dari dalam laut ke atas permukaan kemudian turun lagi seperti lumba-lumba. Kendaraan ini menyerupai seperti Pesawat tempur namun dimodifikasi dengan menjadi hibridisasi Tank, Pesawat Jet, dan juga Speedboat.
.
Kendaraan ini juga terlihat ada semacam pengait baja dikedua sisi roda rantai “Tank” dikendaraan itu. Ada juga Holosight Inframerah disertai Amunisi Artileri khusus dan sepasang Meriam Kapal dibagian atasnya. Belum lagi bentuknya yang besar dan panjang disertai Dua Pasang Nitro baling-baling yang mengeluarkan api beserta ekor belakang yang terdapat roda besar dengan sirip baling-baling.
.
Kendaraan Amfibi ini sampai dipelabuhan dengan suara gerungnya namun sama sekali tak mengganggu Bang Cokorda dan Bang Raka.
.
*BLANG!
.
“FUH~~~ Sepertinya Aku sudah cukup kursus Bahasa Indonesia dari “Dia” kan? Aku khawatir dikira gembel nyasar nanti, fuh…”
(???)
.
Terlihat seorang Pria dengan Tubuh yang lebih berotot dan lebih besar, juga sedikit lebih tinggi dari Bang Raka dan Bang Cokorda.
.
Kimono Pria panjang bercorak seni literatur sastra Jepang bewarna kombinasi merah gelap dan dominan warna Putih Perak terdahulu yang berkesan elegan dan klasik, digabung dengan Kemeja Putih polos yang dikeluarkan dari celana, bercelana hitam digulung sambil memakai sendal jepis Khas Jepang.
.
Dia juga berwajah tampan untuk seukuran Pria yang cukup paruh baya sepertinya, kumis dan jenggot yang tidak terlalu lebat, wajah khas Asia Timur, dan Rambut bergaya “Wolf Cut” bewarna Magenta biru tua. Terdapat tatto bergambar Seni asing berwujud Sayap dan rantai yang berbentuk komposisi yang unik menyerupai ornamen asing yang tak pernah diketahui, membuatnya cukup layak dipanggil “Sugar Daddy” sih…
.
Setidaknya cukup untuk mendeskripsikan Dia secara detail, namun Ia membawa sebuah Katana yang besar dan luar biasa panjang ditangan kirinya. Sepertinya itu bukan pedang biasa…? Aku rasa Dia juga tidak datang sendiri.
.
“Wah, wah. Negeri “Zamrud” ini sangat menawan dan memesona yah~ Banyak sejarah dan rahasia yang besar pasti. Aku bisa merasakan esensi misterius ini.”
.
“Terlebih… Bali. Tanah Sakral para Pendekar. Bagaimana menurut Kalian?”
(???)
.
Dia berjalan santai sambil menikmati semilir angin yang sejuk. Dia yang berekspresi bersahabat dan santai ini, sepertinya memiliki tendensi untuk melakukan hal brutal tak bersahabat.
.
Dia berdiri santai didepannya Bang Raka yang sedang merokok berekspresi mata yang tajam penuh waspada dan Bang Cokorda yang melirik tajam sambil membaca koran.
.
“…”
*INHALE
“Haish… Tegang sekali. MEMANGNYA AKU… SEBERBAHAYA ITUKAH?”
(???)
.
*SRATT ⚡💨
*DUAK GRAKK 💥
*WUONGGG SRARARAK 𖦹
.
Bang Raka dan Bang Cokorda menerjang tak kasat mata untuk menyerang “Orang Asing” ini dengan Kekuatan Penuh Mereka beserta Vajra “Amoghas” yang terekspos seluruhnya. Menyebabkan arus Aura bewarna terang yang sangat deras membanjiri Kedua Tubuh Mereka sampai berwujud Aura yang sangat meluap-luap.
.
Bang Raka menarik langsung “Nāgayugmadhantaḥ”. Ternyata senjata Keris Kembar ini memiliki nama sanskritnya sendiri. Kalau dipikir keris kembar yang tersambung dengan rantai ini memiliki ornamen seni elegan yang tdiak biasa juga.
.
Keris Kembar ini diluncurkan seperti singa yang memangsa dengan cepat, “Amoghas” yang sangat ganas menyelimuti Keris Kembar ini, dan menerjang Tangan kiri orang asing itu dengan kekuatan maksimal.
.
Sementara disisi kanan Bang Cokorda masih menggunakan tinju kirinya saja. Namun diselimuti “Amoghas” yang sama ganasnya dengan Bang Raka sambil menerjang tangan kanannya.
.
Ini benar-benar tidak biasa kalau Mereka berdua sampai memakai kekuatan penuh diawal Cuma untuk melawan satu orang.
.
Yang sangat mengejutkan adalah Orang Asing ini menepis Keris Kembar Bang Raka dengan tangan kirinya yang ditangkis ke sisi luar serangan, sementara tangan kanannya menerima langsung tinjuan masif Bang Cokorda namun dapat ditahan.
.
Karena pergesekan hebat Tiga Aura berkekuatan besar sekaligus ini, menyebabkan hempasan aura yang merusak sekelilingnya dan Orang Asing ini terdorong mundur.
.
Orang Asing ini dengan ekspresi santai dan tersenyum datar mengangkat kedua tangannya dan membersihkannya dari debu seolah tak ada apa-apa. Disatu sisi Bang Raka dan Bang Cokorda masih tak menurunkan kewaspadaannya karena Orang asing ini luar biasa kuat sampai bisa menahan Dua Serangan Masif sekaligus disatu waktu.
.
“Kau ini siapa berani sekali datang tanpa takut kesini, berandalan tua?”
(Cokorda)
.
“Mau Kau Pendekar Legenda kek, Pendekar bintang 3 kek, atau apalah… Kau bakalan Kami gasak juga kalau datang dengan niat ingin rusuh seperti itu.”
(Agungraka)
.
“Haish… Sikap kalian ini sangat--”
“…!!!”
(???)
.
*FLICK
*SYAAAT
.
Bang Cokorda melesat lagi untuk menyerang Orang Asing itu secara frontal dengan serangan pengecoh. Dia mendarat didepan kiri Orang Asing itu dengan kaki kanan dan tinjuan besar tangan kiri dengan cepat dan berkekuatan penuh.
.
Lalu dengan cepat menarik tinjuannya setelah dekat dengan kepala Orang Asing itu dan menendang Dagunya dengan kaki kanan tadi dengan Vajra yang bervolume besar. Cukup membuat orang itu terkejut namun mundur sambil membalikkan lagi kepalanya ke arah depan dengan wajah sedikit terkejut.
.
Karena celah ini terbentuk, Bang Raka melesat ke sisi kanannya dan menghempaskan salah satu Keris Kembarnya yang sudah diselimuti “Amoghas” Tingkat Tinggi sepanjang waktu, untuk menghujam Orang Asing itu.
.
Walaupun sangat cepat, Keris ini masih bisa ditangkis dengan Pedang Raksasa milik Dia yang masih terbungkus rapih dan membelokkan arah serangnya. Lalu Bang Raka melesat lagi satu langkah kedepannya untuk menyerang Orang Asing itu dengan tebasan dari tangan Kanannya secara langsung.
.
Serangan ini mudah diblokir dengan tangan kiri Orang Asing itu walaupun Dia sedikit kena tebasan tipis Bang Raka.
.
Orang Asing ini mengeluarkan Serangan Elemental Api yang meluap-luap besar bewarna Oranye Cerah bergradasi gelap dan berkontras sangat terang di tangan kanannya yang seperti Letupan Bom Magma yang meledak-ledak, kemudian dengan cepat meninju Bang Raka.
.
__ADS_1
Apalagi ini sial… Aku takkan mengatakan itu Mantra karena nuansa kekuatan itu juga asing Bagiku.
.
Memang Aku bilang mirip Bom Magma, tetapi pada dasarnya itu masih berwujud Elemental Api namun komposisinya yang asing memiliki Konsentrasi Energi yang tak masuk akal berada ditingkatan yang jauh melampaui Api di Dunia dan rasanya sangat mencekam ketika melihatnya, rasanya Api asing itu sangat haus akan kehancuran, apalagi tidak seperti melihat Mantra “Api”.
.
Bang Raka sedikit terkejut namun masih bisa reflek “Flick” kebelakang sebelum tinju itu dihempaskan, yah… Berhubung Individu setingkat Bang Raka dan Bang Cokorda pasti menguasai Vajra “Dhyana” juga.
.
Mereka bisa menguasainya sampai “Dhyana” Tingkat Menengah, jadi kecepatan Konsentrasi dan Fokus Pikiran Mereka jauh terlampau dari Rata-Rata Pendekar. Inilah yang menjadi nilai unggul dari Keduanya, mengingat Dhyana pada dasar hukumnya juga meningkatkan level “Samadhi” dan “Amoghas” dengan signifikan.
.
Bang Raka menghindari tinjuan berbalut Api aneh yang ganas membentuk Proyektil Tinju yang meledakkan sebuah gedung kosong dan disaat bersamaan Bang Raka dan Bang Cokorda menyelaraskan momentum kombinasi Mereka dengan “Flick” bersama dan mengepung Orang Asing itu dari Sisi kanan dan kiri, membuat Orang Asing itu terkejut.
.
“Shailabhedakah” 🪨💥
( Pemecah Tanah Gunung / Mountain Crusher )
.
“Vajrāyudhanāgas” 🐉💥
( Taring Halilintar Sukma Naga / Thundering Soul’s of Dragonteeth )
.
*BLARRR
*DUARDUARDUAR💥💥💥💥💥
*GRARARAK🌀🌀🌀
.
Dua kekuatan manifestasi Vajra Tingkat Tinggi dari Dua Individu kuat ini menghujam Orang Asing itu dengan rentetan Serangan Magis Vajra berkekuatan penghancur masif yang menyebabkan area disekitarnya hancur lebur dan ledakan dimana-mana…!
.
Area sektiar pelabuhan lama itu hancur tak karuan dan menyebabkan distorsi Gelombang Vajra yang volumenya bisa menghancurkan tubuh manusia dan menghancurkan tulang-tulang. Ini juga membuat arus angin dalam radius 1,5 KM terganggu dan mulai berhembus tidak normal.
.
Dipelabuhan lama terjadi getaran hebat layaknya gempa bumi, membuat batu-batu dan segala properti hancur tak berbentuk karena Konsentrasi gelombang-gelombang Vajra yang saling beradu sangat kuat disatu pusat, sedangkan area udara terjadi anomali arus angin yang kacau.
.
“Kuarghhh!!!! HAHAHAH!!! HARUSNYA BEGINI MEMANG~”
(???)
.
“!!!”
(Agungraka & Cokorda)
.
Jelas sekali Orang Asing itu terkena kombinasi 2 Serangan Masif berkekuatan besar dan sangat ganas sampai bisa memengaruhi area daratan dan udara sekaligus. Dalam distorsi Anomali kehancuran yang tiada henti dan meluap-luap ini, bisa Kita lihat Orang itu kena telak, dan mengalami kerusakan yang berat ditubuh depannya sampai mental sedikit jauh dari posisi Ia berdiri
.
Yang tidak masuk akal adalah setelah Ia mengerang dan muntah darah sedikit, orang ini tak jatuh sama sekali dan berekspresi menyeringai puas yang sangat garang sambil berdiri tegap. Ini cukup menjadi pertanda buruk kalau ternyata serangan gabungan tadi tak efektif menjatuhkan Dia.
.
“Kalian sungguh menyenangkan ternyata. Tak Kusangka Aku yang luar biasa kuat dan salah satu yang diakui seluruh Dunia ini sampai mengalami luka yang lumayan fatal seperti ini~ Hah… Dunia benar-benar luas.”
.
“Baiklah!!! Yang tadi sudah cukup membuktikan bahwa Aku tak boleh lengah melawan kalian berdua. Akan Kuseriuskan Pertarungan Besar Kita bertiga ini sekarang… JADI KENAPA KALIAN TERLALU TEGANG BEGITU…!!!”
(???)
.
*SRET~
*SRINGG
.
Oops, Orang Asing itu sepertinya mau eksekusi sepihak dengan Katana mengerikan miliknya. Sumpah, Aura Katana itu berbeda. Rasanya bisa menmbelah gunung dan menghancurkan segala pertahanan Vajra yang kokoh seperti benteng.
.
“Sial…!”
(Agungraka & Cokorda)
.
“Giseihō” ▬▬ι═══════ﺤ💥🔥
(Api Pengorbanan / Sacrifial Flames )
.
*ZUONGG
*SYAAAT
*CRARARAS
.
Orang itu melesat kedepan dengan kecepatan tak kasat mata seperti suara diikuti dengan teknik Tebasan Kuat berbalut Api asing yang sangat destruktif meluap-luap keluar. Parahnya lagi, Katana ini diselimuti “Amoghas” tingkat tinggi yang sangat kental. Menyebabkan Aura Api yang meluap-luap ganas karena gesekan dari Dua Kekuatan Magis sekaligus.
.
Orang itu melewati tengah-tengah Bang Raka dan Bang Cokorda dengan tebasan berakselerasi masif yang diayunkan secara diagonal abstrak, dari keluarnya Katana disisi kiri kemudian dibentangkan lurus dan dengan cepat dibelokkan kearah kanan, kemudian ditarik kesisi kiri atas dan berakhir dibentangkan lurus kedepan.
.
Serangan ini memiliki tingkat kehancuran yang sama seperti kombinasi kedua serangan Bang Raka dan Bang Cokorda…! Menyebabkan Shockwave Kental yang bervolume besar dan brutal dibalut Kekuatan Api yang asing bernuansa tak diketahui menebas Keduanya dengan ganas sampai menghancurkan tanah dan area belakang Mereka dari tempat Mereka berdiri.
.
Serangan ini sungguh mematikan dan luar biasa kuat. Sampai membuat Kedua Saudaraku itu mengalami luka tebasan yang fatal dari bagian tubuh tengah sampai ke dada. Cukup untuk membuat Mereka berdua muntah darah dan kehabisan stamina.
.
“Kuhakh…!”
“Ohok…!!!”
(Agungraka & Cokorda)
.
*SRET
*WUNGWUNG
*ZUONGGGGG~
.
“Ck, Raka…!”
(Cokorda)
.
“Kalau Dunia tahu eksistensi tersembunyi seperti Kalian ini, dan kekuatan yang Kalian sembunyikan! “MEREKA” PASTI AKAN MEMBINASAKAN NEGERI INI!!!”
(???)
.
*SYUNGGG
*DRARARARAK
*KRAK KRAK KRAK
*ZRASSS
.
Dia mengayunkan Katana-nya lagi dan menggunakan teknik tebasan dari atas kiri ke permukaan tanah untuk menghujam tanah dan menciptakan gelombang Shockwave raksasa berlapis “Amoghas” dan Elemental Api asing itu lagi.
.
Menyebabkan sebuah rentetan Shockwave yang menghancurkan sebagian besar area yang ditrabas oleh Shockwave ini, dan terus menerjang sepanjanag daratan sampai membelah-belah tebing-tebing dan bukit pantai dengan kehancuran destruktif tak tertandingi dalam radius jarak yang sangat panjang sampai akhirnya berakhir menabrak bukit yang besar.
.
Hasil akhirnya Kita dapatkan tanah-tanah sampai bukit, tebing, batu, dan permukaan daratan lainnya hancur lebur hingga membuat situasi seolah “Tanah, Tebing, Bukit, dan Gunung terbelah secara sesar.”
.
Namun “Amoghas” milik orang ini berada ditingkatan yang jauh melampaui Tingkat “Tinggi”. Iya, Katana milik Dia dilapisi Elemental Api asing dan Amoghas Tingkat “Ekstrim”. Pendekar-Pendekar diseluruh Dunia setidaknya bisa mencapai Vajra “Amoghas” Tingkat Tinggi. Nama-nama individu yang memiliki tingkatan ini sangat terkenal dan tersohor diakui oleh Dunia terutama “WUC”.
.
Namun Orang ini memiliki “Amoghas” Tingkat Ekstrim…! Bagaimana bisa Dia memiliki kemampuan dan kapabilitas diatas Bang Raka dan Bang Cokorda?! Itu bukanlah tingkatan yang bisa diraih dalam waktu singkat, setidaknya butuh puluhan dekade, itu saja kalau beruntung mendapat pencerahan.
.
TETAPI ORANG INI SUDAH MEMILIKI BAHKAN MAHIR DALAM MEMEGANG KONTROL PENUH “AMOGHAS” TINGKAT EKSTRIM DALAM WAKTU FLEKSIBEL?!
.
Tentu efek “Recoil” dari “Amoghas” Tingkat Ekstrim ini adalah kekuatannya cepat terkuras habis, tetapi Dia tidak. Malahan Dia tidak kelihatan lelah atau tersengal sedikitpun…
.
Karena kehancuran berskala besar ini, Aku yakin ini cukup untuk membuat Pesisir Pantai dan Desa Pesisir bergetar kuat. Orang-orang Desa juga pasti sangat gempar dan terkejut hebat sekarang. Belum lagi suara-suara pertarungan yang luar biasa keras dan mencekam cukup untuk terdengar dalam radius 10 KM sampai ke Kota Kecamatan Kuta.
.
Orang-orang di Kota juga gempar dan ketakutan dalam kepanikan tiada akhir, menyebabkan lalu lintas terganggu dan orang-orang ketakutan dan ada yang sampai berlarian tantrum karena menyaksikan dan mendengar suara gerung dentuman yang maha dahsyat.
.
Menghancurkan banyak permukaan tanah, bukit-bukit, dan sebagian sisi bukit besar didaerah Pantai Kuta dengan radius jarak yang luar biasa panjang sampai asap-asap debu mengepul deras ke udara, tanah-tanah yang ternagkat ke udara lambat laun menghilang menjadi serpihan-serpihan debu yang membuat takut masyarakat.
.
“HE-HEY!!! APA-APAAN INI?!”
(Ibu-Ibu Tukang Pijat)
.
“GEMPA…?!”
“TIDAK MUNGKIN! LIHATLAH KE SISI BARAT LAUT DISANA!!!”
(Random)
.
“AH…! A-A-APA YANG SEBENARNYA TERJADI?!!!”
(Tukang Sayuran Paruh Baya)
.
“APA ADA PENYERANGAN…??? WAJAR JIKA COKORDA DAN RAKA TAK ADA DARI PAGI…”
(Tukang Bengkel)
.
“KITA TUNGGU DULU SITUASINYA, MASIH BERUNTUNG DESA KITA TAK KENA EFEK KEHANCURAN YANG SANGAT BESAR ITU…”
(Tukang Siomay)
.
*GRARARAK
*KRAK KRAK KRAKAK
.
Bunyi riuh serpihan bukit dan batu berjatuhan dengan lebat. Gila… Orang asing itu benaran luar biasa kuat melampaui Bang Raka dan Bang Cokorda. Tetapi yah… Dia pasti jelas punya nama besar yang terkenal di Dunia, tetapi yah… Memang kenapa? Toh, ada kata-kata Harfiah selain “Bali Tanah Sakral Pendekar Dunia”.
.
Seperti contohnya… Tafsir dan tulisan-tulisan peninggalan lama yang sudah rusak dan tak terbaca.
.
Aku sendiri pernah menemukannya secara tak sengaja di Perpusda Kuta, tapi sepertinya itu tak terlalu penting, jadi cukup Kuingat saja. Kalau tidak salah tafsir itu berbunyi…
.
NUSANTARA… INDONESIA… BALI…!!! ADALAH ------ DAN TEMPAT ---------- SELURUH -------- YANG TAK SEHARUSNYA ------- -------DUNIA---------- --------- ----------- SEMESTA-------.
.
Memang rusak. Seperti rusak disengaja atau memang luntur tintanya. Tetapi ada satu lagi yang jelas.
.
BALI ADALAH PERJALANAN TERAKHIR BAGI PARA PENDEKAR YANG MENAPAKKAN KAKINYA DISANA.
.
*SYAAT
*SRAAA
.
Bang Raka dan Bang Cokorda tentu tak akan mati semudah itu jika memiliki kekuatan yang besar juga. Teknik-Teknik kuat yang Mereka berdua keluarkan Cuma sebagian kecil dari Skala Kekuatan Mereka berdua yang sebenarnya.
.
Dari asap mengepul mulai terlihat dengan jelas, Bang Cokorda yang mengeluarkan kekuatan pamungkasnya yang berubah menjadi semacam Humanoid Kera raksasa yang menjadi lebih besar dan tinggi dari tubuh aslinya, kemudian memegang Senjata yang dipakai waktu “Zarkan” menyerang pesisir.
.
Senjata milik Bang Cokorda menyerupai Tongkat raksasa dengan Material yang tak bisa diidentifikasi, namun memiliki corak seni aksara kuno dan ujung-ujungnya menyerupai ujung baton raksasa yang diukir menyerupai “Wanara”. Sepanjang bilah tongkat ini juga menyala-nyala bewarna emas sementara ujungnya bewarna gelap keemasan.
.
“Sahasrakoṭikoṅga”
(Seribu Kera / Thousand’s Kong)
.
Itulah namanya, tapi lebih mirip senjata pusaka entah kenapa.
.
Disatu sisi Bang Raka ada didepan Bang Cokorda dengan Tubuhnya yang diselubungi seluruh Kekuatan Penuh Vajra miliknya dan Keris Kembar miliknya bertumbuh dengan diselimuti “Amoghas” Tingkat Tinggi yang memnifestasikan Keris Kembar ini menyerupai Naga Kembar raksasa yang mengamuk dengan gila.
.
Itulah Kekuatan Penuh Mereka Berdua. Sekarang akan lebih gila lagi…
.
Orang asing yang tadinya cengengesan itu sekarang tersentak kaget dan mulai waspada dengan aura membunuh. Dibanding itu, ternyata naluri dan instingnya luar biasa tajam bisa langsung tahu kalau Dia akan mati jika menghadapi Mereka berdua dengan serampangan.
.
Pertarungan dimulai kembali, Sekarang Orang Asing itu mulai memakai Teknik Api asingnya itu juga untuk menyelimuti kedua tangannya bersamaan dengan Vajra Dia yang meluap-luap bertingkat Ekstrim, kalau dipikir lagi, tatto yang berornamen unik Miliknya juga terlihat menyala-nyala seperti ada aliran neon didalamnya.
.
*SWUNG
*SYAT
.
“Cepat sekali…?! Sial, ini tak bisa di-”
(???)
.
Bang Raka tiba-tiba sudah didepan matanya, dan menyerangnya dengan Keris berwujud Aura Naga dari tangan kirinya dengan kekuatan “Amoghas” yang besar, ini menyebabkan Orang itu tak bisa bereaksi dan terpaksa menahan serangan tadi dengan kedua tangannya yang menahannya dengan Katana miliknya.
.
Namun tangan kanan Bang Raka mulai menerjang Katana itu dengan kekuatan dan kecepatan yang sama-sama destruktif ditangan kirinya.
.
Setiap serangan dari Keris Kembar itu menciptakan proyektil shockwave statis yang hanya keluar dari Keris Kembar dan tidak sampai memengaruhi arah akurasi lain.
.
Sebagai ganti karena teknik ini tak bersifat area, Volume besar dari “Amoghas” Tingkat Tinggi itu bisa memanfaatkan akurasi dan akselerasi daya hantam serangan masif dengan efektif tanpa menyebar luas kemana-mana
.
Inilah yang menyebabkan Orang Asing itu terpental mundur karena tak sempat bereaksi.
.
“Keuk… Sial. Ini… Nusantara…!”
(???)
.
*SRAT
*DUAK GRAK GRAK GRARAK
.
Bang Cokorda melesat kedepan Orang itu tanpa memberi jeda dan mulai mengeluarkan teknik aneh yang melipat gandakan Dirinya menjadi Klon yang sama-sama memegang senjata kemudian dengan ganas menghantam Orang itu bertubi-tubi dengan dentuman ganas Tongkat berbalut Vajra berkonsentrasi tinggi.
.
Orang itu terpelanting ditanah namun dengan cepat menyeimbangkan tubuhnya agar bisa bangun lagi dan sempat melancarkan serangan tebasan yang kuat untuk menghancurkan batu besar yang hancur terbang sampai ke area pertarungan.
.
Bagian permukaan atas batu besar itu hancur lebur membuat Bang Raka dan Bang Cokorda melompat dari tempat Mereka berdiri untuk menghindari hujan batu yang sangat kuat menghancrukan banyak permukaan tanah sampai retak-retak tak berbentuk.
.
Ada sebongkah batu raksasa yang besarnya seukuran rumah jatuh kemudian di Tinju diudara oleh Bang Raka dengan kekuatan yang amat besar berlapis Aura bervolume pekat dari Ketiga bentuk Vajra sampai sebongkah batu raksasa itu hancur dan menyebar menjadi puing-puing yang ukurannya lebih kecil namun masih besar,
.
Terjadilah hujan batu yang dengan cepat menerjang Orang Asing itu namun diblokir bahkan dihancurkan dengan berbagai kombinasi bertahan dan menyerang Katana miliknya. Jujur hujan batu tadi tak ada apa-apanya dengan Katana Besar milik Orang itu yang memiliki Konsentrasi kekuatan yang sangat meluap-luap.
.
Seluruh hujan batu itu diredam sepenuhnya oleh Katana yang menggila itu sampai tak bersisa sedikitpun. Aku yakin Vajra “Dhyana” milik Orang itu juga berada ditingkatan yang jauh lebih tinggi dari Bang Raka dan Bang Cokorda.
.
Sepertinya hujan batu tadi hanya pengecoh agar Bang Cokorda bisa melesat kedepan Orang itu dan mulai mengeluarkan kombinasi serangan bertubi-tubi berskala besar dari tinju, tongkat, dan seluruh Kekuatan Vajra-nya dengan stabil yang sangat cepat dan destruktif.
.
Namun sepertinya Orang itu bisa menyelaraskan Kombinasi Tempurnya dengan momentum serangan Bang Cokorda, sehingga Dua Kekuatan berskala maksimum beradu hebat dan ganas menyebabkan distorsi tanah yang bergetar melalui getaran yang merambat dari udara…!
.
*CRARARAK ZUONGGG~
“Inilah akibatnya… MEMANDANG RENDAH PENDUDUK LOKAL, BRENGSK**!!!”
.
“Nāgayugala Nāśanānādaḥ”
( Raungan Penghancur Naga Kembar / Twin Dragon’s Annihilation )
*SRAAA
*WUONGGG
.
Tapi ingat, dari awal ini adalah “Duo VS Solo”. Bukan kecurangan jika Bang Raka menginterupsi adu kekuatan tadi. Bang Cokorda menghindar kesamping dengan cepat secara naluri “Dhyana”-nya dan disusul dari belakang Keris Kembar milik Bang Raka yang sudah berwujud Naga dari Konsentrasi Aura “Amoghas”-nya dalam volume Maksimum.
.
Itu adalah pemandangan luar biasa Dua Naga besar mengamuk dengan kekuatan Penghancur yang ganas menerjang Orang Asing itu sekaligus sampai Dia tersungkur ditanah dari retakan tanah tempat Dia berdiri.
.
Area dalam cakupan jalur serangan yang merambat melalui udara maupun Shockwave ikut ternagkat dan hancur berkepinng-keping dan dengan mutlak mengenai Orang itu. Shockwave itu baru berakhir setelah kena batu besar disisi lain.
.
Orang itu benar-benar tersungkur tidak bisa berdiri karena tubuhnya tertusuk Dua Keris Kembar itu. Akibatnya Dia muntah darah, namun kenapa rasanya Dia tidak kesakitan sama sekali ya…?
.
“Kergh… Brengs*k, waktu ngelawan “Dia” perasaan ga sampai begini deh…”
“!!!”
(???)
.
*SRAT
.
Bang Cokorda melesat ke Udara diatas Orang itu. Kemudian melancarkan Serangan kuat lainnya yang berkonsentrasi besar.
.
“Mahāvānarājasya Krodhaḥ”
(Murka Agung Raja Vanara / Wrathful King of Vanara)
.
*ZUONGGG
*DUAK---
*KRAKRAKRAKRKARKAK
.
“URGH… UAHAKH~!!!”
(???)
.
Orang itu pasti tubuhnya hancur sekarang. Aku tidak yakin karena sepertinya Dia memuntahkan banyak darah juga. Tapi kenapa rasanya Dia malah semakin berbahaya ya aura Dia…?
.
Tongkat yang dibentangkan ke langit itu kemudian dilempar dari atas dengan sangat kuat berakurasi tinggi. Mengenai Orang asing itu kemudian menciptakan ruang yang berisi Konsentrasi Vajra yang luar biasa deras menghancurkan area sekitar pantai menjadi kepingan-kepingan debu, tanah, batu, material, semuanya hancur lebur tak bersisa dalam Ruang Eksekusi Magis tersebut.
.
*KRARAK-KRAK-
*GROOO
.
Suara-suara yang luar biasa menderung dan keras yang sangat mencekam itu perlahan mulai larut sepanjang waktu setelah pertarungan ini berakhir. Bisa dilihat Bang Raka dan Bang Cokorda kehabisan napas dan kelelahan karena pertarungan intens yang tidak memperbolehkan Tubuh Mereka untuk melonggar dalam segi kekuatan dan bertahan sedetikpun
.
Orang itu juga pingsan tanpa suara. Berlumuran darah dan tubuhnya mengalami banyak luka fatal.
.
“Ohok…! Haish… Sial. Sudah berapa lama ya ga luka begini, hah…?”
(???)
.
*SRAT
*TAP
.
“Gimana yah~? Kau harus benar-benar pingsan dulu baru Kami berdua bisa tenang.”
(Cokorda)
.
*ZRAAAAT WUONGGG
.
Bang Cokorda mengeluarkan Vajra berkonsentrasi besar lainnya yang menyelubungi kedua tangannya untuk menghantam Orang itu dengan tinju berkekuatan masifnya. Kedua tinjunya mendarat dan menghantam Orang itu dengan ganasnya.
.
Asap mengepul dan Bang Raka kaget bukan kepalang… Karena sangat tidak masuk akal setelah semua pertarungan tadi terjadi situasi seperti ini.
.
“…?!”
(Cokorda)
.
*KRETT
*KRERET
.
Iya, gila memang. Dua Tinjuan masif tadi diblokir dengan tangan kiri Orang itu. Sangat tidak masuk akal dengan Tubuh hancur dan berlumuran darah, Dia masih bisa memiliki kekuatan yang sebanding dengan Bang Cokorda.
.
“Hihihi~ Aku tidak menyesal setelah datang kesini…”
.
“PERJALANAN TERAKHIR DUNIA INI…!!!”
(???)
.
“Hah… Bedeb*h ini gada habisnya, sialan.”
(Agungraka)
.
*ZROOOO
*BLARRRRR-BLAR-BLAR-BLAR
*ZRAAAAAA
.
Tubuh Orang itu mengeluarkan Aura yang meluap-luap tak terukur sampai meledakkan seluruh Area Pelabuhan Lama. Tanah-tanah yang hancur tadi benar-benar tak bersisa debu sedikitpun. Api Asing tadi juga keluar dengan ganas dan mematikan membakar segala yang dilalui Area Pantai dan membuat anomali udara menjadi meningkat tajam dengan sangat panas…!!!
.
Orang itu benar-benar menjadi “Gunung Berapi” hidup yang meletus berskala super-masif dan Aura Vajra yang bervolume maksimum bercampur dengan Elemental Api Asing tadi menyebabkan gesekan hebat yang membentuk spiral raksasa dengan Aura Pekat yang mengamuk-ngamuk dibelakang Punggung orang itu.
.
Tapi ada yang aneh, Tatto di Wajah Orang itu entah kenapa seperti “Menyala” dengan sangat terang bewarna Merah pekat berfrekuensi seperti aliran api didalamnya, serta tubuhnya yang tiba-tiba pulih tanpa luka sedikitpun, disertai dengan Aura Vajra dan Api Asing yang menyelubungi seluruh Tubuhnya.
.
Ekspresinya makin menggila dari yang tadi, Dia yang sekarang malah bertambah senang bercampur kagum karena melawan Bang Raka dan Bang Cokorda. Rambutnya juga sangat berantakan sekarang, tapi berkibar-kibar kesana kemari karena rambutnya juga sedikit panjang. Kupikir Rambutnya juga memutih…? Siapa sebenarnya Dia? Atau lebih tepatnya, Apa Dia sungguh beneran Manusia???
.
“Hurgh…”
(Cokorda & Agungraka)
.
“Kalian sudah membuktikan kekuatan sejati dari Negeri ini sepenuhnya. Kalian sudah melampaui ekspektasiku~ Cuma hitungan jari Individu Pendekar yang bisa membuatku terluka parah tadi, dan ternyata Kalian berdua bisa membuatnya lebih dari itu~?!!! KAHAHAHAHAH!!!”
(???)
.
“Huh… Sial, Aku belom nyiram Cabai dirumah”
(Cokorda)
.
“Aku belum ngepel ruang tamu… Heh, sial.”
(Agungraka)
.
“BEGITU SAJAKAH UCAPAN TERAKHIR KALIAN~??? SEKARANG MATILAH DENGAN KEHORMATAN SEBAGAI PENDEKAR.”
(???)
.
*GROOOO⚛🔥🔥🔥
ZYUNGGG🌠
.
Orang itu menciptakan “Bola Api” raksasa yang konsentrasi energinya berskala Super-Masif, melampaui seluruh Teknik Kuat milik Bang Raka dan Bang Cokorda. “Bola Api” itu meluncur dengan ganas bagai Meteorit yang siap membakar habis dan menghancurkan seluruh tanah daratan.
.
**MEMANGNYA KENAPA…? AKU MEMANG BERCERITA BEGINI, TAPI SUDAHI DULU NARASI PANJANG MEMUAKKAN INI.
.
*WUNGGG
.
“KOMET DIVYATVAM” ☄️
( Komet Badai Ilahi / Tempest of Divine Comet )
.
*ZRAAAAAA🌀🌀🌀
*BLARRR ZUONGGGGGGGGG~🌀💥🔥🌪️
.
“SIAPA YANG…?!!!”
(???)
.
“HEH~! Sudah 4 tahun, sungguh tak bisa dipercaya…”
(Agungraka & Cokorda)
.
*GROO
*CRERES-RES-SRAA
.
Aku muncul dari atas langit dan memandang rendah ke Orang itu dengan Ekspresi datar dan tajam seperti biasa sambil melihat betapa sintingnya Orang itu. Cuma gara-gara pertarungan begini Dia mau meledakkan seluruh Pantai Kuta…? Benar-benar Bedeb*h tak tahu etika.
.
Aku menghempaskan Teknik Mantra “Angin” pertama yang pernah Kubuat dulu, “Komet Badai Ilahi”. Namun ingat, perkembanganku sudah meningkat signifikan dan pesat sampai-sampai jarak Diriku yang dahulu dengan yang masa kini terpaut bagai Bumi dan Langit.
.
Komet Badaiku bisa dengan mudah mengurai dan memurnikan seluruh kadar komposisi serta Konsentrasi Kekuatan yang Vajra dan Api Asing yang bercampur aduk dengan amukan yang luar biasa ganas di “Bola Api” tersebut. Terlihat Dua Bola Elemental berukuran raksasa itu saling berdentuman namun Komet milikku lebih dominan sehingga bisa menguraikan seluruh “Bola Api” tadi dengan rapih dan bersih tak bersisa percikan sedikitpun, hanya menyisakan arus angin yang menyebar luas.
.
*WUNG…
*SYAT-TAP
.
“Brengs*k, sialan. Negeri ini masih menyimpan seberapa banyak lagi Individu berkekuatan Monster ini hah…? TERUTAMA BOCAH KEPAR*T YANG BISA-BISANYA MEMURNIKAN BOLA API-KU TADI…!!!”
(???)
.
Orang itu menepuk jidat dan menyeringai kembali dengan tatapan ganas sambil tersenyum ingin memangsaku. Aku bisa merasakannya dengan tenang tanpa rasa takut sedikitpun. Bahkan saking tenangnya, Aku merasa sangat santai dan seperti main-main menganggap hal ini tak serius dan Cuma menganggap Orang itu melakukan Gimik tak bermutu.
.
“Ternyata benar ya… Orang yang disebutkan Bang Xerxes dulu adalah Kau. Kolega dari Bang Xerxes, salah satu dari “DUA RAKSASA” Jepang yang mendominasi dan dikenal Dunia. Lalu… ARKEOLOG TERKENAL DAN TERMASYHUR DIBIDANG SEJARAH.”
.
“MASATSU KOHTOMIKAMI.”
(Cakra)
.
“Heh~~~”
(Masatsu Kohtomikami)
.
Dan yap… Kurasa Aku yang mengatakan ini dengan ekspresi wajah yang berkesan merendahkan orang dengan senyum dingin yang tenang membuat Orang itu semakin panas, huh…
.
CHAPTER 9 END
.
FOLLOW AKUN SOSMED @bangjoule_uw UNTUK MEMUDAHKAN MEMBACA NOVEL "PENGEMBARA TAK TERTULIS"!!!
.
JIKA ADA PENDAPAT YANG MAU DISAMPAIKAN, SILAKAN KOMEN DIBAWAH DAN FOLLOW AKUN INI UNTUK NOTIFIKASI CHAPTER SELANJUTNYA YA~
__ADS_1