Prahara Sang Pengembara Tak Tertulis

Prahara Sang Pengembara Tak Tertulis
Chapter 2 : Pasang Surut T'lah Dimulai


__ADS_3

Akhirnya lembaran baru kehidupanku telah berubah sepenuhnya. Daerah ini adalah Daerah pesisir Pantai Kuta. Kehidupan disini berbeda jauh dari Daerahku dulunya. Aku bisa lihat ekonomi disini stabil dan sosialnya juga normal. Banyak orang beramah tamah dan aktivitas lainnya.


.


Aku juga senang karena tak ada dari Mereka yang memandang jijik padaku. Rata-rata pencaharian disini tentu saja Pasar Ikan. Namun ada juga Kedai-Kedai makanan yang berjajaran. Aku juga melihat banyak rumah-rumah penduduk yang sederhana namun sejahtera dan damai tentunya.


.


Bisa dibilang Aku mendambakan kehidupan ini sebelumnya. Namun Aku tidak lupa jika Aku harus selalu waspada setiap waktu untuk menjaga Diri Sendiri saja setidaknya. Udara laut yang berhembus dengan lembut dari pesisir pantai membuatku seolah terlahir kembali dengan rasa hidup yang asri dan bersahabat. Panorama tebing bukit dan kawasan-kawasan hijau yang rindang, sawah yang subur melimpah, perkebunan yang terlihat segar, masih banyak lagi yang membuatku terasa lebih hidup.


.


Bang Raka sepertinya sedang memikirkan sesuatu sedari tadi Kami berjalan pulang.


.


Kau bilang... menangis adalah tanda kelemahan...? kata-kata itu sungguh keliru. Kurasa Kau sudah mengalami banyak musibah dari orang-orang jahat tak kenal hati yang selalu menganiaya Dirimu ya... Justru orang yang mudah sekali menangis adalah orang kuat sejati karena Mereka mampu mnegeluarkan perasaan Mereka yang sesungguhnya. Sehingga mereka mudah dimengerti orang lain. Aku ingin menasehatimu itu, tapi sepertinya Kau tidak akan mendengarkan ya... (Agungraka)


.


"Kalian duluan saja, Aku ingin ke Kedai dulu mengurusi banyak keperluan disana." (Agungraka)


.


"Kalian punya Kedai?" (Cakra)


.


"Haha, Iya. Walaupun kecil setidaknya ada rasa saling bersosial disana." (Cokorda)


.


"Pasti asyik bisa berbicara dan bertemu dengan orang lain ya~" (Cakra)


.


Kami sampai juga dirumah. Aku bisa lihat rumah sederhana dengan teras disertai kursi rotan di sisi jendelanya. Pohon dan tanaman yang selalu Kulihat tidak memiliki warna dan rindangnya, sekarang adalah pertama kalinya Diriku melihat pohon yang subur dan rindang disertai tanaman-tanaman hias yang bewarna cerah walaupun hanya beberapa saja.


.


Aku yang selalu melihat bercak kotor dan darah sekarang bisa melihat ruangan yang hidup dan bersih di Rumah baruku bersama Bang Cokorda dan Bang Agungraka.


.


"Sepertinya Kau sangat senang ya?" (Cokorda)


.


"Ya, Aku yang selalu melihat segala bentuk dan hal yang tidak memiliki kehidupan dan bahkan selalu penuh hawa gersang untuk dilihat, sekarang bisa melihat tempat yang lebih terawat dan hidup ini."


"Makanya, mulai sekarang izinkan Aku yang merawat rutin pohon dan tanaman ini ya, Bang?" (Cakra)


.


"Kalau begitu baiklah, mulai sekarang Kau yang merawat Mereka. Jujur Kami berdua sibuk mengurus kedai sampai kadang lupa tak disiram barang sehari." (Cokorda)


.


"Iya, Aku juga akan rutin membersihkan rumah dan kedai kita. Jujur Aku terobsesi untuk menjaga kebersihan tempat kita ini. Karena tempatku dulu hampir tak bisa dibersihkan noda dan kotoran bercak darahnya. Itu semua membuatku merinding, sekarang tidak lagi." (Cakra)


.


"Baguslah, setidaknya Kami terbantu berkat adanya Dirimu juga. Ngomong-ngomong Aku bisa lihat Kau ini cerdas. Jadi sayang kalau IQ-mu itu di sia-siakan. Aku punya banyak buku soal tata boga, manajemen bisnis, bahkan politik. Masih ada banyak juga yang lain. Terutama Kau bisa pelajari ini." (Cokorda)


.


"Buku usang ini... Sejarah kuno Nusantara? Kalau dilihat-lihat semua isinya mulai hancur tidak karuan dan susah dibaca. Ini juga... Aksara sanskrit?"


.


"Ternyata kau juga bisa membacanya..." (Cokorda)


.


"Maksudmu?" (Cakra)


.


"Apa Kau tidak menyadarinya? Kau bilang sendiri tidak tahu siapa Ayah dan Ibumu. Lantas kenapa Kau bisa membaca Aksara Kuno yang telah hilang dari Dunia?" (Cokorda)


.


"?!"


"Kalau dipikir iya juga. Aku bisa belajar membaca dan menulis huruf alfabet dan Aksara sendiri karena Aku bisa melafalkannya dengan fasih walaupun butuh waktu. Bukan hanya Aksara Bali, tapi kenapa Aksara Sanskrit juga?" (Cakra)


.


"Bukan hanya Kau, Cakra. Cokorda dan Aku juga bisa membaca Aksara Sanskrit dengan pasti padahal dulu Kami hanya belajar huruf alfabet dan Aksara Bali."


Agungraka baru kembali kerumah saat tengah malam sehabis menutup kedai. Dia yang mendengar pembicaraan ini lantas juga ikut bergabung.


.


"Jika Abang bilang Aksara Sanskrit ini adalah Aksara Kuno yang sudah hilang. Tetapi Kita bisa membacanya tanpa belajar."


.


"Eksistensi Gohma, Aksara Kuno yang hilang... Aku masih tidak bisa menafsirkannya dengan pasti tapi Kedua intisari ini saling terhubung." (Cakra)


.


"?!" (Agungraka & Cokorda)


.


"Aku tahu Kalian menganggap bahwa ini hanya khayalanku saja yang tak berdasar karena Aku masih anak dibawah umur, tapi hipotesaku mengatakan kalau dahulu terjadi Sesuatu. Mungkin Sesuatu ini yang menyebabkan rantai-rantai kejadian besar yang ada pada Rahasia Dunia." (Cakra)


.


"Kami tak akan menganggapmu anak dibawah umur karena pemikiranmu itu seperti orang dewasa


( ̄_ ̄|||)"


"Tapi serius. Darimana Kau tahu tentang rahasia dunia ini? Bukankah Kau sendirian?"(Agungraka & Cokorda)


.


"Aku belum sepenuhnya jujur pada Kalian. Ada sosok berwujud roh yang mendatangiku dulu saat berumur 3 tahun. Dia memberitahukan sebagian kecil tentang rahasia dunia dan tentang apa yang akan terjadi dimasa depan."(Cakra)


.


"Roh? Sekarang masuk akal kenapa Kau bisa jadi sehebat ini di usiamu yang sangat muda. Aku yakin Roh ini berasal dari masa lalu?" (Agungraka)


.


"Bisa dibilang begitu. Namun kalau boleh Aku katakan kalau Dia sudah ada sejak ribuan tahun." (Cakra)


.


"Apa?! Ribuan tahun? Apa Dia ada kaitannya dengan "Era Jurang Patala"? masuk akal jika Dia mengatakan dari Zaman ribuan tahun." (Agungraka)


.


"Era Jurang Patala"? Aku tidak mengerti apa itu tapi sepertinya itu adalah kejadian yang misterius."(Cakra)


.


"Kami berdua menemukan dokumentasi itu di sebuah prasasti di Pura Besakih. Namanya Prasasti Snehavān Pradīpaḥ." (Cokorda)


.


"Prasasti? Maksudmu rekam jejak dokumentasi zaman dahulu yang memuat seluruh kejadian kuno? Aku bahkan tak berpikir kesana!" (Cakra)


.


"Totalnya ada Tujuh Prasasti Kuno di Dunia ini yang belum hancur sepenuhnya. Semua bahasanya sama, yaitu Sanskrit. Orang-orang normal yang tidak seperti kita jelas tidak bisa membacanya. Hanya sedikit orang di Dunia ini yang bisa menafsirkan Bahasa Sanskrit. Kebanyakan dari Mereka adalah Ilmuwan Sejarah dan Ahli Arkeologi. Itu saja mungkin cuma 4 atau 5 orang di dunia. Namun Dunia masih belum tahu kalau kemungkinan Orang-Orang dari tanah Kita bisa membaca Aksara Sanskrit. "(Cokorda)


.


"Aku rasa tak ada baiknya jika membiarkan Dunia mengetahui Kita bisa bahasa Sanskrit kan? Kita orang-orang yang lahir di tanah Bali ini rasanya bakal celaka kalau membiarkan Diri Kita terekspos sepenuhnya." (Cakra)


.


"Hwahahah, Kau berpikir sedalam itu~ Benar-benar Anak yang luar biasa. Itulah mengapa rasanya Kami beruntung bisa bertemu denganmu. Pikiran kita sefrekuensi, jadi kita bisa memutuskan apapun sesuai situasi yang sama." (Agungraka)


Sembari dia meminum Kopi arang yang dia racik sendiri.


.


"Kita bisa kesampingkan itu dulu, tentang gambaran apapun dimasa depan nantinya, Kita akan menghadapi situasi pertarungan berdarah baik dari Gohma ataupun dari sesama Kita sendiri. Namun terlepas dari Dua ancaman ini, Kita masih terancam oleh Mereka yang berada di "Langit". Apa Kau tahu tentang ini, Cakra?" (Cokorda)


.


"..." (Cakra)


Aku mendengarkan seluruh pembicaraan Bang Cokorda sambil ngemil Lontong Sate khas racikan Bang Agungraka. Kalau dipikir kembali Aku mengingat sesuatu saat umurku masih 5 tahun


.


Disaat Aku merenung entah marah ataupun sedih, Aku melihat bulan yang terang benderang dengan deburan bintang-bintang yang berkilauan karena saat itu tidak ada listrik sama sekali.


.


Selain itu, Aku terkadang melihat siluet awan yang membentuk sebuah lingkaran raksasa berlapis-lapis yang menyelubungi sebuah "Pulau Raksasa". Aku bisa melihat ada sedikit ukiran bentuk "Celestial" atau mungkin sederhananya ukiran kosmik yang bercorak Murti, Shastra, atau mungkin juga Relief Kuno yang tak pernah diketahui namanya?


.


Yang tertangkap dipikiranku setelah melihat corak-corak asing itu adalah "Nuansa Kegelapan" yang menimbulkan rasa takut dan cemas. Apakah Pulau itu surga? atau neraka? Yang jelas Corak-Corak samar yang Kulihat di Pulau Raksasa itu membawa kesan Kehancuran yang tak berasal dari Dunia ini.


.


"Dulu Aku pernah melihatnya juga. Yang ada diatas "Langit itu".... sepertinya lebih baik tidak pernah diketahui keberadaannya. Rasanya Mereka lebih mengerikan daripada Entitas Gohma. Ngomong-ngomong apa Kau menemukan sesuatu terkait "Mereka yang berada di Langit"...?" (Cakra)


.


"Tamastārā. Itu adalah nama Mereka."(Agungraka)


.


"?!" (Cakra)


"..." (Cokorda)


.


Diriku yang sedang lahap membersihkan sisa daging di tusuk sate tiba-tiba jatuh dari mulutku saking kagetnya.


.


"Bagaimana bisa Bang Raka dan Bang Cokorda mendapatkan begitu banyak informasi Rahasia Dunia? Mungkin bagi Orang zaman dahulu informasi ini hanya 8-10% dari Kebenaran dibalik Rahasia Dunia... Bagaimanapun semua yang sedang Kita bicarakan daritadi adalah Informasi yang sangat mengejutkan..." (Cakra)


.


"Itu karena Kami berdua juga sama seperti seusiamu. Kami menemukan dan membaca banyak buku usang yang tersebar di berbagai tempat, dikumpulkan menjadi satu dan teliti berbagai rincian isinya. Kami juga mengetahui bahwa Tujuh Prasasti Kuno ini adalah pesan dari Masa Lalu untuk diketahui Orang-Orang masa depan seperti Kita. salah satu prasasti pertama yang Kami temukan adalah Snehavān Pradīpaḥ. Artinya Bara Hangat Penyayang. Isinya merujuk tentang penyesalan Seseorang Dahulu Kala yang membuat janji untuk menggunakan kekuatan sejatinya untuk mengembalikan Bumi Gaia menjadi surga seperti sedia kala dan menglenyapkan kekuatan "ketidakmurniannya"..."


(Cokorda)


.


"Ironisnya setelah tahu semua ini. Kami merasa semakin Kami berdua menggali Rahasia Dunia, semakin takut Kami akan kebenaran..." (Agungraka)


.


"Terima kasih telah menceritakan semuanya, Bang. Aku harus mengembangkan semua potensial Diriku, membaca semua Buku yang berkaitan dengan sejarah, dan meneliti semuanya dengan berkeliling seluruh Dunia. Aku janji akan hal itu. Aku juga akan mendalami bisnis dan politik dunia. Agar bisa memimpin Dunia ini nantinya."


"Kurasa malam ini sudah cukup Kita membahasnya. Entah kenapa semakin tahu sedikit demi sedikit kebenaran, rasanya "Mereka" memperhatikan Kita juga. Itu juga membuatku terancam. Makanya Aku harus mengembangkan Diriku menjadi kuat yang berada di Puncak Dunia! Untuk menghapus Gohma dan berbagai kekuatan asing yang mengancam Dunia ini. Aku juga berjanji untuk menciptakan perdamaian abadi setelahnya..." (Cakra)


.


"Benar, ini sudah larut malam. Mari tidur saja"(Cokorda)


.


Bang Cokorda dan Bang Raka beserta Aku tertidur pulas walau rasanya ada yang "mengintai" Kami. Terkadang beberapa waktu sering terdengar langkah kaki yang keras tapi karena sangat gelap diluar jadi Kami mengabaikannya. Dan juga... ada suara menderung...?


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Fajar menjelang mentari terbit, Waktu pagi hari sudah mulai datang kembali. Aku bangun duluan dan rasanya luar biasa segar karena Aku tidak pernah tidur dengan benar. Aku membuat segelas Susu sachet hangat dengan full air panas. Seraya menikmati pemandangan halaman belakang yang terhubung langsung dengan pemandangan Pantai Kuta.


.


"Tempat ini selalu tidak kehilangan jati dirinya sejak dulu. Selalu membawa nuansa alam yang megah dan menentramkan hati." (Garuda)


.


"Ini adalah pertama kalinya Aku menikmati momen ini dalam hidupku. Walaupun Aku tak tahu rasa kasih sayang Orang Tua, setidaknya Aku merasakan kalau alam menjaga dan melindungiku. Hewan-hewan dan serangga yang lain juga sepertinya tak takut terhadapku."


"Terkadang Aku bisa tahu walaupun hanya firasat. Setelah datang ketempat ini, Pesisir pantai, angin laut, dan juga rindangnya tumbuhan disekitar sini seperti sedang menghibur Diriku yang sudah sengsara. Mereka memberikanku semua pesona alam yang terasa menghentikan waktu karena keindahannya yang melimpah" (Cakra)


Sambil Kuseduh Susu Sachetku. Aku sungguh merasa tentram sambil tersenyum dengan hidupku yang sudah berubah sekarang.


.


"Kau bisa menafsirkan semua perasaan itu... Kau sungguh Anak yang sangat luar biasa. Kau begitu dewasa di usiamu yang ke-8 tahun. Padahal anak-anak sepertimu tidak punya kapasitas otak dan ungkapan dari hati sepertimu. Meski begitu Aku bisa merasakan kalau Kau benar-benar polos." (Garuda)


.


"Kau juga tahu betul Aku tak sepenuhnya polos kan. Ditempat tinggal kita berdua dulu juga banyak sekali perilaku kotor dan tak senonoh seperti hiburan wanita, klub ilegal, dan banyak hiburan dewasa lainnya yang berkaitan dengan nafsu gairah...." (Cakra)


.


"Itu bukan berarti Kita mau melihat semua itu kan? Jujur Kau juga merasa tidak nyaman melihat semua yang ada ditempat kita dulu." (Garuda ( ̄┰ ̄*) )


.


"( ̄m ̄)"


"Ngomong-ngomong sepertinya Mereka berdua tidak seharusnya mengetahui keberadaanmu dulu untuk sementara waktu ya." (Cakra).


.


"Aku setuju, Tenang saja, Aku akan muncul dimomen yang tepat kok." (Garuda)


.


Setelah semua perbincangan itu, Aku mandi dengan cepat lalu bergegas keluar untuk beraktivitas rumah tangga pada umumnya.


.


DAN BENAR SAJA, setelah membuka pintu depan, Aku melihat berbagai fasilitas hancur seperti aspal jalanan yang berlubang, tiang telepon ambruk, pipa air yang bocor besar, atau pagar-pagar pekarangan depan yang hancur berantakan.


.


Ini juga membuat geger Warga sekitar setelah menyaksikan kerusakan yang besar ini. Mereka saling berbincang satu sama lain membagikan apa yang mereka alami sepanjang malam yang aneh kemarin.


Salah seorang bercerita kalau Dirinya melihat bayangan raksasa seperti binatang menyala-nyala yang mondar mandir sambil merusak sekeliling,

__ADS_1


.


Ada juga yang bercerita mata besar menyala-nyala mengintip jendela kamarnya dengan lama.


.


Ada juga yang bercerita rumahnya di dobrak dan dirusak seisi rumahnya.


.


Ada juga yang bercerita saat sedang nongkrong di Pos Kamling, Mereka mendengar suara binatang buas yang sangat diluar kata wajar. Lebih seperti suara iblis mengamuk kata Mereka. Makanya Mereka cepat bersembunyi disuatu tempat.


.


Aku juga sempat berkeliling melihat sekitar dan melihat semua baik banguna dan fasilitas sarana prasarana hampir semuanya rusak. Termasuk jalur komunikasi kabel dan gardu listrik.


.


Sehingga Daerah Pesisir Pantai Kuta ini terputus kontak dengan Pusat Kota.


.


"Nak, apa Kau tahu apa yang terjadi semalam?" (Random)


Salah seorang pedagang ikan bertanya Padaku,


.


"Aku tidak melihat jelas karena sangat gelap, tapi Aku merasa di intai karena suara napas yang sangat buas menderung di seisi rumahku. Sepertinya Aku tahu makhluk ini." (Cakra)


.


"Sungguh sangat mengerikan yah... Makhluk ini sudah pasti Gohma kan?" (Random)


.


"Entah apa tujuan Mereka kemari. Tapi sepertinya Mereka ingin memangsa Kita." (Cakra)


Jawabku sambil minum gelas susu yang kubawa.


.


"Kau masih anak-anak tapi tahu banyak ya. Kau sungguh hebat. Jarang anak-anak sepertimu~ heheh"


"Tapi aneh ya, Gohma yang Kita tahu sangat agresif serta luar biasa buas menghancurkan semua yang ada di hadapan Mereka. Lantas Kenapa Mereka sekarang mengendap-endap untuk memangsa Kita diam-diam...?" (Random)


.


"Kurasa Evolusi adalah kondisi yang tepat untuk hal ini. Ada kemungkinan kalau Mereka berevolusi dengan memiliki kecerdasan tambahan? Tapi bagaimana cara Mereka mendapatkannya ya..." (Cakra)


.


"Kupikir yang Kau katakan barusan sangatlah gila. Walau tidak ada bukti setidaknya ktia sebagai warga pesisir sini memang harus waspada terhadap semua kemungkinan."


"Kurasa Aku menahanmu terlalu lama. Sampai bertemu lagi Nak~ Semoga setiap harimu penuh keberuntungan." (Random)


.


"Semoga harimu beruntung juga Pak, sampai jumpa." (Cakra)


.


Setelah bersosial disana rasanya Aku senang juga bisa ada yang di ajak berbicara. Setelahnya Aku juga berbincang-bincang dengan beberapa warga disana terkait yang Aku alami.


.


Sejenak Aku terpikir kata-kata Pedagang Ikan tadi.


.


"Keberuntungan katamu...?"


"Eheheh... Benar. Semoga mulai sekarang Aku selalu beruntung. Sehingga lebih dari cukup untukku melupakan kesengsaraanku dimasa lalu. Setidaknya orang-orang disini semuanya ramah padaku dan sesamanya." (Cakra)


Sembari Aku menghabiskan susu hangatku, saat Aku menengadah ke langit juga.


.


.


Aku pulang kembali setelah bersosial untuk pertama kalinya. Ternyata mereka berdua sudah bangun juga. Aku membagikan banyak cerita ke Mereka berdua soal malam aneh kemarin.


.


"Huh, sialan. Kupikir cuma perasaan parno-ku saja diendus-endus sesuatu. Ternyata kawanan Gohma? TAHU BEGITU KITA KELUAR SAMBIL BABAT HABIS MEREKA~" (Agungraka)


Bang Raka yang paling semangat sepertinya kalau soal bertarung (。_。).


'


Seraya kami bertiga makan nasi yang dicampur bumbu racik ayam, Aku teringat rutinitasku


.


"Oh iya, Aku lupa kalau harus menyiram dulu tanaman-tanaman rambat dan markisa yang ada didepan. Aku juga lupa kalau Aku harus latihan mengembangkan kekuatanku seperti dulu. Kita berbincang lagi nanti, Bang" (Cakra)


.


"Gampang~" (Agungraka)


.


"Kedai Kami ada di gang sebelah yang bernama "Buleleng". Datanglah kalau sedang senggang. Pelanggan-pelanggan disana juga sangat ramah dan asyik~ " (Cokorda)


.


"Baiklah, setelah pekerjaan rumah dan pelatihanku selesai Aku akan kesana, hahay~" (Cakra)


.


"Pelatihanmu? Kau tekun sekali yah, padahal kau masih dimasa kau banyak bermain seperti anak-anak seusiamu. Tapi Kau memilih pelatihan seumur hidup yang luar biasa panjang dan berat. Kepribadianmu benar-benar teguh dan dewasa. Kau pasti bisa membesarkan orang lain juga, hehe." (Agungraka)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Mereka berdua sudah pergi. Aku bisa fokus untuk melatih lagi "Seni Perang Mandala"-ku. Rasanya menumpul bahkan jika sehari dua hari tidak dipakai. Makanya Aku harus melatihnya secara otodidak setiap waktu.


.


Kadang Aku kepikiran untuk berkeliling mencari berandalan yang mengancam warga sekitar dan Kuhajar ditempat. Bukannya tanpa alasan, tetapi Martial Art-ku tidak akan berkembang jika tidak dipraktekkan dilapangan langsung.


.


Walau kejam, Aku harus menggunakan orang-orang jahat untuk menjadikan Mereka samsak juga, hehe. Tapi jujur, sekarang Aku sama sekali tidak takut untuk bertarung dengan orang dewasa. Kadangkala Aku melihat ada preman Aku mendatangi Mereka dan sengaja pura-pura kelihatan biasa.


.


Sewaktu ssiang sampai sore menjelang, Aku fokus melatih Vajra serta Martial Art-ku secara bersamaan. Waktu dulu juga masih banyak binatang-binatang buas berkeliaran di hutan dekat pesisir. Jadi Aku sengaja kesana untuk mengecek batasanku.


.


Kadang ada harimau, badak, ataupun beruang bahkan singa. Setelah coba cari gara-gara dengan Mereka, Aku berhasil keluar juga dari hutan dan hasilnya Aku bisa melihat kalau luka setelah bertarung dengan binatang buas rasanya membuat Diriku signifikan berkembang.


.


Aku bisa belajar juga untuk lebih cepat merubah gaya bertarung dan menggunakan Vajra Amoghas sedikit demi sedikit dengan volume sesuai batasanku setiap detik. Sehingga Aku bisa mengeluarkan berbagai serangan berat setiap detik sambil memutar arah serangan dan merubah posisi kaki tumpu setiap gerakan untuk mengatasi pertarungan banyak lawan dari berbagai arah.


.


Kalau gambaran luasnya, seperti harimau yang menerjang dengan cakar kanan, badak yang maju dengan cula nya, beruang yang menerjang dengan dua tangan sambil berdiri, dan singa yang menerjang dengan taring-taringnya.


.


.


mengatasi cakar kanan harimau dengan tangkisan telapak tangan kiri yang diselubungi Amoghas dengan momentum yang pas untuk dibelokkan ketanah sehingga keseimbangannya tergganggu, menginjak cakar kanannya agar tidak bisa ditarik dan tinju dengan tangan kiri juga dengan perputaran kuat dijalurnya.


.


Cula badak yang Aku hindari dengan menyerongkan badan ke kanan dan meninju keningnya dengan tinju kanan dengan perputaran kuat ditempo laju seranganku.


.


Memutar badanku kebelakang sambil melihat sesuatu yang menuju kearahku dan mengatasi Beruang yang menyerang seperti manusia dengan badan besarnya dengan melesat kedepan bagian kanan untuk menyerang kaki kanan beruang agar Dia jatuh, kemudian genggam tangan kirinya sembari Kutarik kekanan dan Kuserang dada kanan beruang itu dengan tinju berlapis Samadhi dan Amoghas-ku walaupun belum begitu kuat.


.


Alhasil semua binatang-binatang buas itu pingsan dan kalah sepenuhnya setelah mengulur alur pertarungan yang panjang. Garuda mengatakan seperti biasa soal perkembanganku. Bukan hanya kekuatan, namun juga intelektual bertarung serta strategiku yang mulai bisa dikembangkan levelnya.


.


Sembari pulang kadang Aku lihat warga sekitar sana yang entah ada di sawah ataupun warung melihatku dengan takjub ataupun dengan impresi kaget seperti biasa sambil menganga keheranan.


.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hari menjelang malam, Aku pun pergi ke Kedai Buleleng tempat Mereka Berdua sebagai pemiliknya. Benar saja disana sangat ramai sampai keluar-luar walaupun kecil, tapi rasanya sangat ramai dan menyenangkan.


.


"Oh~ Jadi Kau anak baru yang bersama Raka daan Cokorda ya,"


"Mereka cerita banyak tentang Dirimu. Aku heran dan kagum Kau bisa hidup tidak masuk akal seperti ini, tapi itu cerita yang luar biasa."


"Kau sudah sekuat remaja belasan tahun padahal baru berumur 8 tahun. Kau benar-benar keren ya~"


(Random)


.


Semua yang Mereka katakan sangat bersahabat dan menyenangkan. Ini membuatku lebih bersyukur lagi


.


"Ahahah, terima kasih karena sudah membicarakanku~ Kalian juga sangat menyenangkan. Rasanya seperti punya banyak saudara." (Cakra)


.


"Ya, ya~ Tentu Kita ini saudara sedaerah. Semua yang hidup bersama di daerah pesisir ini harus saling bersaudara agar hidup kita terus menyenangkan. Lupakan berbagai masalah dan nongkrong setiap harinya, dan membagikan banyak cerita agar setiap harinya berkesan~"


"Ngomong-ngomong dapat darimana Kau baret-baret luka itu?"


(Random)


.


"Oh. Aku berantem sama Harimau, Badak, Beruang, dan Singa tadi pas nyasar ke hutan, TEHE~ ...


(* ̄0 ̄)ノ" (Cakra)


.


"(⊙_(⊙_⊙)_⊙)...!?"


"Σ(っ °Д °;)っ...!"


"APAAAAA KAU BILAAAAAAAANG...? SERIUSAN?!!"


(Random)


.


Orang-orang kedai kaget tidak karuan mendengarkanku bicara, yah... Jujur memang gila bertarung dengan hewan buas di usia anak-anak. Apalagi Aku belum dewasa (°ー°〃) (Cakra)


.


"Awokwokwokk~"


"Hwahahah~, memang Anak yang sangat gila heh! bisa-bisanya bilang nyasar kehutan dan bertarung dengan Mereka!!! Kau benar-benar Pendekar cilik ya~"


"Kami semua percaya setiap cerita kok~ Yang Kau alami itu sungguh gila. Bagi Kami saja sudah gil bahkan takut jika bertemu dengan Mereka!"


"Aku yakin Kau bisa sama hebatnya dengan Raka dan Cokorda atau bahkan bisa melampaui Mereka~~~"


(Random)


.


"Wo- Wow, hahah... Aku pikir Kalian tidak percaya padaku mentang-mentang anak kecil. Sungguh hebat rasaanya ketika diberi pujian sana-sini~~ heheh, ini pertama kalinya Aku tersanjung~~~~"


(Cakra)


.


"Jadi Kau..." (???)


.


"..."


"Ah... Kau harus berbincang dengannya, Cakra. Dia saudara Bang Raka dan Bang Cokorda juga. Ngomong-ngomong Dia bawa calon Istrinya dari Jepang yang luar biasa cantik seperti Malaikat~ Fufu~~ Kau pasti jatuh hati juga."


(Random)


.


Aku bisa melihat dia duduk di Bar sana. Tubuhnya juga tinggi dan besar seperti Bang Raka. Kira-kira sekitar 2 meter. Dia juga memakai bando sehingga rambutnya seperti landak kalau dari belakang.


.


Aku juga melihat Dia membawa semacam... Tombak mungkin? Tombak Dia memiliki ukiran bercorak Jepang namun memiliki corak khas kebudayaan hindu-buddha juga di mata tombaknya.


.


"Anak yang dibicarakan dan dibawa pulang Mereka Berdua ya... Aku bisa melihat kenapa Mereka memperhatikan Dirimu." (???)


.


"?!"


"Kalau Kuingat Bang Raka bilang Tiga Bersaudara dan bukan Bersaudara. Apakah Kau yang ketiga? Aku tak pernah melihatmu." (Cakra)


.


Sambil duduk santai di meja dekat bar kasir, Aku juga tak lupa harus waspada dengan Orang Asing karena pengalaman hidupku yang dulunya menderita. Makanya Aku sangat sensitif dan waspada untuk berjaga-jaga walau diluar terlihat kalau Aku sangat tenang.


.


"Aku baru saja pulang dari Jepang. Haish... Sumpah Aku baru bisa pulang sekarang karena harga tiket pesawat selalu dimonopoli, breng**k." (???)


.


"Kenapa Kau ada di Jepang? Kenapa tidak bersama Bang Raka dan Bang Cokorda? Selain itu... Kenapa Aku merasakan Mantra Elemental yang sangat gelap nuansanya? Rasanya Aku tak pernah mempelajari ada Mantra seperti yang Kau punya..." (Cakra)


.


"..."

__ADS_1


"Kau bukan anak biasa ternyata. Kau bisa merasakan aliran Mantra pada tubuhku. Sepertinya Kau juga memiliki Mantra yang terpendam ya... Ya, sangat... misterius." (???)


.


"..."


Aku hanya diam karena rasanya ada yang tidak beres dari perkataan Dia. Aku bisa tahu ada makna tersirat dibalik kata-katanya yang tak jelas itu. Rasanya seperti Ia ingin melumatku sampai habis. (Cakra)


.


Kulihat sedikit Garuda terlihat agresif walaupun Ia menahan ekspresinya. Sudah Kuduga ada yang tidak beres.


.


"Kuahahahahah~ Ayolah tegang sekali Kau ini~ Kau kira Aku bakal menghajarmu~ hmm?" (???)


.


Aura yang tidak enak disekitarnya tiba-tiba menghilang begitu saja dan sekarang Dia terlihat seperti Bang Raka dan Bang Cokorda.


"Urgh... Kau tahu ini sedikit runyam karena Kau tadi menyeramkan tahu~" (Cakra)


.


"( ̄_ ̄|||)" (Semua Random)


.


Aku dengar ada suara gerung moge yang sangar. Bisa Kulihat Bang Raka dan Bang Cokorda datang ke kedai. Motornya keliatan mahal sekali dan luar biasa keren walaupun modif sendiri


.


"Hey, kepa***! Aku sudah jauh-jauh ke bandara dan sekarang Kau sudah ada disini?! Sayang bensinnya mahal sialan~!" (Agungraka)


.


"Hemmm~? Aku lari sepanjang jalan dari Bandara kesini karena Kalian sangat lama~~~" (???)


.


"Hah...? barusan... lari sepanjang jalan? Kau kuat sekali lari selama itu hah? (⊙_⊙)?"


.


"Hah... Kau kan bisa telepon kita dulu, jangan langsung ngacir begitu aja ban***d. Apa Kau ke Jepang cuma buat main Kendama saja hah~? Xerxes! " (Cokorda)


.


"Kahahahah, sikapku memang buruk heee~" (Xerxes)


.


"Jadi itu namamu. Kalau begitu sekarang Kau Kupanggil Bang Xerxes, tehe~" (Cakra)


.


"Kau ini ( ̄┰ ̄*)... Seenaknya menentukan nama panggilan. Haish... Aku sudah tau Kau. Namamu Cakra. Mereka Berdua cerita tentangmu juga di telepon ini." (Xerxes)


.


"Ah, Kalian berdua! Maaf jika tidak memberitahu Kalian kalau tak usah ke bandara. Xerxes-San mau cepat sampai rumah makanya Dia lari sepanjang jalan sambil menggendongku, hehe~" (???)


.


Kulihat seorang Wanita berambut pirang Blonde panjang di ikat jadi Ponytail dengan poni rambutnya yang berkibas-kibas. Wajah tirus yang sangat khas Asia Timur, lentik mata yang menawan, pupil mata bewarna coklat muda. Dia juga memiliki tinggi diatas rata-rata dan tubuh yang langsing.


.


Dia juga memakai setelan blazer dengan atasan bewarna hitam dengan pernak-pernik manik-manik di kancingnya ayng terdapat hiasan rantai dan celana panjang bewarna abu-abu yang kelihatannya sangat mahal dari Jepang.


.


"UWOGH~~~ DIA SUDAH DATANG~!!!" (Semua Random)


"Benar-benar cantik seperti malaikat ya~ Xerxes beruntung sekali dah, hahah!"


.


"Ahahah... Kau sudah selesai mandi di pemandian umumnya?" (Xerxes)


.


"Walau tidak seperti Jepang, rasanya juga sangat menyegarkan~ Banyak pemandangan alam yang indah dilihat sambil berendam."


"Hmm~ Siapa anak ini? Baru pertama kali Aku melihatnya... Dia laki-laki tapi manis juga Mukanya. Kau pasti jadi sangat tampan sampai semua orang pangling, heheh~" (???)


.


Woah... Ini pertama kalinya Aku melihat ada wanita dewasa yang sangat cantik dari Luar Negeri. Namun tetap saja, Walau Dia seperti menggodaku, tetap saja Aku tak terpancing, Fufu... Aku menjawab Dia dengan senyum biasa.


.


"Namaku Cakra. Senang bertemu dengan-" (Cakra)


.


"HEYYYYY~!!! KENAPA KAU YANG MENDAPATKAN PERHATIAN DARI Shiori-Chan~~~" (Semua Random)


.


"Ugh, Kalian ini udah pada Tua gatau malu~~" (Cakra)


.


Dia sedikit membungkuk kedepanku untuk lebih dekat karena Aku masih anak-anak. Memandangku sambil tersenyum gemas entah kenapa( ̄︶ ̄)↗  .


Seperti biasa Aku bisa melihat aliran Mantra darinya. Rimbawana, salah satu dari 5 Mantra yang umum diketahui. Rimbawana adalah Elemental yang tidak dominan dalam kapabilitas serangan ataupun sesuatu yang bersifat frontal. Rata-rata Mantra ini digunakan untuk penyembuhan, regenerasi, ataupun hal medis lainnya.


.


Kalau dibilang Pendekar mungkin kurang cocok jika memiliki Mantra Rimbawana. Jadi Mereka lebih seperti orang biasa hanya saja punya kemampuan untuk menyembuhkan.


.


Aku tidak tahu seperti apa kalau di Luar Negeri Mantra ini digunakan. Pasti ada yang dimanfaatkan untuk jasa dan bisnis kalau melihat karakteristik manusia yang cenderung haus uang, kekayaan, kekuasaan, dan reputasi. Tapi sepertinya Wanita ini tak tertarik dengan segala limpahan materiil yang bersifat duniawi.


.


"Ahaha~ Orang-orang disini benar-benar ramah dan sangat baik, selalu bercanda setiap waktu dan jika satu dari Mereka tertarik akan sesuatu, maka yang lainnya juga penasaran. Sama seperti Mereka memandangku seperti melihat malaikat."


"Seperti yang Kau dengar tadi, Namaku Shiori. Tapi Aku punya nama lengkap Asazakura Shiori. Kau Cakra Airlangga ya? Aku sudah mendengar tentangmu juga." (Shiori)


.


"Oh, iya, Senang berkenalan dengamu. Jujur Aku juga terkesan melihatmu karena Aku tak pernah melihat wanita yang baik-baik." (Cakra)


.


"Eh...? Apa maksudmu "Baik-Baik"? (⊙ˍ⊙) "


.


"Yah... Dulu Aku kecil karena tak punya Orang Tua jadi Aku hidup sendiri dan seringkali melihat hal-hal yang menjijikan dan tak nyaman dilihat. Kebanyakan wanita di daerahku seperti itu. Itulah alasannya Aku terkesan pertama kali melihatmu begitu cantik." (Cakra)


.


Aku bercerita seperti itu sedikit murung dari biasanya dengan Kedua mataku membelok ke kiri karena teringat masa lalu burukku.


.


"Oh! A- Aku... Maaf nanya yang tidak-tidak. Lupakan saja tadi, haha..." (Shiori)


.


"Ga masalah. Aku sudah menerima semua kemalangan dan musibah itu kok. Sekarang Aku memperoleh banyak hal untuk masa depanku nantinya. Aku juga bertemu dengan salah satu Roh, dan Dia juga alasan Aku bisa menerima pendidikan sederhana, ataupun juga mempelajari berbagai Ilmu bertarung, kadang juga pengetahuan sejarah walaupun sedikit, konseptual Mantra dan Vajra, dan intelektual lainnya yang membuatku bisa sehebat ini di usiaku sekarang, tehe~" (Cakra)


.


"Ternyata begitu ceritamu. Pantas rasanya Kau seperti bukan Anak-anak. Ternyata sudah menjalani kehidupan keras sedari kecil ya..." (Shiori)


.


"Aku juga bersyukur menjalani kehidupanku sekarang walaupun sengsara. Karena Aku bisa bertemu Bang Cokorda dan Bang Raka yang tulus menerimaku dan menganggapku saudara walaupun beda jauh soal umur. Makanya, Aku senang sekarang karena bisa punya Keluarga walaupun tak sedarah. Setidaknya itu impian sederhanaku. Akan Kulakukan segalanya demi Keluarga walaupun harus menunduk dihadapan ancaman dan mati. sungguh tak ada yang lebih berharga daripada itu." (Cakra)


.


Aku merasakan Kak Shiori memelukku perlahan sambil membelai kepalaku dengan lembut setelah AAku bercerita. Jujur Aku kaget dengan perasaan yang masih asing Bagiku. Mungkin... Inikah rasa kasih sayang itu?


.


"Kau sungguh luar biasa bisa menerima segala kemalangan itu... Karena Kita sudah bertemu Aku juga akan menjadi Kakak Perempuanmu, Oke? Makanya mulai sekarang Kau harus nurut tentang apa yang Kukatakan ya? Tentu untuk kebaikan Dirimu juga nantinya."


.


"Ah... Terima kasih banyak sudah menghiburku... Sekarang Aku punya kakak perempuan rasanya seperti bisa merasakan kasih sayang yang lembut. Karena Kau juga sangat baik." (Cakra)


Aku tersenyum lembut dan senang sampai Wajahku memerah entah karena sangat senang atau rasa yang belum Aku tahu.


.


"HEEEEE~!!! HARUSNYA AKU YANG DISANA!!! CAKRA SIALAN~(╬▔皿▔)╯"


.


"Oh~? manis sekali bukan melihat Mereka berdua? Seperti Kita juga bisa merasakannya. Aku yakin anak itu hatinya menggebu-gebu karena senang bisa dapat perhatian seperti itu~" (Xerxes)


.


"Yah... Akhirnya Kita bisa lega sekarang bukan? Kita bisa mempertahankan rasa kemanusiaan dan rasionalitas Kita walaupun sudah bertahan hidup ekstrim sepertinya dengan banyak membunuh demi hidup juga karena rasa persaudaraan Kita." (Cokorda)


.


"Kita juga sadar bahwa semua yang dulu Kita lakukan itu salah. Makanya sekarang Kita harus bisa hidup dengan benar dan sebersih mungkin dari darah-darah pembantaian. Kalau dulu Kita tak menemukan Buku-Buku usang itu, mungkin Kita tidak menjadi Diri Kita yang sekarang karena Diri Kita yang sekarang adalah hasil dari pelajaran yang kita dapat secara moral dan pengetahuan semata dari buku-buku usang itu." (Xerxes)


.


"Sementara Anak itu tidak punya apa-apa sejak lahir. Jadi nyaris tak ada pendidikan yang Dia dapat seperti Kita. Kalau Dia tidak bertemu dengan Shiori, mungkin Dia akan berakhir seperti orang-orang anarkis yang hidup dijalanan dan menjalani hidup yang penuh darah dari perbuatan menyimpangnya." (Agungraka)


Peran Shiori sebagai Kakak untuk Cakra telah dimulai sekarang. Semoga Anak itu bisa mendapat berbagai ilmu kehidupan dari Shiori. Terutama... Dia harus diajari tentang belas kasih dan rasa sayang terhadap sesama manusia bukan? berhubung tentang Anak "Orang itu" yang baru lahir juga pada Masanya. Sepertinya Cakra akan menjadi Seorang Kakak laki-laki bagi Anak itu." (Xerxes)


.


Sambil Xerxes menghabiskan bakso kuahnya sambil tersenyum puas.


.


"..." (Cokorda & Agungraka)


"Kita akan pertemukan Cakra dengan Orang itu kalau sudah tepat waktunya. Lebih cepat lebih baik. Biar orang itu bisa mengajari Cakra tentang Mantra dan Vajra juga, kan?" (Xerxes)


.


"Ya. Aku setuju. Orang itu juga tidak terlalu sensitif kalau soal anak-anak. Jadi kurasa tak masalah. Tapi mempertimbangkan kepribadiannya sepertinya Cakra hanya akan membuatnya kesal( ̄_ ̄|||)." (Agungraka)


.


"Ya, ya. Biarkan Aku yang bicara dengannya. Walaupun cenderung emosi dan sensitif Dia sebenarnya juga baik seperti Kita kan? HAHAH!" (Xerxes)


.


"Kalau dipikir sudah larut malam. Ayo kita tutup hari ini." (Cokorda)


.


"BAIK~! HAHAH rasanya puas sekali nongkrong hari ini bukan?"


"Yah walaupun melihat Nona Shiori bersama anak baru sih( ̄┰ ̄*), tapi kalau dipikir lagi Mereka imut kan?ε\=ε\=ε\=(~ ̄▽ ̄)~"


"Aku iri dengan Cakra, tapi gimana lagi~"


"..."


"...... ...."


"... ... ...." (Semua Random)


.


Semua orang sudah pada pulang dan sudah sangat malam. Pertama kalinya Aku menjalani malam hari dengan terang dan tidak ada hawa menakutkan. Jujur berjalan sepanjang malam sangat menyenangkan jadinya.


.


Selama berjalan Bang Xerxes dan yang lain berada dibelakang sementara Aku dan Kak Shiori ada didepan. Disaat itu juga, pertama kalinya Aku melewati momen berjalan sambil digandeng tanganku dengan Kakak. Rasanya Aku merasa terlindungi karena Aku tidak lagi sendiri. Sungguh perasaan yang menyejukkan hatiku untuk pertama kalinya.


.


"Sepertinya ini pertama kali Kau berjalan digandeng begini ya, Cakra." (Shiori)


"Iya, makanya Aku senyum terus daritadi karena senang!" (Cakra)


"Baguslah. Kau bisa jujur seperti ini bukti bahwa Kau tak kehilangan rasa kemanusiaanmu walaupun sudha hidup sengsara Dulunya. Kalau Kita tak bertemu mungkin Kau berakhir anarkis dan kejam tak berperasaan." (Shiori)


"Iya. Aku bersyukur kita bertemu. Tapi ada perasaan yang mengganjal. Rasanya lebih dari senang, juga rasanya hangat namun lembut, lalu juga Aku tak ingin jauh-jauh Darimu..." (Cakra)


Aku mengatakan perasaan asing ini sambil tersipu malu mengatakannya.


"Yang Kau rasakan sekarang itulah yang namanya rasa sayang sekaligus obsesi cinta. Itu adalah perasaan dimana hatimu mengungkapkan kalau Kau nyaman dengan seseorang sampai Kau ingin terus bersama dengan orang yang membuatmu nyaman. Itulah kasih sayang dan cinta, tehe (~ ̄▽ ̄)~"(Shiori)


.


"Jadi itu. Akhirnya Aku bisa merasakannya juga. Perasaan yang dulunya cuma bisa Kulihat dipinggir jalan. Dimana dulu Aku cuma bisa melihat anak-anak sepantaranku bersama orang tua Mereka dan tertawa bersama, sekarang Aku bisa merasakannya dari Kakak..." (Cakra)


.


"Aku senang pada akhirnya kesengsaraanmu berakhir sekarang. Setidaknya... untuk saat ini." (Shiori)


.


Suaranya nampak putus asa. Ya, benar. Cuma sekarang saja. Tidak ada dari Kita yang tahu apa yang akan terjadi nantinya dimasa depan.


.


Tamastārā? Gohma? atau konflik sesama manusia? Yang jelas kedepannya kehidupanku akan mengalami pasang surut tak menentu.


.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


CHAPTER 2 END


.


FOLLOW AKUN SOSMED @bangjoule_uw UNTUK MEMUDAHKAN MEMBACA NOVEL "PENGEMBARA TAK TERTULIS"!!!


.


JIKA ADA PENDAPAT YANG MAU DISAMPAIKAN, SILAKAN KOMEN DIBAWAH DAN FOLLOW AKUN INI UNTUK NOTIFIKASI CHAPTER SELANJUTNYA YA~

__ADS_1


__ADS_2