PRIA MUDA LARAS

PRIA MUDA LARAS
PERTEMUAN


__ADS_3

Gemerlap kota Surabaya, kota metropolitan kedua setelah Jakarta. Hiruk pikuk yang juga tiada terhenti, memecah gemerlap indah malam minggu ini.


Duduk di bangku kecil taman kota, seorang wanita manis dengan tubuh indah semampai kulit sawo matang cerah. Matanya yang tegas dan sayu tak terlepas sedikitpun dari sosok anak kecil yang sedang bermain sepatu roda. Mata indah itu begitu awas memperhatikan sang bocah 4 tahun yang asyik bermain. Sesekali senyum simpul dan tawa kecil lepas dari bibirnya yang tipis indah menggoda.


"Arya...hati-hati sayang!jangan cepat-cepat" pekik Laras di tengah kerumunan orang-orang yang lalu lalang.


"brugg!" Dan benar saja! belum sempat Laras menutup bibirnya, bocah kecil bernama Arya menabrak seseorang dan keduanya terjatuh.


"aow! sakit!" seru Arya dengan meringis kesakitan. Sementara orang yang di tabraknya juga terjatuh di sisi kanan Arya.


Dengan perasaan kaget dan khawatir Laras berlari menuju tempat Arya terjatuh. Dengan sigap Laras langsung melepas sepatu roda Arya. Kemudian membantunya berdiri. Tangannya sibuk mengibaskan celana Arya yang terdapat pasir. Terdengar suara rintihan Arya yang kesakitan serta tangis yang tertahan. Arya membenamkan wajahnya di perut Laras dengan tangis yang semakin pecah.


"Emm maaf mas,anak saya ceroboh" kata Laras dengan nada lembut dan santun, tanpa menoleh ke orang yang di tabrak oleh Arya putranya.


Dan ketika Laras sudah berdiri tegak, sosok itupun juga sudah bangkit dari posisi ia terjatuh.


Laras sekilas melirik wajah pria itu, ada sedikit guratan masam pada wajah sang pria.


"sial!" gerutu pria itu sembari tangannya mengibaskan ke beberapa bagian celana jeansnya yang kotor.


Di liriknya sekilas wajah pria itu. Walaupun dengan suara pelan dan singkat, namun Laras masih bisa mendengarnya jelas.


"sekali lagi saya minta maaf ya mas,anak saya gak sengaja" Laras sekali lagi memohon pada pria itu sembari merapatkan dua telapak tangannya di depan dada.


Laras mencoba memberanikan menatap wajah sang pria lebih dalam. Mereka berhadapan hanya berjarak 1 meter. Sosok itupun juga menatap lekat mata Laras. Sesekali di liriknya tubuh Laras.

__ADS_1


"waoww! seksi banget nich cewek" gumamnya dalam hati.


Mata bertemu mata, mereka berdua saling pandang tak berkedip dan hanya tertegun diam.


"lho!bukannya kamu Bastian kan? anak buah bu Brenda?" tanpa ragu Laras melontarkan pertanyaannya sembari menunjuk pria itu dengan jari telunjuknya.


"iya aku Bastian, eemmm kalau gak salah kamu Larasati, karyawan bu Brenda bagian staf administrasi?" Bastian juga melontrkan pertanyaannya dengan sedikit ragu. Jari telunjuknya juga mengarah pada Laras.


"iya aku Laras, apa kabar Bas?" sapa Laras sembari mengulurkan telapak tangannya ke Bastian.


"baik mbak Laras, sekarang mbak Laras kerja dimana?" Bastian menyambut uluran tangan Laras


"halus banget" gumam Bastian dalam hati. Hanya beberapa detik mereka berjabat tangan sudah membuat Bastian terpukau.


"aku sudah gak kerja dimana mana, jadi ibu rumah tangga biasa" jawab Laras sembari sedikit tertawa lepas.


"sudah resign mbak, aku sekarang kerja di expedisi tanjung" jawab bastian.


"mmm, maafkan anak ku ya Bas" untuk kesekian kalinya Laras kembali memohon pada Bastian.


"sudahlah mbak jangan segitunya, dari tadi terus bilang maaf, maaf, maaf" kata Bastian yang terlihat malu karena mungkin Laras mendengar umpatannya tadi. Walaupun suara Bastian lirih namun jarak keduanya tak begitu jauh itu memungkinkan Laras mendengar.


Arya yang masih membenamkan wajahnya di pelukan Laras tak berani menunjukkan wajahnya. Terdengar rintihan tangisnya yang seolah menunjukkan dia kesakitan.


"cup cup cup, anak mama jangan nagis lagi ya, Arya anak kuat dan hebat kok" kata laras mencoba menenangkan arya. Dengan sedikit keberanian dia melirik sosok Bastian, raut wajahnya sedikit ketakutan melihat Bastian.

__ADS_1


"sudah ya dek, jangan nangis lagi om gak apa apa kok, om gak terluka" kata Bastian yang juga menenangkan Arya. Bastian tahu mimik wajah Arya ketakutan saat melihatnya.


"nih om punya permen" kata Bastian sembari menyodorkan 2 biji permen lolipop pada Arya. Dan seketika Arya meraih permen itu walaupun dengan wajah masih terlihat ketakutan.


"anak pintar" bastian tersenyum tegas sembari mengelus rambut Arya.


"oh ya mbak Laras, aku permisi dulu ya teman teman ku sudah jauh" pamit Bastian pada Laras sembari mengulurkan telapak tangannya. Laras menyambut uluran tangan Bastian. Sekali lagi hati Bastian mengatakan telapak tangan Laras begitu halus senyum laras manis body indah. Satu kata dari hati bastian pada Laras "sempurna!"


"oh ya..,senang bisa ketemu kamu lagi Bas" ucap laras seketika langsung melepas jabatan tangan Bastian.


"hehehe iya mbak aku juga gak nyangka bisa ketemu mbak Laras lagi, sampai ketemu lagi ya mbak, baii" seru Bastian ketika berjalan sembari mengangkat dua jarinya di ujung pelipis.


Laras membalas dengan senyuman. Tak lama berselang sosok lelaki gagah dan anak remaja menghampiri Laras.


"mama... kenapa Arya kok terlihat habis nangis" tanya lelaki itu yang tak lain adalah suaminya beserta anak pertama Laras yaitu Naren.


"habis nabrak orang pa waktu main sepatu roda tadi" jawab Laras


"tapi Arya gak terluka kan" tanya suami Laras. Arya hanya menggeleng dengan wajah cemberut.


"yaudah ayo kita pulang, lagian sudah malam juga" seru suami Laras sembari menggendong Arya.


"Naren tolong bantu mama bawain sepatu rodanya adik ya" pinta Laras pada Naren. Sang anak hanya mengangguk lalu menenteng sepasang sepatu roda di tangan kanan dan kirinya.


Laras beserta suami dan dua putranya menuju parkiran mobil di belakang taman kota. Setelah memberi uang pada petugas parkir, mobil yang mereka tumpangi melaju. Hanya tiga puluh menit perjalanan mereka sudah sampai di rumahnya.

__ADS_1


Malam makin larut. Kompleks perumahan yang mereka tinggali juga sudah terlihat sepi. Begitupun dengan Laras dan keluarganya, mereka terlelap dalam heningnya malam.


__ADS_2