PRIA MUDA LARAS

PRIA MUDA LARAS
WASIAT OMA


__ADS_3

Bastian telah sampai di rumah omanya. Ketika ia hendak menuju kamar terlihat ada beberapa orang di ruang tengah, mereka menanti kehadiran Bastian.


Di lihatnya di sana, ada kedua orang tuanya, dan 3 kakak perempuan nya, ada sepupu, paman, bibi, keponakan dan juga adik dari omanya, oma Herawati. Ada jugs seorang pria setengah baya memakai kaca mata.


"lha nih si Bas sudah datang, lama banget dari makamnya Bas kita sudah nungguin kamu lama" kata salah satu kakak perempuannya.


"ada apa sich, tumbenan saja kak Feli ngurusin aku" jawab bastian ketus.


"sudah jangan bertengkar, kita masih berduka, Feli jaga emosimu" kata sang mama.


Feli adalah kakak nomor dua Bastian. Feli dan Bastian memang tak seberapa akur. Tiap bertemu selalu saja ada pertengkaran maupun perselisihan kecil di antara mereka.


Semua kakak dan kedua orang tua Bastian tinggal di Jakarta. Hanya Bastian yang tinggal di Surabaya menemani sang oma yang tinggal sendiri hanya di temani asisten rumah.


"ada apa nungguin aku?" tanya Bastin ketus.


Lelaki setengah baya yang berkacamata berdiri mendekati Bastian sembari mengulurkan tangannya. "sebelumnya perkenalkan saya Doni pengacara ibu Linawati"


Bastian menyambut uluran tangan pria itu. Kedua alisnya di tekuk ada keheranan muncul dalam pikiran Bastian. Dia juga pernah mendengar nama pengacara omanya. Tapi tak pernah bertemu sekalipun.


"sebaiknya saudara Bastian duduk dulu bergabung dengan kami, saya akan menyampaikan amanah dari ibu Linawati, lebih tepatnya surat wasiat dari ibu Linawati untuk seluruh keluarganya" kata sang pengacara menjelaskan pada Bastian.

__ADS_1


"begini pak Doni, bukannya saya menolak surat wasiat oma, tapi alangkah baiknya apabila surat tersebut di sampaikan setelah seratus harinya oma!" kembali nada suara Bastian menekan dan sedikit keras. Semua orang yang ada di ruangan itu terdiam hanya saling pandang satu sama lain.


Bastian menghela nafas panjang sembari di tatapnya satu persatu wajah wajah yang ada di ruangan tak luput pula kedua orang tuanya. Guratan amarah dan rasa tak suka terlihat di wajah Bastian.


Bagaimana tidak, sang oma baru meninggal, makamnya pun masih basah, bunga mawar juga belum mengering. Keluarga besarnya sudah berkumpul demi untuk surat wasiat.


Dan Bastian mengerti, surat wasiat itu pasti ada hubungannya dengan harta peninggalan sang oma.


"Basti... bukannya kita gak mau nunggu sampai seratus hari oma atau kapanpun, tapi kami ini juga punya kesibukan lho. Dan mumpung juga kita berkumpul semua di hari ini kenapa gak sekalian kita tau apa wasiat oma" Tiba tiba Feli menjawab kata kata bastian.


"bener tuh yang di katakan kak Feli, iya kalau kita sempet datang waktu seratus hari atau berapa harinya oma meninggal, kalau gak sempet gimana hah?" Nila kakak ke tiga Bastian juga menyahut.


"haahh, kalian memang keterlaluan! giliran urusan harta semua pada nongol, kemana aja selama oma terbaring sakit keluar masuk rumah sakit hah!" bentak Bastian sembari telunjuknya mengarah pada ketiga kakak perempuannya.


"saudara Bastian, maaf sebenarnya yang mengusulkan pembacaan surat wasiat ibu Linawati adalah saya sendiri, karena hanya hari ini saya ada waktu, setelahnya saya ada urusan penting klien saya yang lain" jawab pengacara itu sedikit berboohong agar suasana tak kembali ricuh.


"sudahlah Bastian, kita lanjutkan saja biar semua tahu apa wasiat oma dan semua lega" sanggah Nora kakak tertua Bastian yang mencoba menjadi penengah.


Dengan wajah yang suram, Bastian mengeratkan bibirnya terdengar sedikit suara keratan giginya, ia memilih duduk di sebelah sang papa. Karena hanya sang papa yang acuh pada suasana dalam ruangan itu. Bukannya tidak peduli, sang papa tahu akan bagaimana isi wasiat itu.


"baiklah akan saya mulai, dan ini adalah amplop yang masih tersegel" Doni pengacara itu menunjukkan sebuah amplop coklat berukuran folio pada semua yang ada di dalam ruangan.

__ADS_1


"sebelumnya, bu Lina mengatakan, apapun isi surat wasiat ini semua keluarga harus menyetujuinya tanpa terkecuali dan tanpa ada kata tapi" tegas pengacara itu lagi.


Doni lalu membuka amplop coklat itu dengan perlahan. Terlihat ada dua lembar kertas dan tulisan yang terdapat adalah tulisan tangan, bukan hasil ketikan dari mesin apapun.


lalu Doni sang pengacara mulai membaca.


"aku yang menulis sendiri surat ini dengan tulisan tanganku, agar seluruh keluargaku percaya. Di sini aku akan membagi harta dan aset yang aku miliki untuk anggota keluargaku. Untuk anak tiriku satu satunya yakni riyanto beserta istri, aku berikan aset villa yang berada di kota Malang seluas satu hektar. Untuk cucuku Nora, Feli dan Nila aku berikan deposito yang ada di bank masing masing mendapat satu milyar. Untuk adik kandungku Herawati aku berikan aset rumah di perumahan C. Rumah yang selama hidup aku tempati aku hibahkan kepada Leo sebagai rasa terimakasih telah mau mengurus perusahaan yang aku miliki. Dan untuk kepemimpinan perusahaanku selanjutnya aku serahkan kepada cucu kesayanganku Bastian dan juga sebuah apartemen di daerah T sebagai ganti rumah yang aku hibahkan kepada Leo. Uang 500 juta aku berikan kepada solikah dan suaminya karena sudah setia bekerja sebagai asisten rumah tangga dan sopir pribadi. Sekian surat wasiat yang aku tulis, semua ini adalah keinginanku dan tanpa ada paksaan dari siapapun. Dari semua anggota keluargaku berharap kalian menerima dengan lapang"


Dion sang pengacara pun telah selesai membacakan isi surat itu, dan di masukkannya kembali surat itu kedalam tas kerjanya.


Dengan menghela nafas berat papa Bastian hanya menepuk bahu Bastian sembari meninggalkan ruangan menuju kamar di lantai atas. Di susul oleh sang mama.


Bastian mengerti apa yang ada dalam pikiran sang papa. Papanya ingin Bastian menggantikan dan memimpin perusahaan yang ada di Jakarta, tapi kenyataan telah berbeda, ibu tirinya atau oma tiri Bastian sudah memberi wasiat seperti itu.


Bastian tertunduk sembari memegang dahinya, sesekali dia menghela nafas berat. Pandangannya berjalan ke arah orang orang yang masih tertahan lebih tepatnya bertahan di ruang tengah ini.


"oke! kalian sudah mendengr isi wasiat oma, lalu apa ada yang keberatan?" kata Bastian memecah keheningan.


"maaf Bastian, bukannya aku keberatan, tapi kenapa perusahaan kakakku di serahkan sepenuhnya ke kamu, kamu kan bukan cucu kandungnya? atau mungkin kamu memang ingin perusahaan kakakku? makanya dengan sukarela kamu mau tinggal di sini dengan alasan menemaninya!" protes oma Herawati.


Mendengar protes itu Bastian terperanjat, terkejut serta marah. Ingin dia membalas perkataan adik dari omanya, namun dia sadar oma Hera adalah orang tua yang patut dia hormati.

__ADS_1


__ADS_2