
Lama Laras tertunduk dalam doa untuk sang suami. Air mata yang coba di tahannya pun pecah tak terbendung. Menunduk dan semakin menunduk. Menyelami hatinya yang saat ini di landa pilu, getir rasa dalam jiwanya.
Ingatan masa lalu tergambar lagi, saat dia dan fadil suaminya berjuang untuk mendapatkan restu dari orang tua fadil.
Fadil adalah kakak kelas Laras sewaktu di SMA, mereka di pertemukan saat kegiatan ospek di mana fadil adalah ketua osis pada waktu itu.
Seiring berjalannya waktu tumbuh rasa cinta antara ke duanya. Mereka menjalin kasih hingga Laras lulus dari SMA.
Laras gadis yatim piatu dan tumbuh di sebuah panti asuhan di pinggiran kota Semarang.
Dia tak tahu siapa dan di mana orang tuanya. Pengasuh panti hanya bilang Laras di temukan di depan pintu panti ketika masih bayi merah dengan tali pusar yang belum terpotong, dan badannya masih ada bercak darah.
Laras muda adalah gadis yang cerdas. Dia melanjutkan kuliah dengan bea siswa, di kampus yang sama dengan Fadil.
Suatu hari Fadil membawa Laras untuk di perkenalkan pada orang tuanya. Namun sikap penolakan dari keluarga Fadil yang mereka terima.
"kami tidak setuju kalau kamu nikah sama gadis itu yang asal usulnya gak jelas" ayah Fadil berkata dengan geram.Setelah mendengar penjelasan dan niat dari Fadil untuk hubungan serius nya dengan Laras.
"itu gak masalah pak, bagi Fadil Laras adalah wanita yang tepat untuk di jadikan istri" bela Fadil saat itu.
Sikap keras dari orang tua Fadil tak juga reda, penolakan demi penolakan pun terus mereka dapatkan. Awalnya Laras ingin menyerah, namun Fadil yang cinta mati dengan Laras tak mau menyerah begitu saja.
Hingga suatu hari kala Fadil kembali membawa Laras menemui orang tuanya dan tetap mendapatkan penolakan.
"Fadil! apa kamu belum kapok juga dengan penolakan bapak sama ibu hah!, pokoknya kami tidak setuju!!" Kembali suara bentakan dari ayah Fadil terdengar lebih keras dan geram.
"terserah bapak sama ibu, kalaupun kalian tidak memberi restu Fadil akan tetap nikahi Laras" kata Fadil yang makin membuat orang tua nya di penuhi amarah.
__ADS_1
Laras yang duduk di kursi tamu hanya terdiam menunduk tak berani berucap apapun, walaupun sekedar mendongakkan wajahnya.
"plak plak" tamparan mendarat di pipi kanan kiri Fadil. Ibu nya yang kala itu lebih banyak diam akhirnya berbicara.
"anak gak tahu di untung, mana balas budimu untuk kami, untuk ibu, kau yang kami harapkan untuk menjadi penerus keluarga ini nak, harusnya menikah dengan wanita yang jelas asal usul dan keluarganya agar kami tidak di cibir oleh keluarga besar kita" seketika air mata ibu Fadil menetes.
"tapi bu Fadil gak mau nikah kalau tidak dengan Laras. Fadil tahu bu mana wanita yang tepat buat Fadil nikahi. Tolong beri kami restu bu" seketika Fadil berlutut di hadapan ibunya yang makin menangis.
"kalau masih bersi keras dengan keputusanmu terpaksa kamu harus keluar dari rumah ini. Jangan membawa apapun dari sini dan kami anggap kamu bukan anak kami lagi bukan bagian dari keluarga ini" Ayah Fadil berkata sembari berkacak pinggang. Dengan raut wajah kaget dan terbesit amarah dalam hati Fadil. Tanpa berkata apapun dia bangkit lalu menuju kamarnya beberapa menit kemudian keluar dengan membawa ransel.
"baiklah kalau itu keputusan bapak sama ibu. Fadil pergi sekarang juga, Fadil gak bawa apapun ini cuma perlengkapan Fadil kuliah" katanya sambil menenteng tas ransel hitamnya. Di tariknya tangan Laras dan bergegas keluar, dia terhenti di depan pintu lalu melepas kemeja kotak kotak yang dia kenakan, di lemparkannya ke lantai, Fadil yang hanya memakai kaos putih tipis dan jeans usang meninggalkan rumahnya dan juga tanpa mengenakan alas kaki.
Tangan nya terus menggandeng tangan Laras yang berjalan di belakangnya dengan terdiam. Wajah Fadil kala itu menghitam memerah menahan amarah. Laras pun hanya bisa pasrah.
"mama" suara sapaan Naren membuyarkan lamunannya. Seketika di usapkan telapak tangannya ke wajah sendunya. Laras dengan senyum tipis menggenggam erat tangan Naren mencoba terlihat tegar. Mencari suasana raut kalau dia baik baik saja.
"Naren Arya, ayo kita pulang" tangan laras menjulur ke depan ke dua anak nya, lalu di sambut dengan gandengan tangan hangat mereka.
Bastian hendak melangkah setelah puas memandangi nisan neneknya, tepat di dekat pintu gerbang makam ia menoleh pada tiga orang yang juga akan meninggalkan makam. Ketiganya memakai pakaian serba hitam.
"mbak Laras kah?" sapa bastian yang sudah berada di sisi jalan setapak.
Ketiga nya menoleh pada Bastian. Laras menyipitkan matanya menelisik orang yang memanggil namanya.
"aku Bastian mbak" jawabnya sembari melepas kaca mata hitamnya.
Dengan masih terpagu kaget melihat Bastian tiba tiba menyapa. Di lihatnya Bastian dari ujung kaki hingga ujung kepala, Bastian juga berpakaian serba hitam.
__ADS_1
"aku barusan memakamkan oma ku di sini mbak" tanpa di tanya bastian menjelaskan, karena dari tatapan Laras terbesit tanya untuk Bastian.
"oohh, turut berbela sungkawa buat oma mu" sembari membenahi kerudung hitamnya.
"mbak Laras sendiri ada di sini...?" tanya Bastian ragu tatkala melihat aura ke tiga orang tersebut seperti sedang sedih. Ketiganya saling memandang, dengan senyum tipis yang terpaksa.
"hhmm, kami juga sedang berkabung, papanya anak anak meninggal" sembari membuang pandangan ke lain arah lalu Laras tertunduk melihat ujung kakinya. Bastian seketika langsung membuka mulutnya.
"emm turut berduka juga buat mbak Laras dan anak anak" katanya sembari berjalan ke arah lebih dekat. Sapuan tangannya menyapu ujung kepala Arya, dengan lembut dan penuh kasih.
"terima kasih" balas Laras dengan senyum tipis yang terpaksa.
"ini anak mbak Laras yang tempo hari itukan?" tanya Bastian yang di jawab Laras hanya dengan anggukan. Di lihatnya Arya bersandar pada tubuh sang mama dengan wajah sendu.
"ini Naren, Narendra anak ku yang pertama" kata Laras menjelaskan ketika mata Bastian tertuju pada Naren.
"hah! anaknya mbak Laras juga? kirain adiknya mbak Laras" kata bastian seolah tak percaya. Dia menganggap hanya anak kecil yang menabraknya tempo hari adalah anak Laras.
Sembari tersenyum tipis dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal Bastian memyembunyikan rasa malu dan sungkannya pada Laras.
"maaf ya mbak" katanya lagi sembari sedikit menundukkan kepalanya.
Hanya tersenyum tipis laras mengangguk pelan. "gak pa pa Bas, banyak juga yang bilang gitu, Naren baru 16 tahun perawakannya memang tinggi seperti papanya"
Beberapa detik mereka saling memandang dan senyum simpul tipis terbentuk dari keduanya.
"dret dret dret" Laras mengambil hp yang ada di sakunya dan membaca sebuah pesan yang masuk.
__ADS_1
"kalau begitu kami permisi dulu ya Bas" pamit Laras yang seketika membuyarkan senyum kagum Bastian padanya.