PRIA MUDA LARAS

PRIA MUDA LARAS
PERASAAN APAKAH INI


__ADS_3

kalau begitu kami permisi dulu ya Bas" pamit Laras yang seketika membuyarkan senyum kagum Bastian padanya


"oohh iya mbak, silahkan, maaf sudah mengganggu waktu kalian, dan sekali lagi aku juga turut belasungkawa" kata Bastian pelan.


Laras hanya sedikit mengangguk dan tersenyum tipis. Masih di gandengnya Naren dan Arya mereka bertiga keluar menuju jalan yang tak seberapa ramai.


"Naren, tolong pesan taxi online, batrai hp mama tiba tiba mati" perintah Laras pada Naren putranya.


"aduh ma, Naren juga gak bawa hp. Tadi pas mau ke makam gak kepikiran buat bawa hp ma" jawab Naren juga kebingungan.


"hhhmmm gimana ya!" kata Laras sembari menoleh kanan kiri. Bastian yang melihat Laras kebingungan segera menghampiri mereka.


Dengan berdehem pelan "mbak Laras kok keliatan bingung? ada apa?"


"iya nih Bas, aku mau pesan taxi online tapi hp ku mati, mana sudah mau malam lagi" terlihat ada kekhawatiran pada raut muka Laras.


"rumah mbak di mana? aku antar saja, kebetulan rumah oma aku deket di gang 1 depan situ" kata Bastian sambil menunjuk sebuah gang yang gapuranya ada bendera kuning.


"gak usah Bas, ngerepotin kamu, rumah ku di gang 17, jauh dari sini, lagian kamu juga sedang berkabung, di rumahmu pasti banyak tamu" sela Laras sungkan.


"minta tolong pesankan taxi online saja dari hp mu"


"gak pa pa mbak...lagian mobil aku ada di situ tuh" sembari menunjuk mobil warna silver yang terparkir tak jauh dari gang berbendera kuning itu.


"kalau posisi taxinya jauh mbak Laras harus nunggu lama, bentar tunggu sini aku ambil mobil dulu" kemudian Bastian mengambil kunci dari dalam saku celannya berlari kecil sembari membuka kunci mobil dengan remot kunci.


Tak lama kemudian mobil Bastian sudah menghampiri Laras dan anak anaknya. Bastian turun membuka pintu mobil depan dan belakang.


"ayo mbak Laras masuk jangan sungkan"


Raut muka laras terlihat sungkan tapi tetap tersenyum simpul di depan Bastian. Laras dan kedua anaknya saling berpandangan.

__ADS_1


"makasih ya om, maaf banget sudah ngerepotin om" Kata Naren pada Bastian. Lalu Naren menarik tangan Arya mengajaknya masuk dalam mobil.


"makasih ya Bas, biar aku duduk di belakang sama anak anak" kata Laras tersenyum. Kli ini senyumnya sedikit merekah.


"iya mbak, sama sama, jangan sungkan seperti itu, kita jugakan sudah saling kenal, ya cuma gak begitu akrab" Dengan kecewa Bastian menutup pintu depan mobil.


Bastian melajukan mobilnya sesuai arahan dari Laras. Di dalam mobil mereka hanya terdiam, hanya terdengar siaran berita dari radio. Bastian sesekli melirik Laras dari spion di depannya.


Ada wajah sendu, mata yang sembab karena banyak menangis, pandangannya menerawang kosong ke arah jalan. Sementara Arya yang duduk di tengah terlihat sudah memejamkan mata sembari menyandarkan kepalanya di dada Laras. Naren hanya menunduk tak berkata sesekali juga dia membuang pandangannya ke jalan.


"mmm maaf Naren sekarang kelas berapa?" tanya Bastian memecah keheningan.


"Naren barusan masuk SMA, dan Arya juga baru masuk TK" jawab Laras sembari mengelus kepala Arya.


"oh...jauh banget ya mbak jarak umur Arya dan Naren"


"heem, iya memang jauh, makanya tiap orang yang baru lihat, Naren di kiranya adik aku" kata Laras dengan tawa kecil yang di sambut dengan senyuman lebar dari Naren.


"aku juga ngira Naren tuh adik mbak Laras lho, dan memang menurutku cocok jadi adik karena mbak Laras masih muda" dengan terkekeh pelan.


Memang wajah Naren lebih mirip dengan Laras, tapi postur tubuhnya yang tinggi besar menurun pada papanya. Naren sangat tampan dengan mata tajam hidung mancung bibir tipis dan rambut hitam lebat.


Dengan diam diam dari kaca kecil di depannya, Bastian selalu mencuri pandang ke arah Laras. Di lihatnya wajah dengan paras ayu itu. Di lihat dari wajah tubuh dan dari segala yang terlihat menonjol pada tubuh Laras sama sekali tak sesuai dengan umurnya. Yaaa bisa di katakan umurnya terlihat seumuran dengan Bastian.


"masa iya nih cewek umur segitu? kayaknya gak deh ato mungkin Naren bukan anak kandung? tapi wajah Naren mirip banget sama Laras" pertanyaan dalam pikiran Bastian tiba tiba muncul.


"depan situ Bas rumah ku, yang ada kursi hijau di tumpuk" kata Laras membuyarkan pikiran Bastian. Di liriknya lagi wajah ayu itu dari kaca spion di depannya.


"oh ok mbak"


Mobil Bastian sampai tepat di depan rumah bercat biru terang dengan pagar hitam. Laras membuka pintu dan menggendong Arya yang sudah tertidur. Di susul Naren keluar dari mobil.

__ADS_1


Bastian yang berada di kemudi juga ikut turun. Mendekati Laras dengan basa basi. Senyum nya terus merekah, pandangan matanya terlekat pada sosok Laras. Sesekali dia mencuri pandang ke arah ujung kaki hingga atas tubuh Laras. Kekaguman yang terpancar dari sinar mata Bastian tak dapat di sembunyikan.


"maksih ya Bas, maaf banget ngerepotin kamu" wajah sayu itu mencoba tersenyum tipis.


"gak pa pa mbak, jangan seperti itu lagi, kayak kita gak pernah kenal saja" timpal Bastian dengan masih memasang binar terang di matanya.


"makasih ya om..., maaf?" ucap Naren.


"Bastian!" jawab Bastian sembari mengulurkan tangan, dan di sambut oleh Naren. Mereka bersalaman dengan tertawa kecil.


" aku pamit dulu ya mbak, Naren om pamit ya" sembari menepuk bahu Naren.


"gak mampir dulu om?"


"makasih lain waktu saja, di rumah oma juga masih ada tamu, maaf ya.." kata Bastian basa basi.


"kami yang minta maaf Bas, sudah ngerepotin kamu, dan makasih ya sudah di antar samapai depan rumah" sahut Laras sungkan.


"sama sama mbak, kalau gak gini aku gak bakal tau rumah mbak Laras" jawabnya dengan sedikit terkekeh.


Bastian mengulurkan telapaknya dan Laras menyambut uluran tangan itu. Mata bertemu mata. Mereka saling melepas senyum.


Ada debaran dalam hati Bastian ketika uluran tangannya di sambut hangat oleh Laras. Mata yang tajam itu menatap lekat dan dalam ke mata Laras. Kian lama memandang ada perasaan aneh dalam hatinya, seolah menemukan ketenangan saat menatap dan menyentuh Laras.


"perasaan apakah ini? ada apa denganku?" kata Bastian dalam hati.


"apa boleh lain waktu aku mampir mbak?" tanya Bastian kala Laras melepas genggaman jabat tangan Bastian.


Laras terlihat kaget dan tertegun sebentar. "boleh, silahkan" jawabnya singkat.


"boleh lah om Bas, main main ke sini om, kan ada Arya sama aku" sela Naren binar.

__ADS_1


"ok makasih ya, kalau ada waktu aku pasti mampir" katanya sembari melambaikan tangan dan masuk menuju mobilnya.


Bastian melambikan tangannya yang di sambut oleh Naren, sementara Laras hanya tertegun berdiri dengan senyum tipis.


__ADS_2