PRIA MUDA LARAS

PRIA MUDA LARAS
Jadikan Aku Sahabat


__ADS_3

Laras yang mendengar itu, hanya tertegun, entah harus menjawab apa dan masih bingung dengan ucapan Bastian


"mbak Laras? mbak masih terhubung kan!?" seru Bastian ketika mendapati wajah cantik yang masih terlihat jelas di layar telepon hanya tertegun.


"i... iyalah masih nyambung"


"hahahah...kirain sinyalnya menyambungkan, habis mbak diam aja" senyum Bastian merekah indah dan tampan ketika melihat senyum Laras yang tipis itu. Bastian tau Laras sedang berpikir dan mencerna ucapannya barusan.


"mbak...maksud ku, aku ingin lebih mengenal kamu, lebih dekat dari sekedar teman, bisakah kita bersahabat dekat?" Laras yang beberapa menit lalu masih tertegun tiba tiba dia mulai sadar dari lamunannya.


Berfikir apa jawaban nya untuk Bastian, karena pertanyaan yang sederhana itu membuat penilaian sendiri dalam hatinya.


"tentu saja Bas, bisa...iya kita bisa jadi sahabat" jawab Laras ragu. Bagaimana tidak, pertanyaan yang menurut Laras sakral dan dengan tiba tiba itu tak tau harus menjawab apalagi.


"terimakasih" hanya itu yang Bastian ucapkan.Dari layar ponsel Bastian melihat hanya anggukan ringan dan senyum mengembang milik laras terlihat jelas.


"cantik" pujinya dalam hati.


"mbak ada di mana sekarang?"


"aku mau pulang, habis dari situ tuuu" telunjuk Laras mengarah pada gedung di depannya. Sadar kalau Bastian tak mengerti langsung mengalihkan arah kamera ke gedung yang ia tunjuk.


Kembali Laras mengarahkan kamera ke wajahnya. Dengan senyum terkekeh sembari menutup mulutnya dengan tangan kiri. Bastian yang menyadari gedung tersebut langsung membulatkan matanya dan mulutnya terbuka lebar seolah tak percaya.


"serius...mbak Laras mau kerja di tempat itu lagi?" masih tak percaya, Laras mengangguk beberapa kali dengan masih menutup mulutnya.


"iya Bas, kapan hari aku melihat di koran kalau ada loker, akhirnya aku telpon pak Tommy, mengajukan diri untuk kerja lagi, dan pak Tommy sangat terbuka lebar mau menerima aku lagi" Laras menjelaskan pada Bastian.


"kenapa mbak gak tanya aku kalau masalah lowongan kerja, aku ada nich loker untuk sekretaris dan asisten pribadi"


"oh ya...dimana?boleh juga tuh jabatannya, gajinya pasti lebih dari admin?" Laras bertanya sangat antusias.


"gini saja mbak, ntar pulang kerja aku mampir ke rumah mbak Laras ya, aku kasih info tentang loker itu" kata Bastian meyakinkan Laras.


"oke! aku mau...,aku tunggu ya di rumah, jangan php Bas!"

__ADS_1


"gak lah mbak, beneranlah ini loker memang asli bukan abal abal, sampai ketemu nanti ya mbak...bai..." Bastian mengakhiri panngilan vidio setelah mendapat jawaban dari Laras.


Bastian masih tersenyum dengan apa yang baru saja terjadi. Sambutan baik dari Laras untuk bisa lebih dekat saling mengenal, membuat Bastian salah tingkah.


Untuk loker yang ia tawarkan pada Laras, sebenarnya adalah di perusahaannya sendiri, atas saran pak Leo.


Pak Leo yang sudah ingin pensiun meminta Bastian mencari asisten pribadi dan sekretaris untuknya agar pekerjaannya lebih terkontrol lagi dan memudahkan Bastian memimpin perusahaan peninggalan oma nya.


Sebenarnya Bastian akan membuka loker itu di koran esoknya, berhubung Laras yang mencari kerja juga, akhirnya dia inisiatif sendiri menawari Laras. Pikirnya dengan Laras berada dekat dengan dirinya, akan lebih mudah untuk mendekati Laras dan ingin tau lebih sosok pribadi Laras.


Senyumnya masih mengembang kala Bastian memikirkan sosok Laras. Entah kenapa pertemuan keduanya dengan Laras di pemakaman membuat Bastian tak bisa lepas memikirkan Laras.


Laras yang masih terngiang ucapan Laras tentang loker sekretaris itu seras tak percaya. Ada sesirat harapan dalam hatinya untuk bisa mendapatkan pekerjaan itu. Tapi sekejap hatinya kembali murung mengingat baru saja dia bernego dengan Tommy mantan bosnya dulu.


"ah masa bodo, kenapa gak aku terima tawaran Bastian!urusan dengab pak Tommy biar aku fikir ntar" gumamnya dalam hati.


Laras berlalu dari gedung itu, dengan mengendarai sepeda motor maticnya, ia langsung pulang karena harus menjemput Arya di tempat mbak Mina tetangganya.


Bastian yang masih duduk santai di sebuah restoran, terlihat senyumnya yang mengembang sembari membolak balikkan telponnya. Pikirannya masih di naungi tentang Laras.


Tanpa Bastian sadari, pak Leo yang baru kembali dari toilet sudah duduk di depan Bastian. Melihat seksama Bastian dengan senyumnya yang terus mengembang.


"Basti! kenapa kamu? senyum senyum sendiri, kayak orang lagi kasmaran" tegur pak Leo, seketika Bastian baru menyadari keberadaan pria setengah baya itu.


"hehehe, pak Leo bisa saja, dan bisa menebak dengan tepat" Kekehnya Sembari menyeruput es capuchino.


"dasar anak muda jaman now!" cibir pak Leo lirih.


"memang jamannya bapak gak pernah ya kasmaran? jatuh cinta gitu?" sahut bastian meledek.


"pernah lah, malah lebih mengesankan dan mengenaskan cinta ku dulu, jaman masih kuliah" sembari memainkan ponselnya.


"maksudnya pak?" tanya bastian penasaran.


"bien pas jaman kuliah, aku tau nge-ser arek" (dulu pas jaman kuliah, aku pernah naksir seseorang). Lanajut pak Leo.

__ADS_1


"orang tuaku ndak setuju, dan orang tuanya pun gak setuju" mendesah nafas berat, Leo lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


"lha kenapa pak?" penasarannya kembali di benak Bastian.


"orang tua ku gak setuju sebab dia lebih tua umurnya dari ku, sedang orang tuanya gak setuju sama aku selain umurku lebih muda dan aku juga bukan dari anak orang kaya, apalagi waktu itu aku kuliah nyambi jualan mainan anak anak keliling kampung" lelaki setengah baya itu melipat kedua tangannya dan menatap Bastian.


"tapi kami saling mencintai, jarak umur dan masalah harta bukan hal besar" kembali pak Leo menghela nafas, kali ini sedikit lebih dalam dan menghembus lebih panjang


Dari guratan mata serta raut wajahnya, terlintas wajah penyesalan. Pak Leo membuang pandangannya ke lain arah. Terdiam sejenak mencari kenangan masa mudanya dulu.


Bastian yang mendengar cerita pak Leo seketika tertegun. Dengan masih menundukkan kepalanya yang menyeruput es dia berpikir.


"apa mungkin jika aku kelak berhubungan dengan Laras akan mengalami hal yang sama dengan yang di alami pak Leo?" memikirkan hal itu, Bastian menggeleng pelan. Bagaimana dia sampai memikirkan hal sejauh itu, sedangkan perkenalannya dengan Laras masih baru saja terjalin kembali.


Walaupun dia dan Laras dulu pernah satu perusahaan, tapi bastian dan Laras jarang bertegur sapa bahkan mengobrol akrab. Sesekali mereka mengobrol pun hanya sebatas obrolan pekerjaan.


"itu pasti bagian yang mengenaskan!" Bastian berucap asal dengan terkekeh.


"ya kau benar!" jeda sebentar "mau tau cerita mengesankannya bagaimana?!" tawar pak Leo pada Bastian sembari membulatkan matanya dan tersenyum dengan tertahan.


"apa memang?" Bastian bertanya dengan pansarannya.


"hahahaha" tawa pak Leo yang tiba tiba menggelegar memecah rungan rumah makan, beberapa orang dengan terkejut seketika menoleh ke arah pak Leo.


*


*


*


terimakasih bagi yang sudah membaca dan mau bersabar menunggu up episode selanjutnya.


Maafkan author kalau lemot up, dkarenakan memang author ibu rumah tangga biasa dengab segudang kerepotan.


Tinggalin jejak komen dong, like vote atau apa gitu...

__ADS_1


Bisa juga ikuti akun author dan IG author


__ADS_2