PRIA MUDA LARAS

PRIA MUDA LARAS
KELUARGA


__ADS_3

Hari ini adalah hari Senin. Rumah keluarga Laras nampak sedikit sibuk. Naren putra sulung Laras tengah sibuk dengan persiapan dirinya yang akan berangkat sekolah. Remaja 16 tahun itu mondar mandir keluar masuk ke kamarnya sedang mencari sesuatu.


"mama...mana kaus kaki hitam Naren?" teriak nya dari tengah pintu kamar.


"coba cari di keranjang pakaianmu sayang, kemarin sudah mama cuci" sahut Laras dari dapur yang tengah sibuk menyiapkan sarapan.


"mama...gulungan kertas yang di meja kerja papa di mana?" tanya sang suami pada Laras.


"bukannya semalam papa sudah masukin di tas kerja yang warna hitam, tasnya ada di sebelah meja kerja" sahutnya dengan masih sibuk di dapur.


Seketika sang suami menepuk jidatnya sendiri "o iya lupa" gumamnya


Begitulah Laras dalam keluarga kecilnya. Dia sangat teliti dalam hal apapun di rumahnya. Seolah dia adalah CCTV yang memantau seluruh sudut rumah tanpa terkecuali.


Setiap malam sebelum dia merebahkan dirinya, Laras selalu meneliti kembali keperluan suami dan anak anaknya.


Sehingga sesuatu sekecil apapun di setiap sudut rumah dia sudah mengetahuinya.


"Arya sayang, ayo sarapan setelah itu mama akan antar Arya ke sekolah" Kata Laras yang sudah duduk di kursi ruang makan beserta suaminya.


Laras melirik Naren dari meja makan, putra sulungnya masih juga mondar mandir sendiri. Sesekali Naren melirik arloji yang melingkar di tangan kirinya.


Laras yang memperhatikan Naren dari tadi beranjak mendekti anaknya yang berjongkok jongkok di depan lemari bajunya, dia sedang mencari sesuatu rupanya.


"Naren sedang mencari dasi ya" suara Laras tiba tiba mengejutkannya. Naren hanya menggaruk kepalanya dan sedikit mengangguk.


"hhemmm kamu ini kebiasaan, selalu lupa kalau naruh apa apa, persis kaya papa" kata Laras sembari mendekati sisi lemari Naren. Laras mengambil dasi anaknya yang tergantung di sisi lemari. Laras lalu memakaikan dasi warna abu abu itu ke laher Naren.


"makasih ma" Naren tersenyum lebar sembari membetulkan letak dasinya. Kemudian dia berjalan tergesah menuju meja makan. Meraih gelas susu coklat lalu meneguknya dengan beberapa tegukan.


"Naren gak sarapan?" tanya sang ayah. Dia menggeleng keras.


"keburu pa ada upacara di sekolah Naren yang jadi pimpinan upacaranya"


Naren kemudian meencium punggung telapak tangan kedua orang tuanya sejurus kemudian dengan berlari dia menuju pintu depan.


Laras mengikuti Naren di belakang sembari membawa kotak bekal untuk anaknya.

__ADS_1


"sayang bawa roti ini, biar kamu punya tenaga pas lagi teriak teriak di tengah lapangan" Naren terkekeh lalu menerima kotak bekal itu sembari memasukkannya dalam tas.


"Naren hati hati sayang" teriak Laras yang menggeleng pelan melihat kelakuan anaknya.


"siap ma!" hanya itu jawaban Naren sembari berlalu dengan mendorong sepeda angin favoritnya.


Laras kembali ke ruang makan dan tengah menyuapi Arya putra bungsunya. Di liriknya suaminya yang terus melahap makanannya tanpa menoleh dan tanpa bersuara.


"lahap banget pa makannya, kaya orang gak pernah makan" kata Laras sambil tertawa kacil.


"hhmm, habis masakan mama hari ini enak plus spesial banget papa sampek lahap"


"ih spesial apaan, orang cuma sayur asem dan perkedel doang" ucapnya dengan manyun.


"papa mau nambah ya ma" Laras terkejut sembari membulatkan matanya serasa tak percaya.


"idih... papa ini doyan apa kelaparan, prasaan sudah tiga kali ini papa nambah" ledeknya pada sang suami.


"pokoknya pagi ini papa mau makan masakan mama sampek puas, kali aja ntar ato besok papa gak bisa ngerasain masakan mama yang super duper wenak sruendol takendolkendol" katanya sambil terkekeh dengan tetap lahap menyantap makanannya.


Melihat sang suami telah selesai makan dari suapan terakhirnya, Laras menyodorkan selembar tisyu lalu menyodorkan jus jambu kepada suaminya. Di teguknya jus itu dengan beberapa tegukan dan kemudian dia berdiri melangkah menuju tempat laras duduk.


"cup" tiba tiba suami Laras jongkok dan mencium pipinya. Seketika wajah Laras merona.


"ih papa apaan yaaa tumbenan nich mesra depan anak, biasanya aja..." ucap laras dengan bibir tipis nya yang manyun.


Di dekapnya pundak laras sembari mengelus pelan dan berkata di dekat telinga Laras.


"makasih ya Larasati istriku tercinta, makasih telah ada di sampingku dari waktu kita belum punya apa apa bukan siapa siapa makasih telah mau berjuang dari nol sampai sekarang"


Sang suami menempelkan pipinya di pipi Laras. Dengan tersenyum lebar Laras mendaratkan ciuman di pipi suaminya. Dan mereka tertawa kecil bersama.


"ih papa mama cium terus, Arya kok gak di cium juga?!" Arya tiba tiba membuyarkan orang tuanya yang sedang asyik bergurau.


"idih anak papa cemberut, sini papa cium"


Di angkatnya Arya dari tempat duduknya seketika sang ayah menghujani ciuman bertubi tubi di kedua pipi Arya.

__ADS_1


"ok! papa mau berangkat kerja dulu ya sayang, apa Arya mau di antar papa ke sekolah?"


"gak usah pa... mama hari ini lagi gak ada pelatihan kerja di BLK (balai latihan kerja), jadi mama yang antar dan nungguin Arya di sekolah nya"


"horee horee" teriak Arya kegirangan sembari meloncat loncat kecil.


"oo gitu, ya udah, papa berangkat dulu ya sayang" di angkatnya Arya sembari menciumi pipinya lalu pipi Laraspun tak luput dari ciuman juga.


Laras dan Arya mengantar dari depan pintu rumah. Mereka berdua melambaikan tangan ketika mobil akan melaju. Tiba tiba...


"aduh" suami Laras menepuk jidatnya lagi.


"mama... bisa minta tolong ambilkan tas kerjanya papa" katanya sembari terkekeh tipis.


"hhmmm" Laras sambil menghela nafas panjangnya masuk kedalam rumah dan kembali keluar sembari menenteng 2 tas.


"nih pa... untung ingetnya masih depan rumah, kalau sudah jauh gimana" kata Laras sambil geleng geleng pelan.


"hehehe" tawa kecil nya terdengar sembari menyubit ujung hidung Laras.


"oh ya ma... hari ini papa gak tugas di kantor, papa ke lapangan mau tinjau bangunan proyek"


"ok pa" jawab Laras singkat. Masih dari depan kemudi tiba tiba suami Laras menggenggam erat tangan Laras yang masih berpegangan di pintu mobil.


Di tatapnya lekat wajah Laras dengan mata sayu mengharu. Dalam pandangan itu seolah dia tak ingin pergi seolah ingin selalu di dekat Laras istrinya. Dalam pandangan itu dia juga tak rela akan beranjak pergi.


"ada apa pa..." telisik Laras ke dalam mata sang suami. Hanya helaan nafas berat dan panjang yang di berikan oleh suaminya.


Suami Laras hanya tersenyum kecil dengan mata masih menatap tajam sayu mengharu.


"haaahh" helaan nafas itu kembali terdengar.


"apa papa merasa enggan pergi meninjau proyek, memang ada masalah seriuskah di sana?" tanya Laras tegas.


"enggak ma, cuma kenapa ya hari ini papa gak mood aja buat kerja, papa pingin di rumah saja, tapi mau gimana lagi gedung proyek yang dikerjakan sama timnya papa masih perlu di awasi lebih ketat lagi" ceritanya pada Laras.


"ya sudah papa berangkat dulu ya.., jaga baik baik diri mama untuk papa dan jaga anak anak dengan baik untuk papa juga, buat mereka sukses"

__ADS_1


__ADS_2