
Terlihat sesekali Bastian yang selalu mencuri pandang ke arah Laras. Dan pandangan merekapun saling bertemu tak sengaja. Sorot mata Bastian yang berbinar terang, mengisyaratkan kekaguman luar biasa pada wanita cantik manis di hadapannya.
Tawa riang dan saling bercanda masih terus terdengar. Suasana hangat dan akrab terasa terbentuk begitu saja. Seolah mereka sudah saling mengenal lama.
Malam kian larut, kompleks perumahan tempat tinggal Laras pun terasa lengah dan sepi. Beberapa menit lalu Bastian sudah berpamit pulang.
Naren dan Arya pun sudah dalam peraduan nyenyak malam ini. Laras masih terjaga, dia membereskan beberapa barang yang masih tersisa. Setelah selesai dia mengambil posisi duduk di kursi meja makan menuangkan segelas air putih dan meminumnya. Bibirnya terpagut senyum tipis tatkala mengingat kembali keceriaan kedua anaknya bersama Bastian beberapa jam lalu.
Keceriaan yang sama hangatnya di kala suami dan anak anaknya bercanda tawa ria. Memikirkan Bastian semakin membuat senyum Laras mengembang.
"ahhh, kenapa tiba tiba aku memikirkannya?" gumamnya dalam hati. Seketika ia segera menepis pikirannya, beranjak hendak ke kamar menemani Arya tidur.
Ketika hendak masuk kamar, matanya sekilas tertuju pada bingkai foto keluarga kecilnya yang terpampang di dinding. Di pandangnya lekat dan tiba tiba air matanya mengalir deras. Dia terduduk menyandar dinding dengan kepala bertumpu pada lutut yang di tekuk, bahunya kian terguncang. Kepiluan yang ia rasakan. Dalam hatinya ada rasa sesal dan hancur. Mengerutuki nasibnya yang malang karena harus secepat ini dan dengan cara seperti itu sang suami meningkalkan dia dan keluarganya untuk selamanya.
Laras berpikir keras dan serasa berputus asa, bagaimana dia akan menghidupi anak anaknya. Karena selama ini hanya sang suami yang mencari nafkah.
Bukannya Laras seorang yang biasa saja, dia lulusan sarjana administrasi bisnis. Bisa saja dia menggunakan gelar sarjana nya untuk mencari pekerjaan, namun dia berpikir bagaimana dengan kedua anaknya. Jika dia bekerja siapa yang mengawasi kedua anaknya terutama Arya yang masih kecil.
Laras yang hidup merntau di kota Surabaya ini, sudah tak punya siapa siapa lagi selain kedua anaknya. Dia seorang dari panti asuhan. Meskipun Fadil suaminya masih memiliki orangtua di Kota Semarang, namun mungkin sampai saat ini mereka tak juga mengakui Laras dan kedua anaknya.
Bagaimana tidak, hingga puluhan tahun hidup berumah tangga dengan Fadil tak sekalipun Fadil menengok atau sekedar bertukar kabar dengan orang tuanya di Semarang. Begitupun dengan orang tua Fadil, tak pernah sekalipun berusaha mencari kabar di mana Fadil berada. Bahkan mungkin orang tua Fadil tak mengetahui kalau mereka punya dua cucu yang tampan.
__ADS_1
Hanya sekali Fadil menghubungi kakak kandungnya untuk menanyakan kabar tentang orang tuanya. Setelah itu Laras tidak mengetahui apakah Fadil dan kakaknya masih saling komunikasi.
Laras beranjak dari posisi duduknya dan menuju kamar ketika mendengar suara notifikasi sms dari telpon genggamnya.
"siapa yang sms malam gini" gumamnya dalam hati. Dia mengerutkan dahinya manakala melihat nomor yang tertera dengan tanpa nama.
"sudah tidur kah mbak?, maaf ganggu malam malam gini" isi dari sms itu. Masih di dera kebingungan, dia melihat di layar hp sebelah pojok kiri, jam 23.47. Tanpa membalas dia langsung mematikan teleponnya. Mengambil posisi di sebelah Arya yang tertidur pulas.
Sudah dua hari, Bastian dalam keadaan gundah dan menyesal. Ia gundah karena mengutuki dirinya sendiri yang mengirim sms ke Laras tengah malam. Menyesal karena tak seharusnya sms itu dia kirim tengah malam juga. Bahkan nomor telepon ia dapatkan tidak langsung dari Laras, melainkan dari Naren anak Laras.
Bastian pasti menyadari bahwa Laras pasti membacanya. Namun karena tak ada balasan apapun, hatinya makin gundah gulana.
_______
Terlihat masih sibuk bahkan mendengar ucapan Naren pun tak Laras hiraukan. Dahinya berkerut membolak balik beberapa lembar kertas, menatanya beberapa lembar dan memjepitnya dengan paperclip.
"mama...sedang apa?Naren mau pamit berangkat sekolah" sentuhan tangan Naren di punggungnya membuatnya sedikit terhenyak.
"oh! iya Ren?" menoleh ke Naren. Belum bertanya pada mamanya, Naren melihat mata sembab dan sedikit mengantong. Di usapnya pipi mulus mamanya, dengan wajah datar dan tatapan penuh pilu menyelimuti wajah tampan remaja itu.
"mama sedang nyiapain CV buat ngelamar pekerjaan" Laras langsung menjawab tanpa ada pertanyaan dari putranya.
__ADS_1
Tatapan Naren masih sama namun semakin dalam. Jemari Naren yang masih menyentuh pipinya ia genggam erat, dengan mencari raut yang menandakan semua baik baik saja.
"Naren pamit berangkat ma..." suara yang terdengar serak namun masih bisa tersembunyi di balik senyum yang gagah. "maafkan Naren ma..., semoga mama segera mendapat pekerjaan" suara Naren masih terdengar serak, mata yang ingin berkaca pun dia tahan.
"sudah di habiskan sarapannya nak?" sembari mengusap halus rambut ikal Naren. Dia hanya mengangguk tanpa kata, tenggorokannya serasa kering enggan bersuara karena tak ingin mamanya mengetahui keadaan dirinya.
Masih dengan senyum lebar "baiklah...lekas berangkat jangan sampai telat" menepuk bahu Naren yang kokoh.
Naren hanya mengangguk, bersalman sembari memcium punggung telapak tangan milik mamanya. Membalikkan badan, mengusap sudut matanya yang berair lalu keluar menuju pelataran rumah yang tak luas.
Dengan raut sendu dan pikiran yang masih tergambar sang mama, ketika sedang menyipakan beberapa lembar kertas untuk mencari pekerjaan. Dalam hatinya seolah berteriak, andaikan papa masih ada, tak perlu sang mama harus berkutat dengan kesusahan seperti ini.
Naren terus mengayuh sepeda anginnya. Tatapan tajam menelusuri jalanan tapi hati dan fikirannya masih penuh akan keadaan sang mama.
Laras sudah rapi dengan pakaian formalnya. Kemeja biru electric celana kain hitam sepatu fantofel hitam dengan heels yang tak terlalu tinggi. Rambutnya hanya di kuncir bagian belakang.
Setelah mengantar Arya di depan rumah karena telah di jemput bu Mina tetangganya, Laras bersiap untuk pergi.
Dengan sepeda motor maticnya, Laras menuju perkantoran yang alamatnya dia dapatkan dari iklan loker di salah satu koran.
Satu jam dia baru tiba di perkantoran tersebut. Di depan gerbang dia di hentikan oleh satpam, menanyakan perihal dia datang. Setelah berbicara satpam itupun membuka pintu gerbang untuk Laras.
__ADS_1
Laras mengambil tempat parkir sepeda tak jauh dari pintu gerbang. Membenahi sedikit baju yang ia kenakan dan melihat sebentar wajahnya di spion sepeda. Lalu dengan berjalan cepat dia menuju pintu lobi perkantoran.
"semoga aku kembali di terima bekerja di sini" gumamnya dalam hati sembari tersenyum tipis tatkala dia sudah memasuki ruangan lobi kantor yang dingin.