PRIA MUDA LARAS

PRIA MUDA LARAS
BERKABUNG


__ADS_3

Pak Bayu kemudian berlalu meninggalkan Laras tanpa berbicara apapun. Lelaki itu tahu keadaan Laras yang kacau.


Jenazah suami Laras sudah tiba di rumahnya. Para pelayat datang silih berganti. Mereka memberi belasungkawa pada Laras dan kedua anaknya.


Isak tangis Laras dan ke dua buah hatinya terdengar menyayat hati setiap pelayat yang datang. Mereka hanya bisa terdiam sembari mengusap pucuk kepala Arya dan Naren.


Setelah selesai memandikan mengkafani dan di sholati, jenazah di masukkan mobil ambulance dan akan di bawa ke pemakaman. Karena jarak kompleks perumahan dan pemakaman lumayan jauh.


Sebelum keberangkatan ambulance, seorang pemuka agama setempat sedang memberi ceramah penghormatan terakhir.


Di belakang mobil jenazah yang belum tertutup Laras nampak berdiri. Dengan menggunakan gaun hitam dan kerudung mencoba tegar sesekali di sekanya air mata yang mengalir tiada henti.


Tiba tiba Laras teringat akan kejadian pagi hari yang membuatnya menemukan jawaban atas tanda tanya besar dari ucapan suaminya.


"jaga diri mama baik baik buat papa dan jaga anak anak juga buat papa, buat mereka sukses" helaan nafas Laras begitu berat seketika mengingat itu.


"kali aja ntar ato besok papa gak bisa merasakan masakan mama lagi" dan tangis laras pun makin pecah. Kepalanya tertunduk dalam bahunya makin terguncang. Seorang pelayat wanita yang ada di sebelahnya hanya mengelus lengan Laras mencoba menenangkan Laras.


"sudah nak Laras, jangan di tangisi seperti ini, gak baik buat yang sudah meninggal. Arwahnya gak akan tenang" kata wanita di sebelahnya.


"ikhlaskan nak, semua sudah takdir, dengan ikhlasmu dan anak anakmu bisa membuat jalan suamimu di alam sana lebih ringan" tambahnya lagi.


Laras pun hanya tetap tertunduk lemah. Dia mencoba menahan tangisnya di sekanya air mata yang sudah basah di pipi. Menghela nafas panjang dan dalam. Memejamkan matanya dengan kepala tegak mencoba tegar dengan keadaan ini.


Setelah pemuka agama selesai memberi ceramah, barulah Laras dan kedua putranya masuk ke ambulance mendampingi keranda jenazah. Dalam perjalanan mereka bertiga tak nampak berbicara hanya diam dan hanya terdengar isak tangis.


Laras hanya mendekap bahu Arya yang makin meronta ronta memanggil papanya yang kini sudah terbujur kaku dalam keranda.


Sementara Naren hanya tertunduk dalam buliran air mata menetes perlahan, tangannya hanya mampu meraba penutup keranda warna hijau, mewakili hatinya yang tak rela akan kepergian sang papa.

__ADS_1


__________


Bastian menagis pilu sembari memeluk keranda jenazah di depannya.


Di dalam sana terbujur kaku tubuh sang nenek. Orang yang selama ini menemani Bastian saat merantau ke kota Surabaya. Dan memang nenek Bastian asli dari Surabaya serta tinggal di kota ini.


Tangannya yang kekar hanya mampu meremas penutup keranda seolah mewakili hatinya yang pedih.


"sudah Bastian, relakan oma ya..., sekarang oma sudah bahagia, sudah gak sakit lagi" seorang wanita paruh bayah menenangkan Bastian sembari mengusap punggung Bastian.


Dia bangkit di saat wanita itu menggandeng lengannya dan mengarahkan untuk duduk di kursi.


Sesekali di sekanya air mata, matanya sembab merah.


Setelah ritual penghormatan terakhir selesai, jenazah akan di makamkan.


Tiba di area pemakaman tepat di sebelah kiri pintu masuk sudah ada galian kubur untuk peristirahatan terakhir nenek Bastian.


Para pelayat serta keluarga besar Bastian mengelilingi galian kubur itu. Dan pemuka agama memulai ritual sebelum jenazah di masukkan ke liang lahat.


Bastian yang berdiri tepat tak jauh dari keranda sang nenek, masih dengan wajahnya yang sedih. Sesekali dia mengusap hidung dan menyeka air matanya.


Bastian masih setia dengan ceramah dr seorang pemuka agama namun hanya tertunduk lemah, sedih dan serasa tak berdaya.


Tak lama berselang datang ambulance yang membawa jenazah suami Laras di tempat yang sama dengan pemakaman nenek Bastian.


Jaraknya hanya beberapa meter dari makam nenek Bastian. Hanya saja makam suami Laras agak masuk ke dalam


Laras dan dua putranya turun dr mobil ambulance. Beberapa orang juga menurunkan lalu mengangkat keranda menuju galian tanah yang sudah siap.

__ADS_1


Mereka serta pelayat lain berjalan di belakang keranda yang di gotong oleh beberapa pelayat laki laki. Setelah sampai di letak galian tanah itu, pemuka agama kembali memberi ceramah sebelum jenazah masuk ke liang lahat.


Laras yang hanya bisa berdiri kaku, mata memerah dan sembab serta pandangan kosong, tak berdaya.


sekalipun dia menahan tangis akhirnya tak mampu lagi menahan, ketika jenazah di angkat dan di masukkan dalam galian tanah.


Tangis nya pecah seketika hingga terdengar serak yang menyayat, Naren dan Arya pun kian meronta.


"papa papa jangan tinggalin Arya" bocah kecil itu menjerit. Naren pun demikian, tak sanggup berkata kata hanya jeritan tangis mendalam.


Dari tempat pemakaman nenek Bastian, para pelayat satu persatu sudah meninggalakan pemakaman. Terlihat gundukan tanah yang bertabur mawar merah segar, Bastian masih dalam posisi duduk jongkok, tangan kanannya dia letakkan di atas gundukan tanah. Menunduk dalam, dari balik kaca mata hitam itu ada mata sembab yang terbentuk.


"bastian ayo pulang" tiba tiba wanita paruh baya membuyarkan lamunannya.


"ntar dulu ma, Bastian masih mau di sini" jawabnya singkat, sesekali dengan menyeka mata di balik kaca mata hitamnya.


"oke, mama papa dan yang lain balik ke rumah duluan ya.." kata sang mama dengan lembutnya. Mama Bastian tahu betapa dia sangat menyayangi neneknya. Lebih dari sayang Bastian ke kedua orang tuanya.


Bastian semenjak memutuskan merantau ke Surabaya ia tinggal bersama sang nenek. Neneknyalah yang selalu ada untuk Bastian. Segala keperluan Bastian sang neneklah yang menyipakan. Untuk selera makan sang nenek pun tahu apa yang di sukai dan tidak dari bastian.


Bastian mengangguk sekali. Mama papa dan beberapa orang berlalu dari pemakaman, mereka mengusap punggung Bastian bergantian. Memberi dukungan pada Bastian agar tabah dan ikhlas.


Laras dan kedua putranya, Naren dan Arya masih bertahan di sebelah gundukan tanah bertabur kelopak bunga mawar segar. Pelayat pergi meninggalkan pemakaman setelah selesai.


Jemari laras yang lentik mengusap halus pada nisan yang tertulis nama suaminya. Menahan isak tangis agar kedua buah hatinya juga bisa sedikit tenang.


Lalu Laras menengadahkan tangannya di depan dada, menunduk dalam, dari bibirnya terlihat sedang membaca doa, begitupun kedua buah hatinya yang mengikuti Laras menengadahkan kedua tangannya.


Lama Laras tertunduk dalam doa untuk sang suami. Air mata yang coba di tahannya pun pecah tak terbendung. Menunduk dan semakin menunduk. Menyelami hatinya yang saat ini di landa pilu, getir rasa dalam jiwanya.

__ADS_1


__ADS_2