
"semoga aku kembali di terima bekerja di sini" gumamnya dalam hati sembari tersenyum tipis tatkala dia sudah memasuki lobi kantor yang dingin.
Laras berjalan menuju meja resepsionis, di lihatnya wanita di balik meja itu yang sedang sibuk dengan telepon di telinganya dan memegang selembar kertas. Ekspresi wajah wanita itu terasa serius dan dingin, sesekali dia menghela nafas panjang dan berujung memijat kepalanya sendiri yang tak pusing.
"selamat pagi Elnes..."Laras menyapa wanita itu dengan senyum lebar hingga giginya yang putih itu terlihat. Elnes yang masih sibuk dengan teleponnya hanya melirik ke sumber suara yang menyapanya.
Terkejut!! Matanya membulat lebar dan sekilas mulutnya pun terbuka lebar juga. Seketika Elnes kembali konsen dengan aktifitasnya mengobrol dengan seseorang yang berada di sebrang telepon. Jari telunjuk Elnes menempel pada mulutnya sendiri mengisyaratkan Laras untuk diam dahulu.
Laras yang paham hanya tetap berdiri menghadap meja sembari tersenyum lebar, sesekali sedikit menggelengkan kepalanya.
"Elnes...Elnes..., sudah hampir 5 tahun kamu masih tetap sama" gumamnya lirih, dan mungkin wanita yang bernama Elnes pun mendengarnya.
Beberapa menit berlalu, akhirnya Elnes mengakhiri percakpan teleponnya. Menutup gagang telepon agak keras. Lalu berlari kecil kegirangan memutari meja kerjanya.
"aaaaaa Laras...!" jeritnya girang dan dua sahabat itu saling memeluk sambil berjingkrak kecil.
"apa kabar!?, turut berduka untuk suamimu dan maaf yaaa aku belum sempat berkunjung ke rumahmu" kata Elnes sambil mengusap kedua lengan Laras.
"terimakasih Nes, gak papa aku tau kamu sibuk banget nget nget" Laras menimpali dengan senyum tegarnya, walaupun cahaya matanya terlihat masih ada duka yang dalam.
"kamu mau ngelamar kerja di sini?" mata Elnes membulat. Laras hanya mengangguk beberapa kali.
"ow ow ow, gak kapok sama bu Brenda?" kata Elnes dengan mata sedikit menggoda Laras. Mereka pun tertawa terbahak sangat keras.
Elnes faham kalau dulu Laras dan bu Brenda sangat tidak akur. Bahkan sering bu Brenda dengan sengaja menindas Laras mencari gegara yang gak jelas. Tapi bagaimanapun Laras tetap menghormati Brenda karena dia lebih tua dan Brenda adalah adik kandung dari bosnya, Tommy.
"sudah dulu ya..., aku mau ke atas, nanti kita cerita, ok!" kata Laras sembari berlalu ke araf lift.
"sukses Laras....." teriak Elnes dari jauh.
_______
__ADS_1
Di kantor, Bastian sedang berada di rungan Bos nya. Ia melirik sang bos yang termangu sembari memegangi dagunya.
"apa kamu tidak bisa menunda hingga dua bulan lagi Bas?" pertanyaan bos yang sudah memegang surat pengunduran diri Bastian.
"maaf pak, saya tidak bisa" jawabnya sembari menyandarkan bahunya di sandaran kursi.
"sejujurnya saya sangat berat meninggalkan perusahaan ini, dan di sini saya lebih di hargai dari pada di perusahaan saya sebelumnya, tapi saya harus segera mengurus perusahaan peninggalan oma" raut wajah bastian yang sendu, sekali dia menghela nafas berat.
"yaa apa boleh buat, saya tidak bisa berbuat apapun" menghela bafas dalam sembari menatap Bastian.
"berarti setelah ini kita akan jadi rival bisnis" lanjut bos itu dengan gelak tawa, di susul lagi dengan tawa Bastian.
_______
Matahari siang di sebuah kantin. Laras dan Elnes sedang menghabiskan jam makan siang, mereka mengobrol sesekali tertawa terbahak. Apalagi Elnes yang seorang sangat humoris, pandai mencari topik pembicaraan. Dari sekian teman dekat Laras hanya Elnes yang paling dekat, dia tahu semua tentang Laras, baik tentang kisahnya dengan Fadil sebelum mereka pindah di kota ini.
Walaupun mereka baru berteman dan tidak lama mengenal, keduanya merasa cocok untuk saling berbagi cerita.
"iya...Alhamdulillaah banget Nes, aku lega, aku tak khawatir dengan biaya hidup untuk anak anakku" mata Laras tiba tiba berair, dia menundukkan kepalanya. Elnes hanya mampu mengelus punggung telapak Laras lembut saat ini, seolah mengerti apa yang di rasakan Laras.
"Laras, kayaknya aku sudah harus balik ke kantor, apa kamu ingin disini atau langsung pulang?" tiba tiba Elnes membuka percakapan.
"iya kembalilah, gak pa pa aku di sini sebentar" sambil mengangguk kecil.
"ok! sampai ketemu besok ya" Mereka saling menempelkan pipi. Elnes beranjak dan berlalu pergi. Laras masih dengan senyum tipisnya melihat punggung Elnes hingga menghilang.
Laras masih menikmati minuman coklat hangatnya. Walaupun di tengah terik panas, Laras tidak terlalu suka minuman dingin.
Dia mengambil telpon genggamnya dari dalam tas, hendak menghubungi seseorang. Di liriknya jam tangan di pergelangan tangan kirinya. 13.07 siang ini.
"halo...mbak mina gimana keadaan Arya?" tanya laras halus.
__ADS_1
"dia baik baik saja, dan syukur gak rewel, di sekolah juga seperti biasa"
"syukur kalau gitu mbak, maaf kan ya mbak, aku selalu ngerepoti mbak mina" sembari menarik nafas pelan.
"sudah...koyok karo sopo"(sudah kaya sama siapa) " Laras hanya tersenyum simpul.
"terimakasih ya mbak, aku akan segera pulang" setelah mendapat jawaban iya, Laras langsung mengakhiri pemcakpan. Sesaat hendak memasukkan telponnya, tiba tiba Laras teringat akan pesan dari nomor yang menghubunginya beberapa hari lalu.
Dia mencari nomor itu dengan seksama. Dan akhirnya ketemu. Laras membaca lagi, sambil berfikir siapa yang mengirim pesan ini. Di bukanya foto profil yang tidak ada gambarnya itu dia mencari info dari kolom profil. Sesaat langsung keningnya berkerut. *~tian.
Menerka nerka sipakah tian itu, beberapa detik langsung sadar dan mengerti.
"maaf...apa kamu Bastian?" balasnya ke nomor tersebut. Beberapa menit tak kunjung ada blasan, akhirnya Laras bernjak dari kursi, lalu melangkah menuju tempat parkir.
Sesampainya di parkir hendak melajukan sepeda motornya, telepon kembali berbunyi. Di lihatnya nomor yang belum dia beri nama sedang melakukan panggilan vidio call padanya. Tanpa ragu Laras mengusap layar ponselnya, dan benar saja wajah Bastian yang terpampang jelas.
"hallo mbak? hmm maaf ya soal kemarin karena ganggu malam malam" ucap Bastian dengan ragu.
"oh... ya Bas gpp, aku juga minta maaf karena gak bales dan kirain cuma orang iseng saja" jawab Laras dengan terkekeh. "ada apa ya Bas? dan tau nomorku dari mana?"
"anu.. dari Naren mbak, maaf ya aku gak minta ke mbak sendiri habis waktu malam itu mbak sibuk banget" Laras hanya menjawab dengan senyuman.
"aku...aku ingin mengenal mbak Laras lebih dari sekarang, mmm maksudku ingin lebih... mengenal-mu" ucap bastian lagi dengan akhir kata yang sedikit pelan, karena takut dan ragu dengan ucapannya sendiri.
Laras yang mendengar itu, hanya tertegun, entah harus menjawab apa dan masih bingung dengan ucapan Bastian.
*
*
*
__ADS_1
maaf kan ya karena up nya lamaaa, maklum lagi repot.