PRIA MUDA LARAS

PRIA MUDA LARAS
Kehadiran Bastian


__ADS_3

Bastian memejamkan matanya, dengan tangan mengepal yang ia sembunyikan. Mencoba meredakan emosi yang merasuki jiwa dan pikirannya karena tuduhan oma Hera.


"maaf oma Hera, sebaiknya oma telisik lebih jauh lagi sebelumnya, kalau benar saya ingin perusahaan oma Lina, sudah dari dulu saya dapatkan tanpa harus bersusah bekerja di perusahaan milik pak tomy dan sekarangpun saya masih karyawan di expedisi Tanjung" sanggah Bastian yang di ikuti tatapan tajam dari oma Hera.


"pak Doni bisakah wasiat itu saya tolak, sepeserpun saya tidak akan mengambil" Kata Bastian sembari menyandarkan tubuhnya di kursi.


"maaf pak Bastian, tapi sebelum ibu Lina meninggal, beliau sudah mengurus surat perpindahan atas nama perusahaannya ke kantor saya, semua sudah beliau tanda tangani, bahkan pak Leo pimpinan sementara juga sudah tanda tangan sebagai saksi. Hanya anda sebagai pemilik selanjutnya yang harus tanda tangan, dan semua sudah beres"


"tapi pak Doni! Bastian itu cucu tiri! saya adalah satu satunya keluarga kandung Linawati" kata oma Hera dengan menunjuk dadanya sendiri.


"Lina menikah dengan opanya Bastian dengan status janda tanpa anak. Bahkan ketika mereka menikah juga tidak memiliki anak" sela nya lagi.


"kakak saya Linawati merintis perusahaan itu mulai dari nol! bisa bisanya Bastian yang orang luar dengan begitu mudah mendapatkan perusahaan itu tanpa merasakan jatuh bangun seperti kakak saya" suara ketus itu kembali terdengar nyaring.


Bastian menutup matanya dengan menghela nafas pelan, mencoba mengikis emosi yang kian meletup.


"maaf oma Hera, setahu saya oma Lina setiap bulannya mengirim oma Hera uang untuk jatah bulanan, itu di karenakan oma Lina peduli dengan saudara kandungnya. Dan setahu saya perusahaan oma Lina berdiri dari awal hingga sekarang tidak ada sedikitpun campur tangan dari oma Hera dan keluarga" tiba tiba kalimat itu keluar dari mulut Bastian. Dia tahu wanita yang sudah berusia di hadapannya hanya butuh jatah bulanan saja.


Oma Hera langsung terdiam tercengang mendengar kalimat dari Bastian.


Dengan berdehem pelan mencoba mengikis rasa malu dan canggung, oma Hera kembali berkata.


"i..iya me..memang benar seperti itu, terus kenapa?apa salah kakak kandungku berbuat seperti itu?" katanya dengan raut muka yang menahan malu.


"baiklah oma, Bastian ngerti sekarang maksud oma. Bastian akan meneruskan kebiasaan oma Lina, dan Bastian juga akan menambah 10 persen dari yang di berikan oma Lina sebelumnya, Bastian janji" kata Bastian penuh ketegasan. Dan tepat dugaan Bastian, oma Hera yang mendengar janji Bastian langsung tersenyum seperti bulan sabit.

__ADS_1


"okey...oma setuju dan jangan sampai kamu mengingkari janjimu anak muda" kata oma Hera dengan mendongakkan sedikit wajahnya.


Bastian bangkit dari duduknya. Menghela nafas panjang. Berlalu meninggalkan ruangan. Dalam pikirannya dia tahu apa yang di inginkan adik dari oma tirinya itu.


Ketiga kakak perempuannya hanya saling pandang tak berani berkata apapun dan protes apapun. Mendapat warisan masing masing satu milyar itu sudah bagus dari pada tidak sama sekali.


Semua keluarga paham kenapa harus Bastian yang mewarisi perusahaan sang oma, karena selama ini oma hanya percaya pada Bastian. Bahkan yang menemani oma di hari tuanya hanya Bastian. Keluar masuk rumah sakit hanya Bastian yang peduli.


Bastian setelah lulus SMA dia pindah ke Surabaya, menemani oma yang tinggal sebatang kara dia juga melanjutkan kuliah. Sebenarnya Bastian sudah dari dulu di minta oma untuk memimpin perusahaannya, tapi Bastian menolak dengan alasan belum mampu dan belum berpengalaman.


Bastian juga menolak bekerja di perusahaan oma. Dia tidak ingin bekerja menempati kedudukan tinggi dengan instan. Maka itu Bastian rela mencari kerja dari kantor ke kantor mendapat jabatan karyawan biasa pun tak masalah baginya, asal dari usahanya sendiri.


____________


Suasana rumah Laras sudah kembali sepi setelah acara tujuh hari meninggalnya sang suami, hanya ada beberapa tetangga yang masih bertahan terlihat saling mengobrol.


"waalaikum salaam..., lho Bastian!kamu..." kata Laras sedikit terkejut. Rautnya mencoba tersenyum. Dia berdiri mendekati Bastian.


"ehhh, iya mbak anu mmm maaf aku tiba tiba kesini gak bilang sama mbak Laras, dan memang aku kan gak punya kontak mbak juga kan" terkekeh sedikit menyembunyikan wajah paniknya.


"oh... iya sih bener juga, ayo masuk, maaf rumahnya masih berantakan" dengan tersenyum simpul dia melangkah mengikuti Laras di depannya. Lalu mengambil duduk di atas karpet di sudut ruang tamu. Beberapa orang yang masih terlihat mengobrol melihatnya sekilas.


"habis acara tujuh hari ya mbak" kata Bastian membuka obrolan setelah sebelumnya mereka hanya diam.


"mmm iya, baru saja selesai, dan bukannya hari ini juga tujuh hari meninggalnya oma mu?"

__ADS_1


"iya bener, tapi juga sudah selesai kok, begitu acara selesai aku langsung kesini" terlihat Bastian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"bu Laras kami pamit pulang dulu" kata seorang tetangga Laras yang tadi masih mengobrol.


"oh iya pak, terimkasih atas hadirnya, dan saya mohon maaf" jawab Laras sembari berdiri dan mengikuti sampai di ambang pintu.


"iya bu, sama sama, permisi...monggo..." Laras hanya menganggukkan kepala pelan.


Laras kembali ke posisi duduk di dekat Bastian. Mereka hanya diam dan saling senyum. Bukannya apa, bagi Laras tidak ada hal yang ingin dia bicarakan karena dia dan Bastian tidak akrab walaupun sebenarnya mereka dulu adalah teman satu perusahaan.


Begitupun dengan Bastian, dia juga hampir kehilangan kata kata. Memutar otak mencari alasan kenapa dia tiba tiba berada di rumah Laras.


"maaf mbak, kok gak kelihatan Arya sama Naren" katanya yang membuyarkan ketertegunan Laras.


"oh anu, mereka masih ke rumah beberapa tetangga..." lalu muncul Arya dan Naren yang tiba di depan pintu.


"oh... ada om Bas ternyata" kata Naren dengan wajah ceria.


"hallo...Arya.. Naren apa kabar? nich buat Arya sama kak Naren" kata Bastian sembari menyodorkan kantong plastik yang dia bawa.


"wah... makasih ya om..." wajah sumringah Arya pun juga mengembang menerima pemberian Bastian. Naren dan Arya duduk di antara Bastian dan Laras. Mereka bersorak gembira tatkala membuka kantong pemberian Bastian yang isinya coklat, minuman ringan, dan beberapa makanan ringan juga.


Suara riuh dari Naren dan Arya yang saling berebut makanan. Tak luput pula tawa keras terdengar dari mereka bertiga Bastian Arya dan Naren yang asyik mengobrol dan bercanda.


Laras yang mengamati kedua anaknya hanya tersenyum simpul. Kehadiran Bastian yang tiba tiba telah memberi suasana hangat untuk kedua anaknya.

__ADS_1


Terlihat sesekali Bastian yang selalu mencuri pandang ke arah Laras. Dan pandangan merekapun saling bertemu tak sengaja. Sorot mata Bastian yang berbinar terang, mengisyaratkan kekaguman luar biasa pada wanita cantik di hadapannya.


__ADS_2