
"ya sudah papa berangkat dulu ya.., jaga baik baik diri mama untuk papa dan jaga anak anak dengan baik untuk papa juga buat mereka sukses" dengan tersenyum.
Laras terhentak kaget seketika mendengar perkataan sang suami yang di rasa aneh. Laras ingin bertanya tapi belum sempat laras membuka mulutnya...
"daaahhh mama dada Arya" katanya lagi dari balik kemudi sopir sembari melambaikan tangan dan mobilpun berlalu.
Arya pun ikut memberikan lambaian tangannya dan tersenyum lebar.
Laras masih berdiri tertegun matanya mengikuti arah mobil melaju hingga bayangan mobil itu hilang.
"mama ayo lekas, nanti Arya telat" kata kata Arya membuyarkan lamunannya.
Ia menghela nafas panjang sembari berjalan menuju pintu rumahnya.
"klek" suara pintu yang terkunci.
Dengan pikiran yang masih heran dia menggandeng Arya menuntunnya berjalan.
Mereka berjalan ke arah gang kecil yang berjarak beberapa meter dari rumahnya. Tak lama mereka sampai di sebuah gedung sekolah TK.
Laras mengantar Arya sampai pintu kelasnya. Memperhatikan Arya hingga duduk, guru kelas Arya yang berdiri di tengah pintu kelas tersenyum pada Laras sembari mengangguk pelan.
Hari ini Laras berjanji menunggui Arya samapai pulang sekolah. Berbaurlah Laras dengan orang tua murid lainnya di ruang tunggu. Di sana Laras nampak sedang mengobrol dengan beberapa orang tua murid lainnya.
Tertawa bersenda gurau ala emak emak yang doyan ngerumpi. Hingga sampailah jam menunjukkan pukul 09.27 pagi.
"dret dret dret" suara telepon genggam Laras bergetar. Laras melirik layar Hpnya dengan kedua alis di tekuk. Terlihat di layar hp tanpa nama hanya ada nomor yang tak dikenalnya. Dengan sedikit ragu dia menggeser panel warna hijau.
"hallo?" katanya dengan nada lembut.
"dengan ibu Laras?" suara dari sebrang
__ADS_1
"iya... dengan siapa ya?" Laras balik bertanya.
Suara di sebrang sana terdiam sejenak beberapa detik kemudian mulai berbicara. Akan tetapi Laras seperti nya tidak seberapa mendengar, karena berada di tengah orang orang yang saling bercengkrama.
Akhirnya Laras berpindah tempat agak sedikit menjauh dari keruman emak emak rumpi.
Laras berteduh di bawah pohon. Dan tiba tiba laras menutup mulutnya dengan telapak tangan seketika langsung terjatuh berlutut di atas tanah.
Suara isak tangis yang tertahan. Kepala yang tertunduk dalam, tangan mencengkram baju di depan dadanya dengan mata terpejam mengatur nafas, debaran jantungnya kian berdegub kencang.
Ketika hatinya sedikit tenang dia bangkit, mengusap buliran bening yang sedikit menetes. Dengan jemarinya yang lentik dia menyisir rambutnya membuatnya sedikit rapi.
Di bukanya pola kunci layar hp. Mencari sebuah nomor yang ia ingin berbicara saat ini.
"mbak Mina bisa minta tolong Arya di jemput sekolah tepat waktu, aku ada perlu penting!"
Tanpa mendengar jawaban dari orang tersebut Laras dengan berlari kecil menuju depan gerbang sekolah.
47 menit Laras sampai di sebuah rumah sakit. Di kepalkan tangan kirinya sebab masih merasa kesal karena terjebak macet.
"ICU" itulah yang ada dalam pikirannya. Berlari kecil sembari menengok kanan dan kiri. Langkahnya terhenti ketika penunjuk arah berada di depannya, lalu dengan berjalan sedikit cepat dia berbelok kiri menuju ruang ICU.
Di depan pintu ICU seseorang sedang berjalan mondar mandir sudah menunggu Laras. Terlihat kemeja biru langitnya nampak bercak darah yang tidak sedikit.
Mata pria setengah baya dengan postur tubuh agak gemuk memandang Laras penuh dengan kekhawatiran. Tangannya mengepal di balik badannya. Sesekali menunduk tak kuasa melihat Laras.
"pak Bayu!?" pria itu mengangguk. Tanpa berkata pria yang bernama Bayu itu mengarahkan Laras untuk duduk di kursi tunggu.
Tiba tiba air mata Laras mengalir deras serasa tak terhenti sesaat setelah mendengar penjelasan dari Bayu rekan kerja suaminya.
Laras menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sembari menunduk dalam. Isak tangis yang sempat tertahan kembali pecah kala tak kuasa menahan pedih hatinya.
__ADS_1
Bagaimana Laras sangat begitu terkejut bahwa suaminya mengalami kecelakaan kerja sewaktu meninjau gedung proyek.
Pak Bayu mengatakan bahwa suaminya kejatuhan balok kayu yang lumayan besar tepat di atas kepalanya. Kepalanya mengeluarkan darah seketika setelah tersungkur di tanah. Pak Bayu yang berada tak jauh dari tempat suami laras langsung membopongnya. Pak bayu seketika langsung menelepon ambulance. Hingga di bawanya ke rumah sakit terdekat.
Sebenarnya suami Laras sudah memakai helm sebagai standart keaman kerja, akan tetapi helm tersebut tidak mampu menahan beban balok kayu yang lumayan besar.
Pintu ICU terbuka, nampak seorang perawat berjalan menuju tempat Laras dan pak Bayu duduk. Dengan wajah sembab dan sayu Laras berdiri sembari mengusap pipinya yang basah.
"keluarga bapak fadil?" tanya perawat tersebut. Laras hanya mengangguk dengan menahan isak tangisnya.
Perawat perempuan tersebut tiba tiba menggenggam tangan Laras yang mengepal. Matanya lekat memandang Laras, sekali perawat menoleh ke pak Bayu yang berada di sebelah Laras.
Jantung Laras berderu kencang ketika perawat menggelengkan kepalanya. Laras mengerti akan kode tersebut, Lalu ia menjatuhkan diri berlutut di lantai sembari menunduk dalam.
Kali ini tangis Laras pecah, deruan detak jantung yang makin menderu semakin membuat Laras menangis keras. Semua pengunjung yang berada di ruangan menoleh ke arah Laras dengan tatapan iba.
Pak bayu rekan kerja suaminya hanya terdiam sembari memegang bahu Laras.
"pak mohon ke loket administrasi untuk mengurus kepulangan jenazah pak Fadil"
Hanya itu yang keluar dari mulut perawat. Setelah membungkuk pelan perawat itu berlalu.
Laras yang mendengar ucapan perawat semakin tertunduk lemah. Seakan otot dan tulangnya tak lagi bisa menopang tubuh nya. Dia terus menangis tanpa menghiraukan beberapa pasang mata yang memperhatikannya.
Pak Bayu kemudian berlalu meninggalkan Laras tanpa berbicara apapun. Lelaki itu tahu keadaan Laras yang kacau.
Kehilangan... Laras telah kehilangan suaminya yang sangat mencintainya. Kehilangan sosok yang begitu hangat, bijaksana, penyayang, juga bertanggung jawab.
Kehilangan lelaki yang telah berjuang dengannya melewati masa lalu yang pahit.
**manusia akan merasakan dan mengalami kehilangan namun hidup harus terus berlanjut, tenggelam dalam kesedihan bukan pilihan bukan pula keharusan juga bukan kesalahan**
__ADS_1
para pembaca yang budiman mohon koreksinya yach... sebagai masukan untuk author tambah semangat lagi, thx