Pria Yang Tak Bisa Jatuh Cinta Karena Dulunya Dia Adalah Seorang Wanita

Pria Yang Tak Bisa Jatuh Cinta Karena Dulunya Dia Adalah Seorang Wanita
CHAPTER 10 Bagian Yang Tak Sempat Di Sampaikan


__ADS_3

Salwa pergi meninggalkan Lila Sendiri. Rasanya begitu sepi untuk Lila yang masih mempunyai rasa cinta kepada Salwa. Ia hanya bisa memendamnya seorang diri. Hidupnya di Magonda kembali seperti semula.


Bahagia selamanya, Salwa akan tetap ada di benaknya. Ia takkan pernah lupa dengan sosok wanita yang ia cinta, tapi ia tak bisa menangisi kepergian Salwa seharian. Ia tak bisa mengenang Salwa Berjam jam, ia tak bisa mencoba bersedih sendirian hanya untuk beberapa menit.


Mukjizat Magonda memamaksanya untuk tidak melakukan hal itu, Lila gak bisa galau. Karena Magonda senantiasa membuatnya bahagia, dan lupa dengan kesedihan.


Seharian Lila mengendarai motor balap yang ia punya, "Huhuhuhu!" Ia berteriak di jalanan seperti orang gila.


Bahkan ia tak memakai helm untuk melindungi kepalanya, raut wajah seseorang yang menyembunyikan kesedihan dengan topeng bahagia. Benar benar tersirat di wajah Lila hari itu, bagaiamana tidak hatinya sedang dalam keadaan rapuh. Hatinya sedang bersedih, tapi raganya tak bisa melakukan itu karena ia di tuntut bahagia.


Setelah puas balapan liar tanpa lawan di jalan raya, aktivitas bahagia Lila kembali berlanjut. Ia berselancar di laut Magonda. Laut dengan ombak sebesar pantai Hawai, seindah Bali, di padati penduduk Magonda dengan pakaian bikini dan bertelanjang dada.


Dari tengah hari, sampai penghujung hari. Langit jingga sore itu, menjadi penutup kebahagian yang terjadi di hari pertama ia kembali ke Magonda.


Setelah berselancar, dengan papan selancar yang otomatis mengatur laju ombak. Tanpa mesti di mainkan oleh Lila, papan itu bergerak dan berselancar seorang diri. Sementara Lila yang berdiri di atasnya, hanya tertawa bahagia dan menikmati sensasi berselancar yang tak perlu capek capek di mainkan oleh kita sendiri.


Lila berjemur di kursi pantai sambil menikmati indahnya terbenamnya matahari, sore itu. Wajahnya berseri berseri, tapi hatinya terluka sedih. Lila ingin menangis seharian hari itu, tapi seperti yang kamu tahu di Magonda. Kesedihan itu gak ada.


Gadis sedih telah pergi, meninggalkan pria bahagia seorang diri. Pria yang hanya mempunyai perasaan bahagia selamanya.


Setelah menghabiskan harinya di luar dengan aktivitas kebahagian yang ia inginkan. Lantas ia kembali setelah malam tiba, di rumahnya sekarang ini yang hanya ia inginkan adalah tertidur lelap.


Ia masuk ke kamarnya dan segera melompat ke ranjang empuk yang ia punya. Baju pantai yang ia gunakan tadi, kini berubah dengan sendirinya menjadi baju tidur pria. Di situlah halusinasi mulai muncul.


Saat Lila berbalik untuk mematikan lampu tidur yang berdiri tegak di lemari laci dekat ranjang, seketika sosok itu mulai muncul. Sosok yang sangat ia rindukan, dan sekarang ia sedang berbaring di ranjang yang sama bersama Lila.


"Hai!" Katanya Lirih.


Mereka saling bertatapan sambil menekuk tangan untuk di jadikan bantal.


"Hai! Are You Real ?"


"Atau aku hanya berhalusinasi karena terlalu merindukan kamu, makanya pikiran aku menciptakan bayangan tak nyata tentang kamu."


"Aku hanya mampir." Balas Salwa.


"Dugaanku ternyata benar, dan kamu akan pergi lagi."


Mata Salwa mulai berbinar sedih, " Ada bagian yang tak sempat aku ceritakan."


"Hanya itu tujuan kamu kemari?"


"Eum."


Lila menghela nafas berat, " Dasar Jahat," ia melebarkan senyuman kesedihan.


"Kalo begitu ayo! Segera ceritakan bagian yang tak sempat kamu sampaikan itu, sekarang juga!"


"Karena aku ingin segera tidur!"


"Tutup mata kamu!"


Lila nurut untuk menutup mata, Lalu tangan Salwa meraih dan menutupi kedua mata Lila agar Lila tidak mengintip.


Dan saat Lila membuka mata, lagi lagi ia kembali ke Jakarta. Tubuhnya kembali menjadi Salwa. Ini adalah terminal tempat ia mencopet dompet Salwa hari itu.


Wajahnya bingung, hatinya bertanya kenapa ia bisa kembali kesana dan tujuannya apa. Dan bus yang akan di naiki Salwa hari itu, akhirnya datang.


Mata Lila melihat sekitar, ternyata mobil sport warna merah itu belum ada. Ini adalah kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang ia perbuat di masa lalu, di awali dengan tidak merusak permukaan mobil itu dengan pisau belati yang ia bawa.


Dengan ragu ia pun mendatangi, bus yang sedang ngetem itu. Sejauh ini raganya, bisa bergerak sesuai apa yang ia mau. Di pintu masuk, ada seorang pria dengan dandanan pantai memakai celana jeans pendek.


Dan kemeja biru langit ala ala Hawai, tak salah lagi itu adalah Salwa yang terjebak di raga Lila. Ia tak sengaja menyenggol badan Lila yang hendak masuk terlebih dahulu ke bus itu.


"Maaf!" Katanya.


"Tunggu! Kok ada yang aneh. Ada adegan baru yang tiba tiba muncul, harusnya adegan ini gak ada. Kenapa sekarang bisa muncul tiba tiba?" Batin Lila berbicara.


Mereka bertatapan lama, "Please ! Senyum aja. Dan katakan tidak apa apa, jangan mengatakan hal hal omong kosong atau sebagainya."


"Ia gak apa," Jawab Lila sambil tersenyum.


"What ! Kenapa ini, kok aku bisa melakukan hal yang aku mau." Batin Lila terkejut bukan main, karena ia tidak percaya. Apa yang ingin ia lakukan, bisa terjadi. Dan sepertinya kini raga Salwa sepenuhnya bisa ia kendalikan.


"Kalo begitu! Boleh aku masuk lebih dulu!" Pinta Salwa.


"Oh iya boleh, silahkan!" Lila memberi ruang untuk Salwa masuk lebih dulu bersama koper cokelat yang ia geret di belakangnya.


Dan ini dia, adegan dimana Lila akan menyapa Salwa. Yang sibuk membereskan barang bawaannya. Lila berdiri di belakang Salwa. Perasaan gugup mulai ia rasakan, tak lama Salwa berbalik.


"Hai lagi!"


"Hai!"


"Oh iya kamu mau kemana?" Tanya Salwa.


"Pelabuhan Ratu,"


"Wah! Serius. Kalo begitu sama donk, aku juga mau kesana." Salwa menjawab dengan antusias.


"Kalo begitu, mau duduk di sampingku. Kursi ini kebetulan masih kosong," ia menunjuk dua kursi penumpang kosong yang ada di sebelahnya.


"Tentu," Jawab Lila.


Mereka pun duduk bersama, Lila duduk di kursi dekat jendela. Dan Salwa mengisi kursi sebelahnya.


"Oh iya, aku Lila!"


"Aku Salwa." Mereka berjabat tangan.


Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, karena semua adegan hari itu berubah total. Harusnya adegan hari itu hanya di isi dengan adegan pencopetan, pengejaran, pembunuhan, kematian, dan selesai.


Cerita yang seharusnya mengerikan dan penuh kesedihan, berubah menjadi kisah romansa kedua pasangan wanita pria. Yang pergi ke pantai bersama. Aneh, entah apa yang di inginkan penulis. Kenapa ia mengubah alur ceritanya tiba tiba, tokoh cerita di dalamnya tidak bisa berbuat apa apa selain melakoni peran di dalam cerita itu.


****


Mereka berdua kini sedang berdiri menikmati pemandangan laut, di pasir pantai. Mereka berbicara, " Kalo kamu dilahirkan kembali, kamu mau jadi seperti apa?" Salwa bertanya, matanya tertutup oleh kacamata hitam.


"Entahlah, aku tidak sepenuhnya percaya dengan adanya Reinkarnasi." Jawab Lila, rambut panjangnya bertebaran di bawa angin laut yang kencang.


"Kalo kamu?"


"Aku! Aku ingin menjadi seseorang yang bisa mencintai dirinya sendiri."


"Seseorang yang bisa menerima, seseorang yang bersyukur, seseorang yang tidak malu dengan dirinya sendiri."


"Seseorang yang tidak iri kepada orang lain, seseorang tidak benci dengan dirinya sendiri karena ia tidak memiliki sesuatu yang di punyai orang lain."

__ADS_1


"Aku ingin menjadi orang seperti itu, pernah mendengar kisah gadis sedih dan pria bahagia?"


Deg! Lila terkejut mendengar apa yang Salwa katakan.


"Kisah gadis sedih dan pria bahagia?" Tanya Lila memastikan.


"Iya."


"Kisah dimana seorang gadis yang di takdirkan untuk mengalami kesedihan selamanya, dan seorang pria yang di takdirkan untuk mengalami bahagia selamanya."


"Kamu belum pernah mendengar dongeng itu?"


"Eum, sudah. Tapi belum mengerti dengan apa yang hendak penulis itu ceritakan di dongeng itu."


"Kalo begitu izinkan aku menceritakan kembali, tentang kisah itu?"


Alkisah dahulu kala, hiduplah seorang gadis sedih. Dia adalah seorang pencopet. Hidupnya sebatang kara, tidak punya keluarga, tidak punya rumah, tinggal di jalanan, atau pindah pindah kemana pun ada tempat menaung yang bisa ia tinggali.


Hidupnya di takdirkan untuk sedih selamanya, ia tidak bisa memiliki pekerjaan yang layak karena tidak berpendidikan. Dia hanya bisa mencopet dan mencuri barang orang lain.


Ia tidak pernah merasakan ke bahagian, karena hidupnya selalu menyedihkan. Dan ia membenci dirinya karena tidak ada hal yang bisa ia cintai di dalam dirinya. Suatu hari, dia bertemu dengan pria kaya raya.


Di sebuah terminal tempat biasa ia mencopet, ia sangat iri karena hidup pria itu jauh lebih beruntung di bandingkan hidupnya. Bahkan sampai irinya, ia merusak mobil yang pria itu punya dengan pisau yang ia bawa.


Mereka bertemu di bus, mobil pria itu mogok. Dan pria itu memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya dengan menggunakan bis.


Lalu gadis sedih mendatangi pria itu, "I Love You."


"Ayo kita pacaran, katanya dengan berpacaran kita bisa bahagia."


"Aku muak dengan hidupku yang menyedihkan."


"Aku ingin bahagia," Kata gadis sedih.


Pria itu bertanya, "Mau sampai kapan kamu bahagia?"


"Selamanya." Dengan percaya diri gadis sedih menjawab pertanyaan itu dengan mudah.


Dan ternyata, tanpa ia tahu. Pria itu adalah seorang malaikat, malaikat yang di kirim Tuhan. Untuk menguji gadis sedih, dan ternyata keinginan gadis sedih di sampaikan oleh malaikat itu kepada Tuhan.


Tuhan mengabulkan keinginan gadis sedih, setelah dunia lama hancur. Terciptalah dunia baru, dimana semua orang bisa bahagia selamanya. Gadis sedih, terlahir kembali. Menjadi seorang pria yang pernah temui di bus, wujud malaikat yang pernah menyamar jadi seorang manusia. Gadis sedih terlahir menjadi seperti itu.


"Lalu apakah ia bahagia disana?" Tanya Salwa.


Lila tidak menjawab, ia terlalu shock karena mendengar kebenaranya.


"Tidak,"


"Dia tidak bisa bahagia, karena dia tidak mencintai dirinya sendiri."


"Ia benci dengan dirinya sendiri, dan ia tak pernah bisa menerima keadaan dirinya sendiri."


Lila menangis.


"Hahahahahahah!" Lantas Salwa tiba tiba tertawa.


Dan ternyata itu adalah Director Angel yang menyamar menjadi sosok Lila, ia kemudian berubah wujud kembali ke wujudnya yang menyeramkan. Seketika waktu berhenti, dan kegelapan mulai muncul merusakan keindahan pantai.


"Itulah dosa yang kamu lakukan, Lila Anggara!" Tegas Director Angel.


Lila menangis, "Apakah ada cara untuk menembusnya?"


"Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang aku perbuat itu! Aku mohon!" Lila memelas sambil menangis.


"Buatlah pria bahagia jatuh cinta." Jawab Director Angel.


Mata Lila membulat sepenuhnya, deng! Dengungan suara yang tidak jelas tiba tiba terdengar. Seketika raga Lila mematung, dan ia tidak bisa bergerak.


Dan sret! Ia berubah tempat. Kini ia sedang berada di stasiun KRL, tempat Lila dan Salwa bertemu. Ini adalah hari pertama mereka bertemu.


"Oke, Huuuft! Aku harus mencari aku sendiri. Bila ini adalah hari itu, aku pasti akan berdiri disana dan menunggu kereta KRL sampai." Lila berbicara sendiri.


"Oh itu dia, itu aku!" Lila menunjuk dirinya yang sedang hendak memasuki kereta.


"Tunggu! Aku harus gimana, langkah pertama apa yang aku harus lakukan. Bilang kepada aku sendiri 'hai Lila, ini aku Salwa! Aku adalah kamu di masalalu. Aku datang kesini untuk membuatmu jatuh cinta' "


Lila mempraktekkan terlebih dahulu, hal yang akan ia sampaikan kepada dirinya.


"Nggak! Dia pasti nggak bakalan percaya! Dia kan orangnya keras kepala, dan gak mudah untuk percaya orang lain!" Lila frustasi.


"Ah! Shits ! Dia kemana?" Lila panik karena tiba ia Lila palsu tiba tiba menghilang.


Dengan bergegas Lila asli yang terjebak di raga Salwa. Mencari Lila palsu, dan saat ia hendak masuk ke dalam gerbong kereta api.


"Brug!" Dia menabrak seseorang.


" Tereng!" Ternyata itu dia, orang yang Lila cari cari. Pria bahagia.


Adegan romantis slow mo, saat mata mereka berdua bertemu satu sama lain.


"Maaf aku nggak sengaja!" Kata Lila asli kepada Lila palsu.


"Tunggu! Kok kamu bisa bicara?"


"Emang kenapa?"


"Nggak bukannya ini adalah Magonda dimana semua orang hanya menjalani hidupnya sendiri sendiri, dan tidak memperdulikan orang lain," Jawab Lila Palsu.


"Lalu kenapa kamu bisa bicara? Dan kita berdua mengobrol satu sama lain?"


"Bodoh, ini kamu. Dasar ****! " Lila mengutuk di dalam hati.


"Mungkin takdir," Lila menjawab.


Ia pun masuk ke dalam gerbong kereta lebih dulu, dan saat di perjalanan kereta mulai melaju.


Lila palsu mendekati Lila asli yang terjebak di tubuh Salwa.


"I Love You!"


Deg! Deg! Deg! Debaran hati Lila tiba tiba berbunyi.


"Oh jadi seperti ini rsanya saat aku bilang I Love You kepadamu hari itu."


"Hatimu berdebar kencang," Lila termenung.


"Tunggu! Apakah semudah ini? Misiku berhasil. Dia sudah bilang I Love You kan, artinya dia sudah mencintaiku. Dan misiku berhasil!"

__ADS_1


"Ehem! Excuse me, sorry! aku gak ngerti apa yang kamu katakan."


"Shit! Bodoh kenapa kamu gak langsung bilang I Love You too, dan misi itu akan berhasil dengan mudah pas di kereta api hari itu." Lila menggerutu di dalam hati.


"Nggak, belum tentu seseorang bilang I Love You. Dia benar benar mencintai aku."


"Aku harus mengenalkan dia bagaimana mencintai seseorang, dan dia harus mulai menerima kesedihan yang ia alami di masalalu." Rencana yang Lila buat di pikirannya.


Hari pertama pertemuan mereka berdua, akhirnya Lila tahu bagaimana perasaan Salwa kala itu. Saat ia mengatakan tiba tiba kata I Love kepadanya. Dan inilah awal, kisah cinta mereka. Bedanya kini Lila berubah Salwa, dia akan memerankan bagaimana menjadi seorang wanita yang berambisi untuk membuat Lila jatuh cinta dan menerima kesedihan yang pernah ia alami.


"Apakah kita akan bertemu lagi?"


"Kalo itu mau kamu, kamu lupa ini Magonda. Semua keinginan akan terkabul dengan hanya memikirkannya," itulah perpisahan pertama di kereta KRL.


Lila asli yang berubah jadi Salwa pergi meninggalkan Lila yang dulu. Dan ia tersenyum, karena ia tahu esok ia akan bertemu lagi. Karena Lila mulai menginginkan Salwa.


****


Alur cerita kembali seperti dulu, pertemuan kedua mereka di stasiun KRL yang sama. Lalu mereka berjalan berjalan berduaan di pantai.


"Ayo cepat! Pegang aku! Dasar pengecut! Aku tahu kamu ingin memegang aku hari itu. Tapi kamu gak punya keberanian untuk itu, dasar penakut!"


"Huuuft! Gak ngerti lagilah sama kamu Lil, masa harus Salwa yang duluan megang kamu. Kan dia wanita! Masa duluan ngebaperin pria? Dasar pecundang." Lila dalam hati mengejek dirinya sendiri.


"Jangan keseringan bilang I Love You, nanti kata itu gak mempan lagi dan nggak berarti apa apa."


"Dan bila saat itu terjadi, kamu harus menggunakan tindakan."


"Contohnya"


"Heh! Dasar polos." Batin Lila bergemuruh.


"Pegangan tangan, pelukan, ciuman , bercinta , mungkin."


"Emang kamu mau?"


Deg! Deg! Deg! Hati Lila kembali berdetak.


"Bukan itu yang mestinya kamu tanyakan, tapi gimana caranya? Dasar! Emang kamu bisa gitu dan tahu caranya bercinta. Dasar bocah ingusan! Ngatain perasaan kamu aja, kamu udah gak bisa, sekarang kamu mau sok sok an ngajakin bercinta yang mustahil kamu lakukan, gak salah? Hallo!"


"Nggak." Itu hanya jawaban yang keluar dari mulut Lila.


Jawaban yang sama , yang di keluarkan oleh Salwa hari itu. Sekarang ia sadar, bagaimana susahnya Salwa dalam berusaha untuk membuatnya jatuh cinta. Setelah dia menjadi Salwa dia sadar, ternyata gak mudah membuat cowok polos buat jatuh cinta. Cowok pengecut yang gak punya keberanian buat mengutarakan isi hatinya.


"Dasar! Cepu!" Lagi lagi Lila mengutuk dirinya sendiri.


Ia hanya bisa bersuara di dalam hati, ia gak bisa asal ceplak dan ngejelasin segalanya. Tentang ia yang harus menjalani misi khusus untuk membuat dirinya yang dulu jatuh cinta kepada dia dari masa depan yang kini terjebak menjadi Salwa yang merupakan seorang wanita.


****


"Kamu mau gak merasakan kesedihan? Bersamaku."


"Maksudnya?" Kata Lila palsu.


"Iya jatuh cinta, "


Perasaan sakit juga dirasakan oleh Lila asli, saat Lila palsu tak ingin menyetujui keinginannya yaitu jatuh cinta.


"Berarti kalo kamu tidak mau berhubungan denganku, oke! Aku masih bisa mencari pria baru yang bisa menerima aku apa adanya"


"Dan yang terpenting dia mau sama sama mengalami kesedihan bersamaku!" Bentak Lila kepada dirinya yang dulu.


Ini adalah adegan di pantai, saat Lila tak ingin mengikuti keinginan Salwa yaitu jatuh cinta. Dan mengalami kesedihan.


"Aku gak punya waktu!"


Deg! " Oh ternyata alasan kamu memburu buruku untuk segera jatuh cinta, karena ini." Lila tersadar.


"Besok aku tunggu di taman Magonda, dan putuskan kamu mau bersamaku atau tidak?"


Keadaan mulai menuju titik terang, sekarang Lila tersadar akan segalanya. Saat menjadi Salwa Lila merasakan segala yang Salwa rasakan.


Senang


" Benarkah itu, kamu setuju untuk membuatku merasakan kesedihan."


Sedih


" Kenapa kamu tiba tiba berubah pikiran dalam sekejap! Tadi kamu sudah setuju dan setelah kita berciuman kenapa kamu berubah pikiran."


Tidak bisa berkata kata " Jadi kamu sudah tahu hah! Soal kesedihan. Soal kesedihan yang menyakitkan dan membunuh secara perlahan. Lantas kenapa kamu tetap menginginkan aku untuk merasakan hal itu Hah!" Tanya Lila palsu.


"Apa sebenarnya tujuanmu?"


"Aku ragu kalo itu di dasari oleh cinta, karena cinta itu tujuannya gak saling bunuh. Dan saling nyakitin, tujuan cinta itu kebahagian bukan kesedihan!"


Berbohong


" Iya aku ngelakuin ini supaya kamu merasakan kesedihan, percayalah ini yang terbaik! Karena penulis menginginkan ini terjadi. Dan aku setuju menjalankan misi ini supaya mendapatkan imbalan hal terbaik untuk kita berdua."


Tidak bisa jujur


"Misi apa sih yang mengharuskan kamu untuk membohongi orang yang kamu cintai?"


"Misi apa HUH!"


"Kenapa bisa di katakan yang terbaik? kenapa kita harus menuruti segala keinginan si penulis. Harusnya ia hanya menciptakan makhluk ciptaannya dan setelah itu selesailah tugasnya menjadi seorang Tuhan.


"Dan sisanya biar kita yang urus! Hidup kita itu, kita yang nentuin bukan dia!"


"Karena penulis tahu apa yang terbaik untuk tulisannya, apa yang di butuhkan tokohnya supaya ceritanya menarik dan berharga." Bentak Lila asli kepada Lila palsu.


Kesedihan karena perpisahan


"Maafkan aku! Karena aku adalah hal yang tidak di inginkan tapi tetap ada. Kamu benar, harusnya hal yang tidak di inginkan itu tetap tidak ada di dunia ini. Contohnya kesedihan seharusnya kesedihan tak pernah ada karena nggak ada orang yang menginginkan kesedihan."


"Maafkan aku! Karena membuatmu sakit , sengsara , dan menderita. Maafkan aku! Karena dengan lancang membuatmu sedih, tanpa mengenalmu terlebih dahulu."


"Selamat tinggal Lila! Kamu akan bahagia, I Love You!"


Itu adalah segala hal, rangkaian demi rangkaian. Yang di rangkum menjadi satu, segala peristiwa yang di alami Salwa. Segala perasaan yang di rasakan oleh Salwa. Kini Lila paham segalanya, paham akan dirinya dan Salwa adalah orang sama. Hanya berbeda kelamin, beda tahun hidup, beda jalan hidup. Tapi mereka tetap satu bagian utuh yang terpecah belah menjadi beberapa bagian bagian.


Yang disebut Manifestasi. Reinkarnasi Salwa Amerta yang tinggal di Jakarta adalah Lila Anggara yang tinggal di Magonda. Kisah gadis sedih dan pria bahagia adalah mereka berdua.


Apakah mereka akan menyatu dan menjadi satu bagian yang tersatukan kembali menjadi bagian utuh?


Atau mereka akan tetap seperti ini menjadi gadis sedih dan pria bahagia?

__ADS_1


Akankah mereka menjadi satu pasangan manusia yang sedih dan bahagia? Doakan saja!


__ADS_2