Pria Yang Tak Bisa Jatuh Cinta Karena Dulunya Dia Adalah Seorang Wanita

Pria Yang Tak Bisa Jatuh Cinta Karena Dulunya Dia Adalah Seorang Wanita
Chapter 9 Kembali Ke Magonda.


__ADS_3

Gelap , Lila perlahan membuka matanya. Seperti ada yang menempel di bibirnya, benda seperti bantalan lembut, empuk, dan berair. Ternyata ia kembali ke adegan di mana Lila dan Salwa sedang berciuman. Di malam yang yang di hadiri oleh sejuta bintang di galaksi, malam yang indah di jalanan dekat lautan. Yang ombaknya berdebur pelan, ayunan daun pohon kelapa yang perlahan seperti menina bobokan.


Mata Lila membulat, disatu sisi ia begitu Bahagia. Salwa kembali, dia masih hidup dan selamat, di sisi lain lagi Lila menyadari akan janji yang yang telah ia buat yaitu tak boleh jatuh cinta. Dasar penulis sialan, bisa bisanya ia memperlakukan Lila seenak jidat.


Ia begitu pintar memainkan tipu muslihatnya, ia membuat Lila berjanji untuk tidak jatuh cinta agar bisa kembali ke Magonda. Dan sesampainya di Magonda ia bertemu kembali dengan Salwa, wanita yang ia cintai. Begitu ironi, jalan cerita yang ia karang untuk mereka berdua.


Air mata tak kuasa untuk di tahan, "Nggak! Aku nggak bisa. Aku tarik lagi ucapan yang aku katakan barusan,"


"Aku nggak mau menemani kamu untuk merasakan yang namanya kesedihan, aku gak bisa berpacaran dengan kamu. Aku gak setuju buat ngabulin keinginan kamu yang menginginkan sesuatu yang gak masuk akal, "


"Kesedihan? "


"Aku nggak ngerti, baru kali ini. Aku bertemu sama orang yang pengen sedih, dimana mana orang itu pengen bahagia. Kamu aneh karena-"


"Aku menginginkan kesedihan, karena keinginan aku berbeda. Dengan mereka yang inginnya bahagia. Kamu pikir aku gila karena keinginanku berbeda dengan kebanyakan orang orang di luaran sana, gitu?" Bentak Salwa.


"Aku nggak ngerti yah, Lil! Kenapa kamu tiba tiba berubah pikiran dalam sekejap mata."


"Bukannya kita udah sepakat untuk menjalin hubungan, melanggar aturan Magonda, saling jatuh cinta, menghadapi kesedihan bersama bersama, dan saling melengkapi untuk menjadi hal yang sempurna."


"Kenapa kamu berubah pikiran? Kenapa huh?" Salwa membentak Lila sambil menarik narik kemeja yang ia pakai.


"Brak!" Lila menghempaskan tubuh Salwa, ia mendorongnya kencang sekali. Sampai Salwa terjatuh ke tanah.


"Karena kesedihan itu adalah hal yang berbahaya! Kesedihan itu gak pantes buat di coba. Dia itu hal yang mengerikan, hal yang tidak inginkan. Hal yang jahat yang membuat semua orang tersakiti, menderita, dan sengsara. Semua orang membencinya, karena dia menyakitkan. Sangat sangat menyakitkan."


"Dan kamu harus pergi menjauh dari kesedihan, kamu jangan sampai mendekati atau bahkan mengalami dan terjebak dalam kesedihan. Karena hal itu sungguh menyakitkan, kamu harus ngerti itu."


Salwa yang bangkit dan berdiri, air matanya mengalir. Ia memejamkan matanya saat Lila mengatakan segalanya tentang kesedihan.


"Sorry! Maaf aku memintamu untuk merasakan hal yang berbahaya, hal yang menyiksa, hal yang jahat, dan akan membuatmu menderita."


"Sepertinya kamu sudah tahu soal itu, sepertinya kamu sudah berkenalan dengan kesedihan. Sekarang kamu paham, kenapa semua orang membenci kesedihan?"


"Kesedihan itu hobinya bikin sakit, benar semua orang membencinya. Semua orang menghidari dan bahkan gak berani mendekati yang namanya kesedihan."


"Karena dia adalah hal yang berbahaya, yang patut di jauhi. Hal yang jahat melebihi seorang pembunuh, dia akan membuatmu rapuh. Terjatuh, dan bahkan hancur oleh kesedihan."


"Maafkan aku karena membawamu kesana, maafkan aku karena memintamu melompat ke jurang kesengsaraan bersamaku, maafkan aku!" Salwa menangis Bombay, Isak tangisnya benar benar sangat terdengar.


Lila mengerjap tak percaya, bagaimana tidak. Orang yang ia cintai, memintanya untuk bunuh diri bersamanya. Menemaninya untuk melangkah kepada kematian.


"Kamu tahu?"


"Kamu sudah tahu kesedihan itu apa?"


Salwa hanya merespon diam, tatapan mata mereka yang lebam karena habis mengalami tangisan yang dahsyat. Mata mereka saling berseteru hebat.


"KAMU UDAH TAHU SEMUANYA HUH!"


"JAWAB SALWA!"


"Aku pengen kamu jawab pertanyaan aku! Bukannya diem dan nangis kaya gini." Lila menggertak Salwa. Kedua lengannya mecengkram tubuh mungilnya, ia tak menyadari hal itu membuat Salwa kesakitan.


"Hek!" Isak tangis di barengi tarikan nafas bengek.


"Iya aku udah tahu,"


"Aku udah tahu soal kesedihan yang bakal menyakitkan dan membunuh secara perlahan."


Deg!


Satu tusukan panah kesakitan, menghunus hati Lila. Seriusan! Salwa udah tahu soal kesedihan yang bakal menyakitkan dan membunuh secara perlahan.


Lila melepaskan dekapannya, oke dia udah bener bener kecewa. Sama wanita yang cintai, yang ternyata menipunya untuk mengajak dia ke lubang api.


"Terus maksud kamu apa?"


"Mengajak aku mengalami kesedihan bersama kamu."


"Aku ragu alasan kamu menginginkan merasakan kesedihan, hanya di dasari rasa penasaran ingin coba coba saja!"


"Aku juga ragu alasan kamu menginginkan merasakan kesedihan itu di dasari oleh rasa cinta, ingin bersama dengan aku. Tinggal selamanya berdua, aku curiga bukan itu semua alasan kamu menginginkan kesedihan!"


"ALASAN NYA APA HUH!" Lila mencekik leher Salwa dengan Brutal.


"Ohok ohok!" Tubuh Salwa terangkat dan nafas nya mulai sesak.


"Alasan kamu ingin kesedihan itu apa huh, kalo sekedar coba coba. Aku gak percaya! Karena kamu udah tahu segalanya tentang kesedihan, lalu buat apa kamu menginginkan kesedihan kalo kamu sendiri sudah tahu kesedihan itu menyakitkan dan bahaya,"


" Dan kalo alasan kamu menginginkan kesedihan itu? Di dasari oleh cinta, keinginan untuk bersama denganku, tinggal di sampingku berdua selamanya. Itu bohong! Kamu sedang berbohong!"


"Karena cinta gak akan mendorong orang yang mereka cintai ke hal yang menyakitkan, kepada hal yang mengerikan, kepada hal bahaya dan jahat, kepada kematian."


"Tujuan cinta bukan kesedihan, tapi kebahagian. Kamu gak cintakan sama aku? Kamu bohong! Dan mengarang cerita soal keinginan kamu yang ingin merasakan kesedihan,"


"Kamu bohong tentang segalanya! DUSTA! Kamu hanyalah seorang penipu yang menipu aku untuk pergi ke lubang api dan kita berdua akan terbunuh disana."


"Nggak! Aku sendiri yang terbunuh. Sementara kamu selamat, karena kamu mati duluan. Kamu meninggalkan aku sendirian dengan beban kesedihan selamanya, aku yang hidup sengsara. Sementara kamu mati dan lega gak ada yang mesti di khawatirkan lagi. Kamu bahagia selamanya, "


"KARENA KAMU MATI, DAN AKU HIDUP DI DUNIA YANG RASANYA SEPERTI NERAKA!"


"Sendirian, kesepian, dan di tinggalkan."


"Itu adalah gambaran kisah cinta kita berdua karena kita telah memilih untuk jatuh cinta, melanggar aturan Magonda, di lempar ke dunia yang berbeda, hidup sengsara, dan di antara kita ada yang harus mengalami kesedihan seumur hidup,"


"Dan tebak itu siapa?"


"ITU AKU!"


Brug! Akhirnya Lila melepaskan cekikannya yang membelenggu pernafasaan Salwa, Salwa yang dari tadi berusaha menahan pernafasannya yang menyempit. Bahkan ia sempat sekarat dan hampir mati. Karena Lila mencekiknya lama sekali.


"Wuek! Uhuk uhuk!" Salwa berusaha menstabilkan pernafasannya.


Ia lagi lagi terjatuh ke tanah, karena Lila melepaskan tubuhnya yang melayang dengan tiba tiba. Hal itu lantas membuat Salwa terjatuh dan terbentur ke tanah, karena raganya yang lemas yang di sebabkan kehabisan okesigen. Terlempar begitu saja tanpa persiapan.


"Nggak ada yang tertinggal di antara kita, nggak ada yang mati duluan di antara kita. Kita akan selalu bersama karena kita adalah pasangan."


"BULSHIT!"


"Hentikan omong kosong mu sekarang juga! Dasar Wanita gila!" Berang Lila.


"Kamu belum paham semuanya ternyata, kamu belum sadar apa yang sebenarnya terjadi kepada kita," Jawab Salwa sambil menampilkan wajah misterius.


"Maksud kamu apa?"


"Kita, siapa yang di maksud kita?"


Lila langsung marah besar, ia langsung menarik Salwa. Kekerasan pada seorang wanita terjadi di malam itu, kerah baju Salwa di tarik oleh Lila. Sampai Salwa bangkit dan berdiri dengan kaki yang lemah.


"Siapa kita?" Teriak Lila di depan wajah Salwa.


"Coba kamu lihat lehermu!"


Saat Lila menunduk untuk melihat lehernya, Lila terlonjak kaget. Karena di lehernya ada bekas merah, tanda cekikan dari tangan seseorang. Tanda itu telah tercetak begitu saja di leher Lila tanpa tahu sebabnya kenapa.


"Hihihi!" Salwa tertawa menakutkan, jalannya mulai sempoyongan. Tatapan tajam dengan kepala tertunduk seperti orang yang kesurupan.


"Huh! Huh! Apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa sama leher saya, kenapa leher saya merah dan terdapat bekas cekikan!" Lila tidak terima.


Lalu Salwa berdiri dengan tatapan mengerikan, Lantas ia mencubit kulitnya dengan sangat kencang.


"AWWWW!" Lila mengerang kesakitan.


Sementara Salwa hanya menyeringai cekikikan.


"Ini pasti gara gara kamu, dasar wanita penyihir! Aku udah curiga dari pertemuan tiba tiba kita berdua di gerbong kereta kala itu. Kamu adalah wanita aneh dan berbeda dari rakyat Magonda pada umumnya.


"Dan aku tidak menyangka kalo kamu adalah wanita jadi jadian. Yang memiliki kekuatan hitam ."

__ADS_1


"Siapa kamu sebenarnya Huh! Kamu pasti iblis neraka yang menyamar!" Duga Lila semakin parah.


Salwa yang hanya memiringkan senyuman tipis, ngakak dengan tingkah lucu Lila yang mengganggap dirinya adalah seorang peyihir berkekuatan hitam lah, dan sekarang Lila menganggap Salwa sebagai iblis neraka yang menyamar. Gurauan itu membuat Salwa tersenyum ngakak, karena Lila ternyata mirip orang gila yang kebanyakan berhalusinasi.


"Aku?" Tanya Salwa.


"Aku itu kamu, Lila."


"Kita adalah pasangan yang sempat terpecah belah yang menunggu untuk di satukan."


"Kamu dan aku adalah puzzle berantakan yang menunggu untuk di selesaikan."


"Maksud aku apa huh! Aku gak ngerti apa yang kamu bicarakan."


"Kamu tidak mengerti, baiklah! Aku akan menceritakan kisah yang tak sempat di sampaikan oleh Director Angel."


Deg!


"Kok dia bisa tahu soal Director Angel , dari mana ia tahu tentang malaikat maut yang bisa berubah wujud menjadi seorang malaikat putih yang baik hati."


"Jangan- jangan,"


"Dia juga pernah ketemu dengan Director Angel," Duga Lila di dalam hati.


"Kamu pasti udah tahu , kisah gadis sedih dan pria bahagia,"


"Director Angel pasti sudah menceritakan sebagian kisah itu,"


"Dan sekarang aku akan melanjutkan sisanya."


"Gadis sedih dan pria bahagia itu, adalah kita berdua."


"Di Magonda namanya Lila dan dia adalah seorang pria, tapi di Jakarta namanya Salwa dan dia adalah seorang wanita."


Lila sangat terpukul dengan penjelasan yang mengejutkan ini, bagaimana bisa Lila dan Salwa adalah orang yang sama. Mereka cuman berbeda jenis kelamin , dan tempat tinggal. Tapi ternyata mereka adalah orang yang sama dan saling berhubungan.


Manifestasi, Reinkarnasi. Kamu pernah mendengarnya. Kalau belum aku akan menjelaskan definisi kedua kata kata tersebut menurut cerita ini. Manifestasi adalah salah satu proses dimana satu kesatuan terbelah menjadi banyak bagian.


Reinkarnasi, kamu pasti sudah lumrah dengan kata ini. Iya, Reinkarnasi adalah kehidupan selanjutnya dari manusia yang sudah mengalami mati, mereka di hidupkan kembali. Dan di beri lembaran hidup yang baru.


"Jakarta adalah masa lalu Magonda, dan Magonda adalah masa depan Jakarta." Lanjut Salwa.


"Akhirnya penulis mendengarkan permintaan semua orang, semua makhluk yang ia ciptakan."


"Manusia,"


"Kamu tahu apa yang di inginkan oleh semua manusia,"


"Bahagia."


"Semua orang berdoa untuk hidup bahagia, semua orang menginginkan bahagia, dan penulis pun mengabulkan itu."


"Dia menciptakan dunia yang hanya ada kebahagian selamanya, semua makhluk yang dia ciptakan disana. Akan bahagia selamanya. "


"Hewan dan Tumbuhan tak perlu di bunuh untuk di jadikan bahan makanan manusia."


"Karena manusia disana tidak membutuhkan makanan, minum, tidur, dan kebutuhan lainnya. Sangat berbeda dari Jakarta yang orang orangnya membutuhkan uang, makan, minum, tidur, pasangan, nafsu, dan cinta."


"Itulah kisah asal usul Magonda sebenarnya."


Lila dengan penuh kefokussan mendengarkan apa yang Salwa bicarakan, hal yang tidak masuk akal, dan tidak mudah untuk di cerna.


Tapi Lila tetap mendengarkan itu dan mencoba memahaminya, walaupun itu sangat sulit.


"Semua orang hidup sendiri sendiri, tidak membutuhkan orang lain, tidak menghiraukan orang lain. Tidak berhubungan, hanya hidup dengan kesenangan. Bahagia selamanya, keinginan mereka terkabul hanya dengan cukup di pikirkan dan-"


"Semua itu terwujud begitu saja, hadir di depan mata. Mereka hanya hidup menunggu dunia itu hancur, jumlah populasi mereka tidak bertambah, dan umur mereka tetap seperti itu. Tidak menua, ataupun memuda. Tidak ada bayi, manula, dan anak kecil."


"Yang ada hanya pemuda, pria wanita. Yang hidup tanpa memiliki perasaan apapun kecuali bahagia selamanya."


"Magonda, itulah dunia yang di ciptakan penulis. Entah itu adalah Surga, tempat semua orang bahagia selamanya. Atau Neraka, tempat mereka di siksa dengan cara di bahagiakan selamanya."


"Jangan tanyakan pertanyaan yang hendak kamu tanyakan kepada Tuhan, kepada makhluk ciptaannya. Karena kamu tidak akan mendapatkan apa apa, kamu hanya akan semakin bingung, semakin ragu apakah mereka jujur atau tidak, apakah yang mereka katakan benar atau tidak."


"Apakah yang di jelaskan mereka nyata atau tidak, kamu hanya akan menjadi seperti itu. Saat kamu bertanya seputar Tuhan, kepada mereka yang hanya makhluk ciptaannya."


"Simpan saja dulu! Nanti kalau kamu ketemu sama dia, baru tanyakan."


"Itupun kalo dia memang benar ada."


"Oke kembali ke cerita kita berdua, pria bahagia. Dan gadis sedih. Itu kita berdua."


"Kamu adalah rasa bahagia,"


"Sedangkan aku adalah rasa sedih."


"Kita adalah pasangan yang terpecah belah karena ke egoisan"


"Iya kita egois."


"Kamu ingin terusan terusan bahagia,"


"Sedangkan aku ingin terusan terusan sedih,"


"Dan alasan aku memintamu untuk jatuh cinta kepadaku"


"Kamu benar, aku menjebakmu karena aku ingin kamu mengalami kesedihan selamanya."


Akhirnya Salwa mengakui, dia mengakui segalanya. Dia mengakui kalo ia hendak membuat Lila terperangkap masuk ke dalam penjara kesedihan selamanya. Hal itu lantas membuat Lila benar benar terpukul, dan air matanya kembali menetes.


Air mata kecewa karena di bohongi oleh orang yang ia cintai, "Terus sekarang mau kamu apa? Aku sudah menggagalkan rencana busukmu, haruskah aku berpura pura bodoh dan tidak tahu apa apa? Lalu aku kembali ke Lila yang dulu?


"Lila yang tergila gila sama Salwa, dan berani mempertaruhkan kebahagiannya hanya demi wanita yang menggetarkan hatinya."


"Lila yang berani mengorbankan kehidupan Magonda yang bahagia selamanya, demi kehidupan Jakarta yang akan membuatnya mengalami kesedihan selamanya."


"Haruskah aku menjadi seperti itu."


"Dan akhirnya kamu adalah pemenangnya."


"Congratulations Salwa!" Jelas Lila dengan nada sedih.


"Nggak, aku nggak mau kamu jadi seperti itu."


"Aku hanya ingin kamu menjadi Lila yang menerima aku apa yang adanya."


"Dengan cara tidak membenci kesedihan tapi mencintai kesedihan."


"Karena itu aku, Salwa. " Balas Salwa di barengi air mata yang mengalir.


"Tapi aku tak bisa jatuh cinta, aku tak bisa mencintai kamu. Salwa!"


"Karena bila hal itu sampai terjadi, aku akan kehilangan kamu. Kamu akan mati dan meninggalkan aku seorang diri. Menanggung beban kesedihan selamanya,"


"Why ! Kenapa kamu tak bisa melakukan itu?" Salwa menangis.


"Karena aku mencintaimu,"


Deg! Satu tembakan baper masuk ke dalam hati Salwa.


"Aku tidak bisa kehilanganmu Salwa,"


"Kehilanganmu adalah salah satu ketakutan yang memiliki level tertinggi di hidupku, dan itu juga termasuk kematianmu sendiri."


"Jadi please hentikan! Kita masih bisa berteman,"


"Kita masih bisa bersama, walaupun tidak menjalin sebuah hubungan cinta. Tapi kita masih bisa bersama, disini. Di Magonda, ayolah itu impian yang paling menakjubkan bukan?"


"Kalo kamu tidak mencintaiku berarti aku gagal menjalani misiku"

__ADS_1


"Misi apa?" Lila bertanya.


"Misi membuatmu jatuh cinta."


Satu irisan luka menggores hati Lila, Luka itu menyakitkan dan membuat Lila kembali menangis.


"Why ! Kenapa kamu harus membuatku jatuh cinta kalo pada ujungnya kamu akan meninggalkanku sendirian dengan beban kesedihan selamanya."


"Karena itu yang di inginkan penulis, dia ingin cerita kita memiliki alur yang menyedihkan. Dimana si tokohnya mengalami hal tragis, yaitu di tinggalkan mati oleh orang yang ia cintai."


"Kenapa kamu menuruti kemauannya, memang benar dia yang menciptakan kita. Tapi seharusnya saat dia telah menciptakan makhluk ciptaannya, hidup makhluk itu tergantung apa yang di inginkan makhluk ciptaannya itu. Harusnya tanggung jawabnya usai sampai disitu, setelah menciptakan kita. Tugasnya selesai,"


"Dan sisanya biar kita yang urus bukan dia!"


"Bodoh, kamu bodoh! Kalo mengganggap tugas dia cuman sekedar menciptakan. Dia harus mengatur dan membuatkan sebuah cerita untuk makhluk yang ia ciptakan,"


"Karena itu yang terbaik,"


"Kenapa disebut yang terbaik."


"Sebuah buku akan menarik bila tedapat cerita di dalamnya, bukankan begitu?"


"Dan cerita yang di tulis di buku itu tentu saja adalah cerita yang bagus. Karena apa?"


"Karena penulis tahu, apa yang di butuhkan untuk kisahnya agar menjadi kisah yang menarik dan berharga."


"Begitu pun dia Tuhan, sang pencipta. Ciptaannya harusnya berharga, menarik karena memiliki hal yang terbaik. Dan tentu itu adalah hal yang di butuhkan oleh makhluknya."


"Alasan aku menerima tawarannya untuk membuat kamu jatuh cinta, karena dia berjanji akan memberikan imbalan dan itu adalah hal yang terbaik untuk kita berdua."


"Imbalan apa?" Lila kembali bertanya.


"Aku tidak bisa menjawabnya, karena kamu tidak setuju untuk jatuh cinta kepadaku."


"Oke, terserah! Lanjutkan saja omong kosongmu, aku tahu kamu cuman sedang berakting hanya untuk membuatku masuk kedalam perangkap kamu lagi "


"Aku jatuh cinta, kamu mati, aku sengsara, kamu bahagia. Aku kalah, dan kamu menang."


"Itukan yang kamu mau?" Lila terdengar menjengkelkan.


"Suatu hari kamu akan mengerti, percayalah!"


"Oke." Songong Lila.


"Lalu apa yang akan terjadi, saat aku tidak jatuh cinta kepada kamu."


"Kamu akan di hukum karena gagal menjalani misi, gitu?"


"Aku akan menghilang."


Deg! Lila kembali menangis. Ia terkejut bukan main, matanya sampai membulat sepenuhnya.


"Aku akan menghilang dan kamu akan bahagia, karena kamu melupakan kesedihan yang tidak di inginkan."


"Why ! Kenapa kamu mesti menghilang? Kenapa kamu gak bisa tinggal saja disini?"


"Di Magonda hal yang tidak di inginkan akan tidak ada, kesedihan tidak di inginkan disini, bukankah menurut kamu emang mestinya hal yang tidak di inginkan itu gak ada yah?"


"Aku menginginkan Salwa, aku tidak ingin kesedihan. Yang aku inginkan adalah Salwa."


"Tapi Salwa adalah kesedihan, dan Lila adalah rasa bahagia. Lila tidak ingin sedih."


Tangisan Lila mulai lagi, "Oke terserah kamu! Kalo kamu mau pergi terserah! Kalo kamu mau menghilang , bodo amat. Aku gak perduli! Sana pergi, aku tidak menginginkan Salwa. Aku harap Salwa menghilang selamanya dan gak bakal pernah kembali!" Lila asal ucap karena sangking marah.


Deg! Dia lupa kalo ini adalah Magonda. Setiap keinginan akan terkabul, sekalipun itu membuat seseorang untuk menghilang.


"Baiklah! Aku akan pergi dan menghilang sekarang," Salwa memalingkan wajahnya dan menangis.


"Kamu bisa berbalik badan, dan beri kesempatan untuk aku pergi!"


"Tapi aaaku nggak sungguh sungguh dengan itu, aku nggak sungguh sungguh ingin kamu hilang,"


"Tapi kamu udah mengucapkannya dan sebentar lagi aku akan menghilang!"


Tubuh Salwa mulai bertaburan, ia seperti debu yang siap di terbangkan oleh angin. Peristiwa itu dimulai dari kakinya.


"Pergilah sekarang! Balikan badanmu dan jangan lihat aku!"


"Nggak! Aku nggak mau. Aku akan membatalkan permintaan itu sekarang juga."


Lila memeluk tubuh Salwa erat, sambil mengusap rambutnya.


"Please! Lepaskan aku! Biarkan aku hilang dengan tenang!"


"Aku gamau kamu hilang! Aku gamau kamu hilang! Dengar! Aku udah membuat harapan. Jadi please! Kamu jangan hilang!" Lila berteriak kencang, sambil memeluk Salwa dengan erat.


Ia mengencangkan pelukannya sangking tak mau kehilangan orang yang ia sayang.


"Gak ada guna lagi! Aku tetap harus pergi."


"Ini pilihan yang kamu pilih, pilihan kedua dari jalan cerita kita. Gadis sedih dan pria bahagia,"


"Endingnya kini berubah, pria bahagia tidak menginginkan gadis sedih. Dan gadis sedih pun pergi," Bisik Salwa membuat isak tangis Lila kembali terputar.


"Kok gitu sih? Kok endingnya gak bahagia, bukankah di Magonda semua orang bakal bahagia selamanya. Tapi kenapa kita gak bisa bahagia seperti mereka!" Gerutu Lila.


Ia menatap Salwa dengan berlinang air mata, sementara Salwa memperlihatkan wajah pasrah. Sebagian tubuhnya sudah melebur dan terbang tertiup angin.


"Kan aku sudah bilang aku bukan penduduk Magonda,"


"Kamulah penduduk Magonda, aku bukan. Aku cuman masalalu kelam yang ingin kamu lupakan."


"Tenang saja! Kamu akan bahagia kok. Karena apa? Karena gadis sedih yang membawa kesedihan bentar lagi akan menghilang. Dan pria bahagia akan lupa dan kembali bahagia-"


"Selamanya."


Lila menangis, kata kata perpisahan yang tidak pantas untuk di katakan dalam rangka perpisahan. Harusnya Salwa mengatakan kata kata yang lebih manis lagi, bagaimana bisa ia mengatakan hal jahat seperti ini. Dan mengatakan harus melupakan orang yang ia cintai yang sebentar lagi akan pergi.


"Sekali lagi, maaf keberadaanku tidak inginkan tapi aku tetap ada."


"Aku dengan lancang membuatmu menderita, menyakitimu tanpa mengenalmu lebih dulu, aku asal menyakiti kamu begitu saja. Aku memang tak malu,"


"Maaf membuatmu sedih! Maaf membuatmu menderita! Maaf membuatmu tersiksa! Maaf aku ada padahal tidak di inginkan."


"Harusnya aku tidak ada, aku adalah kesedihan yang tak pernah ada yang menginginkan. "


"Maaf yah sekali lagi!"


"Semoga kamu bahagia, kesedihan mau pergi, izin pamit! Tenang aku gak bakalan kembali dan menyakiti."


"Magonda akan kembali seperti semula, dimana semua orang akan bahagia-"


"Selamanya!"


Blur, abu tubuh Salwa hilang seutuhnya. Kini Lila sedang memeluk udara yang tak nyata.


"Nggak! Salwaaaaaaa!"


"Kok gini! Harusnya nggak gini! Harusnya kita bahagia."


"Dasar penulis sialan, asal nulis cerita tanpa memikirkan nasib tokoh yang ada di dalamnya."


"Kamu nggak pantas disebut Tuhan! Mana mungkin Tuhan sejahat ini, mana mungkin Tuhan bisa melakukan hal yang sangat jahat seperti ini, Woy Penulis! KEMBALIKAN SALWA SEKARANG JUGA!"


"Beledag!" Tiba tiba saja petir menyambar.


Seketika langit malam yang cerah dan penuh bintang berubah menjadi hujan.


Hujan deras, sederas kesedihan Lila atas kepergiaan Salwa. Hujan yang membasuh air mata Lila, dan Lila berjalan pergi sambil tertawa gila "Hahahahhhahahahah!"

__ADS_1


Tawa yang terbahak bahak, dan sosok Lila pun menghilang dari bayangan hujan malam itu.


__ADS_2