Pria Yang Tak Bisa Jatuh Cinta Karena Dulunya Dia Adalah Seorang Wanita

Pria Yang Tak Bisa Jatuh Cinta Karena Dulunya Dia Adalah Seorang Wanita
CHAPTER 2 Pantaskah Kesedihan Di Bayar Oleh Kebahagian?


__ADS_3

Apa Yang Tidak Di Butuhkan, Bisa Ada Dan Nyata Bila Kita Menginginkannya. Di Magonda, prinsipnya tidak ada hal yang mereka butuhkan karena hidup mereka sudah sempurna 100%. Mereka tidak butuh tempat tinggal, tidur, makan, minum, dan mereka tidak bisa buang air.


Semua yang mereka inginkan akan terkabul begitu saja, hanya cukup dengan memikirkan hal itu di benak mereka. Semuanya akan jadi nyata, seolah hidup di antara teknologi modern kecerdasan buatan. Hanya cukup di pikiran semua akan jadi nyata. Contoh di pikiran seseorang, seseorang itu menginginkan televisi. Televisi itu akan ada dengan sendirinya. Walaupun tidak di butuhkan , tapi bila di inginkan hal yang tak ada. Akan ada. Itulah Magonda.


Hari telah malam. Pusat Kota Magonda masih ramai di padati penduduk Magonda yang bisa di katakan seperti orang gila, mengkhayal, tertawa, bahagia, sendirian, masing masing serta individualisme.


Keindahan malam hari selalu lebih indah di bandingkan suasana siang hari.


Gambaran itu juga belaku di Magonda, lampu lampu jalanan nan indah menerangi seisi kota. Gedung gedung tinggi 70 lantai terang bercahaya, Sorot cahaya yang berbeda, beda. Berwarna warni seperti pelangi, merah, kuning, hijau, di langit yang biru.


Layar TV digital yang terpasang di gedung degung, selalu memutar video profil Magonda. Dan terdengar juga suara "Magonda Adalah Surga Untuk Semua Orang Selamanya,"


"Magonda Is The Best" Itu Jargon yang selalu di serukan oleh suara wanita dengan nada datar, seperti suara oke google.


Suasana kota maju terpampang di Magonda, bagaimana yah cara menjelaskannya. Gedung gedung tinggi, megah, fasilitas publik yang tak kalah bagus. Ada bundaran yang di tengahnya ada air mancur, yang otomotasi melontarkan air susu ke udara. Sesuai jadwalnya, langit langit malam yang nampak seperti galaksi yang di penuhi segala bintang bintang sebagai lukisan yang menemani bulan.


Magonda, tak ada kota di dunia nyata ini yang bisa mengalahkan pesona Magonda.


WADAW, Maaf yah kok jadi sombong ehe.


Gambaran surga yang di janjikan bagi mereka yang sudah melewati kematian, itu tergambar di Kota Magonda yang modern. Penuh dengan teknologi canggih yang tak ada di bumi, seolah hidup di dunia robot yang di atur oleh kecerdasan buatan.


Dimana segala sesuatu yang ada di pikiran manusia bisa jadi nyata.


Lila, dia pergi ke lahan kosong yang ada di pusat Magonda. Tempat tinggal mereka saling berdekatan dengan orang yang tinggal juga di sana, seolah mereka adalah tetangga. Tapi hanya sekedar tinggal bersebelahan.


Tidak saling menyapa, tidak saling peduli, tidak saling membenci, hidup masing masing dan mandiri. Hanya tempat tinggal mereka yang saling berdekatan itu saja tapi mereka tidak berhubungan, karena seperti yang sudah di jelaskan bila mereka tidak membutuhkan orang lain.


Mereka sudah bahagia sendirian, dan mereka tidak pernah memiliki pemikiran untuk berhubungan dengan orang lain selain diri mereka sendiri.


Oke, mari kita lanjutkan. Lahan kosong yang merupakan tempat apartemen megah yang biasa Lila tinggali. Kini seperti lahan kosong yang tidak ada bangunan apapun sama sekali, hanya jalanan kosong yang luas. Dan saat Lila kembali, pikiran Lila mulai membentuk sebuah halusinasi yang kemudian menjadi nyata.


Berdirilah sebuah apartemen hotel secara perlahan, dari mulai awal berdiri. Bertambah tiap tiap satu lantai, sampa kemudian ta-da. Satu apartemen tingkat yang tidak memiliki puncak karena menyentuh awan telah terbangun begitu saja, di lahan kosong itu.


Dia pun masuk ke terasnya yang luas, mirip lobi hotel bintang lima. Dimana memiliki pintu yang otomatis terbuka, begitu kaki Lila menginjakan kakinya ke depan pintu apartemen milikinya.


Tanpa sungkan ia langsung masuk begitu saja, ya yowes toh ini semua miliknya.


Seolah Sultan, semua yang ada di dalam isi apartemen itu sesuai apa yang Lila imajinasikan. Begitu masuk, ubinnya terbuat dari permata mengkilat. Tapi tidak licin, arsitektur dan desain interiornya juga seolah di buat oleh arsitek ternama. Di mana semua hal sudah terpasang dengan komposisi terbaik, guci emas sebagai vas bunga.


Bunga harum yang tumbuh sebagai pengganti pengharum ruangan, angin sejuk dari AC. Karena sekarang malam, ruangan itu terasa hangat dan nyaman untuk di tinggali.


Pas pertama kali menginjakan ke ruang tamu, ada sofa dari awan yang empuk. Aquarium yang berisi keindahan laut beserta hewan di dalamnya, TV digital yang segede gaban. Kostumnya berubah menjadi baju hangat warna putih, celana santai warna hitam, sepatu putih bermerek yang Lila gunakan juga berubah menjadi sandal bulu rumahan yang empuk dan nyaman.


Berubah begitu saja, cling!


Dan berubah, hal yang pertama kali Lila lakukan adalah datang ke dapur yang desain interior nya juga begitu megah, mewah, dan lengkap. Kitchen set paling lengkap, meja makan ala ala kerajaan, dan di sana itu ada kulkas dengan banyak pintu.


Di balik setiap pintu kulkas itu terdapat hal yang ingin Lila dapatkan, kini ia ingin meminum sesuatu yang menyegarkan. Dan saat di buka, beuh. Uap dinginnya yang tidak melukai kulit, aromanya yang wangi. Ga ada tandingannya deh dengan kulkas kulkas yang lain.


Tangan Lila mengambil botol Vodka, lalu ia menyimpannya di atas meja rak kitchen. Dengan ajaib botol itu terbuka bus! begitu saja lalu gelas kaca bersih dari bahan kaca terbaik yang ada di dunia.


Datang tanpa di suruh, minuman anggur itu tertuang ke gelas bundar dengan pegangan kaca. Terisilah anggur di dalamnya. Anggur berwarna merah pekat, yang rasanya tidak memabukkan akan tetapi menenangkan si peminumnya.


Lalu ia pergi ke kamar mandi, yang luas banget. Fasilitasnya lengkap ada shower, bathup, Ingin mandi air hangat. Ataupun mandi air dingin bisa, mirip kamar mandi hotel bintang lima. Yang lengkap, bersih, wangi, rapih, dan tertata.


Pas Lila masuk ke kamar mandi, kostumnya berubah lagi menjadi handuk baju dari sutra yang lembut. Berbulu hangat seperti bulu Domba, nyaman di gunakan. Sendalnya juga menghilang begitu saja, kini ia hendak berendam di bathub yang sudah terisi otomatis oleh keran air emas yang mengocorkan air hangat.


Ia masuk begitu saja, ke dalam bathub tanpa membuka terlebih dahulu handuk baju yang ia pakai. Karena pas ia masuk dan merendam tubuhnya yang seksi , selonjoran santai di bathub itu. Lalu dari langit munculah hujan kelopak bunga bunga mawar berwarna merah, kelopak bunga bunga mawar itu memenuhi air bathub seolah menyelimuti tubuh Lila.


Anggur yang dari tadi ia pegang di tangannya, seolah otomatis menyuapi dan masuk ke dalam mulut Lila yang menganga karena sebagai bentuk kalau ia ingin anggur itu masuk. Sambil meminum anggur di temani pemandangan suasana malam, yang terpamer dari jendela kaca yang tembus pandang ke luar. Ia berada di lantai atas yang setara dengan gedung gedung tinggi yang kelap kelip memancarkan remang remang cahaya lampu.


Dan musik dari fonotograf terputar otomatis. Memutar piring hitam kaset lagu, meniupkan dari speaker emas yang mengkilat. Menghasilkan alunan musik indah yang menenangkan jiwa.


Itu adalah gambaran suasana malam yang indah di Magonda, semua hal yang ada di pikiran setiap manusia bisa berubah nyata. Tidak peduli itu adalah hal yang di butuhkan atau tidak, selagi pemilik pikiran itu mau akan sesuatu hal. Hal itu pasti terwujud begitu saja. Tanpa di pinta, tanpa perlu menunggu lama, tanpa harus usaha, langsung ada begitu saja di depan mata.

__ADS_1


Magonda Surga Dunia, Tempat Manusia Hidup Bahagia Selamanya.


Esok Hari, Apa yang di Lakukan Lila. Lila kembali kesana, untuk mengetahui apakah ia akan bertemu lagi dengan Salwa. Di stasiun KRL hanya terdapat kereta satu satunya yang melaju kemanapun penumpang itu pergi.


Lila bertaruh apakah ia bisa dengan sengaja bertemu dengan orang yang ingin ia temui di Magonda. Setiap kali kereta itu berhenti, dan memuntahkan penumpang yang hendak turun. Mata Lila menjelajahi satu persatu penumpang yang banyaknya bukan main.


Dia menaikan level kejelian matanya, untuk menemukan Salwa. Satu kali ia gagal, Salwa tak ada. Kedua kali, hasilnya masih sama. Ia tidak menemukan Salwa, sampai hitungan yang sudah tidak bisa di hitung oleh jari. Lila masih belum bertemu dengan Salwa.


Hari mulai berlalu, rasa semangat mulai memadam posisinya di gantikan oleh kata menyerah. Makhluk Langka Magonda yang memiliki pikiran dan perasaan selain bahagia, mulai merelakan harapannya yang hampir kandas.


"Huuuft!" Hembusan nafas berat.


"Kalo itu yang kamu inginkan, kita akan bertemu lagi." Suara nan indah dengan sekejap terdengar di telinga Lila.


Benarkah? Dengan mengharapkan Salwa datang, benarkah ia akan muncul begitu saja. Kebimbangan mulai beragumen tapi tak ada salahnya bila untuk mencoba.


"Oke! Tutup mata. Salwa aku harap kamu ada, aku harap kita bertemu lagi sekarang. Muncullah Salwa!" Mantra pemanggil itu sepertinya tidak berhasil.


"Ish! ****." Lila mengumpat dirinya sendiri.


Lalu ia pun mulai berbalik untuk pergi, sekejap kereta KRL muncul. Lantas ia pun berhenti, dug! Dug! Dug! Slowmo romantis saat Lila berbalik ke arah belakang.


Asap kereta mengebul saat pintu kereta KRL itu terbuka. Nampak lah seorang gadis cantik, berambut panjang, memakai gaun pendek di atas lutut. Rambutnya di kuncir kecil seperti telinga Mickey Mouse.


Lila mengerjap, itu Salwa. Seolah bidadari yang datang dari Surga, bukan Surga. Lebih tepat Bidadari yang turun dari kereta.


Flatshoes putihnya menginjakkan ke tanah, senyumannya mulai mengembang saat sadar yang ada di depannya adalah Lila. Ia melambaikan tangannya, sementara Lila terngaga kagum.


Salwa berjalan mendekati Lila sambil memegang tali tas soren yang ia bawa.


"Hai!"


"I Love You," Lagi lagi Lila mengucapkan kata itu dengan enteng.


"Hahahaha! Again?" Balas Salwa sambil cekikikan.


"Gak papa kali, asal jangan keseringan bilang I Love You, ntar jadi biasa aja. Nggak mempan, ntar orang yang dengernya malah jadi bosen. Karena keseringan denger kata I Love You,"


"Terus kalo udah bosen, harus di ganti pake apa?"


"Banyak. Pegangan tangan, Pelukan, ciuman, bercinta mungkin."


"Emang mau?" Dengan polos Lila mengatakan hal itu.


"Eum, nggak tahu. Belum kepikiran. Ntar lagi yah!"


"Sekarang mau ikut aku?"


"Kemana?"


"Pantai."


Tak perlu menunggu waktu lama untuk menyanggupi permintaan dari seorang wanita yang membuat Lila mengatakan kata I Love You di pertemuan pertama. Seolah cinta pada pandangan pertama. Tapi Lila belum merasakan rasa cinta itu, begitu pun dengan Salwa. Karena di Magonda mereka tidak mengenal adanya cinta.


Mungkin mereka adalah orang pertama yang akan merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta, apakah jatuh cinta termasuk ke dalam kebahagian. Bila memang masuk ke dalam kebahagian, lantas kenapa di Magonda tidak di perbolehkan keberadaan cinta.


Karena cinta termasuk kedalam kesedihan.


Full Day, mereka habiskan berduaan. Berjalan di pasir putih di temanin deburan ombak, semilir angin dari goyangan daun kelapa. Pantai seolah milik mereka berdua, tak ada orang selain mereka berdua yang ada di sana.


Sore itu kebetulan mereka bisa menyaksikan detik detik tenggelamnya Matahari, di temani obrolan yang tak penting.


"Kenapa Matahari mesti pergi? Kenapa dia tidak tinggal saja seharian. Kalau alasannya untuk berganti hari menjadi malam, kurasa itu tidak berguna. Sama sama saja kok, yang membedakan cuman gelap,"


"Lagipula mereka disini gak perlu tidur kan? Kenapa mesti ada siang dan malam?" Tanya Lila

__ADS_1


"Matahari juga capek, ia butuh pengganti. Ia gak bisa seharian tinggal, kalau dia terus terusan tinggal dan melaksanakan tugasnya. Yaitu menerangi hari, ia juga pasti bosan, capek, jenuh, dia juga butuh istirahat dan perlu hal hal yang baru."


"Kamu capek gak?" Salwa menoleh.


"Maksudnya?"


"Iya kamu capek gak terus terusan bahagia, kamu bosan gak terus terusan bahagia, kamu merasa hidupmu datar gak? Karena yang kamu rasakan disini cuman bahagia?"


Sebelum menjawab pertanyaan itu, Sang Mentari telah pergi lebih dahulu. Sesaat keadaan gelap, tak lama cahaya muncul dari lampu lampu yang menyala otomatis menyinari seisi pantai.


Sorot cahaya blonde dari bohlam bohlam lampu yang mengapung di atas mereka dengan bantuan kabel yang membelit dari ujung ke ujung. Seolah bohlam lampu lonjong yang jumlahnya banyak itu adalah bintang, lalu hiasan Tumblr berwarna biru, hijau, ungu, kuning, putih yang melilit batang batang pohon kelapa. Lalu gedung gedung kota yang ada di belakang mereka juga menyala.


Lila tak tahu harus menjawab apa, pertanyaan yang sangat rumit. Apalagi yang di butuhkan manusia selain bahagia?


"Entah aku gak tahu, kurasa bahagia sudah termasuk tujuan untuk semua orang."


"Lantas apa artinya malam bagimu?" Salwa kembali bertanya.


"Bila malam hanyalah sebuah kegelapan, kamu salah. Malam bukan sekedar kegelapan tapi ada keindahan juga di balik adanya kegelapan."


"Kesedihan, menurutmu apakah semua kesedihan itu hanyalah hal yang menyakitkan?"


"Aku juga penasaran dengan kesedihan, karena aku belum pernah merasakan hal itu."


Lalu Salwa berjalan lebih mendekat, tinggi badannya yang beda. Salwa lebih pendek tentunya, membuat Lila sedikit menunduk untuk melihat wajah cantik dari Salwa. Struktur wajah yang nyaris sempurna, hidung kelinci yang agak mancung, mata belo, bibir tipis, alis hitamnya pas, warna bibirnya merah muda sempurna, telinga lucu, rambut yang wangi.


Saat wajah mereka saling berdekatan, hawa nafasnya begitu wangi dan enak di cium. Getaran hati mulai berbunyi di dada Lila.


"Apakah kamu penasaran dengan kesedihan? Kamu pengen tahu rasanya gimana?"


"Kita bisa merasakannya."


"Caranya?" Lila bertanya.


"Dengan jatuh cinta."


Lalu Bibir Lila mulai menyosor, mendekat. Jarinya menyentuh bibir Salwa yang lembut dan bersinar seperti di olesi oleh lipgloss.


"Apakah kamu yakin? Bagaimana kalo kesedihan itu emang hal yang paling buruk yang ada di dunia ini, makanya Magonda meniadakan rasa itu, bagaimana kalo kesedihan itu adalah hal yang paling di benci oleh manusia? Kita gak tahu rasa itu akan membuat kita tersiksa, nyaman, atau bagaimana? "


"Hal baru memang sangat menggoda, sangat menarik dan di ingin di coba, tapi kamu tahu kan? Bagaimana konsekuensi bagi mereka yang jatuh cinta di Magonda?"


"Kesedihan Selamanya, kamu yakin akan menukar kebahagian abadi dengan kesedian yang abadi. Bagaimana kalau kita ingin kembali kepada kebahagian, tapi kita tidak bisa? Karena kita sudah memilih untuk mengalami kesedihan untuk selamanya?"


"Mari kita pikirkan terlebih dahulu! Sebelum memutuskan sesuatu, apa yang di pertaruhkan untuk itu. Bukan hal yang biasa saja, tapi begitu berharga oke?" Lila memegangi pipi tirusnya Salwa sambil berkata dengan sangat serius.


Matanya berbinar, menandakan kalo ia tidak sedang main main dengan ucapan yang ia katakan.


Salwa menyingkir, agak menjauh. Dan melepaskan belaian tangan Lila yang lembut, menyentuh pipinya, rambutnya bibirnya. Dan perasaannya mulai terguncang karena efek dari pesona Lila yang menawan.


"Oke! Mari kita pikirkan soal itu, pikirkan dengan matang matang. Tapi aku tak punya cukup waktu, aku mau mencoba hal yang belum pernah aku rasakan. Yaitu kesedihan, aku begitu penasaran akan hal itu. Tapi aku tak bisa mewujudkan hal itu sendirian,"


"Karena jatuh cinta tidak bisa dilakukan oleh seorang diri, jatuh cinta adalah kerja sama. Maka dari itu aku meminta kamu."


"Lila! Kamu harus memutuskan untuk membantuku merasakan kesedihan atau tidak?"


"Aku tunggu kamu besok! Di Taman Pusat Magonda. Aku pulang sendirian oke? Jadi jangan mengikuti aku di belakang? Kamu bisa pergi setelah aku pergi!"


"Sampai jumpa Lila!" Rasa kecewa terlukis sangat jelas di wajah Salwa.


Tak ada yang bisa dilakukan selain menuruti Salwa, merelakan dia pergi sendirian. Meninggalkan Lila seorang diri dengan rasa yang bersalah.


Lila merasa serba salah, dan pengecut. Seorang lelaki harusnya berani mempertaruhkan segalanya demi wanita yang ia cintai, Salwa tidak meminta nyawa kepada Lila. Salwa hanya ingin merasakan kesedihan bersama Lila, apakah Lila akan memutuskan untuk bersedih bersama Salwa. Kenapa Lila takut akan kesedihan.


Di sudut pandang Lila mungkin kesedihan adalah hal yang bukan sekedar bahan taruhan. Karena yang di korbankan adalah kebahagian, Lila juga sama menginginkan warna baru di hidupnya. Bahagia terusa terasa flat dan membosankan, tapi apakah itu pilihan yang tepat untuk mempertahankan takdir bahagia selamanya dengan kesedihan abadi.

__ADS_1


Apakah kesedihan pantas di bayar dengan kebahagian, yang mana lebih baik kesedihan atau kebahagian?


__ADS_2