
Petualangan Lila di dunia yang bernama Jakarta, semakin berat. Hari esok, jauh lebih sulit di bandingkan kemarin. Lila mengalami berbagai macam cobaan yang bertubi tubi, dari mulai di keroyok oleh geng pengamen lain.
"Bug!Bug!Bug!" pukulan dan tendangan mereka para ladies terminal.
Lila yang hanya seorang diri, di keroyok oleh mereka yang jumlahnya kira kira ada lima orang. Dari fisiknya saja sudah kalah, Lila yang berada di tubuh Salwa gadis lemah dan anggun. Berbeda dengan mereka para tikus liar bertato, bernyali macan, dan tentunya beraninya keroyokan.
Lila berusaha menutupi wajahnya dengan kedua tangan yang ia rapatkan dan sikunya ia tompang sebagai alat perlindungan. Lila kewalahan berkali kali pukulan terus menerus berdatangan menyakiti perutnya, injakan injakan kaki dari mereka berlima yang berdiri di atas. Sementara Lila yang terbaring lemah di aspal jalanan.
Tempat yang strategis dan cocok untuk dijadikan bahan pengeroyokan, gang sempit, sepi, dan jarang orang berlalu lalang datang untuk sekedar menggunakan gang ini yang terkesan menakutkan dan rawan kejahatan.
Tubuh Lila yang terbaring lemah, wajah babak belur penuh darah, lantas ia di angkat oleh salah satu dari kelima ladies terminal sekaligus penguasa pasar itu.
"Awas yah! Kalo loh sampe berani ngamen lagi di wilayah kita."
"Abis loh!" dia menondongkan tonjokan.
"Yaudah cus guys! Ini udah cukup. Lain kali. Kalo Loh! Berani ngamen di wilayah kita lagi, loh bakalan lebih menderita dari ini!"
"Jadi saran gue, dengerin itu cantik!"
Ancaman orang itu, sementara yang lain memangku tangan dan menatap arogan. Seolah mereka adalah jendral yang berkuasa atas segalanya, dasar preman jalanan. Lila terduduk tak berdaya bersandar di tembok yang di penuhi coretan gravity.
Lalu mereka meludahi Lila, "Hoaks Cuih!"
"Loh lebih cocok jadi ***** daripada pengamen!" itu adalah umpatan mereka sebelum mereka pergi, meninggalkan Lila yang terjebak di tubuh Salwa.
Bajunya kotor, di penuhi bekas injakan sepatu. Wajahnya udah ancur dan bengkak karena bekas tonjokan. Ia mengusap Ludah yang menempel di pipinya. Dengan jijik tangannya menyingkirkan gumpalan air liur itu dari wajah malangnya.
Lila masih sanggup berdiri dan berjalan pincang, hari telah berada di penghujung hari. Sore orange yang mulai redup karena matahari sebentar lagi akan pergi.
Dijalan kereta api yang sepi, di kelilingi sampah yang berserakan. Banyak orang gila telanjang, dan gembel gembel tidur beralaskan koran.
Hari ini ia masih di beri rezeki, ia masih bisa membeli satu kantong nasi bungkus untuk di bawa pulang. Sambil menenteng keresek hitam dan membawa ukulele di sebelah tangannya yang masih kosong.
Nasi bungkus yang di beli dengan harga murah, dengan lauk pauk seadanya, dan tentu saja porsi nasi yang tidak cukup dijadikan pengganjal lapar untuk perut orang dewasa.
Di pertengahan jalan, menuju rumah. Melewati jalur kereta api yang sepi. Ia bertemu dengan seorang ibu gelandangan yang tinggalnya di belakang gedung pertokoan. Dengan beralaskan selembar koran, ia memangku seorang anak balita yang menangis kencang.
Pemandangan menyedihkan, ada satu sayatan yang menusuk hati Lila.
"Tidur yah nak! Nanti rasa laparnya pasti hilang kok sayang,"
"Ibu nyanyikan lagu nina bobo yah , biar adek bisa tidur nyenyak!"
"Nina Bobo oh Nina Bobo, kalo tidak bobo di gigit nyamuk."
Lila yang terpaku, membatu di tempat ia berdiri. Satu tetesan air mata terjatuh,
"Bila akan mengalami kesusahan di dunia ini, kenapa tetap di ciptakan. Lebih baik mereka tidak di beri kehidupan, dunia ini terlalu kejam untuk mereka yang tidak memiliki apa apa."
"Hanya mereka yang terpilih yang bisa menjalani kehidupan di dunia ini," Hati Lila berbicara.
"Tapi hanya mereka yang beruntung yang bisa mendapatkan kehidupan yang terbaik di dunia ini."
Setelah menghapus tangisnya, Lila lantas menghampiri seorang ibu yang memakai pakaian compang camping. Dan tidak layak pakai.
"Ambil ini Bu! Berikan kepada anak ibu! Dengan membuatnya tertidur, itu tidak cukup untuk menghilangkan rasa laparnya, rasa lapar harus di bayar dengan makanan. Bukan tidur!"
"Terima kasih, walaupun dalam keadaan hancur. Ibu masih mempertahankan anak ibu sendiri, tetaplah seperti ini. Sayangi dia! Suatu hari kebahagian akan menyapa untuk ibu dan anak ibu."
__ADS_1
"Karena kalian berdua masih ada jatah kebahagian belum kalian dapatkan."
Sang ibu tak bisa berkata apapun selain menagis dan bersyukur mengucapkan terima kasih kepada Lila. Lila yang keadaannya babak belur, Lila yang kelaparan, tapi ia tetap rela berkorban untuk menyumbangkan makanan yang hanya itu yang dia punya. Kepada orang lain.
Sedangkan kamu yang berada? Kamu kemana? Bila masih bisa membantu! Bantulah mereka. Bayangkan bila kamu di posisi mereka yang membutuhkan tangan yang terurai memberikan bantuan.
Untuk kalian yang masih mencari perhatian padahal masih mampu dan tak layak untuk di bantu. Malulah! Ada orang yang lebih parah dari kamu.
Selalu ada kebahagian yang tercipta saat membantu orang lain, entah seperti apa bentuknya. Hanya sekedar melihat anak itu lahap menyantap makanan yang seharusnya menjadi makanan Lila malam ini.
Satu senyuman terbentuk, di wajah Lila. Padahal sekarang kebahagian adalah hal yang haram untuk Lila, Hal yang mustahil Lila rasakan. Tapi saat ia menolong orang lain, kebahagian orang yang ia tolong juga menolong Lila. Dengan membagi sedikit kebahagian yang ia rasakan saat Lila memberikan makanan.
***
Hari yang berat, Lila kembali ke rumah kumuh tempat ia mengontrak. Dan ternyata sesampainya disana, barang barangnya telah di seret paksa keluar oleh pemilik kontrakan yang sudah kehilangan batas kesabaran karena Lila yang tak kunjung membayar tunggakan kontrakan.
"Bu! Please Bu! Jangan usir Saya! Beri saya sedikit waktu! Saya pasti bayar kok!" Salwa memelas.
"Nggak Bisa Salwa! Gue Udah cukup baik yah sama loh selama ini, jangan mentang mentang nih kontarkan mirip kadang bebek loh bisa seenaknya tinggal tanpa loh mesti bayar."
"Dan asal loh tau, udah ada yang mau ngisi nih kontrakan besok! Dan dia nggak bakalan kaya loh, tukang ngutang!"
"Loh sekarang harus pergi dari sini, bawa barang barang rongsokan loh sekalian! Loh resmi jadi gembel yang tinggal di jalanan mulai malam ini "
"Jadi, Bye!" si ibu rempong itu membuka kipasnya dan mengipasi dirinya manja.
Apa yang harus dilakukan Lila, bahkan sekarang ia tak punya tempat untuk di tinggali. Bahkan sepeser uang untuk membeli makan malam, saja ia tak punya. Keadaan raganya yang rapuh bekas di keroyok tadi siang. Dan sekarang ia tidak mempunyai tempat untuk beristirahat, begitu malang dan sengsaranya hidupnya disini.
Sekarang ia mulai menyesal meninggalkan Magonda, ia sudah merasakan yang namanya kesedihan. Dan kesengsaraan ternyata itu begitu menyakitkan, pantas saja semua orang tidak menyukai kesedihan. Orang hobinya nyakitin, siapa yang mau menemani sesuatu yang menyakiti.
Bahkan untuk bersama orang yang menyakiti saja, harus di pikir beribu ribu kali untuk bersamanya. Ia masih belum menemukan Salwa yang terjebak di raga Lila, dengan terpaksa ia pergi dan merantau mencari tempat untuk di singgahi.
Ia mengusap air matanya dengan tangan kotor yang belum sempat ia cuci , " Ternyata seperti ini rasanya kesedihan, dan ternyata tangisan adalah bentuk ungkapan dari kesedihan. Rasanya begitu menyakitkan, dan menyiksa, aku sadar kenapa kesedihan tidak ada di Magonda. Karena tidak ada menginginkannya, kecuali kita berdua Salwa kamu dimana?" Batin Lila mengeluh.
Ia mendongak untuk melihat langit malam yang ternyata di penuhi bintang bintang. Perasaan khawatir, dan penasaran tentang keberadaannya yang entah dimana, sedang apa, dan apakah dia baik baik saja. Lila berharap kesedihannya tidak seberapa dengan kesedihan yang ia alami di dunia ini.
"Semoga hidupmu lebih beruntung Salwa! Aku akan mencarimu, dan aku akan menemukanmu. "
"I Love You! Aku akan mengatakan itu saat kita bertemu lagi!"
****
Pagi hari, Lila tidur di taman kota. Dekat Monas, disana ada bangku taman. Yang Lila gunakan sebagai tempat tidurnya semalaman, wajahnya sengaja di tutupi koran agar tidak terlihat seperti gelandangan.
"Mbak! Mbak! Bangun Mbak!" Satpol PP membangunkan Lila.
"Anda tidak boleh tidur di taman ini, mbak ini mengganggu ketertiban umum. Anda harus ikut kami ke kantor sekarang juga!"
Mendengar hal itu Lila terkejut bukan main, ia harus mencari cara agar bisa kabur dari sini.
"Oi! Pak ada pencuri!" teriak Lila tiba tiba untuk mengelabuhi para petugas satpol PP.
Satpol PP itu menengok ke arah yang Lila tunjukkan.
"Dan berikitiktik!" ia langsung berlari dengan kencang.
Bahkan sampai melupakan tas gendong bawaannya, dan juga gitar ukulele yang ia punya.
"Woi! Mbak jangan kabur!" Satpol PP dengan sigap langsung mengejar Lila yang tiba tiba berlari sekencang kilat. Padahal semalam tubuhnya masih dalam keadaan sekarat.
__ADS_1
"Pripit!" bunyi peluit di barengi oleh acungan tongkat warna hitam yang di pakai sebagai perlindungan security.
Apa pun yang terjadi Salwa tak boleh berhenti untuk berlari, ia tak boleh sampai tertangkap oleh bapak satpol pp yang mengejarnya di belakang.
Disana ia berpapasan dengan bis yang sedang ngetem untuk menaikan para penumpang. Ini kesempatannya. Bis itu hendak melaju.
"Dan set!" Lila langsung melompat dan meraih pintu bis yang hampir tertutup.
Itu adalah bis Damri, Lila berhasil masuk ke dalam bus itu. Ia duduk di salah satu bangku kosong yang ada di dalam bus tersebut.
"Huh huuuuu!" ia menstabilkan nafasnya.
Dan setelah nafasnya stabil ia pun duduk senyaman mungkin, para penumpang lain menatapnya julid. Saat di tengah perjalanan, Lila menyadari tas dan ukulele nya ketinggalan di taman tempat ia bermalam semalam.
"Oh my good! Saya lupa. Bagaimana ini? ukulele dan tas itu, adalah satu satunya barang yang aku punya."
"Dan bodohnya aku malah kehilangan itu,"
"Bodoh! Bodoh!" Lila menjambak rambut Salwa dan ia membenturkannya ke kaca jendela bus.
"Bodoh! Lila kamu bodoh sekali!"
"Sekarang bagaimana kamu bisa hidup tanpa ukulele, kamu gak bisa ngamen lagi!"
Semua orang menatap sinis dan mengganggap Lila yang sedang bicara sendiri itu adalah orang stress yang bentar lagi gila.
Lila frustasi ia masih membenturkan kepalanya perlahan ke jendela. Dan ia pun melihat seseorang, mobil sport warna merah yang terparkir di pinggir jalan, di temani kebulan asap dari mesin mobil yang sedang dalam kerusakan alias mogok.
"Sayang banget! Mobil sebagus itu masih bisa mogok di dunia ini, padahal kalo di Magonda. Mungkin mobil itu akan jadi salah satu mobil terbagus disana."
Lila memanyunkan bibirnya, menatap mobil sport merek lamborghini berwarna merah yang sedang mogok di pinggir jalan dengan tatapan iba. Ia belum melihat wajah orang yang punya mobil itu, karena orang itu dalam keadaan membelakangi.
Bus pun berhenti, dan suara hentakan dari sepatu pentopel mengkilat warna hitam. Di barengi sosok lelaki memakai pakaian formal kantoran dan juga berjas hitam modis serta berdasi rapih.
Lila yang tadinya sempat mengantuk, tiba tiba melotot dengan sempurna saat melihat orang itu adalah Dia. Raga Lila, wajah Lila, apakah itu kamu Salwa.
Lila pun beranjak dari kursi bus itu, mendekat ke cowok tampan. Yang rambutnya klimis karena di olesi gel rambut.
Cowok itu menatap dengan tatapan cool, wangi tubuhnya menggoda.
Saat mereka bertemu, cewek kucel pengamen. Dengan seorang pemuda pengusaha pemilik kantor yang gagah dan menawan. Di dalam Bus Damri, dan terdengarlah kalimat.
"I Love You,"
Hal itu lantas menjadikan pusat perhatian para penumpang, saat gadis tikus got tiba tiba mengatakan sebuah ungkapan cinta kepada seorang ceo.
"Excuse me, Sorry! Aku gak ngerti maksud kamu itu apa?"
"Ini Aku Lila! Kamu Salwa kan?" mata mereka saling bertemu sebelum pedal gas bus di nyalakan dan bus pun melaju tanpa memberitahu.
Dan brug!
Lila hampir terjatuh, dan Sssst!
Salwa yang terjebak di raga Lila langsung menangkapnya dengan sigap.
Ia memeluknya, agar tidak terjatuh. Salwa berhasil menangkap Lila sebelum ia benar benar terjatuh.
"Hai Lila! I Love too."
__ADS_1
Moment romantis itu menjadi salah satu ke uwuan di Bus Damri kala itu. Penumpang dibuat baper, apakah pembaca juga baper? Jangan dulu baper! Karena chapter selanjutnya mungkin kalian akan kecewa ehe.