
Sesampainya di kamar, Lila tak percaya dengan apa yang terjadi kepadanya hari ini. Akhirnya dia bisa merasakan ciuman pertamanya yang ternyata rasanya gak bisa di jelaskan. Begitu nikmat, dan membuat hati meletup letup seperti brondong jagung, Lila sangat suka frekuensi getaran hatinya saat ia dan Salwa berciuman.
Geli geli gimana gitu? Di kamarnya ia memegang bibirnya. Menggigit bibir bagian bawahnya yang terasa gatal, huuft! Helaan nafas bahagia. Sebelum tubuhnya benar benar terjatuh kedalam kasur ranjang yang begitu empuk.
Otomatis pakaiannya berubah kostum menjadi piyama tidur, dan lampu yang ada di kamarnya padam. Selamat malam! Salwa.
Di pertengahan tidurnya yang nyenyak, terdengar bisikan. "Lila Anggara, Anda secara resmi telah di drop out dari Magonda. Karena anda telah melanggar aturan yaitu jatuh cinta,"
"Anda secara resmi dari mulai malam ini, bukan warga Magonda lagi."
"Hah!" Isak nafas mimpi buruk.
Lila terbangun, sosok hitam. Mata menyala merah sedang berdiri membelakangi jendela kamarnya, ia bertudung hitam . Dan berjubah hitam panjang sampai menutupi seluruh kakinya, jubahnya terurai ke bawah tempat ia berpijak.
Sosok itu tak berwajah, dan tak memiliki mulut. Tapi ia bisa bersuara, suaranya menyeramkan. Seperti suara Bentar Guntur di kala hujan deras, menggelegar dan bikin hati terintimidasi ketakutan.
Ia membawa senjata cerulit, malaikat maut. Yang terbuat dari tulang belulang makhluk hidup yang di satu padukan menjadi satu.
Ia terperanjat dari ranjangnya.
"Siapa kamu?"
"Apakah yang kamu lakukan disini?"
Laganya ketakutan.
"Seharusnya Anda tidak melakukan hal yang akan anda sesali! Selamat tinggal karena sekarang Anda bukan bagian dari kami lagi."
"Brug!" Tubuh Lila langsung terdorong sampai menembus tembok. Temboknya roboh, raga Lila terjatuh dari apartemen yang tingginya 70 tingkat.
Angin kencang saat ia terjatuh, membuat bibirnya brrr! Tergoyahkan. Raganya melayang di udara sampai ia
"Gejred!" Terjatuh menghantam bumi sampai hancur berkeping berkeping.
"Hah!" Ia terbangun di kamar asing.
Kamar yang sangat jauh berbeda, dari kamarnya yang megah dan tidak tertandingi. Kamar ini begitu sempit, berantakan, bobrok, gelap, dan kotor.
Dimana ini? Bahkan kasurnya lebih mirip batu saking kerasnya.
Ia membuka tirai, hitam. Dan nampaklah desa yang ada di lautan sampah.
"Dimana Aku? Oh Tuhan! Kok saya bisa ada di sini?" Panik Lila.
Dan saat ia hendak pergi ke keluar kamar ini, ia berpapasan dengan cermin berdebu yang menempel di lemari kayu yang bobrok. Cermin itu masih bisa menampakkan kondisi tubuh orang yang ada di depan cermin itu.
Tubuh kekarnya, berubah menjadi kurus langsing. Tunggu kok lekuk tubuhnya aneh yah, ada rambut panjang yang terurai di belakang, ada dua benjolan bulat di dada, kakinya begitu mulus tidak berbulu.
Saat itu dia mengenakan pakaian yang tak layak, yaitu celana legging pendek di atas lutut warna ijo tua. Dan tengtop hitam. Tangan kecilnya mengusap debu yang menempel di permukaan kaca itu.
"Decit cermin berbunyi."
"What! Apa yang terjadi? Kok saya bisa menjadi wanita?"
"Tunggu! Tunggu! Wajahnya ini tak asing." Dia lebih memperhatikan secara detail wajah wanita yang sekarang terpasang sebagai wajahnya.
"Salwa!" Dia terkejut bukan main.
"Kok aku bisa jadi Salwa! Apa yang sebenarnya terjadi?"
__ADS_1
"Tidaaaaaaaaaaak!" Jerit wanita yang melengking mengejutkan ayam jago yang sedang bermain dengan pasangan betinanya.
"Ini gak mungkin? Ini pasti cuman mimpi! Bagaimana aku bisa terbangun menjadi seorang wanita? Dan itu Salwa." Batinnya menggunjing tak karuan.
Ia tidak terima dengan kejadian yang menimpanya, beberapa kali ia menampar. Dan mencubit kulitnya, dan sakit ternyata rasanya.
"AW! Kok sakit? Seharusnya aku tidak merasakan kesakitan? Kalo ini benar bukan mimpi?"
"Kalo ini emang nyata, lantas sekarang aku sedang ada di mana?" Hati Lila berbicara.
****
Seharian Lila mengurungnya dirinya di kamar sempit nan bobrok itu. Ia melamun, sambil menyudutkan tubuhnya di pojokan pintu. Sampai tak lama.
"Tok! Tok! Tok!"
"Salwa buka! "
"Salwa! Ini gue Mpok Anis. Gue kesini mau nagih kontrakan!"
"Gue tahu loh ada di dalem yah? Bangun loh tukang molor!"
Suara cempreng itu begitu berisik.
Dan Lila polos membuka pintu triplek tipis itu. " Iya ada apa yah?"
"Mau cari siapa?"
"Cari siapa, cari siapa? Cari loh lah!"
"Hei! Salwa mau kapan loh bayar cicilan kontrakan, loh udah nunggak sama gue sepuluh bulan yah? Loh mau bayar kapan? Anjrit gue bisa miskin kaya loh, kalo loh terus terusan ngutang sama gue,"
Wanita dandanan rempong itu langsung menepeleng wajah Lila, "Heh! Loh gak usah pura amnesia yah? Kalo loh mau pura pura gila supaya gue gak nagih duit kontrakan sama loh. Mending loh sekarang cabut dari sini! Dan ngegembel sana di Monas!"
"Dapet duit! Dapet duit loh disana."
Cerocos ibu ibu itu begitu berisik.
"Pokoknya besok gue balik kesini, loh harus punya duit yah buat bayar utang utang loh! "
"Mending sekarang loh cepet cepet ngamen gih! Mumpung masih pagi! Jangan molor mulu!"
"Oh iya satu hal lagi, mandi! Loh bau!" Si ibu ibu itu sempat kembali padahal ia tadinya sudah melangkah pergi.
Lila tertegun, semuanya begitu rumit. Dan tidak bisa Lila cerna dengan baik, kenapa ia bisa disini. Terjebak disini, dengan tubuh Salwa. Kenapa di dunia ini Salwa begitu sengsara.
Dia gembel, yang tinggalnya di desa pemulung. Dekat lautan pembuangan sampah. Di bawah jalan kereta, ia miskin. Banyak utang, dan hidupnya berantakan.
Berlatar di pinggiran Ibu kota, terdapat jalan kereta api di atas sana. Dan di bawah sini banyak sekali sampah sampah berserakan, dan bahkan menggunung menjadi gunungan gunungan sampah yang bau.
Lila mencoba memikirkan apa yang terjadi, mungkinkah ini adalah hukuman atas apa yang ia langgar di Magonda. Mulai hari ini ia jalani hukuman ini, tapi kenapa ia bisa menjadi Salwa. Itu yang menjadi satu satu point utama yang tidak di mengerti oleh Lila.
Oke fine! Dia jadi manusia sebatang kara, hidup di desa pinggiran ibu kota, hidupnya miskin, nunggak kontrakan, seorang pengamen jalanan, gembel kesusahan, dan intinya hidupnya benar benar menyedihkan.
Tapi kenapa ia bisa bertukar raga dan menjadi Salwa?
Lila tak ingin terus terusan berdiam diri, ia harus mulai beradaptasi dan segera mencari Salwa. Karena ia memiliki dugaan kalo Salwa berubah menjadi Lila, dan sekarang ia sedang ada di dunia ini. Tapi entah dimana?
Lila harus menemukan Salwa? Dia pasti lebih kesusahan daripada hidupnya yang ia jalani sekarang ini.
__ADS_1
Lila melihat jam dinding bulat, dengan kaca yang sudah pecah.
Waktu yang berjalan disini dan disana masih sama, tapi bedanya di sini waktu begitu berpengaruh. Sementara disana waktu hanyalah sebagai pajangan, dan kalender disini menunjukkan tahun 2019.
Itu yang tertulis di selembar kelender partai politik. Bulan Januari, oke bulan disini masih sama dengan yang ada disana. Yaitu Januari, Febuari, Maret, April, Sampai Desember. Jumlah harinya masih sama yaitu 30 hari kecuali bulan Febuari.
Disana, waktu, tanggal, bulan, tahun. Tidak berarti apa apa? Mungkin disini semua itu sangat berpengaruh dan berarti besar untuk segalanya.
Tahun di Magonda adalah abad-19 sedangkan disini 2019. Beda pelafalan kata saja. Pertama tama hal yang di lakukan oleh Lila adalah Mandi.
Iya benar, dia harus mandi. Si ibu rempong itu benar tentang dia kalo dia bau. Dan begitu terkejutnya Lila saat menyaksikan bagaimana kamar mandi yang ada di sini.
Bilik kamar mandi yang terbuat dari kayu, hanya bisa di pake satu orang. bangunan kayunya cuman sebelah, jadi kalo mau mandi harus jongkok. Kalo berdiri bisa ada yang ngintip.
Di bawahnya itu ada, kolam ikan. Dan di seberang ada kumpulan bebek yang lagi mandi.
Serius Lila harus mandi disini? Gak salah?
Yang biasanya mandi tinggal mandi, terus berendam di bathtub dengan air jernih. Di taburi bunga bunga. Sekarang ia harus susah payah memompa air dengan pompa air manual.
Dan itu ribet banget, di tambah ember yang Lila bawa. Pake belah segala. Jadi ngisi airnya itu gak penuh penuh, cuman cukup nampung sedikit air.
Dan gak ada bak air buat nyimpen air yang baru ia pompa, air itu harus langsung di guyur ke tubuh Lila. Dan Lila harus mompa lagi, gitu seterusnya. Seperti dugaan Lila ini bukan kamar mandi pribadi, dan benar ini adalah kamar mandi MCK yang di pake berjamaah.
Dan kamu tahu saat Lila buka pintu dari seng besi itu. Udah ada 10 orang lebih yang ngantri dan nunggu Lila keluar, ibu ibu, bocil, kakek, nenek, semua umat di kampung pemulung.
Yang fisiknya dekil dan kucel sudah mengantri dari tadi.
Lila gak tahu, akan terkena penyakit kulit atau gangguan gatal gatal karena kamar mandinya gak steril dan gak layak pake. Apalagi pelengkapan mandinya juga cuman seadanya sabun batang, sikat gigi dower, pasta gigi murahan.
Intinya beda banget deh, dari kehidupan di Magonda yang serba instan. Kalo mandi gak perlu harus capek capek gosok gigi sendiri, mengolesi sabun, menggosok gosoknya dengan batu. Dan intinya itu ribet.
Disana gak perlu sikat gigi, gigi tetap bersih. Gak perlu pake sabun tetap wangi, gak perlu mandi juga gak akan bau. Tapi disini itu beda, beda 360° dari kehidupan Lila di Magonda.
Ini yang terberat, saat ganti baju. Oke saat mandi tadi Lila masih bisa tutup mata, buat gak lihat tubuh wanita yang sekarang menjadi tubuhnya. Di tambah tubuh wanita itu adalah tubuh Salwa, wanita yang ia cintai.
Tidak sopan , kalo ia melihat tubuh ini tanpa izin dulu. Saat ia membuka lemari kayu tua yang berdebu itu, nampaklah beberapa setel baju.
Gak banyak cuman ada dua setel, dan setelan bajunya itu. Kemeja cardinal kotak kotak, kaos putih cetian, celana jeans sobek sobek, jaket jeans. Intinya setelan pengamen jalanan kaya gimana? Begitulah gambaran pakaian yang ada di dalam lemari berdebu itu yang beralas koran.
"Oke! Gak papa Lila! Kamu masih bisa pake baju tanpa membuka mata. Itu gampang tinggal tutup mata dan pake!"
Ia membuka handuk tipis warna putih yang hampir sobek, menjatuhkannya di kasur. Dan ia kini telah bertelanjang bulat, ia tidak perlu memakai underwear karena Salwa miskin tak punya pakaian itu.
Ia memasukan kepalanya, ke dalam lubang kaos belel. Lalu memakai celana jeans ketat sobek sobek.
"Maaf yah Salwa, tadi aku sempat menyentuh barangmu karena aku harus menggosokkan sabun ke tubuh ini, pas mandi tadi."
Memakai kemeja warna merah kotak kotak hitam, dandanan jamet. Dengan rambut kusut karena tidak ada sisir disini. Dan selesai, kini Salwa sudah terlihat menjadi pengamen jalanan.
Ia melihat bayangan tubuhnya di cermin, dan itu begitu menyedihkan sekali. Ia memakai topi di kesampingkan agar terlihat lebih modis, dan satu lagi yang kurang.
Ukulele.
Dia meraih ukulele yang bermalas malasan di lantai, dan selesai.
"Oke! Mari kita lakukan! Mari kita mulai hidup menjadi Lila yang menyedihkan, dan segera mencari Salwa yang menyedihkan. Untuk segera bertukar badan kembali menjadi Lila, dan Salwa kembali menjadi Salwa!"
"Oke! Semangat! Lila you can do it !" Terikan semangat mengawali hari yang menyedihkan.
__ADS_1