Pria Yang Tak Bisa Jatuh Cinta Karena Dulunya Dia Adalah Seorang Wanita

Pria Yang Tak Bisa Jatuh Cinta Karena Dulunya Dia Adalah Seorang Wanita
Chapter 8 Asal Usul, Karma Pahala, Found And Lost


__ADS_3

Permindahan tempat yang tiba tiba, hal yang tidak biasa terjadi di dunia nyata. Ini seperti sebuah buku yang di baca dan tiba tiba pindah halaman ke halaman yang jauh dari halaman sebelumnya.


Di terminal, tengah hari. Lila yang terjebak di raga Salwa, dandanannya sudah mirip preman terminal. Jaket jeans sobek, celana bahan levis warna hitam yang sangat ketat dan suir suir sobek, rambutnya di ikat, ia memakai kalung kepala tengkorak di lehernya, tubuhnya memakai dalamam tshirt warna putih.


Dia tiba tiba saja ada di tengah kesibukan terminal bis antar kota, penumpang yang membawa barang barang berlalu lalang, pedagang kaki lima terus terusan berbeo, pengamen jalanan berhamburan, para supir angkot yang sedang ngetem terus terusan berteriak menyerukan angkot jurusannya.


Kala itu ada mobil yang tak asing sedang terpakir di sana, mobil lamborghini dengan atap terbuka warna merah menyala. Si pengemudi yang memakai kacamata hitam gaya warna hitam, pria sok kaya itu entah apa tujuanya berada di terminal seperti ini.


Dan ternyata setelah di selediki, pria yang memakai setelan kemeja pantai itu. Sedang mengotak atik mesin mobilnya mogok, duga Lila ia pasti hendak pergi ke pantai. Lalu dengan frustasi dan laga kesal ia pun mengambil barang barangnya dari jok mobil belakang.


Dan segera meninggalkan mobil itu yang sebelumnya telah ia telepon montir langganannya untuk datang menjemput mobil mogok itu.


Pria kece memakai celana pendek, dengan kemeja motif Hawai warna biru langit itu. Entah siapa belum jelas, kacamata gayanya membuat Lila tidak mengenali wajah pria itu. Barulah setelah pria itu membuka kacamata dan menyelipkannya di kancing kemeja bagian dadanya terbuka.


Oh my god! Itu pasti Salwa. Dia masih terjebak di raga Lila ternyata. Rambut kecenya terbawa angin, Lila terpana dari tempat ia berdiri.


Ia tidak pernah menyangka ternyata dirinya sungguh tampan. Lila tersenyum ingin sekali ia menyapanya. Ini pertemuan mereka berdua di masa lalu, kira kira di tahun 2017. Dua tahun sebelum mereka bertemu kembali di tahun 2019.


Kamu bisa menebaknya, Lila dan Salwa. Bukan sekedar terjebak di tubuh yang tertukar, tapi mereka juga terus terusan terjebak di zona waktu yang berputar. Dan entah mengapa kali ini, waktu mengalami kemuduran. Dan mereka terlempar ke zaman dua tahun lalu, dimana hal itu sudah berlalu.


"Wait! Kok aku gak bisa jalan!" Lila berusaha untuk melangkahkan kakinya untuk mendekati Salwa.


Tapi kakinya tidak mau bergerak sama sekali, "Why! Salwa!" dia berteriak tapi ia juga tidak bisa membuka mulutnya untuk bersuara.


"Ada apa ini? Kok aku gak bisa bersuara." seolah tubuhnya mengunci dan terkontrol oleh kekuatan tak jelas.


Dan Lila tak memiliki kuasa untuk melakukan segala hal dengan tubuh ini, seolah ia hanya terpenjara di cangkang robot yang bisa bergerak sesuai kehendak orang yang mengendalikannya.


Ada seseorang yang mengendalikannya, tapi Lila tak tahu itu siapa. Siapa dia? Yang membuatnya seperti ini, kenapa ia mengendalikan tubuh Salwa.


Salwa yang terjebak di tubuh Lila, mulai pergi sambil menggeret koper cokelat yang berisi barang bawaannya. Dan ia memasuki salah satu bis yang jurusannya menuju Pelabuhan Ratu.


"No! Tunggu! Salwa kamu mau kemana?"


"Please bergerak! Kejar dia sebelum pergi!" Lila berusaha melawan.


Tapi tubuhnya tetap saja tidak mau bergerak, lalu tiba tiba saja. Bibirnya memiring dan membentuk sebuah senyuman jahat, dia membuka ikatan rambutnya. Rambutnya tergerai begitu saja.


Ekspresi kejahatan terpamer di wajahnya, dengan menjengkelkan ia berjalan ke arah mobil milik Salwa itu.


Tangannya yang memegang pisau belati, dengan sengaja menggoreskan mata pisau itu. Ke permukaan mobil merah itu.


"Cit!" bunyi decitan dan membuat permukaan mobil mewah itu terluka bekas hasil goresan yang Lila buat.


"Apa yang aku lakukan! Itu mobil Salwa! Kenapa kamu melakukan ini, please hentikan!" batin Salwa berseteru.


Tapi raga robotnya tidak menanggapi, ia masih memasang wajah mejengkelkan.


Lalu ia masuk ke dalam bus yang di naiki oleh Salwa.


Di dalam bus ia menyusuri setiap bangku penumpang, dan ia berhasil menemukan Lila yang sedang berusaha memasukan kopernya ke atas rak besi penyimpanan barang barang yang terdapat di atas bangku penumpang.


Lila sedang melihat mangsanya, ia melihat dompet hitam di saku belakang celanannya.


"Please jangan di ambil! Kasihan! Dia membutuhkan uang itu untuk membayar ongkos bus." Lila merajuk di dalam hati.


Matanya celingukan kanan kiri dan aman, tangannya mulai meraih.


Sedikit lagi ia hampir mendapatkan dompet curian itu, eh Salwa keburu berbalik.


Ia langsung menatap sinis orang yang mengintai dari belakang, " Maaf Anda siapa yah?"


"I Love You!"


"What! Maksud kamu apa?"


"Salwa ini aku Lila!" batinnya menjawab.


"Nggak! Aku cuman bilang gitu supaya kamu mau respon aku," Lila mendekat.


"Aku tahu kamu orang kaya yang sombong, yang pastinya gak bakalan mau bicara sama orang lain. Kecuali orang yang satu level sama kamu," tangannya berusaha memeluk pantat Salwa hanya untuk mengambil dompet itu.


"Saya nggak ngerti apa yang kamu maksud!" Salwa ketakutan ia berjalan mundur sampai menyentuh bangku bis.


"Aku bilang I Love You supaya kamu mau dengerin aku, mau ngobrol sama aku, supaya orang kaya sombong bisa mengobrol dengan gembel jalanan seperti aku."


"I love you, ayo kita pacaran katanya pacaran bisa bikin bahagia,"


"Aku muak dengan hidupku yang menyedihkan dan penuh kesedihan, kamu mau nolong aku buat bikin aku bisa bahagia?"


"Kamu mau bahagia sampai kapan? " tanya Salwa.


"Selamanya kalo bisa,"


"Emang kenapa? Kamu mau mewujudkan hal itu demi aku?"


Dan tangan Lila berhasil memegang dompet hitam itu, ia menggunakan gombalan untuk bisa mencopet dompet Salwa. Dan bodohnya Salwa malah terbujuk oleh tipu muslihatnya itu.


Salwa tidak menjawab, ia kebingungan dengan apa yang harus ia jawab.


"Eum, aku sakit hati. Kamu ternyata bukan pria yang berani untuk melakukan segala hal yang bisa membuat seseorang bahagia."


"Yasudah! Aku pergi saja. Aku bisa mencari pria lain yang bersedia melakukan apapun demi kebahagian wanita yang ia cintai."


Lila berbalik badan, "Tunggu! Wanita gila bagaimana kamu dengan lancang meminta bahagia, kepada seorang pria yang belum berhasil kamu buat jatuh cinta,"


"Olehmu-"


"Tunggu! Bukankah itu dompet punyaku."


Lila panik, ia terciduk mencuri.


Apa yang ia mesti ia lakukan, " Kamu pencopet?" tegasnya.


Dengan sigap ia menghempaskan genggaman Lila di tangannya dengan kasar.


"Plak!" ia juga langsung menampar Salwa dengan kencang sampai wajahnya berbalik ke arah kiri.


"Anggap saja ini adalah bayaran karena Kamu memegang tanganku."


Lila pun segera pergi , ia berlari dan melompat keluar dari pintu bis.


"Ish! Dasar tikus jalanan pencuri!"


"Huh! Copet dimana? " semua orang langsung panik.


Salwa dengan cepat langsung mengejar Lila untuk memburu dia tentunya.


"Woy!tunggu copet!"


"Cewek sialan itu adalah pencuri"


"Dasar ******!"


"Woy stop!" peringat Salwa dari belakang.


Ia mengejar Lila dari belakang, dan sialnya tak ada satu orang pun yang mendengar atau membantu Salwa untuk menangkap Lila.


Salwa yang berada jauh di belakang Lila, ia tidak boleh menyerah. Salwa harus bisa menangkap Lila. Tanpa bantuan siapun ia harus dengan susah payah mengejar Lila sendirian.


****


Lila menuntun Salwa ke sebuah gang sempit, gang yang tak asing. Ini adalah gang tempat Lila di pukuli dan di keroyok oleh geng Ladies terminal. Salwa kehilangan jejak Lila disana, entah kemana larinya wanita pencuri itu. Salwa kebingungan.


"Kemana larinya wanita itu?


"Woy! Wanita copet! Kamu dimana? Balikin dompet saya sekarang juga!" Teriak Salwa sambil matanya mencari keberadaan Lila.


Gang itu begitu sepi, tak ada siapa pun yang datang kemari. Gang yang gelap walaupun siang hari, membuat kesan dark pada gang dengan tembok warna hitam di penuhi coretan gambar gravity dari cat Pilok warna warni.


"Aku disini!" Ucap seseorang. Salwa berbalik dan entah bagaimana Lila tiba tiba saja berada di belakangnya sambil memainkan dompet hitamnya laksana yoyo.


"Nih gue balikin dompet loh." Lila melempar dompet hitam itu ke tanah.


Salwa mengambilnya dan mengeceknya ternyata isinya kosong.


"Kecuali isinya."


Salwa melotot, kemarahannya kini sudah berada di luar batasan, "Balikin semuanya sekarang juga!" Tegas Salwa sambil dengan nada mengeja.


"Oy! Loh kok jadi orang kaya pelit amat sih, kenapa loh gak anggap ini sebagai sedekah aja. Gue yakin kok loh pasti punya gantinya lebih dari ini."


"Sedekah? Kenapa saya harus sedekah kepada pencuri yang mengambil barang saya tanpa izin. Andai kamu memintanya dengan baik baik, mungkin saya akan merelakan hal itu dan tak perlu mempermasalahkan hal ini."


"Saya juga bakalan sampai mengejar kamu seperti sekarang ini."


"Terus mau loh gue jadi pengemis, gitu makud loh?" Lila mulai tengil.


Salwa hanya diam, " Oke, kalo itu mau loh. Gue bakal ngemis dan minta loh ngerelain isi dompet yang gue curi."

__ADS_1


Lila mulai berlutut, ia memegang tangannya sambil memohon, " Oh Tuan, kasihanilah saya! Saya orang miskin yang tak punya apa apa, maafkan saya karena sudah mencuri barang tuan! Tuan ikhlasin saja yah, barang yang saya curi dari anda."


"Puas? Hahahhahahh!" Lila berdiri.


"Jangan harap gue memohon sama loh, gue gak pernah memohon kepada siapapun termasuk Tuhan!" Berang Lila.


Ternyata yang tadi ia lakukan hanya bersandiwara.


"Kenapa loh mesti mencuri Huh! Kenapa loh gak cari rezeki loh sendiri? Kenapa loh mesti menjadi seperti ini, menjadi orang yang mencuri miliki orang lain."


"KARENA GUE IRI!"


"Gue iri sama semua orang yang hidupnya bahagia, gue iri sama semua orang yang hidupnya beruntung, gue iri sama semua orang yang memiliki segala hal yang gak gue punya."


"Kenapa semua orang bisa? Kenapa mereka bisa? Kenapa hidupnya mereka bahagia, kaya, punya keluarga, dan gak perlu susah payah untuk mencari nafkah kaya gue."


"Mereka sekolah, mereka punya rumah, mereka punya keluarga yang senantiasa membantu,"


"Dan gue? Gue gak punya apapun, gue gak bisa memiliki apapun, gue gak bisa menjadi seperti mereka! Kalo gue gak bisa mendapatkan apa yang mereka punya, kenapa gue gak curi aja hal itu dari mereka?"


"Gue gak mencuri lebih dari mereka, gue gak mencuri semua hal yang mereka punya, kekayaan, keluarga, pendidikan, pekerjaan, posisi mereka! Gue gak nyuri semua itu. Gue hanya mencuri sedikit dari mereka?"


"Kenapa mereka begitu lebay, padahal mereka masih punya segalanya. Kehilangan sedikit. Seharusnya gak berpengaruh untuk mereka."


"Harusnya mereka ikhlas, mereka harusnya bersyukur hidup mereka beruntung dan gak kaya gue yang hidupnya berantakan, gak punya apa,"


"Gak ada yang bisa di curi dari gue, bahkan rasa bahagia pun gue gak punya!"


"Segalanya, gak pernah gue miliki. Dan anehnya mereka mempunyai segala hal! Padahal kita sama sama manusia, apa bedanya gue sama mereka? Kenapa gue gak bisa seperti mereka?


"Kaya, berkeluarga, berpendidikan, mempunyai pekerjaan yang halal, hidupnya berjalan lancar?"


"Loh pikir gue gak mau gitu mengakhiri hidup gue yang menyedihkan ini? Loh pikir emang gue mau gitu jadi pencuri, jadi gembel jalanan, jadi orang miskin yang gak punya rumah, hidup sebatang kara, gak berpendidikan, emang gue mau! Emang gue mau jadi seperti ini? "


"Nggak." Lila mengeluarkan segala keluh kesah yang ia alami, segala hal yang membuatnya menjadi seorang pencuri.


Hidupnya yang menyedihkan, tanpa adanya rasa kebahagian yang pernah ia rasakan. Hidupnya berantakan, tidak mempunya apa apa yang bisa dia banggakan. Gak ada hal yang berharga di hidupnya yang bisa di curi orang lain karena mereka iri.


"Gue iri, gue gak bisa mendapatkan segala hal yang mereka punya. Saat gue nyoba untuk menjadi seperti mereka? Tapi gue gak mampu. Bahkan gak pantes jadi mereka, apa salahnya gue mencuri segala hal yang gak bisa gue dapetin. Gue gak bisa dapetin, yasudah gue mencurinya."


"Menurutmu apa definisi kebahagian?"


"Apakah mereka yang berpendidikan, mereka yang kaya raya, mereka yang mempunyai keluarga, mereka yang sukses dan berhasil, apakah mereka semua bahagia? Apakah mereka terbebas dari yang namanya kesedihan?" Salwa bertanya dengan rintihan sendu.


Lila yang tertunduk menangis lantas mendongak untuk melihat penjelasan seorang pria dengan binar mata yang tulus.


"Apakah semua orang bahagia? Apakah semua orang gak merasakan kesedihan?"


"Apa definisi bahagia menurutmu?"


"Tersenyum, tertawa, ceria, ekspresi seperti itu yang kamu sebut sebagai bahagia."


"Orang lain gak bisa nilai kebahagian dan kesedihan yang seseorang rasakan, hanya orang itu yang paham. Hanya orang itu yang paham bagaimana suasana yang mereka rasakan saat happy, sadness, and more."


"Aku gak ngerti apa yang kamu rasakan, derita apa yang melanda dirimu. Karena aku bukan kamu?"


"Tapi aku peduli, dan aku percaya suatu hari nanti kamu akan bahagia. Mungkin bukan hari ini, sesuatu yang kamu inginkan terjadi."


"Mungkin bukan hari ini, hal yang terbaik terjadi di hidupmu. Mungkin, akan ada satu hari. Dimana kamu akan happy, memiliki segala hal yang kamu mau, bukan menjadi kamu yang dulu, tapi menjadi kamu yang baru."


"Tetaplah percaya kepada keajaiban, walaupun kenyataan tidak mengenakan."


Salwa mendekat, dan ia berdiri berhadap hadapan dengan Lila. Mata mereka berbinar air mata.


"Kamu harus tetap percaya, hari itu akan ada."


"Hari yang kamu mau, hari yang kamu inginkan. Aku percaya semua itu akan terjadi kepadamu, bahagia kamu mempunyai hak untuk itu. Sedih kamu juga wajib merasakan itu, tapi mendengar kamu yang katanya selama ini hanya ada kesedihan yang terjadi di hidupmu."


"Aku yakin, hari nanti kesedihan akan bosan dan berganti posisi dengan kebahagian. Dan di hidupmu hanya akan ada kebahagian, bila saatnya tiba."


"Kesedihan akan berganti menjadi kebahagian, itu adalah perubahan yang akan di rasakan semua orang."


"Jadi tetaplah bertahan sampai hari itu tiba, mulailah memperbaiki dirimu yang sering mengeluh, menjadi orang yang sering bersyukur,"


"Mulailah menghilangkan rasa iri hati, benci, dan segala hal penyakit hati yang merugikan. Jangan lihat hidup orang lain! Itu kisah mereka, mereka yang jalani. Kamu mempunyai kisah sendiri, dimana pemeran utamanya itu adalah kamu."


"Pemeran utama selalu mendapatkan banyak masalah sebelum tujuan yang ia inginkan tercapai, "


"Mulailah berubah, jangan sekaligus cukup perlahan perlahan namun pasti. "


"Kamu pikir dengan kamu mencuri segala hal yang di miliki orang lain, hal itu akan menjadi milikmu."


"Nggak,"


Blush!


"Aaaaaaaaaaa!" Salwa merintih kesakitan. Satu tusukan pisau belati mengenai perutnya.


"Aku benci dengan orang yang menasehati, aku benci dengan orang yang sok suci."


"Aku benci dengan orang yang sok sok ngerti dan peduli, kamu hanya anak orang kaya yang manja. Kamu gak bakal tahu apa yang aku derita, berbicara itu mudah. Membuat janji itu mudah, tapi mengusahakan segala hal untuk jadi nyata, memperlihatkan sebuah bukti."


"Itu gak gampang! Aku bosan di suruh bersabar, aku bosan di suruh menunggu, aku bosan di suruh bersyukur dengan hal yang gak ada yang bisa aku syukuri."


"Aku bosan di suruh berubah, tapi tidak di beri tahu bagaimana caranya untuk berubah, kamu pikir aku harus berubah menjadi seperti apa lagi?"


"Mereka yang berkelakuan buruk masih banyak kok, dan hidup mereka, tetap beruntung. Kenapa mesti berubah?"


"Eeeeeeeeeee!" Salwa mengerang kesakitan. Tusukan pisau itu terus menancap dalam ke dalam perut.


"Aaaaaaaaaaa!" Teriak Lila lalu melepaskan tusukan pisau itu dari perut Salwa.


Salwa langsung tersungkur jatuh ke belakang. Air mata Lila berlinang jatuh.


"Huh! Huh! Huh!" Detik detik hembusan nafas terakhir sebelum Salwa benar benar menutup mata pingsan.


"Salwaaaaaaa!" Teriak hati Lila.


"Kenapa kamu lakukan ini? Heh heh! Kenapa kamu melakukan hal seperti ini kepada orang yang kamu cintai, kenapa hal ini bisa terjadi!"


"Please tolong hentikan! Aku harus segera menolong Salwa jangan sampai dia mati!" Rintih Lila.


Dan raganya menolak untuk membantu Salwa, Lila malah pergi. Raganya mempunyai kehendak sendiri untuk meninggalkan Salwa seorang diri dengan bekas tusukan yang terus menerus mencucurkan darah segar.


Setelah Lila berjalan pergi menjauh, Lila berhasil keluar dari gang sempit itu. Dan keajaiban pun muncul, ia bisa kembali bergerak. Ia bisa menguasai tubuhnya kembali. Tentu saja ia langsung berlari untuk menemui Salwa,.


"Salwa! Nggak please! Jangan kaya gini!" Lila memelas sambil menggoyang goyangkan tubuh Salwa yang terpapar lemah di aspal gang.


"Please! Bangun, aku mohon! Aku gak bermaksud buat ngelakuin hal ini jadi tolong! Bangun!"


"Salwa bangun!" Teriaknya dengan Isak tangis yang semakin menjadi jadi.


"Iya, hei! " Salwa membuka matanya dengan lemas bibir pucatnya mengatakan sesuatu.


"Aku senang! Kita bertemu lagi, walaupun ini adalah saat saat kita harus berpisah. Tapi setidaknya aku bersyukur masih bisa mengatakan selamat tinggal! Kepada orang yang aku sayang,"


"Ini yang dia inginkan dari kita berdua,"


"Nggak! Please! Jangan kaya gini! Aku masih bisa membawamu ke rumah sakit oke? Mari kita ke rumah sakit dan sembuhkan lukamu ini?"


"It's oke, ini adalah salah satu kalimat dalam ceritaku yang dia tulis untukku. Maaf aku melibatkanmu dan menjadi salah satu tokoh yang berperan di cerita hidupku!"


"Aku nggak ngerti apa yang kamu katakan, please ! Kita udah bahas ini kan? Kita akan selalu bersama, kamu udah janji untuk gak ninggalin aku, kamu udah janji kita akan bersama dan menghadapi kesedihan ini bersama. Jadi aku mohon! Jangan pergi, bisakan?"


"Aku memang berjanji untuk tetap bersama , tapi aku gak bisa janji untuk tidak mati. Aku pernah berharap kita akan mempunyai jadwal mati yang sama, tapi ternyata dia gak setuju untuk itu,"


"Uhuk! Uhuk!" Salwa batuk darah.


"No! Nggak bisa kaya gini, jangan pergi!"


"Ini yang dia inginkan, dia ingin salah satu dari kita mengalami penyiksaan yaitu kesedihan dari kepergian seseorang yang di cintai, dan ternyata dia memilihmu untuk itu,"


"Maaf Lil! Kamu harus menanggung ini sendirian, izinkan aku berpamitan oke?"


"Nggak! Aku gak ngizinin kamu pergi! Aku gak bakal nerima kata pamit itu. Aku belum siap! Aku juga gak ngerti mengapa hal ini bisa terjadi! Siapa dia yang menginginkan hal menyedihkan ini terjadi?" Lila menangisi Salwa.


"Kamu ingat! Di bioskop kita berjanji untuk apa?"


"Berhenti menangis dan kembali tersenyum, bila salah satu dari kita harus pergi lebih dulu." Nada bicara Salwa mulai terdengar melemah.


"Sini aku hapus air mata kamu! Dan setelah itu kamu akan kembali tersenyum oke?"


Tangan penuh darahnya menyentuh kelopak mata Lila, "Terima kasih karena setuju dengan permintaan aku yang menginginkan merasakan kesedihan, maaf aku gak tanggung jawab! Dan malah meninggalkan kamu disini sendirian."


"Kamu harus menanggung beban ini sendirian, kesedihan yang menyiksa, dan derita yang menyedihkan. Kamu harus menanggung semua itu sendirian."


"Maafkan aku yah! Aku pergi dulu, dan I Love You."


"Nggak, nggak, please! Salwa jangan kaya gini! Kenapa kamu harus pergi! "

__ADS_1


"Nggak , harusnya kita tetap bersama disini. Kenapa harus kamu yang pergi lebih dulu, harusnya itu aku. Yang mati harusnya Lila, bukan Salwa yang terjebak di tubuh Lila."


"Kamu masih hidup! Lihat kamu masih hidup! Tubuhmu ini, mari kita bertukar tubuh sekarang juga!"


"Ayolah! Kembali menjadi Salwa dan aku kembali menjadi Lila!"


"Please ! "


"Aku mohon....." Tangisan Lila membanjiri kepergian Salwa. Lila mendekap Salwa yang sudah tidak bernyawa di aspal jalanan.


"Please Salwa kembali!"


****


Di rooftop rumah sakit, rasa penasaran Lila membuatnya membawa jasad Salwa ke rumah sakit ini. Tanpa ia memikirkan terlebih dahulu apa yang akan terjadi kepadanya, bisa saja ia akan menjadi seorang tahanan karena kasus penusukan.


Namun cerita hidupnya tidak mengarah ke sana, di puncak gedung tiga puluh lantai. Ia berdiri di tepi gedung sambil bersandar di tembok gedung dengan tinggi sedada.


Air mata terus mengalir di tambah dengungan penjelasan dokter, " Pasien sudah terlebih dahulu meninggal saat di perjalanan ambulance menuju ke rumah sakit, luka tusukannya yang langsung melukai kantung empedu membuatnya mengalami pendarahan yang hebat,"


"Dia tidak bisa tertolong karena terlalu banyak mengalami pendarahan, dan beliau juga merupakan pasien kanker leukemia stadium akhir yang sudah di vonis umurnya tidak akan lama lagi."


"Saya tidak percaya, beliau akan pergi dengan cepat. Semoga anda sebagai kerabatnya , bisa tegar dalam menghadapi kepergian beliau," Suara dokter pria itu terus menerus terputar di telinga Lila.


Air mata juga senantiasa turun dan membasahi, indahnya langit malam tidak membantu sama sekali. Lila tetap menangis, kini ia resmi menjadi Salwa. Dia gak sempat mikir, kenapa semua ini bisa terjadi.


Kenapa peristiwa yang gak masuk di akal ini bisa terjadi di dunia nyata, kenapa suasana malam pertama pengantin yang indah berubah menjadi suasana pemakaman yang mengharu biru.


Lila memakai dress hitam, tanda berkabung. Ia menunggu jasad Lila di kremasi untuk di bawa pulang dan bisa di makamkan di pemakaman terdekat.


"Siapapun! Why ? Kenapa kamu melakukan hal yang kejam?"


"Apa kesalahan yang telah kita perbuat, sampai kita mendapatkan hukuman yang berat ini."


"Why ! Why! Kenapa harus Salwa Huh?"


"Kenapa harus dia yang mati, harusnya itu aku? Lila. Aku yang harusnya mati,"


"Kenapa kamu mesti sekejam ini, membuat kita mengalami siksaan yang sangat pedih. Aku gak paham! Jalan cerita yang kamu rancang? Aku gak paham rencana yang kamu buat?"


"Tujuannya buat apa Huh?"


"Haruskah aku marah kepadamu Tuhan!!!!!" Teriak Lila setinggi langit dan sedalam bumi.


"Kamu telah membuat aku kecewa, dengan keputusan sepihak yang aku buat, bolehkah aku membuatmu kecewa?"


"Bisakah aku membuat marah seperti apa yang engkau lakukan sekarang Huh?"


"Kenapa kamu gak jawab?"


"Kenapa kamu tidak memberikan jawaban dari pertanyaannya aku tanyakan?"


"Kenapa huh!" Percuma Lila bertanya kepada langit, langit tidak meresponnya. Siapa pencipta langit dan bumi, siapa yang memutuskan segala hal yang terjadi kepada manusia.


Seseorang itu begitu membuat hati Lila tersayat, "Oke Tuhan! Entah pertanyaanku yang tak sampai ke telingamu, atau kamu tidak menjawabku. Aku gak tahu pasti tentang hal itu,"


"Kalo kamu tidak menjawabnya atau bahkan pertanyaanku ini tidak sampai ke telingamu,"


"Kalo begitu aku akan mendatangimu dan langsung menanyakan segala hal yang ingin aku tanyakan."


Lila langsung menaiki tembok yang membatasi gedung dan jurang gedung yang langsung mengarah ke dasar gedung. Kaki Lila yang gemetaran, rasa ketakutan yang menggerogoti, haruskah Lila terjun untuk bunuh diri.


"Sampai jumpa disana Tuhan! Aku akan menemuimu! Dan Salwa tunggu aku! Aku akan menyusul ."


Dan "aaaaaaa!"


Saat Lila menjatuhkan tubuhnya, untuk terjun ke dasar gedung.


Tiba tiba saja guntur bergemuruh, "Beledag!"


Guntur menyambar gedung, dan munculah sosok malaikat maut berjubah hitam, bertudung hitam. Dengan arit kebanggannya yang terbuat dari tulang manusia,


"Lila Anggara!" Panggilnya dengan suara gemuruh Bentar.


Lila berbalik dan tak jadi untuk menerjunkan dirinya sendiri. " Siapa kamu?"


Dan sebuah uluran tali tambang hitam dari asap, tali itu langsung melirit tubuh Lila dan Lila langsung tertarik dan terjatuh ke lantai gedung.


Ia tersungkur dengan posisi tengkurap.


Ia melihat sosok itu tidak menginjak tanah, lalu ia dengan kesakitan mulai bangkit dan berdiri. Lantas kakinya yang tidak nampak ke tanah itu mulai mengapung di udara, lalu angin ****** beliung asap hitam mengitari sosok itu.


Pelahan sosok itu berubah, di mulai dari kakinya. Tubuhnya, lalu wajahnya. Ia berubah menjadi pria tampan, rambut gondrong sebahu dan ikal. Ia mamakai jubah putih sampai menyentuh tanah, ia berkumis , berjenggot dan bewokan.


Hidungnya mancung seperti orang Arab, struktur wajahnya mirip orang Timur Tengah. Mata cokelatnya bersinar, "Ada kisah yang harus kamu tahu,"


"Dan izinkan saya untuk menceritakan kisah itu,"


Dahulu kala, sebelum dunia berubah menjadi Magonda. Tempat semua orang bahagia selamanya, sebelumnya ada dunia yang disebut dengan Jakarta. Dunia yang tidak pernah sejalan dengan apa yang di inginkan, semua rasa akan kamu rasakan disana.


Sedih, bahagia, kesel, marah, jatuh cinta, baper, galau, iri , benci, percaya, tersakiti, di khianati , di puji , di benci, dan masih banyak lagi. Rasa yang bisa di rasakan oleh semua manusia di dunia itu.


Mereka di beri batasan, mereka di haruskan memenuhi kebutuhan. Makanan, minuman, dan pasangan. Hidup yang mereka lalui disana berbeda, ada yang beruntung. Ada yang tidak.


Semua di desain sedemikian rupa, agar terlihat beragam. Hiduplah seorang gadis, gadis sedih. Dia di takdirkan untuk mengalami kesedihan selamanya, hidupnya akan menderita, karena dia merancangnya seperti itu.


"Siapa dia? Kenapa dia membuat gadis itu harus mengalami kesedihan selamanya? Apa yang terjadi sama dia? Kesalahan apa yang dia perbuat, dan kenapa ia terusan hidup di dalam kesedihan?"


"Apakah dia, seseorang itu, sang pencipta apakah itu kamu?" Tanya Lila.


"Bukan, dia bukan aku. Aku bukan sang pencipta, aku hanya seorang Sutradara yang mengatur jalan cerita yang di buat agar tetap berjalan baik menurut alur yang sudah ia rancang. Dari awal sampai akhir,"


"Penulis, dia yang menciptakan. Dan membuat cerita untuk makhluk yang ia ciptakan. "


"Tujuan dia menciptakan gadis sedih itu, dan kenapa dia harus mengalami kesedihan selamanya."


"Bukan sekedar sebagai hukuman, karena dia berbuat kesalahan."


"Tapi dia menguji gadis itu."


"Kenapa mesti di uji, kenapa dia menguji makhluk yang di buat. Untuk sekedar ajang permainan atau hiburan?" Lila bertanya lagi.


"Sama sekali bukan, ada beberapa hal yang tak bisa di ceritakan. Karena hanya dia yang tahu mana yang terbaik, mana yang tidak."


"Walaupun yang terbaik bukan hal yang di inginkan, tapi bila itu yang namanya kebutuhan. Semuanya mesti di penuhi,"


Dia mengujinya setiap hari, apakah ia akan mencintai dirinya sendiri. Saat semua orang bahkan membencinya dan tidak ada memihaknya sama sekali, apakah ia akan tetap menerima dirinya. Walaupun ia sadar dalam dirinya tidak ada yang berharga, dan tidak ada mau menemaninya di sampingnya.


Suatu hari gadis sedih bertemu dengan pria bahagia, pria yang hidupnya selalu bahagia selamanya. Dan pria itu bertanya, "Sampai kapan kamu ingin bahagia?"


"Selamanya." Gadis itu menjawab.


"Apa yang terjadi selanjutnya kepada gadis sedih itu?" Tanya Director Angel Kepada Lila.


"Dia membunuhnya."


"Kenapa?"


"Karena orang itu tak ingin mendengarkan nasehat dari orang lain," Lila menangis.


"Bukan itu."


"Lalu apa?" Tanya Lila.


"Kamu harus menemukan jawabannya sendiri, kamu bisa kembali Magonda sekarang juga. Dan kembali menjadi Lila yang bahagia selamanya,"


"Tapi ada hal yang mesti kamu korbankan?"


"Apa?"


"Kamu tidak boleh jatuh cinta."


"Kamu setuju?" Tegas Director Angel.


Lila menangis ini adalah keputusan yang berat, tapi Lila kira semuanya telah selesai. Karena Salwa cintanya telah tiada, mungkin ia takkan lagi jatuh cinta. Karena hanya Salwa, wanita menggetarkan hatinya.


"Baiklah, aku akan melakukan apapun hanya untuk kembali ke Magonda."


"Hahahahhhahahahah!" Director Angel tertawa terbahak bahak. Tawa jahat yang menyeramkan dari seorang malaikat, benarkah dia seorang malaikat. Bisa saja dia adalah iblis yang banyak memiliki tipu muslihat.


Suara yang menggelegar sampai terdengar keras sekali, telinga Lila sampai hampir budeg. Karena suaranya seperti gemuruh petir, langit malam tiba tiba saja di penuhi oleh kilatan petir yang dahsyat.


Angin ****** beliung hitam mulai menyelimuti kembali sosok Director Angel yang tadinya berjubah putih kembali berubah wujud, menjadi sosok berjubah hitam tanpa wajah.


Membawa arit malaikat maut dari tulang berulang manusia, "Baiklah! Sampai jumpa disana." Dia berbicara dengan mulut ternganga lebar penuh taring , matanya menyala merah. Dan ia tak memiliki wajah hanya ada mata dan mulut yang mengampung tanpa alas kulit wajah.


Lalu ia mengepakan jubahnya dan berubah menjadi se-ekor burung hantu berwarna hitam, burung hantu itu lantas menyerang Lila.


"Aaaaa! Kenapa ini? Toloooooong!" Lila terjatuh dari gedung lantai tiga puluh, karena burung hantu itu yang mendorongnya ke jurang gedung.

__ADS_1


"Dan brug!" Raga Lila menebus bumi.


Dan black, gelap.


__ADS_2