
Lila terbangun, matanya berair bekas tangisan. Kini ia tahu, kenapa Salwa bersih keras untuk membuatnya jatuh Cinta. Salwa adalah Lila yang dulu, dia melakukan perjalanan waktu untuk menemui dirinya yang baru yaitu Lila. Seorang pria bahagia yang hidup di Magonda, dunia yang ada setelah terjadinya kehancuran dunia sebelumnya yaitu Jakarta.
Mencintai diri sendiri, itu adalah cara untuk mengembalikan segalanya menjadi semula. Jawaban menuju kesempurnaan, akhir dari cerita gadis sedih dan pria bahagia. Yaitu mencintai diri sendiri, menerima segala hal yang ada dalam diri sendiri, tidak membencinya dan tidak iri dengan apa yang di punyai orang lain.
Alasan Lila merasa janggal, alasan dirinya berbeda dengan warga Magonda yang hidup tanpa perasaan. Inilah jawabannya, mencintai diri. Kita tidak bisa bahagia, bila kita tidak mencintai diri sendiri.
Karena bagaimana orang lain bisa mencintaimu, kalau kamu saja membenci dirimu. Mencintai diri sendiri adalah langkah pertama untuk belajar mencintai orang lain. Semuanya berawal dari diri sendiri, dan berakhir oleh kita sendiri.
Esoknya, Lila langsung bergegas mencari Salwa. Di mulai dari pertemuan pertama mereka, yaitu di stasiun KRL.
"Huuuft! Oke. Semua hal yang di inginkan pasti terwujud di Magonda."
"Please ! I want Salwa. Aku ingin Salwa kembali, aku ingin dia muncul lagi di hidupku selamanya. Ayolah! Sekarang juga, Salwa kembali!" Lila membuka matanya saat ia selesai membuat harapan.
Dan hasilnya krik krik, nothing.
Salwa tidak kembali. Ia kemudian mencobanya lagi, kedua tangannya di tempel seperti sedang berharap. Jari jari tanganya di masukan ke dalam sela sela jari kedua tanganya.
"Salwa Please ! Kembali!" percobaan kedua lagi lagi tidak berhasil.
Ia kemudian melanjutkan ke percobaan ketiga, dan hasilnya masih sama. Rasa semangat bercampur keyakinan besar akan kembalinya Salwa ke dunia ini. Membuat Lila pantang menyerah, dan takkan pulang sebelum Salwa benar kembali.
Setelah sepuluh kali, ia membuat harapan. Ternyata harapan itu tak kunjung terkabul juga. Hal itu sedikit membuat Lila di ambang kata menyerah. Lalu ia teringat tempat tempat yang pernah ia datangi bersama Salwa.
"Oh Masih ada pantai, taman, jembatan penyebrangan, dan jalanan pesisir pantai."
"Siapa tahu dia akan muncul disana."
Harapan yang tak pasti, tetap Lila lakoni. Ia pergi ke taman pusat Magonda. Alun alun itu kini sedang di padati banyak orang, yang bersepeda, menari, membaca buku, dan aktivitas lainnya.
Lila berdiri di tengah air mancur susu, "Salwa! Aku mohon kembalilah, tampat ini tempat kita berkencan. Ayolah! Kembali, agar aku bisa berkencan lagi denganmu."
"Bray!" Saat mata Lila terbuka. Nampaklah seorang wanita berambut panjang agak pirang, dengan pakaian dress orange motif bintik bintik hitam yang sempat di pakai oleh Salwa.
Wanita itu sedang duduk di kursi taman sendirian. Posisinya membelakangi dan menunjukkan punggung cantiknya.
Lila bahagia, senyuman sumringah terbentuk di wajahnya. Bahkan air mata bahagia mulai mengalir, saat Lila berlari dan langsung membalikkan tubuh wanita itu untuk mengecek apakah itu benar Salwa atau bukan.
Dan hasilnya, bukan. Itu hanya salah satu penduduk Magonda yang tidak memiliki perasaan, dan tidak bisa berbicara dengan orang lain. Raut wajah bahagia berubah menjadi kecewa.
Lila mulai putus asa, " Ini adalah tempat aku menyelamatkanku hari itu, ayolah kembali! Jatuh lagi dari atas , aku akan menangkap dari sini. " Lila membentangkan tangannya untuk menangkap seseorang yang akan terjatuh dari atas jembatan penyebrangan.
Lama ia menunggu, matanya menutup. Dan ternyata ia tak kunjung kembali, bahkan saat Lila sudah berdiri tepat di tempat Salwa akan terjatuh. Salwa tidak kembali, Lila semakin berhalusinasi.
Di pantai, pasir putih lembut tidak memiliki batu kerikil. Alas kakinya berjalan di pasir pantai Magonda, di temani oleh deburan ombak. Semilir angin dari rayuan pulau kelapa, bunyi burung camar, sinar matahari eksotis yang membakar habis kulit putih yang dimiliki oleh Lila.
"Tunggu aku!" Ucap Lila lirih.
Di depannya ada bayangan Salwa yang berjalan tanpa berpegangan tangan dengannya. Ia berbalik dan melebarkan senyuman, "Apakah kamu tahu hari itu, aku ingin apa?"
"Aku ingin memegang tangan kamu, bergandengan, dan berjalan berdampingan di pantai ini."
"Tapi karena sikapku yang terlalu pengecut dan penakut, aku tidak berani melakukan itu. Padahal hari itu aku adalah seorang pria yang harus memulai segalanya, bukan menunggu perintah wanita,"
"Benarkan?" Sosok ilusi yang menyerupai Salwa dan memakai gaun putih selutut hanya merespon dengan senyuman.
Lalu ia mengulurkan tangannya untuk mengajak Lila bergandengan, saat Lila meraihnya. Ternyata ilusi itu menghilang ,"Hugh! Huhuhuhu!" Isak tangis mulai terdengar.
Tak terasa hari mulai berubah malam, Lila yang sudah frustasi berjalan malas. Di jalanan pesisir pantai tempat mereka berciuman, hatinya terus berharap.
"Salwa please kembali!"
Tapi kenyataan tak pernah mendengarkan harapan yang ia panjatkan. Langit malam dengan lukisan bintang bintang di galaksi kanvas hitam, cahaya lampu yang indah dan bernuasa romantis.
Sayangnya Lila hanya berjalan sendirian tanpa ada yang mendampingi, moment yang seharusnya menjadi hal yang romantis dan di taburi banyak keuwuuan. Berubah menjadi adegan menyedihkan, yang membuat hati merasa kasihan kepada pria malang itu.
"Bruk!" Ia terjatuh.
Dan sangat berat untuk bangkit sendiri, ia ingin ada orang yang mengulurkan tangannya dan membantunya untuk berdiri. Tapi semua itu hanya mimpi, dan gak pernah menjadi nyata.
Kini Lila hanya bisa menangis sekencang mungkin, sendirian, dalam rapuh.
"Kenapa kamu gak muncul, padahal aku sudah berharap seharian. Apakah doaku belum cukup untuk mengembalikanmu?"
"Doaku yang tidak cukup, atau aku yang tidak pantas. Karena aku adalah orang dengan segudang kesalahan, yang tak pantas membuat sebuah harapan?"
__ADS_1
"Aku hanya ingin kamu kembali, ada kalimat yang belum sempat aku katakan kepadamu."
"Jadi datanglah! Aku mohon, aku sungguh-sungguh memohon untuk kamu kembali." Sambil berlutut di aspal jalan Lila terus terus memanjatkan sebuah permintaan.
Tapi penulis tidak mengabulkannya, entah dia tidak mendengarnya. Atau kekuatan doa Lila tidak cukup untuk sampai ke telinganya.
"Please Forgive me!"
****
Kini Lila berada di puncak batu gunung karang, yang langsung mengarah ke jurang menuju laut. Perasaan frustasi, kecewa, dan marah bercampur menjadi satu. Ketiga alasan itu cukup kuat untuk mendorongnya melakukan bunuh diri.
Haruskah ia melakukannya? Karena gak ada jalan lagi selain ini.
Air matanya mengalir banjir, tatapannya sudah terfokus ke lautan yang ada di bawah sana.
"Aku ingin kamu hilang selamanya!"
"Aku ingin kamu hilang selamanya!"
"Aku ingin kamu hilang selamanya!"
Dengungan kalimat yang pernah ia ucapkan terus terusan mengganggu di pikiran Lila. Hal itu membuatnya Lila semakin merasa bersalah.
"Aku gak tau harus kaya gimana? Gak ada yang bisa dilakukan selain ini, kuharap setelah mengalami mati. Kita akan bertemu lagi!"
"Jadi sampai jumpa di sana-"
"Salwa."
"Stop!" Lagi lagi ada seseorang yang memberhentikannya.
Tapi kali ini hanya ada suara peringatan tanpa ada wujud yang terlihat dari sosok yang memberi Lila peringatan.
"Masih ada jalan!"
"Siapa kamu?" Teriak Lila.
"Kita pernah bertemu, di atap rumah sakit. Dan di moment yang sama saat kamu hendak bunuh diri."
"DIRECTOR ANGEL!"
"Iya ini aku," suara Director Angel terdengar ramah tidak seperti biasanya.
"Masih ada jalan untuk memperbaiki."
"Apa? Berikan aku jawabannya. Aku mohon!"
"Pikirkan! Bila masakanmu gosong. Apa yang mesti kamu lakukan?"
"Pikirkan itu!" Itu adalah petunjuk terakhir.
"Bila masakanmu gosong, apa yang mesti kamu lakukan?" Lila mencoba berpikir.
Sejenak Lila bengong, memikirkan jawaban dari teka teki yang di lontarkan oleh Director Angel. Ketika masakanmu gosong, apa yang mesti kamu lakukan.
"Mengulang lagi masakanmu!"
" Dan tidak melakukan kesalahan yang sama yang membuat masakanmu menjadi gosong,"
"Iya itu dia,"
"Itu jawabannya, mengulang. Aku memang tak bisa mengembalikan orang yang telah aku harapkan untuk menghilang selamanya,"
"Tapi aku bisa memundurkan waktu, dan kembali ke waktu dimana aku dan Salwa bertemu untuk pertama kalinya," Ucap Lila.
"Itu dia!"
"Itu jawabannya."
Lila langsung memejamkan matanya membuat permohonan. "Aku mau kembali ke masalalu, dimana aku dan Salwa bertemu untuk pertama kalinya!"
****
Bray!
__ADS_1
Mata Lila terbangun. Ia kembali ke tempat pertama mereka bertemu, di gerbong kereta api KRL. Lila menyusuri semua orang yang ada di gerbong itu, dan.
Deg! Deg!Deg! Air mata Lila jatuh. Matanya membulat sempurna.
"Itu dia! Wanita yang aku cari. Sang bidadari."
Melihat seorang wanita yang berdiri sambil memegang tuas penumpang. Wajahnya sedang melihat pemandangan di luar sana, gaun colection summer yang ia kenakan. Begitu pantas di tubuhnya, wajahnya begitu cantik, struktur wajahnya nyaris sempurna, rambutnya panjang pirangnya mengeluarkan aroma bunga mawar yang wangi.
Itu dia, Salwa yang Lila cari. Perlahan kaki Lila berjalan menyusuri gerbong kereta api KRL. Langkahnya hampir mendekati sang pujaan hati, dan akhirnya mata mereka saling bertemu kembali.
Salwa menyambutnya dengan senyuman ramah, dan mata berbinar ceria.
"Hai Lila!" Panggil Lila.
"Hai Lila!" Balas Salwa .
"Hai Salwa!"
"Hai Salwa!" Balik sapa dari Lila untuk Salwa.
"Ada kalimat yang ingin aku sampaikan kepadamu,"
"Apa?" Salwa bertanya
"I LOVE YOU!"
"I Love You too."
Mereka langsung berciuman, dan saling memeluk erat. Kerinduannya yang begitu berat membuat Lila dengan erat memberikan pelukan hangat untuk Salwa. Bibirnya menciumi bibir Salwa yang empuk dan nikmat.
Tak ada akhir cerita yang lebih baik, selain mencintai diri sendiri. Kini kisah gadis sedih dan pria bahagia, berubah menjadi pasangan manusia sedih dan bahagia.
Lila Anggara akhirnya bisa menerima masa lalunya yang begitu menyedihkan. Saat ia menjadi seorang gadis sedih di Kota Jakarta. Salwa Armeta rasa keirian kepada masa depannya yaitu menjadi pria bahagia yang bernama Lila Anggara. Tinggal di Magonda dan bahagia salamanya, rasa irinya berubah sirna. Iya, ikhlas versi barunya lebih beruntung karena mendapatkan hidup yang lebih baik.
Dan yang terpenting Salwa bahagia, karena masih ada orang yang menginginkannya yaitu dirinya sendiri, Lila.
Walaupun hidupnya menyedihkan, menyakitkan, sampai ia membenci dirinya sendiri. Bahkan keirian mulai muncul dan berubah menjadi hal jahat untuk balas dendam kepada versi Reinkarnasinya yang lebih beruntung darinya.
Penulis akhirnya bisa memberikan pelajaran kepada mereka berdua untuk tidak saling egois, saling menerima diri mereka masing masing, dan saling melengkapi.
Rasa behagia memang adalah rasa yang paling di inginkan, rasa sedih adalah rasa yang di benci oleh semua orang. Tapi bila salah satu dari mereka pergi, mereka tidak akan lagi memiliki arti.
Bahagia tidak ada artinya tanpa sedih, itu pun sama sedih tidak ada artinya tanpa bahagia. Semua orang harus mencicipi mereka berdua, jangan di bandingkan karena nanti akan ada yang iri. Evaluasi mereka berdua, ada satu pelajaran yang ada dalam diri mereka.
Kesedihan mengajarkan kita untuk bersyukur saat kita bahagia, Kebahagian memberikan predikat seorang guru kepada kesedihan karena telah mengajarkannya.
Kesedihan adalah pelajaran, kebahagian adalah buah hasil dari kelulusan. Saat kamu belajar, kamu akan mendapatkan ilmu, dan ilmu tidak akan pernah cukup selama kamu hidup.
Oleh karena itu kamu terus di berikan kesedihan, biar kamu belajar.
Lalu kamu di berikan buah kelulusan yaitu kebahagian, agar kamu tetap semangat dalam menghadapi kesedihan. Kebahagian laksana bahan bakar, kesedihan laksana jalan yang akan kamu tempuh untuk mencapai kesuksesan.
Mobil butuh bensin, kalo udah di isi bensin. Tapi gak ada jalan untuk melaju. Apakah bisa sampai tujuan?
Ada jalan tapi mobil tak pernah di isi bensin, apa yang akan terjadi. Mogok di tengah jalan, sampai gak ke tempat tujuan?
Nggak,
Harusnya kaya gimana?
Jajan terus lalu berhenti isi bensin lalu jalan lagi. Ini yang bener. Begitu gambarannya, kamu pasti bahagi kok. Kalo bensin kan harus bayar?
Tapi bahagi nggak perlu bayar, gratis kok. Tuhan kasih buat kamu, dengan satu syarat. Kamu mau harus merasakan kesedihan dulu.
Setuju?
****
"Sampai kapan kamu mau bahagia?" Tanya Director Angel kepada gadis sedih.
Ini terjadi di bus tempat Salwa dan Lila bertemu, saat itu Salwa hendak mencopetnya.
"Secukupnya." Jawab Salwa sambil tersenyum
...The End...
__ADS_1
Ada sebuah buku di meja belajar, seseorang sedang membaca buku yang berjudul kisah gadis sedih dan pria bahagia. Seseorang itu di gambarkan bukan seorang pria ataupun wanita, dia adalah orang yang menulis kisah itu.
Setelah ia membacanya sampai bab terakhir, senyuman di bibirnya terbentuk. Lalu ia berkata, " Perfect Story" buku berjilid tebal warna hitam itu kemudian tertutup.