
"Aku senang melihat kamu dalam keadaan baik baik saja," ucap Lila.
Perbincangan yang terjadi di sebuah tempat makan yang ada salah satu mall di Jakarta. Mereka duduk berhadapan, kaca yang langsung tembus ke jalan itu memperlihatkan kedua pasangan yang tubuhnya telah tertukar.
"Iya heheh, lagipula ternyata jadi seorang pria nggak terlalu buruk,"
"Eum, lumayan lah!" Topik pembicaraan mulai terdengar ambigu.
"Maksudnya?" Heran Lila.
"Jangan bilang! Kamu udah liat dalaman aku,"
"Uhuk uhuk!" Salwa yang sedang meminum segelas soda dingin itu, langsung auto tersedak karena mendengar pertanyaan yang sensitif.
"Nggak! Bukan itu, yang aku maksud."
"Walaupun, yah aku akui. Sedikit. aku ngeliat," jelas Salwa di bantu dengan jarinya yang seperti sedang
mencubit.
"Aku terpaksa! Pas mandi, aku tadinya mencoba menutup mata tapi aku gak bisa mandi sambil gelap gelapan. Jadi yah gitu deh,"
"Kepegang."
"Tapi aku juga yakin kamu juga udah liat Daleman aku kan? Jangan bohong!" Ancam Salwa membalikan pertanyaan itu kepada Lila.
"Eum, yah aku juga liat sih sedikit." Gugup Lila.
"Kamu pegang?"
"Yah," Lila tersipu malu. Ia menaikan bahunya canggung karena Salwa terusan terusan menyudutkannya dengan pertanyaan yang gak pantes buat di bahas.
"Nggak kamu ***** kan?"
"Gila kali!" Teriak Lila sambil membentak meja.
Semua orang auto melihat ke arah mereka, pipi Lila memerah.
"Aku nggak se-mesum itu!" Bisik dia pelan. Sambil menenggelamkan kepalanya untuk menunduk.
"Baguslah, karena itu harus di simpan buat nanti."
"Nanti?"
"Iya nanti, kalo kita udah sah. Kamu boleh memiliki tubuhku seutuhnya, dan melakukan apapun yang kamu mau. "
"Kalo sekarang, ehem. Tahan nafsu dulu yah!" Salwa mendekatkan mulutnya ke wajah Lila , ia membisikan kata kata yang langsung membuat Lila ternganga bukan main. Bahkan ia meneguk ludah sangking salah tingkah.
"Oke! Oke terserah. Ganti topik please! Udah menyeleweng dari tema." Peringat Lila.
"Ngomong ngomong, aku gak ngerti kenapa kita bisa bertukar tubuh seperti ini," ujar Lila
"Aku pengen kita tukeran dan kamu jadi Salwa, aku jadi Lila. Seperti dulu."
"Andai aku tahu, aku juga pasti akan melakukan hal itu. Tapi aku juga sama sekali gak tahu, kenapa hal ini bisa terjadi sama kita, dan cara buat ngembaliin jiwa kita ke raga kita masing masing, aku juga gak tahu."
"Jadi lebih baik, kita tetap sabar. Dan menikmati situasi seperti sekarang ini, sambil kita mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi."
"Dan lagi pula, aku nyaman kok jadi Lila,"
"Kamu kenapa pengen cepet cepet tukeran tubuh, kamu gak nyaman yah jadi Salwa?" Tanya Salwa dengan nada menggoda.
"Nggak! Bukan gitu. Aku oke aja, jadi Salwa. Aku hanya kangen aja jadi diriku sendiri, yaitu menjadi Lila!"
"Eum, sabar yah. Jadi wanita gak seburuk itu kok, kamu cukup diem aja. Biar cowok yang berjuang, dan sementara itu, kamu harus tahan yah?"
"Kenapa?"
"Karena aku akan mulai menggodamu,"
"Dan mengajarkan bagaimana menjadi seorang wanita." Tatapan serius dari mata Salwa saat itu mampu membuat Lila baper bukan main.
Dia sangat mahir memerankan perannya sebagai seorang pria, yang tugasnya menggoda, menjaga, dan melindungi seorang wanita. Haruskah mereka tetap seperti ini saja? Lila menjadi Salwa, dan Salwa menjadi Lila.
"Oke kita sudahi dulu obrolannya sampe disini, mending kita makan dulu! Dan abis makan kita omongin lagi oke?" Kata Salwa.
Lila hanya bisa menurutinya.
****
Mereka memakan hidangan yang biasa orang orang biasa makan di Mall, yaitu fried chicken, nasi bowl, sama Pepsi KFC. Ini pertama kalinya Lila mencicipi makanan yang rasanya tidak hambar, seperti apa yang terjadi di Magonda.
Dengan lahap ia memakan hidangan itu dengan penuh nafsu makan, dan bahkan sampai belepotan.
Salwa tersenyum melihat tingkah lucu seorang Lila, "Gimana enak?"
Dia hanya mengacungkan jempolnya dan sibuk memakan semua hidangan yang ada di meja.
"Eu!" Ia pun bersendawa.
Semua orang di sekitar , yang duduk di kursi pelanggan di restoran itu. Langsung julid, dan langsung bisik bisik tetangga,
"Norak yah!"
"Kampungan banget!"
"Kaya yang belum makan setaun,"
"Kayanya di baru pertama kali deh makan di KFC,"
Begitula mereka, di Magonda tak ada orang seperti mereka yang mengurusi hidup orang lain tanpa mesti kita suruh terlebih dahulu. Bibir mereka dengan bebas mengatakan segalanya hal yang ingin mereka katakan, bisanya cuman bisik bisik dan ngomongin di belakang.
Mereka tak cukup berani untuk mengatakannya di depan, dan mereka tak punya kesopanan.
"Aku kenyang banget!" Lila meracau.
"Ini pertama kalinya aku makan makanan se enak ini, di Magonda makanannya serba hambar. "
"Karena orang orang disana tidak membutuhkan makanan ataupun minuman, mereka hanya melakukan hal itu atas dasar keinginan bukan kebutuhan. Tapi disini ada yang namanya rasa lapar, haus, dan sedih."
"Emang awalnya bila kita merasakan lapar, haus, dan sedih itu begitu menyakitkan, tapi hal itu adalah bentuk cobaan untuk ganjaran yang akan kita dapatkan. "
"Kenyang, lega, dan bahagia. Hal yang enak tidak akan berarti apa apa bila kita tidak mengalami hal yang enek terlebih dahulu." Jawab Salwa.
"Adanya hal yang membahagiakan mengajarkan kita agar bersyukur karena terhindar dari yang namanya kesedihan. Tapi kesedihan mengajarkan kita agar percaya suatu hari nanti rasa bahagia akan datang untuk menyapa kita."
"Menggantikan kesedihan, "
"Tapi bila kebahagian yang terus terusan kita dapatkan, rasa kebahagian itu akan tidak lebih dari kata membosankan. Dan rasa bahagia itu tidak berarti apapun lagi."
"Harus ada lawan dari sesuatu hal yang ingin kita dapatkan, agar kemenangan dari hal yang kita perjuangkan itu berharga dan akan selalu kita kenang tanpa adanya rasa lupa."
Penjelasan Salwa yang bijak menyentuh Hati Lila. Ia baru menyadari harus ada lawan di dunia ini, sedih- bahagia, lapar-kenyang, haus - lega, sakit-sembuh, pintar-bodoh, rajin-malas, baik-buruk, jatuh-bangun, jaya - bangkrut, gagal- sukses, penjahat - penyelamat.
Hal menyedihkan dan membahagiakan, hal buruk dan baik yang menjadi pasangan. Padahal sebenarnya mereka adalah lawan yang memiliki arti kebalikan, tapi dengan adanya mereka berdua. Mereka berharga, bila mereka sendirian. Mereka tidak ada apa apanya.
Pasangan yang terdiri dari lawan kata yang memiliki arti kebalikan, tapi dengan adanya mereka yang bersama, walaupun arti mereka beda. Mereka akan berharga.
Sedih dan bahagia, kedua hal yang bertolak belakang. Kenapa mereka harus tetap ada dan bersama , padahal arti mereka sangat jauh berbeda?
Jawabnya agar berharga,
__ADS_1
Manusia akan mengalami keduanya, mereka tidak bisa egois dan hanya memilih satu. Karena kesedihan dan kebahagian, adalah paket komplit yang menyatu, dan akan kehilangan arti bila di pisahkan.
****
Setelah makan, mereka langsung jalan jalan. Ini perayaan kencan mereka yang pertama setelah jadian, di sebuah Mall yang bernama Magonda. Salwa menyuruh Lila untuk merubah segala aspek dalam dirinya.
Awalnya mereka memutuskan untuk mengubah penampilan Lila terlebih dahulu, Salwa membawa Lila ke salon yang ada di sana untuk melakukan beberapa treatment. Rambut kusut, di sulap menjadi rambut halus bagaikan sutera. Yang dulunya berbau kini menjadi wangi, se wangi varian rasa creambath yang di pakai oleh Salwa.
Yaitu stroberi yoghurt. Aroma yang sedap di cium, wajahnya yang kucel di pakaikan face mask untuk menjadi lebih fresh. Sang ahli salon kemudian mengukir beberapa riasan di wajahnya, dan Lila yang berada di tubuh Salwa resmi menjadi seorang Cinderella.
Setelah pergi ke salon, lantas mereka melanjutkan untuk pergi ke toko pakaian dan sepatu. Lila yang hanya bisa diam, ketika Salwa yang mengatur segalanya. Orang orang yang memandang mereka berdua, menjadi baper karena mereka sangat tidak biasa ketika seorang pria mengatur segalanya untuk pacar wanitanya.
Memilihkan pakaian, sepatu, perhiasan, membayar semua yang di beli. Bagaimana mereka tidak iri, dengan tipe ideal seorang pacar yang di inginkan oleh kaum wanita. Baju lusuh ala ala pengamen jalanan kini berubah menjadi gaun biru muda selutut, sepatu wedges hitam. Dan kini dandanan Lila sudah menjadi ala ala selebgram.
Kalung emas tersemat di leher cantiknya, kukunya di cat warna mengkilat dan di pakaikan beberapa hiasan manik manik lonceng kucing. Kini penampilan itik buruk rupa telah berubah menjadi seekor merak yang berwibawa.
Aroma tubuh yang wangi, panampilan fisik yang menarik. Menjadikan Lila sebagai daya tarik mereka yang tidak sengaja berpapasan dengannya. Anting-anting di telinganya membuat dia lebih menarik saat melebarkan senyuman. Mereka berdua adalah pasangan yang cocok, sambil berpegangan tangan di mall.
Menjadi pusat perhatian netizen, seolah mereka adalah pasangan selebriti yang di ikuti banyak sekali paparazi. Merubah penampilan sudah, dan kini mereka beralih ke hiburan.
Menonton bioskop yang terlebih dahulu mereka lakukan, dan pas sekali film yang mereka tonton adalah film romantis. Saat scene tragis yang menimpa tokoh utama, lantas membuat Lila menangis.
"Hiks!" Isak tangis dari Lila mulai terdengar.
Salwa berbalik, "Kenapa?"
"Kasian, kenapa dia harus mati. Ini gak adil buat dia,"
"Namanya juga film harus ada hiburan dan pembelajaran di dalamnya, jangan terlalu di pikirin! Itu hanya drama."
"Tapi apakah hal itu bisa juga terjadi di dunia nyata?" Lila bertanya.
"Entahlah, bisa saja."
"Kalau suatu hari nanti di antara kita ada yang mati?" Lila kembali bertanya.
"Maka dia yang tertinggal, harus berjanji untuk tidak menangis. Dan kembali tersenyum, oke?" Salwa menghapus air mata yang membasahi pipi Lila.
Dan Lila pun kembali tersenyum, entahlah mati adalah sesuatu yang pasti terjadi. Dan tidak ada yang menginginkan mati sama sekali untuk terjadi.
"Kamu bahagia?" Salwa bertanya.
"Eum, aku bahagia."
"Benarkan apa yang aku katakan, kamu tak perlu takut. Selama kita bersama, kita bisa mewujudkan bahagia dengan cara kita sendiri. " Tegas Salwa.
"Iya, aku bersyukur karena kita bisa bersama."
"Dan, aku harap kita takkan pernah berpisah lagi."
"Heheheh," Salwa tertawa tipis.
"Udah! Lebih baik kita lanjut lagi, mari kita habiskan hari ini dengan kebahagian. Kita tidak akan pernah tahu kesedihan akan datangnya kapan, jadi selagi kesedihan itu belum datang, mari kita bersenang senang."
"Eum!"
Salwa meraih tangan Lila dan mereka berjalan bergandengan.
Mereka mendatangi wahana permainan, mereka bermain pum. Memasukan basket ke dalam ring basket, karaoke, berjoget di mesin pump.
Awalnya mereka tidak tahu bagaimana cara memainkan permainan itu, tapi setelah di pelajari mereka semua berhasil. Dan menguasi segala permainan yang di gerakkan oleh selembar kartu yang harus di tempel di tempat penempelan kartu yang ada di mesin permainan yang ingin mereka mainkan.
Sungguh hari yang menyenangkan untuk Salwa dan Lila. Entah apa yang akan terjadi esok, mereka tidak takut. Karena mereka bersama, dan memiliki banyak stock kebahagian yang mereka kumpulkan hari ini.
Dan bila kesedihan datang menghampiri mereka berdua akan mengenang masa masa membahagiakan yang telah mereka lalui, kemudian mereka akan percaya habis gelap terbitlah terang. Habis kesedihan , kebahagian akan datang.
****
"Serius ini rumah kamu, gede banget!" Mata Lila meneropong setiap inci rumah besar, megah, mewah yang tinggali oleh Salwa.
Rumah yang banyak terdapat kaca tembus pandang dikhususkan untuk melihat pemandangan luar yang indah, ada kolam renang, taman hijau di penuhi bunga serta tanaman nas asri.
Desain interior , furniture rumah , yang aesthentic dan minimalis. Cat putih yang membuat rumah ini terlihat memiliki aura yang cerah, sinar lampu lampu yang terpasang di atap atap rumah ini membuat rumah nampak sangat terang.
Ada satu lampu besar yang terdapat di ruang tamu yang terbuat dari pecahan kristal putih, sopa warna hitam, aquarium berisi ikan arwana, TV digital 42 inch, dan properti properti rumah lainnya. Seperti rak lemari, tumbuhan hias, patung dewa Yunani dan masih banyak lagi.
Tak banyak barang membuat lahan rumah tersebut nampak terlihat sangat luas, karpet berbulu lembut warna cokelat terhampar di ruang tamu.
AC lengkap dengan pengharum ruangan membuat hawa di rumah ini menjadi adem.
"Eum," Salwa hanya menjawab seperti itu.
"Syukurlah kamu hidup bahagia disini," Lila berbalik setelah ia melihat melihat sekitar.
"Darimana kamu tahu aku hidup bahagia disini?"
"Kalo hanya sekedar kamu menilai dari rumah yang mereka punya, uang mereka pegang, ekspresi wajah yang mereka tampilkan."
"Itu belum cukup untuk menilai orang tersebut bahagia atau tidak?"
"Bila hanya sekedar kemewahan, kekayaan itu bisa mengukur kebahagian."
"Aku lebih memilih untuk tidak hidup menjadi seperti itu, aku lebih memilih hidup sederhana. Berkecukupan, dan bahagia." Nada bicara Salwa terdengar lirih.
Lila menatapnya dengan tatapan kasihan, " Peranku disini adalah sebagai seorang pria kaya, hidup sebatang kara, tidak memiliki keluarga, dan kesepian."
"Pas pertama aku terbangun dengan fisikmu, dengan kamar megah tempat aku bermalam. Aku sadar ujianku pasti lebih hebat karena aku memiliki terlalu banyak hal yang belum tentu bisa dimiliki oleh orang lain."
"Kekayaan, kejayaan, kekuasaan, aku memiliki ketiga hal itu."
"Tapi manusia tidak bisa memiliki segalanya."
"Aku tidak merasakan kebahagian."
Salwa berjalan mendekat ke arah Lila.
"Tapi semua itu berubah saat kamu datang, aku bahagia sekarang."
Nafas mereka saling berhembus, tatapan serius terpampang di mata mereka berdua. Mereka bersyukur saling bertemu lagi.
"Kalo gitu, aaaaku,"
Salwa menunggu jawaban Lila yang tersipu gagap.
"Dimana kamar aku,"
"Aku capek, pengen segera tidur." Lila salah tingkah dan mengalihkan topik pembicaraan.
****
"Kita satu kamar!" Mata Lila membulat.
Lila terkejut saat Salwa membawanya ke kamar yang Salwa tempati. Kamar mewah, dengan ranjang luas , besar, dan empuk. Kamar yang berada di lantai dua, mereka bisa melihat pemandangan malam lewat kaca jendela kamar ini.
Lampunya di desain dengan cahaya smooth yang kuning agak pirang pirang gitu. Mirip lampu bioskop yang berwarna cream. Kasurnya memakai sprei berwarna putih lengkap dengan bantal dan gulingnya.
Ada lampu tidur di laci kecil samping ranjang, ada sofa panjang warna hitam di sana. Hal itu membuat Lila sadar, mungkin saja Lila akan tidur di sana tidak satu ranjang bersama Salwa.
Karena bila hal itu sampai kejadian itu akan membuat suasana begitu canggung.
"Eum, kamu keberatan? Aku bisa tidur di kamar lain kalo kamu keberatan,"
__ADS_1
"Nggak! Bukan gitu! Aku gak keberatan kok."
"Oke kalo begitu,"
"Mau aku dulu yang mandi atau kamu dulu, "
"Atau barengan?"
"Eugh!" Lila meneguk ludah.
"Aku dulu, aku duluan yang mandi. Kamu tunggu disini,"
"Yaudah nih handuknya!" Salwa mengambilkan handuk dari lemari hitam yang letaknya dekat meja rias.
Lila meraihnya dengan gugup, entahlah kenapa seorang wanita yang terjebak di tubuh seorang pria. Mahir sekali dalam hal menggoda, dan membuat Lila salah tingkah di buatnya.
Pikiran Lila di penuhi oleh hal negative, sambil membasuh kepalanya dengan air shower yang mengucur dari atas. Ia sudah terlebih dahulu mengunci kamar mandi ini dari dalam, ia takut Salwa akan tiba tiba masuk dan bergabung dengan Lila di bilik kaca kamar mandi ini.
Setelah usai mandi, Lila yang menutupi tubuh wanitanya dengan handuk baju warna putih. Dan menggulung kain handuk kecil menutupi rambutnya yang basah.
Pas ia membuka pintu, nampaklah Salwa yang bertelanjang dada dengan tubuh pria penuh otot yang di miliki oleh tubuh Lila.
Ia duduk di kasur sambil menunggu Lila keluar dari kamar mandi, tubuhnya membuat Lila tergiur. Otot otot yang menonjol , kulit bersih dan mulut, perut kotak kotak, dada berbidang, terutama ****** hitam itu. Wkwkwkws.
Salwa hanya memakai celana hitam panjang, dan sengaja memamerkan tubuhnya itu.
"Wait! Aku kenapa? Kok aku malah terpesona sama tubuh aku sendiri sih? Sadar Lila itu tubuh kamu sendiri, ini hanya sementara, dia hanya meminjamnya sebentar."
"Tahan oke! Nanti kamu akan mendapatkan tubuh seksimu kembali," Gerutu hati Lila.
"Tapi oh my God! Aku gak kuat! Dia terlihat seksi dan hot. Mungkinkah jiwa wanita telah tumbuh di jiwaku."
"Nggak! Itu gak boleh sampai terjadi, Sadar Lila! Kamu pria sejati, kamu gak bisa tergiur sama tubuh pria seksi punya kamu sendiri. Bukan berarti kamu berada di tubuh wanita, kamu berubah menjadi wanita seutuhnya."
"Kenapa kamu mengunci kamar mandinya?"
"Huh! Apa," Lila terperanjat kaget.
"Nggak papa."
"Kamu takut aku masuk yah, dan mandi bareng sama kamu?"
"Sial dia mulai menggoda lagi, dan ada yang aneh dengan diri kamu ini. Lila kenapa hati kamu bergetar setiap kali dia mengatakan hal hal yang menggoda seperti itu?"
"Sadar! Dia itu Salwa. Kamu Lila, kamu pria sebenarnya, kamu yang pantas menggodanya bukan dia." Hati Lila terus terusan menggerutu.
"Nggak! Aku nggak takut! Kenapa aku mesti takut! " Lila berlagak songong.
"Hehehhehe kirain," Salwa tersenyum.
"Oh iya kamu sadar nggak? Kalo moment ini terasa canggung."
"Seperti moment malam pertama pengantin baru."
"Jangan bilang! Dia mau ngajakin gituan! Nggak, aku gak bisa gituan dengan posisi seorang wanita."
"Dia tak bisa menjadi posisi pria untuk melakukan hal itu, akulah yang harus jadi seorang pria."
"Ehem! " Lila berdeham.
"Aku rasa kita keliru disini, bukan berarti kita bertukar tubuh. Kita juga bertukar posisi, kamu masih Salwa dan seorang wanita. Aku tetap Lila dan aku seorang pria, oke?"
"Apa bedanya, lagi pula kita sama sama saling suka. Aku masih cinta saat kamu menjadi seorang wanita dan itu aku, dan aku juga yakin kamu masih suka aku kan? Walaupun aku menjadi pria dan itu kamu."
Lila terlihat ketakutan saat Salwa mulai bangkit dari ranjang. Ia mulai mendekat dan hendak menerkam.
"Kenapa kamu mendekat? Kamu mau apa?" Teriak Lila Panik.
"Bilang I Love you udah, pegangan tangan udah, pelukan, ciuman, juga udah,"
"Kenapa sekarang kita tidak coba ke level selanjutnya?"
"Bercinta?"
"Bukankah seorang pria harus menjadi orang pertama untuk memulai sesuatu,"
"Mengutarakan isi hatinya kepada seorang wanita, mengajak wanita itu menjalin hubungan, memegang lebih dulu tangan wanita itu, memeluk lebih dulu wanita itu, mencium terlebih dulu wanita itu, dan memulai lebih dulu acara malam pertama dengan wanita itu."
"Bukankah seorang pria harus menjadi seperti itu? Menjadi pemulai dalam hal apapun, mendahului lebih dulu di bandingkan wanita yang sikapnya malu malu."
"Itu definisi seorang pria kan? Dan malam ini aku akan menjadi seorang pria untuk melakukan hal itu?"
Salwa berhadapan dengan Lila, tubuh mungil Salwa membuat Lila mendongak untuk melihat tubuhnya yang tinggi.
"Gimana kamu setuju?" Salwa dengan lancang menarik tali yang mengikat handuk baju yang memeluk erat tubuh Lila.
Handuk baju yang menutupi tubuh Salwa yang di pinjam oleh Lila, mulai mengendor karena talinya telepas. Salwa belum melanjutkan adegan panas tersebut yaitu, menanggalkan handuk baju berwarna putih yang masih melekat di tubuh Lila.
Mata Lila membulat gugup, hembusan nafas Salwa mulai terasa.
"Oh my good! Apa yang akan dia lakukan, kok aku jadi deg degan gini sih?" batin Lila bertanya.
Saat bibir Salwa mulai menyodor mendekat ke arah bibir Lila. Detik detik sebelum bibir mereka saling bertemu, Lila sempat menutup matanya.
Entah Lila akan setuju dengan apa yang terjadi kepadanya, apakah Lila akan setuju bercinta dengan posisi menjadi seorang Wanita.
"NGGAK STOP!" tangan Lila mendorong dan seperti sedang mengeyahkan sesuatu.
"Aku gak bisa melakukan itu di posisi menjadi seorang wanita! Aku ini seorang pria Salwa!"
"Jadi please hentikan! Permainan membingungkan ini."
Mendengar Salwa yang tak bergeming dan tidak menyahut apa yang di katakan Lila. Perlahan Lila membuka mata,
"What the hell!" Lila terkejut.
"Apa yang terjadi?"
"Salwa kamu dimana?"
"Salwa!"
"Apa yang sebenarnya terjadi! Aku ada dimana?"
"Dan tunggu kenapa aku tidak bisa berbicara?"
"Huh! Huh! Huh!" nafas Lila tersenggal dan tiba tiba saja ia berpindah tempat.
Ia dengan ajaib tiba tiba saja, ada di terminal. Hari sedang siang, ia masih terjebak di tubuh Salwa. Dan bajunya juga berubah menjadi dandanan preman jalanan.
Ia tidak membawa ukulele untuk mengamen,
"Apa yang dilakukan seorang gadis memakai baju preman jalanan di terminal?"
"Nggak! Jangan bilang aku disini buat mencopet, jangan bilang sekarang aku berubah seorang pencopet!"
Duga Lila di dalam hati, kepalanya geleng geleng karena tidak percaya.
"Apa yang sebanarnya terjadi? Kenapa aku tiba tiba berpindah tempat dan berubah wujud menjadi pencopet terminal?"
"Salwa kamu dimana? Aku takut. Ku harap kamu baik baik saja,"
__ADS_1