Pria Yang Tak Bisa Jatuh Cinta Karena Dulunya Dia Adalah Seorang Wanita

Pria Yang Tak Bisa Jatuh Cinta Karena Dulunya Dia Adalah Seorang Wanita
CHAPTER 5 Dunia Itu Namanya Jakarta


__ADS_3

Lila berada di pusat keramaian kota Jakarta, di daerah Bundaran HI. Dekat patung Pancoran, metropolitan dengan beribu kesibukan. Saat itu begitu ramai orang demi orang yang berdatangan, berkumpul, pergi, dan melakukan aktifitas mereka masing masing.


Seperti berjogging, berdagang, menunggu angkutan umum, dan lainnya. Lila memperhatikan satu demi satu, karakter para penduduk yang ada disini. Dari mulai pakaian, ada yang rapih berdasi, memakai pakaian formal kantoran, berseragam anak sekolahan, ada yang memakai pakaian yang enak di pandang, ada yang tidak, ada yang bekerja, ada yang bermalasan, duduk di aspal trotoar di alasi kardus tanganya merogoh meminta minta.


Kota ini sedikit mirip dengan Magonda, ada gedung gedung besar dan tinggi menjulang ke langit, tapi tak setinggi gedung yang ada di Magonda, jalanan yang terlihat bersih yang dilalui oleh Lila masih terdapat sampah yang bersembunyi. Sampah bekas makanan, sampah plastik, sampah botol, dan lain lain. Di Magonda tak ada yang seperti ini.


Disini ada angkutan umum, seperti angkot, taksi, ojek online dengan seragam hijau kebanggannya, bus, busway, dan masih banyak lagi. Manusia disini saling berkontak fisik, ada yang berjualan dagangan, ada yang menawarkan tumpangan, ada yang berdiri menunggu angkutan di pinggir jalan, ada yang mengobrol sambil jalan jalan, ada yang sendirian sambil mendengarkan musik.


Lila sadari kota ini adalah versi berbeda dari Magonda, gambaran ini sedikit mirip. Tapi makhluk yang ada di dalamnya itu berbeda sama sekali, mereka tidak melakukan hal yang manusia Jakarta lakukan.


Dan sepertinya Lila sudah resmi menjadi rakyat Jakarta, tiba tiba saja.


"Kurubuk!" Bunyi aungan dari perut kelaparan yang belum sarapan.


Perut Lila untuk pertama kalinya merasakan yang namanya lapar, saat Lila melihat ada gerobak bubur dan di penuhi para pembeli yang sedang duduk di kursi plastik sambil menyantap semangkuk bubur hangat.


Lantas hal itu membuat Lila meneguk ludah, Lila tak bisa asal sembarangan duduk di sana. Dan meminta semangkuk bubur kepada amang penjualnya, ia juga tidak bisa memikirkan makanan di benaknya dan muncul di hadapannya dengan ajaib, karena ini bukan Magonda.


Ini Jakarta, dimana ada harga yang mesti di bayar. Saat mereka menumpang , dan sampai ke tempat tujuan. Mereka harus membayar, saat mereka makan di pinggir jalan mereka harus bayar, mereka membayar setiap jasa yang mereka gunakan dan makanan yang mereka makan.


Mereka juga membayar barang yang mereka beli, contohnya balon gas yang di beli secara percuma oleh seorang ibu untuk menenangkan anaknya yang menangis. Apa yang mereka keluarkan, apa yang mereka bayar, hanya beberapa lembar kertas yang disebut.


Uang....


Kertas itu segalanya ternyata, semua orang bergantung kepada kertas yang disebut uang itu. Siapa yang membuatnya ia begitu hebat, karena menciptakan barang yang bisa mengatur segalanya, membeli segalanya, dan berarti untuk segalanya.


Bagaimana cara Lila mendapatkannya, Lila mulai berpikir. Dan di sebrang jalan ia tidak sengaja menjumpai orang yang satu profesi dengannya. Seorang pria jamet kurus kering, rambutnya funk warna ijo, ia membawa gitar. Dan mulai bernyanyi ke setiap orang yang ia jumpai, ia mendatangi orang yang sedang duduk dan berdiam diri.


Menyanyikan sebuah lagu dan memetik kunci gitarnya, setelah beberapa menit ia melakukan itu. Ia mengulurkan tangannya dan ia mendapatkan uang, ternyata mudah mendapatkannya. Lila tersenyum oke, "Mari kita lakukan!"


Langkah kaki yang di lapisi sepatu butut yang sudah berlubang. Lila mulai mendatangi setiap orang,


"Permisi!"


"Dengarkanlah wanita pujaan ku, malam ini akan ku sampaikan" Lila mulai bernyanyi.


Entah kenapa nalurinya seperti tidak asing lagi dengan kegiatan ini, ia merasa familiar dengan apa yang ia lakukan sekarang ini.

__ADS_1


"Terima kasih!" Akhirnya Lila berhasil mendapatkan uang receh pertama di pagi hari.


Itu membuat dia tersenyum bersyukur, Lalu ia mulai menambah jangkauannya. Ia terus berusaha mengamen, seharian full, rasa semangatnya tidak terpatahkan, bahkan saat keringat mulai membasahi tubuh, ia tidak peduli lagi. Baginya ia harus mengumpulkan banyak uang, membeli segala hal yang ia butuhkan, dan segera mencari Salwa yang terjebak di tubuh Lila.


Untuk awalan mungkin masih ada sisa kebahagiaan, saat Lila mengamen. Ia masih mendapatkan beberapa uang receh, dan beberapa respon baik dari orang orang yang ia nyanyikan. Saat mereka menolak enggan memberikan bayaran atas jasa hiburan kecil kecilan yang Lila lakukan mereka tetap berbuat sopan.


Tapi ia juga menjumpai beberapa orang yang karakternya bad attitude banget, ia mulai medapatkan beberapa hinaan, makian, pelecehan, dan sebagainya.


Salah satunya saat ia mendatangi beberapa anak pemuda yang sedang nongkrong,


"Cantik cantik kok ngamen sih? Mending ngelonte aja sana di Bar? Loh bakal dapet banyak uang dengan gampang. Dari pada loh harus capek capean ngamen di jalanan kaya gini,"


"Maaf maksudnya apa yah?" Kata Lila langsung memberhentikan nyanyiannya.


"Maksud gue , mending loh ngelonte!" Si laki laki tidak sopan itu berdiri dan mendekati Lila.


Tangannya dengan lancang menyentuh pantat Lila, " Loh gak tau caranya? Kalo gitu mau Abang ajarin? Tapi loh mesti ngasih gue testi"


"Brug!" Dia langsung melepaskan tangan hidung belang itu, ia menatap tajam cowok yang ia dorong itu sebelum pergi.


"Bisa bisanya dia menggoda, kalo dia tau kalo saya ini laki laki. Emang dia masih mau gitu ngegoda dan nyolek nyolek kaya gitu, ish! Cuih!" Ia menggerutu, semua orang yang mendengar gerutuannya sambil berjalan buru buru.


Setelah itu, ia mendatangi lapak bakso. Yang lumayan ramai di kunjungi pembeli. Mula mulanya ia mendatangi si abangnya yang sedang sibuk menjajakan bakso ke dalam mangkuk mangkuk yang berjajar di nampan gerobak itu.


"Permisi mas!"


"Jangan datang lagi cinta, bagaimana aku bisa lupa. Padahal ku tahu keadaanya kau bukanlah untukku,"


Mendengar suara Lila yang fals. Hal itu lantas membuat Abang tukang bakso itu naik darah, ia langsung menyiram Lila dengan air yang ada di di ember bekas cucian mangkuk.


"Huh!"


"Berisik! Kamu gak lihat saya lagi buat bakso. Lagian semenit yang lalu itu udah ada pengamen yang datang kesini, kamu gak liat tuh!" Bapak itu menunjuk pengamen yang ternyata sedang mengamen di bangku pembeli.


Bodohnya Lila malah datang kesini, tempat yang sudah lebih dahulu di isi oleh pengamen lain.


"Mbak! Lagian mbak masih muda. Cantik, mbak masih mampu kok buat kerja. Kenapa mesti ngamen? kaya orang yang gak ada kerjaan aja! Sana pergi ngelamar kerja. Dasar pemalas!" Berang si amang bakso.

__ADS_1


Lila menunduk memberi penghormatan maaf dengan kepalanya. Dan ia pun segera pergi dari sana, keadaanya basah kuyup dan berantakan. Bajunya di kotori banyak sisa sisa sayuran bekas bakso, malangnya nasib Lila.


"Apakah ini yang disebut kesedihan, rasanya tidak enak. Sengsara dan tidak bahagia," Batin Lila berbicara.


Perutnya yang keroncongan, yang menahan kelaparan sambil jalan di trotoar. Kepalanya menunduk , bahunya menciut tidak percaya diri. Lemas rasanya, ia lapar dan haus. Tapi uang yang ia dapat tidak cukup untuk membeli makan dan minum, kenapa ia mesti merasakan kelaparan dan kehausan kalau ia tidak mampu membeli makanan dan minuman?


Oh Tuhan! Mengapa kamu tidak menciptakan mereka seperti manusia yang ada di Magonda. Tidak membutuhkan apapun dan tidak merasakan perasaaan apa apa, hidup sendiri sendiri, individualisme, dan tidak memperdulikan siapa siapa.


Itu yang terbaik, dan yang mereka butuhkan. Karena mereka tidak perlu capek capek berusaha demi sesuap nasi, kalo mereka hidup yah hidup aja. Gak perlu membutuhkan apa apa, makanan , minuman, tidur, sepertinya itu hanyalah hal yang tidak semestinya mereka butuhkan.


Karena masih banyak orang yang susah payah untuk makan, mencari uang, tidak punya rumah untuk tempat beristirahat, lebih baik dari pada mereka kesusahan karena tidak mampu memenuhi segala hal yang mereka butuhkan.


Lebih baik mereka di ciptakan, tanpa perlu ada kebutuhan yang mereka harus penuhi. Kasihan! Mereka capek! Lelah! Pusing! Bingung! Sengsara! Tersiksa!


Lebih baik mereka di ciptakan hanya hidup, menjalani hidup sendirian, tidak membutuhkan apa apa, cukup. Tak perlu seperti Magonda yang bisa mengabulkan segala keinginan, hanya cukup tidak membutuhkan apapun dan hanya menjalani hidup. Adakan lah dunia seperti itu? Mungkin orang orang yang tinggal di dalamnya tidak akan sengsara dan akan bahagia selamanya tentunya.


Lila berpapasan dengan sebuah Mall, atau pusat pembelajaaan dan hiburan.


"Gedung megah itu namanya Magonda, disini Magonda hanya sebatas nama mall saja."


"Oh My God! Andai mereka tahu seperti apa Magonda sesungguhnya. Pasti mereka malu memakai nama itu untuk nama mall yang mereka kelola." Lila meracau.


Di depan mall itu Lila melihat orang orang di balik kaca sedang makan fried chicken, bahagia, tertawa, wajahnya berseri seri saat belanja segala hal yang mereka inginkan dan tentunya mereka harus memiliki cukup uang untuk membeli hal yang di inginkan.


Di Magonda, apapun yang kamu inginkan sudah tersedia lengkap dan gratis gak perlu bayar, tinggal berhalu dan munculah sesuatu yang kamu inginkan. Tapi Magonda ini mungkin, barang yang kamu inginkan ada, tapi tidak semuanya lengkap, dan kamu harus membayarnya dengan uang.


Tapi Magonda Mall dan Magonda yang Lila pernah tinggali, memiliki satu kesamaan. Yaitu terdapat kebahagian, semua orang yang masuk ke mall pasti bahagia.


Menonton film di bioskop, makan bareng sama pacar, belanja bareng istri. Lila memantaunya dari sini, dan mereka tersenyum, tertawa, dan setidaknya mereka bahagia walaupun sementara. Magonda tempat semua orang bisa bahagia.


Lila ingin masuk ke dalam sana, dan sepertinya itu gratis. Tapi saat membandingkan tampilan ia dengan mereka yang masuk ke dalam sana, pakaian yang modis. Coba cek Lila, pakaiannya kotor dan kucel.


Dan mereka gak membawa ukulele di tanganyw, mereka membawa tas dan pastinya itu bermerek dan mahal. Siapa yang membawa ukelele, dan memakai dandanan pengamen untuk masuk ke dalam mall?


Bisa bisa Lila auto di usir kalo masuk kesana, security nya pasti auto nething dan berpikir kalo pangamen seperti Lila masuk ke dalam mall hendak mencuri atau berbuat hal yang tidak senonoh lainnya.


Penampilan fisik termasuk aspek penilaian seseorang, jadi yah Lila merasa insecure. Dan mengurungkan niatnya itu untuk masuk ke dalam mall. Tempat yang pantas untuk Lila hanyalah jalanan panas bukan gedung ber AC seperti mall Magonda.

__ADS_1


"Jadi Lila kamu harus tahu diri, disini kamu hanya rakyat jelata. Dan hiduplah seperti rakyat jelata Jakarta bukan rakyat jelata Magonda yang bisa berbuat apapun oke?" Lila menyakakinkan dirinya untuk berkaca. Dirinya itu siapa sebenarnya disini.


Tinggal satu hari saja, Lila sudah sengsara dan seperti hidup di Neraka. Sepertinya Lila mulai sadar kalo Magonda itu adalah Surga, dan sekarang ia telah terusir dari Surga karena berbuat hal dosa yaitu jatuh cinta.


__ADS_2