
Setelah melalui pertimbangan semalaman, Lila belum kunjung mendapatkan sebuah jawaban. Haruskah ia menuruti kemauan Salwa atau merelakan Salwa untuk pergi karena benci.
Jujuur Lila tidak bisa memilih antara merelakan Salwa atau merelakan rasa bahagia abadi yang ada Magonda. Baginya kedua hal itu adalah harta penting yang harus ia miliki selamanya, Salwa adalah satu satunya makhluk yang ada di Magonda. Dia bisa berbicara, dan bergaul dengan Lila, kesedihan itu juga adalah hal di penasari oleh Lila sejak lama. Bagaimana rasanya, ia tak tahu karena di Magonda hanya ada rasa bahagia.
Esoknya Lila tetap bertemu dengan Salwa, di taman. Yang ada di pusat kota Magonda, taman megah. Alun alun modern, dimana tak ada satupun sampah yang berani hinggap mengotori hamparan rumput hijau yang di penuhi oleh kupu kupu yang hinggap di bunga bunga.
Dari seberang jalan Salwa menampakan diri, dengan dress putih di atas lutut. Rambutnya panjangnya di selipkan di bahu kanannya, ia mengenakan riasan wajah natural tapi begitu cantik dan menawan.
Layaknya bidadari yang turun dari surga, kaki mulusnya mulai melangkah menyebrangi jalan raya besar yang tak jarang di lalui oleh kendaraan yang di kendarai oleh warga Magonda.
Bangku taman yang di naungi awan sebagai payung perlindungan dari sinar matahari.
"Hai!"
"Hai!" Sapa Balik Dari Lila.
Salwa duduk di kursi kayu jati yang berhadapan dengan Lila.
Tak ada topik pembicaraan yang ingin di katakan oleh Lila, sebenarnya Lila takut kalo Salwa akan to the point dan langsung menanyakan keputusannya. Tanpa basa basi terlebih dahulu,
"Kenapa? Kok keliatannya kaku gitu?"
"Nggak. Cuman... Yah di sini agak panas aja."
"Bohong!" Celetuk Salwa. " Kamu lupa ini adalah Magonda, setiap hal yang kamu pikirkan pasti muncul di hadapanmu secara ajaib. Dan kalo kamu sekarang sedang kepanasan, dan menginginkan sebuah kipas angin yang senantiasa mengipasimu dari kegerahan."
"Pasti dari tadu benda itu sudah ada disini. Kalo kamu kepanasan."
Deg! Lila langsung skatmat. Sepertinya Salwa sedang dalam mood yang buruk, makannya ia bersikap sensitif.
"Listen! Sal. Aku tahu kamu agak kecewa karena sikap aku yang pengecut tidak setuju dengan hal yang kamu mau, aku hanya tidak ingin kita kecewa di kemudian hari saja. Bila keputusan yang kita ambil itu adalah pilihan yang salah."
"Oke! Aku ngerti. Sekarang aku tanya ke kamu apa yang kamu inginkan sekarang?"
"Aku?" Tanya Lila
"Iya kamu, apa yang ada kamu inginkan?"
"Oh....."
"Kayaknya belum, belum ada permintaan apapun yang ada di pikiranku sekarang ini."
"Oke kalo gitu, mari kita pikirkan apa yang kita inginkan sekarang ini"
"Eumm... Oke," balas Lila dengan ragu.
"Aku duluan!"
Tak lama lantas Salwa memejamkan matanya, dahinya mengkerut tanda kalo ia sedang berusaha memikirkan apa yang ia inginkan.
Dan seikat buket mawar merah tiba tiba muncul di tangan kiri Salwa, "Aku mau ini!"
Itu adalah sebuah kode, mawar merah berarti pernyataan cinta. Sebenarnya sebelum Salwa datang kesini untuk menemui Lila, hatinya sudah berharap halu kalo hari ini Lila akan mengutarakan cinta kepada Salwa, dan memintanya untuk menjadi kekasih Lila dengan bunga mawar merah sebagai bentuk ungkapan.
Namun ternyata keinginan itu sama sekali tidak terwujud, semoga untuk kali ini Lila bisa peka dengan kode yang di berikan oleh Salwa.
"Sekarang gilirannmu! Coba buat keinginan!"
"Aku coba yah." Lila memejamkan matanya, matanya mengerut. Dia mengalami kesulitan untuk membuat permintaan, ia memaksakan terus menerus.
"Hah! I can't. Ga ada yang aku pengen untuk sekarang ini."
"Kamu harus buat satu keinginan! Kamu bisa meminta apa pun terserah. Bayangkan apa yang sebenarnya kamu inginkan, bayangkan itu!"
"Sesuatu, sesuatu yang aku inginkan. Yang benar benar aku inginkan, aku ingin itu! Aku ingin sesuatu yang benar benar aku ingin. Munculah di hadapanku sekarang juga!" Perlahan matanya terbuka, penglihatan yang blur berubah menjadi fokus.
Penampakan seorang wanita cantik, yang tak lain adalah Salwa. Apakah Salwa yang benar benar di inginkan oleh Lila.
Lila ternganga, Salwa menatap sinis.
"Hei! Hello! Lila!" Dia melambaikan tangannya di hadapan Lila yang bengong.
"Iiiya ada apa?" Lila terkejut.
"Sudah?"
"Sudah belum bikin permintaannya, apa yang kamu inginkan? Mana udah terkabul? Coba sini aku lihat!"
Lantas Lila menerobos ke meja pizza berbentuk bulat, ia menaiki meja itu untuk melihat isi dari tangan Lila yang Lila sembunyikan di kolong meja.
Lila yang terkejut dengan tingkah Salwa yang mengejutkan, wajahnya nyosor dan mendekat. Mata mereka saling bertabrakan.
"Kok nggak ada?" Salwa berhasil membuka kepalan tangan Lila dan ternyata tidak ada apa apa disana.
Deg! Deg!Deg! Lila menelan ludah gugup. Jarak Salwa begitu dekat kira kira lima sentimeter dari mata Lila. Lalu mata Salwa mendongak dan itu membuat mereka saling bertatapan.
Hembusan angin sejuk, tiba tiba berdebus. Moment romantis itu berlangsung lumayan lama.
"Apa yang kamu inginkan?"
"Kamu, aku ingin kamu Salwa." Suara Hati Lila menjawab.
Salwa memiringkan bibir karena Lila tak kunjung menjawab pertanyaannya, ia pun kembali duduk di kursi taman yang terbuat dari kayu jati dan memiliki bantalan yang terbuat dari awan yang empuk.
"Lila! Lila!" Panggilnya.
"Iya ada apa?"
__ADS_1
"Kok kamu malah melamun sih? Sebenarnya apa yang kamu inginkan, permintaan apa yang kamu buat Lila, Kasih tau aku? Aku penasaran."
"Nggak! Aku nggak minta apa apa, nggak ada yang aku inginkan untuk sekarang, karena semuanya sudah lengkap. Gak ada lagi yang aku butuhkan, jadi aku tak membuat keinginan."
"Eum oke, terserah!"
"Kalo gitu mari kita membicarakan tujuan kita bertemu di taman ini untuk apa? Kamu udah buat keputusan?"
Deg! Akhirnya Salwa menagih janji yang mereka buat kemarin. Janji bahwa Lila akan memberitahu keputusannya untuk setuju dengan keinginan Salwa atau tidak.
"Kok kamu malah diem!"
"Jangan bilang! Kamu masih belum mutusin buat setuju atau tidak dengan apa yang aku inginkan."
"Lil! Semalam kita udah sepakat kan? Kamu harus milih mau setuju dan menjalin hubungan dengan aku lalu kita merasakan yang namanya kesedihan. Atau kamu tidak setuju dan kita gak bertemu lagi, kamu hidup di Magonda selamanya? Dan aku bisa cari orang lain yang mau setuju dengan aku yaitu merasakan kesedihan."
"Kayakanya percuma deh! Lebih baik aku pergi."
"Nggak! Wait! Salwa!" Lila menahan Salwa untuk bangkit dari kursi yang ia duduki.
"Aku udah putusin, aku memilih untuk menjalin hubungan dengan kamu. Tapi kita tetap harus tinggal di Magonda dan kita harus bahagia selamanya disini."
"Hubungan seperti apa yang kamu maksud? Hubungan apa yang selalu bahagia? Hubungan apa yang selalu berlangsung dengan lancar dan baik baik saja?"
"Lil! Kita udah bahas ini semalam, kamu udah tahu alasan aku pengen merasakan kesedihan itu kenapa? Dan jujur aku gak ada waktu buat orang yang gak serius! Aku gak ada waktu buat oranh yang gak mau di ajak komitmen."
"I know, tapi Sal! Gimana kalo kesedihan itu emang hal yang buruk, alasan kesedihan itu gak ada karena semua orang gak mau sedih. Sesuatu yang gak disuka emang semestinya gak ada. Bisa saja kesedihan itu adalah hal yang menyakitkan dan menyiksa, dan semua orang gak mau mengalami yang sedih."
"Semua orang ingin bahagia, makanya di Magonda kesedihan itu gak ada. Karena gak inginkan."
"Bagaimaan kamu tahu kesedihan itu rasanya menyakitkan, dan bikin orang tersiksa. Kenapa kamu bicara seolah olah kamu pernah merasakan yang namanya kesedihan? Kenapa kamu terdengar sangat takut dengan yang namanya kesedihan? Apakah kesedihan adalah hal yang menakutkan? Apakah kesedihan adalah sesuatu yang jahat?"
"Yang pantas di takuti dan tidak di inginkan keberadaannya?"
"Aku akan bertanya sekali lagi! Lila apakah kamu pernah merasakan kesedihan?"
Lila tidak berkutik, pertanyaan yang dilontarkan Salwa begitu rumit. Lila gak tahu harus jawab apa.
"Nggak! Sama sekali nggak! Aku gak pernah merasakan kesedihan. Bagaimana aku merasakan hal yang sama sekali gak ada di Magonda. "
"Hal yang gak akan pernah bisa ada di Magonda, bahkan sekalipun kamu menginginkan hal itu untuk kamu rasakan!"
"Lantas kenapa kamu begitu ketakutan, seolah kamu mengenal baik siapa itu kesedihan. Dan sikapmu sekarang ini seperti seseorang yang menghindari musuh yang sangat ia benci." Debat Salwa.
"Dan satu hal lagi, apakah kamu pernah sekali kali mencoba bertanya? Alasan kamu ada di Magonda itu untuk apa? Dan kenapa kamu bisa ada dan hidup disini?"
"Lalu apakah kamu heran mengapa kita berdua itu sangat berbeda dengan orang orang di Magonda yang lainnya, mereka tidak memiliki perasaan. Yang mereka rasakan hanyalah hidup bahagia selamanya,"
"Dan kenapa kita bisa saling berhubungan dan mengobrol seperti sekarang ini? Padahal kita diciptakan untuk hidup secara masing masing ?"
"Pertanyaan itu pernah aku tanyakan kepadamu pas kali pertama kita bertemu, di dalam gerbong kereta dan kamu menjawabnya dengan jawaban-"
"Kamu benar, alasan kita bertemu karena takdir. "
"Dan mungkin kamu juga pernah bertanya tanya apakah Magonda adalah Surga? Karena semua orang yang ada disini semuanya bahagia."
"Atau Magonda adalah neraka, dan kita semua sedang disiksa dengan cara di bahagiakan selamanya?"
"Bababa.. Bagaimana kamu bisa tahu aku pernah mempertanyakan hal itu?" Lila gagap, ia gemetaran karena merasa terkejut kenapa Salwa bisa tahu. Hal yang sama sekali belum pernah ia beritahu.
Satu senyuman terlukis di wajah Salwa, senyuman yang terkesan menyeramkan dan menakutkan.
Gadis cantik itu pun berdiri dari bangku yang ia duduki.
"Ikut aku!" Ajak Salwa.
"Kemana?" Heran Lila.
"Aku akan tunjukkan Magonda itu apakah Surga atau neraka?"
****
Salwa membawa Lila ke jembatan penyebrangan. Jembatan tinggi megah itu terbuat dari bahan baku nan kokoh, seperti batu giok dan bahan bangunan lainnya yang memiliki kualitas tinggi. Permukaannya halus di buat dari bahan porselen.
Lila di suruh menunggu di bawah, sementara Salwa sedang berdiri di atas jembatan penyebrangan itu. Tangannya memegang pagar besi baja yang berwarna putih.
Dari trotoar tempat Lila berdiri, ia memperhatikan gadis cantik itu akan melakukan apa di atas sana. Gadis itu mengambil ancang-ancang dan ternyata ia melompat dari atas jembatan itu.
HAH!
Hal itu sontak membuat mata Lila membulat sempurna , "Salwa!" Teriaknya.
"Stop!"
Bleus! Seketika waktu berhenti. Semua orang mematung dan berubah menjadi mannequin. Tak hanya manusia yang aktivitasnya terhenti, bahkan burung yang terbang di langit, kendaraan yang melaju di jalanan, daun yang hendak terjatuh ke tanah. Semuanya berhenti seketika.
Lila baru sadar kalo ia juga bisa menghentikan waktu di Magonda, setelah sadar waktu sedang berhenti. Ia bergegas berjalan menuju tempat pendaratan jatuhnya Salwa, tubuh Salwa masih melayang di udara.
Huuu! Lila menghela nafas. Dan Bret! Ia pun melompat terbang untuk menangkap tubuh Salwa yang berhenti bergerak.
Terapung di udara, ia memeluknya. Membopongnya dengan gaya bridal.
Ia pun turun dan mendarat di aspal jalan dengan sempurna, dan sejenak setelah itu waktu kembali berjalan. Dan tanpa di suruh semuanya kembali bergerak, bahkan mobil , motor yang sedang melaju di jalanan raya. Tempat Lila berdiri membopong Salwa.
Mereka memberi space, untuk mereka berdua. Dengan berjalan menyisi, memberi ruang tengah jalan untuk tetap kosong demi mereka berdua.
Salwa mengangkat wajahnya untuk melihat sosok bertubuh kekar yang sedang memangkunya. Itu Lila rambutnya terbawa semilir angin. Detak jantung mereka berpacu begitu cepat saat moment romantis kembali terjadi kepada mereka berdua.
__ADS_1
"Kamu gila?" Bentak Lila.
"Kenapa kamu melakukan hal bodoh itu, kamu mau mati Huh? Jangan karena di Magonda kamu bisa bebas melakukan apa saja, kamu masih punya nyawa dan itu bisa melayang kapanpun. Jadi stop berbuat hal bodoh seperti tadi oke?"
"Apakah kematianku juga adalah hal yang menakutkan untukmu, hal yang kamu benci dan tak ingin sampai terjadi?"
"Apakah kematianku adalah hal yang menakutkan untukmu?"
"Tentu saja, kematian kamu adalah salah satu hal yang menakutkan, bahkan itu adalah salah satu ketakutan yang mempunyai level tertinggi. Dan aku tak ingin hal itu sampai terjadi, karena kalau hal itu sampai terjadi. Aku akan merasa benci!"
Tanpa meminta Lila untuk menurunkannya, Salwa langsung turun begitu saja dari pangkuan tangan Lila yang sangat nyaman.
Ia berdiri, " Kamu masih bisa menghadapi itu, ketakutan itu. Rasa takut akan kesedihan, aku yakin kamu pasti punya cara untuk menghadapinya. Saat hal itu benar benar terjadi. Seperti tragedi bunuh diri yang aku lakukan sekarang, kamu menyelamatkan aku."
"Dan kamu bisa melewati hal yang kamu benci dan hal yang kamu takuti yaitu kematian aku."
"Aku yakin kita akan saling mengandalkan bila mengalami kesedihan yang katanya sangat menyakitkan, dan saat kita benar benar tersiksa dengan kesedihan yang kita punya. Kita pasti bisa melaluinya karena kita bersama. Dan kita akan selalu bersama selamanya, tapi aku tidak janji kalo kita bisa hidup bersama selamanya di Magonda."
"Karena disini semuanya sudah bahagia, semuanya sudah sempurna. Kita tidak bisa menjalin hubungan di tempat ini."
"Bila dengan sendiri saja kita sudah bahagia dan hidup kita sudah sempurna, untuk apa kita menjalin hubungan dengan orang lain."
"Benarkan."
Lila hanya termenung bingung.
"Tapi bila itu di dunia lain, di dunia yang tidak hanya ada rasa bahagia selamanya yang kita rasakan. Tapi ada juga kesedihan yang harus kita lalui, aku akan berjanji kita akan selalu bersama sama selamanya." Jelas Salwa dan mereka pun saling bertatapan satu sama lain.
"Karena kita akan saling melangkapi satu sama lain, untuk mendapatkan kesempurnaan."
Malam merubah posisi, siang hari telah pergi. Salwa dan Lila sedang berjalan di jalan dekat pantai, pesisir pantai yang di tumbuhi pepohonan kelapa yang sangat tinggi dan lindang.
Lukisan galaksi yang di buat Tuhan malam itu, nampak hadir di kanvas awan warna hitam. Di taburi oleh ribuan bintang bintang di angkasa, yang senantias bercahaya.
Jalan aspal yang tak ada orang malam itu, kecuali Lila dan Salwa. Yang berjalan tanpa berdampingan, cahaya lampu jalan berwarna kuning sangat indah menemani jalanan gelap menakutkan.
Salwa berjalan di depan, Lila membuntutinya di belakang. Ia melihat tangan Salwa yang terurai ke bawah, ingin sekali ia berpegangan tangan dengannya. Dan berbagi kehangatan satu sama lain. Lila belum memutuskan setuju atau tidak dengan keinginan Salwa yang ingin merasakan kesedihan.
Hal itu menjadi beban pikiran tersendiri untuk Lila, suara suara dan janji janji yang Salwa sampaikan siang itu. Terus berputar seperti musik di pikiran Lila, janji Salwa yang mengatakan akan bersama selamanya dengan Lila. Bila mereka memutuskan jatuh cinta dan resmi di keluarkan oleh Magonda serta di hukum menjalani kesedihan selamanya.
Janji Salwa, yang berbunyi kita akan saling melengkapi dan kita akan menghadapi kesedihan yang menakutkan itu bersama bersama. Janji itu terdengar menggiurkan, Lila sempat terbuai dan tergoda oleh janji tersebut.
"Tunggu!" Teriak Lila.
Salwa berbalik, Lila berjalan dengan cepat untuk menyusul.
Mereka saling bertatapan hendak mengobrol, "Benarkah itu? Benarkah apa yang kamu katakan? Tentang janji kamu yang akan tetap selalu bersamaku.
" kalo aku mau merasakan kesedihan bersamamu?"
"Eum," Sahut Salwa
"Kita akan saling melengkapi dan kita akan bersama bersama menghadapi kesedihan yang menakutkan itu?"
Air mata Lila mulai berbinar, "Iya Aku Janji!"
"Kita akan selalu bersama sama, berdua selamanya. Benarkah itu? Kamu tidak akan bohong dan mengingkari janji itu kan?"
Pertanyaan yang terakhir dari Lila membuat Salwa berhenti, ia tidak selancar menjawab pertanyaan pertama dan kedua.
Lila menatap ragu, sebelum akhirnya Salwa mulai kembali bersuara. "Aku takkan pernah mengikari janji untuk hidup bersama selamanya denganmu, saling melengkapi, dan bersama sama menghadapi kesedihan. Mencapai sebuah kesempurnaan bersama bersama, selamanya.
"Karena kita satu, kita di takdirkan untuk jadi pasangan. Mereka menyebutnya dengan sebutan 'jodoh'"
Lila tersenyum, sinar binar tulus yang terpantul dari mata Salwa. Membuat dia terharu, ucapannya begitu pas dan menusuk hati Lila yang terdalam. Ia yakin Salwa benar benar tulus dengan itu.
"Baiklah, ayo kita lakukan!"
"Mari kita saling jatuh cinta, dan melanggar aturan Magonda. Mari kita menjadi orang yang menerima hukuman untuk mengalami kesedihan selamanya," ungkap Lila hampir menangis.
"Terima kasih, " sendu Salwa.
Lalu Salwa mendekat, mereka saling memandang dekat. Jarak berdiri mereka begitu rapat, " Cinta di utarakan dengan kata kata, tapi cinta disahkan dengan adanya tindakan."
Kilas balik suara Salwa yang pernah mengatakan ," Bila keseringan bilang I Love You mungkin kata itu akan menjadi kata biasa dan gak mempan."
"Harus pake tindakan?"
"Apa?"
"Eum, mungkin pegangan tangan, pelukan, ciuman, atau bercinta."
Seketika hal itu membuat rasa sesat di benak Lila, apakah ini waktu yang tepat untuk melakukan hal itu. Apakah yang tadi Salwa ungkapan adalah bentuk kode untuk Lila.
Ayolah Lila! Salwa menginginkan kamu untuk melakukan hal itu. Salwa ingin kamu memegang tangannya dan mencium bibirnya, Salwa menginginkan itu tapi ia tak bisa memulainya terlebih dahulu.
Lila mengumpulkan segala keberaniannya, dengan perlahan ia meraih tangan Salwa. Menggenggamnya, dan Salwa tersenyum malu.
Lalu ia mulai memegang pipi Salwa dengan sebelah tangannya. Dan jreng! Jreng!
Bibir Lila mendekat dan Salwa mulai memejamkan mata. Ia pasrah membuat bibirnya sebagai bandara tempat mendarat pesawat bibir Lila yang sebentar lagi akan benar benar mendarat dengan sempurna di bibir Salwa yang empuk.
"Muach!" Akhirnya mereka berciuman.
Itu ciuman pertama yang terjadi di Magonda, langit malam di pesisir pantai menjadi saksi ciuman dua insan yang telah melanggar peraturan Magonda.
Lalu dari beribu ribu bintang yang ada di galaksi Bima sakti, satu bintang jatuh dan berubah menjadi sebuah roket. Yang lewat tanpa permisi di tengah tengah adegan romantis Lila dan Salwa.
__ADS_1
Malam yang indah, apa yang akan terjadi dengan esok hari. Entahlah itu masih jadi misteri, tapi untuk malam ini. Mereka begitu menikmati moment dimana bibir mereka saling berciuman.
Ciuman berganti menjadi pelukan hangat, " Terima Kasih Lila." Bisikan indah dari bidadari terdengar di telinga Lila seolah itu adalah dongeng selamat malam.