
"Percayakah kalian akan karma?" Pertanyaan itu muncul dari dosenku, saat kami sedang mempelajari sejarah Cina. Beberapa ada yang menjawab iya, ada juga yang menjawab tidak. Walaupun aku terlahir dari keluarga keturunan Tiongkok, tak serta merta membuatku percaya akan fengshui, karma, atau ilmu sejenisnya.
Kelas sejarah Cina sangat membosankan bagiku, suara dosen terdengar seperti seorang Nenek yang sedang mendongengkan sang cucu agar tertidur.
Entah, kenapa saat sang dosen menceritakan asal usul anak naga, seperti sebuah lubang besar yang ada di white board menghisapku ke dalam lubang hitam itu.
"Putri Yuen Rho, menghindar!" Suara teriakan itu terdengar memekakkan telingaku. Entah, darimana datangnya seorang pria berjubah besi menolongku dari seorang seekor naga yang berusaha membunuhku.
"S .. ssi .. sia .. pa kau? Aku di mana? Hewan apa tadi?" Aku melihat ke sekeliling, langit yang merona merah karena semburan api dari mulut sang naga, belum lagi pria berjubah besi ini menunggangi hewan separuh tubuhnya serigala dan separuh lagi berbadan naga.
"Saya panglima Han, siap menjaga Tuan Putri Yuen Rho! Saat ini negri kita sedang dikuasai oleh para naga, semua ini karena hasutan dari Dewa air yang menguasai lautan. Keturunan Kaisar Yuen, harus kami lindungi sampai kami mati." Perkataan sang panglima membuatku terhenyak.
Setelah aman dari sang naga, Panglima Han memberikan perintah kepada hewan tersebut.
"Ya Tze, turun!" Suara sang panglima terdengar lantang, sambil menghentakkan kakinya ke tubuh hewan itu.
Hewan berkepala serigala dan berbadan naga itu mengikuti perintah sang panglima, dari ketinggian beberapa ratus meter di atas permukaan tanah, hewan itu mendarat perlahan, ke sebuah desa yang terpencil di dalam hutan.
Dari sebesar dinosaurus tubuh Ya Tze mengecil sebesar anjing Husky Siberia.
Sang panglima turun, aku terjatuh dari tubuh hewan yang bernama Ya Tze itu, tak sangka hewan tersebut bisa mengecil. Meski wajahnya menyeramkan, saat mengecil ia terlihat menggemaskan.
Saat aku terjatuh semua orang di hadapanku bersujud.
"Sembah sujud kepada Putri Yuen Rho, semoga putri panjang umur, kami semua bersedia mati demi membela Kaisar Yuen! Panjang umur Kaisar Yuen dan keturunannya!" Serentak semua berkata yang sama, padahal tidak ada aba-aba dari sang panglima.
Aku mencoba bangkit,kulihat bajuku berbeda dari yang aku kenakan saat di kampus tadi. Ya Tuhan, apakah ini mimpi? Kucoba beberapa kali menampar wajah dan pipiku, tak ada rasa nyeri.
__ADS_1
"Tuan Putri, tolong jangan sakiti diri anda, kami rela memukul wajah kami bila Tuan Putri kecewa dengan pelayanan dan bakti kami." Sang panglima kembali bersuara.
Dan yang lebih menggelikan bagiku, adalah saat mereka juga ikut memukul wajah dan tangan mereka, seperti yang aku lakukan tadi.
"Cukup! Aku mohon, jangan sakiti diri kalian lagi, bangunlah! Aku akan bersedih bila kalian juga sakit! Kalian harus hidup dan kuat demi menjagaku, bukan?" Aku merasa seperti sedang memainkan drama kolosal Cina, seperti di film-film. Kurasa, gayaku sudah pantas dianggap seperti putri raja.
"Bangkitlah, Panglima Han! Bagaimana keadaan Ayahku, saat ini?" Pertanyaan ku rupanya membuat gugup sang Panglima.
"Ampun Tuan Putri, Kaisar Yuen saat ini telah gugur ketika berperang melawan sang naga, hamba bersalah tak dapat melindungi Kaisar, karena Kaisar memerintahkan hamba untuk melindungi Tuan Putri, karena tuan Putri lah sumber energi Yin di dunia ini, kami harus membawa Tuan Putri pada pangeran Tan Ek Chuan. Kami harus menyeimbangkan antara kekuatan Yin dan Yang, sebelum naga bereinkarnasi menjadi dewa penjaga lautan.
"Lalu, kita masih harus berjuang mencari Pangeran Tan? Bagaimana bila pangeran Tan menolak untuk pernikahan ini?" tanyaku.
"Kerajaan Tan dari negri Shian-yuang sudah menyetujuinya, ini demi perdamaian dunia, dari kekejaman sang naga."
"Baiklah, kalau begitu. Pastinya itu adalah titah dari Kaisar, tidak ada yang bisa melanggar perintah agung dari Kaisar Yuen. Besok, bawalah aku ke negeri Shian-yuang."
****
Sepanjang perjalanan rupanya kami diganggu oleh salah satu anak naga, yaitu Bi Xi atau lebih dikenal dengan nama Baxia, Bi Xi ini memiliki tubuh kura-kura dan berkepala naga, Bi Xi mendatangkan banjir bandang saat perjalanan kami ke negara Shian-yuang. Puluhan pengawal bersama kudanya terbawa arus banjir. Aku sendiri terselamatkan karena menunggangi Ya Tze. Ya Tze ini bisa melompat dan terbang jauh, karena itulah kami selamat dari banjir.
Mereka berdua bertarung, padahal keduanya adalah anak dari seekor naga lautan.
"Panglima Han, mengapa Ya Tze justru membantu kita? Bukankah Ya Tze sendiri adalah saudara dari Baxia?" tanyaku sambil menggenggam erat tangan sang Panglima, yang berusaha mengendarai Ya Tze.
"Awal Ya Tze lahir, sang naga tak menyukainya, bahkan ia ingin memakan Ya Tze hidup-hidup, Ibu Ya Tze yang melindunginya dari amukan sang naga, dan akulah yang merawatnya dari kecil hingga sekarang ini." Walaupun sambil bercerita, sang Panglima tetap fokus melindungiku dari serangan Bi Xi atau Baxia.
Banjir besar yang melanda beberapa desa dan membuat kacau ketidakseimbangan energi chi atau energi alam, membuat Dewa Bumi akhirnya memenjarakan Baxia dengan papan berelemen logam yang merupakan kelemahan dari Baxia.
__ADS_1
"Tuan Putri Yuen, bersiaplah tinggal satu desa lagi, satu desa maka kau bisa menikahi Pangeran Tan." Panglima Han berkata kepadaku, tapi aku justru tak senang mendengarnya.
Bagaimana, mungkin aku yang baru menginjak semester 3 harus menikah. Kenal aja belum sama si Pangeran.
Bagaimana, caranya agar bisa lari dari tempat ini? pikirku.
****
Setelah bermalam di hutan sampailah akhirnya kami di negri Shian-yuang.
Para pembesar negeri Shian-yuang sudah berbaris menunggu kami. Iring-iringan pengantin mengiringi aku, untuk dibawa ke Pangeran Tan. Baju dari sutra satin termahal sengaja dibuat untukku, aku di dandani dengan riasan yang cantik. Tak sangka alat rias jaman dulu terlihat unik dan menarik.
Saat aku selesai berhias, para dayang mengantarkan aku ke tempat upacara pernikahan berlangsung.
Di ujung pelaminan kulihat sang pangeran yang tak pernah aku kenal sama sekali, akan menikahiku.
"Permaisuriku Putri Yuen, demi menjaga kelestarian bumi ini dari kehancuran maukah kau menikahiku?" tanya Pangeran Tan.
"Wahai Pangeran Tan, perdamaian dunia dan titah dari Kaisar Yuen, aku akan melaksanakan titah kaisar." Suaraku sedikit bergetar, seharusnya dalam film-film masih ada begundal yang akan menghalangi pernikahan ini, pikirku.
Sesuai dengan dugaanku, sang naga datang menghancurkan dinding istana. Dari mulutnya ia semburkan api panas.
Entah kenapa saat ini yang aku rasakan api itu dingin tidak panas.
"Kenapa dingin, ya!" Aku berusaha mengerjapkan mataku sambil mengusap wajahku yang sudah di siram air mineral dingin oleh dosen.
"Enak betul ya, semua mendengar dan mencatat, kamu malah asyik-asyik tidur, ceritakan kembali tentang kisah pernikahan Putri Yuen Rho dan Pangeran Tan, sekarang juga."
__ADS_1
"A .. apa? Pangeran Tan dan putri Yuen Rho?" Aku mengucek-ngucek mataku berpikir ini mimpi atau bukan.