
Sambil memasuki kota Fu Xibi aku terus memperhatikan benang merah yang mengikat kakiku, benang itu mengarah pada kaki Panglima Han. Karena, terus menerus memperhatikan benang merah itu, kakiku tergelincir saat menghindari batu di jalanku.
“Ups!” Aku terjatuh, tubuhku hampir roboh ke tanah. Sayangnya, ada sebuah tangan kokoh yang dengan sigap meraih tubuhku. Panglima Han merangkul pinggang aku, dengan erat, tatapan matanya seperti pedang tajam yang menembus jantungku. Sepersekian detik rasanya waktu seperti berhenti, kami saling beradu pandang satu sama lain, dari matanya aku bisa melihat sisi Panglima Han yang lain.
“Maafkan aku, Tuan Putri, aku sudah lancang menyentuh tubuhmu.” Panglima Han melepaskan perlahan genggamannya.
“Tidak apa, lagipula kau melakukan itu untuk menolongku agar aku tak terjatuh, terimakasih kau sudah sigap menangkapku tadi.” Aku mengucapkan dengan tersipu.
Setelah kejadian itu, kami satu sama lain jadi saling canggung satu sama lain.
Rupanya desa Fu Xibi ini sangat luas, keadaan desa yang sudah sejak lama ditinggal oleh para penduduknya, membuat terlihat sepi, layaknya desa mati. terkadang kami bertemu pada beberapa orang yang tidak bisa keluar desa tersebut, akibat kutukan yang belum hilang, tapi berkat kejadian tadi kini mereka sudah tidak kehilangan arah lagi.
Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan bersama-sama, sampai akhirnya senja telah menunjukkan wajahnya, yang merubah langit menjadi kemerahan.
“Tuan Putri untuk sementara kita singgah di rumah besar ini saja, aku dan prajurit akan mencari buruan, untuk makan malam. Tuan Putri silahkan beristirahat, aku sudah membersihkan kediaman yang akan anda pakai untuk beristirahat.” Aku hanya membalas jawaban Panglima Han dengan anggukan kepala tanpa melihat wajahnya sama sekali, sepertinya aku masih malu atas kejadian tadi.
Di dalam rombongan kami ada juga saudagar yang membawa ginseng dan porselen untuk ditukar dengan aneka makanan, mereka adalah orang dari negeri PyongYang.
Seorang wanita muda mendekatiku, sayangnya Ya Tze menyalak keras, wanita itu ketakutan saat tersadar Ya Tze bukan hewan sembarangan, tapi lebih dikenal dengan nama roh suci.
“Pasti kau bukan orang sembarangan, bukan?” tanya wanita itu.
“Aku adalah Yuen Rho, putri dari Kaisar Yuen!” ucapku.
Mendengar itu, semua orang bersujud di hadapanku.
__ADS_1
“Maafkan kami, kami tidak tahu kalau Nona adalah Putri dari Kaisar yang agung. Kami banyak berhutang kebaikan pada Kaisar Yuen, banyak bantuan datang dari negeri Xuen, untuk kami. Sudah selayaknya kami membalas jasa Kaisar.” Mereka serempak bersujud di hadapanku, bahkan para budak wanita menyiapkan air hangat yang diberikan kelopak bunga untuk aku mandi, mereka menyeka dan membersihkan tubuhku.
Saat Panglima kembali, mereka mengolah hasil buruan dengan aneka masakan yang lezat, ditambah dengan bebek yang dimasak dengan pedas, aku sangat menyukainya, dagingnya empuk dan tidak keras, sangat manis dan lezat.
Ayura makan disuapi oleh prajurit Chu, sepertinya dia sangat menyukai prajurit itu mereka saling memadu kasih di bawah sinar rembulan.
Malam semakin larut aku belum tertidur karena, Ayura masih asik berkencan dengan pasangannya. Saat asik melihat sinar bulan, aku melihat Panglima Han, yang sedang melukis diatas kulit hewan. Aku mendekati dirinya, ia terkejut saat aku bertanya, lukisan apa yang ia buat?
Wajahnya merona bak udang rebus, ia tergagap menjawab pertanyaanku, “Tuan Putri, ma .. ma .. maafkan hamba, hamba sudah lancang!” jawabnya pelan.
“Memangnya, gambar apa yang kau sembunyikan di belakangmu itu?” tanyaku sambil melihat ke balik tubuhnya. Namun, ia menutupinya. Kami seperti anak kecil yang sedang memperebutkan sesuatu.
Tanpa sadar, tubuhku hilang keseimbangan jatuh tepat di dada sang panglima. Entah kenapa aku berharap waktu berhenti sebentar saja untuk kami, Panglima Han, membelai lembut rambutku dan memegang wajahku dengan kedua tangannya, mataku tak dapat melihat wajahnya yang gagah nan rupawan. Saat dia hampir mencumbuku, panglima Han justru meminta maaf kepadaku.
“Maafkan, aku Tuan Putri kita tidak seharusnya seperti ini!” Tentu saja perkataannya membuatku malu seperti di hujam dengan ratusan telur busuk, layaknya naik di atas panggung lalu dihujani dengan lemparan buah tomat, mungkin itulah perasaanku saat ini.
Prok.. prok!
“Kalian sangat pandai menyembunyikan perasaan ya, aku tak menyangka Yuen, pilihanmu soal pria memang tak pernah salah,” ungkap Ayura.
“Hah! Apa maksudmu, Ayura? Diantara kami tidak terjadi apa-apa, betul bukan panglima Han?” Aku melotot ke arah Panglima Han.
Panglima Han pun ikut menutupinya, “Betul apa yang dikatakan Tuan Putri, Tuan putri menabrakku, dan ia terjatuh tepat menimpa tubuhku, seperti yang kalian lihat.” Aku bisa melihat sikap Panglima Han yang canggung. Ia mengusap rambutnya dan pandangannya ke segala arah.
Namun, betapa terkejutnya aku atas ucapan Ayura dan prajurit Chu.
__ADS_1
“Kami melihat semua kok, saat kalian hampir …” Tangan Ayura dan CHu saling beradu layaknya kedua insan yang saling berciuman satu sama lain.
Mereka tertawa, saat melihat wajah kami yang merah padam layaknya kepiting rebus.
“Chu, kamu hanya salah lihat!” Panglima Han berkilah, sambil berjalan melangkah meninggalkan kami.
Akupun melakukan yang sama berjalan pergi meninggalkan dua sejoli itu.
Aku masih mendengar teriakan Chu saat ia berkata, “lantas mengapa Panglima melukis Nona Yuen di lukisanmu.”
Mendengar itu tentunya, hatiku merekah bak bunga yang mekar di musim semi. Aku tersenyum bahagia saat Chu mengatakan hal itu, berarti perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan, Panglima juga pasti menyukaiku hanya saja, ia lebih bersikap profesional sebagai pengawalku, tak mungkin ia melibatkan perasaannya kepadaku.
Berarti betul adanya ikatan tali merah ini, lantas bagaimana selanjutnya dengan kisah cintaku dengan Panglima Han, karena takdirku telah digariskan harus menikah dengan Pangeran Tan ek Chuan.
Aku menangis di malam yang begitu indah ini, padahal sinar rembulan alam ini sangat mempesona. Namun, hal itu tetap saja tak membuat aku senang, bagaimanapun aku tetap hanya seorang Putri yang tidak akan bisa berbuat apapun, takdirku telah digariskan oleh langit, ini semua demi banyak orang.
Saat itu, Panglima Han muncul dari balik pohon ek, ia mengajakku duduk sambil menikmati sinar bulan.
Kami berbicara satu sama lain, membicarakan tentang perasaan kami satu sama lain.
“Aku tau kau bersedih, tapi tak ada yang bisa membuat kita bersatu, itu perkataanmu minggu lalu saat perang belum berkecamuk,bukan?” Panglima Han menghapus bulir hangat yang menetes di pipiku.
“Aku tak tau harus berkata apa, yang aku tau saat ini aku sangat mencintaimu Panglima Han, aku tak dapat menyembunyikan hal itu!” Aku memeluknya erat seolah tak mau kehilangan dirinya.
Hal yang sangat membuatku kaget, baru kali ini panglima Han membalas pelukanku, aku lekas melihat wajah pria yang sudah menawan hatiku itu, dia mendekatkan wajahnya dan melakukan hal yang sebelumnya kami tunda tadi.
__ADS_1
Aku begitu menikmati permainan lembut dari lidahnya, siapa sangka hal itu membuat kekuatanku berubah rambutku yang sedari awal hitam berubah menjadi putih seluruhnya, tubuhku seperti bersinar.
Kami berdua sama-sama kaget melihat perubahan yang terjadi padaku, sebenarnya ada apa dengan diriku?