Putri Yuen Rho Dan Kisah Sang Naga

Putri Yuen Rho Dan Kisah Sang Naga
Kutukan Desa Fu Xibi


__ADS_3

Aneh setelah semua bisa memasuki gerbang desa Fu Xibi hanya aku saja yang tidak bisa memasuki desa tersebut. Namun, karena Panglima Han adalah satu-satunya penjaga yang harus menjagaku.


"Putri, jangan panik aku akan mencari cara agar Tuan Putri bisa memasuki desa ini." Jawaban dari Panglima Han membuatku sedikit tenang. Aku duduk di depan sesaji yang sudah disuguhkan untuk menangkal kutukan tersebut. Anehnya tidak untukku.


Saat sedang, asyik memainkan ranting pohon dengan menuliskan hal-hal yang aneh, aku melihat seorang gadis cantik berjubah putih. Dia menghampiriku dan bertanya.


"Kenapa, Nona tidak memasuki gerbang desa ini? Adakah orang yang Anda tunggu?" Wanita cantik itu rupanya tidak hanya memiliki paras yang cantik, tetapi hati yang baik dan budi pekerti yang luhur.


Sepertinya gadis ini bukan keturunan orang biasa, tapi seperti berasal dari bangsawan. Hanya saja, kemana para pengawalnya? Biasanya seorang wanita bangsawan yang belum menikah akan di kelilingi oleh para dayang atau pengasuh yang menemani mereka sejak kecil.


"Perkenalkan namaku adalah Putri Yuen Rho, dari negeri Xuen. Aku harus pergi ke desa Shian-yuang untuk bertemu dengan pangeran Tan. Namun, aku tak bisa melintas, aku sendiri tak tahu sebabnya."


"Sembah sujud ku kepada Putri Yuen Rho! Hamba adalah Nan Cung, seorang putri bangsawan Nan." Nan Cung bersujud menghadap ke arahku.


Aku bertanya kepada Nan Cung, kemana dia akan pergi dan dia memerlukan mahar sebelum memasuki gerbang desa Fu Xibi.


Nan Cung hanya tersenyum, ia memperlihatkan ukiran kuno pada tiang gerbang desa Fu Xibi.


Aku yang kesulitan membaca huruf Hanzi (huruf Cina kuno yang biasa banyak ditulis pada kaligrafi atau lukisan-lukisan antik Cina).


Aku menggaruk-garuk rambutku yang tidak gatal itu, dan membaca perlahan dengan mengeja setiap ukirannya.


"Di sini ter .. ba .. ring, cin .. ta .. si .. ci .. Nan ..Cung dan Xiu Er, apakah kalian sepasang roh suami istri yang diceritakan dalam legenda kutukan desa ini?" Aku tergagap menanyakan itu pada Nan Cung yang ternyata ruh bukan sseorang manusia yang aku kira.


"Betul! Aku adalah Nan Cung, sang bangsawan yang terpincut pada kaum budak, aku pikir dengan menikahinya dan pindah ke desa lain, hidup kami akan bahagia ternyata tidak!" Nan Cung menceritakan kisah kehidupannya yang menjadikan legenda di desa ini. Rupanya dendamnya masih ada sebelum ia melepaskan dendam dan kutukannya, selamanya ia akan terjebak dalam dunia tuh, dia tidak akan bisa bereinkarnasi.


"Nan Cung, biarlah aku membantumu. Hal apa yang membuat dendam mu begitu kuat sehingga kau memberikan kutukan pada desa ini?"


"Aku mencintai Xiu Er selamanya sampai kapanpun, tapi mereka yang tidak mengenal kami justru mengecam hubungan kami, rasa panas membari dari api yang membakar tubuh diriku dan diri Xiu Er masih terasa sampai sekarang, tapi sebelum mati Xiu Er berkata. "Nan Cung, maafkanlah mereka yang membenci kita, maka aku akan mencari mu dan juga mencintaimu, dalam kehidupan berikutnya." Itulah yang membuat aku tak akan memaafkan siapapun yang ada di desa ini. Kutukanku, meliputi siapapun yang ada di dalam desa ini, kecuali mereka yang memberikan mahar atas namaku."


Kisah Nan Cung, membuat hatikut tergerak, dia menjadi siluman bukan atas kehendaknya, tetapi kebencian dalam hatinya.

__ADS_1


"Apakah kau bersedia melepaskan dendam kamu, bila aku bisa mempertemukan mu dengan Xiu Er?" tanyaku.


"Baiklah, janjimu harus ditepati atau benang merah yang terikat di kakimu sebagia petanda jodohmu, akan terputus selamanya, sehingga sampai matipun kau tak akan bertemu dan bersatu dengan jodohmu."


"Baiklah, aku setuju!"


Aku tersadar, kulihat Panglima Han sangat khawatir dia memangku kepalaku di pahanya. Lalu memberikan aku minum dari botol minum yang dibuat dari kulit hewan.


"Gluk .. gluk .."


Aku meminum air yang diberikan.


"Panglima bagaimana caranya untuk mengetahui bahwa Akku adalah reinkarnasi Putri Yuen?"


"Apa, maksud Tuan Putri? Bukan kah Tuan Putri ini adalah Tuan Putri Yuen Rho?" Sang panglima terperanjat, dia menjadi kikuk dan serba salah.


"Aku adalah Yuen Mey, Panglima Han. Reinkarnasi dari Yuen Rho, aku masih keturunan Kaisar Yuen."


"Panggil Ya Tze, aku harus bertemu Dewa kelahiran. Ada hal yang harus aku pertanyakan, semoga kutukan ini akan hilang selamanya." Aku segera menyuruh Ya Tze untuk terbang ke kahyangan, dan bertemu dengan Dewa Kelahiran yang bertugas mencatat roh manusia untuk direinkarnasikan menjadi sosok manusia baru.


"Dewa kelahiran!" Sang Dewa melirik ke arahku.


"Aku? Ada apa Yuen Rho? Apakah kau rindu ingin bertemu Ayahmu?"


"Bukan itu, aku ingin mempertanyakan tentang sosok Xiu Er, sang budak yang mati terbakar di desa Fu Xibi, dia bereinkarnasi jadi apa?" tanyaku.


"Dia bereinkarnasi menjadi seekor kunang-kunang, dia sering muncul ketika malam dekat gerbang desa. Hanya dia lelaki bodoh, diberikan hal baik untuk menjadi seorang saudagar kaya raya, dia memilih menjadi kunang-kunang agar bisa bersama kekasihnya setiap saat."


"Oh, jadi seperti itu! Baiklah, terimakasih atas info yang kau berikan Dewa Kelahiran." Aku memberikan hormatku dan pergi menggunakan Ya Tze.


Tak lama aku dan Ya Tze berhasil turun kembali ke bumi.

__ADS_1


Kulihat Nona Nan Cung masih menungguku sambil memainkan dahan bambu.


"Nan Cung, aku kembali!" ucapku lantang.


"Apa yang rupanya Tuan Putri dapatkan?" Nan Cung sudah tak sabar untuk bertemu dengan reinkarnasi kekasihnya Xiu Er.


"Tidakkah kamu sadari Nona Nan, selama ini kau selalu ditemani oleh kekasihmu Xiu Er?" Pertanyaan ku membuat Nan Cung bingung.


"Aku tidak paham apa maksudmu, aku selalu kesepian dan tidak ada siapapun di sini, hanya ada kau dan aku yang terperangkap di sini." Nan Cung mengatakan dengan nada sinis.


"Lihatlah, kunang-kunang yang selalu ada di dekatmu, apakah kau tidak menyadarinya selama ini Nona Nan?" ucapanku rupanya membuat Nan Cung kaget lalu melihat ke belakang, di mana seekor kunang-kunang terbang dan hinggap di dahan bunga Peony.


Nan Cung menangis melihat itu ia tidak bisa berkata-kata.


"Apakah, kau Xiu Er? Kalau betul berkediplah pijar cahayamu!"


Kunang-kunang itu melakukan apa yang diperintahkan oleh Nan Cung, ia berpendar seperti mengatakan sesuatu.


Nan Cung menangis, dan ia mulai menerima dan berdamai dengan takdir yang sudah Sang Buddha tetapkan untuknya.


Sekelebat muncullah bayangan Xiu Er, di hadapan Nan Cung.


"Xiu Er! Jadi kau menepati janjimu selama ini? Kau menepati sumpahmu yang telah kau ucapkan sebelum kau pergi. Aku sudah menerima takdir kita, mungkin kita memang tidak ditakdirkan bersatu tapi seribu tahun pun aku akan selalu mencintaimu Xiu Er." Setelah ucapan Nan Cung terucap, tiba-tiba semua kabut yang menutup desa Fu Xibi hilang, kutukannya pun pergi.


Nan Cung sendiri telah pudar pergi bersama sinar rembulan, dendamnya telah pudar dengan rasa kasihnya, hal itu membuat ruhnya terangkat ke kahyangan untuk bereinkarnasi menjadi sosok baru.


"Terimakasih Tuan Putri Yuen, kebaikanmu akan menjadi hutang Budi untukku. Suatu saat aku akan membalasnya." Ia berteriak dalam pendar cahaya yang membuat dirinya hilang terangkat ke langit.


Aku pun sudah bisa memasuki desa Fu Xibi dan berjalan bersama Panglima Han.


Namun, ada sesuatu yang membuat aku bingung tali merah yang ada di kakiku sebagai penanda jodohku seperti yang dikatakan oleh Nan Cung, terikat jelas pada kaki Panglima Han.

__ADS_1


Ada apa sebenarnya ini?


__ADS_2