Putri Yuen Rho Dan Kisah Sang Naga

Putri Yuen Rho Dan Kisah Sang Naga
Pemusnahan Sang Siluman Mimpi


__ADS_3

"Panglima Han!" teriakku saat dirinya tersabet oleh ekor sang siluman mimpi, jiwa Panglima Han pun ikut terhisap ke dalam tubuh sang siluman kini, Panglima Han menjadi salah satu sisik ditubuh siluman mimpi.


Aku bersembunyi setelah melihat itu semua. Walaupun, aku tahu bahwa diriku akan ditemukan oleh siluman mimpi.


"Ayo otak berpikir .. berpikir .. bagaimana aku bisa kabur dari siluman mimpi?" Aku menggigiti kukuku sejak tadi, sesekali melihat ke kanan dan kiri.


Tunggu, kenapa sejak tadi aku tidak melihat si Ayura ya? Apa karena ia tertidur sangat pulas, sehingga tidak bermimpi? Aku harus menemukan mimpi Ayura, dan mengirim pesan kepadanya bahwa ia harus membangunkan tubuhku.


Aku segera berjalan mengendap-endap, kulihat siluman mimpi itu tengah berjalan mencariku ke semak-semak.


Ini saat yang tepat bagiku untuk kabur. Dengan berjalan berjinjit, aku perlahan-lahan akhirnya bisa kabur dari siluman mimpi.


Aku mencari mimpi Ayura, melalui celah-celah mimpi orang lain.


Ini dia, mimpi si Ayura, aku tak menyangka saat ini ia tengah mimpi makan malam bersama Lee min ho, maafin aku ya Ayura menganggu mimpi manismu bersama sang artis impian.


"Ayura! Tolong aku, cepat!" Aku mengguncangkan bahu Ayura, saat ia akan disuapi sushi oleh Lee Min-ho.


"Aduuh! Yuen, kenapa sih kamu ganggu aja! Kamu gak lihat nih Ayu lagi disuapin sama Ayang?" Ayura mengerucutkan bibirnya, sambil menggerutu melihat aku yang mengganggunya.


"Yu, cepetan keburu siluman mimpi datang!" kataku, sambil melihat keadaan sekitar.


"Ayu, harus ngapain Yuen?" Dengan wajah sebal, Ayu menopang dagunya.


"Gini, Yu! Kamu harus bangun secepat mungkin terus kamu bangunin tubuh aku ya! Cepet! Aku tungguin ya Yu!" Aku menyuruhnya untuk segera pergi dan bangun untuk membangunkan tubuhku.

__ADS_1


Mungkin karena mimpinya, aku buat jadi kacau, si Ayu sudah bangun saat ini, kulihat ia sudah menghilang tak lagi ada di meja ini bersama Lee Min-ho.


Benar saja dugaanku, tak lama setelah bertemu Ayu, siluman keparat itu datang lagi di hadapanku.


"Hai, siluman mimpi! Kau pengecut! Selama ini kau berani melawanku karena dunia mimpi adalah kendalimu. Mari kita lihat bagaimana kau di dunia nyata!" Aku berteriak lantang.


Tepat dugaanku, sang siluman sudah murka, dia berusaha mendekatiku dengan penuh amarah. Salah satu kakinya aku cekal, dan seketika aku tersadar.


Aku berhasil.membawa siluman mimpi ke dunia nyata. Sinar rembulan yang sangat indah memberikan kekuatan yang besar kepadaku.


Tanganku memegang siluman Mimpi yang berusaha kabur, tapi tak semudah itu, kali ini dia hendak kabur dengan memasuki mimpi manusia lain. Namun karena tangannya kupegang, ia tak bisa lari kemanapun.


Aku merapalkan mantera yang biasanya Popho ajarkan padaku ketika kecil.


"Wahai sinar bulan berikan kekuatanmu, hapuslah jiwa jahat yang ada dalam diri siluman ini. Dengan kekuatan bulan maka aku akan menyegelmu!" Aku membentuk bulan sabit di dada sang siluman mimpi menggunakan jariku.


Dari tubuh siluman keluar para manusia yang terjebak di tubuhnya selama bertahun-tahun.


Panglima Han, dan para prajurit terbangun dari tidurnya, beserta yang lainnya terjatuh dari tubuh sang siluman. Lalu, mereka bersujud mengucapkan terimakasih sudah diselamatkan.


"Lagi-lagi kami terselamatkan oleh Tuan Putri Yuen!" Mereka berbicara serempak sambil bersujud.


"Bangunlah! Oh, ya Panglima aku menyegel sang siluman mimpi dalam replika kertas ini." Aku memberikan gulungan kertas itu pada panglima Han.


Karena fajar sudah menyingsing, kini saatnya bagi kami berjalan bersama.

__ADS_1


Aku masih bingung, ''bagaimana bisa ya hanya Ayura yang memiliki mimpi yang berbeda?"


Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tak kunjung gatal.


Sebenarnya mengingat mimpi Ayura tadi aku ingin tertawa, dia bermimpi bertemu dengan Lee Min-ho, dan ketika sedang kencan aku merusak segalanya. Hi .. hi .. hi .. maafkan aku ya Ayura, batinku.


***


Kami kembali menyusuri jalan sampai kami bertemu dengan tumpukan batu-batu besar.


Matahari seperti ada dua sinarnya sangat terik, membuat kami kehausan.


"Sebaiknya kita berteduh di bawah pohon besar itu Panglima, lalu ambillah persediaan untuk air minum."


Sesuai dengan perintahku, kami semua berteduh di bawah pohon besar dan menunggu prajurit yang mengambil air.


Saat kami tengah melepas penat, rupanya ada getaran-getaran seperti gempa bumi.


"Gempa .. gempa!" Ayura mengingatkan.


Kami berusaha bangkit dan berpindah ke tempat yang lain. Namun, semakin kami berlari bongkahan batu itu seperti berdiri berusaha untuk menangkap ku dan gerombolan kami.


Aku membalikkan tubuhku, dan berkata lantang, "apakah kau Raksasa Batu?"


Raksasa itu tetap tak perduli bahkan ia menghentakkan batu-batu yang ada di tubuhnya, yang hampir menimpa kami.

__ADS_1


"Pergilah dari hadapanku! Jangan pernah datang lagi ke daerahku!" teriaknya.


Aku yakin dialah Raksasa batu yang kami cari. Sayangnya, temperamennya yang buruk membuat kami sulit untuk berbicara dengannya.


__ADS_2