
"Pergilah dari hadapanku!" sahut sang Raksasa Batu, sambil melemparkan bongkahan batu besar ke arah kami yang membuat kami kocar kacir.
"Hentikan, Raksasa Batu! Kami membutuhkan bantuanmu," teriakku lantang, tetapi sepertinya dia tidak perduli dengan apa yang ku ucapkan.
Bongkahan batu besar beberapa kali hampir mengenai tubuhku. Ya Tze dengan cepat melepaskan semburan api yang memecah batu besar yang hampir saja mengenai tubuhku.
"Hampir saja .." pikirku.
Aku naik ke atas tubuh Ya Tze, pikiranku melayang memikirkan bagaimana cara untuk menghentikan kekacauan ini. Kedatangan kami bukan bermaksud untuk mengganggunya.
Beberapa cara dicoba untuk melumpuhkan Raksasa Batu, tetapi semuanya nihil. Bermula dari mengikatnya dengan tali sakti, sampai beberapa ajian yang dirapalkan oleh Panglima tetap saja tak membuat Raksasa Batu itu menyerah. Justru semua itu malah membuatnya semakin bertambah kuat.
Akupun teringat akan pesan Nenek Cermin, dia mengatakan bahwa, jangan menghadapi si Raksasa dengan kekuatan phisik tentunya pasti akan kalah. Namun, lawanlah dengan kekuatan akal dan pikiran, karena hanya itulah satu-satunya, hal yang bisa membuat si Raksasa bertekuk lutut.
"Aha! Akhirnya aku ada ide! Panglima cepat turunkan aku di atas batu besar yang menghadap ke si Raksasa." Aku tersenyum penuh keyakinan, kali ini Raksasa itupun akan berhasil aku taklukan.
Raksasa itu tepat sejajar dengan tubuhku yang berdiri tegak di hadapannya.
"Raksasa Batu, aku Putri Yuen Rho akan mengadakan perjanjian denganmu!" Teriakku lantang berharap ia mendengarnya.
Pucuk di cinta ulampun tiba, dia seperti tertarik dengan apa yang aku ucapkan. Batu besar yang ada di tangannya dihempaskannya ke tanah.
"Apakah perjanjian itu menguntungkan aku?" tanya si Raksasa Batu.
"Tentu saja menguntungkan, aku memiliki sesuatu yang tidak kau miliki, dan aku ingin menukarkannya dengan barang yang kau punya." Dengan mata yang berbinar, aku berusaha mengambil sesuatu dari dalam tasku.
"Apa yang kau punya, dan hendak kau tukarkan dengan apa?" Si Raksasa Batu itu mendekat berusaha mencari tau. Tatapan matanya penuh selidik.
"Ehm ... Kudengar kau suka sesuatu yang barang yang unik. Aku memiliki sebuah permen lolipop, dia sangat manis dan hanya ada satu-satunya di dunia. Ketahuilah, permen ini hanya khusus dibuat untuk aku, sang Putri. Bagaimana kau mau?" tanyaku, sambil memperlihatkan lolipop strawberry milikku yang ada di dalam tas.
Raksasa Batu itu melihat dengan mata berbinar, sudah kuduga ia pasti akan menyukai tawaran yang kulakukan, aku berkata dalam hati.
"Bagaimana? Apakah kau bersedia?" Aku sengaja mempermainkan permen lollipop itu, agar ia mau menukarkan dengan bunga seribu tahun.
__ADS_1
"Apa yang ingin kau tukar?" tanyanya.
Dengan penuh rasa percaya diri, aku menjawab pertanyaan dari si Raksasa Batu, "aku ingin menukarkan lollipop ini dengan bunga seribu tahun milikmu, wahai Raksasa Batu, apakah kau bersedia?"
"Ha .. ha .. ha .." bukannya mengiyakan justru Raksasa Batu itu malah mentertawakan aku.
"Hei, manusia! Aku tak perduli kau itu seorang putri atau bukan, tapi aku tidak tertarik dengan Lollipop mu!" tolaknya mentah-mentah.
Aku sangat kaget mendengar penolakan dari si Raksasa.
"Kenapa? Bukankah tadi kau menginginkan lolipop milikku?"
"Aku memang menyukai manis, tapi sayangnya aku sudah memiliki banyak apa yang kau sebut tadi. Sudahlah pergilah dari rumahku, dan jangan harap kembali lagi, apalagi menginginkan bunga seribu tahun!" hardik Raksasa Batu dengan kasar. Bersamaan dengan itu dia melemparkan kembali batu-batu besar terhadap kami.
Kami berusaha menghindar, dari serangan si Raksasa Batu, tetapi kalau terus seperti ini tentunya kami akan kalah.
"Panglima, apa yang harus kita lakukan?" tanyaku.
"Aku naikkan tawaranku, kita akan bermain teka-teki," ucap Panglima Han. "Dan jiwaku adalah taruhannya, bila aku kalah!"
Si Raksasa tampak berpikir, lalu Ia mengiyakan tawaran tersebut.
Tiba pada pertanyaan pertama, yang diajukan kepada si penawar, yaitu Panglima Han.
"Aku adalah penerang laksana cahaya yang menerangi dunia. Namun, aku bukanlah pendar api ; bukan pula matahari yang sinarnya hanya habis masanya di petang hari. Apakah aku?" Kali ini Panglima Han tampak yakin bahwa si Raksasa tak mampu menjawabnya.
Bertepatan dengan selesainya pertanyaan dari Panglima Han, maka jam pasir pun diterbalikkan.
Raksasa itu berpikir sambil duduk di depan gua kediamannya.
Pasir turun dengan cepat, tapi belum ada tanda-tanda bahwa raksasa itu akan menjawab.
Aku sangat was-was dan berharap ia tak tahu jawabannya. Sebenarnya, ada dua kemungkinan jawaban dari pertanyaan tadi, tapi aku takut salah satu jawaban yang benar akan terjawab oleh si Raksasa.
__ADS_1
Dari duduknya, Raksasa Batu itu beranjak, dan spontan berteriak. "Aku tahu jawabannya, ilmu pengetahuan bukan?" jawabnya sambil tersenyum.
Aku terkejut mendengar jawabannya, dan pandanganku beralih kepada Panglima Han.
Kelopak mata Panglima Han berkedip padaku, seolah mengatakan jangan risau.
"Raksasa Batu jawabanmu betul. Tanpa ilmu, tentunya dunia ini akan mati, karena ilmu pengetahuan kita bisa mengubah gelapnya malam menjadi terang. Sekarang, apa pertanyaanmu?"
Raksasa Batu itu nampak kegirangan, berhasil menjawab teka-teki sang Panglima.
"Digenggam malah tercerai-berai, dibiarkan malah berkumpul menjadi satu. Apakah aku?" Suara besar dan bergema keluar dari Raksasa Batu.
Jam pasir kembali dibalikkan oleh si Raksasa Batu.
Kami semua berkumpul dan mencoba menjawab pertanyaan dari si Raksasa.
Ada yang menjawab, udara tapi menurutku itu kurang spesifik. Ayura, menjawab harta. Akan tetapi, perasaanku mengatakan bulan itu jawabannya.
"Apa mungkin itu adalah pasir?" ujar Panglima Han.
"Ya, mungkin saja!" jawabku.
Akhirnya Panglima Han berdiri mendekat, "pasir, itu jawabanku!"
"Ehm! Kurang tepat." Sambil tertawa penuh kemenangan Raksasa batu itu kembali berujar. "Kamu, bisa mencoba jawab yang lain, jam pasir masih terus turun, artinya masih ada kesempatan."
"Harta!" teriak Ayura kencang dan lantang.
Sorot mata yang tajam dari si Raksasa Batu mengarah ke Ayura, "kau seorang budak, tak patut menjawab!"
Keadaan menjadi rancu, seketika si Raksasa marah, dia hendak melepaskan tinju batunya pada Ayura, sedangkan jam pasir terus menerus berjalan.
"Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan?"
__ADS_1