Putri Yuen Rho Dan Kisah Sang Naga

Putri Yuen Rho Dan Kisah Sang Naga
2. Kemunculan Phoenix


__ADS_3

                    


Aku masih mengucek-ngucek mataku, meraih kesadaranku sepenuhnya.


“Ayo lekas bangun! Ceritakan apa yang tadi saya jelaskan sebagai materi hari ini!” Suara Pak Alex terdengar keras, yang pastinya sih beliau marah karena aku tertidur di saat beliau menjelaskan.


“Baik, Pak!” jawabku singkat.


Aku melangkah ke depan kelas, aku tahu ini sebenarnya mencari mati, tapi tidak ada salahnya mencoba, walau harus ditertawakan oleh semua mahasiswa yang ada di ruangan ini.


Aku mencoba menjelaskan sesuai yang aku alami di dalam mimpiku tentang pengorbanan Putri Yuen Rho, yang harus menikahi Pangeran Tan. Entah kenapa, semua terasa hening tak ada suara di dalam kelas. Sampai terdengar tepukan tangan dari Pak Alex.


Aku masih belum mengerti tentang sikap Pak Alex, apakah yang aku utarakan tadi di depan kelas, salah atau betul aku sendiri tak tahu. Suara tepukan tangan Pak Alex diikuti oleh tepukan tangan mahasiswa yang lain.


Pak Alex mendekatiku sambil berbisik, “lain kali kalau kamu sudah paham tentang ceritanya, kamu jangan tidur. Next time, kamu akan saya hukum kalau tidur lagi ya, Yuen!”


“Iya, Pak! Saya minta maaf.” Kutundukkan wajah penyesalanku.


Ring … suara bel berdering kencang, jam kuliah kami pun sudah selesai. Akhirnya, aku terselamatkan dari Pak Alex, segera saja aku menarik tangan Ayura, sahabatku.


“Ay! Ayo kita ke kantin, perutku lapar nih! Kamu, mau makan gak Ay?” tanyaku pada Ayura. Ayura, adalah sahabat aku sejak masuk universitas Mutiara Bangsa.


“Yuk, Ayura juga pengen makan batagor si Usep nih! Yuen, mau makan apa?” 


“Aku pesen seblak dulu, yah!” Aku meninggalkan Ayura, dan berjanji bertemu lagi di meja kantin dekat pohon sengon yang besar, tempat biasa kami berkumpul bersama-sama dengan Ayura.


Setelah mendapatkan seblak full topping, aku membawanya ke tempat favorit kami. Ayura melambaikan tangannya, aku mendekati sahabatku itu.


“Ih, Yuen enak banget seblaknya, tau gitu Ayura juga tadi pesen seblak aja yah. Coba Yuen, Ayura cicip sedikit aja!”

__ADS_1


“Inget, ya! Sedikit .. bukan semua ..” Aku langsung memukul tangan Ayura, saat separuh telur rebus masuk ke dalam mulutnya. “Tuh, kan! Ayura mah, seblakku tinggal dikit! Ayura, sih!”


“Berbagi lemak, Yuen! Kasihan kan Ayura mah gak gemuk-gemuk.” Senyuman Ayura tanpa berdosa, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.


Ketika, kami asyik menikmati makanan, Ayura bercerita tentang kejadian tadi.


“Yuen, kok tadi pas kamu tidur, kamu itu teriak-teriak Bixia .. Bixia, begitu. Itulah, yang membuat Pak Alex mendekati kamu, terus kamu di siram sama air mineral, karena ketahuan tidur sambil ngigau lagi … Aduh, double kill deh Yuen, kamu sama Pak Alex. Untungnya, kamu bisa menceritakan sejarah Putri Yuen Rho. Bahkan lebih bagus dari cara Pak Alex. Kalau gak, amsyong you punya hoki!” Ayura menirukan logat yang biasanya keluarga aku pakai.


“Kalau kamu aku ceritakan pun pasti gak akan percaya, Ay!” Aku berbicara sambil menggigit toping lidah yang ada di dalam seblak aku.


“Maksud Yuen, apa sih? Ayura gak paham.”


“Saat Pak Alex, menceritakan bagaimana kisah naga mulai dikenal di dunia, saat itu pula lubang besar di white board itu menghisap aku untuk masuk ke dalamnya.”


“Yuen, sepertinya kamu belum sadar dari tidurmu yah?” Ayura menempelkan punggung tangannya ke dahiku.


“Aku sudah sadar Ayura! kalau gak sadar ngapain nih seblak sudah mau habis.


Popo sendiri tinggal, di dalam kuil Dewi Kwan Im. Dari kampus aku, naik motor hanya memerlukan waktu 45 menit untuk sampai ke kuil tempat tinggal beliau.


********


“Popo! Yuen, datang!” Aku membunyikan genta yang ada di depan gerbang kuil. Tak lama, gerbang kayu itu terbuka, seorang bikhuni membukakannya untuk kami.


“Permisi, apa bikhuni Wenny ada?” tanyaku.


“Kepala bikhuni, saat ini sedang berdoa di ruang altar persembahan, sebentar saya akan memberitahukan kepada beliau.”


Kami berdua menunggu di taman belakang dekat para bikhuni yang sedang membelah kayu.

__ADS_1


Ada satu tempat yang sangat menarik perhatianku, salah satu sumur yang ditutup dan dihiasi dengan kain mori, “itu apa ya, Ay?”


“Yuen, jangan deket-deket sama sumur itu, bulu kuduk Ayura berdiri, Yuen.” Ayura memegangi lehernya sedari tadi, sesekali ia bergidik ngeri melihat sekitar area sumur itu.


“Yuen, ke sini cucuku! Sudah lama kamu tidak mengunjungi Popo?” Popo membelai rambutku yang hitam.


Karena, penasaran aku bertanya ke Popo, tentang sumur tua itu, jujur itu tak asing seperti yang ada di mimpiku.


“Oh, itu adalah sumur yang dikeramatkan. Konon, hanya keturunan Kaisar Yuen, yang berhasil melintas melalui sumur tersebut. Energi Yin dari sumur itu sangat besar, maka itu kami menutupnya demi menjaga dari hal-hal yang tidak inginkan. Sudahlah! Ayo masuk Popo punya sesuatu untukmu.” Popo mengajakku masuk ke dalam kuil, tapi pandanganku tetap tertuju pada sumur yang ditutupi kain mori itu.


“Berdoalah, dulu sudah lama kau tidak pernah berdoa di kuil.” Popo memberikanku dupa yang sudah ia bakar sebelumnya. Di bawah patung Dewi Kwan Im aku merapalkan doa, tentang sebenarnya siapakah diriku ini. Dengan mata terpejam, aku mengucapkan pujian-pujian yang mengagungkan namaNya.


Entah, itu semua hanya tiba-tiba atau jawaban dari doaku yang baru saja aku pertanyakan, ada sedikit rasa sesal di dada, mengapa aku mengatakan hal yang aneh seperti itu.


Dari wajah Popo sepertinya ia menyimpan rahasia yang aku tidak ketahui, yaitu asal usul tentang Putri Yuen Rho dan Sang Naga. Angin semakin kencang meniup semua pepohonan, lonceng di atas menara kuil di bunyikan berkali-kali, memohon bantuan Sang Maha Kuasa.


Sepertinya Popo tahu apa yang membuat semua ini terjadi tiba-tiba. 


“Yuen pergi ke kamar belakang, bikhuni Siau Loon segera bawa Yuen ke kamar rahasia.” Popo memerintahkan anak didiknya, kali ini Popo terlihat lebih serius tidak seperti Popo biasa yang aku kenal.


Sesosok burung Phoenix yang tubuhnya terbakar oleh api berusaha untuk memasuki kuil.


“Keluar kau, Wen? serahkan Putri Yuen Rho kepadaku, maka aku tak akan menyakitimu!” Burung Phoenix itu bisa berbicara, yang anehnya dia berbicara bahasa kami, bahasa manusia sama seperti aku dan Ayura, hanya saja menggunakan bahasa Cina kuno, yang membuat Ayura bingung.


Aku mengintip Popo dari balik tirai, bikuni kecil itu terus menarik tanganku mengajakku untuk bersembunyi.


“Phoenix, kau adalah roh suci, mengapa kau menjalankan titah dari ayahmu, untuk menangkap Yuen Rho kami, ini adalah kuil, tempat suci, tak seharusnya kamu mengotori tempat ini dengan pertumpahan darah, jangan membuat karma buruk di sini.” Perkataan Popo tak didengar oleh Phoenix api.


Tarikan tangan bikhuni ini membuat aku jatuh ke belakang, aku berusaha menarik tirai yang menutupi kami, tubuhku yang tak seimbang membuat Ayura yang berpegangan ke aku ikut terjatuh bersamaku, dan tirai itupun putus dari pengaitnya alhasil kami semua terlihat oleh si burung api itu.

__ADS_1


 


__ADS_2