Putri Yuen Rho Dan Kisah Sang Naga

Putri Yuen Rho Dan Kisah Sang Naga
Si Nenek Cermin


__ADS_3

Sesuai dengan arahan sang Biksu Tua, aku dan juga Panglima Han berjalan ke arah Utara, tempat pertama yang akan kami kunjungi adalah Hutan Halimun. Hutan ini terkenal menyesatkan, banyak para pendaki, pencari kayu bakar, hilang tersesat di dalamnya. Kabut yang ada di hutan Halimun membuat banyak orang salah tujuan, sehingga mereka hanya berputar-putar di dalam Hutan.


Perjalanan kami bermula, dari kuil di bawah dataran Gunung Kowloon, tempat di mana biksu tua itu tinggal. Kami berjalan dengan membawa bekal roti mantau dan juga beras untuk bekal selama di perjalanan.


Setelah melewati dataran Kowloon, kami menyusuri sungai kuning untuk mencapai ke Hutan Halimun. Di sepanjang jalan Panglima Han menegaskan, semakin cepat kita masuk ke dalam Hutan Halimun sebelum senja, semakin baik. Karena, kabut akan turun saat senja dan semakin menebal setelah malam tiba.


Namun, belum sampai kami melewati sungai kuning ternyata, kami bertemu dengan seorang gadis yang tengah menangis.


Karena penasaran akupun menghampirinya, "Hai Nona! Hal apa yang membuatmu menangis? Jikalau kami bisa membantu, kami akan membantu sebisa kami."


Sang gadis terdiam seketika, ia merasa aneh mendengar ucapanku.


"Apakah kau mau membantuku?" tanyanya penuh harap.


"Tentu saja! Kami akan berusaha semampu kami," ucapku.


Dia melihat ke arah kanan dan kiri, lalu berkata seperti orang yang ketakutan.


"Aku sedang mencuci kain majikanku di sungai ini, celakanya aku menghanyutkan kain tersebut dan terbawa entah ke mana, yang aku takutkan kain ini akan terbawa sampai ke rumah Nenek cermin. Aku sangat takut dengannya, bila sudah masuk ke dalam rumah itu ia tak akan pernah membebaskan wanita manapun yang sudah memasuki rumahnya."


"Loh, memang kenapa? Apakah sebelumnya kau sudah pernah bertemu dengannya?" tanyaku heran.


Aku masih tak habis pikir dengan apa yang dikatakan wanita itu.


"Nenek cermin pernah memiliki seorang anak perempuan. Sayangnya anak itu sakit keras, lalu ia pun meninggal dunia. Nenek cermin, sangat sedih. Sejak saat itu, ia mengurung diri di pondoknya di tengah Hutan Halimun. Suatu ketika, majikanku menyuruh aku memasak sayangnya persediaan kayu sudah habis." Gadis berjubah hitam itu menceritakan kisahnya.


"Akupun tersesat sampai ke sana, dan aku pernah masuk ke dalam rumah yang penuh kaca itu. Sampai seminggu aku di dalam rumah itu, akhirnya aku berhasil kabur dari cengkraman sang Nenek dengan memperdaya ia bahwa aku akan memasak kue kabur kuning kesukaannya." Dari keyakinan wanita itu saat ia tengah bercerita, aku merasa semakin yakin bahwa Nenek cermin seorang ibu yang kesepian.


"Baiklah kalau seperti itu Nona, aku akan memerintahkan prajuritku untuk mencari kain yang kau cuci."


Para prajurit menyusuri sungai kuning, tak jauh tempat wanita itu berada sang prajurit menemukan kain berbahan indah, dan menyerahkannya pada gadis itu.


"Nona, apakah betul itu milikmu?" sahut seorang prajurit.


"Betul Tuan! Terimakasih banyak Tuan telah menemukan milik majikanku." Ia mengambil kain itu dan memasukkannya ke dalam sebuah gerabah yang dibawanya.


"Tuan Putri, aku tidak memiliki hal yang berharga untuk membalas jasamu, aku memiliki 3 biji labu kuning ajaib, apakah kau mau?"

__ADS_1


"Terimakasih Nona, aku akan dengan senang hati menerima apapun pemberianmu."


Gadis itu mengeluarkan sesuatu dari kantungnya.


" Terimalah ini, biji labu ajaib. Bila kau semai benih labu kuning ini ia akan tumbuh dengan subur, labu kuning ini akan berisi sesuai dengan hati orang yang mengambilnya, apabila ia berhati tulus maka ia akan mendapatkan apa yang ia idamkan, tapi bila ia berhati kotor maka labu ini akan berisi binatang-binatang yang berbisa." Gadis itu memberikan benih labu ajaib disematkan di dalam sapu tangan sutra emas.


Akupun menerimanya dengan senang hati, suatu saat ia akan berguna untukku.


Aku kembali berjalan meninggalkan sang gadis terus menyusuri lembah dan memasuki Hutan Halimun.


"Berhati-hatilah Putri, kita sudah memasuki Hutan Halimun." Panglima Han berjaga-jaga. Bahkan, ia menyalakan obor, dibantu dengan Ya Tze yang mula mengawasi keadaan sekitar.


Akhirnya, sampailah kami di sebuah pondok tua yang sangat sepi. Mungkin, itu semua karena hanya pondok itulah yang berada di dalam hutan tersebut.


Kami mengetuk pintu kayu, pada pondok itu, cerobong asapnya mengepul, menandakan ada penghuninya di dalam pondok tersebut.


"Permisi, Nenek!" Aku mengucapkan salam sambil melihat keadaan sekitar. Kabut mulai turun, suasana semakin mencekam.


Krieet! Suara pintu yang tiba-tiba terbuka membuat kami semua yang ada di depan rumah si Nenek, terkejut.


"Nenek biarlah kamu masuk, kami hanya ingin meminta tolong padamu." Aku meminta ijin dengan santun.


"Aku tak memiliki apapun, maaf anak muda sebaiknya kau pergi, dan tak perlu menampakkan lagi batang hidungmu!" Kata-kata sarkas keluar dari bibir wanita tua itu. Pandangannya sungguh sangat meremehkan dan membuat tak nyaman.


Aku maju ke depan, tepat di hadapannya aku membungkuk.


"Aku Putri Yuen Rho memberi hormat, pada Nenek cermin."


Melihat rambutku yang keluar dari tudung bajuku. Ia terbelalak kaget.


"Kau kah wanita bulan yang ditakdirkan sebagai sosok wanita yang akan mengalahkan sang naga seperti ramalan para biksu?" tanyanya.


Aku mengangguk mengiyakan perkataanya.


Wanita itu menyuruhku untuk masuk bersama para prajurit yang lain.


Sesampainya di dalam kami disuguhkan teh hijau yang masih panas.

__ADS_1


"Apa gerangan yang kau inginkan Tuan Putri? Aku tidak bisa memberimu apa-apa tanpa kesepakatan, aku hanya seorang wanita tua renta yang tak memiliki anak dan tak bisa menghasilkan apapun."


"Aku membutuhkan sebuah cermin ajaib. Pusaka ini aku butuhkan untuk melawan Sang Naga, kiranya Nenek mau bertukar dengan benih labu ajaib."


Rupanya, Nenek cermin terlihat penasaran dengan tukaran yang aku tawarkan.


"Aku tidak membutuhkan labu ajaib, yang aku inginkan adalah seorang anak perempuan yang akan menemani hari tuaku. Aku lebih setuju meminta budak wanitamu, untuk kejadian anakku! Bagaimana tuan putri?" Tatapan mata Nenek cermin mengarah kepada Ayura.


Aku melihat tubuh Ayura gemetar, tangannya sampai menjatuhkan cangkir porselen yang berisikan teh hijau yang ia minum.


"Maaf, Nenek! Dia adalah dayang kesayanganku dia menemaniku sejak aku dilahirkan." Aku menolaknya dengan santun. Sayangnya, sang Nenek tak berpendapat yang sama denganku.


"Gampang saja, kalau kalian tidak mau menyerahkan wanita itu, kalian semua tidak ada yang bisa keluar dari sini. Teh hijau itu sudah aku bubuhkan racun. Setelah 10 menit, kalian akan berubah menjadi batu yang menghitam,kalian akan kembali seperti semula saat malam yang berhiaskan sinar rembulan." Di akhir perkataannya Nenek cermin tertawa lebar.


"Kurang ajar!" Panglima Han memukul meja dengan kencang.


Otakku berpikir keras, tak mungkin aku kalah hanya karena tak bisa berdiplomasi dengan seorang Nenek tua renta yang licik ini.


"Bagaimana, kalau aku bisa membawakan anak gadismu yang sudah meninggal dunia itu? Akankah kau memberikanku cermin ajaib, dan melepaskan kami semua?" Tanpa rasa takut sedikitpun aku bertanya kepada Nenek cermin.


Dia tertawa terbahak-bahak, lalu berkata. "Mana mungkin kau bisa ke dunia akhirat membawa putriku, dan menghidupkannya, kau pikir dirimu kaisar langit?"


"Bagaimana kalau semua itu mungkin, aku rasa kau takut Nenek tua?" Aku memicingkan mataku, menatap tajam ke arah mata si Nenek cermin.


Ayura membisikkan sesuatu kepadaku.


"Yuen, bagaimana caranya kau membawa putrinya dari kematian lalu menghidupkannya? Ini gila Yuen!" Ayura mengingatkan aku, tapi aku menyuruhnya untuk tenang.


"Baiklah aku terima kesepakatan ini, aku akan menuliskannya dalam kitab perjanjian sakti. Bilamana kau mengingkari, jiwa dan raga kalian semua akan menjadi milikku, tapi bilamana apa yang kau katakan menjadi kenyataan aku tak akan bisa mengingkari janji yang sudah aku sepakati denganmu Tuan Putri!" Wanita tua itu menuliskan perjanjian kami di sebuah kulit rusa yang sudah dikeringkan, setiap huruf yang ia tuliskan hilang begitu saja seperti tertelan oleh kulit binatang itu.


"Silahkan Tuan Putri, anda bubuhkan darah anda di kulit rusa ini." Wanita itu menusuk jarinya dengan ujung belati dia membubuhkan darahnya sambil berkomat kamit.


Aku pun tak mau kalah darinya, kutusuk ujung jari jempolku dengan hiasan rambutku. Darahku yang berwarna putih kububuhkan pada perjanjian itu.


Kini semua huruf yang ditulis wanita itu muncul. Wanita tua itu kembali bertanya:


"Sekarang apa yang akan kau lakukan Tuan Putri?"

__ADS_1


__ADS_2