Putri Yuen Rho Dan Kisah Sang Naga

Putri Yuen Rho Dan Kisah Sang Naga
Cerita Masa Lalu


__ADS_3

Gubrak! Suara tubuhku terjatuh di atas Ayura.


Sorot mata penuh kebencian dengan api yang menyala-nyala, dari burung api itu melihatku. Kepakan sayapnya, membuat udara menjadi semakin panas.


"Kau bilang tidak ada Putri Yuen! Kau pikir aku bodoh? Putri Yuen Rho, di dandani seperti baju yang kalian pakai, kau pikir itu bisa menipuku?" Burung berapi itu tampak kesal karena Popoku hampir saja menipunya.


"Aku memang bukan Putri Yuen Rho, aku adalah Yuen Mey, cucu dari Popo Wenny!" ucapku lantang.


"Rupanya, kau punya keberanian yang sangat tinggi anak muda, kau tidak tahukah darah yang mengalir selama ini yang ada padamu?" Sang burung api merubah dirinya ke ukuran lebih kecil dan bertengger pada besi logam yang tertancap di depan patung Kwan Im. "Kau itu titisan Kaisar Yuen, kau adalah putrinya yang bernama, Yuen Rho. Hanya seorang keturunan langit yang memiliki aura yang bersinar seperti kamu!" Burung Phoenix itu memperlihatkan cermin aura, padaku. Refleksi pada cermin itu, menunjukkan gambar yang sama, pakaian yang aku kenakan di cermin sama sekali berbeda, pakaian itu seperti yang aku kenakan di mimpi. Semua tubuhku bersinar memancarkan cahaya.


"Popo, jelaskan padaku apa maksud pembicaraan si Burung api tersebut?" Aku berusaha bangun.


Popo yang berdiri terpaku, akhirnya mengatakan hal yang membuatku kaget.


"Kau adalah reinkarnasi dari putri Yuen Rho yang mengorbankan dirinya, masuk ke dalam sumur hitam. Mungkin kau belum tau Yuen Mey! Di jaman dahulu, kau adalah seorang putri kaisar yang disegani rakyatnya. Sayangnya, keberadaanmu adalah ancaman buat sang naga.''


"Hah, apa maksud Popo?" tanyaku.


"Selama kau masih hidup, siluman Naga tidak akan pernah bisa menjadi dewa. Apalagi bila penyatuan energi Yin yang kau miliki bersatu dengan energi Yang, yang dimiliki oleh Pangeran Tan Ek Chuan. Membuat kesaktian Naga hancur. Pernikahan kalian sudah diramalkan dari tahun-tahun sebelumnya, Bila dirimu dan pangeran Tan bersatu, akan membentuk energi chi yang kuat untuk membunuh sang naga. Maka itu sang naga akan selalu mencari keberadaanmu, untuk membunuhmu agar hasratnya menjadi Dewa terwujud." Popo menjelaskan semuanya.


"Pantesan aja Yuen, kamu tau cerita si tuan Putri, ya orang itu kamu sendiri, Yuen." Ayura bicara sambil menarik rambutku.


"Ayura, lagi serius nih. Jangan bercanda terus dari tadi."


"Lalu siapa burung ini Popo?" tanyaku.


''Burung Phoenix itu adalah hasil perkawinan Naga dengan siluman burung. Sehingga menghasilkan burung yang tubuhnya di penuhi Api, maka dari itu ia bernama Phoenix." Popo berusaha menjelaskan kepadaku.


Pantas, ternyata ia sama saja seperti Baxia. Pikirku.


Tiba-tiba saja energi Yin memancar ke tanganku. Seperti ada yang menyuruhku, untuk memanahnya dengan mata panah dan busur yang tersedia di depanku.


"Kamu mau apa, Yuen?" Popo berusaha mencegahku, tapi tangan dan tubuhku sudah tidak bisa di kendalikan. Dia seperti bergerak sendiri.


Mata panah itu meluncur tepat mengenai mata sang burung.

__ADS_1


Dia berteriak kesakitan, kami tak melewatkan hal itu. Aku, Popo dan juga yang lain ikut menyelamatkan diri.


Aku menjatuhkan tubuhku ke dalam sumur tua tadi. Begitu juga yang lain.


Kami masuk ke dalam lorong waktu, perjalanan waktu ini membuatku cemas, bagaimana bila kami hanya melayang tapi tak pernah sampai?


Tubuhku masih melayang-layang terbang, entah bagaimana dengan keadaan Si burung Phoenix aku sendiri tak perduli. Yang pasti kami harus melarikan diri.


Akhirnya tibalah kami di desa tempat warga desa Sechuan tinggal, yaitu di hutan terlarang.


Aku bertemu lagi dengan orang-orang yang ada di mimpiku. Dari pandangan mereka aku tau, mereka merasa kedatanganku dan teman-temanku itu janggal.


"Panglima Han," ucapku.


Panglima Han segera tunduk memberikan hormat, begitu juga dengan warga yang lain. Popo yang memberitahu panglima Han tentang aku. Rupanya selama ini, Popo mengenal panglima Han.


"Panglima Han, gawat Tuan Putri sudah memanah mata Phoenix. Kau tau bukan, siapapun yang melukai mata Phoenix harus mati. Aku mohon jagalah Tuan Putri!" Aku melihat Popo bersujud di hadapan Panglima Han.


"Popo, sebenarnya ini semua apa Po? Apa ini mimpi?" Aku mencubit tanganku. Namun, kali ini rasanya sakit.


"Ay, maafin Yuen Ya! Yuen aja gak tau bagaimana caranya pulang? Nanti coba kita tanya Popo ya?" Aku mencoba menenangkan Ayura dengan menggenggam tangannya.


Entah darimana datangnya, semburan api tiba-tiba membakar pohon-pohon di hutan. Sepertinya persembunyian warga diketahui oleh Phoenix sang burung api.


Tiupan suara terompet, menandakan tanda bahaya, kami semua harus siaga.


Ya Tze sudah bersiap untuk berperang melawan saudaranya Phoenix. Sedangkan Ayura terus saja menangis minta pulang, karena ketakutan.


Peperangan dengan Phoenix dan beberapa siluman lain tak terelakkan.


Hari ini, entah sudah berapa kali aku mengalami sport jantung. Yang aku takutkan dia stop gak mau berpacu lagi karena seringnya kejadian-kejadian yang membuatnya seperti di kejutkan.


Sumpah! Hari ini amburadul banget di hidup aku.


Melihat Ayura menangis yang meraung-raung, membuat aku bingung tak tau harus berbuat apa.

__ADS_1


Tanganku mengarah ke arah sesuatu yang membuatku harus pergi dari tempat itu.


"Yuen! Tunggu! Kamu jangan tinggalin Ayura dong!" Ayura berlari mengejarku. Di hadapanku ternyata ada makhluk yang sangat aneh. Kepalanya berwujud manusia tapi badannya di penuhi dengan bulu berwarna merah.


"Siapa, kau?" tanyaku.


Dia menatapku tajam, dengan tatapan yang sinis seolah membuatku terpojok.


"Tak penting arti sebuah nama, yang terpenting adalah misi selesai."


Dengan merapalkan mantra aneh dalam balutan bahasa Cina kuno, ia meniupkan bubuk yang berkerlap-kerlip berwarna kemerahan.


Bubuk itu hampir saja aku hirup, sayangnya Popo mendorong tubuhku. Sehingga ia sendiri yang menghirup bubuk itu. Bola mata Popo terbalik memutar, hingga hanya terlihat warna putih pada matanya. Seketika berbalik kembali. Aku sontak berteriak histeris, "Popo!"


"Kau apakan Popo ku?" teriakku lantang.


Wanita yang berbulu burung tadibyak menjawab ia hanya berbalik badan dan tersenyum lagi.


Popo kini berubah menjadi manusia yang tidak pernah aku kenal.


Popo, aku mencoba memanggilnya berkali- kali dan anehnya, Popo berjalan seperti robot dan mendekatiku, tapi ada yang aneh. Popo justru berusah memukulku dan berkelahi denganku menggunakan teknik Wushu yang pernah ia ajari padaku.


"Popo! Sadarlah ini aku, cucumu Yuen!" Aku berteriak dan menghindari pukulan demi pukulannya.


Popo tidak perduli, aku bingung harus bagaimana?


"Kau harus menyerahkan dirimu Yuen! Kalau tidak akan kubuat Popo mu membunuh dirinya sendiri." Sambil tertawa wanita bertubuh aneh itu mencoba memperingati aku.


Tiba-tiba, kepala Popo di kunci oleh wanita siluman tadi tangannya menggenggam lehernya, kukunya yang panjang dan meliuk tajam seperti kuku burung, berusaha menusuk leher Popo.


Aku melepaskan panahku dan menyerahkan diriku pada wanita siluman tadi.


"Yuen jangan Yuen kita semua bisa mati, kalau kamu menyerahkan diri. Kita harus tunggu sampai Panglima Han kembali, setelah berperang melawan Phoenix." Ayura berteriak histeris.


"Jangan Yuen! Aku mohon!" Teriak Ayura.

__ADS_1


Aku tak tahu harus berbuat apa, sampai kulihat bercak darah mengotori wajahku. Yang membuat aku sangat murka akan hal itu.


__ADS_2